Nasional

Daerah, Ekonomi, Kesehatan, Nasional, Nusa Tenggara Timur, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Luka Spiritual dan Rentannya Tanah Air: Membaca Kebakaran Kalimantan serta Gempa Tektonik NTT dari Kacamata Ekoteologi

Oleh : Muh. Akbar Syahrir (Kader PMII Rayon Syariah dan Hukum Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Kota Makassar) ruminews.id, – Bencana lingkungan dan dinamika geologi yang melanda berbagai daerah di Nusantara bukan lagi sekadar krisis ekologi dan kejadian alam biasa. Dalam perspektif ekoteologi, kombinasi antara terbakarnya ratusan ribu hektar lahan di Kalimantan serta tingginya kerentanan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencerminkan “ekodosa”—sebuah penistaan terhadap tatanan ciptaan serta kelalaian manusia dalam menjalankan mandatnya sebagai pemelihara bumi (stewardship). Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat, luas karhutla nasional telah menembus 202.004 hektare. Kalimantan Barat menempati posisi puncak wilayah terdampak dengan luas kebakaran mencapai 38.310,86 hektare, memicu krisis parah pada ekosistem gambut akibat pengeringan kanal masif demi ekspansi industri. Api bawah tanah (subsurface fire) menghasilkan kabut asap beracun yang melumpuhkan aktivitas publik dan mengancam warga dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Secara ekoteologis, ini adalah wujud ketamakan antroposentrisme destruktif yang mengorbankan “rahim bumi” demi akumulasi modal jangka pendek. Sementara itu di belahan timur Nusantara, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhadapan dengan realitas geologis yang tak kalah menantang. Wilayah Kepulauan Flobamora ini secara konstan diguncang oleh aktivitas tektonik akibat posisinya yang berada tepat di atas jalur perjumpaan lempeng aktif. Sumber gempa utama dihimpit oleh Zona Subduksi Lempeng Australia di bagian selatan dan Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Backarc Thrust) di sebelah utara. Tercatat gempa merekam peristiwa destruktif seperti Gempa & Tsunami Flores 1992 (M\text{ 7,8}) yang menelan lebih dari 2.100 jiwa, Gempa Alor 2004 (M\text{ 6,0}), hingga Gempa Laut Flores 2021 (M\text{ 7,4}). Data BMKG mengonfirmasi puluhan gempa dangkal (h < 60\text{ km}) terus terjadi setiap bulannya di kawasan pesisir dan lautan NTT. Dalam kacamata ekoteologi, fenomena gempa bumi di NTT sebetulnya merupakan mekanisme alami bumi untuk melepaskan energi tektonik (sunnatullah / ketetapan penciptaan). Namun, dampak destruktif gempa yang berulang kali menelan korban jiwa dan merusak pemukiman warga rentan mencerminkan kegagalan etis manusia. Mengabaikan pembangunan infrastruktur tahan gempa, membiarkan ketidaksiapan mitigasi, serta mengabaikan tata ruang berbasis risiko bencana merupakan bentuk kelalaian iman dalam melindungi ciptaan. Penulis menyimpulkan dari realitas karhutla di Kalimantan dan fenomena seismik di NTT, terungkap Tiga Pilar Kegagalan Etis manusia :Pertama, kegagalan Stewardship dan Dominasi Modal yang di mana manusia bergeser dari pengelola yang bertanggung jawab menjadi pemilik yang tamak. Hukum negara dan etika moral sering kali kalah oleh kepentingan industri di lahan gambut Kalimantan maupun ketidakpedulian terhadap keselamatan tata ruang di daerah rawan gempa NTT. Kedua, ketidakadilan Antargenerasi (Intergenerational Injustice) yakni pembakaran tanah gambut yang melepaskan emisi karbon raksasa serta pengabaian mitigasi bencana jangka panjang sama saja dengan merampas hak atas lingkungan hidup yang aman dan sehat bagi generasi masa depan. Ketiga, pemberatan beban kelompok rentan yakni kelompok masyarakat adat dan warga miskin pedesaan di Kalimantan dipaksa menanggung dampak kesehatan (ISPA), sementara masyarakat pesisir di NTT menjadi pihak paling rentan terhadap ancaman guncangan gempa dan risiko tsunami (option for the poor and vulnerable). Merespons krisis ekologi dan tantangan alam ini, penanganan tidak lagi cukup dengan pendekatan teknis-represif semata. Dibutuhkan metanoia atau pertobatan ekologis nyata: restorasi gambut di Kalimantan melalui pembasahan kembali (rewetting) dan penegakan hukum tegas, yang disandingkan dengan penguatan mitigasi struktural, edukasi evakuasi mandiri, serta pembangunan pemukiman tahan gempa berbasis kearifan lokal di NTT. Kebakaran di Kalimantan dan gempa bumi di NTT memberi pesan mendalam bahwa menjaga bumi dari kobaran api serta bersahabat dengan dinamika tektonik alam adalah panggilan moral dan iman untuk merawat rumah bersama (oikos) demi keberlangsungan seluruh ciptaan.

Belajar dari Iran
Internasional, Nasional, Politik

Megawati Minta Indonesia Belajar dari Iran: Persatuan dan Kemandirian Jadi Kunci Hadapi Tekanan Asing

Ruminews.id, Jakarta — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengajak Indonesia belajar dari pengalaman Iran dalam menghadapi tekanan negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat. Menurut Megawati, salah satu kekuatan utama Iran terletak pada persatuan masyarakat serta kemampuan membangun kemandirian nasional.

81 Tahun Indonesia Merdeka
Nasional, Opini

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Pembangunan Mengabaikan Manusia

Penulis: Yohanes William Santoso, M.Hub.Int. —  Dosen Prodi S1 Hubungan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta Ruminews.id — Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia kembali berada pada momentum untuk bertanya: untuk siapa sesungguhnya pembangunan dilakukan? Pertanyaan ini penting karena pembangunan sering kali terlalu mudah diterjemahkan ke dalam angka pertumbuhan ekonomi, panjang jalan yang dibangun, jumlah proyek yang diresmikan, besarnya investasi yang masuk, atau besarnya anggaran yang berhasil dibelanjakan. Kita seolah-olah telah menjadikan pembangunan sebagai sesuatu yang dapat diukur terutama melalui apa yang terlihat secara fisik.

Nasional, Opini, Pemuda

Merdeka untuk Siapa? Catatan 81 Tahun bagi Perempuan Indonesia

Penulis: Lusiana Banda – Sekretaris Kopri PC PMII Jakarta Timur ruminews.id – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Bendera kembali berkibar, lagu kebangsaan kembali dinyanyikan, dan kata “merdeka” kembali memenuhi ruang-ruang publik. Namun, di tengah gegap gempita perayaan itu, ada satu pertanyaan yang rasanya perlu kita ajukan dengan jujur: merdeka untuk siapa?

Daerah, Nasional, Opini, Pemuda

Salah Arah Belanja Parepare

Penulis: Khumaedi — Kabid PTKP HMI KOM STIE Cabang Parepare Ruminews.id — Polemik pengajuan dana hibah senilai Rp1,4 miliar oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Parepare dari APBD Kota Parepare memicu perdebatan penting di ruang publik. Masuknya pos anggaran untuk rehabilitasi Rumah Jabatan (Rujab) Kajari dalam usulan tersebut bukan sekadar urusan administrasi keuangan, melainkan menyangkut dua persoalan mendasar: kepekaan skala prioritas anggaran daerah dan marwah independensi penegak hukum.

Ekonomi, Nasional, Opini, Pemerintahan

Menakar Arsitektur APBN 2026-2027, Antara Ekspansi Fiskal dan Disiplin Anggaran

Penulis: Andi Rante, SE., MM. – Ketua Bidang Kajian Strategis & Litbang DPP IKA ISMEI 2025-2030 ruminews.id – Arsitektur keuangan negara pada fase transisi dari APBN 2026 menuju RAPBN 2027 memperlihatkan sebuah pergeseran strategis. Pemerintah kini mengarahkan kemudi pada ekspansi fiskal yang terukur, dengan ditopang oleh digitalisasi administrasi perpajakan tingkat tinggi (high-tech tax administration).

Scroll to Top