Opini

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Peserta LK 2 HMI Cabang Takalar Soroti Tujuh Program Unggulan Pemkab Takalar

Penulis: Amirusin Harahap – Peserta LK 2 HMI Cabang Takalar ruminews.id, TAKALAR – Kegiatan Latihan Kader II (LK 2) HMI Cabang Takalar yang berlangsung di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Takalar menjadi ruang pembelajaran bagi kader HMI untuk memahami arah pembangunan daerah serta program prioritas pemerintah kabupaten dalam beberapa tahun ke depan. Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai tujuh program unggulan Pemerintah Kabupaten Takalar di bawah kepemimpinan Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye dan Wakil Bupati Hengky Yasin. Program pertama adalah digitalisasi pelayanan publik yang diarahkan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan mudah diakses masyarakat. Selanjutnya, pengentasan kemiskinan menjadi fokus utama melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi dan peningkatan akses layanan dasar bagi masyarakat. Pemerintah daerah juga terus mendorong pembangunan infrastruktur sebagai upaya meningkatkan konektivitas wilayah dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Pada sektor pertanian, berbagai langkah modernisasi dilakukan guna meningkatkan produktivitas petani dan memperkuat ketahanan pangan. Sebagai daerah pesisir, Takalar turut menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu prioritas pembangunan. Potensi yang dimiliki diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian masyarakat dan daerah. Selain itu, penguatan UMKM, koperasi, BUMDes, dan BUMD menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi kerakyatan yang bertujuan membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja. Sementara melalui Program Takalar BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Nyaman), pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan yang tertata dan nyaman. Bagi peserta LK 2 HMI Cabang Takalar, pemaparan mengenai program-program tersebut menjadi bekal penting untuk memahami tantangan pembangunan daerah sekaligus peran generasi muda dalam mengawal kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Takalar ini juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan kalangan mahasiswa dalam mendorong pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan.  

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Digitalisasi Menjadi Kunci Kemajuan Kabupaten Takalar

Penulis : Muh Ridho Risqullah – Formatur Ketua Komisariat Ushuluddin Filsafat dan Politik Cabang Gowa Raya ruminews.id, Takalar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Kabupaten Takalar memiliki peluang besar untuk menjadikan digitalisasi sebagai pendorong utama pembangunan daerah. Transformasi digital tidak lagi menjadi kebutuhan masa depan, melainkan kebutuhan saat ini yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat sektor ekonomi, pariwisata lokal, dan penguasaan teknologi masyarakat. Dalam sektor ekonomi, digitalisasi membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih besar. Melalui pemanfaatan media sosial, marketplace, dan sistem pembayaran digital, pelaku usaha di Takalar dapat meningkatkan daya saing produk lokal tanpa harus bergantung pada pemasaran konvensional. Langkah pemerintah daerah yang mendorong literasi digital bagi pelaku usaha patut diapresiasi karena menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi yang lebih modern dan inklusif. Sementara itu, sektor pariwisata lokal juga dapat memperoleh manfaat besar dari transformasi digital. Potensi wisata bahari, pantai, dan budaya yang dimiliki Takalar perlu dipromosikan secara lebih masif melalui platform digital. Saat ini, wisatawan cenderung mencari informasi destinasi melalui internet sebelum melakukan perjalanan. Oleh karena itu, kehadiran konten digital yang menarik, informasi yang mudah diakses, serta promosi yang konsisten dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat. Di bidang teknologi, digitalisasi tidak hanya berbicara tentang penggunaan internet, tetapi juga tentang peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Masyarakat perlu dibekali keterampilan digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, baik dalam bidang pendidikan, pertanian, perikanan, maupun kewirausahaan. Generasi muda Takalar memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku inovasi jika didukung dengan akses teknologi dan pelatihan yang memadai. Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu mendapat perhatian. Ketersediaan infrastruktur internet yang merata, peningkatan literasi digital, serta kesiapan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan transformasi digital di daerah ini. Tanpa dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai, manfaat digitalisasi tidak akan dirasakan secara optimal oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurut penulis, Kabupaten Takalar saat ini berada pada momentum yang tepat untuk mempercepat transformasi digital. Dengan sinergi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat, digitalisasi dapat menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat daya saing daerah di tingkat regional maupun nasional. Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan Takalar. Jika dikelola dengan baik, transformasi digital akan mampu menciptakan ekonomi yang lebih kuat, pariwisata yang lebih dikenal luas, serta masyarakat yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi di era modern.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Membangun Pariwisata Takalar yang Berkelanjutan

Penulis : Nur Hidayanti – Ketua Kohati Komisariat Institut Teknologi Pertanian ruminews.id – Kabupaten Takalar memiliki potensi pariwisata yang sangat besar karena didukung oleh wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, wisata edukasi, hingga wisata alam. Beberapa destinasi yang menjadi daya tarik antara lain Topejawa Beach Tourism, Pantai Punaga, Padang Savana Ongkoa Takalar, Paria laut, Pulau Sanrobengi dan PPLH Puntondo. Pemerintah Kabupaten Takalar juga telah menetapkan beberapa destinasi unggulan sebagai motor pengembangan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata. Menurut saya, tantangan utama pariwisata Takalar bukan terletak pada kurangnya objek wisata, melainkan pada aspek pengelolaan, promosi, dan pemberdayaan masyarakat. Banyak destinasi memiliki keindahan alam yang luar biasa, namun belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur, pemasaran digital, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaannya. Akibatnya, potensi ekonomi yang dihasilkan belum optimal. Sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan, Himpunan Mahasiswa Islam memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan pariwisata Takalar melalui tiga fungsi utama: Agent of Change (Agen Perubahan) Kader HMI dapat memberikan gagasan dan kritik konstruktif kepada pemerintah terkait pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Pariwisata tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan budaya lokal. Agent of Social Control (Kontrol Sosial) HMI dapat mengawasi kebijakan pariwisata agar tidak merugikan masyarakat pesisir, nelayan, maupun lingkungan hidup. Pengembangan wisata harus memberikan manfaat yang adil kepada masyarakat sekitar. Agent of Development (Agen Pembangunan) Kader HMI dapat terlibat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan UMKM, promosi digital, pendampingan desa wisata, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Potensi pariwisata Takalar sangat besar dan dapat menjadi sektor unggulan daerah. Namun, keberhasilannya membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan organisasi kemahasiswaan. HMI memiliki peran penting sebagai kekuatan intelektual dan moral untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata Takalar tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan keadilan sosial, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan cita-cita perjuangan HMI.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Dari Keindahan Alam ke Peluang Digital: Membangun Takalar yang Maju dan Berdaya Saing

Penulis : A Fahrul Ar – Peserta Intermediate Training HMI Cabang Takalar ruminews.id – Di tengah persaingan antar daerah yang semakin ketat, pembangunan tidak lagi hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam. Kemajuan suatu daerah kini ditentukan oleh kemampuannya mengelola potensi melalui inovasi, teknologi, dan kolaborasi. Kabupaten Takalar memiliki modal besar untuk melakukan lompatan tersebut, terutama melalui Pulau Tanakeke yang menyimpan keindahan alam, kekayaan ekosistem mangrove, dan budaya pesisir yang khas. Namun, keindahan alam saja tidak cukup untuk menjadikan Takalar sebagai daerah yang maju dan berdaya saing apabila tidak dikelola secara inovatif dan berkelanjutan. Dalam konteks itulah ekonomi digital hadir sebagai jembatan yang mampu mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi nyata. Gagasan pembangunan yang mengarah pada Takalar Cepat perlu menjadikan teknologi digital sebagai instrumen utama dalam pengembangan sektor pariwisata. Kepemimpinan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, membawa harapan baru bagi percepatan pembangunan daerah melalui pemerintahan yang lebih responsif, modern, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu, pengembangan wisata berbasis digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Pulau Tanakeke memiliki daya tarik yang tidak kalah dibandingkan berbagai destinasi wisata bahari lainnya di Indonesia. Hamparan laut yang indah, kawasan mangrove yang luas, serta kehidupan masyarakat pesisir yang autentik merupakan kekayaan yang sangat diminati wisatawan modern. Sayangnya, potensi tersebut belum dikenal secara luas. Banyak masyarakat di luar Sulawesi Selatan yang bahkan belum mengetahui keberadaan Pulau Tanakeke, sehingga tantangan utama yang dihadapi bukanlah kurangnya potensi, melainkan keterbatasan promosi dan akses informasi. Di era digital, persoalan tersebut dapat diatasi melalui strategi pemasaran yang terencana dan berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Takalar dapat menghadirkan platform digital terpadu yang memuat informasi lengkap mengenai destinasi wisata, transportasi, penginapan, kuliner khas, hingga paket wisata berbasis masyarakat. Selain itu, pemanfaatan media sosial secara aktif dan profesional dapat menjadi etalase digital yang memperkenalkan keindahan Pulau Tanakeke kepada wisatawan nasional maupun internasional hanya melalui genggaman tangan. Manfaat transformasi digital tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Nelayan, pelaku UMKM, pengrajin, dan kelompok sadar wisata dapat memanfaatkan marketplace maupun media sosial untuk memasarkan produk mereka. Hasil laut, kerajinan khas pesisir, serta berbagai produk olahan lokal dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus bergantung pada pembeli yang datang langsung ke lokasi. Inilah esensi pembangunan daerah di era digital, yaitu menghadirkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Pariwisata tidak boleh hanya menghasilkan kunjungan wisatawan, tetapi juga harus menciptakan nilai tambah bagi warga yang tinggal di sekitar destinasi. Ketika teknologi digunakan untuk mempercepat promosi, pelayanan, dan transaksi ekonomi, maka konsep Takalar Cepat tidak lagi berhenti sebagai slogan pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata yang mendorong kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, masa depan Takalar tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi juga oleh bagaimana potensi tersebut dikelola. Dengan memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan literasi masyarakat, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas kreatif, Dari Keindahan Alam ke Peluang Digital: Membangun Takalar yang Maju danBerdaya Saing

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Takalar Melaju Lewat Transformasi Digital

Penulis : Aldi Saputra – Peserta Intermediate Training Lk2 Cabang Takalar ruminews.id – Di bawah kepemimpinan Bupati Takalar, Ir. H. Muhammad Firdaus Daeng Manye, M.M., Pemerintah Kabupaten Takalar terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan visi “Takalar Maju dan Berdaya Saing melalui Ekonomi Digital.” Berbagai program pembangunan diarahkan untuk memperkuat transformasi digital sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta kesejahteraan masyarakat. Sejumlah capaian dan langkah strategis telah dilakukan, mulai dari penguatan sektor pertanian, perikanan, UMKM, koperasi, hingga pengembangan pelayanan publik berbasis digital. Pemerintah Kabupaten Takalar juga menyusun roadmap transformasi pembangunan tahun 2025–2029 sebagai pedoman dalam mewujudkan daerah yang modern, inovatif, dan kompetitif. Di sektor pendidikan, Takalar berhasil mencatat prestasi yang membanggakan dengan meraih peringkat pertama capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan tingkat Sulawesi Selatan, yang menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan masa depan. Selain fokus pada pembangunan ekonomi dan pendidikan, Kabupaten Takalar juga memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Beberapa destinasi wisata unggulan yang menjadi daya tarik daerah antara lain: Pantai Topejawa Pantai Sampulungan Pantai Galumbaya Wisata Mangrove Laikang Pulau Tanakeke Pulau Sanrobengi Air Terjun Lengkese Keberadaan destinasi wisata tersebut menjadi aset penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui sektor pariwisata berbasis masyarakat dan ekonomi kreatif. Melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat, pemerintah optimis Takalar akan menjadi daerah yang semakin maju, berdaya saing, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi serta dinamika global di masa mendatang.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Takalar Maju dan Berdaya Saing Melalui Ekonomi Digital :Transformasi Digital Takalar dan Tantangan Masa Depan

Penulis : Andi Nur Fitri Dewi – KABID pengembangan sumber daya organisasi korps-HMI wati ruminews.id – Transformasi digital yang tengah dijalankan Pemerintah Kabupaten Takalar merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pembangunan di era teknologi. Melalui roadmap RPJMD 2025–2029, Takalar menargetkan penguatan pemerintah digital, ekonomi digital, masyarakat digital, serta digitalisasi desa sebagai fondasi menuju daerah yang unggul dan berdaya saing. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan sistem dan pemanfaatan teknologi. Salah satu hal yang menarik dari konsep pembangunan ini adalah perhatian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah menyadari bahwa teknologi tidak akan memberikan dampak yang maksimal tanpa didukung oleh masyarakat dan aparatur yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya. Karena itu, transformasi digital harus dipahami sebagai proses membangun manusia sekaligus membangun sistem. Meski demikian, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Digitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan aplikasi, website, atau infrastruktur semata. Pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, terutama di tingkat desa, mampu mengakses dan merasakan manfaat dari berbagai program yang dijalankan. Jika tidak, transformasi digital berisiko menciptakan kesenjangan baru antara mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan mereka yang tertinggal. Bapak bupati takalar juga menegaskan bahwa pentingnya nilai integritas, inovasi, kerja sama, dan kegigihan sebagai budaya kerja. Hal inilah fondasi yang paling menentukan keberhasilan transformasi digital. Sebab teknologi hanyalah alat, sementara keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelola dan menggunakannya. Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital Kabupaten Takalar tidak diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Jika pelayanan publik semakin cepat, ekonomi masyarakat semakin kuat, dan kualitas hidup masyarakat semakin meningkat, maka cita-cita mewujudkan Takalar yang maju, unggul, dan berdaya saing akan benar-benar tercapai.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Takalar Cepat: Inovasi Bupati Daeng Manye dalam Mengakselerasikan Digitalisasi Pemerintahan Yang Responsif

Penulis : Fabian Maulana – Sekretaris Umum HMI Komisariat FIS-H UNM ruminews.id – Di tengah tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan mudah diakses, transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam penyelenggaraan pemerintahan. Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam konteks tersebut, Program Takalar Cepat yang diinisiasi oleh Bupati Takalar, Daeng Manye, hadir sebagai sebuah terobosan yang mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat reformasi birokrasi berbasis teknologi. Program Takalar Cepat menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam tata kelola pemerintahan. Jika selama ini pelayanan publik sering diidentikkan dengan proses yang lambat, birokratis, dan berbelit-belit, maka Takalar Cepat berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih sederhana, efisien, dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi digital, pemerintah berusaha memotong rantai birokrasi yang panjang sehingga pelayanan dapat diberikan secara lebih cepat dan tepat sasaran. Salah satu nilai penting yang terkandung dalam program ini adalah upaya membangun pemerintahan yang responsif. Responsivitas pemerintah tidak hanya diukur dari kecepatan memberikan layanan, tetapi juga dari kemampuan mendengar, memahami, dan merespons kebutuhan masyarakat secara tepat. “Takalar Cepat bukan sekadar slogan, melainkan komitmen kami untuk menghadirkan pemerintahan yang responsif, modern, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat,” ujar Bupati Daeng Manye dengan rasa bangga._ Dengan adanya digitalisasi pelayanan, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat dapat berlangsung lebih efektif sehingga berbagai keluhan, aspirasi, maupun kebutuhan publik dapat ditangani dengan lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Selain meningkatkan kualitas pelayanan publik, digitalisasi pemerintahan melalui Takalar Cepat juga berpotensi memperkuat transparansi dan akuntabilitas. Sistem pelayanan berbasis digital memungkinkan proses administrasi lebih mudah dipantau dan dievaluasi. Kondisi ini dapat meminimalkan praktik-praktik birokrasi yang tidak efisien sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Semakin terbuka dan terukur sebuah pelayanan publik, maka semakin besar pula peluang terciptanya pemerintahan yang bersih dan profesional.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Takalar Cepat dengan Digital: Momentum Membangun Pariwisata Daerah

Penulis: Abdullah Haruna – Ketua HMI Komisariat Pajonga Dg. Ngalle Cabang Takalar (Peserta INTERMEDIATE TRAINING LK II HMI Cabang Takalar ruminews.id – Program “Takalar Cepat dan Digital” yang diusung Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, menjadi langkah strategis dalam mempercepat pembangunan daerah melalui transformasi digital dan penguatan sektor pariwisata. Fokus pemerintah pada promosi 7 Destinasi Wisata Unggulan Takalar menunjukkan komitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Mulai dari Pantai Punaga, Pulau Sanrobengi, Pulau Tanakeke, hingga destinasi alam dan edukasi lainnya, Takalar memiliki potensi wisata yang mampu bersaing di tingkat regional. Di era digital, promosi wisata harus didukung pemanfaatan media sosial, platform digital, serta layanan informasi yang mudah diakses wisatawan. Karena itu, semangat “Takalar Cepat dan Digital” perlu diwujudkan melalui promosi kreatif, penguatan UMKM, dan pengembangan ekosistem pariwisata yang terintegrasi. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup hanya dengan promosi. Peningkatan infrastruktur, kebersihan, aksesibilitas, dan kualitas sumber daya manusia juga harus menjadi prioritas agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang nyaman dan berkesan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pemuda, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, sektor pariwisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Takalar memiliki peluang besar untuk tidak hanya dikenal sebagai daerah penyangga Makassar, tetapi juga sebagai destinasi wisata unggulan yang maju, mandiri, dan berdaya saing di Sulawesi Selatan. “Pariwisata bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang bagaimana sebuah daerah menggerakkan ekonomi dan memperkenalkan jati dirinya kepada dunia.”

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan, Pertanian

Menjadi Baik atau Terlihat Baik?

Penulis : Asrar – Mahasiswa UIN ALAUDDIN MAKSSAR ruminews.id – Setiap hari manusia melakukan berbagai tindakan yang dianggap baik. Membantu sesama, menyuarakan keadilan, berdonasi, hingga menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial. Namun, di tengah banyaknya tindakan yang dipuji sebagai kebaikan, ada satu pertanyaan yang sering terlewat: apakah yang lebih kita kejar adalah menjadi baik atau terlihat baik?

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Kolaborasi Negara dan Kapitalisme dalam Menggerus Esensi Pendidikan

Penulis: Muhammad Farhan – Mahasiswa ruminews.id – Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah: “Tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak; maksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Demikian Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan. Dalam pandangannya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan upaya menuntun manusia agar mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Pendidikan hadir untuk memanusiakan manusia. Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Paulo Freire yang melihat pendidikan sebagai proses pembebasan. Menurut Freire, pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran kritis sehingga manusia dapat memahami realitas sosial yang dihadapinya, mengenali ketidakadilan yang terjadi, serta berpartisipasi dalam menciptakan perubahan. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menjadikan peserta didik sebagai penerima informasi pasif, melainkan sebagai subjek yang aktif berpikir dan berdialog. Meskipun lahir dari konteks yang berbeda, Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire memiliki kesamaan pandangan bahwa pendidikan harus membentuk manusia yang merdeka. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan individu yang memiliki keterampilan kerja, tetapi juga manusia yang berkarakter, kritis, sadar terhadap lingkungannya, dan mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial. Namun dewasa ini pendidikan kian tak terarah seolah terjadi disorientasi pada pendidikan kita, pendidikan sekarang tak lagi berfokus untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang utuh (humanis) tetapi berfokus pada ijazah, nilai, dan kebutuhan pasar. Sistem pendidikan dibentuk, kurikulum dirancang,serta tenaga pendidik dilatih sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pasar dan kebutuhan oligarki Pendidikan modern seolah olah mengalami dehumanisasi, pendidikan tidak lagi menjadi instrumen untuk memerdekakan manusia dan membebaskannya dari belenggu-belenggu penindasan tetapi malah menjadi instrumen doktrin kapitalis. Pendidikan semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan kepentingan pasar. Keberhasilan pendidikan sering kali diukur dari seberapa cepat lulusannya terserap ke dunia kerja, bukan dari kemampuannya dalam membangun pemikiran kritis, kepekaan sosial, maupun kontribusinya terhadap kemajuan masyarakat. Orientasi ini mendorong pendidikan menjadi instrumen penyedia tenaga kerja bagi kebutuhan kapitalisme, sementara nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan emansipasi semakin dikesampingkan. Akibatnya, banyak orang memandang pendidikan semata-mata sebagai sarana memperoleh pekerjaan, bukan sebagai proses pengembangan manusia secara utuh. Tenaga pendidik juga sering kali memiliki ruang yang terbatas untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual karena harus menyesuaikan diri dengan target kurikulum dan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Jadi sudah sangat wajar jikalau mahasiswa sekarang menjadi apatis dan bahkan teralienasi dengan dirinya sendiri. Pendidikan hari ini tidak lahir dengan tiba-tiba, tidak tercipta karena hal ini adalah perintah Tuhan. Tapi karena adanya komodifikasi dan liberalisasi pendidikan oleh kaum kapitalisme. Melalui GATS (General Agreement on Trade in Services) di bawah WTO pendidikan dibentuk untuk mengikuti pasar, pendidikan diperjualbelikan. Dari hal inilah pendidikan sekarang sudah tidak lagi dapat diakses oleh semua orang, hanya orang-orang tertentu yang bisa dikarenakan adanya komersialisasi dalam sistem pendidikan kita. Hal ini sangat kontras dengan Pasal 31 ayat (1): Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Di sisi lain bukannya mencegah, pemerintah malah kerap mendukung kapitalisme untuk menghancurkan pendidikan kita dengan membuat undang-undang sebagai legal standing kaum liberalisme. UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 65 mengatur bentuk pengelolaan perguruan tinggi negeri, termasuk PTN-BH. Kebijakan PTN-BH sering dinilai sebagai salah satu faktor yang mendorong disorientasi pendidikan tinggi di Indonesia. Otonomi yang luas dalam pengelolaan keuangan menyebabkan perguruan tinggi semakin bergantung pada sumber pendanaan di luar negara. Akibatnya, orientasi pendidikan yang seharusnya berfokus pada pengembangan manusia dan pencerdasan kehidupan bangsa berpotensi bergeser menuju pemenuhan kebutuhan pasar dan kepentingan ekonomi. Kapitalisme telah mengubah pendidikan dari hak sosial menjadi komoditas yang memiliki harga. Ketika akses terhadap pendidikan berkualitas semakin ditentukan oleh kemampuan ekonomi, pendidikan kehilangan sebagian fungsi emansipatorisnya dan berisiko memperlebar kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Naasnya negara juga seakan akan mendukungnya dengan mendorong institusi pendidikan untuk semakin bergantung pada logika bisnis dan kemampuan bayar masyarakatnya. Bukannya memperkuat tanggung jawabnya dalam menjamin akses pendidikan yang adil dan terjangkau bagi seluruh rakyat. Karena itu, persoalan pendidikan tidak cukup dibahas hanya dari aspek kurikulum, teknologi pembelajaran, atau fasilitas pendidikan. Pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan kembali: untuk siapa pendidikan diselenggarakan? Apakah pendidikan hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, ataukah bertujuan membentuk manusia yang merdeka, kritis, dan mampu berkontribusi bagi kehidupan masyarakat? Dewasa ini, ketika hampir seluruh aspek kehidupan semakin dipengaruhi oleh logika pasar, penting bagi kita untuk kembali merefleksikan hakikat pendidikan. Apakah pendidikan hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, ataukah menjadi sarana memerdekakan manusia, mengembangkan potensi dirinya, serta membentuk masyarakat yang lebih adil dan beradab? Pertanyaan inilah yang perlu terus kita renungkan agar pendidikan tidak kehilangan esensi dasarnya sebagai proses pemanusiaan manusia.

Scroll to Top