OPINI

Sisi Lain Dari Sampah Dan Kandungan Energi Didalamnya

Penulis: Akbar Idris (Pegiat Energi)

ruminews.id – Sampah menjadi bagian dari sirkulasi aktivitas masyarakat di Indonesia. Peningkatan kebutuhan masyarakat tentunya berimbas pula pada jumlah kuantitas sampah yang kita temui setiap harinya. Hal ini menjadi satu permasalahan serius dikarenakan semakin meningkatkan kuantitas sampah, maka akan berdampak pula terhadap berbagai aspek kehidupan khususnya pada segmentasi Kesehatan.

Lantas apakah sampah menjadi sebuah “Kutukan” bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai komunitas Konsumtif? Inikah akibat dari budaya Konsumtif masyarakat Indonesia sehingga mau tidak mau sampah menjadi satu entitas Problem yang kini dihadapi Indonesia?

Indonesia Dan Krisis Sampah
Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan sekitar 60 hingga 70 juta ton sampah. Hal ini tentunya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah produksi sampah terbesar di dunia.

Tentu ini bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan mengigat lebih dari 50 persen sampah di Indonesia masuk dalam kategori sampah Organik yang menghasilkan gas metana yang tentunya berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Disisi lain, bertumpuknya sampah yang disebabkan oleh Tempat Pembuangan Akhir di Indonesia yang bersifat terbuka (Open Dumping) sudah melebihi kapasitas penampungan sehingga tumpukan sampah yang menjulang tinggi layaknya “Gunung Sampah” banyak kita jumpai di Indonesia khususnya di Kota-Kota Besar.

Hal ini tentunya merusak lingkungan terutama pencemaran terhadap air tanah yang disebabkan oleh cairan lindi (leachate) yang meresap kedalam tanah. Selain itu, tumpukan sampah juga mengakibatkan peningkatan keasaman (pH) tanah dan menghasilkan daya rusak terhadap ekosistem Mikro Organisme lokal.

Inilah permasalahan klasik di Indonesia yang hingga kini belum ditemukan solusi yang bersifat solutif. Lantas apakah masyarakat akan terus menjadi “Korban” dari tumpukan Sampah?

Kebijakan Pemerintah & Kesadaran Sosial
Problem sampah tentunya membutuhkan perhatian serius dari seluruh unsur yang mendiami suatu Negara atau wilayah. Dalam terminologi Kekuasaan, Pemerintah Pusat sebagai pembuat dan penentu arah kebijakan Negara telah membuat suatu aturan yang berkaitan dengan krisis sampah yang melanda Indonesia.

Penutupan Open Dumping, Pembangunan PSEL (Pengelolaan Sampaj menjadi Energi Listrik), Gerakan pilah sampah dari sumber hingga peraturan mengenai pemberian efek jera berupa denda yang bersifat materi terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan.

Namun semua aturan yang dibuat dan dicanangkan oleh Pemerintah Pusat akan menjadi Bias manakala kesadaran masyarakat akan bahaya sampah tidak diupgrade. Peningkatan sosialisasi terkait dampak tumpukan sampah harus lebih ditingkatkan sebagai bagian dari proses “Penyadaran” kepada masyarakat baik dalam konteks himbauan secara langsung maupun pemanfaatan platform Media Elektronik dan Sosial Media.

Konektivitas antara aturan Pemerintah dengan Kesadaran Sosial tentu akan berdampak sistemik terhadap problem Sampah di Indonesia.

Sampah Dan Energi Yang Terkandung Didalamnya
Tentu kita memahami bahwa sampah menghasilkan gas Metana yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu Sumber Energi. Gas Metana yang berasal dari tumpukan sampah dapat dijadikan sebagai Bahan Bakar alternatif pengganti Gas LPG di rumah-rumah masyarakat.

Selain itu Gas Metana juga dapat menjadi sumber Energi Listrik dalam skala besar melalui Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Bahan Bakar Kendaraan dengan Konsep Compressed Natural Gas (CNG) yang ramah lingkungan dan kebutuhan industri baik dalam skala kecil (Industri Rumah Tangga) hingga skala besar (Pabrik dan industri pertanian).

Bila pengolahan dan pengelolaan sampah dilakukan secara proporsional, bukan hal yang mustahil sampah dapat dijadikan sebagai salah satu Energi Alternatif bahkan dapat menjadi penyangga bagi visi Ketahanan dan Kedaulatan Energi untuk menjawab tantangan Krisis Energi Fosil kedepannya.

Satu Titik Kordinat Bernama Makassar
Makassar adalah Pintu Gerbang Indonesia Timur dan menjadi Centrum Ekonomi Bisnis di Wilayah Timur Indonesia. Sebagai salah satu Kota yang menjadi destinasi Bisnis, Makassar dianggap sebagai Kota yang dapat memberikan Harapan bagi peningkatan Ekonomi dan taraf hidup masyarakat khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.

Sebagai salah satu tujuan Destinasi Bisnis, Makassar nyatanya juga masih terlilit problem sampah yang semakin menumpuk. TPA Antang yang menjadi satu satunya tempat pembuangan akhir sampah di Kota Makassar nyatanya menimbulkan keresahan masyararakat di sekitar lokasi TPA tersebut. Hal ini tidak terlepas dari Over Capacity dan juga bau yang menyegat yang dihasilkan sampah-sampah tersebut. Akibatnya, Kementerian LH pun memberikan Sanksi dan meminta agar TPA Antang mengubah pola pembuangan sampah dari yang bersifat Open Dumping ke Sanitary Landfill.

Lantas apakah ini menjadi Solusi Solutif bagi penanggulangan Krisis Sampah di Kota Makassar ataukah perlu adanya pemanfataan Sampah untuk dijadikan salah satu Sumber Energi yang bersifar ramah lingkungan??

Perlu diketahui bahwa setiap hari Kota Makassar memproduksi sampah sekitar 1.644 Ton dengan tingkat pengelolaannya masih rendah alias sampah yang belum terkelola masih di level tinggi. Hal ini tentunya menjadi sorotan publik mengingat Makassar merupakan “Wajah/Cerminan” Indonesia Timur.

Oleh karena itulah, salah satu urgensi yang harus menjadi titik fokus Pemerintah Kota Makassar adalah percepatan proyek PSEL sebagai bagian dari pemanfaatan tumpukan sampah untuk dijadikan sebagai salah satu Sumber Energi. Dengan tumpukan sampah yang semakin menggunung, tentu Gas Metana yang dihasilkan akan besar dan ini akan menghasilkan Energi Listrik yang besar pula.

Pemerintah Kota Makassar pun dapat memanfaatkan dan berkolaborasi dengan pihak swasta dan juga kampus dalam pengembangan Gas Metana yang dihasilkan oleh sampah menjadi Energi Listrik. Keterlibatan swasta sebagai investor dan juga kampus sebagai laboratorium pengembangan dan pemanfaatan Gas Metana akan mempercepat pembangunan PSEL sehingga Sampah yang selama ini menjadi salah satu problem serius di Kota Makassar dapat segera terselesaikan.

Pada akhirnya, Kolaborasi dan atau Elaborasi antar Elemen adalah bentuk dari upaya menjadikan Makassar sebagai Kota nyaman tanpa sampah. Konektivitas dan semangat Gotong Royong yang menjadi bagian dari entitas Makassar adalah Jalan Mewujudkan Program Makassar Bebas Sampah 2029. Selain itu, Makassar dapat menjadi Kota Energi yang Ramah Lingkungan dengan Sampah sebagai bahan bakunya.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (2)
Generasi Muda Luwu Timur: Gelombang Baru Prestasi dan Pemberdayaan di Bumi Batara Guru
Muzakkir (1)
Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti
anunya rumi
A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”
WhatsApp Image 2026-07-11 at 01.00
Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM
Muzakkir (1)
Perempuan dan Perjalanan Menemukan Diri
Muzakkir (2)
Antara Ekspektasi dan Realitas: Beban Psikologis Menjadi Perempuan
IMG-20260710-WA0097
Diantara Satu Sama Lain Jejak Sejarah dan Realitas Perempuan yang Saling Menghakimi
Untitled design
Evaluasi Polresta Gowa: Hentikan Penjemputan Paksa Tanpa Surat Perintah
Muzakkir (1)
Standar Kecantikan dan Politik atas Tubuh Manusia
Scroll to Top