Opini

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Kompas di Meja Sarapan

Penulis: Haerul Fadli, S.KM – Penggiat Literasi ruminews.id – Aroma nasi goreng terasi buatan Ibu mengepul hangat di udara, tetapi bagi Arka, wewenang pagi itu kalah memikat dibanding pendar cahaya lima inci di genggamannya. Ibu jari remaja itu bergerak lincah, menyapu layar dengan kecepatan yang konstan. Wajahnya menekuk, matanya sayu menatap deretan unggahan kehidupan orang lain yang tampak berkilau tiada tara. Setiap guliran layar seolah menjadi hakim yang ketat bagi hidupnya sendiri, menyisakan ruang hampa yang kian menganga di dalam dadanya. ​”Arka, nasi gorengnya dingin nanti,” tegur Ibu lembut dari balik bar dapur, membuyarkan denting notifikasi yang terus bertubi-tubi. ​Arka hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Di layar ponselnya, sebuah video pendek menampilkan tumpukan pencapaian hebat remaja seusianya di kota besar seperti beasiswa internasional, bisnis digital beromzet jutaan, hingga perjalanan keliling dunia dengan visual yang memanjakan mata. Seketika, dadanya terasa sesak oleh rasa cemas yang tak kasat mata, sebuah fenomena kecemasan digital yang nyata merayap di kalangan generasi muda saat ini. Mengapa hidupnya di Kota Palopo terasa begitu sempit, datar, dan menjemukan? Mengapa ia rasanya tertinggal begitu jauh di belakang, sementara dunia di luar sana berlari begitu kencang? ​Suara tarikan kursi di seberang meja memecah lamunannya yang mulai menggelap. Abdi, ayahnya, duduk dengan ketenangan seorang pendidik yang sarat pengalaman. Alih-alih langsung menyantap sarapan atau memarahi kedisplinan Arka yang buruk, guru paruh baya itu justru meletakkan sebuah benda kuno berbahan logam tepat di samping piring Arka. Sebuah kompas saku penjelajah dengan goresan-goresan tipis di permukaannya, saksi bisu perjalanan waktu. ​Arka melirik benda itu sekilas, dahinya mengernyit heran. “Ayah, zaman sekarang kan sudah ada GPS dan peta digital di HP yang jauh lebih akurat. Buat apa Ayah masih menyimpan dan mengeluarkan kompas lama seperti ini?” ​Abdi tersenyum tenang, menyendok nasi goreng ke piringnya sendiri dengan gerakan yang teratur. “Alat boleh saja berganti dan semakin canggih, Arka. Tapi filosofi dasarnya tetap sama, tidak pernah berubah oleh zaman. Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau jarum kompas yang sensitif ini didekatkan ke magnet kuat lainnya?” ​Arka menghentikan sapuan jarinya di layar ponsel, mencoba mengingat pelajaran sekolah. “Jarumnya bakal kacau dan bergerak acak, Yah. Dia tidak akan bisa lagi menunjukkan arah utara yang asli karena terganggu oleh medan magnet luar.” ​”Tepat sekali,” Abdi mengetuk pelan tepi layar ponsel Arka yang masih menyala terang, menampilkan sebuah artikel berita dengan judul bombastis nan provokatif tentang krisis global yang memicu kepanikan masal. “Gawaimu ini, Arka, sejatinya adalah magnet luar yang sangat kuat dan manipulatif. Setiap hari, dari mata pertama kali terbuka di pagi hari hingga malam saat kamu kelelahan dan mau tidur, kamu membiarkan pikiranmu didekatkan secara paksa pada magnet-magnet itu. Isinya adalah distorsi realitas seperti hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga standar hidup palsu orang lain yang belum tentu nyata di balik layar. Hasilnya, arah langkah hidupmu ikut kacau, cemas, dan ragu-ragu karena jarum kompas di dalam kepalamu berputar tanpa arah yang jelas.” ​Arka tertegun membisu. Kata-kata ayahnya menghantam tepat di hulu hatinya, menelanjangi segala kekalutan yang ia pendam sendiri selama ini. Memang benar, belakangan ini ia merasa menjadi pemuda yang begitu penakut. Ia ragu untuk mengambil peluang beasiswa lokal, enggan mengikuti kompetisi kreator, dan selalu menunda rencana masa depannya hanya karena sering membaca komentar-komentar negatif di media sosial yang menyebut bahwa masa depan generasi muda saat ini sudah runtuh. Tanpa sadar, cara pandangnya telah teracuni oleh asupan informasi yang keliru dan tidak higienis bagi mentalnya. ​”Sebelum kamu melangkah keluar dari pintu rumah setiap pagi,” lanjut Abdi dengan nada yang kian hangat namun sarat akan ketegasan, “pikiranmu harus diberi Nutrisi Pikiran yang benar dan seimbang terlebih dahulu. Sarapan itu bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan fisik biologismu, tapi juga untuk membangun benteng cara pandangmu. Gawai di tanganmu itu sejatinya adalah kompas terbaik dan paling kuat di abad ini jika digunakan dengan bijak. Tapi ingatlah baik-baik, kompas tidak pernah berjalan secara mandiri. Cara pandang dan kesadaran kitalah yang memegang kendali penuh untuk menentukan ke mana arah langkah kaki kita akan tertuju.” ​Keheningan yang khidmat menyelimuti meja makan untuk beberapa saat, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang teratur. Arka menatap ponselnya yang masih berkedip menampilkan notifikasi baru, lalu beralih menatap kompas tua milik ayahnya yang jarumnya kini telah kembali tenang menunjuk satu arah yang pasti. Sesuatu yang besar di dalam dirinya mendadak bergeser. Kecemasan yang berbulan-bulan menggerogoti rasa percaya dirinya perlahan menyusut, menguap digantikan oleh sebuah kesadaran baru yang sangat jernih. Teknologi bukanlah musuh jahat yang harus dijauhi atau dikutuk, melainkan sebuah alat luar biasa yang selama ini gagal ia kendalikan karena ia membiarkan dirinya yang dikendalikan. ​Sejak sarapan pagi yang bersejarah bagi hidupnya itu, Arka mengubah total pola konsumsi digitalnya secara drastis. Ia mulai menerapkan diet informasi, memilah berita dengan kritis, menutup dan memblokir akun-akun negatif yang hanya memicu kecemasan, serta mulai mengisi ruang digitalnya dengan hal-hal yang edukatif dan membangun kapabilitas diri. Berbekal latar belakang pemahamannya yang kuat tentang isu-isu kesehatan lingkungan dan sosial, Arka mulai memberanikan diri menuangkan ide-idenya ke dalam bentuk konten edukasi yang segar, kreatif, dan solutif. ​Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Kini, layar ponsel Arka tidak lagi dipenuhi oleh rasa iri, rasa tidak percaya diri, atau ketakutan tak berdasar akibat hoaks. Melalui akun kreator digital yang ia bangun dengan konsisten, ia bertransformasi menjadi sosok penggerak literasi digital muda yang disegani di lingkungannya. Ia aktif membagikan konten edukasi kesehatan masyarakat, cara menyaring berita bohong, serta untaian motivasi yang membawa dampak nyata dan kebermanfaatan bagi teman-teman sebayanya untuk bangkit dari keterpurukan digital. ​Arka tersenyum lebar menatap layar ponselnya pagi itu, melihat grafik interaksi positif dan diskusi sehat yang terbangun di kolom komentarnya. Dengan gerakan yang mantap dan tenang, ia meletakkan ponselnya dengan posisi menghadap ke bawah di atas meja makan sebagai simbol kendali diri yang mutlak. Ia lalu menyendok sarapan nasi gorengnya dengan penuh rasa syukur dan khidmat. Di dalam genggamannya kini, dunia tidak lagi terasa sempit dan menakutkan karena kini dialah nahkoda sejati yang memegang kemudi kompas kehidupan, siap melangkah pasti menyongsong masa depan yang cerah. Biodata Penulis​ Haerul Fadli, S.KM adalah profesional Kesehatan Masyarakat lulusan Universitas Mega Buana Palopo yang aktif sebagai

Ekonomi, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Ilusi Sekat Pasar: Mengapa Kenaikan BBM Non-Subsidi Bukan Urusan “Orang Kaya” Semata

Penulis : Mujahid Turaihan – Koordinator Isu Hukum & Ham Bem PTMA Indonesia Timur Ruminews.id – Pemerintah dan korporasi penyedia energi sering kali menggunakan narasi dikotomi saat mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi (seperti Pertamax series atau Dex series). Narasi yang dilempar ke publik biasanya seragam: “Ini hanya berdampak pada kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang mampu, tidak akan mengganggu hajat hidup orang banyak.” Namun, di atas panggung realitas ekonomi, sekat antara komoditas subsidi dan non-subsidi tidak pernah benar-benar kedap air. Menaikkan harga BBM non-subsidi tanpa memitigasi efek kederasannya ke sektor subsidi adalah sebuah kenaifan ekonomi. Berikut adalah anatomi kritis bagaimana kenaikan BBM non-subsidi justru mendistorsi dan membebani BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar):  Migrasi Massal Konsumen (Efek Substitusi) Hukum dasar ekonomi tidak bisa diredam oleh sekadar imbauan moral. Ketika selisih harga antara BBM non-subsidi dan subsidi semakin melebar (misalnya selisih antara Pertamax dan Pertalite), batas psikologis kelayakan finansial konsumen akan jebol. Masyarakat kelas menengah yang sebelumnya “sadar diri” dan memilih BBM non-subsidi demi merawat mesin kendaraan mereka, secara rasional akan menghitung ulang pengeluaran bulanan mereka. Hasilnya? Migrasi massal secara instan ke BBM bersubsidi. Dampaknya: Antrean di jalur Pertalite menjalar panjang, sementara jalur Pertamax sepi melengang. BBM bersubsidi yang kuotanya sudah dibatasi oleh APBN justru habis lebih cepat dari jadwal karena harus menampung limpahan konsumen baru. Efek Domino pada Biaya Logistik dan Inflasi Terselubung Banyak yang lupa bahwa kendaraan niaga ringan seperti mobil boks logistik, angkutan komoditas pangan antarwilayah, dan kurir e-commerce sebagian menggunakan BBM non-subsidi untuk mengejar efisiensi waktu dan performa mesin. Ketika harga operasional mereka naik akibat BBM non-subsidi yang mahal, para pelaku usaha dihadapkan pada dua pilihan pelik: Menaikkan tarif layanan/harga barang, yang memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat bawah. Turun kelas menggunakan BBM bersubsidi (Solar/Pertalite) demi bertahan hidup, yang secara langsung merebut jatah masyarakat yang lebih membutuhkan. Jebakan Fiskal: Anggaran Subsidi Justru Berpotensi Membengkak Niat awal menaikkan harga BBM non-subsidi biasanya adalah untuk korporasi (seperti Pertamina) agar tidak merugi akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia. Namun, efek migrasi konsumen yang disebutkan di poin pertama justru menciptakan bumerang bagi negara. Jika volume konsumsi Pertalite dan Solar melonjak tajam karena perpindahan konsumen Pertamax, maka beban kompensasi dan subsidi yang harus dibayar negara kepada badan usaha justru berpotensi membengkak. Alih-alih menghemat kas negara, kebijakan ini malah memindahkan beban finansial dari kantong korporasi ke kas APBN melalui jalur subsidi yang jebol. Ketegangan Sosial di SPBU Secara horizontal, gesekan sosial tidak dapat dihindari. Pengemudi ojek online, angkutan umum, dan masyarakat rentan yang secara regulasi merupakan hakikat penerima BBM bersubsidi, harus berebut ruang, waktu, dan kuota dengan mobil-mobil kelas menengah yang ikut mengantre di jalur subsidi. Kebijakan ini secara tidak langsung menciptakan kanibalisme kelas di lapangan. Kesimpulan Menaikkan harga BBM non-subsidi dengan asumsi “tidak akan mengganggu rakyat kecil” adalah bentuk pemikiran linier yang mengabaikan sifat dinamis pasar. Ekonomi adalah ekosistem yang saling terhubung. Selama celah harga antara yang bersubsidi dan non-subsidi terlampau jauh, dan selama sistem pembatasan pembelian subsidi di lapangan masih bolong-bolong, maka setiap rupiah kenaikan pada BBM non-subsidi adalah lonceng kematian bagi ketahanan kuota BBM bersubsidi. Pemerintah tidak bisa lagi menggunakan pendekatan parsial. Mengelola energi bukan sekadar menaik-turunkan angka di papan SPBU, melainkan mengelola psikologi massa dan daya tahan perut masyarakat.

Hukum, Nasional, Opini

Polri Harus Berbenah, Pangkas Buah yang Busuk!

Penulis: Andreas Chandra, CPLA — Paralegal dan Pemerhati Sosial Ruminews.id, Yogyakarta — Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia) hari-hari ini rasanya telah menjadi garda terdepan sebagai pengayom masyarakat. Pengabdian mereka kepada masyarakat terus terlihat secara nyata melalui pembinaan, perlindungan, dan pelayanan yang diberikan dengan tulus. Kepentingan rakyat menjadi prioritas dan merupakan tugas pokok yang harus dijalankan oleh setiap anggota kepolisian.

Nasional, Opini, Pemuda, Yogyakarta

Generasi “Oke Gas” Berujung Lemas: Sebuah Cerita dari Pertigaan Gejayan

Penulis: Rawlins Kenheta — Siswa SMP Budya Wacana Ruminews.id, Yogyakarta — Ketika kebijakan digas terus tanpa rem, bukan kemakmuran yang muncul, melainkan harga barang-barang yang melesat naik. Di bawah guyuran hujan Yogyakarta, Pertigaan Gejayan kembali menjadi saksi runtuhnya janji-janji manis politik yang dulu digembor-gemborkan dengan riang gembira.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Atas Nama Makanan Gratis, Anggaran Pendidikan Diperas

Penulis: Alif Umar Billah – Ketua Umum HPPMI MAROS KOM.PELAJAR 2026-2027 Ruminews.id – Membaca realitas hari ini di Republik Indonesia adalah menyaksikan sebuah ironi besar: dunia pendidikan sedang dinomor-duakan secara struktural. Kehadiran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Ke-8, Prabowo Subianto, alih-alih menjadi solusi, justru melahirkan ketimpangan baru yang menumbalkan masa depan intelektual bangsa. Sebagai pelajar dari Kabupaten Maros yang menyaksikan langsung betapa ringkihnya fasilitas pendidikan di daerah, kebijakan ini terasa seperti ilusi kesejahteraan yang harus dibayar mahal oleh hak dasar siswa.

Ekonomi, Nasional, Opini, Pemerintahan

Ekonomi Luwu Timur Minus, tapi Sektor Rakyat Melesat 13,87 Persen

Penulis: Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi ruminews.id – Jika kita membaca daftar pertumbuhan ekonomi seluruh kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026, maka mata akan langsung tertuju pada baris paling bawah. Di sanalah Luwu Timur bercokol dengan angka minus 2,31 persen, terendah di antara 24 daerah lainnya. Sebuah predikat yang secara instingtif sering langsung diartikan sebagai kemunduran total. Tapi benarkah demikian? Sebab, ketika wartawan ekonomi menggali lebih dalam ke data BPS, cerita yang muncul justru membalikkan naluri awal tersebut. Kontraksi 2,31 persen ternyata bukan karena semua sektor ambruk, tapi hampir sepenuhnya akibat kejatuhan produksi pertambangan yang selama ini menjadi tumpuan utama struktur ekonomi daerah. Sementara itu, di luar tambang, terjadi sesuatu yang luar biasa, yakni sektor non-tambang Luwu Timur tumbuh 13,87 persen secara year-on-year. Angka ini bukan sekadar positif, tapi lompatan dua digit yang jarang terjadi di tengah perlambatan nasional. Maka muncullah paradoks menarik. Di satu sisi, Luwu Timur menyandang status sebagai daerah dengan kinerja ekonomi agregat terburuk se-Sulsel. Di sisi lain, aktivitas riil masyarakat di pertanian, perdagangan, konstruksi, transportasi, serta UMKM justru bergerak seperti mesin yang baru dinyalakan. Data BPS merinci, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang pertumbuhan fantastis hingga 24,35 persen, sementara konstruksi melesat 14,85 persen dan administrasi pemerintahan naik 44,17 persen secara triwulanan. Ini adalah potret yang tidak biasa dimana sebuah daerah yang secara matematis menjadi “juru kunci” karena bobot tambang yang sangat besar, namun secara sosiologis dan ekonomis sedang mengalami diversifikasi paling cepat se-provinsi. Dengan kata lain, ketika satu kaki (tambang) sedang terpeleset, kaki lainnya (sektor rakyat) justru berlari. Tentu, peringkat terbawah di Sulsel tetap menjadi catatan keras yang tidak bisa diabaikan. Ini mengingatkan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam tidak terbarukan masih menjadi risiko sistemik. Namun, di balik angka minus dan predikat terendah tersebut, tersimpan fakta mencerahkan bahwa transformasi ekonomi sedang berlangsung nyata. Luwu Timur tidak lagi hanya mengandalkan hasil galian bumi, tapi perlahan membangun fondasi dari produktivitas warganya sendiri. Maka, membaca data secara utuh menjadi keharusan. Jangan biarkan satu angka negatif dan satu peringkat terbawah membungkam bukti ekspansi sektor riil yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak. Karena kemajuan sejati sebuah daerah tidak hanya diukur dari tinggi-rendahnya angka agregat sesaat, tetapi dari sekuat apa pertanian, UMKM, dan kesempatan kerja tumbuh ketika tumpuan lama mulai usang. Dan di Luwu Timur, proses itu telah dimulai dengan cara yang menggugah, di tengah predikat yang merendah.

Nasional, Opini, Pemuda, Politik

Memimpin Negara itu Mudah

Penulis: Yudi Latif — Aktivis dan Cendekiawan Indonesia Ruminews.id, Jakarta — Saudaraku, banyak orang mengira memimpin negara itu mahasulit. Namun dalam banyak hal, memimpin negara itu lebih sederhana daripada memimpin keluarga. Negara dapat diatur dengan hukum dan kewenangan, sementara keluarga hanya dapat dipimpin dengan kasih, pengertian, kesetiaan, keteladanan dan tanggung jawab.

Hukum, Kesehatan, Nasional, Opini, Pemerintahan

Tiga Reformasi Program Jaminan Kesehatan Nasional

Penulis: Timboel Siregar – Koordinator Advokasi BPJS Watch Ruminews.id, Jakarta — Selasa, tanggal 9 Juni 2026 lalu Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengadakan Rapat Kerja dengan Menteri Kesehatan, Direksi dan Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, serta Dewan Jaminan Sosial Nasional( DJSN).

Badan Gizi Nasional, Nasional, Opini, Pemerintahan

Pergantian Kepemimpinan BGN: Langkah Pengendalian Kondisi Atau Menarik Simpati Rakyat?

Penulis:  Carissa Listya P. — Siswa SMP Budya Wacana Yogyakarta & Angga Riyon Nugroho S.Pd. — Guru SMP Budya Wacana Yogyakarta Ruminews.id, Yogyakarta — Berita terkait pergantian kepala BGN (Badan Gizi Nasional) sudah tersebar luas di berbagai media, media koran bahkan berita di televisi. Seperti yang diketahui, seseorang yang cocok menjadi kepala BGN adalah yang sudah berpengalaman di bidang gizi. Presiden Prabowo Subianto mengganti pimpinan BGN. Kepala BGN Dadan Hindayana, diberhentikan sebagai kepala BGN, bersama dengan dua wakil kepala BGN lainnya. Presiden Prabowo Subianto pun menunjuk: Nanik S. Deyang (sebagai Kepala BGN), Agustina Arum Sari (sebagai Wakil Kepala BGN), Trenggono (sebagai Wakil Kepala BGN). Ujar menteri sekertaris negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pertanian

Jika Amanah Memiliki Akar Mengapa Ia Tak Tumbuh Di Dapil IV INHIL

Penulis : Ashar Wibowo – Mahasiswa Ruminews.id – Indragiri Hilir-sering dibanggakan sebagai Hamparan Kelapa Dunia. Gelar itu terus diulang dalam berbagai forum, pidato, dan dokumen pembangunan. Namun bagi sebagian besar masyarakat di Dapil IV, kebanggaan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari. Detik ini petani INHIL masih dalam keadaan mengibahi pemerintah terkait turunnya harga kelapa, namun 4 Minggu yang lalu sudah ada langkah yang di coba oleh pelayan masyarakat terkait dinamika yang terjadi, sebagai mana dalam posting Instagram Bupati Inhil yang sempat berdiskusi bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian bidang produksi dan menyampaikan surat permohonan penetapan harga acuan pembelian komoditas kelapa yang akan di teruskan kepada Menteri Pertanian. Sampai saat ini masyarakat masih menunggu kabar baik tersebut. Kaum proletar mencoba sedikit beralih sejenak dari harga kelapa yang lemah sama seperti kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Di tengah hamparan kebun kelapa yang luas, petani justru berhadapan dengan kebun yang semakin tua, parit yang dangkal, abrasi yang menggerus lahan produktif, minimnya pendampingan kepada petani kelapa, dan ketidakpastian masa depan. Mereka tetap bekerja keras tetapi hasil yang diperoleh semakin jauh dari harapan, sedangkan pemerintah sibuk duduk di sofa dengan hidangan yang mewah,. Yang menjadi pertanyaan, di mana keberpihakan pemerintah dan di mana suara wakil rakyat ketika persoalan ini terus berulang dari tahun ke tahun? Masyarakat tidak menuntut hal yang berlebihan. Mereka hanya ingin persoalan yang sudah lama diketahui tidak terus dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Parit yang rusak dan dangkal bukan persoalan baru. Abrasi bukan kejadian kemarin sore. Kebun kelapa yang menua juga bukan masalah yang muncul tiba-tiba. Semua itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan berulang kali disampaikan dalam berbagai forum. Karena itu, Tulisan ini patut diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir agar lebih serius menjadikan sektor pertanian dan perkebunan sebagai prioritas nyata, bukan sekadar slogan. Program tidak boleh berhenti pada pembagian bantuan seremonial, tetapi harus menyentuh akar persoalan yang dihadapi petani. Di sisi lain, Ashar Wibowo Mahasiswa INHIL mempertanyakan kinerja anggota DPRD dari Dapil IV. Sebagai wakil rakyat, mereka dipilih bukan hanya untuk hadir saat masa kampanye atau reses. Mereka diberi amanah untuk memperjuangkan anggaran, mengawasi jalannya program pemerintah, dan memastikan bahwa kebutuhan masyarakat benar-benar masuk dalam agenda pembangunan daerah. Apabila persoalan yang sama terus terjadi tanpa adanya terobosan kebijakan yang jelas, maka wajar jika masyarakat mempertanyakan: Sejauh mana aspirasi masyarakat Dapil IV benar-benar diperjuangkan? Berapa banyak rekomendasi yang telah dihasilkan untuk menyelesaikan persoalan perkebunan? Apa langkah konkret yang telah dilakukan untuk mengatasi abrasi, memperbaiki tata air, dan mendorong peremajaan kebun kelapa? Mengapa masyarakat masih harus menghadapi persoalan yang sama setiap tahunnya? Tulisan kaum proletar ini bukanlah bentuk kebencian. Ini adalah bagian dari Alarm terhadap kekuasaan. Pemerintah dan wakil rakyat diingatkan agar tidak menjauh dari realitas masyarakat yang mereka layani. Hari ini, petani INHIL khususnya di Dapil IV tidak membutuhkan janji baru. Mereka membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan, keberpihakan dalam penyusunan anggaran, dan kesungguhan dalam bekerja. Jika pemerintah daerah dan para anggota DPRD benar-benar ingin dikenang sebagai pelayan rakyat, maka ukurannya bukan seberapa sering mereka berbicara tentang petani, tetapi seberapa besar perubahan yang dirasakan oleh petani itu sendiri. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai dari baliho yang terpampang di jalan, melainkan dari jalan yang diperbaiki, parit yang dinormalisasi, abrasi yang ditangani, kebun yang kembali produktif, dan kehidupan petani yang semakin sejahtera.

Scroll to Top