Land Clearing PT IHIP Dipersoalkan, MTM Minta ATR/BPN Hentikan Pengukuran
Ruminews.id, LUWU TIMUR — Sengketa lahan yang disewakan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kepada PT Indonesia Huali Industry Park (IHIP) belum menemui titik terang.
Ruminews.id, LUWU TIMUR — Sengketa lahan yang disewakan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kepada PT Indonesia Huali Industry Park (IHIP) belum menemui titik terang.
Penulis: Rifki Tamsir – Ketua Komisariat IMM FKIP UM Palopo Ruminews, Skripsi merupakan tugas akhir mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk menyandang gelar sarjana. Namun, mengapa skripsi menjadi syarat kelulusan? Sebab, di dalam proses penyusunannya, mahasiswa tidak sekadar dituntut menghasilkan lembaran tulisan, tetapi juga belajar mengenali persoalan, merumuskan pertanyaan, menentukan metode, mengolah bukti, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Skripsi adalah ruang latihan bagi mahasiswa untuk membangun kerangka berpikir yang kritis, sistematis, dan ilmiah. Di sana, mahasiswa belajar bahwa sebuah pendapat tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diuji melalui argumentasi dan bukti. Kemampuan inilah yang membedakan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari pendapat yang hanya bersandar pada dugaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus memperhatikan nilai humaniora serta menghasilkan insan yang beriman, berakhlak, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, skripsi semestinya menjadi proses pembentukan intelektual, bukan sekadar pintu administratif menuju wisuda. Untuk menentukan judul penelitian, mahasiswa semestinya berangkat dari fenomena yang dekat dengan kehidupannya, persoalan yang benar-benar ditemukan di lapangan, dan kebutuhan masyarakat yang layak memperoleh jawaban ilmiah. Akan tetapi, kita patut mengkritisi gejala ketika tugas akhir justru diperlakukan sebagai beban yang harus segera dituntaskan. Tidak sedikit mahasiswa yang mulai menyusun skripsi tanpa memahami secara utuh persoalan yang diteliti, tidak mampu menjelaskan alasan pemilihan variabel, kebingungan menentukan instrumen, atau kesulitan mempertanggungjawabkan metode yang digunakan. Teknologi kecerdasan buatan, termasuk ChatGPT, dapat membantu pencarian gagasan dan pembelajaran metodologi, tetapi menjadi persoalan ketika penggunaannya menggantikan proses berpikir dan pemahaman peneliti sendiri. Gambaran mengenai tantangan ini dapat dilihat dalam penelitian Astarika, Anfas, dan Jabuddin (2026) terhadap 135 mahasiswa tingkat akhir yang memenuhi kriteria penelitian di perguruan tinggi Sulawesi Tenggara. Studi tersebut menemukan bahwa tekanan waktu menjadi salah satu alasan yang digunakan responden untuk membenarkan penggunaan bantuan eksternal dalam penyelesaian tugas akhir, yakni sebesar 32,8 persen. Angka ini bukan bukti bahwa sepertiga mahasiswa melakukan kecurangan, melainkan petunjuk bahwa tekanan penyelesaian studi patut diperhatikan ketika membahas integritas akademik. Persoalannya bukan terletak pada bantuan yang diterima mahasiswa, melainkan pada batas ketika bantuan berubah menjadi pengambilalihan tanggung jawab intelektual peneliti. Lebih jauh, ketika skripsi dipandang semata-mata sebagai syarat memperoleh gelar, terbuka ruang bagi praktik yang jauh lebih berbahaya menggunakan jasa joki tugas akhir, merekayasa data, atau mengubah hasil penelitian agar sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Penelitian yang seharusnya menjadi ikhtiar mencari kebenaran akhirnya berisiko berubah menjadi upaya membenarkan kesimpulan yang telah ditentukan sejak awal. Padahal, hasil yang tidak sesuai harapan bukanlah kegagalan ilmiah justru di sanalah kejujuran dan ketelitian peneliti diuji. Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah secara tegas mengategorikan fabrikasi, falsifikasi, plagiarisme, kepengarangan tidak sah, konflik kepentingan, dan pengajuan jamak sebagai pelanggaran integritas akademik. Fabrikasi berarti membuat data atau informasi fiktif, sedangkan falsifikasi berarti merekayasa data atau informasi penelitian. Penelitian Jamila (2024) terhadap 274 mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga melaporkan bahwa 5 persen responden menyatakan melakukan pemalsuan data berdasarkan pengukuran penelitian tersebut. Angka ini terbatas pada populasi dan instrumen studi itu, sehingga tidak dapat digeneralisasi sebagai prevalensi nasional. Namun, temuan tersebut cukup menjadi pengingat bahwa persoalan integritas penelitian bukan sekadar dugaan yang boleh diabaikan. Kita tidak harus mencurigai seluruh karya ilmiah yang tersedia di Google Scholar, tetapi kita juga tidak boleh menganggap sebuah karya otomatis benar hanya karena telah dipublikasikan atau tercatat dalam mesin pencari akademik. Di titik inilah tanggung jawab perguruan tinggi dan dosen pembimbing perlu diperiksa secara serius. Dosen bukan sekadar pemeriksa tata bahasa, pemberi tanda tangan, atau penjaga gerbang kelulusan. Ia adalah pendamping intelektual yang seharusnya membantu mahasiswa memperjelas masalah, menguji kelayakan metode, memperbaiki analisis, dan menjaga kejujuran proses penelitian. Kritik juga perlu diarahkan pada sistem yang mungkin memberi ruang bagi pembimbingan yang dangkal, pemeriksaan data yang tidak memadai, dan penilaian yang lebih menekankan penyelesaian dokumen daripada penguasaan penelitian. Tentu, persoalan ini tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh dosen diperlukan bukti untuk menilai praktik di setiap institusi. Namun, prinsipnya jelas apabila seorang mahasiswa dapat mempertahankan skripsi tanpa memahami apa yang ditelitinya, perguruan tinggi perlu bertanya apakah proses evaluasinya sungguh menguji kompetensi ilmiah. Sebaliknya, ketika dosen mendorong jalan pintas yang mengorbankan validitas data, tindakan tersebut bertentangan dengan tanggung jawab akademik. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat pendampingan metodologi, ujian yang menguji penguasaan penelitian, dokumentasi data yang dapat diperiksa, serta mekanisme penanganan pelanggaran yang adil dan konsisten. Integritas tidak cukup diajarkan sebagai materi perkuliahan; ia harus hidup dalam praktik pembimbingan, penilaian, dan tata kelola institusi. Pada akhirnya, gelar sarjana bukan sekadar tambahan gelar di belakang nama, melainkan amanah intelektual dan moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Masyarakat menaruh harapan kepada kaum terdidik untuk membantu membaca persoalan, menawarkan jalan keluar, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Bagaimana mungkin harapan itu dipenuhi apabila proses pendidikan justru membiasakan seseorang menyelesaikan kewajiban tanpa memahami maknanya, atau memperoleh kesimpulan dengan mengorbankan kejujuran? Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga memastikan bahwa mereka memahami apa yang dipelajari dan mampu mempertanggungjawabkan pengetahuannya. Skripsi yang baik bukan selalu skripsi yang menghasilkan temuan spektakuler, melainkan skripsi yang lahir dari proses yang jujur, metode yang dapat dijelaskan, dan kesimpulan yang setia pada bukti. Sebab, ketika kelulusan lebih diutamakan daripada kebenaran, yang dipertaruhkan bukan hanya mutu sebuah karya ilmiah, melainkan makna gelar sarjana itu sendiri. Dan ketika kejujuran dikalahkan demi selembar ijazah, perguruan tinggi perlu kembali bertanya: apakah ia sedang mendidik manusia untuk berpikir, atau sekadar memproduksi lulusan untuk memenuhi angka kelulusan?
Ruminews.id, Jakarta — The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), mendorong penguatan sistem pencegahan perundungan yang inklusif bagi anak dengan disabilitas. Dorongan ini disampaikan menyusul kasus dugaan perundungan terhadap Zulkarnain Abdil Aziz (10) di Medokan Ayu, Surabaya, yang berujung pada meninggalnya korban.
Ruminews.id, Jakarta — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia.
Ruminews.id, Jakarta — Tim Advokasi untuk Demokratisasi Ruang Digital Indonesia (TAKDIR) membuka posko penjaringan calon penggugat untuk menjajaki upaya hukum terhadap Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Ruminews.id, Jakarta — Koalisi Media Alternatif (KOMA) mengecam upaya penghalangan kerja jurnalistik terhadap dua media anggotanya, BatamBergerak.id dan Wongkito.co. Kedua media tersebut dilaporkan menerima permintaan pencabutan berita atau take down terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemadaman listrik (blackout), serta demonstrasi terkait pusat data (data center). Menurut KOMA, kedua media dihubungi oleh pihak yang tidak dikenal dan tidak diketahui identitasnya. Pihak tersebut meminta agar berita yang telah diterbitkan di situs web dan akun media sosial BatamBergerak.id serta Wongkito.co dihapus. KOMA menyebut terdapat pola serupa dalam upaya tersebut, yakni menghubungi redaksi secara langsung dan menawarkan imbalan apabila media bersedia mencabut pemberitaan. Koalisi menilai praktik semacam ini merupakan bentuk tekanan terhadap independensi media dan kebebasan pers. KOMA juga menyoroti bahwa upaya meminta pencabutan berita oleh pihak yang keberatan terhadap pemberitaan semakin menjadi persoalan bagi kerja jurnalistik. Tekanan tersebut dinilai dapat menghambat media dalam menyampaikan informasi kepada publik, terutama mengenai isu-isu yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Dalam pernyataannya, KOMA menyebut upaya penghalangan kerja jurnalistik tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Koalisi menilai permintaan take down dapat menjadi bentuk intimidasi dan tekanan yang mengancam kebebasan pers, khususnya ketika pemberitaan berkaitan dengan persoalan lingkungan dan penanganan karhutla. KOMA menegaskan bahwa pemberitaan BatamBergerak.id dan Wongkito.co mengenai karhutla, blackout, dan demonstrasi terkait data center penting bagi publik. Informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menjalankan fungsi kontrol dan mengawasi penanganan berbagai persoalan yang diberitakan. Menurut koalisi, pencabutan berita akibat tekanan dapat membatasi hak masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh informasi. Situasi ini juga menambah deretan kasus intimidasi dan tekanan yang dihadapi jurnalis serta media dalam menjalankan tugas jurnalistik. KOMA menyampaikan tiga tuntutan untuk merespons persoalan tersebut. Pertama, menghentikan segala bentuk intimidasi dan tekanan terhadap kerja jurnalistik dan media, termasuk percobaan penyensoran, kekerasan fisik dan psikis, serta bentuk penghalangan lainnya. Kedua, pihak yang keberatan terhadap suatu pemberitaan diminta menempuh mekanisme yang tersedia, yakni Hak Jawab, Hak Koreksi, atau penyelesaian sengketa pers sesuai ketentuan dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ketiga, KOMA meminta pihak-pihak yang mengajukan permintaan take down kepada media untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Koalisi menilai permintaan pencabutan berita melalui tekanan dapat menghalangi hak publik untuk memperoleh informasi. Melalui pernyataan tersebut, KOMA menegaskan pentingnya perlindungan terhadap independensi media dan kebebasan pers agar jurnalis dapat terus menyampaikan informasi untuk kepentingan publik tanpa intimidasi maupun tekanan dari pihak-pihak yang keberatan terhadap pemberitaan.
Ruminews.id, Bantaeng — Gugatan lingkungan hidup yang diajukan warga Bantaeng terkait dugaan pencemaran udara dari aktivitas smelter di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) memasuki agenda pembacaan gugatan di Pengadilan Negeri Bantaeng pada Kamis (22/10/2026).
ruminews.id, MAKASSAR — Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) UIN Alauddin Makassar menyoroti implementasi program ekoteologi Kementerian Agama (Kemenag) di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kritik tersebut disampaikan Ketua Umum SEMA-U UIN Alauddin Makassar, Muhammad Asrul Syam, menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Asrul menilai, peringatan Hari Santri Nasional seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Menurutnya, ancaman karhutla dan paparan asap yang membahayakan kesehatan masyarakat perlu direspons melalui langkah konkret, termasuk dari institusi keagamaan. Ia menyoroti program ekoteologi yang selama ini digaungkan Kemenag, seperti pengembangan masjid ramah lingkungan (green mosque) dan pesantren berwawasan lingkungan. Menurut Asrul, gagasan tersebut perlu diwujudkan melalui aksi nyata agar tidak berhenti sebagai program sosialisasi dan kegiatan seremonial. “Ekoteologi tidak boleh berhenti pada slogan dan kegiatan formalitas. Ketika lingkungan menghadapi krisis, nilai-nilai keagamaan harus hadir dalam bentuk keberpihakan terhadap keselamatan manusia dan kelestarian alam,” demikian substansi kritik yang disampaikan Asrul. Ia berpandangan bahwa ajaran agama memiliki landasan moral yang kuat untuk mendorong perlindungan lingkungan. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh atau pengelola bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan. Atas dasar itu, Asrul mempertanyakan sejauh mana program ekoteologi Kemenag telah diterjemahkan menjadi gerakan edukasi, pencegahan, dan advokasi lingkungan. Ia menilai, kementerian yang memiliki jaringan kelembagaan hingga Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, serta satuan pendidikan keagamaan tersebut dapat mengambil peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Asrul menegaskan bahwa Kemenag memang bukan institusi teknis yang bertanggung jawab langsung memadamkan api di kawasan hutan. Namun, menurutnya, kementerian tersebut tetap memiliki ruang kontribusi melalui pendidikan, penguatan nilai keagamaan, mobilisasi jaringan penyuluh, dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencegah kerusakan lingkungan. Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan sejumlah landasan hukum, di antaranya Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, Asrul menilai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dapat menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat peran pesantren dalam pendidikan lingkungan dan pembentukan perilaku ramah lingkungan. Meski demikian, implementasinya memerlukan program yang terukur, dukungan kelembagaan, dan kerja sama lintas sektor. Kritik SEMA-U juga diarahkan kepada para tokoh agama lintas iman. Asrul menilai, pemuka agama memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran publik dan mendorong tanggung jawab bersama terhadap krisis ekologis. Menurutnya, mimbar keagamaan tidak semestinya hanya berfokus pada pesan spiritual yang bersifat individual, tetapi juga perlu menyentuh persoalan sosial, termasuk perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Ia mendorong agar para pemuka agama berani menyuarakan pentingnya penghentian praktik perusakan lingkungan serta mendukung penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Langkah tersebut, menurutnya, perlu dilakukan secara objektif dengan tetap mengedepankan bukti dan proses hukum yang berlaku. Desak Kemenag Perkuat Aksi Ekoteologi Menjelang Hari Santri Nasional 2026, SEMA-U UIN Alauddin Makassar mendesak Kemenag untuk memperkuat implementasi ekoteologi melalui langkah-langkah yang konkret dan berkelanjutan. Pertama, Kemenag didorong mengoptimalkan jaringan KUA dan penyuluh agama untuk meningkatkan edukasi lingkungan, menyebarluaskan informasi mitigasi karhutla, serta membangun partisipasi masyarakat dalam pencegahan kerusakan lingkungan. Kedua, Kemenag diharapkan memperluas kolaborasi dengan tokoh agama lintas iman, pesantren, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan instansi terkait untuk membangun gerakan moral bersama dalam menjaga kelestarian alam. Ketiga, program ekoteologi perlu dilengkapi dengan indikator capaian yang jelas agar pelaksanaannya dapat dievaluasi secara berkala. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan atau sosialisasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap pengetahuan, partisipasi, dan perilaku masyarakat. Asrul menegaskan, peringatan Hari Santri Nasional semestinya menjadi ruang refleksi mengenai kontribusi santri dan institusi keagamaan dalam menjawab persoalan bangsa, termasuk krisis lingkungan. “Penyelamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, ekoteologi harus hadir sebagai gerakan nyata, bukan sekadar jargon. Ketika keselamatan masyarakat terancam oleh krisis ekologis, negara dan institusi keagamaan perlu mengambil peran sesuai kewenangannya,” menjadi pesan utama kritik SEMA-U UIN Alauddin Makassar. SEMA-U berharap momentum Hari Santri Nasional 2026 dapat mendorong perubahan pendekatan dalam program ekoteologi, dari sebatas wacana menuju gerakan kolaboratif yang terukur. Upaya tersebut dinilai penting agar nilai-nilai keagamaan dapat berkontribusi secara nyata terhadap perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Ruminews.id, Jakarta — Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Elang mengajukan uji materiil terhadap Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) ke Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (19/10/2026). Gugatan tersebut menyoroti ketentuan verifikasi partai politik peserta pemilu dan penghitungan perolehan kursi DPR yang berkaitan dengan ambang batas parlemen.
Ruminews.id, JAKARTA — Badan Koordinasi Nasional Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BAKORNAS LKBHMI PB HMI) melayangkan Somasi Terbuka Pertama kepada Kepala Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Sudin PPKUKM) Kota Administrasi Jakarta Pusat atas dugaan penutupan dan pembatasan kegiatan usaha pedagang di Lokasi Sementara (Loksem) JP 33, kawasan Jalan Kramat Raya/Soka No. 2, Senen, Jakarta Pusat, yang menurut keterangan pihak kuasa hukum terjadi pada 20 Oktober 2026.