Author name: Admin01

Nasional, Pemuda

Estafet Kepemimpinan KNPI Takalar Dimulai, Mushawir Terima Mandat Carataker dari Alumnus Zainuddin, Konsolidasi Pemuda Menanti

ruminews.id – TAKALAR (20/10/2026) — Sebuah surat keputusan tak sekadar menjadi lembaran administratif. Di dalamnya, ada mandat organisasi, tanggung jawab kepemimpinan, dan pekerjaan konsolidasi yang menanti. Itulah yang kini diemban Mushawwir Dg Maro setelah menerima Surat Keputusan (SK) Caretaker Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Takalar. SK tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Harian II DPD KNPI Sulawesi Selatan, H. Alumnus Zainuddin, dalam pertemuan di Cafe ELS Takalar. Sejumlah tokoh dan pengurus KNPI turut menyaksikan penyerahan itu. Penyerahan mandat ini menempatkan Mushawwir di tengah agenda penting organisasi: menjaga keberlangsungan kepengurusan sekaligus merawat komunikasi di antara berbagai elemen pemuda di Kabupaten Takalar. Bagi KNPI, konsolidasi bukan semata urusan struktur dan kepengurusan. Lebih dari itu, konsolidasi menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, menyatukan langkah, dan memastikan organisasi kepemudaan tetap memiliki peran dalam kehidupan sosial serta pembangunan daerah. Kehadiran sejumlah tokoh dan pengurus dalam penyerahan SK tersebut juga memperlihatkan adanya ruang silaturahmi antarelemen organisasi. Namun, pekerjaan berikutnya tidak berhenti pada seremoni penyerahan mandat. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana amanah itu diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang nyata. Mushawwir diharapkan mampu merangkul berbagai kelompok pemuda, membangun komunikasi dengan unsur internal KNPI, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi generasi muda Takalar. Dengan diterimanya SK caretaker tersebut, babak baru bagi kepengurusan KNPI Takalar mulai berjalan. Konsolidasi, soliditas, dan keterlibatan pemuda akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah kerja organisasi ke depan. Di Cafe ELS Takalar, mandat itu telah diserahkan. Kini, perhatian tertuju pada bagaimana mandat tersebut dijalankan.

Nasional, Opini

Prancis Bergejolak, Indonesia Waspada: Tantangan Presiden Prabowo Menjaga Stabilitas Sosial dan Demokrasi

Penulis: Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara XV ruminews.id – Kerusuhan dan penjarahan yang terjadi di Prancis pada 17 Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana keresahan sosial dapat berkembang menjadi gangguan ketertiban. Demonstrasi besar yang diikuti ratusan ribu orang berangkat dari keluhan tentang mahalnya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, kondisi sekolah, dan penurunan kualitas layanan publik. Namun, aksi yang sebagian besar berlangsung sebagai demonstrasi berubah menjadi bentrokan, pembakaran, perusakan gedung, dan penjarahan di sejumlah kota. Pemerintah Prancis memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi, sedangkan penyelenggara menyebut jumlahnya mencapai 800.000. Menurut laporan 18 Oktober, sekitar 2.400 orang ditangkap di seluruh Prancis. Angka itu menunjukkan besarnya mobilisasi dan seriusnya gangguan keamanan, tetapi tidak berarti seluruh demonstran terlibat dalam kekerasan. Presiden Emmanuel Macron membedakan warga yang menyampaikan aspirasi secara damai dari kelompok yang melakukan perusakan dan penjarahan. Akar keresahan di Prancis Demonstrasi itu mempertemukan berbagai kelompok—antara lain pelajar, serikat pekerja, aktivis, dan pendukung gerakan Yellow Vest—dengan tuntutan yang beragam. Isu biaya hidup dan harga bahan bakar bertemu dengan keluhan mengenai sekolah serta layanan publik. Ketika masyarakat merasa tekanan ekonomi makin berat sementara tanggapan pemerintah dianggap belum memadai, ketidakpuasan dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan. Namun, penyebab demonstrasi perlu dibedakan dari alasan terjadinya penjarahan. Ketidakpuasan ekonomi dan sosial dapat menjelaskan mengapa banyak orang turun ke jalan, tetapi tidak membenarkan pembakaran, perusakan, atau pengambilan barang dari toko. Pemerintah Prancis menyebut kekerasan dilakukan oleh kelompok radikal dan pelaku kriminal yang memanfaatkan situasi. Tuduhan tentang siapa yang menggerakkan kekerasan perlu diuji melalui penyelidikan dan proses hukum; tidak tepat menyamakan semua demonstran dengan perusuh. Dampak langsung dirasakan warga dan pemilik usaha. Toko-toko rusak atau dijarah, kendaraan dibakar, fasilitas umum menjadi sasaran, dan balai kota bersejarah di Limoges terbakar hingga atapnya runtuh. Kerusakan tersebut menimbulkan kerugian ekonomi sekaligus merusak ruang publik dan simbol kehidupan bersama. Kekerasan juga dapat mengalihkan perhatian dari tuntutan awal demonstrasi serta melemahkan dukungan masyarakat terhadap gerakan yang semula damai. Kerusuhan berlangsung menjelang pemilihan presiden Prancis 2027, sehingga persoalan sosial turut menjadi bahan persaingan politik. Dalam situasi seperti ini, isu ekonomi dan layanan publik dapat tertutup oleh saling tuding dan seruan tindakan keras. Klaim mengenai siapa yang bertanggung jawab perlu disampaikan berdasarkan bukti. Associated Press melaporkan bahwa aparat Prancis belum mengaitkan kerusuhan tersebut dengan imigran, meskipun isu itu digunakan dalam perdebatan politik. Pelajaran bagi Indonesia Kerusuhan di Prancis dapat menjadi bahan pembanding bagi Indonesia, tetapi tidak berarti kedua negara menghadapi situasi yang sama. Pelajaran utamanya adalah bahwa keresahan sosial yang nyata dapat dimanfaatkan oleh kelompok perusak. Karena itu, aspirasi demonstran dan tindakan kriminal harus dibedakan secara tegas. Pada 20 Oktober 2026, Indonesia memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah elemen mahasiswa diberitakan berencana menggelar aksi evaluasi. Namun, agenda tersebut tidak berarti semua kelompok akan turun ke jalan. Koalisi besar serikat buruh, misalnya, menyatakan tidak berencana menggelar demonstrasi pada tanggal itu. Skala dan bentuk aksi perlu dinilai berdasarkan informasi terverifikasi dari masing-masing penyelenggara. Faktor yang dapat meningkatkan kerawanan Tekanan ekonomi dan rasa tidak aman terhadap masa depan. Inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen menurut BPS. Angka nasional tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan pengalaman setiap rumah tangga: kenaikan harga pangan, bahan bakar, atau biaya hidup di wilayah tertentu dapat terasa lebih berat. Kekhawatiran ekonomi juga diperkuat oleh tekanan terhadap pasar keuangan pada 19 Oktober, setelah MSCI menyatakan sedang mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dan IHSG turun tajam. Perkembangan pasar bukan penyebab langsung demonstrasi, tetapi dapat menambah rasa cemas dan ketidakpastian. Penilaian publik terhadap pemerintah yang beragam. Reuters melaporkan hasil survei SMRC yang menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo sebesar 44,5 persen dalam survei 1–10 Oktober. Sementara itu, survei Parameter Politik Indonesia yang dipublikasikan pemerintah melaporkan tingkat kepuasan 65,4 persen, dengan waktu pengumpulan data dan metodologi berbeda. Angka-angka ini tidak dapat dibandingkan begitu saja seolah-olah berasal dari survei yang sama. Namun, perbedaan hasilnya menunjukkan bahwa penilaian masyarakat tidak tunggal dan kinerja pemerintah tetap menjadi bahan perdebatan publik. Akumulasi tuntutan sosial dan politik. Peringatan dua tahun pemerintahan menjadi momentum bagi mahasiswa dan kelompok masyarakat untuk menilai janji, pelaksanaan kebijakan, penegakan hukum, kondisi demokrasi, dan keadilan sosial. Jika tuntutan tidak disampaikan dengan jelas atau pemerintah dianggap tidak memberi tanggapan yang memadai, kekecewaan dapat meningkat. Sebaliknya, dialog terbuka dan jawaban yang konkret dapat membantu menjaga aksi tetap sebagai sarana kontrol sosial yang konstitusional. Risiko kelompok yang menunggangi aksi. Indonesia juga memiliki pengalaman gangguan setelah aksi pada Agustus 2026, ketika polisi melaporkan ratusan orang ditahan menyusul kerusuhan setelah demonstrasi. Pengalaman tersebut menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa aksi 20 Oktober pasti berakhir ricuh. Risiko harus dinilai berdasarkan perkembangan dan bukti yang tersedia di lapangan. Penilaian dan langkah yang diperlukan Potensi kerawanan tidak sama dengan kepastian terjadinya kerusuhan. Aksi yang bertepatan dengan peringatan politik dapat menarik perhatian besar. Tekanan ekonomi dan perbedaan sikap terhadap kebijakan pemerintah juga dapat memperkeras suasana. Namun, jumlah peserta, luas sebaran aksi, dan kemungkinan gangguan tidak dapat dipastikan hanya dari pemberitaan tentang rencana demonstrasi. Pemerintah dan aparat perlu melindungi hak warga untuk menyampaikan pendapat, menjaga komunikasi dengan penyelenggara, serta bertindak proporsional terhadap pelanggaran yang benar-benar terjadi. Penyelenggara aksi perlu menyampaikan tuntutan secara tertib, menjaga keselamatan peserta, dan mencegah perusakan fasilitas umum atau usaha warga. Masyarakat juga perlu memeriksa informasi sebelum menyebarkannya agar kabar palsu dan provokasi tidak memperbesar ketegangan. Penutup “Ada apa dengan France?” Prancis sedang menghadapi pertemuan antara keresahan sosial dan tekanan ekonomi, perdebatan tentang layanan publik, serta ketegangan politik menjelang pemilu. Penjarahan dan pembakaran harus dipertanggungjawabkan, tetapi penyelesaian jangka panjang juga memerlukan jawaban terhadap keluhan masyarakat. Bagi Indonesia, peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran dapat menjadi ruang evaluasi yang sah dalam demokrasi. Kritik damai perlu dihormati, sedangkan kekerasan dan penjarahan harus dicegah serta ditangani sesuai hukum—tanpa menyamaratakan demonstran sebagai perusuh. Ketertiban akan lebih kuat jika berjalan bersama keterbukaan terhadap kritik dan langkah nyata untuk menjawab persoalan yang dirasakan warga.

Kesehatan, Makassar, Nasional

Asap Karhutla Mengancam Kesehatan Anak, Hypoglossus Foundation Bagikan Masker di Makassar

ruminews.id – MAKASSAR (19/10/2026)— Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang disebut terbawa angin hingga Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendorong Hypoglossus Foundation (H9F) melakukan aksi kemanusiaan. Organisasi yang didirikan oleh alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI) angkatan 2009 itu membagikan masker medis khusus anak dan selebaran edukasi mengenai bahaya asap bagi kesehatan, Senin, 19 Oktober 2026. Aksi tersebut menyasar sejumlah sekolah dasar. Anak-anak menjadi perhatian utama karena paparan asap dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Melalui pembagian masker dan materi edukasi, H9F berharap siswa lebih memahami risiko paparan asap serta langkah-langkah untuk melindungi diri. Dokter spesialis bedah saraf, dr. Akhmad Edwin Indra P., Sp.BS, yang akrab disapa dr. Ciwon, mengatakan masyarakat perlu menyikapi kondisi tersebut dengan tenang, tetapi tetap waspada. Menurut dia, asap karhutla berpotensi membahayakan kesehatan, khususnya organ pernapasan. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti imbauan pemerintah, termasuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjaga asupan makanan bergizi yang mengandung vitamin. “Pemerintah sudah melakukan penanganan dan memberikan imbauan terkait kondisi ini. Kita semua sedang berusaha sesuai dengan porsi dan tugas masing-masing. Karena itu, masyarakat perlu mematuhi imbauan yang telah disampaikan,” kata dr. Ciwon saat ditemui di sebuah kafe di kawasan Boulevard, Makassar. Ia menekankan bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya bergantung pada upaya pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi risiko paparan asap. Sementara itu, dr. Nur Sabriani Lihawa, M.Kes., mengatakan H9F memprioritaskan anak-anak sekolah dasar dalam kegiatan pembagian masker dan edukasi tersebut. Anak-anak, menurut dia, perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara terganggu akibat asap. “Kami membagikan masker dan selebaran edukasi ke beberapa titik. Hari ini, kami mendatangi empat sekolah dasar. Anak-anak menjadi prioritas karena paparan asap dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan,” ujar Nur Sabriani saat dihubungi melalui WhatsApp. Pada Senin itu, tim H9F mengunjungi SD Negeri Bontorambu dan SD Negeri Tamalanrea. Adapun dr. Ciwon mewakili kegiatan di SD UNM dan SD Rappocini. Pembagian masker tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai bantuan langsung, tetapi juga sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya perlindungan diri saat terjadi pencemaran udara akibat karhutla. Melalui kegiatan ini, Hypoglossus Foundation berharap masyarakat semakin memahami dampak asap terhadap kesehatan anak. Organisasi tersebut juga mengajak semua pihak untuk memperhatikan kondisi udara, mengikuti informasi dan imbauan resmi pemerintah, serta mengutamakan keselamatan kelompok rentan, khususnya anak-anak. Di tengah ancaman asap, langkah sederhana seperti menggunakan masker yang sesuai, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul keluhan pernapasan dapat menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan keluarga.

Makassar, Nasional, Politik

Dikawal 24 Ketua DPC dan 3 Sayap Partai, Appi Mantap Melangkah Menuju Kursi Ketua Demokrat Sulsel

ruminews.id – MAKASSAR — Langkah Munafri Arifuddin alias Appi menuju kursi Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan kian mantap. Dukungan mayoritas pengurus di tingkat daerah menguat setelah 24 Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten/kota se-Sulsel bersama tiga organisasi sayap partai mengawal langsung proses pendaftaran pencalonannya. Kekompakan tersebut terlihat saat Wali Kota Makassar itu mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Ketua DPD Demokrat Sulsel di Kantor DPD Demokrat Sulsel, Jalan Mirah Seruni Nomor 30, Kecamatan Panakkukang, Minggu (18/10/2026), sekitar pukul 16.00 WITA. Dalam kesempatan tersebut, Appi menyerahkan berkas persyaratan pencalonan sekaligus menuntaskan proses pendaftaran sebagai bakal calon Ketua DPD Demokrat Sulsel. Ia didampingi jajaran pengurus DPD, 24 Ketua DPC, serta perwakilan organisasi sayap partai. Merespons besarnya dukungan tersebut, Appi menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh kader yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Ia berharap dukungan yang terbangun dapat terus terjaga hingga pelaksanaan Musda, sehingga seluruh tahapan berjalan lancar. “Alhamdulillah, terima kasih atas dukungan dan kepercayaan kader semua. Mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik sampai pelaksanaan Musda,” demikian inti pernyataan Appi merespons dukungan para kader. Kehadiran para pimpinan DPC dan organisasi sayap partai menjadi sinyal kuat soliditas dukungan terhadap Appi menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulsel yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar. Bagi Appi, dukungan tersebut tidak terlepas dari komunikasi dan konsolidasi internal yang dibangun bersama kader Demokrat dan support pengurus DPP. Meski terbilang baru bergabung, ia mengaku telah melalui sejumlah proses komunikasi sebelum memutuskan maju dalam kontestasi kepemimpinan partai di tingkat provinsi. “Namanya komunikasi, konsolidasi, dilaksanakan secara internal. Kita juga masuk ke dalam rumahnya orang, tentu harus melalui proses-proses, membangun komunikasi. (Mappatabe) dengan kader partai Demokrat,” ujar Appi. Ia bersyukur komunikasi tersebut mendapat sambutan positif dari para kader hingga berujung pada dukungan terhadap pencalonannya. Terkait peluang terpilih secara aklamasi, Appi tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Menurutnya, seluruh proses dan mekanisme organisasi tetap harus dilalui sebelum keputusan ditetapkan dalam Musda. “Potensinya ada, tapi nanti kita lihat seperti apa prosesnya di Musda,” katanya. Appi juga mengungkapkan, pencalonannya sebagai Ketua DPD Demokrat Sulsel telah menjadi salah satu hal yang dibicarakan dalam komunikasi sebelum dirinya resmi bergabung dengan partai berlambang bintang mercy tersebut. Menurutnya, langkah untuk maju dilakukan dengan mempertimbangkan soliditas dukungan yang dapat dibangun bersama pengurus DPC dan kader Demokrat lainya. Selain itu, dukungan 24 DPC dan tiga organisasi sayap partai menjadi modal politik penting bagi Appi menjelang Musda. “Tentu, proses pencalonan dan mekanisme pemilihan tetap menjadi bagian dari tahapan organisasi yang harus kita ikuti bersama,” tutup Appi. # 24 DPC & Sayap Partai, Bulat Dukung Munafri Arifuddin di Musda Demokrat Sulsel Diketahui, dukungan terhadap Munafri Arifuddin alias Appi untuk memimpin Partai Demokrat Sulawesi Selatan semakin menguat. Sekretaris DPD Demokrat Sulsel, Haidar Majid, mengapresiasi kehadiran seluruh Ketua DPC yang turut mengawal proses pengembalian formulir tersebut. “Alhamdulillah, Ketua DPC 24 kabupaten/kota hadir pada kesempatan ini,” ujar Haidar. Dukungan dari 24 DPC kabupaten/kota ini menjadi salah satu dinamika penting menjelang Musda Demokrat Sulsel. Kehadiran para pimpinan cabang secara bersamaan mengisyaratkan soliditas dukungan di tingkat daerah terhadap pencalonan Appi, calon tunggal. Ia menjelaskan, berkas persyaratan pencalonan yang diserahkan Munafri telah melalui proses pemeriksaan oleh panitia dan dinyatakan lengkap. “Alhamdulillah, setelah dilakukan pengecekan berkas Bapak Munafri Arifuddin, berkas dinyatakan lengkap,” jelasnya. Tak hanya dari jajaran DPC, Haidar juga menyebut Appi memperoleh dukungan dari organisasi sayap Partai Demokrat. “Pada kesempatan ini juga, Pak Appi mendapat dukungan sayap Partai Demokrat,” sambung mantan anggota DPRD Sulsel tersebut. Selanjutnya, proses pemilihan Ketua DPD Demokrat Sulsel akan memasuki tahapan Musda pada 23 Oktober mendatang di Hotel Claro Makassar.(*)

Ekonomi, Opini

Usulan MSCI Mengubah Status Pasar Indonesia Menjadi Standalone Market

Oleh: DYMM Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara XV- Sultan dari Istana Baitul Mulkiyah Kesultanan Pakunegara Sanggau. 1. Kesimpulan utama Apa yang terjadi dengan siaran resmi MSCI tertanggal 15 Oktober 2026. Isinya serius, tetapi perlu dibaca dengan tepat: MSCI belum menetapkan Indonesia resmi keluar dari kategori Emerging Market. MSCI membuka konsultasi atas usulan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Masukan diterima sampai 30 April 2027, dan keputusan final dijanjikan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyatakan akan melanjutkan usulan tersebut kecuali konsultasi menghasilkan bukti jelas bahwa tata kelola dan fungsi pasar telah membaik secara material. Ancaman utamanya bukan label “turun kelas” secara simbolik. Jika usulan diterapkan, saham Indonesia tidak lagi masuk indeks MSCI Emerging Markets maupun Frontier Markets. Itu dapat memaksa sebagian dana indeks menjual saham Indonesia dan membuat pengelola dana aktif menilai ulang risiko pasar Indonesia. Namun, besarnya arus keluar belum pasti, dan tidak seluruhnya terjadi otomatis pada hari pengumuman. Periode konsultasi masih berlangsung, sementara tanggal efektif perubahan belum dijelaskan dalam rilis tersebut. 2. Apa yang menjadi perhatian MSCI? MSCI tidak menyatakan bahwa seluruh perusahaan Indonesia berkinerja buruk atau ekonomi Indonesia tidak layak investasi. Penilaiannya berpusat pada seberapa dapat diinvestasikan pasar saham Indonesia oleh investor institusional global—terutama apakah investor dapat mengetahui jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, mempercayai pembentukan harga, dan melakukan transaksi dengan aturan yang konsisten. MSCI menyebut tiga kelompok kriteria dalam kerangka klasifikasinya: perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas, serta aksesibilitas pasar. Dalam rilis 15 Oktober, MSCI menyoroti: Kepemilikan saham yang dinilai belum cukup transparan. Jika struktur kepemilikan atau pihak pemilik manfaat akhir tidak terlihat dengan jelas, investor sulit memastikan berapa banyak saham yang benar-benar dimiliki publik independen. Dugaan perdagangan terkoordinasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kewajaran pembentukan harga dan apakah harga pasar mencerminkan penawaran serta permintaan yang wajar. Penegakan aturan yang belum dianggap cukup nyata dan konsisten. MSCI menyebut adanya kekhawatiran bahwa reformasi yang telah diumumkan belum menghasilkan dampak material yang merata di pasar. Jarak antara kebijakan dan hasil. Pengungkapan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), dan peta jalan free float minimum 15% diakui sebagai reformasi. Namun, menurut MSCI, investor institusional ingin melihat pelaksanaan konsisten serta bukti dampak yang berkelanjutan. Jadi, inti kritiknya adalah kredibilitas data dan integritas pasar. Regulasi yang baik belum cukup apabila investor belum melihat penerapan, pengawasan, dan sanksi yang menghasilkan perubahan nyata. 3. Mengapa usulan Standalone lebih serius daripada Frontier? Pasar Frontier masih memiliki tempat dalam indeks MSCI Frontier Markets. Sebaliknya, MSCI menjelaskan bahwa indeks Standalone tidak termasuk dalam indeks Emerging Markets maupun Frontier Markets. Karena itu, jika usulan terhadap Indonesia diterapkan, Indonesia dapat kehilangan jalur masuk ke kelompok indeks global tersebut—bukan sekadar berpindah dari satu keranjang investasi ke keranjang lain. MSCI juga menulis bahwa masukan pelaku pasar menunjukkan status Frontier dinilai tidak cukup menggambarkan tingkat masalah yang mereka lihat. Ini memperberat pesan kebijakannya: MSCI menilai persoalan yang dipertanyakan berhubungan dengan fungsi pasar, bukan sekadar ukuran atau likuiditas. Tetap perlu dicatat bahwa ini adalah klasifikasi MSCI. Dampaknya terhadap setiap indeks dan produk investasi bergantung pada aturan serta mandat masing-masing pengelola dana. Jangan menyamakan usulan ini dengan keputusan bahwa semua investor asing dilarang berinvestasi di Indonesia atau bahwa seluruh saham Indonesia otomatis dikeluarkan dari semua indeks global. 4. Pembekuan indeks: apa yang berlaku sekarang? Terlepas dari keputusan akhir reklasifikasi, MSCI menyatakan pembekuan yang sudah berlaku akan berlanjut sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Dalam perlakuan ini, MSCI tidak akan menerapkan: kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), yang memengaruhi porsi saham yang dihitung dapat dimiliki investor asing dalam indeks; kenaikan jumlah saham (Number of Shares/NOS) untuk keperluan indeks; penambahan saham ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI); dan perpindahan naik antarsegmen ukuran indeks. MSCI juga menyatakan akan tetap menghapus sekuritas yang ditetapkan otoritas Indonesia dalam kerangka HSC dan memakai data pengungkapan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float. Artinya, pembekuan bukan sama dengan seluruh saham Indonesia langsung dikeluarkan dari MSCI. Tetapi pembekuan membatasi perubahan yang biasanya dapat meningkatkan bobot atau memperluas keterwakilan saham Indonesia dalam indeks. Hal itu bisa mengurangi peluang saham tertentu menerima aliran dana indeks baru, bahkan sebelum keputusan reklasifikasi final. 5. Dampak yang mungkin terjadi A. Pasar saham dan likuiditas Jika reklasifikasi benar-benar diterapkan, dana pasif yang mengikuti atau menggunakan indeks Emerging Markets sebagai tolok ukur harus menyesuaikan portofolio. Reuters mengutip estimasi UBS bahwa perpindahan ke status Standalone dapat memicu sekitar US$4 miliar arus keluar pasif, dengan potensi tambahan hingga US$15 miliar dari investor aktif. Angka ini adalah estimasi skenario, bukan jumlah yang telah dipastikan akan keluar. Investor dapat mengurangi atau menambah posisi sebelum perubahan efektif, dan jumlah aktual bergantung pada keputusan MSCI, komposisi portofolio, serta perilaku investor. Dampak pasar juga dapat terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar dan saham yang paling banyak digunakan dalam indeks. Tekanan jual pada saham-saham tersebut berpotensi menekan indeks, memperlebar selisih harga beli dan jual, serta memperbesar gejolak pada saham dengan free float terbatas. B. Kepercayaan dan biaya modal Perubahan klasifikasi dapat memengaruhi cara investor menilai risiko Indonesia. Sebagian investor bisa meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung ketidakpastian, atau memilih menunggu sampai reformasi terlihat efektif. Jika kecenderungan itu bertahan, perusahaan berpotensi menghadapi biaya pendanaan ekuitas yang lebih tinggi dan valuasi yang lebih rendah. Efek ini tidak otomatis berlaku sama kepada semua emiten. Perusahaan dengan tata kelola kuat, keterbukaan memadai, kepemilikan yang jelas, likuiditas baik, dan kinerja yang dapat diverifikasi berpeluang lebih mampu mempertahankan minat investor dibanding emiten yang struktur kepemilikannya atau free float-nya diragukan. C. Rupiah dan stabilitas pasar Pada 16 Oktober, Reuters melaporkan IHSG ditutup turun 11,57%, penurunan satu hari terdalam sejak Januari 1998. Rupiah sempat melemah hingga 0,8% ke Rp18.070 per dolar AS, sebelum pulih sebagian. Pergerakan harian itu menunjukkan pasar merespons kabar dengan tajam; itu bukan bukti bahwa seluruh pelemahan berasal dari MSCI, karena nilai tukar dan saham juga dipengaruhi faktor lain. Jika tekanan jual asing berlanjut, transaksi jual saham dapat meningkatkan permintaan terhadap valuta asing dan menambah tekanan pada rupiah. Pelemahan rupiah, bila berlangsung lama, dapat menaikkan beban perusahaan berutang valas atau memiliki kebutuhan impor besar. Ini adalah saluran risiko

Makassar, Nasional, Politik

Generasi Ketiga Yasin Limpo, M Ikhsan Rabbani Irman Pimpin TIDAR Kota Makassar

ruminews.id, Makassar — M. Ikhsan Rabbani Irman YL resmi dikukuhkan langsung oleh Ketua Pengurus Daerah (PD) TIDAR Sulawesi Selatan, Hj. Vonny Ameliani Suardi, S.E., M.H. sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Kota Makassar pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Pengukuhan berlangsung di Kantor DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan.

Makassar, Nasional, Pemuda

Gagas Pembaharuan HMI, Ahmad Zulfikar Deklarasikan Diri sebagai Calon Ketum PB HMI dan Luncurkan Buku “HMI Evidence”

Ruminews.id – MAKASSAR, 9 Oktober 2026 – Bertempat di Ri Boritta Cafe, Makassar, gelaran acara Temu Gagasan yang dipadukan dengan launching buku HMI Evidence: Jangan Bicara HMI Tanpa Bukti resmi digelar pada Jumat (9/10/2026). Momentum bernuansa intelektual ini sekaligus menjadi panggung deklarasi resmi Ahmad Zulfikar sebagai calon kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). ​ Acara yang dihadiri oleh puluhan kader, alumni, serta tokoh pemuda tersebut berlangsung hangat dan penuh dengan diskusi strategis mengenai arah baru perjuangan HMI di era modern. ​ Melalui buku HMI Evidence: Jangan Bicara HMI Tanpa Bukti, Ahmad Zulfikar menegaskan pentingnya data, rekam jejak, dan kerja nyata dalam merawat independensi serta daya kritis organisasi. Buku tersebut hadir sebagai otokritik sekaligus panduan berbasis bukti agar narasi perjuangan HMI tidak sekadar menjadi jargon politik belaka. ​ “HMI harus kembali pada kithah perjuangannya yang berbasis ilmu, data, dan kerja terukur. Kita tidak bisa lagi membawa organisasi besar ini hanya dengan wacana tanpa bukti konkret di lapangan. HMI Evidence adalah komitmen kita untuk membuktikan keberadaan dan kemanfaatan HMI bagi umat dan bangsa,” ujar Ahmad Zulfikar saat memaparkan bukunya. ​ Di sela acara, momen puncak ditandai dengan pembacaan deklarasi Ahmad Zulfikar untuk maju bertarung dalam bursa pemilihan Ketua Umum PB HMI mendatang. Gagasan yang diusung berfokus Transformasi HMI berbasis bukti serta pembuktian peran nyata HMI di tengah dinamika yang ada. ​Sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh sejumlah fungsionaris organisasi menutup rangkaian acara Temu Gagasan tersebut dengan gagasan-gagasan segar dari para peserta yang hadir.

Nasional, Opini

Sah Secara Hukum, Belum Tentu Benar Secara Etika; Polemik Ijazah Wapres Gibran.

Penulis : Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi.  ruminews.id – Ada dua ruang yang sering kita campur aduk, yakni ruang hakim dan ruang hati nurani publik. Ruang pertama bekerja dengan pasal, kewenangan, dan bukti yang bisa diukur. Ruang kedua bekerja dengan rasa, curiga, kepercayaan, dan pertanyaan sederhana: pantaskah orang ini memimpin kita? Dalam polemik ijazah Wapres Gibran, dua ruang itu bertabrakan. MK disebut tidak menerima permohonan karena soal legal standing. Di pertimbangannya, disebut tidak menemukan bukti meyakinkan soal ijazah setara SMA. Tapi MK juga tidak menyatakan Gibran memalsukan ijazah. Ia tetap dilantik. Secara hukum formal, jabatannya sah. Titik. Tidak ada dasar untuk mendiskualifikasi atau memakzulkan hanya dari putusan itu. Tapi jangan buru-buru menutup semua pertanyaan dengan kalimat, “Sudah sah, diamlah.” Sebab sah secara hukum tidak otomatis berarti bersih secara etika. Dua hal itu beda. Yang satu soal legalitas. Yang lain soal kepatutan. Kita bisa menerima seseorang menang secara hukum, tapi tetap bertanya soal integritasnya. Itu bukan melawan hukum. Itu bagian dari nalar publik. Sebaliknya, jangan juga gampang berkata, “Berarti palsu, mundur!” Itu lompatan yang malas. MK tidak menemukan bukti meyakinkan tidak sama dengan menyatakan dokumen itu palsu. Tidak ditemukan dalam perkara tertentu bukan berarti tidak ada di dunia nyata. Bisa jadi persoalannya bukan pada Gibran pribadi, tapi pada proses verifikasi yang bolong, aturan yang abu-abu, atau institusi yang lalai. Menuntut pemakzulan tanpa dasar hukum yang cukup hanya akan membuat kritik kita terdengar seperti dendam politik, bukan pergulatan nalar. Di sinilah kita perlu jujur. Pendukung Gibran sering memakai legalitas sebagai tameng: “Kan sudah dilantik, kan MK tidak mendiskualifikasi.” Betul. Tapi legalitas bukan surat suci yang menghapus semua keraguan. Pejabat publik bukan hanya soal lolos verifikasi tapi juga soal kepercayaan. Kalau dokumen yang seharusnya jelas justru kabur, publik berhak bertanya. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memastikan tidak ada yang disembunyikan. Sementara pengkritik sering memakai etika sebagai alat pembunuh: “Kalau tidak bisa membuktikan, berarti curang.” Ini juga tidak adil. Etika bukan ruang tanpa aturan. Etika publik tetap butuh bukti, transparansi, dan proses. Menuduh tanpa dasar sama buruknya dengan membela tanpa syarat. Dua-duanya menutup nalar. Maka sikap yang paling rasional bukan memilih kubu, tapi memisahkan dua hal: sah dan pantas. Bisa jadi seseorang sah secara hukum, tapi tidak pantas secara etika. Bisa juga sebaliknya, seseorang pantas secara etika, tapi gagal secara hukum. Yang kita butuhkan dari kasus ini bukan sorak-sorai buta, tapi kejelasan. Buka dokumennya kalau ada. Jelaskan proses penyetaraannya. Audit verifikasinya. Perbaiki aturannya. Kalau semua transparan, publik akan menilai sendiri. Kalau ada yang ditutup-tutupi, jangan salahkan publik kalau curiga. Membela Gibran secara hukum formal itu wajar. Mengkritisi ketidakjelasan integritasnya juga wajar. Yang tidak wajar adalah memakai MK untuk membungkam nurani, atau memakai nurani untuk membatalkan putusan. Demokrasi yang sehat adalah yang sanggup berkata: “Saya menerima legalitasnya, tapi saya tetap punya hak bertanya soal etikanya.” Kekuasaan bisa sah karena pasal. Tapi kehormatan hanya bisa didapat dari kejujuran. Dan itu tidak bisa diputuskan oleh lembaga mana pun. Itu harus dibuktikan sendiri, di ruang publik, setiap hari. [Erwin]

Nasional, Pemuda, Politik

‎Merawat Pertemanan, Menyatukan Gagasan: Zulfikar Umar Bertemu Ketua HMI Cabang Surabaya.

ruminews.id – Surabaya- Di tengah persiapan menuju Kongres HMI ke-33 di Lampung, nama dr. Zulfikar Umar mencuat sebagai salah satu kader terbaik HMI Cabang Makassar Timur (Maktim) yang dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, serta kekayaan gagasan untuk ikut mengambil bagian dalam pertarungan gagasan di forum tertinggi organisasi. ‎ ‎Bagi Zulfikar Umar, gelar dokter bukanlah sekadar titel akademik yang melekat di belakang nama. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai kader yang tumbuh dari proses panjang perkaderan, pergulatan intelektual, serta pengalaman berorganisasi. Dunia profesi dan dunia pergerakan dipertemukan dalam satu semangat: menghadirkan kebermanfaatan bagi umat, bangsa, dan organisasi. ‎ ‎Sementara silaturahmi menjadi ruang yang tidak kalah penting. Pertemuan antara Moch Elok Hakan Multazam, Ketua HMI Cabang Surabaya, dengan Dr. Zulfikar Umar menjadi salah satu gambaran bahwa politik organisasi tidak harus selalu dibangun dalam sekat-sekat kepentingan. ‎ ‎Pertemuan itu justru berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan pertukaran gagasan. Percakapan tentang HMI ke depan mengalir bersama semangat persahabatan. Sebab, di HMI, persahabatan sering kali menjadi bagian dari perjalanan perjuangan itu sendiri. ‎ ‎Zulfikar Umar dan Moch Elok Hakan Multazam menunjukkan bahwa silaturahmi dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan gagasan. Di antara secangkir percakapan dan panjangnya diskusi, terselip harapan agar HMI tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. tegasnya.

Scroll to Top