Ekonomi

Daerah, Ekonomi, Jakarta, Makassar, Nasional, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Pemkot Makassar dan Kemenkeu RI MoU Pemanfaatan Aset Negara untuk MCH

ruminews.id, MAKASSAR — Langkah Pemerintah Kota Makassar dalam mengoptimalkan aset negara untuk kepentingan publik kembali menunjukkan gebrakan positif. Melalui kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, kolaborasi strategis dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia kini resmi terjalin. Pada Jumat (7/11/2025), bertempat di Jalan Nusantara Makassar, Wali Kota Munafri bersama Direktur Jenderal Kekayaan Negara (Dirjen KN) Kemenkeu RI, Rional Silaban, melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam pemanfaatan aset negara untuk mendukung ekosistem kreatif di Kota Makassar. LMAN sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Keuangan yang mengelola aset negara dengan pola keuangan badan layanan umum (BLU), memberikan dukungan pemanfaatan aset strategis di kawasan Poros Jalan Nusantara. Melalui fasilitas ini, seluruh program kreatif Pemerintah Kota Makassar kini memiliki wadah representatif dan fungsional untuk dijalankan. Harapannya, keberadaan MCH Nusantara tak hanya menjadi ruang ekspresi generasi muda, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif daerah melalui kegiatan inkubasi, pameran, produksi, serta pemberdayaan masyarakat. Lebih dari itu, inisiatif ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam mengoptimalkan aset negara agar berdampak sosial dan ekonomi nyata bagi masyarakat. Dengan semangat kolaborasi ini, Makassar terus menegaskan posisinya sebagai kota kreatif dan inovatif di kawasan Timur Indonesia. Perwakilan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Direktur Jenderal Kekayaan Negara (Dirjen KN) Kemenkeu RI, Rional Silaban menyampaikan, bahwa inisiatif ini sejalan dengan misi LMAN untuk memastikan pengelolaan dan pemanfaatan aset negara tidak semata-mata terkait penerimaan negara melainkan peningkatan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Menurutnya, MCH sendiri dirancang sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif lintas sektor, mulai dari seni-budaya, desain, teknologi, film, kuliner, hingga kewirausahaan sosial. Kehadirannya di kawasan Jalan Nusantara diharapkan menjadi titik temu antara komunitas kreatif, pelaku usaha, dan pemerintah dalam membangun ekosistem kota yang inovatif dan inklusif. “Dengan adanya MoU ini, langkah konkret berikutnya adalah proses implementasi teknis, revitalisasi, serta penyusunan model pengelolaan bersama yang berkelanjutan antara Pemerintah Kota Makassar melalui MCH dan LMAN, dengan melibatkan berbagai kolaborator terkait,” jelasnya. Aset tersebut kini difungsikan untuk mendukung kegiatan kreatif, literasi, dan pengembangan bakat anak muda di Makassar, melalui kehadiran Makassar MCH Nusantara. Gedung baru berlantai lima ini dirancang sebagai pusat kolaborasi dan inovasi anak muda Makassar. Lantai pertama menjadi area publik dan literasi, tempat warga bisa berinteraksi dan menyalurkan ide. Lantai kedua difokuskan pada ruang kolaborasi dan edukasi. Lantai ketiga menghadirkan galeri serta area pameran bagi pelaku seni dan kreatif lokal. Lantai keempat berfungsi sebagai ruang manajemen dan produksi konten kreatif. Lantai kelima, dikenal sebagai rumah hijau, menjadi ruang urban farming yang merepresentasikan semangat keberlanjutan. Melalui fasilitas ini, digarap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui kegiatan inkubasi, pameran, produksi, serta pemberdayaan masyarakat. “Yang diharapkan peningkatan ekonomi kreatif daerah, melalui kegiatan inkubasi, pameran, dan produksi,” jelasnya. Pada kesempatan ini, Rional Silaban, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas langkah Pemkot Makassar yang dinilai visioner dalam memanfaatkan aset negara secara produktif. “Kami sangat mengapresiasi penggunaan aset yang dimiliki oleh BLU LMAN ini,” tuturnya. “Pemerintah pusat memang membentuk BLU LMAN agar aset-aset negara dapat dikelola secara fleksibel sesuai kebutuhan masyarakat,” tambah Rional. Ia menjelaskan bahwa LMAN memiliki mandat untuk mengelola aset negara dengan pola keuangan badan layanan umum, sehingga mampu memberikan keleluasaan dalam pemanfaatannya sesuai kebutuhan pemerintah daerah. Lanjut dia, ketika aset diserahkan pengelolaan, maka LMAN bisa menyiapkan aset-aset yang dapat digunakan secara optimal sesuai dengan keperluan masyarakat. “Karena itu, kami berterima kasih karena aset ini akan didayagunakan dan dimanfaatkan menjadi Makassar Creative Hub,” ungkapnya. Rional juga menilai langkah Wali Kota Makassar sebagai contoh baik bagi daerah lain dalam menciptakan ruang ekspresi dan kemandirian bagi generasi muda. ” Saya sangat bergembira karena ini digunakan untuk mendorong generasi muda agar memiliki sifat entrepreneurial,” jelasnya. “Saya berharap apa yang dilakukan oleh Wali Kota Makassar ini bisa menjadi contoh bagi pemerintah daerah lainnya dalam melakukan unlocking potential dari generasi muda,” lanjut Rional. Lebih jauh, Dirjen KN mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan masih memiliki sejumlah aset negara di sekitar Kota Makassar yang dapat dioptimalkan untuk kepentingan publik. Ia pun membuka peluang kerja sama lanjutan dengan Pemerintah Kota Makassar. Beberapa aset tersebut dulunya beralih kepada pemerintah sejak krisis tahun 1998, termasuk aset yang sekarang digunakan ini. “Kalau Pak Wali Kota berkenan, kami siap berkoordinasi untuk memanfaatkan aset-aset lain yang dimiliki Kementerian Keuangan di sekitar Makassar,” tegasnya. Menutup sambutannya, Rional menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Makassar dan generasi muda kota ini atas semangat inovatif yang terus tumbuh. “Sekali lagi, selamat kepada masyarakat muda di Makassar yang memiliki wali kota dengan perhatian besar terhadap kreativitas dan pengembangan potensi anak muda,” tutup Rional. Pada kesempatan ini, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan rasa bangga dan syukurnya atas terlaksananya penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kota Makassar dan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Makassar Creative Hub (MCH) Nusantara, Jalan Nusantara Makassar, tersebut menjadi momentum penting bagi Pemkot Makassar dalam memperluas akses ruang kreatif dan pengembangan potensi anak muda di kota ini. “Saya sangat bangga karena akhirnya kita bisa melaksanakan penandatanganan MoU untuk menggunakan tempat ini,” tuturnya. “Kami memang sangat membutuhkan wadah untuk mengakses dan mewadahi keinginan anak-anak muda Kota Makassar,” lanjut Munafri di hadapan Dirjen Kekayaan Negara Kemenkeu RI, Rional Silaban, dan tamu undangan lainnya. Menurut Munafri, Pemerintah Kota Makassar sebelumnya telah memiliki satu Creative Hub di kawasan Pantai Losari, yang kini menjadi pusat aktivitas kreatif dan pembelajaran bagi anak muda. Namun, tingginya antusiasme masyarakat membuat fasilitas tersebut selalu penuh setiap hari. “MCH yang dibangun di Pantai Losari itu jadwalnya sudah sangat padat. Setiap hari penuh kegiatan. Maka, kami merasa perlu menghadirkan ruang tambahan untuk menampung semangat anak muda yang luar biasa ini,” jelasnya. Ia menjelaskan, MCH dirancang bukan hanya sebagai ruang berkumpul, tetapi juga sebagai tempat pengembangan kemampuan melalui upscaling dan upgrading skill, baik secara individu maupun komunitas. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan di sana, mulai dari pelatihan wirausaha, produksi konten kreatif, hingga kegiatan berskala nasional dan internasional. Munafri mencontohkan sejumlah kolaborasi yang pernah terjadi. “Beberapa waktu lalu, Netflix mengadakan kegiatan casting di Creative Hub untuk pembuatan film, dan salah satu anak Makassar terpilih sebagai pemeran utama,” bebernya Appi. “Lalu,

Ekonomi, Hukum

Gerakan Anti Mafia Migas Sulsel Soroti Pertamina Patra Niaga: Pertanyakan Mandeknya Penyaluran BBM Subsidi di Makassar

‎ruminews.id, Makassar — Gerakan Anti Mafia Migas Sulawesi Selatan mempertanyakan kebijakan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang tidak menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di sejumlah SPBU di Kota Makassar. ‎Berdasarkan pantauan lapangan, SPBU 74.902.50 di Jalan Pengayoman dan SPBU 74.902.25 di Jalan Aroepala tidak menerima suplai Pertalite dan Solar selama beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu keresahan masyarakat, terutama pengemudi ojek online, sopir angkutan, dan pengguna roda dua yang bergantung pada BBM subsidi. ‎Ketua Gerakan Anti Mafia Migas Sulsel, Awal, menilai kebijakan tersebut tidak transparan dan berpotensi merugikan masyarakat. ‎“Kami mempertanyakan dasar dan alasan Pertamina Patra Niaga menghentikan suplai BBM subsidi di dua SPBU ini. Jangan sampai ada permainan distribusi atau kepentingan tertentu yang mengorbankan hak rakyat,” tegas Awal, Kamis (06/11/2025). ‎Ia menambahkan, BBM subsidi merupakan hak masyarakat kecil yang harus disalurkan secara adil dan terbuka. ‎“Kami mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi segera memberikan klarifikasi resmi. Jika tidak ada kejelasan dalam waktu dekat, kami akan turun aksi di depan kantor Pertamina untuk menuntut pertanggungjawaban,” ujarnya. ‎Gerakan Anti Mafia Migas Sulsel juga meminta Kementerian ESDM dan BPH Migas turun tangan melakukan investigasi terhadap dugaan ketimpangan distribusi dan kemungkinan praktik mafia migas di wilayah Sulawesi Selatan. ‎“Negara harus hadir memastikan keadilan energi. BBM subsidi bukan barang mainan, tapi hak rakyat. Siapa pun yang menghambat penyalurannya berarti mengkhianati kepentingan publik,” pungkasnya. ‎Tiga Tuntutan Gerakan Anti Mafia Migas Sulsel: ‎1. Mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi segera menyalurkan kembali Pertalite dan Solar subsidi di seluruh SPBU, termasuk SPBU Pengayoman dan Aroepala. ‎2. Meminta Kementerian ESDM dan BPH Migas melakukan audit serta investigasi terbuka terhadap dugaan permainan distribusi BBM subsidi di Sulsel. ‎3. Mendorong aparat penegak hukum (Kejaksaan, Kepolisian, dan KPK) memeriksa indikasi praktik mafia migas dan penyalahgunaan kewenangan dalam rantai distribusi BBM bersubsidi. ‎Gerakan Anti Mafia Migas Sulsel menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga tuntas demi keadilan energi dan transparansi distribusi BBM bersubsidi di daerah. ‎

Daerah, Ekonomi, Makassar, Pendidikan

Sinergi untuk Wirausaha Muda: Badko HMI Sulsel dan Disperindag Sulsel Teken MoU Pasca HMI Business Class

ruminews.id, Makassar, 3 November 2025 — Setelah sukses menggelar kegiatan HMI Business Class pada 30–31 Oktober 2025 di Makassar Creative Hub, Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sulawesi Selatan melangkah lebih jauh dengan menjalin kerja sama strategis bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan (Disperindag Sulsel). Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berlangsung pada Senin, 3 November 2025 ini dilakukan oleh Ketua Bidang Perindustrian dan Perdagangan Badko HMI Sulsel dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai simbol dimulainya kolaborasi nyata antara organisasi kepemudaan dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem wirausaha yang lebih kuat di Sulawesi Selatan. Melalui kerja sama ini, kedua pihak sepakat untuk berkolaborasi dalam program pengembangan wirausaha muda, pelatihan industri kreatif, dan pendampingan bisnis berbasis inovasi. MoU ini menjadi tindak lanjut konkret dari semangat yang diusung dalam kegiatan HMI Business Class — yakni membentuk generasi muda yang mandiri secara ekonomi dan berdaya saing global. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Bidang Perindustrian dan Perdagangan Badko HMI Sulsel menyampaikan bahwa HMI ingin berperan aktif dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif dan UMKM di kalangan pemuda. “Kami ingin kader HMI tidak hanya cakap berdiskusi, tapi juga tangguh dalam berwirausaha dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulsel mengapresiasi inisiatif kolaboratif ini. “Kami melihat semangat luar biasa dari HMI Sulsel untuk ikut mendorong lahirnya pengusaha muda. Pemerintah provinsi tentu siap bersinergi dalam mewujudkan ekosistem bisnis yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya. Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi awal dari berbagai program strategis yang mempertemukan dunia akademik, organisasi kepemudaan, dan sektor industri dalam satu tujuan: mencetak generasi muda yang kreatif, berdaya, dan siap menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan.

Daerah, Ekonomi, Infotainment, Makassar, Nasional, Pendidikan

Program Studi Manajemen FEB UNM Mempersiapkan Diri Sebagai Program Studi Unggulan Di Asia Tenggara Lewat ICOMAN 2025

ruminews.id – Makassar, 1 November 2025 — Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar (FEB UNM), menegaskan posisinya sebagai salah satu program studi unggul di kawasan Asia Tenggara dengan sukses menyelenggarakan International Conference on Management (ICOMAN) 2025. Konferensi yang bertema “The Future of Management Practices and Sustainable Business Transformation in the Era of AI and the Green Economy” ini diikuti akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara melalui platform daring Zoom Meeting, Sabtu (1/11). Kegiatan ICOMAN 2025 dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Karta Jayadi, M.Sn., didampingi oleh Dekan FEB UNM, Prof. Dr. Basri Bado, S.Pd., M.Si., serta Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Anwar, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Karta Jayadi menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Program Studi Manajemen FEB UNM yang konsisten membangun jejaring akademik lintas negara. “ICOMAN adalah bukti bahwa UNM memiliki komitmen kuat terhadap internasionalisasi pendidikan tinggi. Forum ini mempertemukan para pakar dan peneliti untuk mencari solusi inovatif atas tantangan dunia bisnis dan manajemen di era kecerdasan buatan dan ekonomi hijau,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Basri Bado, selaku Dekan FEB UNM, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi UNM sebagai center of excellence dalam riset manajemen berkelanjutan di Asia Tenggara. “Kolaborasi lintas negara yang dihadirkan melalui ICOMAN menunjukkan bahwa FEB UNM telah diakui dalam jaringan akademik internasional. Kami ingin menjadikan konferensi ini sebagai ruang kolaborasi untuk menghasilkan riset yang berdampak global,” tegasnya.   Konferensi ini menghadirkan enam pembicara utama dari lima negara: Dr. Hety Budiyanti, S.E., M.Ak. – Universitas Negeri Makassar, Indonesia; Maheni Ika Sari, S.E., M.M. – Universitas Muhammadiyah Jember, Indonesia; Dr. Habsah Binti Muhamad Sabli – Politeknik Mukah Sarawak, Malaysia; Dr. Nandita Mishra – Chetana’s Institute of Management & Research, India; Dr. Mahesh Luthia – Chetana’s Institute of Management & Research, India; Client Wiliam M. Malinao, Ph.D., LPT – Ifugao State University, Filipina Mereka membahas topik-topik penting seperti sustainable finance, green investment, digital transformation, entrepreneurship innovation, hingga AI-driven business management. Menurut Dr. Anwar, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Manajemen sekaligus Ketua Panitia, konferensi ini menjadi ruang sinergi antara dunia akademik dan industri dalam mengembangkan praktik manajemen yang berkelanjutan. “ICOMAN tidak hanya mempertemukan pemikir dari berbagai negara, tetapi juga mendorong UNM berperan aktif dalam menghasilkan pengetahuan baru yang relevan dengan kebutuhan global,” ungkapnya. ICOMAN 2025 diselenggarakan bekerja sama dengan sejumlah universitas mitra di Asia, antara lain Universitas Muhammadiyah Jember (Indonesia), Chetana’s Institute of Management & Research (India), Politeknik Mukah Sarawak (Malaysia), dan Ifugao State University (Filipina). Makalah terpilih dari konferensi ini akan diterbitkan dalam International Proceedings terindeks Index Copernicus International, sebagai upaya memperluas kontribusi riset ilmiah Indonesia di tingkat global. “Kami ingin menjadikan ICOMAN sebagai agenda tahunan yang memperkuat posisi UNM sebagai pusat riset dan inovasi manajemen berkelanjutan di Asia Tenggara,” tutup Dr. Anwar. International Conference on Management (ICOMAN) merupakan forum ilmiah tahunan yang diinisiasi oleh Program Studi Manajemen FEB UNM sejak 2023. Kegiatan ini berfokus pada isu-isu transformasi bisnis, teknologi, dan keberlanjutan. Tahun 2025 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya konferensi ini diakui secara regional sebagai ajang kolaborasi akademik unggulan Asia Tenggara.

Daerah, Ekonomi, Makassar, Pendidikan

Dosen Program Studi Manajemen FEB UNM Fasilitasi BIMTEK Peningkatan Kapasitas Koperasi Kelurahan Merah Putih Makassar

ruminews.id, Makassar, 30 Oktober 2025 — Dosen Program Studi Manajemen FEB UNM, Dr. Abdul Rahman, S.Pd., M.Si., menjadi fasilitator dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Rencana Bisnis dan Proposal Pinjaman bagi Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar di Claro Hotel Makassar. Kegiatan yang diikuti oleh 153 perwakilan kelurahan se-Kota Makassar ini dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Arlin Ariesta, S.STP., M.Si., serta dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Akhmad Namsum, mewakili Wali Kota Makassar. Dalam sambutannya, Akhmad Namsum menegaskan bahwa keberadaan koperasi di tingkat kelurahan merupakan ujung tombak peningkatan ekonomi rakyat. “Koperasi Kelurahan Merah Putih adalah simbol kemandirian warga. Pemerintah Kota Makassar mendorong setiap koperasi untuk menjadi lembaga ekonomi yang kuat, profesional, dan berorientasi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Arlin Ariesta menekankan pentingnya kemampuan manajerial dalam penyusunan rencana bisnis koperasi. “Koperasi harus mampu membuat perencanaan bisnis yang realistis dan berdaya saing agar bisa mengakses permodalan serta berkontribusi langsung pada perekonomian daerah,” tegasnya. Dalam sesi materi, Dr. Abdul Rahman menyampaikan topik “Peran Strategis Koperasi Kelurahan Merah Putih terhadap Perekonomian Daerah”, dengan menyoroti pentingnya tata kelola koperasi berbasis data dan inovasi untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Daerah, Ekonomi, Internasional, Jakarta, Nasional, Pemerintahan

King of Nusantara Ajak Pengusaha Manca Negara Berinvestasi di Indonesia

ruminews.id, Jakarta – King of Nusantara Sultan Paser 18, Dr. Sultan AMH Andrian Sulaiman, S.T., MBA hadir saat bincang santai di Starbucks Coffee Setiabudi One, Jl HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat, (17/10/2025) King of Nusantara Sultan Paser 18 hadir membahas dan memberikan dukungan penuh kepada Program Asta Cita Pemerintah diantaranya Food Security Ia mengatakan, untuk memperkuat utamanya program Ketahanan Pangan dan memperkuat jaringan usaha antar daerah. Dirinya sudah mempelopori pendirian beberapa usaha pendukung di bidang Trading & Investment, Mineral & Energi, serta bidang Pangan, yaitu: Perikanan, Pertanian dan Peternakan. “Tujuan dari didirikannya perusahaan tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk memperkuat daya saing ekonomi lokal. Termasuk mengoptimalkan potensi wilayah untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih terkoneksi, efisien, dan inklusif,” kata King of Nusantara sapaan akrabnya, melalui rilis media, Jumat (24/10/2025) di Jakarta. Kata dia, kedepannya diupayakan untuk terus dapat mendukung tercapainya percepatan pembangunan ekonomi nasional. “Pendirian usaha yang dimaksud adalah Royal Nusantara Investment, Pte, Ltd (Trading & Investment), PT. Raja Berkah Anugerah (Mineral & Energi), dan PT. Royal Nuantara Raya Group (Holding Company), PT. Sinar Pangan Nusantara Sukses (Bidang Pangan). Dimana diharapkan kedepannya dapat menjadi konektivitas antar-wilayah, sekaligus sebagai salah satu pilar penting percepatan pembangunan ekonomi nasional,” jelas King of Nusantara. Menurutnya, dengan memperkuat jaringan usaha antar daerah melalui usaha-usaha yang telah didirikan. Diharapkan kedepannya dapat memberikan kontribusi yang signifikan, dalam meningkatkan aliran barang dan jasa. “Hal ini untuk memperluas pasar usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta mendorong inovasi dan teknologi lebih efisien,” ujar pria yang disapa King of Nusantara ini. Dalam rangka memperkuat konektivitas ekonomi antar daerah, King of Nusantara juga bersama para pelaku usaha dan warga lokal juga menggelar pertemuan dan diskusi santai dan terbuka. Yang mana sudah dilaksanakan di Ambon (Provinsi Maluku) sebagai Momentum Bangkitnya Usaha Hilirisasi Sektor Kelautan dan Perikanan (sebagai Kekuatan Maritim Nusantara). “Acara ini diprakarsasi oleh DPP Ikatan Masyarakat Nelayan Maluku (IKMANEMA) dalam konsep Saresehan, pada Rabu, (01/10/2025),” ucapnya. “Melalui program diskusi santai dan terbuka dalam konsep sarasehan ini, diharap dapat memberikan dampak positif yang utamanya untuk memperkuat jejaring usaha antar daerah, membuka peluang investasi baru di sektor kelautan, serta dapat mendorong inovasi pengelolaan perikanan agar lebih berkelanjutan,” imbuh King of Nusantara. Perkuat Daya Saing Ekonomi Lokal Untuk memperkuat daya saing ekonomi lokal dan mengoptimalkan potensi wilayah. King of Nusantara yang aktif berkiprah dalam pengelolaan dan penanganan kegiatan sosial juga mendirikan Sultan Paser 18 Foundation. Lembaga ini senantiasa turut aktif dalam menghadiri undangan international yang digelar oleh Mancanegara sebagai Narasumber, untuk memperkenalkan kepada para investor agar berinvestasi di Indonesia. Dalam beberapa waktu ini, King of Nusantara juga telah menyempatkan untuk menghadiri Acara “60 th BIRTHDAY CELEBRATION” Tan Seri Jimmy J Guo dan Istri Dato Seri Zhu Zi Sabrina dari Negara Republic Of Nauru. Yang juga pernah berada dalam Asean – China Business Council yang acaranya diselenggarakan di Chuai Heng Banquet Hall 20, Jalan Kamuning off Jalan Imbi,55100 Kuala Lumpur Malaysia, Senin, (04/08/2025). “Acara ini juga dihadiri oleh beberapa Pengusaha Internasional, seperti Negara China, Nauru, Singapore, Hongkong, Thailand, Vietnam, Kamboja dan pengusaha lokal Malaysia,” ujarnya. Dalam sambutannya, King of Nusantara Sultan Paser 18 juga mengajak para Pengusaha Mancanegara untuk ber investasi di Negara Indonesia dalam berbagai bidang usaha/bisnis. Dimana mengikuti aturan dan undang undang yang berlaku di Indonesia dan Perdagangan Internasional antar negara khususnya bidang usaha Swasta/Private. “Kedepan dapat membantu program pembangunan Indonesia secara optimal, yang utamanya dalam menciptakan penguatan jaringan usaha antar daerah. Tentunya, tidak hanya sebatas mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat mewujudkan pemerataan ekonomi, pengentasan kemiskinan wilayah, serta pengembangan potensi lokal yang selama ini kurang tersentuh,” pungkasnya. (red)

Ekonomi, Opini

“Dari B2B ke B2E”-(Kronik Satire Ekonomi ala Whoosh)

ruminews.id – Kalau bicara soal kereta cepat Whoosh, rasanya yang paling ngebut bukan keretanya, tapi drama soal utangnya. Dulu waktu proyek ini diumumkan, semua tampil gagah bilang ini skemanya murni B2B (Business to Business). Katanya proyek modern, profesional, tanpa beban APBN, tanpa campur tangan negara. Tapi entah kenapa, begitu cicilan mulai datang dan bunga pinjaman beranak, tiba-tiba formatnya berubah jadi versi lokal: B2B (Business to Budget). Begitu duit seret, langsung melirik APBN dengan pandangan penuh harap, seolah negara itu dompet ajaib yang selalu siap menalangi ambisi yang kebablasan. Padahal kalau namanya B2B, logikanya sederhana. Yang untung ya perusahaan, yang rugi ya tanggung sendiri. Tapi di sini, logika kadang cuma hiasan presentasi. Begitu neraca keuangan mulai panas, langsung berubah jadi B2G (Business to Government). Kalau untung, semua teriak “swasta hebat!” tapi kalau rugi, narasinya berubah jadi “demi kepentingan nasional.” Mirip mahasiswa yang ngaku hidup mandiri, tapi begitu tanggal tua, kode SOS ke rumah bunyi terus. Saya khawatir nanti akan muncul lagi versi upgrade-nya, B2C (Business to Citizen). Ini yang paling lucu dan ironis. Ketika bisnis mulai megap-megap, rakyat disuruh ikut patungan lewat pajak. Jadi, untungnya privat, buntungnya publik. Lama-lama kita bisa punya sistem ekonomi baru; “gotong royong bayar kegagalan orang lain” Dan bisa jadi akan ada lagi versi yang lebih kocak: B2D (Business to Debt). Bisnis yang bukan lagi soal mencetak laba, tapi mencetak cicilan. Proyeknya disebut “investasi masa depan,” tapi masa depan itu sendiri dijadikan jaminan utang. Seolah-olah utang bukan beban, tapi tradisi kebangsaan yang harus dirawat tiap tahun. Kalau terus begini, nanti bisa naik tingkat jadi B2D lokal (Business to Dukun Anggaran) yg skemanya berharap mantra fiskal bisa menutup defisit tanpa keringat. Puncak evolusinya mungkin berakhir pada B2E (Business to Excuse). Di fase ini, setiap kali proyeknya bermasalah, yang keluar bukan solusi tapi alasan yakni demi kebanggaan nasional, demi konektivitas, demi transfer teknologi, demi segala hal kecuali akuntabilitas. Di sini angka bukan lagi alat ukur, tapi bahan dongeng. Jadi kalau hari ini masih ada yang minta APBN dipakai buat nutup utang proyek yang katanya B2B, pertanyaannya sederhana; ini proyek bisnis, atau stand-up comedy ekonomi? Karena kalau terus begini, bukan cuma kereta yang Whoosh meluncur cepat, tapi juga uang rakyat yang wusshh… meluncur pergi, meninggalkan kita semua di stasiun. Akhirnya, kita hanya bisa menatap rel panjang yang dibangun dari logika yang entah ke mana perginya.

Daerah, Ekonomi, Makassar, Nasional, Pendidikan

Ketika Kapitalisme Menyentuh Kemanusiaan: Refleksi Hangat Muh Ifan Fadhillah di Forum LK2 HMI Makassar Timur

ruminews.id – Ruang itu tenang, namun berdenyut dengan semangat yang hidup. Di antara cahaya lampu yang jatuh lembut di meja-meja kayu, para peserta Intermediate Training (LK 2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk berjejer, menyimak setiap kata yang mengalir dari pemateri Muh Ifan Fadhillah, S.E., M.Si. Malam itu, topik yang diangkat bukan perkara ringan. Ia berbicara tentang Kapitalisme dan Krisis Multidimensional: Relasi Kapitalisme dalam Berbagai Sektor, sebuah gagasan yang menyingkap wajah sistem ekonomi bukan hanya dari sisi pasar dan angka, tetapi dari denyut sosial, budaya, dan kemanusiaan yang lebih dalam. “Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi,” ujar Muh Ifan dengan suara tenang namun tajam. “Ia telah menjelma menjadi cara berpikir, bahkan cara kita memandang kehidupan sehari-hari.” Forum terasa hidup. Peserta tak sekadar mendengar; mereka seolah menelusuri setiap makna yang tersembunyi di balik kalimat-kalimatnya. Di antara udara malam yang hangat, pikiran-pikiran muda itu bergolak menyelami konsep tentang kerja reproduksi sosial yang tak terlihat, kerja-kerja domestik yang diam tapi menopang dunia. Muh Ifan memaparkan bagaimana ketimpangan pendapatan dan kemiskinan sering kali disederhanakan menjadi sekadar angka statistik, padahal di baliknya ada wajah-wajah manusia, ada cerita perjuangan, ada lapar yang tak hanya di perut tetapi juga di hati. Ia menyentuh sisi lain kapitalisme, kematian akibat kerja, krisis iklim, hingga pendidikan dan ketimpangan kesempatan sebagai kepingan dari satu mozaik besar: bagaimana sistem global ini membentuk dan kadang merampas kemanusiaan. Suasana forum semakin syahdu ketika peserta mulai berdialog. Tak ada hiruk-pikuk, hanya tatapan serius yang sesekali melembut ketika pemateri tersenyum. Ada kehangatan intelektual yang romantis, sebuah rasa cinta terhadap ilmu dan kesadaran. Setiap pertanyaan lahir dari kegelisahan, setiap jawaban menjadi penuntun yang menenangkan. Dalam ruangan itu, kapitalisme tidak lagi dibicarakan sebagai teori kaku, melainkan sebagai realitas yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Dari dapur rumah tangga hingga ruang kelas, dari pabrik hingga meja diskusi malam itu, semua menjadi cermin refleksi. Saat sesi berakhir, tepuk tangan menggema lembut. Para peserta masih enggan beranjak, seolah percakapan tadi belum selesai karena sesungguhnya, diskusi tentang kemanusiaan memang tak akan pernah benar-benar usai. Malam di Makassar Timur itu menjadi saksi: bahwa belajar bisa begitu hangat, romantis, dan sarat makna ketika ilmu dan kesadaran berpadu dalam satu ruang, dalam satu semangat, dalam satu cita: membangun manusia yang peka terhadap realitas dan cinta pada keadilan.

Ekonomi, Hukum, Pemerintahan, Uncategorized

Bea Cukai Ingatkan, Beli atau Hisap Rokok Ilegal Bisa Kena Penjara❗️

ruminews.id, Bogor – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak main main dengan rokok ilegal. Kepala Kanwil DJBC Jawa Barat, Finari Manan, menegaskan bahwa bukan hanya produsen atau penjual, tapi pembeli hingga pengguna rokok ilegal pun bisa dijerat hukum berat. Sesuai Pasal 54 Undang-Undang Bea Cukai, siapa pun yang mengedarkan, menimbun, membeli, bahkan mengonsumsi rokok ilegal bisa dipidana penjara hingga 5 tahun atau didenda Rp200 juta, tegas Finari seusai pemusnahan jutaan batang rokok ilegal di Bogor, Selasa (21/10/2025). Finari menekankan, sanksi ini adalah bentuk ketegasan negara terhadap pelanggaran cukai. Semua pihak yang ikut menikmati hasil dari peredaran rokok tanpa pita cukai resmi akan dikenakan hukuman yang sama, ujarnya. Dalam kesempatan itu, Finari juga mengungkapkan bahwa Cirebon menjadi daerah dengan peredaran rokok ilegal terbesar di Jawa Barat, disusul Purwakarta, dan Bogor yang kini masuk dalam zona pengawasan ketat Bea Cukai. Bogor termasuk daerah yang kami awasi ketat. Kalau di Jabar, yang terbesar masih Cirebon, lalu Purwakarta, jelasnya. Bea Cukai menargetkan penindakan terhadap 78,5 juta batang rokok ilegal di wilayah Jawa Barat sepanjang tahun ini. Angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas distribusi rokok tanpa pita cukai di berbagai kabupaten dan kota. Upaya ini bukan sekadar penindakan, tapi juga edukasi agar masyarakat paham bahwa membeli rokok ilegal sama saja mendukung tindak pidana, tutup Finari,

Daerah, Ekonomi, Gowa, Makassar, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pendidikan, Politik

Purbaya: Idola Baru Gen Z, Musuh Lama Para Elit

ruminews.id – Di tengah hiruk-pikuk kabinet yang kerap sibuk berbicara tanpa arah, satu nama muncul sebagai oase di padang tandus kepercayaan publik: Purbaya, Menteri Keuangan yang kini dielu-elukan sebagai idola Gen Z. Sosok yang dulu dikenal dingin dalam angka, kini hangat dalam tindakan menyalurkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun yang selama ini membeku di Bank Indonesia, seolah mengalirkan kembali nadi ekonomi rakyat yang lama beku. Langkah-langkahnya tak hanya berbicara, tapi berdentum seperti derap kuda di tanah gersang kebijakan. Saat menteri lain sibuk menata pencitraan, Purbaya justru memburu 200 penunggak pajak besar bukan rakyat kecil, bukan pedagang kaki lima, melainkan mereka yang selama ini nyaman di balik pagar kekuasaan. Ia menatap mereka tanpa takut, dengan gaya khasnya yang disebut publik sebagai gaya koboi: tegas, lugas, dan tidak peduli siapa yang tersengat oleh kebenaran. Sementara itu, rakyat kecil mendengar kabar yang jarang turun dari langit kekuasaan: tidak ada kenaikan cukai rokok, kajian penurunan PPN, dan yang paling menyentuh penghapusan utang warga di bawah satu juta rupiah agar mereka kembali punya akses ke KPR. Langkah kecil di atas kertas, tapi besar di hati mereka yang hidup dari upah harian. Program “Lapor Pak Purbaya” menjadi jembatan baru antara rakyat dan negara. Di saat banyak menteri bersembunyi di balik meja rapat, Purbaya justru membuka telinganya bagi keluhan yang sering dianggap remeh oleh pejabat lain. Ia menjawab dengan tindakan, bukan jargon. “Rakyat tak perlu datang ke istana untuk didengar, cukup bicara dan kami yang datang,” ujarnya suatu kali, dengan senyum tipis khas koboi yang baru saja menundukkan badai. Publik menilai, langkahnya bukan sekadar reformasi fiskal, tapi revolusi nurani. Ia menahan anggaran-anggaran yang tak perlu, memotong belanja seremonial yang gemerlap namun tak berfaedah. Di saat sebagian menteri sibuk menyebut nama “rakyat” dalam setiap pidato, Purbaya justru bekerja untuk rakyat tanpa perlu menyebutnya berulang-ulang. Namun, di balik tepuk tangan rakyat, awan mendung mulai tampak di langit kabinet. Dalam satu rekaman rapat yang tersebar luas, publik menyaksikan bagaimana Purbaya duduk sendirian tanpa sapaan, tanpa obrolan ringan dari rekan sejawatnya. Kursinya seolah menjadi simbol kesendirian pejabat yang terlalu jujur di tengah politik yang terlalu penuh kepentingan. Netizen menyorot adegan itu dengan tajam: “Beginilah nasib menteri yang berpihak pada rakyat—dijauhi oleh mereka yang berpihak pada proyek.” Sebuah sindiran yang menggema di ruang digital, menggambarkan bagaimana sebagian menteri lain seolah menyimpan sentimen terhadap Purbaya, hanya karena langkah-langkahnya menelanjangi kenyamanan mereka. Padahal, publik justru melihat keberpihakan itu sebagai keberanian. Di tengah senyum basa-basi yang bertebaran di rapat kabinet, Purbaya memilih diam dengan harga diri. Ia tahu, lebih baik disalahpahami karena membela rakyat daripada dipuji karena melayani oligarki. Dan ketika kritik datang, ia tidak menutup diri. “Kritik itu peluru, bukan racun,” katanya suatu kali menanggapi komentar pedas terhadap kebijakannya. Berbeda jauh dari rekan-rekan selevelnya yang kerap menjadikan keresahan publik sebagai bahan olok-olok, seolah keluh kesah rakyat hanyalah riuh tanpa makna. Kini, di dunia digital yang dikuasai Gen Z, nama Purbaya menjelma jadi simbol baru integritas: menteri yang tidak hanya menghitung uang, tapi juga menghitung rasa. Ia membuktikan bahwa di tengah suara sumbang politik dan kepentingan oligarki, masih ada pejabat yang memilih berdiri di sisi rakyat bukan demi sorotan kamera, tapi demi nurani bangsa. Dan barangkali, di antara riuh notifikasi media sosial dan meme politik yang datang silih berganti, generasi muda akhirnya menemukan satu alasan untuk percaya: bahwa di dalam sistem yang kusut, masih ada satu koboi bernama Purbaya, yang berani mengatur keuangan negara dengan hati dan keberanian.

Scroll to Top