Opini

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti

Penulis: Ach.Hambali – Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan ruminews.id – Kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform kecerdasan buatan mulai memasuki ruang kelas, guru Indonesia menghadapi tantangan baru. Mereka dituntut mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan efektif. Namun di balik tuntutan peningkatan kompetensi tersebut, masih tersisa pertanyaan mendasar: apakah kesejahteraan guru telah berkembang seiring meningkatnya beban profesional mereka? Transformasi digital pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan kompetensi guru. Pemerintah juga harus memastikan bahwa kesejahteraan guru meningkat sebagai bentuk penghargaan terhadap peran strategis mereka dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Guru masa kini tidak lagi cukup menguasai ilmu pedagogik semata. Tuntutan zaman memaksa mereka merambah wilayah yang jauh lebih luas: literasi digital, pemanfaatan AI untuk menyusun modul ajar, AI untuk asesmen pembelajaran, AI untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi, hingga dasar-dasar coding dan computational thinking. Semua itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi keguruan. Gejala ini terlihat nyata di Pamekasan. Pada Juli 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan bekerja sama dengan Yudistira menyelenggarakan Seminar Penguatan Literasi Digital, Coding, AI, dan Deep Learning bagi guru SD, dengan tujuan meningkatkan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi di ruang kelas. Langkah ini berlanjut pada awal 2026, ketika Pamekasan menjadi salah satu daerah di Madura yang membentuk MGMP Coding dan AI dengan melibatkan sekitar 40 guru SMP sebagai langkah awal menyiapkan tenaga pendidik menghadapi kurikulum berbasis teknologi. Dua inisiatif ini menunjukkan bahwa guru di daerah seperti Pamekasan tidak tertinggal dalam mengikuti arus perubahan global. Mereka bergerak, beradaptasi, dan berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Di sisi lain, peningkatan kompetensi ini datang dengan konsekuensi yang tidak ringan. Guru harus mengikuti rangkaian panjang: Pendidikan Profesi Guru (PPG), sertifikasi, pelatihan digital, pelatihan AI, administrasi pembelajaran, hingga pengembangan media digital. Semua tuntutan ini membutuhkan waktu, tenaga, dan yang tak kalah penting, biaya. Sayangnya, tidak semua guru memiliki sumber daya yang memadai untuk memenuhi tuntutan tersebut. Masih banyak guru, khususnya guru honorer, yang menghadapi keterbatasan pendapatan sehingga harus membagi waktu dengan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengurangi kesempatan mereka untuk terus meningkatkan kompetensi secara optimal. Sebagai gambaran, seorang guru SD di Kecamatan Proppo mengikuti pelatihan AI yang diselenggarakan Disdikbud Pamekasan. Ia belajar membuat perangkat ajar menggunakan ChatGPT dan media pembelajaran digital. Namun, untuk mengikuti pelatihan lanjutan, membeli laptop yang memadai, atau membayar akses internet berkualitas, ia masih harus mengeluarkan biaya pribadi. Ilustrasi semacam ini menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan tidak bisa berjalan sepihak; ia memerlukan dukungan ekonomi yang nyata bagi para guru di lapangan. Bila dilihat melalui kacamata teori human capital, guru pada dasarnya adalah aset utama dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Guru yang sejahtera akan lebih leluasa untuk berinovasi, mengikuti pelatihan lanjutan, membeli perangkat belajar yang memadai, memanfaatkan AI secara maksimal, dan fokus mendidik siswa tanpa terbebani kekhawatiran ekonomi. Sebaliknya, guru yang masih harus memikirkan kebutuhan ekonomi sehari-hari cenderung memiliki ruang gerak yang lebih sempit untuk mengembangkan inovasi pembelajaran. Betapapun tinggi semangat mereka mengikuti pelatihan AI atau coding, keterbatasan sumber daya bisa menjadi penghambat yang nyata. Dengan kata lain, investasi pada kesejahteraan guru sama pentingnya dengan investasi pada peningkatan kompetensi mereka. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pamekasan secara rutin menerbitkan Statistik Kesejahteraan Rakyat dan Indikator Kesejahteraan Rakyat yang menggambarkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, termasuk aspek pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesejahteraan rumah tangga. Data semacam ini dapat menjadi dasar argumentasi bahwa peningkatan kualitas pendidikan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk tenaga pendidik di dalamnya. Selain itu, portal Satu Data Kabupaten Pamekasan menyediakan data pendidikan seperti jumlah sekolah, rasio guru terhadap peserta didik, dan sebaran satuan pendidikan, yang dapat memperkuat analisis mengenai kebutuhan peningkatan kapasitas guru di wilayah ini secara lebih terukur. Berangkat dari persoalan di atas, ada beberapa langkah yang layak dipertimbangkan oleh pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan pendidikan: Mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan AI bagi guru secara berkelanjutan. Memberikan insentif digital bagi guru yang aktif mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Menyalurkan bantuan perangkat teknologi—seperti laptop dan akses internet—kepada guru yang membutuhkan. Mempercepat peningkatan kesejahteraan guru honorer, agar mereka tidak lagi harus membagi fokus dengan pekerjaan sampingan. Membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah dalam pengembangan ekosistem AI Education yang berkelanjutan. Kecerdasan buatan tidak akan menggantikan guru. Sebaliknya, AI hanya akan menjadi alat yang memperkuat peran guru yang kompeten. Namun, kompetensi yang terus dituntut harus dibarengi dengan kesejahteraan yang layak. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya lahir dari teknologi yang canggih, tetapi juga dari guru yang dihargai, disejahterakan, dan diberi ruang untuk terus berkembang.

Daerah, Nasional, Opini, Pemerintahan

A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan

Ruminews.id, Bone – Pertanyaan mendasar yang harus kita jawab bersama: nilai pendidikan seperti apa yang harus menjadi kebanggaan kita sebagai masyarakat Kab. Bone? Dan karya pendidikan seperti apa yang mampu kita bawa hingga ke kancah nasional bahkan global? Jawabannya hari ini masih memprihatinkan. Hampir tidak ada.

Prabowo Subianto
Ekonomi, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”

Penulis: Angga Riyon Nugroho S.Pd. Ruminews.id, Yogyakarta — Prabowo Subianto Djojohadikusumo, presiden ke-8 Indonesia adalah presiden yang banyak menyorot perhatian publik akhir-akhir ini. Bukan hanya keterlibatannya pada penculikan aktivis di tahun 1998, namun kebijakan-kebijakannya sebagai presiden yang tidak dimasuk nalar masyarakat Indonesia. Kita dapat lihat saat kampanye istilah “Gemoy” jadi bagian kampanyenya kala itu, atau slogan “Ok Gas” untuk menarik simpati masyarakat Indonesia, menyatakan dirinya sebagai calon presiden yang peduli terhadap nasib rakyat Indonesia.

Daerah, Makassar, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM

ruminews.id, MAKASSAR – Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sulawesi Selatan melayangkan protes keras dan mosi tidak percaya terhadap instansi pemerintah terkait tata kelola lalu lintas moda transportasi barang berat. Hal ini didasari atas pembiaran aktivitas truk bertonase besar atau Over Dimension Over Loading (ODOL) yang melintas bebas di jalan-jalan sekunder dan pemukiman kota, serta melubernya antrean bahan bakar minyak (BBM) jenis solar hingga memakan badan jalan utama. Fenomena pembiaran ini tercatat telah berlangsung secara masif selama lebih dari satu bulan tanpa ada tindakan konkret.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Perempuan dan Perjalanan Menemukan Diri

Penulis: Nur Islamiah (Peserta Latihan Khusus Kohati Cabang Wajo 2026) ruminews.id, Wajo – Menjadi perempuan bukan sekadar tentang menjalankan peran yang telah dibentuk oleh masyarakat, tetapi juga tentang menjalani perjalanan panjang untuk mengenal, menerima, dan menemukan diri sendiri. Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh di tengah berbagai harapan dan aturan yang sering kali menentukan bagaimana mereka harus bersikap, berbicara, berpakaian, bahkan menentukan impian yang dianggap pantas untuk mereka. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang lebih mengenal tuntutan lingkungan dibandingkan memahami siapa dirinya yang sebenarnya. Perjalanan menemukan diri bukanlah proses yang instan. Ia lahir dari pengalaman, kegagalan, keberanian mengambil keputusan, hingga kemampuan untuk berdamai dengan masa lalu. Ada perempuan yang menemukan dirinya melalui pendidikan, ada yang melalui dunia kerja, organisasi, keluarga, maupun pengalaman hidup yang penuh tantangan. Setiap perjalanan memiliki cerita yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama, yaitu menjadi pribadi yang hidup sesuai dengan nilai dan keyakinannya sendiri. Di era digital, perjalanan ini menghadapi tantangan baru. Media sosial sering kali menghadirkan standar kehidupan yang tampak sempurna. Perempuan disuguhi berbagai gambaran tentang tubuh ideal, karier yang harus sukses sejak muda, kehidupan rumah tangga yang selalu harmonis, hingga pencapaian yang seolah harus diraih sebelum usia tertentu. Tanpa disadari, banyak perempuan mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain dan merasa tidak cukup baik. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya. Menurut saya, menemukan diri berarti berani berhenti mengejar pengakuan orang lain. Nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian, jumlah pengikut di media sosial, status pernikahan, maupun jabatan yang dimiliki. Seorang perempuan tetap berharga karena ia adalah manusia yang memiliki akal, hati, potensi, dan hak untuk berkembang. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi bagi lahirnya perempuan yang percaya diri dan mandiri. Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan dengan kemuliaan dan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan potensi yang Allah berikan. Perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, menemukan diri bukan berarti meninggalkan nilai-nilai agama, melainkan justru memahami bahwa menjadi perempuan yang beriman, berilmu, dan berdaya merupakan bagian dari ibadah serta bentuk syukur atas potensi yang telah dianugerahkan. Namun, perjalanan ini tidak selalu berjalan mulus. Masih banyak perempuan yang menghadapi stereotip, diskriminasi, kekerasan, hingga keraguan terhadap kemampuan dirinya sendiri. Bahkan, tidak sedikit yang memilih mengubur cita-citanya karena merasa tidak mendapat dukungan dari lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan bukan hanya melawan hambatan dari luar, tetapi juga melawan rasa takut dan ketidakpercayaan yang telah lama tertanam akibat tekanan sosial. Karena itu, masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi perempuan untuk bertumbuh. Keluarga perlu memberikan dukungan tanpa membatasi mimpi anak perempuan. Dunia pendidikan harus mendorong lahirnya perempuan yang kritis dan percaya diri. Organisasi kemahasiswaan, komunitas, maupun ruang publik lainnya juga perlu menjadi tempat yang mendorong perempuan untuk belajar memimpin, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sosial. Ketika perempuan diberi kesempatan yang setara, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan bangsa. Pada akhirnya, perjalanan menemukan diri adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada garis akhir yang benar-benar menandai bahwa seseorang telah selesai mengenal dirinya. Akan selalu ada ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri. Perempuan yang menemukan dirinya bukanlah perempuan yang merasa paling sempurna, melainkan perempuan yang terus berani melangkah, mengenali potensi yang dimiliki, menjaga nilai-nilai yang diyakininya, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab, ketika seorang perempuan berhasil menemukan dirinya, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga mampu menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Antara Ekspektasi dan Realitas: Beban Psikologis Menjadi Perempuan

Penulis: Rezky Amelia – Peserta LKK HMI Cabang Wajo ruminews.id, Wajo – Di tengah kemajuan zaman yang sering diklaim sebagai era kesetaraan, perempuan masih berada dalam pusaran ekspektasi sosial yang begitu tinggi. Mereka dituntut untuk menjadi cerdas, mandiri, berkarier sukses, namun di saat yang sama tetap harus lembut, patuh, dan mampu menjalankan peran domestik secara sempurna. Ironisnya, ketika perempuan berhasil memenuhi satu standar, masyarakat kerap menciptakan standar baru yang lebih tinggi.

Ekonomi, Hukum & Kriminal, Makassar, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Diantara Satu Sama Lain Jejak Sejarah dan Realitas Perempuan yang Saling Menghakimi

Oleh : Merlinda J. Suleman ( Ketua Umum Kohati HMI Komisariat STIKYAPMA Cabang Makassar) ruminews.id, – MAKASSAR, Sejarah perjuangan feminisme mengajarkan hal yang tak terhapus, perlawanan perempuan bukanlah untuk menguasai, melainkan untuk melepaskan diri dari belenggu ketidakadilan. Namun, jika kita menengok kebelakang dan juga kedalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan sebuah ironi yang menyakitkan bahwa ditengah upayaa membebaskan diri, ada juga perempuan yang justru saling mencela, merendahkan dan membagi-bagi diri sendiri. Pada awal gerakan feminisme didunia, para pejuang seperti Sojourner Truth, Susan B Anthony, hingga tokoh-tokoh di Nusantara seperti Raden Ajeng Kartini, telah menyuarkan bahwa kesetaraan bukan berarti perempuan harus menjadi “lawan’ sesama perempuan. Mereka berjuang agar perempuan diakui sebagai makhluk yang berakal, berhak bersuara, dan memiliki harga diri yang setara dengan laki-laki. Namun, perjuangan ini seringkali dihadang oleh ketidaktahuan, ketakutan, dan juga kebiasaan yang sudah tertanam lama termasuk kecenderungan untuk menjatuhkan sesama perempuan yang dianggap “berbeda” atau “terlalu berani”. Banyak dari kita mungkin pernah mendengar atau bahkan menjadi saksi perempuan yang satu mengkritik cara berpakaian perempuan lain, yang lain menila bagaimana ia mendidik anak, atau yang lain lagi meremehkan pilihan hidupny. Seringkali hal ini muncul karena ada ketidapercayaan, karena kita merasa tidak nyaman melihat orang lain berkembang, atau karena kita sendiri belum sepenuhnya membebaskan diri dari pola pikir yang menganggap perempuan harus selalu mematuhi aturan yang dibuat oleh orang lain. Padahal, sejarah menunjukan bahwa kekuatan sejati perempuan bukanlah terletak pada kemampuan untuk menjatuhkan satu sama lain, melainkan pada kemampuan untuk saling mendukung dan memahami Seperti yang pernah dikatakan oleh tokoh feminis Indonesia Ny. Siti Walidah, “ perempuan harus bersatu, bukan saling memotong sayap. Jika kita saling mencela maka kita akan tetap terperangkan dalam belenggu yang sama’. Sebagai penulis, saya percaya bahwa sejarah tidak hanya bercerita tentang kemenangan, tetapi juga tentang pelajaran. Perempuan yang saling mencela bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa perjuangan kita masih belum selesai. Namun jika belajar dari masa lalu, kita akan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk maju adalah dengan saling menghormati, saling menguatkan, dan menyadari bhwa kita berjalan di jalur yang sama, meski dengan langkah yang berbeda.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan, Politik

Standar Kecantikan dan Politik atas Tubuh Manusia

Penulis : Sartika – Ketua Bidang Internal Korps HMI-Wati Komisariat Dakwah dan Komunikasi Ruminews.id – Setiap kali seorang perempuan berdiri di depan cermin dan merasa tubuhnya kurang, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia sedang berhadapan dengan sebuah sistem yang telah lama menentukan bagaimana tubuh perempuan seharusnya terlihat, dan yang lebih penting, siapa yang berhak menentukan hal itu.

Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Didengar Belum Tentu Dipahami: Realita Komunikasi Perempuan di Ruang Publik dan Domestik

Penulis : Rahmawati Anwar – Kader HMI Wati Cabang Wajo ruminews.id, Wajo – Saya sudah bicara, mereka mengangguk, tapi mengapa keputusannya tetap sama?” Pertanyaan retoris ini sering kali terlintas di benak banyak perempuan, baik dalam rapat kerja, diskusi komunitas, hingga obrolan di meja makan rumah tangga.

Scroll to Top