Pendidikan

Badan Gizi Nasional, Dinas Koperasi Makassar, DPRD Kota Makassar, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Kesehatan, Makassar, Maros, Nasional, Olahraga, Opini, Pemerintah kabupaten Gowa, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Pertanian, Peternakan, Politik, Prov Sulawesi Selatan, Teknologi

Sulawesi Selatan Darurat Energi: MBG, Mana Bahlil Guys?!

Oleh : Randi Maulana (Kader HMI Komisariat Institut Nani Hasanuddin) ruminews.id, – Sulawesi Selatan sedang menghadapi persoalan yang tidak bisa lagi dianggap sebagai gangguan biasa. Kelangkaan dan keterbatasan akses terhadap sejumlah kebutuhan energi dan layanan dasar seperti bahan bakar minyak (BBM), LPG, listrik, hingga persoalan pelayanan air bersih telah memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Situasi ini menjadi semakin serius ketika keluhan masyarakat terkait ketersediaan BBM dan LPG muncul bersamaan dengan pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah. Masyarakat yang seharusnya mendapatkan kepastian atas kebutuhan dasar justru harus berhadapan dengan ketidakpastian: kapan listrik menyala, di mana mendapatkan BBM, bagaimana memperoleh LPG, hingga bagaimana memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi. Bagi masyarakat kecil, persoalan energi bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah atau persoalan teknis distribusi. Energi berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Pedagang membutuhkan listrik untuk menjalankan usahanya, nelayan dan petani membutuhkan BBM untuk aktivitas produksi, rumah tangga membutuhkan LPG untuk memasak, sementara fasilitas pelayanan publik membutuhkan listrik dan air agar tetap dapat beroperasi. Karena itu, ketika gangguan terjadi secara berulang dan meluas, pemerintah perlu memberikan penjelasan yang terbuka kepada publik. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan sistem energi di Sulawesi Selatan? Apakah persoalannya berada pada pasokan, distribusi, kapasitas pembangkit, jaringan transmisi, atau tata kelola energi secara keseluruhan? Pertanyaan tersebut penting karena masyarakat tidak membutuhkan sekadar imbauan untuk bersabar. Masyarakat membutuhkan kepastian, transparansi, dan solusi yang terukur. Di tengah situasi tersebut, muncul pula pertanyaan yang cukup menggelitik: MBG jalan, energi bagaimana? Bahlil, mana? Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang merupakan program strategis pemerintah yang membutuhkan dukungan berbagai sektor. Namun, pembangunan tidak boleh hanya berbicara mengenai satu program prioritas, sementara kebutuhan dasar masyarakat lainnya menghadapi persoalan. Program besar seperti MBG justru membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat, termasuk ketersediaan listrik, bahan bakar, air bersih, infrastruktur, serta distribusi yang berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin pembangunan kualitas sumber daya manusia dapat berjalan maksimal apabila di saat yang sama masyarakat masih harus menghadapi persoalan energi dan layanan dasar? Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan program MBG dengan kebutuhan energi. Sebaliknya, ini adalah kritik terhadap cara negara menentukan prioritas pembangunan. Ketahanan pangan, ketahanan energi, air bersih, pendidikan, dan kesehatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika dapur MBG membutuhkan listrik dan LPG, maka kelancaran program tersebut juga bergantung pada ketahanan energi. Jika distribusi makanan membutuhkan kendaraan, maka BBM menjadi bagian dari rantai distribusinya. Jika fasilitas produksi dan pelayanan membutuhkan air, maka persoalan air bersih pun menjadi bagian dari ekosistem program. Artinya, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari berapa banyak porsi makanan yang dibagikan. Pemerintah juga harus memastikan bahwa seluruh infrastruktur pendukungnya mampu bekerja secara berkelanjutan. Jangan sampai negara sibuk menghitung jumlah porsi yang tersaji, tetapi ia lupa menghitung berapa banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan energi. Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah penting dalam perekonomian kawasan timur Indonesia. Gangguan energi yang berlangsung berulang tentu berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Dunia usaha, UMKM, industri, transportasi, hingga aktivitas rumah tangga membutuhkan pasokan energi yang stabil dan dapat diprediksi. Karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu duduk bersama untuk mencari akar persoalan. PT PLN, Pertamina, pemerintah daerah, serta kementerian terkait harus menyampaikan kondisi faktual kepada masyarakat dan menjelaskan langkah penanganan yang sedang dilakukan. Publik juga berhak mengetahui apakah persoalan ini bersifat sementara atau merupakan indikasi masalah struktural dalam sistem energi Sulawesi Selatan. Jangan tunggu keresahan berubah menjadi kemarahan. Jangan tunggu kelangkaan berubah menjadi krisis sosial. Pemerintah harus hadir sebelum masyarakat merasa negara hanya hadir ketika program-program besar hendak dipublikasikan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai pihak yang memiliki kewenangan di sektor energi juga perlu memastikan bahwa persoalan energi di Sulawesi Selatan mendapatkan perhatian serius. Jika masyarakat di berbagai daerah mengalami gangguan BBM, LPG, listrik, maupun layanan dasar yang berkaitan dengan energi, maka negara wajib memberikan jawaban dan solusi. Pada akhirnya, masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin kebutuhan dasar tersedia dengan harga yang wajar, distribusi yang adil, serta pelayanan publik yang dapat diandalkan. MBG boleh menjadi prioritas. Tetapi energi jangan sampai menjadi korban. Sulawesi Selatan membutuhkan pembangunan yang utuh: makanan bergizi tersedia, listrik menyala, LPG tersedia, BBM tidak langka, air bersih mengalir, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan. Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa besar program pemerintah dijalankan, tetapi tentang seberapa jauh negara mampu memastikan rakyat dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman, layak, dan tanpa rasa cemas terhadap kebutuhan dasar mereka sendiri. Sulawesi Selatan tidak boleh dibiarkan menghadapi darurat energi sendirian. MBG, mana Bahlil guys? Energi rakyat juga butuh perhatian.

Nasional, Pemuda, Pendidikan

Riset Mahasiswa ITH Optimalkan Makan Bergizi Gratis Bebas Food Waste di Parepare

Ruminews.id, Parepare – Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITH) merancang inovasi bertajuk “KMeals: Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis melalui Segmentasi Pola Konsumsi Siswa (SD-SMA) Berbasis Machine Learning di Kota Parepare”. Riset ini digagas oleh M. Isra Al Mirad sebagai ketua tim bersama empat anggotanya, yaitu Nurhikmah, Ridho Fatilla Wibawa, Vitra Muliana, dan Mulfiansa, di bawah bimbingan dosen pendamping Ahmad Husain, S.Si., M.Stat. Inisiatif riset ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan memperbaiki status nutrisi generasi muda. Namun, ditemukannya permasalahan food waste atau sisa makanan (plate waste) di sekolah menjadi tantangan tersendiri. Pendekatan penyediaan menu yang seragam (one-size-fits-all) dinilai kurang efektif mengingat adanya perbedaan kebutuhan biologis, preferensi rasa, serta faktor psikologi dan interaksi sosial lintas jenjang pendidikan. Melalui riset ini, tim mahasiswa ITH memanfaatkan pendekatan sains data (nutrition informatics) dengan mengintegrasikan algoritma Machine Learning (khususnya K-Means Clustering). Pendekatan ini digunakan untuk memetakan dan mengelompokkan pola konsumsi, preferensi sensorik, hingga tingkat sisa makanan dari 600 siswa sasaran jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK di Kota Parepare secara presisi. Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif melalui observasi langsung penimbangan sisa makanan serta penyebaran kuesioner preferensi sensorik dan psikologi makan. Data multidimensi yang diperoleh kemudian diolah menggunakan kerangka kerja CRISP-DM dan diproses melalui Python di platform Google Colab Pro. Hasil dari pengelompokan (clustering) ini nantinya akan ditransformasikan ke dalam model formulasi menu adaptif yang disajikan melalui sebuah dashboard analitik. Dashboard monitoring tersebut dirancang sebagai sistem pendukung keputusan bagi pengelola program maupun pihak sekolah dalam menyusun rekomendasi menu yang lebih variatif dan disukai siswa tanpa mengurangi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Melalui program “KMeals”, tim PKM-RSH ITH berharap riset ini dapat memberikan kontribusi nyata berupa evaluasi berbasis bukti (evidence-based) bagi pemerintah daerah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Diharapkan, penerapan rekomendasi menu adaptif berbasis data ini mampu menekan angka pemborosan makanan (food waste) sekaligus mengoptimalisasi penyerapan gizi siswa secara maksimal di Kota Parepare.

Batam, Ekonomi, Hukum & Kriminal, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Pertanian, Peternakan

Warga Sei Nayon Batam Terancam Kehilangan Rumah, Penerbitan HGB PT CMG Dipertanyakan

Ruuminews.id, Batam — Lebih dari 300 rumah warga di kawasan Sei Nayon, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, Kepulauan Riau, terancam kehilangan tempat tinggal menyusul persoalan penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) di atas kawasan yang selama puluhan tahun telah ditempati dan dikuasai masyarakat.

Daerah, Makassar, Pemuda, Pendidikan

Faried Wajdy Arifay: Mahasiswa Tidak Boleh Kehilangan Ruang untuk Mengkritik

ruminews.id, MAKASSAR — Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), Faried Wajdy Arifay, menilai ruang kritik bagi mahasiswa harus tetap dijaga dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting untuk menyampaikan pandangan, mengawal kebijakan publik, serta menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Maba Mesti Menjadi Mahasiswa Kritis, Responsif dan Progresif

Penulis : Farhan – Anggota HMI KOMDAK Ruminews.id — Menjadi mahasiswa bukan sekadar mendapatkan kartu tanda mahasiswa, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, lalu lulus kemudian pulang. Kampus seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mempertanyakan sesuatu, menguji kebenaran, membaca persoalan masyarakat, dan membangun keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang keliru memang mesti dikoreksi. Ucap Kurniawan akrab di sapa Wawank (Ketum HMI Komdak Cagora).

KKN-T Unhas
Nasional, Pemuda, Pendidikan

Kenali Perubahan Iklim, Mahasiswa KKN-T Unhas Edukasi Masyarakat melalui Sosialisasi SDGs 13 di Watang Soreang – Copy

Ruminews.id, Parepare — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja bertajuk “Kenali Iklim, Wujudkan Aksi: Sosialisasi SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim bagi Masyarakat” di Rumah Ketua RW 002, Jl. Menara, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sabtu (1/8).

Bone, Daerah, Pemuda, Pendidikan

Aksi Mahasiswa IAIN Bone Tuntut Transparansi Anggaran Berujung Ricuh

ruminews.id – Bone, 3 September 2026 — Aliansi Mahasiswa IAIN Bone menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone, Sulawesi Selatan, hari ini. Aksi yang mengangkat tema “IAIN Bone Darurat Anggaran Jilid II” ini berujung ricuh setelah terjadi ketegangan antara massa aksi dan pihak keamanan kampus saat mahasiswa berupaya menuju halaman Kantor Rektorat. Tuntutan Utama: Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan anggaran kampus. Membuka akses informasi penggunaan dana secara transparan kepada civitas akademika dan masyarakat. Mengevaluasi pengelolaan anggaran KIP Kuliah, PBAK, KKN, serta fasilitas kampus. Kronologi Singkat Situasi memanas saat massa aksi mencoba bergerak menuju halaman rektorat. Wakil Rektor IAIN Bone, Dr. Rahmatunnair, M.Ag., yang berada di lokasi turut menghalau massa aksi. Tindakan tersebut kemudian menuai kecaman dari mahasiswa. Mereka menilai pihak kampus semestinya berperan sebagai mediator dan membuka ruang dialog, bukan justru menghalangi penyampaian aspirasi. Pernyataan Mahasiswa Koordinator Lapangan aksi, Farel, menegaskan bahwa selama ini kampus dinilai cenderung menutup akses informasi terkait anggaran, padahal itu adalah hak publik yang harus dipenuhi. Sementara Jenderal Lapangan, Rian, menyatakan mahasiswa akan terus mengawal isu ini hingga rektorat memberikan kejelasan, dan menegaskan bahwa transparansi anggaran adalah hak dasar yang tidak bisa ditunda. Mahasiswa menegaskan bahwa sorotan mereka bukan merupakan tuduhan adanya penyimpangan atau tindak pidana, melainkan permintaan agar setiap anggaran yang berkaitan dengan kepentingan mahasiswa dapat dijelaskan melalui dokumen dan data yang bisa diperiksa secara terbuka. Rencana Lanjutan Aksi ini merupakan lanjutan dari gelombang aksi serupa sebelumnya, yang menurut mahasiswa belum mendapat jawaban memadai dari pihak kampus. AMIB menyatakan akan melanjutkan konsolidasi dan menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan tidak direspons.

Scroll to Top