Penulis: M. Alqauzar Hikmal – Presiden Forum Literasi Mahasiswa Indonesia Ruminews.id – Di atas takhta batu yang dingin dan tinggi, menara gading berdiri dengan keangkuhan yang sunyi. Di sanalah para pemetik kata dan penenun teori bersemayam belajar membaca langit, namun lupa cara mencium bau tanah. Dari balik jendela kaca yang buram oleh kabut retorika, mereka memandang dunia melalui bagan, angka, dan jargon yang asing. Dunia di mata mereka telah menjelma kalkulasi, alam dijadikan komoditas, dan napas kehidupan rakyat kecil diringkas menjadi lembaran naskah yang tak bernyawa. Namun di bawah bayang-bayang keangkuhan itu, dari hamparan Tanah Kajang, terangkut sebuah gema lembut namun sanggup meretakkan dinding-dinding pualam menara tersebut “Tallasa Kamase-Masea”.