OPINI

Pappasalama ri To Pole Malebbi: Warisan Luhur Adat Bugis Bone yang Sarat Makna

Penulis: Sulis – MC Bone (Putri Daerah Bone)

ruminews.id, Bone — Pappasalama ri to pole malebbi merupakan ungkapan selamat datang yang bernilai sakral dan menjadi bentuk penghormatan tertinggi dalam tradisi masyarakat Bugis, khususnya di Kabupaten Bone.

Kalimat ini lazim diucapkan dalam prosesi penyambutan tamu kehormatan maupun pengantin pria (tomebbiring), sebagai simbol penerimaan yang tulus, penghormatan terhadap martabat seseorang, sekaligus doa agar kehadirannya membawa keselamatan, keberkahan, dan kemaslahatan bagi masyarakat yang menyambutnya.

Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata seremonial, melainkan representasi dari falsafah hidup orang Bugis yang menempatkan etika, penghormatan, dan kemanusiaan sebagai landasan utama kehidupan bermasyarakat.

Dalam perspektif budaya Bugis, Pappasalama ri to pole malebbi mengandung beberapa nilai filosofis, di antaranya:

  1. Sipakatau (saling memanusiakan), yakni memperlakukan setiap manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya tanpa membedakan kedudukan sosial.
  2. Sipakalebbi (saling memuliakan), yaitu memberikan penghormatan kepada tamu sebagai bentuk pengakuan terhadap kehormatan yang dimiliki setiap insan.
  3. Sipakainge (saling mengingatkan), yakni mengingatkan bahwa setiap hubungan antarmanusia harus dibangun di atas etika, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.
  4. Doa Keselamatan, yang mengandung harapan agar tamu yang datang memperoleh perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa serta membawa kedamaian bagi daerah yang dikunjunginya.

Antropolog Christian Pelras dalam karyanya “The Bugis” menjelaskan bahwa identitas masyarakat Bugis dibangun di atas prinsip siri’, pesse, sipakatau, dan sipakalebbi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi moral dalam membangun hubungan sosial, termasuk dalam tata cara menerima tamu.

Bagi orang Bugis, menghormati tamu bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi merupakan bentuk menjaga siri‘ atau kehormatan diri dan keluarga.

Sejarawan dan budayawan Bugis Prof. Mattulada juga menegaskan bahwa sistem nilai pangngaderreng merupakan pilar utama kebudayaan Bugis. Pangngaderreng terdiri atas unsur ade’ (adat), bicara (hukum), rapang (preseden), wari’ (tata stratifikasi), dan kemudian sara’ (syariat Islam).

Seluruh unsur tersebut mengajarkan bahwa penghormatan kepada tamu merupakan bagian dari adat yang wajib dijaga karena mencerminkan kualitas peradaban suatu masyarakat.

Pemikiran tersebut diperkuat oleh A. Rahman Rahim dalam kajiannya mengenai nilai-nilai utama kebudayaan Bugis. Ia menyebutkan bahwa masyarakat Bugis menjunjung tinggi lima karakter utama, yakni lempu’ (kejujuran), acca (kecendekiaan), getteng (keteguhan), sipakatau (memanusiakan manusia), dan reso (kerja keras).

Dalam konteks penyambutan tamu, nilai sipakatau menjadi inti dari penghormatan yang diwujudkan melalui ucapan maupun tata cara penerimaan yang penuh kesantunan.

Lebih jauh, dalam “Lontaraq Kajao Laliddong”, salah satu naskah klasik Bugis yang banyak dijadikan rujukan etika pemerintahan dan kehidupan sosial, dijelaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari kedudukannya, tetapi dari kemampuannya menghormati orang lain, menjaga tutur kata, serta memelihara hubungan yang harmonis.

Nilai tersebut tercermin dalam berbagai petuah (pappaseng) yang menekankan pentingnya memuliakan tamu sebagai jalan untuk menjaga kehormatan keluarga dan negeri.

Dalam tradisi Bugis Bone, penyambutan tamu agung juga sering disertai pembacaan Pappaseng, pertunjukan Mappadendang, penyajian sirih pinang, atau ritual adat lainnya sebagai simbol penerimaan secara lahir dan batin.

Seluruh rangkaian tersebut menggambarkan bahwa tamu dipandang sebagai pembawa rahmat (to pole ma’bbarakka), sehingga penyambutannya harus dilakukan dengan penuh ketulusan dan kemuliaan.

Sebagai putri daerah Bone, saya memandang bahwa Pappasalama ri to pole malebbi bukan hanya warisan bahasa adat yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebuah filosofi kehidupan yang relevan hingga hari ini.

Di tengah masyarakat modern yang semakin individualistis, ungkapan ini mengajarkan pentingnya menghargai setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya.

Memuliakan tamu bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan menjaga jati diri orang Bugis sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi siri’, sipakatau, sipakalebbi, dan pesse.

Oleh karena itu, Pappasalama ri to pole malebbi layak dipahami sebagai simbol peradaban Bugis yang menggabungkan nilai adat, moral, spiritual, dan kemanusiaan.

Ungkapan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bugis telah lama membangun budaya penghormatan, persaudaraan, dan perdamaian sebagai fondasi kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Share Konten

Opini Lainnya

anunya rumi
Ironi di Jam Ekstrakurikuler: Saat Ruang Kreativitas Menjelma Menjadi Ruang Amputasi Kemanusiaan
Muzakkir (2)
Generasi Muda Luwu Timur: Gelombang Baru Prestasi dan Pemberdayaan di Bumi Batara Guru
Muzakkir (1)
Sisi Lain Dari Sampah Dan Kandungan Energi Didalamnya
Muzakkir (1)
Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti
anunya rumi
A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”
WhatsApp Image 2026-07-11 at 01.00
Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM
Muzakkir (1)
Perempuan dan Perjalanan Menemukan Diri
Muzakkir (2)
Antara Ekspektasi dan Realitas: Beban Psikologis Menjadi Perempuan
IMG-20260710-WA0097
Diantara Satu Sama Lain Jejak Sejarah dan Realitas Perempuan yang Saling Menghakimi
Scroll to Top