Author name: Admin01

Gowa, Nasional, Pertanian, Politik

Darmawangsyah Muin Pimpin HKTI Gowa, Siap Perkuat Pertanian dan Sejahterakan Petani

‎Ruminews.id – Gowa – Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin resmi dilantik sebagai Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Gowa bersama para ketua DPC HKTI kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Pelantikan berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (4/10/2026), dan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) HKTI H. Abdul Kadir Karding. ‎Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Musyawarah Daerah (Musda) HKTI Sulawesi Selatan. Ketua Panitia Pelaksana, Rachmat Sasmito, mengatakan sejumlah kepengurusan HKTI di daerah kini banyak diisi kepala daerah, mulai dari wali kota, wakil wali kota, bupati hingga wakil bupati. Menurutnya, kondisi ini menjadi modal penting untuk memperkuat peran HKTI dalam mendorong pembangunan sektor pertanian. ‎Darmawangsyah Muin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia mengatakan amanah tersebut menjadi tantangan sekaligus semangat untuk memperkuat kebersamaan dalam memajukan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Gowa. ‎Menurut Darmawangsyah, Gowa merupakan salah satu daerah penopang sektor pertanian di Sulawesi Selatan. Karena itu, ia menilai kolaborasi antara pemerintah, HKTI dan seluruh pemangku kepentingan perlu diperkuat, termasuk dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan yang menjadi salah satu agenda nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. ‎Sementara itu, Sekjen HKTI H. Abdul Kadir Karding menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh ketua DPC HKTI se-Sulawesi Selatan yang dilantik. Ia mengapresiasi komposisi kepengurusan yang banyak melibatkan kepala daerah dan berharap HKTI semakin aktif turun ke masyarakat untuk memperkuat sektor pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Hukum & Kriminal, Nasional, Politik

‎Surat MA Tak Pernah Diterima, Bupati Gowa Sebut Ada Dugaan Sabotase. ‎

ruminews.id – Gowa – Kuasa hukum Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang melaporkan PT Pos Indonesia ke Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) terkait dugaan kelalaian pengiriman surat dari Mahkamah Agung (MA). Surat tersebut berisi kesempatan bagi Bupati Gowa untuk memberikan tanggapan dalam perkara uji pendapat DPRD Gowa terkait usulan pemakzulan dirinya. ‎Kuasa hukum Bupati Gowa, Adhi Bintang, mengatakan surat MA tersebut diduga salah dikirim oleh PT Pos Indonesia DC Sungguminasa ke Pengadilan Agama Sungguminasa. Surat yang telah diserahkan ke pihak Pos sejak awal September 2026 itu baru ditarik kembali pada Jumat (2/10), setelah MA memutus perkara tersebut pada Kamis (1/10). ‎Bupati Gowa menilai kejadian tersebut bukan sekadar kesalahan pengiriman dan mempertanyakan kemungkinan adanya sabotase. Adhi mengatakan rentang waktu hampir satu bulan sejak surat diserahkan hingga akhirnya diketahui salah kirim menjadi salah satu hal yang dipertanyakan pihaknya. ‎Adhi menilai kesalahan tersebut membuat Sitti Husniah kehilangan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan sanggahan kepada MA sebelum putusan dijatuhkan. Pihak Pos Indonesia disebut telah membuat surat pernyataan yang mengakui adanya kesalahan dalam pengiriman surat tersebut dan menyebutnya sebagai kelalaian. ‎“Bagi kami ini tidak berhenti di sini. Kalau hanya sebatas permintaan maaf, itu tentu kami akan tetap melakukan upaya hukum untuk mencari apa sebenarnya motifnya,” kata Adhi. Laporan tersebut kini diserahkan kepada Polda Sulsel untuk menyelidiki apakah persoalan ini murni kelalaian atau ada dugaan sabotase dalam proses pengiriman surat MA tersebut.

Nasional, Pemuda, Pendidikan

‎Ketua KNPI Sulsel, Vonny Ameliani Apresiasi Pilketos Serentak: Bekal Demokrasi bagi Generasi Pemilih Pemula

ruminews.id – MAKASSAR — Pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (Pilketos) serentak di 1.132 SMA/SMK se-Sulawesi Selatan mendapat apresiasi dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulsel. Pelaksanaan yang melibatkan sistem pemungutan suara digital ini dinilai bukan sekadar memilih ketua OSIS, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran demokrasi bagi para siswa yang sebagian di antaranya akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu mendatang. ‎ ‎Ketua KNPI Sulsel, Vonny Ameliani Suardi, mengatakan proses Pilketos yang dirancang menyerupai tahapan pemilu memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai bagaimana menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal pengetahuan sekaligus keterampilan bagi generasi muda dalam memahami proses demokrasi sebelum mereka menggunakan hak pilihnya dalam pemilu yang sebenarnya. ‎ ‎Sementara itu, Anggota Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad, menilai Pilketos serentak memiliki potensi lebih besar dari sekadar agenda tahunan sekolah. Jika dikelola dan dikawal dengan baik, menurut Saiful, pelaksanaan tersebut dapat menjadi salah satu contoh tata kelola pemilihan yang dapat memberikan pembelajaran demokrasi sejak lingkungan sekolah. ‎ ‎Yang menarik, Pilketos Sulsel menggunakan satu platform e-voting yang menghubungkan bilik suara digital di seluruh sekolah peserta ke dalam satu sistem penghitungan. Sistem tersebut dirancang agar proses penghitungan dapat berlangsung secara transparan dan terverifikasi, sekaligus memungkinkan proses pemilihan dipantau secara langsung. Konsep ini menghadirkan pengalaman baru bagi siswa dalam mengenal pemungutan dan penghitungan suara berbasis teknologi. ‎ ‎Dengan cakupan hingga 1.132 SMA/SMK, Pilketos serentak Sulsel menjadi salah satu momentum besar untuk memperkenalkan praktik demokrasi kepada generasi muda sejak bangku sekolah. Bagi para siswa, pemilihan ketua OSIS bukan hanya tentang menentukan pemimpin organisasi sekolah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar mengenai hak suara, proses pemilihan, transparansi, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Masyarakat dapat melihat informasi dan sistem e-voting Pilketos Sulsel melalui website berikut. ‎https:/pilketos.sulselprov.go.id/

Ekonomi, Nasional

Lantik IKA ISMEI Sulselbartra, Bahtiar Sebayang Tekankan Hilirisasi dan Penguatan Nilai Tambah Komoditas Daerah

ruminews.id – Makassar – Pengurus Wilayah Ikatan Keluarga Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselbartra) periode 2025–2030 resmi dilantik. Prosesi pelantikan yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) tersebut digelar di Aula Kantor DPD Sulsel, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Selasa (29/9/2026). ‎Pelantikan tiga wilayah provinsi sekaligus ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang. Acara ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, Ketua DPRD Sulawesi Selatan Rachmatika Dewi, Anggota DPRD Sulawesi Tenggara Nurman, perwakilan Bank Indonesia, serta jajaran pengurus pusat IKA ISMEI. Koordinator Wilayah IKA ISMEI Sulselbartra, Hasan Basri, menegaskan komitmen organisasi untuk berkontribusi nyata sebagai motor penggerak ekonomi nasional berbasis kekuatan daerah. Organisasi ini menghimpun para alumni yang merupakan mantan ketua BEM dan senat dari 35 kampus di tiga provinsi. ‎“Para alumni kita kini telah tersebar dan menduduki berbagai posisi penting, mulai dari akademisi, praktisi, bankir, penggerak UMKM, jajaran pemerintahan, hingga di kursi legislatif dan dunia bisnis,” ujar Hasan di hadapan para tamu undangan. ‎Sementara itu, Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, mengapresiasi hadirnya kepengurusan IKA ISMEI Sulselbartra. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar-sektor untuk mengubah potensi komoditas daerah menjadi nilai tambah yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. ‎“Mari kita bergerak dari komoditas menuju nilai tambah, dari potensi menuju produktivitas, dari ide menuju inovasi, dan dari kolaborasi menuju aksi nyata,” tutur Aliyah saat menyampaikan sambutannya. Rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan Seminar dan Diskusi Ekonomi Regional. Deputi Direktur Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sulsel, Oki Hermawan, memaparkan analisis dampak dinamika geopolitik global—termasuk tensi perang Iran-Amerika—terhadap stabilitas ekonomi di tingkat regional. Pada sesi yang sama, pengamat ekonomi Januar Jaury Dharwi mengulas regulasi daerah ideal dalam merespons tantangan transisi ekonomi. Diskusi ditutup oleh Anggota DPRD Sultra, Nurman, yang menekankan krusialnya peran lembaga legislatif dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah.

Hukum & Kriminal, Nasional, Politik

Husniah Talenrang Tetap Melaksanakan Tugas sebagai Bupati Gowa, ini Kata Gubernur Sulsel.

ruminews.id – Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, memastikan proses pemerintahan di Kabupaten Gowa tetap berjalan menyusul penetapan Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, sebagai tersangka oleh Kortas Tipikor Polri. ‎Andi Sudirman mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Bupati Gowa saat ini berstatus tersangka namun belum dilakukan penahanan. Karena itu, ia meminta agar roda pemerintahan tetap berjalan dengan mengedepankan ketentuan peraturan perundang-undangan serta asas praduga tak bersalah. ‎“Iya, selama masih belum ditahan dan hanya ditetapkan sebagai tersangka, maka tetap menjalankan tugas seperti biasa. Tapi jika sudah ditahan, maka tidak dapat menjalankan tugas seperti biasa sehingga wakil menjalankan tugas sementara hingga turun SK penetapan Plt,” kata Andi Sudirman. ‎Ia menjelaskan, proses hukum terhadap Bupati Gowa merupakan kewenangan aparat penegak hukum. Sementara dari sisi pemerintahan, pelayanan publik dan administrasi di Kabupaten Gowa harus tetap berjalan. Pemprov Sulsel juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan seluruh proses berlangsung sesuai ketentuan. Kami sudah laporkan dan berkomunikasi dengan Pak Mendagri terkait ini,” ungkapnya. Menurutnya, Pemprov Sulsel akan terus mengikuti perkembangan proses hukum dan mengambil langkah administratif sesuai regulasi apabila terdapat ketentuan lebih lanjut yang harus dijalankan.

Pendidikan

Tim Satgas PPKPT Sosialisasi Pencegahan Kekerasan di Kampus UNM Pare-Pere

ruminews.id – PAREPARE – Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Perguruan Tinggi UNM Kampus 5 Parepare menyelenggarakan sosialisasi dan edukasi pencegahan kekerasan di Aula Kampus 5 UNM Parepare, Senin, 28 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa serta dosen dan tenaga kependidikan dari Program Studi PGSD dan Fakultas Kedokteran UNM Parepare. Hadir sebagai dalam kegiatan, Ketua UPP PGSD Parepare UNM Dr. Lukman, S.S., M.Ag., dan Pimpinan Perwakilan Fakultas Kedokteran yakni dr. Aida Ayu Chandrawati, M.Biomed, sebagai Ketua Jurusan. Sedangkan Tim Satgas mendelegasikan Novi Yanti Pratiwi, S.Psi.,M.Psi., Psikolog, Nur Wulandani, S.Pd., M.Pd., dan Sopian Tamrin, M.Pd., yang bertindak sebagai narasumber. Selain itu, hadir pula tim dari unsur Mahasiswa yakni saudari Fauziah Diar Hazja dan St. Nabila Afifah. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua UPP PGSD Parepare UNM. Beliau menekankan urgensi penguatan literasi seluruh civitas akademika mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Materi inti disampaikan oleh Sopian Tamrin, M.Pd. dengan moderasi dari Novianti Pratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Fokus pembahasan meliputi tipologi kekerasan di perguruan tinggi, identifikasi kerentanan akibat relasi kuasa khususnya pada konteks Fakultas Kedokteran dan PGSD, serta prosedur pencegahan dan pelaporan sesuai Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024. Sesi diskusi berlangsung interaktif. Peserta mengajukan pertanyaan terkait implementasi ruang aman pada kegiatan kepaniteraan, indikator relasi kuasa yang disalahgunakan, dan alur pendampingan psikologis bagi korban. Tim menyempatkan evaluasi materi sosialisasi ke peserta untuk memastikan apakah sudah memahami materi dengan baik. Selain itu, peserta diminta untuk terlibat proaktif dalam pencegahan dan pelaporan jika ada kasus di lingkungan sekitar yang masuk ranah tridharma. Hal ini untuk memastikan tidak ada korban yang diabaikan di lingkungan kampus UNM. Kegiatan ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Diharapkan melalui sosialisasi ini, mahasiswa, dosen, dan tendik di UNM Kampus Parepare memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai peran Satgas PPKPT dan mekanisme pelaporan.Satgas PPKPT UNM juga membuka akses layanan pengaduan bagi seluruh civitas akademika yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Nasional, Opini

Purbaya Pergi, Arah Fiskal Berubah

Penulis: Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi  Ruminews.id – Purbaya Yudhi Sadewa belum sempat terlalu lama duduk di kursi Menteri Keuangan. Baru sekitar setahun menjabat, kursi itu sudah berpindah kepada Suahasil Nazara. Pergantiannya pun berlangsung cukup mengejutkan. Pada Senin, 14 September 2026, Purbaya masih menjalankan agenda kedinasan ketika kabar pergantian itu datang. Ia kemudian digantikan oleh Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan yang sudah cukup lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan. Seperti biasa, ketika seorang menteri dicopot secara mendadak, publik segera mencari alasan. Ada yang menghubungkannya dengan kinerja ekonomi, ada yang membaca persoalan koordinasi, ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari perubahan arah kebijakan pemerintah. Tetapi sampai sekarang, tidak ada penjelasan resmi yang secara rinci menyebut satu alasan tunggal mengapa Purbaya diberhentikan. Justru Purbaya sendiri memberikan sedikit petunjuk. Ia mengakui bahwa perombakan besar-besaran pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan yang baru dilakukannya menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan pergantian dirinya. Beberapa hari sebelum dicopot, Purbaya memang melakukan rotasi besar terhadap ratusan pejabat Kementerian Keuangan. Namun berhenti pada cerita itu saja juga terlalu sederhana. Sebab kalau Purbaya dicopot karena dianggap gagal mengelola ekonomi, pertanyaan berikutnya adalah: sebenarnya seperti apa rapor Purbaya? Di sinilah kita menemukan sesuatu yang menarik. Rapor Purbaya ternyata tidak hitam-putih. Pada semester pertama 2026, pendapatan negara mencapai sekitar Rp1.459,4 triliun, tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau tumbuh 17,8 persen. Defisit APBN berada pada Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB, sementara keseimbangan primer masih mencatat surplus Rp85,1 triliun. Pertumbuhan ekonomi pun mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka ini menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,52 persen. Dengan angka-angka itu, tentu sulit mengatakan bahwa Purbaya meninggalkan Kementerian Keuangan dalam keadaan ekonomi yang sedang runtuh. Tetapi ekonomi tidak pernah sesederhana melihat satu kolom angka. Di balik pertumbuhan tersebut terdapat persoalan lain. Selama masa Purbaya, muncul kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal, tekanan terhadap rupiah, arus modal keluar, serta perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat. Reuters mencatat bahwa masa Purbaya ditandai oleh pertumbuhan yang menguat, tetapi juga pelebaran defisit dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal. Di sinilah kita menemukan paradoks Purbaya. Ia tidak bisa begitu saja disebut sebagai menteri yang gagal. Tetapi ia juga tidak bisa hanya dipuji karena pertumbuhan ekonomi meningkat. Sebab seorang Menteri Keuangan tidak hanya bertugas membuat ekonomi tumbuh. Ia juga harus menjaga agar negara tetap dipercaya. Dan kepercayaan dalam ekonomi adalah barang yang aneh. Ia tidak terlihat, tetapi ketika hilang, tagihannya bisa sangat nyata. Purbaya sendiri dikenal membawa gaya yang lebih berani dalam menggunakan kebijakan fiskal. Salah satu kebijakan yang cukup menonjol adalah penempatan dana pemerintah dalam jumlah besar pada perbankan untuk mendorong likuiditas dan kredit. Pendekatan seperti ini berangkat dari gagasan bahwa uang negara jangan hanya diam di kas, tetapi harus ikut menggerakkan perekonomian. Logikanya sederhana. Kalau ekonomi sedang membutuhkan dorongan, negara tidak boleh hanya duduk menjaga angka defisit sambil berharap dunia usaha bergerak sendiri. Tetapi ada pertanyaan berikutnya. Seberapa jauh negara boleh mendorong ekonomi tanpa membuat pasar mulai bertanya-tanya tentang kesehatan fiskal? Di sinilah perdebatan ekonomi sebenarnya berada. Pertumbuhan membutuhkan keberanian. Fiskal membutuhkan kehati-hatian. Terlalu takut berbelanja, ekonomi bisa kehilangan tenaga. Terlalu berani membelanjakan uang negara, kepercayaan pasar bisa terganggu. Menjadi Menteri Keuangan dengan demikian bukan pekerjaan menghitung uang semata. Ia adalah pekerjaan menjaga keseimbangan antara dua kekuatan yang sering berjalan berlawanan: kebutuhan untuk tumbuh dan kebutuhan untuk dipercaya. Karena itu, menarik melihat siapa yang kemudian dipilih Presiden Prabowo sebagai pengganti Purbaya. Suahasil Nazara bukan orang baru di Kementerian Keuangan. Ia telah lama menjadi bagian dari institusi tersebut dan menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Ia adalah teknokrat yang memahami dapur kebijakan fiskal dari dalam. Dan pesan awal Suahasil juga cukup jelas. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta mempertahankan defisit dalam batas 3 persen dari PDB. Karena itu, pergantian Purbaya mungkin tidak tepat jika hanya dibaca sebagai pertanyaan tentang siapa yang bagus dan siapa yang buruk. Bisa jadi persoalannya lebih besar. Pemerintah mungkin sedang mencari titik keseimbangan baru antara keberanian mendorong pertumbuhan dan kebutuhan menjaga kredibilitas fiskal. Purbaya membawa satu gaya. Suahasil membawa gaya yang berbeda. Yang satu lebih berani mendorong mesin ekonomi melalui kebijakan fiskal. Yang lain datang dengan pesan kuat mengenai kesinambungan, disiplin dan kredibilitas fiskal. Tetapi menariknya, Suahasil juga tidak datang untuk mematikan agenda pertumbuhan. Ia tetap harus membiayai program-program prioritas pemerintah. Artinya, persoalannya bukan memilih antara pertumbuhan atau disiplin fiskal, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan dalam satu kerangka yang dipercaya publik dan pasar. Di sinilah publik seharusnya tidak terjebak dalam drama pergantian orang. Pergantian menteri memang menarik sebagai berita politik. Tetapi bagi masyarakat, yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya. Apakah kebijakan fiskal menjadi lebih konsisten? Apakah investasi meningkat? Apakah daya beli masyarakat membaik? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah penerimaan negara semakin kuat tanpa membebani masyarakat secara berlebihan? Dan yang paling penting, apakah APBN benar-benar semakin terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari? Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari angka pertumbuhan ekonomi semata. Orang tidak pergi ke pasar membawa angka 5,61 persen di dompetnya. Pedagang tidak membayar listrik dengan rasio defisit terhadap PDB. Buruh tidak membawa surplus keseimbangan primer ketika membeli beras. Angka-angka makroekonomi penting, tetapi ekonomi pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Mungkin itu pula pelajaran paling menarik dari episode Purbaya. Seorang Menteri Keuangan dapat memiliki keberanian melakukan terobosan, tetapi keberanian membutuhkan kredibilitas. Sebaliknya, kehati-hatian fiskal memang penting, tetapi kehati-hatian yang berlebihan juga bisa membuat negara terlalu sibuk menjaga angka sementara masyarakat menunggu pertumbuhan. Karena itu, pergantian Purbaya sebaiknya tidak buru-buru dibaca sebagai tanda bahwa seluruh kebijakannya salah. Begitu pula tidak perlu dianggap sebagai bukti bahwa seluruh kebijakannya benar. Yang sedang kita saksikan mungkin adalah pergantian titik keseimbangan dalam pengelolaan ekonomi negara. Purbaya pergi. Suahasil datang. Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting justru belum terjawab: apakah yang berubah hanya menterinya, atau sebenarnya arah kebijakan fiskal Indonesia juga sedang berubah? Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan terlihat dari seremoni pelantikan. Ia baru akan terlihat dari APBN, dari pasar, dari investasi, dari daya beli

Ekonomi, Nasional, Opini

Dampak Pergantian Menteri Keuangan

Penulis: DYMM Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara XV — Sultan Dari Istana Baitul Mulkiah Kesultanan Pakunegara Sanggau Ruminews.id — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara pada 14 September 2026 merupakan peristiwa ekonomi penting karena terjadi ketika rupiah masih berada dalam tekanan dan pasar sangat sensitif terhadap kredibilitas kebijakan fiskal.

Gowa, Nasional, Pemuda

DPD KNPI Gowa Desak Pertamina Audit SPBU Swasta : Diduga Dikuasai Pemilik Tambang dan Developer

ruminews.id – Sungguminasa, 12 September 2026 – Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Gowa mendesak PT Pertamina (Persero) untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh SPBU swasta maupun SPBU Pertamina yang dikelola swasta di Kabupaten Gowa. Desakan ini disampaikan menyusul panjangnya antrian BBM di sejumlah SPBU yang dinilai sudah sangat mengganggu aktivitas dan arus lalu lintas masyarakat. “Sebelum antrian memanjang seperti sekarang, kita sudah sering melihat SPBU menjual bensin subsidi menggunakan jerigen. Ini jelas bentuk penyelewengan. Jatah subsidi di setiap SPBU harus diaudit total,” tegas *Bung Alumnus Zainuddin*, Ketua DPD KNPI Gowa. *Indikasi Kuat: SPBU Dikuasai Pengusaha Tambang dan Developer* KNPI Gowa menemukan adanya indikasi kuat bahwa sebagian pemilik SPBU swasta berprofesi sebagai pemilik perusahaan tambang atau developer. “Dari sinilah mereka diduga leluasa memainkan BBM subsidi untuk kepentingan usaha lain mereka. Subsidi rakyat kecil justru dipakai untuk menguntungkan bisnis segelintir orang,” ujar *Bung Alumnus Zainuddin*. KNPI juga menyoroti bahwa setiap nosel di SPBU saat ini sudah dilengkapi rekam digital yang bisa melacak distribusi BBM. Data itu harus dibuka dan dievaluasi oleh Pertamina. *4 Tuntutan KNPI Gowa kepada Pertamina:* 1. *Audit menyeluruh* seluruh SPBU swasta dan SPBU Pertamina yang kelola swasta di Gowa sesuai kode wilayah. 2. *Transparansi data digital nosel* terkait siapa penerima BBM subsidi. 3. *Evaluasi skema swastanisasi* SPBU yang dinilai membuat Pertamina kewalahan mengatur distribusi BBM-nya sendiri. 4. *Penindakan tegas* bagi SPBU yang terbukti menjual BBM subsidi ke jerigen, industri, tambang, proyek, atau pihak tidak berhak. “Pertamina setiap hari mampu mendistribusikan BBM dalam jumlah cukup. Jangan sampai kebijakan swastanisasi justru jadi celah kebocoran. Kami minta Pertamina hadir dan bertanggung jawab penuh,” tutup *Bung Alumnus Zainuddin*. KNPI Gowa menegaskan akan terus mengawal kasus ini. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata dari Pertamina, KNPI Gowa tidak menutup kemungkinan akan melakukan aksi damai. *Bung Alumnus Zainuddin* Ketua DPD KNPI Kabupaten Gowa

Nasional, Opini

Kelangkaan BBM dan LPG Di Sulsel : Krisis Distribusi atau Jejaring Mafia Energi

Penulis: Hasdar Onozt – Tokoh Pemuda Sulsel ruminews.id – Kelangkaan BBM dan LPG 3 kilogram yang belakangan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan tidak boleh berhenti dibaca sebagai persoalan antrean panjang di SPBU atau sekadar fenomena panic buying. Di balik barisan kendaraan yang mengular, tabung gas yang sulit ditemukan dan harga LPG yang melonjak di tingkat pengecer, terdapat pertanyaan yang jauh lebih serius: apakah persoalan ini murni gangguan distribusi, atau terdapat kebocoran sistem yang sengaja dimanfaatkan oleh jaringan tertentu untuk memperoleh keuntungan? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan setelah pemerintah sendiri menemukan indikasi pengisian BBM berulang dan praktik rekayasa, termasuk modifikasi tangki kendaraan untuk memperbesar kapasitas penampungan. Pemprov Sulsel bahkan membentuk Satgas yang melibatkan unsur TNI-Polri, Satpol PP, Dishub, Pertamina dan Hiswana Migas untuk mengawasi distribusi BBM dan LPG. Lebih serius lagi, Polda Sulsel kini menyelidiki dugaan penyalahgunaan, penimbunan, serta kemungkinan keberadaan mafia dalam distribusi BBM bersubsidi dan LPG. Artinya, dugaan permainan distribusi bukan lagi sekadar rumor yang beredar di tengah masyarakat, tetapi telah menjadi objek penyelidikan aparat penegak hukum. KETIKA SUBSIDI MENJADI KOMODITAS KEUNTUNGAN Dalam perspektif ekonomi politik, kelangkaan komoditas bersubsidi tidak semata-mata dapat dibaca sebagai persoalan teknis antara stok dan permintaan. BBM dan LPG 3 kg merupakan komoditas yang memiliki dimensi sosial-politik karena negara mengalokasikan subsidi agar masyarakat memperoleh energi dengan harga yang terjangkau. Karena itu, ketika komoditas bersubsidi tiba-tiba sulit diperoleh masyarakat, sementara pada saat yang sama muncul indikasi pembelian berulang, modifikasi tangki, penimbunan atau pengalihan distribusi, maka persoalannya berubah menjadi persoalan perebutan rente ekonomi dari kebijakan subsidi negara. Dalam teori rent-seeking, celah dalam sistem distribusi dapat dimanfaatkan aktor tertentu untuk memperoleh keuntungan bukan melalui produktivitas, tetapi melalui akses, manipulasi distribusi, permainan kuota, penguasaan jalur pasokan maupun penyalahgunaan fasilitas subsidi. Di titik inilah istilah “mafia migas” harus dibaca secara serius, bukan secara serampangan. Mafia tidak selalu berarti satu kelompok besar yang bekerja secara terbuka. Ia bisa berbentuk rantai kepentingan: dari pengadaan, distribusi, transportasi, titik penyaluran, pengecer hingga konsumen akhir. Karena itu, penyelidikan tidak cukup hanya menangkap sopir atau pengecer yang kedapatan menyalahgunakan BBM. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang mengatur aliran barang, siapa yang memperoleh keuntungan terbesar, dan siapa yang selama ini mampu membuat kebocoran distribusi berlangsung? JANGAN BIARKAN RAKYAT MENJADI KAMBING HITAM Narasi panic buying memang perlu diperiksa secara objektif. Pertamina menyatakan stok BBM subsidi di Sulsel aman dan antrean antara lain dipicu kepanikan masyarakat. Bahkan terdapat laporan pemblokiran sekitar 6.000 QR Code yang diduga digunakan untuk pengisian berulang. Namun, pemerintah juga tidak boleh menggunakan istilah panic buying untuk menutup pertanyaan yang lebih fundamental. Sebab jika masyarakat membeli berulang karena takut kehabisan, kita harus bertanya: Mengapa masyarakat sampai takut kehabisan? Kepercayaan publik terhadap distribusi energi tidak lahir dari konferensi pers. Ia lahir dari kepastian bahwa BBM tersedia ketika masyarakat membutuhkannya dan LPG bersubsidi dapat diperoleh dengan harga yang wajar. Ketika kepastian itu hilang, kepanikan adalah konsekuensi sosial. Tetapi kepanikan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kemungkinan adanya penyimpangan. DARI TEORI SUPPLY CHAIN KE TEORI REGULATORY CAPTURE Fenomena ini juga dapat dianalisis melalui teori supply chain governance. Dalam rantai distribusi energi, setiap titik merupakan potensi bottleneck: terminal, depot, transportasi, SPBU, pangkalan LPG, agen, sub-agen hingga pengecer. Semakin panjang rantai distribusi dan semakin lemah transparansi pada setiap mata rantai, semakin besar pula peluang terjadinya kebocoran. Karena itu, pemerintah dan aparat harus melakukan audit distribusi berbasis data, bukan sekadar inspeksi seremonial. Bandingkan data kuota dengan realisasi. Bandingkan volume yang keluar dari terminal dengan volume yang diterima SPBU. Bandingkan data penyaluran SPBU dengan transaksi QR Code. Telusuri kendaraan yang melakukan pengisian berulang. Periksa kendaraan dengan tangki modifikasi. Telusuri distribusi LPG dari agen hingga pangkalan. Dan yang paling penting: ikuti uangnya. Sebab dalam dugaan kejahatan ekonomi, jejak uang sering kali lebih jujur daripada pengakuan pelaku. Di sisi lain, teori regulatory capture mengingatkan bahwa sistem pengawasan dapat kehilangan efektivitas apabila regulator atau pengawas terlalu dekat dengan kepentingan pihak yang seharusnya diawasi. Karena itu, jika kelak ditemukan penyimpangan, jangan berhenti pada pelaku lapangan—Usut pula kemungkinan adanya pembiaran, kebocoran informasi, permainan distribusi, maupun konflik kepentingan di level yang lebih tinggi. RAKYAT SULSEL TIDAK BOLEH MEMBAYAR HARGA DARI KEGAGALAN SISTEM Kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan antrean. LPG 3 kg bukan sekadar tabung gas. Keduanya menyentuh urat nadi ekonomi rakyat. Nelayan membutuhkan BBM untuk melaut. Petani membutuhkan energi untuk aktivitas produksi. Sopir membutuhkan solar untuk mengangkut barang. Pelaku UMKM membutuhkan LPG untuk menjalankan usaha. Rumah tangga membutuhkan LPG untuk memasak. Ketika distribusi terganggu, efeknya menjalar menjadi kenaikan biaya produksi, kenaikan ongkos transportasi, kenaikan harga pangan dan akhirnya menekan daya beli masyarakat. Maka negara tidak boleh melihat persoalan ini hanya dari angka stok di atas kertas, melaikan yang harus diukur adalah apakah energi tersebut benar-benar sampai kepada rakyat yang berhak. HASDAR ONOZT: JANGAN CUKUP MEMBENTUK SATGAS, BONGKAR RANTAINYA Pemerintah Sulsel telah membentuk Satgas pengawasan BBM dan LPG. Langkah tersebut patut diapresiasi, tetapi pembentukan Satgas tidak boleh berhenti menjadi respons administratif terhadap keresahan publik. Satgas harus bekerja secara transparan dan menghasilkan tindakan konkret. Jika ada kendaraan yang dimodifikasi, ungkap pemilik dan jaringan yang memasoknya. Jika ada pengisian berulang, telusuri pola transaksinya. Jika ada BBM yang dialihkan dari jalur subsidi, cari siapa pembelinya. Jika ada LPG 3 kg yang keluar dari jalur distribusi resmi, telusuri agen dan pangkalannya. Jika ada penimbunan, jangan hanya menyita barangnya—bongkar jaringan dan aliran keuntungannya. Dan jika benar terdapat mafia migas, maka publik tidak membutuhkan kambing hitam. Publik membutuhkan siapa aktornya, bagaimana modusnya, dari mana barangnya berasal, siapa yang menikmati keuntungan, dan mengapa sistem pengawasan bisa ditembus. Saya pribadi selaku pemuda yang lahir dan tumbuh di tanah Celebes ini, memandang persoalan ini sebagai ujian serius bagi pemerintah dalam menjamin hak dasar masyarakat atas energi. Jangan sampai subsidi yang seharusnya menjadi instrumen perlindungan rakyat justru berubah menjadi ladang rente bagi segelintir orang. Sebab BBM bersubsidi adalah uang rakyat. LPG bersubsidi adalah hak rakyat. Maka setiap liter dan setiap kilogram yang diselewengkan pada hakikatnya adalah bagian dari hak rakyat yang dirampas. Karena itu, suara kita harus selalu lantang bergema di gendang telinga para pemangku kebijakan, aparat penegak hukum dan atau lembaga/instansi yang memiliki wewenang. Dalam

Scroll to Top