OPINI

Kebaikan Tidak Pernah Terorganisir, Namun Kejahatan Selalu Terorganisir

Penulis: Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara XV – Sultan dari Istana Baitul Mulkiyah Kesultanan Pakunegara Sanggau, Kalimantan Barat

Ruminews.id – Ada sebuah ironi yang terus berulang dalam kehidupan manusia: orang-orang baik sering kali berjumlah jauh lebih banyak, tetapi mereka yang berniat buruk justru terkadang terlihat lebih kuat.

Bukan karena kejahatan selalu lebih besar daripada kebaikan, melainkan karena kejahatan sering memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebaikan: organisasi, keberanian untuk bertindak bersama, kepentingan yang menyatukan, serta strategi yang dijalankan secara konsisten.

Dari sinilah muncul sebuah perenungan:

“Kebaikan tidak pernah terorganisir, namun kejahatan selalu terorganisir.”

Kalimat tersebut tentu tidak berarti bahwa semua kebaikan tidak memiliki organisasi atau semua kejahatan selalu terstruktur. Ia merupakan metafora untuk menggambarkan persoalan yang lebih mendalam: kebaikan sering bergerak sendiri-sendiri, sementara kejahatan memahami pentingnya jaringan dan kekuatan kolektif.

Ketika Orang Baik Memilih Diam

Dalam kehidupan masyarakat, sering kali kita menemukan orang-orang yang mengetahui bahwa sesuatu itu salah. Mereka memahami bahwa ketidakadilan sedang terjadi. Mereka melihat penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi, kebohongan, korupsi, intimidasi, atau berbagai tindakan yang merugikan kepentingan bersama.

Namun, tidak semuanya berani bersuara.

Sebagian memilih diam karena merasa persoalan tersebut bukan urusannya. Sebagian takut kehilangan jabatan, pekerjaan, kesempatan, atau hubungan sosial. Sebagian lainnya berpikir bahwa suaranya terlalu kecil untuk mengubah keadaan.

Akhirnya muncul sebuah paradoks:

Banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi sedikit yang memperjuangkannya.

Kebaikan kemudian menjadi sikap individual. Ada orang jujur, tetapi berjalan sendiri. Ada orang berintegritas, tetapi tidak mempunyai jaringan. Ada orang berani, tetapi tidak mendapatkan dukungan. Ada orang yang ingin memperbaiki keadaan, tetapi tidak memiliki kekuatan kolektif.

Pada titik inilah kebaikan menjadi rapuh.

Bukan karena nilai kebaikan itu lemah, tetapi karena orang-orang baik gagal mengubah kesamaan nilai menjadi kekuatan bersama.

Kejahatan Memahami Arti Kepentingan Bersama

Sebaliknya, kejahatan sering memiliki kemampuan membangun solidaritas berdasarkan kepentingan.

Korupsi besar, misalnya, hampir tidak pernah dilakukan oleh satu orang. Di dalamnya dapat terdapat pembagian peran: siapa yang mengambil keputusan, siapa yang menyediakan akses, siapa yang mengatur administrasi, siapa yang menikmati keuntungan, bahkan siapa yang bertugas menutupi jejak.

Demikian pula kejahatan terorganisir. Ia membangun jaringan, hierarki, komunikasi, pembagian tugas, perlindungan, sumber pembiayaan, hingga mekanisme untuk mempertahankan loyalitas anggotanya.

Ironisnya, orang-orang yang melakukan kejahatan terkadang lebih memahami arti kerja sama dibandingkan orang-orang yang memperjuangkan kebaikan.

Mereka mungkin berbeda latar belakang, karakter, bahkan tidak saling menyukai. Namun, ketika kepentingan mereka bertemu, perbedaan tersebut dapat dikesampingkan.

Sementara itu, orang-orang baik justru terkadang terpecah oleh ego, perbedaan pandangan, kelompok, organisasi, kepentingan pribadi, bahkan persoalan mengenai siapa yang paling berhak tampil di depan.

Akibatnya, kejahatan yang jumlah pelakunya sedikit dapat menghadapi masyarakat yang jauh lebih besar tetapi tercerai-berai.

Kejahatan Tidak Selalu Datang dengan Wajah Menakutkan

Persoalan menjadi semakin kompleks karena kejahatan modern tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terbuka.

Ia dapat datang melalui meja kekuasaan.
Ia dapat bersembunyi di balik prosedur.
Ia dapat dibungkus dengan bahasa hukum.
Ia dapat berlindung di balik jabatan.
Ia dapat menggunakan uang untuk membeli pengaruh.
Ia bahkan dapat membangun narasi seolah-olah tindakan yang dilakukan adalah sesuatu yang benar.

Karena itu, masyarakat tidak hanya menghadapi kejahatan individual, tetapi juga kemungkinan menghadapi kejahatan yang telah berubah menjadi sistem.

Ketika sebuah penyimpangan dilakukan sekali, mungkin kita dapat menyebutnya kesalahan.

Ketika dilakukan berulang-ulang, ia menjadi kebiasaan.

Ketika kebiasaan tersebut dilindungi oleh banyak orang, ia menjadi jaringan.

Dan ketika jaringan itu mampu memengaruhi aturan, kekuasaan, informasi, dan institusi, ia dapat berkembang menjadi kejahatan struktural.

Pada tahap tersebut, keberanian seorang individu saja tidak lagi cukup untuk melawannya.

Ketika Sistem Membuat Orang Baik Tidak Berdaya

Sebuah negara tidak akan menjadi kuat hanya karena mempunyai banyak orang baik. Negara menjadi kuat ketika sistem memungkinkan orang baik bekerja dan membuat orang jahat sulit melakukan kejahatan.

Inilah pentingnya institusi.

Hukum tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang berkuasa. Penegakan hukum tidak boleh ditentukan oleh siapa yang mempunyai hubungan. Jabatan publik tidak boleh menjadi alat untuk memperkaya kelompok. Institusi negara tidak boleh digunakan untuk melindungi kepentingan pribadi.

Sebab ketika institusi melemah, yang menentukan keadaan bukan lagi aturan, melainkan jaringan kekuasaan.

Dalam kondisi demikian, orang jujur justru dapat dianggap sebagai gangguan. Orang yang kritis dianggap sebagai ancaman. Orang yang mempertanyakan penyimpangan dianggap tidak loyal. Sementara mereka yang mengikuti kepentingan kelompok justru mendapatkan perlindungan.

Jika keadaan semacam ini dibiarkan, masyarakat perlahan-lahan dapat kehilangan keyakinan bahwa kejujuran mempunyai nilai.

Dan hilangnya kepercayaan terhadap nilai kejujuran jauh lebih berbahaya daripada satu kasus kejahatan.

Kebaikan Membutuhkan Keberanian

Kebaikan tidak cukup hanya menjadi niat.

Kebaikan membutuhkan keberanian.

Ada saatnya menjadi baik berarti harus mengambil risiko: berani mengatakan tidak ketika semua orang mengatakan iya; berani mempertahankan prinsip ketika kompromi jauh lebih menguntungkan; berani berbicara ketika diam jauh lebih aman; dan berani membela seseorang yang diperlakukan tidak adil meskipun kita tidak memperoleh keuntungan apa pun darinya.

Namun, keberanian individual tetap mempunyai keterbatasan.

Satu orang dapat dibungkam.
Satu orang dapat disingkirkan.
Satu orang dapat difitnah.
Satu orang dapat kehilangan posisi.

Karena itulah keberanian membutuhkan solidaritas.

Ketika satu orang berani berbicara dan seribu orang berdiri bersamanya, keadaan berubah. Kebenaran tidak lagi menjadi suara individual. Ia berubah menjadi kekuatan sosial.

Kebaikan Harus Belajar Berorganisasi

Jika kejahatan dapat membangun jaringan, maka kebaikan juga harus mampu membangun jaringan.

Jika kepentingan buruk dapat menyatukan manusia, maka kepentingan untuk menjaga keadilan seharusnya mampu menyatukan manusia dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Orang-orang baik tidak cukup hanya berkata:

“Saya tidak ikut melakukan kejahatan.”

Mereka juga harus berani mengatakan:

“Saya tidak akan membiarkan kejahatan terjadi di hadapan saya.”

Perbedaan kedua sikap tersebut sangat besar.

Sikap pertama adalah moralitas pribadi. Sikap kedua adalah tanggung jawab sosial.

Bangsa yang besar membutuhkan keduanya.

Kebaikan harus mempunyai organisasi, kepemimpinan, strategi, komunikasi, pendidikan, jaringan, dan keberanian untuk mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya.

Namun, organisasi kebaikan harus berbeda secara mendasar dari organisasi kejahatan. Ia tidak boleh menggunakan kebohongan untuk melawan kebohongan, kekerasan untuk menjawab perbedaan, atau manipulasi untuk mencapai tujuan.

Kebaikan harus terorganisir tanpa kehilangan moralitasnya.

Bahaya Terbesar Adalah Normalisasi Kejahatan

Kejahatan tidak selalu menang ketika orang jahat berhasil melakukan sesuatu.

Kejahatan benar-benar menang ketika masyarakat mulai menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang biasa.

Ketika korupsi dianggap lumrah.
Ketika kebohongan dianggap bagian dari politik.
Ketika ketidakadilan dianggap risiko kehidupan.
Ketika penyalahgunaan kekuasaan dianggap konsekuensi jabatan.
Ketika orang berkata:

“Memang dari dulu seperti itu.”

Pada saat itulah kejahatan memperoleh kemenangan terbesarnya, karena masyarakat tidak lagi mempunyai energi moral untuk melawannya.

Normalisasi kejahatan membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur. Masyarakat akhirnya tidak lagi bertanya apakah suatu tindakan benar, tetapi hanya bertanya:

“Apakah saya mendapatkan bagian?”

Jika cara berpikir semacam itu menjadi budaya, persoalan bangsa tidak lagi sekadar mengenai pelanggaran hukum. Persoalannya telah berubah menjadi krisis moral sekaligus krisis institusi.

Jangan Biarkan Orang Baik Berjalan Sendirian

Pelajaran terpenting dari sejarah bukanlah bahwa kejahatan selalu lebih kuat.

Justru sebaliknya.

Kejahatan sering terlihat kuat karena orang-orang yang menolaknya belum menemukan cara untuk berdiri bersama.

Karena itu, tugas masyarakat bukan sekadar melahirkan lebih banyak orang baik. Kita juga harus menciptakan keadaan di mana orang-orang baik dapat saling menemukan, saling memperkuat, dan saling melindungi.

Ketika seorang pejabat mempertahankan integritas, ia harus mendapatkan dukungan.

Ketika aparat menegakkan hukum dengan benar, institusi harus melindunginya.

Ketika masyarakat mengungkap penyimpangan, mekanisme hukum harus memberikan perlindungan.

Ketika media menyampaikan fakta, kebebasannya harus dijaga.

Ketika generasi muda mempertanyakan ketidakadilan, pertanyaan mereka harus didengar, bukan dibungkam.

Sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika masih terdapat orang jahat.

Sebuah bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika orang-orang baik memilih diam karena merasa sendirian.

Penutup: Saatnya Kebaikan Menjadi Kekuatan

Kebaikan tidak boleh berhenti menjadi kesalehan pribadi.

Kebaikan harus berkembang menjadi kesadaran bersama.

Kesadaran harus berkembang menjadi keberanian.

Keberanian harus berkembang menjadi solidaritas.

Dan solidaritas harus berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu menjaga hukum, keadilan, demokrasi, dan kepentingan masyarakat.

Kita tidak membutuhkan kebaikan yang hanya dibicarakan di ruang-ruang nyaman. Kita membutuhkan kebaikan yang hadir ketika ketidakadilan terjadi.

Kita tidak membutuhkan orang baik yang hanya berkata bahwa dirinya bersih. Kita membutuhkan orang baik yang berani menjaga agar sistem juga tetap bersih.

Karena pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah berapa banyak orang jahat yang ada di sebuah negeri, melainkan berapa banyak orang baik yang bersedia berdiri bersama ketika kejahatan mulai terorganisir.

Maka, mungkin kalimat pembuka tulisan ini perlu kita ubah.

Bukan lagi:

“Kebaikan tidak pernah terorganisir, namun kejahatan selalu terorganisir.”

Melainkan menjadi sebuah tekad:

“Jika kejahatan mampu terorganisir untuk merusak, maka kebaikan harus lebih terorganisir untuk menjaga. Jika kejahatan mempunyai jaringan untuk melindungi kepentingannya, maka orang-orang baik harus mempunyai keberanian untuk melindungi kebenaran. Sebab kebaikan yang berjalan sendiri adalah harapan, tetapi kebaikan yang bersatu dapat menjadi kekuatan perubahan.”

Share Konten

Opini Lainnya

Yudi Latif
Konghucu untuk Indonesia
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260823_225440_0000
Luka Spiritual dan Rentannya Tanah Air: Membaca Kebakaran Kalimantan serta Gempa Tektonik NTT dari Kacamata Ekoteologi
81 Tahun Indonesia Merdeka
Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Pembangunan Mengabaikan Manusia
Muzakkir (1)
Merdeka untuk Siapa? Catatan 81 Tahun bagi Perempuan Indonesia
anunya rumi
Salah Arah Belanja Parepare
Muzakkir (1)
Menakar Arsitektur APBN 2026-2027, Antara Ekspansi Fiskal dan Disiplin Anggaran
81 Tahun Indonesia
Merdeka dari Apa? 81 Tahun Indonesia dan Cengkraman Represi
81 Tahun Indonesia Merdeka
81 Tahun Indonesia Merdeka: Merayakan Kebebasan atau Menghadapi Kenyataan
Muzakkir (1)
Suara Kritis: Musuh Baru Penguasa Kampus?
Muzakkir (1)_edit_3152669649042474
Kedangkalan Bernalar. Ketika Kritik Dijawab dengan Label “Syiah”
Scroll to Top