OPINI

Antara Ekspektasi dan Realitas: Beban Psikologis Menjadi Perempuan

Penulis: Rezky Amelia – Peserta LKK HMI Cabang Wajo

ruminews.id, Wajo – Di tengah kemajuan zaman yang sering diklaim sebagai era kesetaraan, perempuan masih berada dalam pusaran ekspektasi sosial yang begitu tinggi. Mereka dituntut untuk menjadi cerdas, mandiri, berkarier sukses, namun di saat yang sama tetap harus lembut, patuh, dan mampu menjalankan peran domestik secara sempurna. Ironisnya, ketika perempuan berhasil memenuhi satu standar, masyarakat kerap menciptakan standar baru yang lebih tinggi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berjuang menghadapi tantangan nyata, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis yang lahir dari konstruksi sosial. Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi “baik”, tidak terlalu vokal, tidak terlalu ambisius, dan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain. Akibatnya, banyak perempuan tumbuh dengan rasa takut gagal, takut dinilai buruk, bahkan takut menjadi dirinya sendiri.

Media sosial memperparah kondisi tersebut. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana berekspresi justru sering menjadi arena kompetisi yang tidak sehat. Perempuan terus-menerus disuguhi citra perempuan “ideal”: tubuh ideal, karier ideal, keluarga ideal, hingga kehidupan yang tampak sempurna. Perbandingan tanpa henti ini melahirkan kecemasan, krisis kepercayaan diri, hingga kelelahan mental yang sering kali tidak terlihat.

Lebih jauh, beban psikologis perempuan sering kali dianggap sebagai masalah pribadi, padahal akar persoalannya bersifat struktural. Ketika perempuan merasa lelah karena harus mengurus rumah tangga sekaligus bekerja, masyarakat justru memuji kemampuan multitasking mereka tanpa mempertanyakan mengapa tanggung jawab tersebut tidak dibagi secara adil. Ketika perempuan mengalami stres akibat tekanan sosial, mereka diminta untuk “lebih kuat” daripada mengubah sistem yang menekan mereka.

Dalam perspektif psikologi perempuan, kondisi ini dikenal sebagai double burden atau beban ganda, bahkan berkembang menjadi triple burden ketika perempuan juga dituntut aktif dalam kehidupan sosial dan organisasi. Beban tersebut bukan hanya menguras tenaga fisik, tetapi juga mengikis kesehatan mental secara perlahan.

Sudah saatnya masyarakat berhenti menjadikan perempuan sebagai objek ekspektasi tanpa batas. Perempuan tidak harus sempurna untuk dihargai. Nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh penampilan, status pernikahan, kemampuan mengurus rumah tangga, ataupun pencapaian kariernya. Perempuan adalah manusia yang memiliki hak untuk gagal, beristirahat, menentukan pilihan hidupnya sendiri, dan didengar suaranya.

Membebaskan perempuan dari tekanan ekspektasi bukan berarti memberi mereka keistimewaan, melainkan mengembalikan hak dasar mereka sebagai manusia yang setara. Sebab, kesetaraan tidak hanya berbicara tentang kesempatan, tetapi juga tentang kebebasan untuk hidup tanpa dibebani standar yang tidak manusiawi.

“Perempuan tidak lahir untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, tetapi untuk menentukan makna hidupnya sendiri.”

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
Merdeka Hari Ini, Berdaulat Menentukan Hari Esok
Muzakkir (1)
Prabowonomic dan Ujian Ekonomi Rakyat
Wartawan Udin
Refleksi 30 Tahun Wafatnya Udin: Wajah Kekerasan Negara Terhadap Jurnalis di Indonesia
Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara
81 TAHUN INDONESIA MERDEKA Antara Cita-Cita Proklamasi dan Realitas Negeri Hari Ini, Refleksi 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026
Muzakkir (1)
Halah, Organisasi Sudah Tidak Penting untuk Saat Ini
Merah dan hitam grand opening A4 lanscape
Kemerdekaan Yang Belum Selesai: Ketika Bangsa Telah Merdeka Tetapi Manusianya Masih Harus Membebaskan Diri
Merah dan hitam grand opening A4 lanscape
Kemerdekaan Yang Dipertanyakan: Antara Perayaan, Kekuasaan, Dan Luka Rakyat
Muzakkir (6)
Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan: Dari Neo-Kolonialisme Hingga Despotisme Hukum
Muzakkir (5)
Indonesia Merdeka, Perempuan dijajah Kekerasan: Membaca Data Ketimpangan Gender.
Muzakkir (4)
Merdeka dalam Bayangan Feodalisme
Scroll to Top