15 Maret 2026

Opini

Half Truth: Seni Menyembunyikan Kebenaran dalam Debat Palestina di TV

Penulis : Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi ruminews.id – Beberapa waktu terakhir, publik yang menyimak debat di televisi nasional mungkin melihat pola yang menarik. Dalam sejumlah program talk show, sering muncul panel yang mempertemukan tokoh polemis seperti Permadi Arya dan Monique Rijkers yang dikenal membela Israel, berhadapan dengan akademisi, profesor hubungan internasional, pakar hukum internasional, atau aktivis kemanusiaan yang bersimpati pada Palestina. Sekilas terlihat seperti debat biasa. Ada argumen, ada data, ada saling sanggah. Tetapi jika diperhatikan lebih teliti, sering muncul satu pola yang sangat khas yaitu argumen yang terdengar faktual, tetapi sebenarnya hanya separuh cerita. Inilah yang dalam dunia logika disebut “half truth” atau setengah kebenaran. Half truth bukan kebohongan total. Justru karena mengandung unsur kebenaran, half truth sering terdengar sangat meyakinkan. Tekniknya sederhana: ambil satu fakta yang benar, lalu hilangkan konteksnya. Setelah itu tarik kesimpulan besar dari potongan fakta tersebut. Bagi penonton awam, argumen seperti ini terdengar kuat karena berbasis “data”. Padahal sebenarnya data itu hanya sepotong dari keseluruhan realitas. Misalnya ada pernyataan: “Palestina tidak pernah menjadi negara sebelum 1948.” Kalimat ini memang memiliki unsur fakta dalam pengertian negara modern. Tetapi yang sering tidak disebutkan adalah bahwa wilayah Palestina sudah memiliki masyarakat, kota, budaya, dan identitas politik selama berabad-abad di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman dan kemudian di masa Mandate for Palestine di bawah Inggris. Dengan menghilangkan konteks ini, kesimpulan yang terbentuk di benak publik bisa berubah total. Dengan argumen Palestina belum ada (belum menjadi negara) pada saat Israel berdiri, maka tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa Israel menjajah Palestina. Logika ini sama saja dengan mengatakan bahwa Belanda dan Jepang tidak pernah menjajah Indonesia karena Indonesia baru ada (menjadi negara berdaulat) tahun 1945. Teknik semacam ini sebenarnya sudah sangat tua. Dalam filsafat Yunani kuno, ada kelompok ahli retorika yang disebut para Sofis. Mereka terkenal mahir berdebat dan mampu membuat argumen tampak benar meskipun sebenarnya menyesatkan. Filsuf besar Yunani, Plato, adalah salah satu pengkritik keras mereka. Dalam dialog-dialognya, Plato menuduh para Sofis lebih tertarik menang debat daripada mencari kebenaran. Mereka bisa membuat argumen yang lemah terdengar kuat dengan permainan kata dan potongan fakta. Apa yang dulu diperdebatkan Plato di Athena ribuan tahun lalu, hari ini tampaknya masih hidup, hanya saja panggungnya berpindah dari agora Yunani ke studio televisi modern. Masalahnya, debat televisi memang bukan ruang akademik. Waktunya sempit, ritmenya cepat, dan yang dicari sering kali bukan kedalaman analisis, tetapi dramanya. Seorang profesor mungkin membutuhkan lima menit untuk menjelaskan konteks sejarah yang kompleks. Tetapi seorang polemis cukup menggunakan satu kalimat yang tegas dan provokatif. Bagi penonton, kalimat pendek yang diucapkan dengan percaya diri sering terasa lebih kuat daripada penjelasan ilmiah yang panjang dan penuh nuansa. Di sinilah half truth bekerja dengan sangat efektif. Ia seperti foto yang dipotong (cropped). Bagian yang terlihat memang nyata, tetapi bagian yang tidak terlihat justru menentukan maknanya. Ketika potongan fakta ini diulang berkali-kali dalam debat publik, perlahan-lahan akan bisa membentuk persepsi seolah-olah itulah keseluruhan kebenaran. Karena itu, yang perlu dilakukan publik bukan sekadar bertanya, “Apakah pernyataan ini benar?” tetapi juga bertanya satu hal yang jauh lebih penting: “Apa yang tidak diceritakan?” Kadang-kadang kunci kebenaran justru terletak pada bagian cerita yang sengaja dihilangkan. Dalam tradisi filsafat, kebenaran tidak pernah berdiri di atas potongan fakta yang terpisah-pisah. Kebenaran membutuhkan gambaran yang utuh. Plato dulu mengingatkan bahwa retorika tanpa komitmen pada kebenaran hanya akan menghasilkan ilusi pengetahuan seolah-olah kita memahami sesuatu, padahal sebenarnya kita hanya melihat separuhnya. Maka ketika menyaksikan debat di televisi, terutama tentang isu sensitif seperti Palestina dan Israel, publik sebaiknya tidak hanya terpukau oleh siapa yang berbicara paling lantang atau paling percaya diri. Yang jauh lebih penting adalah melihat apakah argumen yang disampaikan benar-benar menggambarkan keseluruhan realitas, atau hanya potongan cerita yang dipilih secara selektif. Dalam dunia propaganda modern, kebohongan yang paling efektif bukanlah dusta yang terang-terangan. Yang paling berbahaya justru kebenaran yang dipotong setengah. [Erwin]

Hukum, Pertanian, Takalar

Pola Korupsi Irigasi P3TGAI Mirip Luwu Utara, Kejaksaan Takalar Didesak Segera Bertindak

ruminews.id – Takalar — Dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Kabupaten Takalar mulai menjadi perhatian publik. Program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas jaringan irigasi serta mendukung produktivitas pertanian tersebut diduga diwarnai praktik setoran komitmen fee dari kelompok penerima program. Informasi yang berkembang di kalangan kelompok tani menyebutkan bahwa setiap kelompok irigasi yang mendapatkan program P3TGAI diduga diminta memberikan setoran berkisar antara Rp25 juta hingga Rp35 juta. Setoran tersebut diduga berkaitan dengan proses pengusulan maupun pelaksanaan kegiatan pembangunan irigasi. Dugaan tersebut dinilai semakin menguat karena pola yang disebut-sebut terjadi di Kabupaten Takalar memiliki kemiripan dengan modus yang sebelumnya telah terungkap di Kabupaten Luwu Utara. Dalam kasus yang terjadi di Luwu Utara, aparat penegak hukum menemukan adanya praktik setoran dari kelompok penerima program yang kemudian dikumpulkan oleh pihak tertentu sebelum program dilaksanakan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dalam dugaan praktik yang berkembang di Takalar juga terdapat indikasi adanya pihak yang berperan sebagai koordinator atau “ketua kelas” yang mengatur serta mengumpulkan setoran komitmen fee dari berbagai kelompok irigasi penerima program. Sosok tersebut disebut-sebut memiliki pengaruh dalam jaringan politik dan diduga merupakan seorang legislator di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Meski demikian, informasi tersebut masih berupa dugaan yang memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum. Melihat kemiripan pola tersebut, sejumlah kalangan kini mendesak Kejaksaan Negeri Takalar untuk segera mengambil langkah penyelidikan guna memastikan kebenaran informasi yang berkembang di masyarakat. “Kasus dengan pola serupa sudah berhasil diungkap di Luwu Utara. Oleh karena itu, publik juga berharap Kejaksaan Takalar dapat menelusuri dugaan praktik yang sama agar program pemerintah benar-benar berjalan sesuai tujuan,” ujar Koordinator AMTPK Takalar, Takhifal Mursalin yang juga Pelapor Dugaan Indikasi Korupsi P3ATGAI kabupaten Takalar. Program P3TGAI sendiri merupakan program nasional yang bertujuan meningkatkan fungsi jaringan irigasi melalui pemberdayaan kelompok petani. Karena itu, dugaan adanya praktik pungutan atau setoran dalam program tersebut dinilai sebagai persoalan serius yang perlu ditangani secara transparan. Publik kini menunggu langkah konkret dari Kejaksaan Negeri Takalar untuk menelusuri dugaan praktik setoran dalam pelaksanaan program P3TGAI di wilayah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat bertindak profesional, transparan, dan tegas dalam mengungkap setiap dugaan penyimpangan yang berkaitan dengan penggunaan anggaran negara.

Barru

Bosowa Peduli Bantu Warga Lansia di Barru, Sembako Dibagikan ke Puluhan Desa

ruminews.id – BARRU, – Program sosial Bosowa Peduli kembali menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat di puluhan desa dan kelurahan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari agenda buka puasa bersama yang sebelumnya digelar di Packing Plant Siawung oleh Semen Bosowa. Direktur Bosowa Peduli, Hafiet T. Mashud, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari program berbagi kepada masyarakat yang telah didata sebelumnya di sejumlah desa. “Program ini merupakan lanjutan dari kegiatan berbagi yang kami lakukan saat buka puasa bersama kemarin. Setelah itu, kami turun langsung ke desa-desa yang sebelumnya sudah terdata untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan,” ujar Hafiet. Salah satu lokasi yang dikunjungi tim Bosowa Peduli adalah Desa Likupaksi. Di desa tersebut, bantuan sembako disalurkan kepada 10 warga penerima manfaat yang mayoritas merupakan lanjut usia, dengan usia tertua mencapai 85 tahun. Kepala Desa Likupaksi, Awaluddin, menyambut baik kedatangan tim Bosowa Peduli di kantor desa. Ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan bantuan. “Kami sangat berterima kasih atas kepedulian Semen Bosowa kepada warga kami yang memang sangat membutuhkan bantuan,” kata Awaluddin. Ia menambahkan bahwa penerima bantuan merupakan warga yang diusulkan langsung oleh pemerintah desa berdasarkan kondisi ekonomi mereka. “Bantuan ini murni usulan dari desa kami untuk dibantu. Semoga paket sembako ini dapat meringankan kebutuhan warga, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri,” ujarnya. Bosowa Peduli menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat melalui berbagai program sosial di wilayah sekitar operasional perusahaan. Penyaluran bantuan sembako ini diharapkan dapat meringankan beban warga yang membutuhkan, khususnya para lanjut usia, sekaligus mempererat hubungan antara perusahaan dan masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.

Mamuju, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Pengurus Pusat HIPERMAJU Soroti peniadaan THR untuk ASN P3K Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2026

ruminews.id – Sebagai mahasiswa yang berasal dari sulawesi barat, yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kemajuan daerah, kami menilai polemik tidak dibayarkannya THR bagi PPPK di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat merupakan persoalan serius yang harus dijelaskan secara transparan kepada publik. Sangat disayangkan ketika pemerintah daerah di satu sisi meminta perusahaan-perusahaan untuk memenuhi kewajiban pembayaran THR kepada para pekerja, namun di sisi lain justru pegawainya sendiri tidak mendapatkan hak yang sama. Kondisi ini tentu menimbulkan kesan inkonsistensi dalam pengambilan kebijakan dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah daerah dalam memperjuangkan kesejahteraan tenaga kerjanya. Alasan keterbatasan fiskal yang disampaikan oleh pihak BKPSDM patut diuji secara terbuka. Apalagi jika benar terdapat alokasi anggaran yang cukup besar untuk program lain yang sifatnya opsional, sementara kewajiban normatif seperti pembayaran THR PPPK justru tidak diprioritaskan. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, kebijakan anggaran seharusnya menempatkan hak-hak pegawai sebagai prioritas utama. Lebih ironis lagi, di tengah alasan keterbatasan anggaran tersebut, pemerintah provinsi justru diketahui mengalokasikan tambahan insentif melalui program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) kepada ratusan kepala desa dan ribuan perangkat desa di enam kabupaten di Sulawesi Barat. Kepala desa menerima tambahan Rp1 juta per bulan, sementara sekretaris desa, kaur, dan kasi menerima Rp500 ribu per bulan. Kebijakan ini tentu patut diapresiasi sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan aparat desa, namun menjadi pertanyaan publik ketika pada saat yang sama THR bagi PPPK yang merupakan hak normatif justru tidak dibayarkan. Kami patut menduga bahwa persoalan ini bukan semata-mata soal kemampuan anggaran, tetapi juga menyangkut keberpihakan kebijakan. Pemerintah daerah perlu menunjukkan political will yang jelas dalam melindungi dan menghargai pengabdian para PPPK yang selama ini telah bekerja menjalankan pelayanan publik. Oleh karena itu, kami mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat serta segera mencari solusi konkret agar hak THR PPPK dapat dipenuhi. Selain itu, kami juga mendorong DPRD Provinsi Sulawesi Barat untuk menjalankan fungsi pengawasannya secara maksimal agar kebijakan pengelolaan anggaran daerah benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat dan aparatur yang bekerja untuk daerah. Kesejahteraan pegawai bukan sekadar persoalan administratif, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap pengabdian dan kerja keras mereka dalam membangun daerah.

Internasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Politik

Mengutip Puisi “Kie Raha Revolusi” dan Ironi Jaminan Keamanan bagi Sang Agresor

ruminews.id, – Tulisan ini saya awali dengan penuh kesadaran akan kecintaan pada kemanusiaan dan rasa khawatir atas noda-noda hubungan luar negeri yang kian nyata. Dan, yah, bagaimana tidak, rencana-rencana politik luar negeri kita kian memperlihatkan adanya sikap mementingkan keuntungan pribadi dalam kelompok yang kita kenal sebagai Board of Peace (BoP). Dari tulisan ini, saya mengajak pembaca melihat konflik politik dunia antara negara kita Indonesia yang mau menginisiasi sebagai mediator untuk perdamaian antar konflik Iran-AS-Israel dengan cara pandang dan sudut pandang yang berbeda. Board of Peace (BoP). Salah satu alat hubungan internasional yang diatur oleh Donald Trump, dan boleh jadi di antara kita mungkin setuju bahwa cerita perdamaian yang diangkatnya hanyalah bungkus luar dari nafsu kekuasaan dunia yang mampu merusak kesadaran atas kemerdekaan, baik dari berbagai sisi maupun cara. Dari sedikit tulisan ini mungkin kita sudah ketahui arahnya? Yap benar, kita memasuki pembahasan mengenai tekanan Geopolitik dunia dan ketidaksesuaian yang muncul dalam kebijakan luar negeri Presiden kita hari ini. Membacanya bagaikan perahu kata, yang membawa kita melewati waktu, pertikaian, dan kesadaran. Kita diajak mendengar kembali suara hati yang terlalu lama ditekan oleh aturan kehidupan. Bukan hanya membahas sejarah, perubahan besar, dan politik dunia di meja-meja pertemuan resmi. Sebagaimana bait pembuka dari “Kie Raha Revolusi” karya Amar Ome: “Gerimis mengundang amarah, berdesis dalam.Ingat penguasa, bersiul bukan menggonggong, menari bukan berkelahi.” Perjuangan dan kepemimpinan dalam pandangan kita seharusnya dibayangkan sebagai kumpulan pemikiran, bukan kumpulan kursi pejabat yang tunduk pada pembuat perang. Jika perdamaian jadi tempat membagi-bagi jaminan keamanan bagi pembuat perang, bukan membagi-bagi dukungan pada yang ditindas, maka itu bukan politik, itu adalah dagang. Dalam kacamata Islam, keberpihakan kita seharusnya mutlak kepada kaum yang tertindas (Mustadh’afin). Namun, dalam konteks BoP, kepentingan siapa yang sedang kita bela? Ketika Presiden menyatakan bahwa hak Israel untuk ada dan jaminan keamanannya harus kita bela, cerita ini seolah menanamkan pemahaman salah dalam membangun ketenangan palsu. Bagaimana mungkin kita bicara tentang “keamanan Israel” di saat negara tersebut justru secara brutal melakukan serangan ke Palestina sampai ke Iran? Ini adalah bentuk “Tip-Ex yang menjadi judul penguasa” menghilangkan jejak penindasan demi pengakuan di meja perundingan. Sejujurnya, muncul keraguan besar dalam pikiran saya mengenai kekuatan hubungan internasional kita hari ini, benarkah sang pemimpin atau presiden kita mampu memulai perdamaian antarnegara jika hak-hak di internal Indonesia saja tidak sepenuhnya diselesaikan? Sebagaimana bunyi protes dalam puisi tersebut “Menukik harapan kalam dengan sadis, menghalalkan masa depan dengan bengis, teringat mahasiswa mogok makan di pelataran jalan tanpa belas kasih mengadu impian untuk masa depan.” Bagaimana mungkin kita bergaya hebat di panggung dunia, sementara teriakan ketidakadilan di negeri sendiri masih menyakitkan dan merusak masa depan dengan kejam. Selesaikan dulu luka di daerah kita sendiri sebelum bermimpi menjadi penyelamat di tanah orang. Mari kita bercermin pada sejarah para Raja di Maluku dan sikap Raja Faisal dari Arab Saudi. Sedikit cerita tentang sejarah, Dulu, Raja Faisal dengan gagah berani menutup keran minyak untuk Amerika meski diancam. Beliau berkata “Kami bangsa Arab dulu hidup hanya dengan kurma dan susu, jadi kalau mau putus hubungan persoalan minyak ya silahkan saja kami bisa kembali ke masa-masa itu.” Sikap “mati terhormat” inilah yang membuat negara adidaya bertekuk lutut dan mendatangi langsung Raja Faisal untuk membujuk. Hal yang sama juga melekat pada darah para Sultan di Kie Raha yang “mengangkat parang dan salawaku, wajah-wajah alifuri dengan semangat marimoi ngone foturo.” Kerajaan Maluku di masa lampau tidak pernah mau didikte oleh bangsa asing karena mereka sadar akan harga diri. Mereka menunjukkan bahwa mereka bisa tetap hidup dengan kekayaan alamnya sendiri, karena “di sini tanah para raja bukan untuk tuan berdasi.” Namun hari ini, kita melihat pemimpin yang seolah kehilangan taji tersebut. Iran hari ini, meski terus ditekan dengan embargo, tetap berhasil menunjukkan bahwa mereka bisa hidup mandiri. Seperti yang saya kutip dari beberapa narasi media (Kakanda Fikri Haikal), Iran bahkan mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melewati selat Hormuz jika terus ditekan. Jenderal Sardar Jabbari menyatakan Teheran “tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut”. Kenaikan MOJTABA KHAMENEI sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, SYAHID ALI KHAMENEI, menandai fase baru perlawanan di tengah ancaman serangan AS dan Israel yang berpotensi melambungkan harga minyak dunia. Hal ini membawa kita pada pengamatan SYAHID ALI KHAMENEI mengenai Perang Budaya, seperti yang saya kutip dari beberapa narasi media (Kakanda Rahmatullah). Bagian yang sangat halus dalam cengkeraman kolonialisme adalah serangannya melalui budaya sebagai wujud perang melalui kekuatan ekonomi dan politik. Mereka menggunakan teror halus untuk menaklukkan prinsip-prinsip suatu negara. SYAHID ALI KHAMENEI memandang serangan ini bertujuan untuk menggoyahkan keyakinan agama, memutuskan hubungan dari prinsip revolusi Islam, dan menggiring masyarakat pada ketakutan agar mereka tunduk di bawah kendalinya. Akibatnya, umat Muslim tidak lagi sadar akan perang budaya yang tengah berlangsung karena pikiran dan identitasnya telah dikuasai kolonial. Heidegger mengamati gejala ini sebagai “ketakberpikiran”, di mana manusia terpenjara oleh keinginan melakukan segala sesuatu secara instan. Inilah yang oleh SYAHID ALI KHAMENEI disebut sebagai dua pilar kolonialisme , mengganti budaya lokal dengan budaya asing dan melakukan serangan terhadap nilai-nilai Islam melalui media produksi asing. Senada dengan itu, Edward W. Said dalam wacana Orientalisme Barat membagi empat modus kekuasaan yakni politik, intelektual, kultural, dan moral. Kekuasaan intelektual Barat membuat masyarakat akademik kita merasa rendah diri, seperti yang dikatakan Frantz Fanon tentang alienasi psikologis bangsa jajahan. Kolonialisme memberikan kemudahan agar masyarakat menjadi malas berpikir, sebagaimana dijelaskan Toynbee, sehingga mereka yang dijajah tidak mampu mengubah kondisi sosialnya. Dalam pandangan teori sosial, bergabungnya Indonesia ke BoP adalah upaya mencari pengaruh dengan harga kejujuran hati yang sangat mahal. Kita seolah lupa pesan sejarah bahwa “di sini lahirnya legitimasi bukan caci maki, di sini lahirnya demokrasi bukan amarah dan dengki.” Para politisi hari ini sedang mengumbar janji manis dengan bahasa persuasif sampai propaganda legitimasi, sementara rakyat kebingungan melihat kedaeratan bangsa ditukar demi pengakuan kelompok pembuat perang. Tahukah kalian apa yang lebih buruk? Indonesia kini terpecah antara ambisi menjadi pemain dunia dan kenyataan rakyat kecil yang masih berharap pada masa depan di pinggir jalan tanpa rasa kasihan. Apakah ada kesengajaan dalam membangun citra pahlawan di luar negeri untuk menutupi masalah di dalam negeri? Mari kita lihat lebih dalam.

Gowa, Pemerintah kabupaten Gowa, Pemerintahan, Uncategorized

Wabup Gowa Buka Festival Ramadan BKPRMI 1447 Hijriah

ruminews.id, GOWA – Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin secara resmi membuka Festival Ramadan DPD BKPRMI Kabupaten Gowa 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Agung Syech Yusuf, Sabtu (13/3). Kegiatan tersebut diikuti para santri dan generasi muda masjid dari berbagai wilayah di Kabupaten Gowa sebagai bagian dari upaya menyemarakkan bulan suci Ramadan. Dalam sambutannya, Darmawangsyah Muin menyampaikan apresiasi kepada DPD BKPRMI Kabupaten Gowa yang telah menginisiasi pelaksanaan festival Ramadan tahun ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah positif dalam membangun karakter generasi muda, khususnya para santri, agar lebih aktif dalam kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan. “Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Gowa mengapresiasi kegiatan ini. Festival Ramadan ini merupakan gebrakan yang sangat baik dalam menyemarakkan bulan suci Ramadan sekaligus membangun karakter para santri,” ujar Darmawangsyah. Ia yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina DPD BKPRMI Gowa menekankan bahwa festival tersebut tidak sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi para peserta. Melalui kegiatan tersebut, para santri diharapkan dapat menanamkan nilai kedisiplinan, kepedulian sosial, serta integritas dalam kehidupan sehari-hari. “Program yang dibuat BKPRMI Gowa ini betul-betul memberikan yang terbaik bagi generasi anak-anak kita. Ilmu agama akan membawa kesuksesan bagi kita semua. Untuk itu saya mengucapkan selamat berlomba dan dengan ini secara resmi membuka Festival Ramadan DPD BKPRMI Gowa 1447 Hijriah,” tuturnya. Sementara itu, Ketua DPW BKPRMI Provinsi Sulawesi Selatan, Asri Said juga menyambut baik pelaksanaan festival tersebut. Ia menilai antusiasme para santri yang hadir dalam pembukaan kegiatan menjadi bukti bahwa semangat menyemarakkan Ramadan melalui kegiatan positif masih sangat tinggi. “Kegiatan Festival Ramadan BKPRMI ini hampir dilaksanakan di seluruh daerah. Saya melihat antusiasme generasi anak-anak kita sangat besar. Semoga kegiatan ini terus berlanjut, bahkan ke depan kita dapat mengadakan festival khusus untuk remaja masjid,” kata Asri Said. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gowa, BAZNAS, serta berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga dapat menjadi sarana memperkuat syiar Ramadan dan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat. Sementara itu, Ketua Panitia Festival Ramadan BKPRMI Gowa, Kaharuddin Lallo, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan baik. Ia menyebut keberhasilan pelaksanaan festival tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gowa dan BAZNAS. “Alhamdulillah kegiatan Festival Ramadan tahun ini dapat berjalan dengan baik. Kami berterima kasih kepada Pemkab Gowa yang terus memberikan ruang bagi kami untuk melaksanakan kegiatan dalam membangun generasi Qur’ani yang kreatif, berkarakter, dan peduli terhadap kemajuan umat,” ujarnya. Kaharuddin menjelaskan, sejumlah lomba mulai digelar sejak hari pertama pelaksanaan festival, di antaranya lomba da’i, lomba da’iyah dan lomba qasidah. Ke depan, panitia juga berencana menambah berbagai kategori lomba untuk kalangan remaja masjid hingga majelis taklim, mengingat tingginya antusiasme peserta. Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muda yang mampu bersaing hingga ke tingkat nasional, khususnya dalam bidang dakwah dan syiar Islam. “Kami berharap dari kegiatan ini akan lahir dai-dai muda yang mampu bersaing hingga ke tingkat nasional dan terus membawa syiar Islam dengan lebih baik,” ungkapnya. Pembukaan Festival Ramadan DPD BKPRMI Gowa tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gowa, Hasrul Abdul Rajab, perwakilan Baznas Alimuddin Muhammad, serta jajaran pengurus BKPRMI Kabupaten Gowa.(FZ)

Gowa, Pemuda

Bupati Gowa: Kepemimpinan HMI–KOHATI Cabang Gowa Raya Harus Progresif dan Berintegritas

ruminews.id, GOWA – Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang meminta agar kepemimpinan atau kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Gowa Raya periode 2026–2027 lebih progresif dan berintegritas. Termasuk mengambil peran dalam mendorong pembangunan daerah secara berkelanjutan. Sehingga, pelantikan tersebut diharapkan bukan sekadar agenda seremonial organisasi, tetapi menjadi awal perjalanan kepemimpinan yang diharapkan mampu melahirkan gagasan besar dan komitmen pengabdian bagi masyarakat. “Pelantikan ini bukan hanya seremonial organisasi, tetapi merupakan titik awal kepemimpinan sekaligus ruang lahirnya gagasan-gagasan besar untuk masyarakat,” ujarnya saat Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) & Korps HMI-Wati Cabang Gowa Raya Periode 2026-2027 di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Sabtu (14/3). Menurut Bupati Talenrang, tema “Revitalisasi Kepemimpinan HMI Cabang Gowa Raya dalam Mewujudukan Insan Cita yang Progresif dan Berintegritas” sangat relevan dengan tantangan zaman, dimana masa depan daerah dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan generasi muda. Ia pun berpesan kepada pengurus yang baru dilantik agar menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab, memperkuat soliditas kader, menghidupkan tradisi diskusi intelektual, serta menghadirkan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. “Jadilah kader yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan berintegritas. Kepemimpinan yang baik tidak hanya terlihat dalam organisasi, tetapi manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat,” tambah orang nomor satu di Gowa ini. Lebih lanjut, Bupati Talenrang menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gowa memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah membutuhkan gagasan segar, kritik konstruktif, serta partisipasi aktif generasi muda. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda,” tegasnya. Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya Periode 2026-2027, Taufiqurrahman, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menjadi kekuatan moral dan intelektual di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa HMI yang berdiri sejak 5 Februari 1947 membawa cita-cita besar yang diwariskan para pendirinya, khususnya Lafran Pane. “Harapan dan cita-cita para pendiri itulah yang menjadi ruh perjuangan HMI, sehingga organisasi ini mampu bertahan dan terus hadir hingga hari ini,” jelasnya. Menurut Taufiqurrahman, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan kekuatan administratif dan politik, tetapi juga kompas moral yang menjadi penuntun dalam setiap kebijakan. Ia berharap nilai-nilai dasar perjuangan HMI seperti kejujuran, integritas, keadilan, serta keberpihakan kepada rakyat dapat menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan. “Pemerintah yang baik tidak hanya diukur dari banyaknya program, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ungkapnya. Sementara itu, Pengurus PB HMI, Andi Muhammad Saiful Haq, menyampaikan bahwa kepemimpinan membutuhkan dua hal penting, yakni keberanian dan momentum. “Banyak orang memiliki keberanian tetapi tidak memiliki momentum. Sebaliknya, ada yang memiliki momentum tetapi tidak memiliki keberanian. Saya percaya pengurus yang dilantik hari ini memiliki keduanya,” ujarnya. Dalam pelantikan tersebut, Taufiqurrahman resmi dilantik sebagai Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya periode 2026–2027 dengan Muhammad Ikram Syahrir AS sebagai Sekretaris Umum. Sementara itu, Saripa Ikawati dilantik sebagai Ketua KOHATI dengan Arnida Amir sebagai Sekretaris Umum. Pelantikan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Gowa, Hasrul Abdul Rajab, Kepala Kantor Kementerian Agama Gowa, Jamaris Halik, Ketua Umum BADKO HMI Sulselbar, Asrullah Dimass, serta Ketua KOHATI Sulselbar Ita Rosita. Momentum pelantikan yang berlangsung di bulan suci Ramadan ini diharapkan menjadi penguat semangat bagi kader HMI dan KOHATI untuk terus berkarya dengan keikhlasan, menjaga integritas, serta mengabdikan diri bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.(FA)

Gowa, Pemuda, Pendidikan

Momentum Milad HMJ MTK ke-18: Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan

ruminews.id, GOWA – Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika (HMJ-MTK) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alaudin Makassar menggelar kegiatan Milad (HMJ MTK) yang ke-18 Tahun pada tanggal 14 Maret 2026. Kegiatan milad ini merupakan momentum untuk menjadi langkah awal memperkuat solidaritas dan arah gerak organisasi serta mempererat silaturahmi antara Pihak Alumni, Jurusan dan Pengurus HMJ-MTK Periode 2026. Mengusung tema “Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan”, peringatan milad ini diharapkan mampu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen seluruh kader dan anggota HMJ MTK dalam membangun organisasi yang lebih progresif dan berdampak. Menurut Rahman,selaku ketua Umum HMJ-MTK usia ke-18 tahun bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi titik penting untuk menegaskan kembali semangat kebersamaan dalam organisasi. “Milad ke-18 ini menjadi langkah awal bagi kita semua untuk mempererat rasa kekeluargaan di HMJ MTK. Dengan satu tujuan yang sama, kita berharap dapat menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi organisasi, jurusan, dan lingkungan sekitar,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kebersamaan merupakan kunci utama dalam menjalankan roda organisasi. Dengan semangat satu keluarga, seluruh anggota diharapkan mampu bergerak bersama, saling mendukung, serta menghadirkan inovasi dan kontribusi nyata. Momentum milad ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi penguat komitmen bersama dalam membangun HMJ MTK yang lebih solid, inspiratif, dan berdaya guna bagi mahasiswa. HMJ MTK — Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan.

Luwu Timur, Pemerintahan, Pemuda

Pemkab Lutim dan Diaspora Bukber di Makassar, KKLT Dorong Sinergi Pembangunan Daerah

ruminews.id, MAKASSAR — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur bersama masyarakat diaspora menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama di Aula Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Sabtu (14/3/2026). Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan warga Luwu Timur yang berada di perantauan sekaligus memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah. Kegiatan ini dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, pengurus Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT), tokoh masyarakat, serta mahasiswa asal Luwu Timur yang sedang menempuh pendidikan di Makassar dan sekitarnya. Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam hadir bersama istrinya yang juga anggota DPRD Sulawesi Selatan, dr. Any Nurbani. Turut hadir pula sejumlah tokoh Luwu Timur, di antaranya mantan Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma serta Wakil Ketua DPRD Lutim Jihadin Peruge. Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga memaparkan sejumlah capaian serta program unggulan pemerintahan Irwan Bachri Syam–Puspawati Husler (Ibas–Puspa) melalui tayangan visual. Beberapa program yang diperkenalkan di antaranya pemberian beasiswa gratis bagi pelajar dan mahasiswa, program kartu lansia yang memberikan insentif bagi warga lanjut usia, serta berbagai program pembangunan daerah lainnya yang saat ini tengah berjalan di Luwu Timur. Di hadapan pengurus KKLT dan mahasiswa, Bupati Irwan Bachri Syam berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk diaspora Luwu Timur di Makassar, dapat memberikan dukungan terhadap berbagai program pembangunan daerah. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Luwu Timur yang selama ini terus mendukung upaya pembangunan di daerah. Sementara itu, Ketua KKLT Dr. dr. Abdul Rahman Rauf, Sp.OG(K) mengapresiasi kegiatan silaturahmi Ramadan yang digelar Pemkab Luwu Timur tersebut. Menurutnya, kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat Luwu Timur yang berada di perantauan. “Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi Pemkab Lutim yang mengadakan kegiatan buka puasa bersama ini. Memang sudah menjadi agenda rutin setiap Ramadan bagi kita untuk berkumpul dan bersilaturahmi,” ujar Abdul Rahman Rauf yang akrab disapa Dokter Mammang. Ia menilai kehadiran jajaran pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya semangat keterbukaan dalam membangun komunikasi dengan masyarakat diaspora. “Kita melihat banyak pejabat OPD Lutim yang hadir, termasuk Ibu Bupati yang juga anggota DPRD Sulsel. Semuanya berbaur dengan masyarakat. Ini menjadi wujud kebersamaan dan kolaborasi kita dalam membangun Luwu Timur yang lebih baik ke depan,” katanya. Dokter Mammang menambahkan, masyarakat diaspora Luwu Timur di Makassar memiliki potensi besar untuk berkontribusi bagi daerah, baik melalui pemikiran, jejaring, maupun dukungan terhadap berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah. Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan diaspora dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendorong pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Luwu Timur. (*)

Maros, Pemuda, Pendidikan

IKA SMAN 2 MAROS Sukses Gelar Buka Puasa Bersama dan Diskusi Alumni

ruminews.id, Maros – Sebagai wadah untuk merajut kembali kisah-kasih semasa SMA, tentu IKA alumni adalah tempat untuk kembalinya mengenang cerita lalu itu. Dalam momentum Ramadan, IKA SMAN 2 Maros menggelar buka puasa bersama dan diskusi alumni yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu Aula Panti Al-Mubarak dan Warkop Labaka. (14/03/26) Andi Lukman selaku Ketua Umum IKA Alumni mengatakan bahwa kegiatan buka puasa bersama, silaturahmi, dan diskusi ini dapat terlaksana dengan baik dan berlangsung dengan luar biasa. “Alhamdulillah dengan adanya kegiatan ini buka puasa, silaturahmi alumni & diskusi bisa merajut kembali silaturahmi antar Alumni, mengenang cerita semasa SMA dan di hadiri oleh semua alumni SMA 2 Maros,” ucap Andi Lukman, Sabtu (14/03/2026). Lebih lanjut, Andi Lukman mengatakan selain melaksanakan buka puasa bersama dan silaturahmi alumni, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi pengurus guna merumuskan langkah-langkah konkret yang akan dikerjakan ke depan. “Dalam sesi diskusi menghasilkan kesimpulan bahwa pembangunan aula di sekolah SMAN 2 Maros menjadi prioritas dan akan di kerjakan. dan sebagai bentuk komitmen, di akhir diskusi kami menunjuk pimpinan proyek, yaitu pak Akmal Sulaiman,” lanjutnya. Akmal Sulaiman selaku ketua panitia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar alumni dari berbagai angkatan. “Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, kami ingin menghadirkan ruang silaturahmi yang hangat bagi para alumni. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk menyatukan gagasan serta kontribusi nyata alumni bagi perkembangan SMAN 2 Maros ke depan,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin agar hubungan antar alumni tetap terjaga dan semakin solid. Kegiatan ini ditutup dengan agenda diskusi untuk membahas keberlanjutan dan kemajuan SMAN 2 Maros di masa mendatang.

Scroll to Top