Pemuda

Daerah, Makassar, Olahraga, Pemuda

GEOMETRI 2026 Resmi Ditutup, Hadirkan Peserta dari Lima Provinsi dan Gelar GEOMETRI CUP MLBB

Ruminews.id – Makassar, 11 Oktober 2026 — Rangkaian kegiatan Genius on Mathematics in Real Application (GEOMETRI) 2026 resmi berakhir pada Minggu (11/10) pukul 14.25 WITA. Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM), kegiatan penutupan berlangsung dengan pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang dari berbagai cabang perlombaan.

Nasional, Opini, Pemerintah kabupaten Gowa, Pemerintahan, Pemuda, Politik

Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar

JIKA ANDA WARGA GOWA, BACA INI SAMPAI HABIS! Siapa PEMBISIK di telinga BUPATI GOWA? Penulis: Sultan – Pemuda Kabupaten Gowa Ruminews.id – Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ucapkan dengan lantang. Bukan tentang siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang tersangka. Tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih gelap dan jarang tersentuh. Siapa sebenarnya yang berbicara di telinga Bupati Gowa selama ini?

Nasional, Pemerintahan, Pemuda

Ketua Umum HMM-FEB Unanda Soroti Karhutla: Negara Jangan Diam di Hadapan Pemodal

Ruminews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menempatkan persoalan lingkungan sebagai ujian serius bagi keberpihakan negara. Ketika hutan terbakar, ekosistem terancam, dan masyarakat berpotensi menanggung dampaknya, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: sejauh mana negara benar-benar hadir untuk melindungi ruang hidup rakyatnya?

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Dari Statistik Menuju Keadilan: Kritik atas Perencanaan Pendidikan yang Belum Responsif Gender

Penulis: Susi Susanti – Mahasiswa Magister Jender dan Pembangunan, Universitas Hasanuddin/Ketua Bidang PSDO KOHATI BADKO SULSEL Ruminews.id – Pendidikan kerap menjadi kebanggaan dalam laporan pembangunan. Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) meningkat, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) bertambah, dan pemerintah memiliki alasan untuk menyatakan bahwa akses pendidikan masyarakat semakin membaik. Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan sebelum kita merayakan keberhasilan tersebut: apakah peningkatan angka pendidikan benar-benar menandakan bahwa perempuan dan laki-laki telah menikmati kesempatan yang setara?

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Hutan Terus Terbakar, Udara Semakin Tercemar: Sampai Kapan Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Korban?

Penulis: M. Awal Ramadhan – Kabid Keilmuan dan Penalaran Rayon Syariah dan Hukum Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Kota Makassar Ruminews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu masalah lingkungan yang menurut saya semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap tahun, kebakaran terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia dan menimbulkan dampak yang cukup besar, baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa persoalan ini masih terus berulang, padahal dampaknya sudah jelas merugikan banyak pihak? Kebakaran yang terjadi di suatu daerah ternyata tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain, termasuk Kota Makassar dan sekitarnya, akibat asap yang terbawa angin.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Karhutla sebagai Fakta Sosial: A. Muh. Ihsan Amu Soroti Disorientasi Kebijakan dan Desak Negara Bertindak Tegas

Penulis: A. Muh. Ihsan amu – Aktivis dan penggiat literasi ruminews.id – Fakta sosial Emil durhkaen, dan kebijakan politik disorientasi membaca fenomena karhutla dan desakan terhadap sikap negara Jika k membaca dari kacamata durhkaen kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hanya sebagai peristiwa ekologis, kita gagal paham. Karhutla di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, bukan sekedar api. Dalam bahasa Durkheim, karhutla telah menjadi “Fakta Sosial”. Fakta sosial terklasifikasi menjadi tiga bagian, eksternal, koersif dan umum, dia ada di luar individu, memaksa individu untuk tunduk dan terjadi secara general atau umum dan menyebar secara luas di masyarakat. Karhutla masuk dalam tiga kategori tersebut, Pertama, ia eksternal. Tidak ada satu petani pun yang merasa menciptakan karhutla seorang diri. Tapi setiap tahun, sekitar Juli-Oktober, asap itu datang. Ia sudah menjadi kalender sosial. Kedua, ia koersif. Karhutla memaksa kita. Memaksa anak sekolah libur, memaksa warga pakai masker, memaksa ekonomi lumpuh, memaksa negara mengeluarkan status darurat. Kita tidak bisa menolak asap itu. Kita dipaksa untuk hidup dengannya. Ketiga, ia umum. Ia terjadi bukan karena satu orang iseng bakar lahan, tapi karena sebuah sistem: pembukaan lahan murah dengan cara bakar, lemahnya pengawasan korporasi, dan kemiskinan struktural petani yang tidak punya alat lain selain api. Inilah yang Durkheim sebut Kesadaran Kolektif yang Sakit. Masyarakat kita secara kolektif sudah memaklumi bahwa “membakar itu cara bertani” dan “asap itu musim tahunan”. Ketika sebuah patologi sudah dianggap normal, di situlah anomie terjadi. Lalu dimana Disorientasi Kebijakan Politik? Negara merespons fakta sosial yang patologis ini dengan cara yang juga patologis : Disorientasi Kebijakan. 1. Disorientasi Preventif ke Kuratif Negara lebih sibuk memadamkan api dengan water bombing miliaran rupiah daripada mencegah apinya. Padahal secara sosiologis, api itu bukan penyebab, api itu adalah akibat. Penyebabnya adalah fakta sosial: ketimpangan penguasaan lahan dan izin korporasi yang longgar. Negara memadamkan gejala, bukan menyembuhkan penyakit. 2. Disorientasi Aktor : Kriminalisasi Petani, Impunitas Korporasi. Ketika karhutla terjadi, yang paling mudah ditangkap adalah petani kecil yang membakar 2 hektar. Sementara pembakaran sistematis di konsesi ribuan hektar seringkali berakhir dengan denda administratif atau kasus yang menggantung. Ini menciptakan persepsi kolektif bahwa hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas. Ini yang memperkuat anomie. 3. Disorientasi Narasi: Bencana Alam vs Kejahatan Terstruktur. Selama negara masih menyebut karhutla sebagai “bencana alam” atau “musim kemarau”, maka negara melepaskan tanggung jawabnya. Padahal data KLHK sendiri menunjukkan 99% karhutla karena ulah manusia. Selama narasinya masih bencana alam, tidak akan ada yang dimintai pertanggungjawaban secara politik, negara bisa lepas dari tanggung jawab dengan mudah sebagai penentu arah sosial politik. Desakan Terhadap Sikap Negara Karena karhutla adalah fakta sosial, maka solusinya tidak bisa individual. Tidak bisa hanya dengan himbauan “jangan bakar lahan”. Solusinya harus Fakta Sosial juga, tapi yang diciptakan oleh Negara. Durkheim bilang, untuk melawan fakta sosial yang patologis, dibutuhkan fakta sosial lain yang lebih kuat dan koersif: yaitu Hukum dan Negara. Maka desakan kita terhadap sikap negara adalah: Pertama, Negara harus hadir sebagai Fakta Sosial yang Koersif ke Atas. Bukan hanya koersif ke petani. Cabut izin, pidanakan korporasi yang terbukti membakar sistematis, dan umumkan ke publik. Itu akan menciptakan kesadaran kolektif baru : bahwa membakar itu mahal, bukan murah. Kedua, Negara harus menciptakan Solidaritas Organik, bukan Mekanik. Selama ini negara datang pas kebakaran dengan cara mekanik: kirim tentara, polisi, BPBD. Padahal yang dibutuhkan adalah solidaritas organik: reforma agraria, akses petani pada alat pembuka lahan tanpa bakar, dan peta lahan gambut yang transparan. Petani tidak butuh disalahkan, petani butuh alternatif. Ketiga, Negara harus keluar dari Anomie Kebijakan. Jangan lagi ganti menteri ganti kebijakan. Karhutla butuh kebijakan yang konsisten lintas rezim, karena fakta sosialnya sudah mengakar puluhan tahun. Karhutla bukan takdir. Asap bukan musim. Itu adalah fakta sosial yang kita biarkan menjadi normal. Dan selama negara masih disorientasi, sibuk memadamkan api di hilir tapi membiarkan api di hulu perizinan, maka setiap tahun kita akan kembali menghirup fakta sosial yang sama, bau gambut terbakar yang kita sebut sebagai kabut Padahal itu bukan kabut. Itu adalah kegagalan negara untuk bersikap. Jika asap masih dianggap sebagai cuaca, maka negara masih menganggap rakyatnya bisa bernapas dengan asap.

Bulukumba, Daerah, Pemuda

Aril Rahmat Soroti Ritual Adat Kajang di Festival Phinisi, Desak Klarifikasi dan Evaluasi Penyelenggaraan

Ruminews.id, BULUKUMBA — Aril Rahmat menyoroti pelaksanaan Festival Phinisi yang dinilai perlu dievaluasi, khususnya terkait penggunaan tradisi adat Kajang dalam rangkaian kegiatan festival. Ia menilai, sejumlah praktik yang ditampilkan berpotensi menimbulkan persoalan serius apabila tidak dilaksanakan berdasarkan tata cara, nilai, dan legitimasi adat yang berlaku di masyarakat adat Kajang.

Makassar, Pemerintahan, Pemuda, Prov Sulawesi Selatan

Delapan Bulan Gaji PPPK Paruh Waktu Mandek, Gerakan Mahasiswa Sulsel Soroti Ketidakhadiran Anggota DPRD Dapil Sinjai

ruminews.id, MAKASSAR — FAJAR Selaku Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Sulawesi Selatan menyayangkan ketidakmampuan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sinjai untuk menemui massa aksi yang menyuarakan persoalan mandeknya pembayaran gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Sinjai selama delapan bulan.

HMI Cabang Polman
Daerah, Pemuda, Polewali Mandar

HMI Cabang Polman Soroti Asap yang Menyelimuti Wilayah, Respons Pemerintah Dipertanyakan

Ruminews.id, Polewali Mandar — Fenomena asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Polewali Mandar menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi kualitas udara, kesehatan, dan keselamatan masyarakat. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang terukur melalui identifikasi sumber asap, pemantauan kualitas udara, serta penyampaian informasi yang transparan kepada publik.

Scroll to Top