Author name: Fikri Haikal

Hukum & Kriminal, Internasional, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Politik

Black Propaganda : False Flag Operation (Operasi Bendera Palsu)

Penulis: Yulianto Ardiwinata – Penulis Buku Instrumentalisasi Demokrasi ruminews.id, Saat ini, dalam konteks politik modern, sistem demokrasi diidentifikasi sebagai salah satu sistem yang menjamin kebebasan berpendapat, partisipasi publik dan keterbukaan informasi. Di sisi lain, di tengah-tengah pengejewantahannya, ruang-ruang demokrasi sering menerima serangan-serangan propaganda dengan berbagai bentuk yang kemudian akan mempengaruhi kualitas kehidupan politik ataupun memecah belah kelompok tertentu bahkan sampai melemahkan kepercayaan publik pada institusi-institusi tertentu. Di sini, propaganda tidak hanya berbentuk fisik dan informasi miring, tetapi juga strategi komunikasi massa yang bertujuan untuk memanipulasi opini, perasaan dan perilaku masyarakat guna kepentingan terselubung. Salah satu teknik propaganda yang kontroversial adalah false flag operation (operasi bendera palsu), teknik ini dahulu sering digunakan dalam pertempuran laut abad ke-16, di mana kapal-kapal dalam pertempuran laut mengibarkan bendera palsu untuk mengelabui musuh. Namun di era kontemporer, operasi bendera palsu kini menjelma menjadi teknik propaganda. False Flag Operation atau operasi bendera palsu adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak tertentu tetapi sengaja dibuat seolah-olah dilakukan oleh pihak lain sebagai kambing hitam. Strategi ini bertujuan untuk memanipulasi opini publik, menciptakan legitimasi terhadap suatu tindakan tertentu, atau mendiskreditkan suatu kelompok. Dalam praktiknya, teknik propaganda ini tidak selalu berbentuk tindakan fisik yang nyata. Operasi bendera palsu juga dapat berlangsung melalui konstruksi narasi di ruang publik, baik melalui media massa maupun media digital. Dengan memanfaatkan arus informasi yang sangat cepat dan sering kali tidak terverifikasi, suatu peristiwa dapat dibingkai sedemikian rupa sehingga membentuk persepsi tertentu dalam kesadaran masyarakat. apalagi dengan bantuan artificial inteligence yang berpotensi mengaburkan fakta bahkan sebelum proses verifikasi fakta terjadi. Dalam catatan sejarah dunia, terdapat beberapa peristiwa sejarah yang bisa dijadikan contoh dari strategi false flag operation. Salah satu yang sangat terkenal adalah Gleiwitz Incident pada tahun 1939. Dalam peristiwa ini, pasukan Nazi melakukan serangan terhadap sebuah stasiun radio di wilayah perbatasan Jerman–Polandia. Serangan tersebut kemudian dipropagandakan seolah-olah dilakukan oleh tentara Polandia. Narasi ini kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Nazi untuk memulai invasi terhadap Polandia, yang kemudian menjadi salah satu pemicu pecahnya Perang Dunia II. Peristiwa ini dapat menunjukkan bagaimana sebuah insiden dapat direkayasa untuk menciptakan legitimasi politik terhadap tindakan agresi militer. Keberhasilan dari teknik propaganda bendera palsu tidak terlepas dari mekanisme psikologi massa yang bekerja dalam masyarakat. Ketika sebuah peristiwa terdramatisir dengan baik, masyarakat cenderung mengalami kondisi emosional yang intens seperti kemarahan, ketakutan, atau merasa tidak aman. Dalam situasi seperti itu, kemampuan masyarakat untuk melakukan analisis rasional berkurang. Sehingga publik cenderung akan mencari penjelasan sederhana mengenai siapa yang harus disalahkan. Kondisi psikologis tersebut dapat menciptakan ruang yang terbuka lebar bagi propagandis untuk menawarkan narasi mengenai pelaku yang dianggap bertanggung jawab. Selain menunggangi isu tertentu, teknik propaganda bendera palsu ini juga memanfaatkan berbagai bias kognitif yang ada dalam diri manusia. Salah satunya adalah kecenderungan untuk lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan prasangka atau pelabelan yang sudah ada sebelumnya. Jika suatu kelompok telah lama dipersepsikan sebagai ancaman atau musuh, maka masyarakat kemudian  akan lebih mudah menerima narasi yang menyatakan bahwa kelompok tersebut adalah pelaku suatu kejahatan. Dengan demikian, propaganda tidak perlu sepenuhnya menciptakan persepsi baru, melainkan cukup memperkuat prasangka yang telah ada dalam kesadaran kolektif masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman kritis terhadap cara kerja  propaganda menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam konstruksi narasi yang sengaja dirancang untuk mengarahkan opini dan emosi kolektif masyarakat.

Hukum & Kriminal, Pare-pare, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Politik

Aktivis Soroti Dugaan Praktik Mafia BBM di Kota Parepare, DEMA-I IAIN Parepare Desak Penegakan Hukum Transparan

ruminews.id, Parepare — Kota Parepare selama ini dikenal sebagai kota pelabuhan yang menjadi salah satu penggerak ekonomi di wilayah Ajatappareng. Aktivitas perdagangan, transportasi, hingga sektor perikanan yang berkembang di kota ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Namun di balik dinamika ekonomi tersebut, masyarakat kerap menghadapi persoalan yang berulang, yakni sulitnya mendapatkan BBM pada waktu-waktu tertentu. Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU kerap terjadi, terutama ketika pasokan BBM dianggap terbatas. Kondisi ini memunculkan keresahan di tengah masyarakat, apalagi ketika muncul dugaan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang justru dapat memperoleh BBM dalam jumlah besar dengan lebih mudah. Situasi tersebut menimbulkan kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya praktik yang kerap disebut sebagai “mafia minyak”. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DEMA-I IAIN Parepare, Muh. Nur Muallimin Rasyidin, menilai bahwa persoalan BBM tidak bisa dilepaskan dari konteks global. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi ketidakstabilan geopolitik yang turut memengaruhi rantai pasok energi internasional. “Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, khususnya di Timur Tengah, memang memberikan dampak terhadap fluktuasi harga dan pasokan minyak global. Namun persoalan yang terjadi di daerah tidak bisa semata-mata disandarkan pada faktor global,” ujar Muh. Nur Muallimin Rasyidin dalam keterangannya kepada media. Ia menjelaskan bahwa ketika kelangkaan BBM terjadi secara berulang di daerah tertentu, sementara terdapat dugaan distribusi yang tidak wajar atau bahkan praktik penimbunan, maka hal tersebut patut menjadi perhatian serius semua pihak. Menurutnya, persoalan ini sangat dirasakan oleh masyarakat kecil yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada ketersediaan BBM, seperti nelayan, pengemudi transportasi, hingga pelaku usaha kecil. “Jika distribusi BBM dipermainkan oleh oknum tertentu demi keuntungan pribadi, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat kecil. Ini bukan sekadar persoalan teknis distribusi, tetapi menyangkut keadilan ekonomi bagi masyarakat.” Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peran aparat penegak hukum dalam mengawasi distribusi BBM di daerah. Ia berharap pihak kepolisian, khususnya Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polres Parepare, dapat melakukan pengawasan secara serius terhadap dugaan praktik penyimpangan distribusi BBM. “Kami berharap Kanit Tipidter Polres Parepare dapat mengambil langkah tegas dan transparan jika memang terdapat indikasi praktik mafia BBM di lapangan. Penegakan hukum yang jelas dan terbuka sangat penting agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum tetap terjaga,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa keterlibatan aparat dalam memastikan distribusi BBM berjalan sesuai aturan sangat penting agar tidak ada ruang bagi oknum yang memanfaatkan situasi kelangkaan untuk keuntungan pribadi. “Pengawasan yang ketat dari aparat penegak hukum akan menjadi kunci untuk memastikan distribusi BBM berjalan adil dan tepat sasaran. Masyarakat berharap negara hadir melalui aparatnya untuk melindungi kepentingan publik,” tutupnya.

Makassar, Pemuda, Uncategorized

IKA FKM Unhas Gelar Buka Puasa Bersama dan Salurkan Sembako untuk CS dan Warga Sekitar Kampus

ruminews.id, Makassar – Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (IKA FKM Unhas) menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan penyaluran bantuan sembako kepada para cleaning service (CS) FKM Unhas serta warga sekitar kampus yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut dihadiri ratusan alumni dari berbagai angkatan yang datang dari berbagai daerah. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi bentuk kepedulian sosial alumni terhadap para pekerja kampus dan masyarakat kecil, termasuk para “mace-mace” yang dahulu kerap berjualan dan menjadi tempat mahasiswa FKM Unhas. Ketua IKA FKM Unhas, Azri Rasul, yang juga menjabat sebagai Kepala Balai Kementerian Lingkungan Hidup wilayah Sulawesi Maluku, turut hadir dan memberikan apresiasi atas kekompakan alumni dalam menyelenggarakan kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan. Beliau juga menyampaikan terkait tempat yag diberikan oleh pihak kampus untuk dijadikan skretariat IKA FKM sekligus menjadi gallery IKA yang bertempat di Gedung baru FKM Unhas. Turut hadir pula Ismail Bachtiar, alumni FKM Unhas angkatan 2010 yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI Komisi IV. Kehadirannya menambah semangat kebersamaan dalam kegiatan tersebut, sekaligus menunjukkan kontribusi alumni FKM Unhas di berbagai bidang strategis. Selain itu, Kepala UPT BGN Sulawesi Selatan, Handayani (angkatan 1998), juga tampak hadir dan berbaur bersama para alumni lainnya dalam kegiatan tersebut. Kegiaan tersebut dibuka langsung oleh Prof.Sukri Pakutturi selaku Dekan FKM Unhas, tentunya sekaligus menyapa para alumni dari lintas angkatan yang Hadir. Melalui kegiatan ini, IKA FKM Unhas berharap dapat terus memperkuat solidaritas antar alumni sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar kampus. Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai sarana untuk berbagi, mempererat silaturahmi, serta mengingat kembali nilai-nilai kebersamaan yang telah terbangun sejak masa perkuliahan.

Makassar, Pemuda, Pendidikan

Di Naungan BEM KEMA FSD UNM, Fragmen Mahasiswa Melebur Menjadi Kesadaran Kolektif

ruminews.id, Makassar – Di tengah dinamika kehidupan kampus yang terus bergerak, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KEMA Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar meningkatkan sebuah momentum yang tengah dipersiapkan. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan identitas, ruang perjumpaan gagasan, serta simpul yang mengikat perjalanan sebuah angkatan. Inilah awal dari lahirnya sebuah peristiwa yang akan menjadi penanda perjalanan mahasiswa: Inaugurasi Angkatan 2023. Angkatan 2023 yang terdiri dari empat jurusan di Fakultas Seni dan Desain, yaitu Sendratasik, Seni Rupa, Seni Tari, dan Desain Komunikasi Visual (DKV), hadir dengan satu nama yang memuat makna perjalanan dan ketahanan: Ragnarian. Sebuah identitas yang lahir dari kesadaran bahwa setiap generasi selalu ditempa oleh perubahan. Nama ini terinspirasi dari konsep Ragnarok dalam mitologi Nordik—sebuah peristiwa besar yang membuka jalan bagi lahirnya tatanan baru. Dalam konteks tersebut, Ragnarian dimaknai sebagai generasi yang mampu melewati fase dinamika, bertahan dalam proses, dan tumbuh menjadi kekuatan kolektif yang sadar akan arah serta tujuannya. Momentum inaugurasi ini mengusung tema “NEXUS”, sebuah konsep yang menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak pernah berdiri pada individu semata, melainkan pada ikatan yang menyatukan. Nexus dimaknai sebagai titik temu yang menghubungkan gagasan, pengalaman, serta keberagaman karakter menjadi satu kesatuan yang utuh. Di dalamnya, setiap individu menjadi bagian dari jaringan makna yang saling menopang untuk menciptakan solidaritas dan semangat kolaborasi. Sebagai simbol dari keterhubungan tersebut, angkatan ini mengangkat Jörmungandr sebagai maskot. Dalam mitologi Nordik, Jörmungandr dikenal sebagai ular dunia yang melingkari Midgard hingga kepalanya bertemu dengan ekornya sendiri. Ia melambangkan keterikatan yang utuh—sebuah siklus yang menjaga stabilitas dunia selama ikatan tersebut tetap terjaga. Filosofi ini merepresentasikan semangat Ragnarian: bahwa selama solidaritas dijaga, angkatan ini akan tetap berdiri sebagai satu kesatuan yang kuat. Melalui Inaugurasi 2023, Ragnarian tidak hanya merayakan kebersamaan yang telah dilalui, tetapi juga menyatakan eksistensinya sebagai generasi yang siap bergerak bersama, menciptakan ruang baru bagi kolaborasi, kreativitas, serta masa depan yang lebih luas. Oleh karena itu, panitia berharap adanya dukungan dan support dari pihak Universitas Negeri Makassar (UNM) serta Fakultas Seni dan Desain, baik dalam bentuk dukungan moral, fasilitas, maupun ruang kolaborasi yang memungkinkan kegiatan ini berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi seluruh mahasiswa. Inaugurasi tidak hanya menjadi milik satu angkatan semata, tetapi juga merupakan bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa serta penguatan nilai kebersamaan dalam lingkungan akademik. Dengan dukungan dari pihak kampus dan fakultas, momentum ini diharapkan dapat menjadi ruang yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan institusi dalam semangat yang sama: membangun lingkungan akademik yang progresif, kreatif, dan kolaboratif. Pada akhirnya, sebuah peristiwa sedang disiapkan. Sebuah identitas akan ditegaskan. Sebuah ikatan akan dipersatukan.

Luwu Timur, Palopo, Pemuda, Pendidikan

Bulan Ramadhan, PP HAM-LUTIM Batara Guru Salurkan Bantuan Sembako di Panti Asuhan

ruminews.id, Palopo – Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Luwu Timur Batara Guru (PP HAM-LUTIM) Batara Guru menyalurkan bantuan paket sembako kepada panti asuhan dalam rangka bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan berbagi tersebut dilaksanakan di Panti Asuhan Ar-Rahman, Kota Palopo. Ketua Umum PP HAM-LUTIM Batara Guru, Rishariyadi, mengatakan program berbagi sembako ini merupakan agenda di bulan suci Ramadan sebagai wujud kepedulian sosial. “Kegiatan berbagi sembako ini kami salurkan pada Panti Asuhan Ar-Rahman di Jalan Ambe Nona, Kelurahan Amassangan. Bantuan yang disalurkan berupa paket sembako yang berisi berbagai kebutuhan pokok yang diharapkan dapat membantu pengelola panti asuhan. Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi saluran berkah bagi yang membutuhkan, terutama di momen bulan suci Ramadan ini,” ujarnya. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Pengurus Pusat HAM-LUTIM Batara Guru dari berbagai kampus di Kota Palopo. Melalui kegiatan pembagian sembako tersebut, Pengurus Pusat HAM-LUTIM Batara Guru berharap dapat terus memperkuat kepedulian, kepekaan sosial, dan semangat kebersamaan yang harus tetap tumbuh di tengah masyarakat, terutama dalam menjalani bulan suci Ramadan. Selain penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi para mahasiswa untuk menjalin silaturahmi dengan pengurus serta anak-anak panti asuhan. Suasana kebersamaan terlihat hangat ketika para pengurus PP HAM-LUTIM Batara Guru berinteraksi langsung dengan anak-anak panti, berbagi cerita, serta memberikan motivasi agar tetap semangat dalam menempuh pendidikan. Para pengurus panti asuhan menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan oleh mahasiswa asal Luwu Timur tersebut. Mereka berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilakukan sehingga mampu membantu memenuhi kebutuhan anak-anak panti sekaligus memberikan dukungan moral bagi mereka. Rishariyadi menambahkan bahwa kegiatan berbagi di bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai bentuk bantuan material semata, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas di kalangan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Ke depan, PP HAM-LUTIM Batara Guru berkomitmen untuk terus melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui program-program kemanusiaan tersebut, organisasi ini berharap dapat mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat serta menumbuhkan semangat gotong royong dalam membangun kepedulian sosial.

Gowa, Pemerintah kabupaten Gowa, Pemerintahan

Hadiri Bakti Sosial DWP, Bupati Talenrang Dorong Kolaborasi Tangani Kemiskinan dan Stunting

ruminews.id, GOWA – Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang menghadiri kegiatan Bakti Sosial Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Gowa di Kantor Camat Somba Opu, Senin (16/3). Bupati Talenrang menyampaikan apresiasinya kepada DWP Kabupaten Gowa atas kontribusinya dalam membantu pemerintah daerah, khususnya dalam penanganan keluarga miskin ekstrem (KME) dan pencegahan stunting. “Terima kasih kepada DWP yang telah membantu pemerintah dalam memberikan penanganan kepada keluarga miskin ekstrem, khususnya yang berisiko stunting. Karena pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menangani persoalan kemiskinan, sehingga kehadiran mitra strategis seperti DWP sangat membantu kami,” ujarnya. Ia menyampaikan, agar koordinasi harus terus dilakukan bersama instansi terkait, termasuk Dinas PPKB untuk memastikan data ibu hamil dan balita berisiko stunting terpantau dengan baik. “Kalau kita ingin Gowa maju, maka persoalan kemiskinan harus diselesaikan. Alhamdulillah angka stunting di Gowa terus menurun dan saat ini menjadi yang terendah di Sulawesi Selatan, yakni 17 persen. Dengan kolaborasi bersama, kita optimis kemiskinan dan stunting dapat terus ditekan,” jelasnya. Olehnya dirinya berharap seluruh organisasi, termasuk DWP, terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait kemiskinan dan stunting, disertai aksi nyata di lapangan melalui pendekatan sosial, khususnya kepada ibu hamil dan menyusui. Hal tersebut sebagai upaya pemerintah agar kedepan tidak ada lagi miskin ekstrem sehingga Gowa semakin maju dan kesejahteraan masyarakat teerus meningkat. “Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah menunjukkan hasil positif. Persentase penduduk miskin di Kabupaten Gowa terus menurun dari 6,85 persen pada tahun 2024 menjadi 6,64 persen pada tahun 2025 atau sekitar 54 ribu jiwa, angka yang berada di bawah rata-rata provinsi maupun nasional,” jelasnya. Sementara Ketua DWP Kabupaten Gowa, Suryanti Andy Azis mengatakan kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk kepedulian organisasi terhadap masyarakat yang membutuhkan serta mendukung program transformasi sosial daerah, khususnya penanganan kemiskinan ekstrem. “Kegiatan ini lahir dari kepedulian DWP kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui bakti sosial ini kami ingin berbagi kebahagiaan dan harapan bagi mereka yang masih membutuhkan uluran tangan kita,” katanya. Dirinya menjelaskan kegiatan bakti sosial dilaksanakan dalam dua tahap. Pada 13 Maret 2026 lalu, DWP mengunjungi beberapa Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) tidak hanya menyerahkan bantuan tetapi juga memberikan perhatian dan kebahagiaan kepada anak-anak panti. Selanjutnya, DWP juga memberikan bantuan kepada 20 keluarga miskin ekstrem berisiko stunting di wilayah Kecamatan Somba Opu. “DWP percaya kekuatan organisasi bukan hanya pada program kerja, tetapi juga pada kepedulian, kasih sayang, dan kebersamaan dalam berbagi kepada sesama. Insyaallah kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan kita,” tambahnya. Usai kegiatan di Kantor Camat Somba Opu, Bupati Gowa mengunjungi langsung beberapa lokasi penerima bantuan diantaranya keluarga Syamsuddin di Kelurahan Batangkaluku, Nurhidayanti di Kelurahan Bontoramba, serta korban kebakaran Usman Daeng Late di Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu. Salah satu penerima bantuan, Nurhidayanti, mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah daerah, DWP, dan Baznas Kabupaten Gowa. Ia menyampaikan bahwa dirinya akan menerima bantuan bedah rumah, sembako, serta bantuan tunai. “Alhamdulillah kami sangat bersyukur atas bantuan dan kepedulian yang diberikan. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami,” ungkapnya. Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Andy Azis, sejumlah Pimpinan SKPD Lingkup Pemkab Gowa, Camat Somba Opu dan Lurah se-Kecamatan Somba Opu.(NH)

Makassar, Pemuda

Ucapan Terima Kasih Kami Kepada Penguna Jalan AP Pettarani Makassar.

ruminews.id – Ucapan terimakasih kasih banyak kami sampaikan kepada pengendara roda dua atau roda empat yang telah membantu saudara kita yang tertimpa musibah kebakaran pada bulan Ramadan, Tgl 28 Februari 2026, Bantuan saudara telah sampai pada tujuan yakni korban kebakaran sebanyak 37 rumah yang hangus dan satu korban jiwa dampak daripada kebakaran, adapun bentuk mekanisme penyalurannya, yaitu rumah kerumah terdampak kebakaran tersebut dan juga perlu saya sampaikan bahwa ada beberapa rumah yang sudah tidak layak huni. Insyallah sedekahkan yang kalian infaqkan kepada korban bencana bernilai disisi Allah SWT, dan juga Allah telah berfirman dalam Qur’an mengenai tentang sedekah yaitu menekankan pahala berlipat ganda, penyucian harta, dan anjuran berbagi baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Ayat utamanya terdapat dalam Surat Al-Baqarah 261 Yang Artinya. Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. Adapun organisasi yang terlibat dalam Aliansi Mahasiswa Sulbar Kpm-pm Cab. Balanipa ⁠Aspuri Mamuju KPPMT ⁠HMO SULBAR GEMA Kalukku BKPT UINAM  ⁠CAB. Wonomulyo Hipma Bonehau ⁠Cab. Luyo Cab. Polewali ⁠Reinkarnasi ⁠Ipmimm Im3i FKMM Hipermaju ⁠Asrama Zubaer Polman ⁠BKPT UMI Cab. Binuang Maka dari itu kami dari pihak aliansi mengucapkan terimakasih kasih kepada seluruh warga makassar yang telah berpartisipasi dalam memberikan bantuan terhadap saudara kami yang ada Di desa Galung Tulu Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Karna Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Sekian dan terimakasih Wassalam.

Internasional, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Ali Khamenei: Membaca Kolonialisme (Bagian III)

Penulis: Rahmatullah Usman – Buruh Tinta ruminews.id – Ali Khamenei berpesan bahwa perang budaya harus dihadapi! Jelas, aktivitas serangan budaya tak mungkin dihadapi dengan bedil, melainkan oleh pena (2023:21). Oleh karena itu, menulis dan membaca peradaban Islam dan kolonial mesti mempersiapkan senjata kita melalui pena dan pemikiran yang mendalam. Jelas, melawan perang budaya bukan untuk mengutip teks-teks yang telah kita baca. Melainkan, melakukan rekonstruksi terhadap teks tersebut; untuk mempersiapkan diri dalam pertarungan gagasan dan diekspresikan melalui tulisan. Ada kecenderungan manusia atau kelompok untuk mempertahankan keyakinannya dan menghindari pertarungan gagasan. Modusnya, selain mempertahankan gagasan, juga mempertahankan kelompoknya agar gagasan tersebut tetap terjaga. Mereka menolak perbedaan pendapat, karena kekhawatiran dan ketidakmampuannya mempertanggungjawabkan gagasan yang diyakini. Mereka menolak pertarungan gagasan di mimbar publik. Sebab kecenderungan mereka, gagasan hanya bisa diyakini dengan kata kesepakatan di kelompoknya sendiri. Bagi hemat penulis, tidak ada kata kesepakatan secara kolektif dalam ruang gagasan. Ia harus diuji di mimbar publik. Sebab, membaca buku tidak sebercanda itu. Dalam hal ini, Ali Khamenei berwasiat (2023:21); “Saya ingin berwasiat kepada para penulis, pemikir, dan penceramah agar tidak takut terhadap perbedaan pendapat. Mengapa kita harus takut terhadap pendapat yang bertentangan dengan pendapat kita? Sesungguhnya kita adalah ahli logika, bukti, dan dalil. Perkataan kita tidak hanya terarah kepada bangsa kita semata, melainkan ratusan juta muslim dan non-muslim”. Bagi Khamenei, budaya Barat yang memengaruhi kaum Muslim dan memperdaya mereka untuk dibentuk sesuai dengan keinginannya. Barat menyerbu budaya kaum Muslim dengan teknologi dan naskah-naskah yang ditampilkan dengan beragam mode untuk melakukan propaganda. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mengamati cara kerja kolonial ini, dengan melakukan pengamatan yang jeli terhadap serang budaya. Maka unsur yang paling fundamental dalam melakukan parang budaya adalah keterlibatan kaum Muslim terhadap ilmu pengetahuan. “Jika suatu Masyarakat telah membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, niscaya pertahanannya akan lebih kukuh dalam menghadapi serangan musuh. Jika suatu masyarakat memiliki kecenderungan dan keinginan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan, niscaya dirinya akan segera menjalin hubungan dengan negeri dan bangsa lain guna menggali ilmu dari mereka”, tutur Ali Khamenei, (2023:26). Jika kaum Muslim tidak melibatkan dirinya kepada ilmu pengetahuan, maka terus-menerus akan menjadi objek kolonialisme yang siap untuk dibentuk. Kaum Muslim akan menjadi peniru yang siap untuk menerima apa yang Barat telah persiapkan untuk mereka. Sikap peniruan tersebut, akan mengarahkan kaum Muslim untuk tunduk kepada kolonial. Ketika ketundukan itu terjadi, maka Barat dengan mudah untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan melakukan penjajahan secara halus. Konsep peniruan ini, dalam gagasan Homika K. Bhabba merupakan bentuk sarana yang dilakukan kolonialisme untuk menjajah bangsa lain. Istilah yang digunakan sebagai peniru ini adalah mimikri. Dalam pandangan Bhabba, mimikri digunakan untuk melakukan proses peniruan yang dilakukan oleh bangsa atau masyarakat bekas jajahan terhadap bangsa kolonial (2016:147). Peniruan ini dianggap bahwa kolonial sebagai pusat dari identitas, budaya, sistem politik, ekonomi, demokrasi, pendidikan, dan lain sebagainya yang siap untuk ditiru. Kolonial lah sebagai pusat dari kebijakan suatu bangsa, yang akan memberikan kesejahteraan kaum Muslim. Bagi kolonialisme, perubahan kaum Muslim dalam menjalankan roda perubahan zaman harus menurut definisi kolonial dan meniru apa yang mereka lakukan. Kaum muslim dianggap tidak mampu berdiri sendiri untuk memajukan bangsanya. Mereka kaum kolonial, melihat kaum Muslim memiliki cacat bawaan, yang dengannya tidak mampu secara otonomi untuk mengelola bangsanya sendiri. Sikap ini, dianalisis oleh Said dalam rangka membedah cara kolonialisme bekerja; “Jika Islam memiliki (cacat bawaan) karena ketidakmampuannya untuk berkembang dan berubah, maka sang orientalis akan menentang semua upaya Islam untuk memperbarui diri kerena menurut pandangan-pandangan mereka, pembaruan Islam merupakan suatu yang harus ditentang”, (2010:160). Kaharusan penentangan tersebut, disebabkan kolonialisme telah memberikan asumsinya bahwa kaum Muslim tidak memiliki orientasi dan masa depan jika ia sendiri yang melakukan perubahan tanpa bantuan Barat. Modus ini, agar kolonial tetap menjaga jajahannya di dunia Islam untuk menguasai geografisnya. Terlebih lagi, kata Ali Khameneni (2023:56) tujuannya untuk menghapus eksistensi agama kaum Muslim. Maksudnya, kolonialisme bukan untuk menghapus nama agama. Melainkan menyingkirkan makna hakiki agama yang murni. “Boleh jadi sejumlah fenomena keagamaan dibiarkan eksis, namun itu hanyalah sebuah penampilan lahiriah tanpa isi. Agama semacam ini telah tercerabut dari akarnya berupa keimanan yang realistis. Banyak sekali ongkos yang telah dikeluarkan untuk tujuan ini”, tulis Ali Khamenei, (2023:56). Ketika kaum Muslim telah berhasil dijauhkan dari makna hakiki agamanya, maka tidak ada lagi jalan bagi kita untuk melakukan perbaikan masyarakat dan bangsa Islam secara menyeluruh. Bukankah tauhid sebagai prinsip yang mendasar bagi perlawanan terhadap kolonial? Barat telah mengetahui bahwa kekuatan kaum Muslim berasal dari keyakinan agamanya, maka perlu bagi mereka melakukan serangan budaya. Itu lah mengapa, Khamenei berujar di atas bahwa kolonial telah mengeluarkan ongkos yang banyak untuk melakukan serangan budaya. Bagi Ali Khamenei, selain dari ilmu pengetahuan, tauhid juga merupakan bagian paling penting melakukan perlawanan terhadap bangsa kolonial. Tauhid adalah pusat dari segala perlawanan atas perilaku kolonial yang tengah melancarkan serangan budaya. Jika kaum Muslim menjauh dari ajaran agamanya, maka perlawanan terhadap kolonial tidak akan menjadi salah satu bagian dari tujuannya. Dan memang hal itu diinginkan oleh mereka (kolonial). “Islam adalah agama tauhid, sedangkan makna tauhid adalah membebaskan manusia dari belenggu peribadatan kepada segala sesuatu (selain Allah) dan penyerahan diri kepada Allah semata-mata. Tauhid bermakna membebaskan diri dari belenggu semua sistem dan bentuk kekuasaan sewenang-wenang”, tugas Ali Khamenei, (2023:97).

Maros, Olahraga, Pemerintahan, Pemuda

Tradisi Ramadan di Maros: Lomba Jolloro Mini Satukan Warga Dusun Lengkese

ruminews.id, MAROS – Suasana di Dusun Lengkese, Desa Tunikamaseang, Kecamatan Bontoa, tampak berbeda dari biasanya. Pada Minggu, 15 Maret 2026, riuh rendah suara mesin motor kecil memecah kesunyian. Ratusan warga berkumpul bukan untuk bekerja, melainkan untuk menyaksikan perhelatan Lomba Jolloro Mini yang digelar khusus dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadan 1447 H. Kegiatan yang telah dinanti-nantikan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Perahu-perahu kecil hasil rakitan tangan kreatif warga ini beradu kecepatan di lintasan air, menciptakan ketegangan dan pemandangan yang memukau bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Team work sekaligus Ketua umum HPPMI Maros Kom. Unhas-PNUP Muh. Asri menyatakan bahwa “esensi utama dari lomba ini bukanlah sekadar mengejar trofi atau gelar juara. Momentum Ramadan dipilih sebagai waktu yang tepat untuk mempertemukan warga dalam suasana yang penuh kegembiraan.” “Lomba Jolloro Mini ini adalah sebuah kegiatan masyarakat yang bertujuan untuk saling berbagi kebahagiaan. Di hari biasa, banyak warga sibuk bertambak atau bertani. Hari ini, 15 Maret, kita semua berkumpul untuk saling bertemu kembali dalam suasana yang santai dan mempererat silaturahmi sambil menunggu waktu berbuka,” ujarnya. Jolloro sendiri merupakan ikon transportasi air bagi masyarakat di Kabupaten Maros, khususnya di wilayah pesisir seperti Bontoa. Dengan mengadaptasi Jolloro ke dalam bentuk miniatur, warga Desa Tunikamaseang berhasil menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat terus dilestarikan melalui inovasi dan kreativitas pemuda Penonton tidak hanya berasal dari Dusun Lengkese, tetapi juga desa-desa tetangga yang penasaran melihat ketangkasan kendali perahu mini. Kegiatan ini menjadi alternatif hiburan positif bagi remaja. Kemudian dari sektor perekonomian masyarakat, UMKM dan pedagang lokal di sekitar Dusun Lengkese mengalami peningkatan pendapatan berkat keramaian penonton yang hadir. Harapan kedepan kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang lebih besar. Selain sebagai sarana hiburan, Lomba Jolloro Mini diharapkan mampu memupuk rasa bangga generasi muda terhadap identitas daerahnya sebagai masyarakat pesisir yang inovatif dan kompak. Dengan berakhirnya perlombaan, semangat kebersamaan yang tercipta diharapkan terus terjaga hingga Idul Fitri tiba dan seterusnya, menjadikan Dusun Lengkese sebagai contoh dusun yang harmonis dalam menjaga tradisi dan persaudaraan.

Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Takalar

PB HIPERMATA Apresiasi Pemkab Takalar Raih Peringkat 1 SPM Pendidikan di Sulsel

ruminews.id, Takalar – Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (PB HIPERMATA) mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Takalar atas capaian dalam meningkatkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di sektor pendidikan, dari peringkat 23 menjadi peringkat 1 di Sulawesi Selatan. Di bawah kepemimpinan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, Kabupaten Takalar berhasil meraih peringkat pertama capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pendidikan se-Provinsi Sulawesi Selatan dengan predikat Tuntas Madya. Ketua Umum PB Hipermata yang akrab disapa Akbar menilai, capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Takalar dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Keberhasilan tersebut juga menunjukkan adanya sinergi antara pemerintah daerah, tenaga pendidik, serta berbagai pihak yang selama ini turut berkontribusi dalam pembangunan sektor pendidikan di daerah. “Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten Takalar untuk terus berinovasi. Fokus utama ke depan adalah memastikan mutu pendidikan yang berkualitas dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Akbar. Ia juga menambahkan bahwa capaian tersebut tidak boleh berhenti hanya pada aspek peringkat semata, melainkan harus diikuti dengan penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta peningkatan kapasitas tenaga pendidik di seluruh wilayah Kabupaten Takalar. Dengan demikian, peningkatan Standar Pelayanan Minimal benar-benar berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan dan masa depan generasi muda Takalar. Selain itu Ketua PB Hipermata menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra kritis bagi pemerintah kabupaten takalar dalam mengawal setiap kebijakan. Kami memposisikan diri, artinya. Apresiasi harus diberikan ketika pemerintah bekerja dengan baik, namun fungsi kontrol tetap harus berjalan. Dengan demikian, pembangunan di Kabupaten Takalar dapat berlangsung secara sehat, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” Tutupnya.

Scroll to Top