Uncategorized

Uncategorized

Menemukan Kembali NDP sebagai Pondasi Pembaruan Pemikiran Islam

ruminews.id, Makassar — Di ruang pertemuan Hotel LaMacca yang tertata rapi dan beraroma keakraban, semangat intelektual para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali berdenyut. Sore itu, suasana Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur berlangsung dalam atmosfer yang tertib, tenteram, dan penuh kehangatan persaudaraan. Di tengah ruangan yang dihiasi wajah-wajah muda penuh semangat, tampil Andi Ryza Fardiansyah, S.H., M.H., seorang intelektual hukum dan kader HMI, membawakan materi yang menggugah: “Menemukan Kembali NDP sebagai Pondasi Pembaruan Pemikiran Islam.” Dengan langkah mantap dan senyum bersahaja, Andi Ryza membuka pembicaraan. Suaranya tenang, namun sarat keyakinan. Ia berbicara bukan sekadar sebagai akademisi, tetapi sebagai kader yang memahami bahwa Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bukan sekadar dokumen organisasi, melainkan roh intelektual dan moral yang menuntun arah perjuangan HMI di setiap zaman. “NDP,” ujarnya lembut, “bukanlah teks yang harus dihafal, tapi nilai yang harus dihidupi. Ia adalah pondasi pemikiran Islam yang membebaskan, memanusiakan, dan menuntun kita memahami Tuhan melalui kerja dan pengabdian sosial.” Forum terasa hidup dalam kesunyian yang berwibawa. Para peserta menyimak tanpa gaduh; setiap kata yang diucapkan pemateri seolah menyusup ke ruang batin mereka. Tak ada jarak antara pemateri dan peserta hanya ada semangat yang sama untuk menemukan kembali makna perjuangan intelektual dalam bingkai Islam yang progresif. Andi Ryza mengulas bagaimana HMI sejak kelahirannya telah berdiri di antara dua dunia: iman dan ilmu, spiritualitas dan rasionalitas, tradisi dan pembaruan. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan global dari krisis moral hingga penetrasi kapitalisme pemikiran kader HMI harus kembali pada NDP sebagai basis berpikir, bukan sekadar slogan perjuangan. “Jika kita kehilangan NDP,” tegasnya, “kita kehilangan arah. Sebab di sanalah fondasi Islam yang rasional dan humanis bertemu: tauhid, kemerdekaan berpikir, dan tanggung jawab sosial.” Diskusi berjalan hangat. Peserta LK2 yang datang dari berbagai daerah menyimak dengan penuh perhatian, sesekali mencatat, dan kadang tersenyum ketika pemateri menyelipkan kisah kecil tentang perjuangan kader HMI di masa lalu. Keakraban intelektual memenuhi ruangan suasana yang memadukan semangat belajar dan rasa persaudaraan yang tulus. Ketika sesi tanya jawab dimulai, beberapa peserta mengangkat tangan dengan antusias. Pertanyaan-pertanyaan mereka tak sekadar ingin tahu, tetapi mencerminkan kegelisahan intelektual: bagaimana menerjemahkan NDP dalam konteks kekinian, bagaimana menjadikannya panduan di tengah krisis nilai, dan bagaimana Islam bisa terus hidup sebagai kekuatan pembaruan. Andi Ryza menjawab dengan tenang dan bijak. “NDP adalah tafsir dari realitas dan wahyu. Maka setiap zaman, kita dituntut untuk menafsirkannya kembali agar Islam tidak hanya diucapkan, tapi dihidupkan.” Di akhir sesi, suasana ruangan berubah menjadi hening yang khidmat. Tepuk tangan peserta pecah lembut bukan karena formalitas, tapi sebagai tanda hormat pada kejujuran dan keteduhan gagasan yang baru saja mereka dengar. Malam di Hotel LaMacca itu berakhir dalam damai. Beberapa peserta masih bertukar pandangan sambil menikmati secangkir kopi, sementara Andi Ryza dengan hangat menyapa satu per satu peserta yang menghampirinya. Di antara mereka tumbuh rasa yang sama bahwa NDP bukan masa lalu yang usang, tetapi cahaya yang harus terus dinyalakan di tengah zaman yang kian gelap. Dan di ruang itu, HMI kembali menemukan dirinya: organisasi kader yang berpikir dengan iman, berjuang dengan ilmu, dan menapaki jalan pembaruan dengan keikhlasan.

Uncategorized

Filsafat Islam dan Jalan Rasionalitas: Hidupkan Spirit Hikmah di Forum LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam itu, Hotel LaMacca menjadi saksi bagaimana gagasan dan kebijaksanaan berpadu dalam suasana yang hangat dan beradab. Dalam ruang pertemuan yang tertata rapi dan penuh ketertiban, ketenteraman, serta keakraban, para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk bersila dengan wajah penuh perhatian. Di hadapan mereka, tampil Noer Ramadhan La Udu, seorang pemikir muda sekaligus kader HMI yang membawakan materi bertajuk “Filsafat Islam: Dari Hikmah ke Rasionalitas, dari Wahyu ke Ilmu.” Dengan suara yang tenang dan penuh kejelasan, Noer Ramadhan membuka perbincangan tentang hakikat ilmu dalam Islam — bukan sekadar sebagai kumpulan pengetahuan, tetapi sebagai jalan menuju kebijaksanaan (hikmah) yang mengantarkan manusia kepada kebenaran. “Wahyu,” ujarnya lembut, “adalah cahaya yang menuntun akal. Sedangkan rasionalitas adalah cermin yang memantulkan cahaya itu ke dalam kehidupan.” Kata-kata itu menembus keheningan. Para peserta terdiam, larut dalam renungan. Filsafat Islam, yang selama ini mungkin dianggap abstrak dan jauh dari kehidupan, malam itu seolah menjelma menjadi sesuatu yang hidup, hangat, dan relevan. Noer Ramadhan menjelaskan bagaimana peradaban Islam klasik berdiri di atas harmoni antara iman dan akal, antara wahyu dan ilmu. Ia menyinggung tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk mengingatkan bahwa kejayaan Islam lahir dari keberanian berpikir dan keterbukaan terhadap ilmu. “Kita tidak bisa membangun peradaban hanya dengan menghafal masa lalu,” katanya tegas. “Kita harus melanjutkan tradisi berpikir itu menjadikan wahyu sebagai dasar, dan rasionalitas sebagai alat untuk menafsirkan kehidupan.” Forum berjalan begitu tertib. Peserta mendengarkan dengan khidmat, beberapa mencatat dengan tekun, dan sesekali tersenyum ketika pemateri menyelipkan humor ringan tanpa mengurangi bobot pembicaraan. Di sela-sela keseriusan diskusi, suasana keakraban intelektual terasa kental antara pemateri dan peserta, antara generasi yang sama-sama mencintai ilmu dan keindahan berpikir. Sesi tanya jawab menjadi momen reflektif. Pertanyaan-pertanyaan lahir dari kegelisahan yang cerdas: bagaimana filsafat dapat kembali menjadi alat pembebasan, bagaimana wahyu bisa diterjemahkan dalam realitas sosial modern, dan bagaimana rasionalitas Islam berbeda dari sekularisme Barat. Noer Ramadhan menjawab dengan jernih dan rendah hati, menyatukan pandangan klasik dan konteks kontemporer dengan bahasa yang lembut namun bernas. “Ilmu bukan sekadar alat untuk memahami dunia,” tuturnya, “tapi jalan untuk memahami diri dan lewat diri, kita mengenal Tuhan.” Suasana forum berakhir dengan tepuk tangan panjang dan rasa kagum yang tulus. Para peserta bangkit, menyalami pemateri satu per satu. Ada senyum, ada rasa hormat, dan ada kehangatan khas HMI yang selalu mempersatukan pikiran dan persaudaraan. Malam di Hotel LaMacca itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan pelatihan; ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara iman dan intelektualitas, antara nalar dan nurani. Di sanalah para kader HMI belajar bahwa menjadi manusia berilmu berarti menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal, antara spiritualitas dan rasionalitas, antara hikmah dan tindakan. Dan di tengah keheningan setelah forum usai, seolah tersisa satu pesan yang lembut namun kuat dari Noer Ramadhan La Udu: “Belajarlah tidak hanya untuk tahu, tapi untuk menjadi bijak. Karena hikmah adalah cahaya, dan ilmu adalah jalannya.”

Uncategorized

NDP sebagai Kompas Ideologis dan Praksis Islam dalam Arus Globalisasi Ekonomi: Refleksi dari Intermediate Training HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam itu, ruang konferensi Hotel LaMacca kembali dipenuhi suasana yang teduh namun berdenyut dengan semangat intelektual. Para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk berbaris rapi, mencatat, menyimak, dan sesekali saling bertukar pandang penuh keakraban. Dalam forum yang tertib dan hangat tersebut, hadir Fadlun Sangadji, S.T., M.T., membawakan materi bertajuk “NDP sebagai Respon Ideologis dan Praksis terhadap Ekonomi Global.” Dalam pemaparannya, Fadlun Sangadji menegaskan bahwaNilai Dasar Perjuangan (NDP) bukan sekadar dokumen konseptual, melainkan rumusan ideologis yang hidup, lahir dari pergulatan sejarah panjang Himpunan Mahasiswa Islam untuk menemukan jati diri perjuangan Islam dalam konteks modernitas dan globalisasi. Ia menuturkan bahwa NDP pberakar pada ajaran-ajaran pokok Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, menjadi pegangan normatif yang membimbing kader dalam membaca dunia yang terus berubah. “NDP adalah jalan tengah antara keimanan dan rasionalitas. Ia menuntun kader agar tidak hanyut dalam arus global kapitalisme, tapi juga tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Ia adalah ideologi yang bernafas ilmu dan berspirit iman,” ujarnya dengan nada reflektif. Dalam konteks ekonomi global, Fadlun menguraikan bagaimana kapitalisme dan neoliberalisme telah membentuk pola pikir, struktur sosial, hingga arah kebijakan publik. Ia memandang NDP sebagai respon ideologis bukan hanya untuk menolak dominasi ekonomi global, tetapi juga untuk menawarkan alternatif praksis yang menempatkan manusia sebagai subjek perjuangan, bukan sekadar alat produksi. Fadlun kemudian menelusuri konteks historis kelahiran NDP. Ia menyebutkan tahun 1968 sebagai momentum penting, di mana modernisasi diartikan sebagai rasionalisasi, bukan westernisasi. Lalu memasuki tahun 1970, muncul keharusan untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam demi menjawab tantangan integritas umat di tengah perubahan sosial. Dalam pandangan Fadlun, dua hal inilah yang menandai kelahiran NDP sebagai ideologi modern yang berakar pada iman dan ilmu. “Perjuangan universal harus memenuhi dua syarat,” lanjutnya, “yakni keteguhan pada iman ideologi dan ketetapan pada medan perjuangan ilmu yang luas. Tanpa keduanya, perjuangan hanya akan kehilangan arah.” Forum berjalan tertib, hangat, dan penuh keakraban. Para peserta tampak larut dalam suasana intelektual yang menggugah mencatat dengan tekun, bertanya dengan santun, dan berdialog dalam semangat persaudaraan. Tak ada jarak antara pemateri dan peserta; yang ada hanyalah pertukaran gagasan dalam atmosfer keilmuan yang hidup. Di penghujung sesi, tepuk tangan mengalun lembut. Banyak peserta masih tampak enggan meninggalkan ruangan, seolah diskusi itu menyalakan kembali api kesadaran ideologis yang sempat redup di tengah realitas pragmatis. Malam itu, HMI Cabang Makassar Timur kembali menegaskan perannya sebagai laboratorium pemikiran Islam dan perjuangan kemanusiaan. Melalui materi tentang NDP sebagai respon ideologis dan praksis terhadap ekonomi global, para kader disadarkan bahwa perjuangan bukan sekadar melawan ketimpangan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa iman dan ilmu adalah dua sayap untuk terbang di langit peradaban yang semakin kompleks.

Daerah, Makassar, Uncategorized

HMI Korkom Tamalate Gelar FGD Bahas Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan

ruminews.id Makassar — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kordinator Komisariat (Korkom) Tamalate menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan”, Sabtu (25/10/2025), di Aula Kantor BKKBN Sulawesi Selatan, Jalan A.P. Pettarani, Kota Makassar. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga unsur penting, yakni perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, dan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Makassar. FGD ini menjadi ajang diskusi lintas sektor untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan pemuda dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang responsif terhadap tantangan zaman, terutama di era digital. Ketua HMI Korkom Tamalate dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang dialog antara pemuda dan pembuat kebijakan agar gagasan pemuda dapat lebih didengar dan diakomodasi dalam proses pembangunan daerah. “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Kita harus terlibat aktif, menyampaikan ide, dan menjadi mitra strategis pemerintah serta DPRD dalam membangun kota yang berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan Dispora Kota Makassar, dalam pemaparannya menekankan pentingnya mengoptimalkan peran talenta muda untuk mendukung inovasi dan transformasi digital di sektor pemerintahan. “Kami melihat banyak anak muda Makassar yang memiliki kemampuan digital luar biasa. Pemerintah kota terbuka terhadap kolaborasi dengan komunitas dan organisasi kepemudaan untuk memperkuat layanan publik berbasis teknologi,” ujarnya. Dari sisi legislatif, anggota DPRD Kota Makassar yang turut hadir menyebutkan bahwa lembaga DPRD sangat terbuka terhadap aspirasi dan masukan dari generasi muda, khususnya terkait perencanaan program prioritas daerah. “DPRD membutuhkan perspektif baru dari pemuda agar kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Forum seperti ini penting untuk menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan wakil rakyat,” katanya. Sedangkan perwakilan DPD KNPI Kota Makassar menegaskan bahwa sinergitas tiga pilar tidak hanya sebatas wacana, tetapi harus diwujudkan dalam langkah konkret melalui kolaborasi berkelanjutan. “Pemuda memiliki energi dan kreativitas, sementara pemerintah dan DPRD memiliki kewenangan dan kebijakan. Jika ketiganya bersinergi, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya visi, tapi kenyataan,” tegasnya. Kegiatan berlangsung interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan antara peserta dan narasumber. Para peserta berharap hasil dari FGD ini dapat menjadi rekomendasi bersama untuk mendorong sinergitas tiga pilar dalam membangun Kota Makassar yang lebih maju, transparan, dan inklusif.

Berau, Gowa, Hukum, Uncategorized

Gali Emas di Tanah Sendiri, Warga Gowa Terancam 5 Tahun Penjara: Kilau Harapan yang Berujung Petaka

ruminews.id, Gowa — Harapan warga untuk memperbaiki nasib justru berubah menjadi ancaman hukum. Sebuah tambang emas di Kabupaten Gowa digerebek Polres Gowa karena diduga melakukan penambangan emas ilegal di lahan mereka sendiri. Aktivitas Tambang Tradisional, Masuk Jerat Hukum Penambangan dilakukan secara tradisional dengan alat sederhana. Meski tampak sebagai usaha kecil untuk mencari rezeki, kegiatan ini termasuk pelanggaran hukum berat. “Prediksi kami, tambang ini sudah beroperasi satu hingga dua bulan,” ungkap pihak kepolisian saat penggerebekan. Penyelidikan menunjukkan bahwa para warga menggali tanah mereka sendiri untuk menemukan butiran emas, tanpa izin resmi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, setiap orang yang menambang tanpa izin dapat dijatuhi hukuman penjara hingga lima tahun dan denda hingga Rp100 miliar. Dampak Lingkungan dan Ancaman Hukum Polisi menegaskan aktivitas tambang ilegal tidak hanya merugikan negara, tetapi juga berisiko besar bagi lingkungan. “Selain merusak alam, kegiatan ini bisa menimbulkan longsor dan pencemaran air. Kami akan menindak tegas siapa pun yang terlibat,” tegas petugas kepolisian. Saat ini, lokasi tambang telah ditutup, dan aparat mengimbau masyarakat agar tidak tergiur oleh janji keuntungan cepat dari aktivitas tambang ilegal. Pelajaran Pahit dari Kilau Emas Kilau emas yang semula dianggap berkah kini berubah menjadi jerat hukum yang menakutkan. Di balik setiap butir emas yang berkilau, tersimpan pelajaran pahit tidak semua yang bersinar membawa keberuntungan.

Uncategorized

Teologi Pembebasan dan Suara Umat Tertindas di Forum LK2 Tingkat Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di ruang pertemuan Hotel LaMacca, sore itu udara terasa teduh dan penuh makna. Cahaya lampu yang lembut berpadu dengan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, ketika puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur menyimak dengan khusyuk kehadiran sosok yang dikenal luas di kalangan aktivis Islam progresif Rahmatullah Usman, kader HMI dan aktivis nasional yang dikenal pula sebagai NDPers. Dengan tenang, ia membuka materinya yang bertajuk “Teologi Pembebasan: Islam dan Umat Tertindas.” Suaranya tidak meninggi, tapi bergetar dengan kekuatan moral dan spiritual yang dalam. Setiap kalimat mengandung api perjuangan dan kelembutan iman yang menyatu. “Islam,” ucapnya perlahan, “tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah penindasan, dan sejak awal membawa pesan yang jelas membebaskan manusia dari segala bentuk kezaliman, baik ekonomi, politik, maupun batin.” Ruangan seketika hening. Para peserta seperti tersihir oleh kesungguhan kata-kata itu. Tak ada suara selain napas yang tertahan dan bunyi pena yang mencatat. Dalam forum itu, agama tak lagi dipandang sebagai sekadar keyakinan pribadi, tetapi sebagai gerak sosial, sebagai kekuatan moral yang menolak tunduk pada struktur penindasan. Rahmatullah berbicara tentang teologi pembebasan sebagai bentuk perlawanan yang berakar pada nilai-nilai Islam, nilai keadilan (‘adl), kesetaraan (musawah), dan kemanusiaan (insaniyah). Ia menyinggung bagaimana umat hari ini sering kali dijauhkan dari kesadaran kritis oleh sistem yang menindas dengan lembut: kapitalisme, oligarki, dan kekuasaan yang memperalat agama. “Ketika agama dijadikan alat legitimasi kekuasaan,” katanya menatap peserta satu per satu, “maka tugas kita sebagai kader HMI adalah mengembalikannya kepada ruh pembebasan. Islam bukan untuk menguatkan singgasana, tapi untuk menegakkan keadilan.” Peserta LK2 dari berbagai cabang tampak larut dalam perenungan. Di antara mereka, ada yang menunduk diam, ada pula yang mengangguk pelan seolah menyetujui setiap makna. Forum itu tak hanya menjadi ruang diskusi, tapi ruang pertemuan spiritual tempat iman dan intelektual bertaut dalam kesadaran kemanusiaan. Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan mengalir tajam tapi santun. Rahmatullah menjawab dengan gaya seorang sahabat, bukan pengajar; ia menanggapi bukan untuk menggurui, melainkan untuk menghidupkan percakapan. Keakraban terpancar dari setiap senyum dan tepuk bahu, menandakan bahwa HMI bukan sekadar organisasi, tapi keluarga ideologis yang tumbuh bersama nilai-nilai pembebasan. “Kita harus belajar dari sejarah Nabi,” tuturnya menutup sesi. “Bahwa Islam hadir bukan di istana, tapi di jalanan bersama buruh, bersama fakir miskin, bersama mereka yang tertindas. Karena dari sanalah kebenaran sejati memantulkan cahaya.” Tepuk tangan panjang pun menggema, tidak riuh, tapi sarat rasa hormat. Para peserta berdiri, menyalami pemateri dengan senyum penuh kagum. Malam di Hotel LaMacca menjadi saksi lahirnya kesadaran baru: bahwa menjadi kader HMI berarti menjadi pembela kemanusiaan bukan dengan kemarahan, tapi dengan ilmu, iman, dan cinta terhadap sesama. Di sudut ruangan, kopi masih mengepul, tawa kecil menyelingi obrolan ringan. Tapi di balik semua itu, setiap kepala muda tahu, sesuatu telah tumbuh di dalam dirinya: kesadaran bahwa Islam sejati adalah pembebasan dan manusia beriman adalah manusia yang melawan ketidakadilan.

Uncategorized

Menafsir Manusia dan Kebudayaan: Andi Rahmat Munawar Gugat Kesadaran Sejarah di Forum LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca berjalan dengan kelembutan intelektual yang jarang dijumpai. Lampu-lampu ruangan berpendar hangat, menciptakan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban di antara para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Di hadapan mereka, tampil sosok yang tenang namun berwibawa, Andi Rahmat Munawar, S.Sos., M.Si., membawakan materi bertajuk “Manusia dalam Tafsir Kebudayaan Lokal.” Dari awal pembicaraannya, Andi Rahmat tak sekadar memaparkan teori. Ia menuturkan sejarah seperti kisah hidup yang mesti dihadapi dengan kejujuran. Dengan suara yang teduh, ia mengingatkan: “Kita harus jujur pada sejarah. Indonesia bukanlah kelanjutan dari Majapahit, tapi hasil penyatuan kultur atau lebih tepatnya, Hindia Belanda jilid dua. Artinya, wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda itulah yang kemudian disatukan menjadi Indonesia hari ini.” Kalimat itu mengalir pelan, tapi mengguncang kesadaran. Para peserta LK2 terdiam sejenak, menatap pemateri dengan pandangan penuh renung. Di ruang itu, sejarah terasa hadir  bukan sebagai pelajaran beku, tapi sebagai cermin yang memantulkan wajah bangsa dengan segala luka dan harapannya. Andi Rahmat melanjutkan bahwa manusia dalam tafsir kebudayaan lokal bukan sekadar makhluk sosial yang hidup dalam ruang, melainkan bagian dari jaringan nilai, simbol, dan bahasa yang membentuk identitasnya. Ia menjelaskan bahwa memahami manusia Indonesia berarti memahami pluralitas budaya yang hidup, dari sabang hingga merauke, dari nilai lokal hingga semangat kolektif yang menyatukan. “Kebudayaan lokal,” katanya, “adalah cara manusia menegosiasikan dirinya dengan sejarah dan ruang hidupnya. Dari situ lahir rasa, lahir bahasa, lahir nilai-nilai yang membuat kita mengerti siapa diri kita.” Suasana forum begitu damai. Peserta dari berbagai cabang HMI tampak larut dalam suasana dialog yang akrab. Ada yang sibuk menulis catatan, ada pula yang mengangguk pelan setiap kali pemateri mengaitkan tafsir kebudayaan dengan identitas manusia Indonesia yang kompleks dan majemuk. Dalam suasana yang tertib dan saling menghargai, diskusi berkembang menjadi refleksi. Tak ada perdebatan yang panas, hanya pertukaran gagasan yang jernih. Seolah-olah malam di Hotel LaMacca menjelma menjadi ruang kontemplatif tempat akal dan nurani bertemu. Ketika sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta menyampaikan pandangan tentang bagaimana budaya lokal kini bergulat dengan modernitas. Andi Rahmat menanggapinya dengan bijak, menegaskan bahwa modernitas tidak semestinya menghapus kearifan lokal, tetapi justru menghidupkannya kembali dalam konteks baru. “Kita tidak sedang menolak masa kini,” ujarnya lembut, “kita hanya ingin memastikan bahwa akar kita tidak tercabut dari tanah yang menumbuhkan.” Tepuk tangan panjang mengakhiri sesi. Suara tepukan itu terdengar bukan sekadar bentuk apresiasi, tapi seperti tanda sepakat bahwa kejujuran pada sejarah dan penghormatan pada kebudayaan adalah dua hal yang harus kembali menjadi fondasi kesadaran bangsa. Di malam itu, di bawah cahaya hangat lampu Hotel LaMacca, HMI Makassar Timur tidak hanya berdiskusi tentang kebudayaan; mereka sedang memupuk kembali makna menjadi manusia Indonesia  manusia yang jujur pada sejarahnya, bangga pada budayanya, dan sadar pada tanggung jawabnya di masa depan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan, Uncategorized

Membaca Tubuh dan Tenaga: Sri Wulandari Bedah Relasi Eksploitasi Ganda dalam Kapitalisme dan Gender di LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca terasa hening namun berdenyut oleh semangat pengetahuan. Dalam ruangan berbalut hijau identitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), para kader dari berbagai daerah berkumpul dalam Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur, menandai satu babak penting dalam perjalanan intelektual mereka. Malam itu, suasana forum yang tertib, tenteram, dan penuh keakraban menjadi saksi hadirnya sosok pemateri yang menggugah kesadaran: Sri Wulandari, dengan tema “Kapitalisme dan Gender: Relasi Eksploitasi Ganda dalam Sistem Produksi dan Reproduksi.” Dengan tutur yang tenang namun penuh daya renung, Sri membuka materinya dengan kalimat sederhana namun tajam, “Gender bukanlah properti individu, ia adalah proses sosial yang hidup bergerak, berubah, dan bekerja dalam ruang kehidupan manusia.” Kata-katanya meluncur seperti aliran sungai yang menghapus kabut kebingungan di benak peserta. Ia menguraikan bahwa pengalaman gender tidaklah tunggal, melainkan berlapis-lapis, berubah sesuai usia, status sosial, dan konteks hidup. Dalam sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan dan otoritas, perempuan dan kelompok rentan lainnya seringkali menjadi korban dari eksploitasi ganda baik dalam sistem produksi ekonomi maupun reproduksi sosial di ranah domestik. “Patriarki,” ujar Sri dengan nada lembut namun menusuk, “tidak hanya hidup di rumah tangga, tapi juga di tempat kerja, di ruang politik, bahkan di dalam pikiran kita sendiri.” Forum seketika menjadi ruang refleksi. Para peserta, baik laki-laki maupun perempuan, tampak larut dalam pemahaman baru tentang relasi sosial yang selama ini tersembunyi di balik norma dan kebiasaan. Suasana yang tertib dan khusyukmembuat setiap kalimat pemateri menggema dalam kesadaran kolektif. Sri kemudian mengaitkan gagasan gender dengan kapitalisme, menyebut bahwa kapitalisme bukanlah sekadar sistem, melainkan sesuatu yang “dikerjakan dan dihidupi manusia setiap hari.” Dalam relasi ini, tubuh perempuan menjadi bagian dari rantai kerja yang tak pernah terlihat dari dapur rumah tangga hingga pabrik, dari ruang kelas hingga ruang reproduksi sosial. “Kapitalisme,” ujarnya, “berdiri di atas kerja yang tak dibayar dan tenaga yang tak diakui.” Suasana forum kian hidup ketika sesi dialog dibuka. Peserta mengajukan pertanyaan dengan semangat kritis, sementara Sri menjawab dengan kesabaran dan empati. Tidak ada perdebatan keras; hanya pertukaran makna yang menumbuhkan kesadaran baru. Tatapan-tatapan yang semula penuh tanya kini berubah menjadi pancaran tekad untuk memahami perjuangan sosial dari sisi yang lebih manusiawi. Menjelang akhir sesi, Sri menutup dengan kalimat yang meresap ke dalam ruang:“Jalan pembebasan sosial tidak hanya tentang menggulingkan struktur ekonomi, tetapi juga membebaskan cara kita memandang tubuh, kerja, dan martabat manusia. Sebab pembebasan sejati lahir ketika keadilan tumbuh di antara relasi yang setara.” Tepuk tangan mengalun lembut, disertai senyum dan kehangatan antar peserta. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi lebih dari sekadar forum pelatihan, ia menjelma menjadi ruang pembebasan pikiran, tempat kader HMI belajar bahwa perjuangan melawan ketidakadilan bukan hanya soal politik dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manusia saling memahami dalam kemanusiaannya yang paling dalam. Dan di ruangan yang tenteram itu, terpatri satu kesadaran baru: bahwa perjuangan sosial tidak akan pernah utuh tanpa keadilan gender, tanpa keberanian melihat bahwa tubuh, kerja, dan cinta pun bisa menjadi medan pembebasan.

Ekonomi, Hukum, Pemerintahan, Uncategorized

Bea Cukai Ingatkan, Beli atau Hisap Rokok Ilegal Bisa Kena Penjara❗️

ruminews.id, Bogor – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak main main dengan rokok ilegal. Kepala Kanwil DJBC Jawa Barat, Finari Manan, menegaskan bahwa bukan hanya produsen atau penjual, tapi pembeli hingga pengguna rokok ilegal pun bisa dijerat hukum berat. Sesuai Pasal 54 Undang-Undang Bea Cukai, siapa pun yang mengedarkan, menimbun, membeli, bahkan mengonsumsi rokok ilegal bisa dipidana penjara hingga 5 tahun atau didenda Rp200 juta, tegas Finari seusai pemusnahan jutaan batang rokok ilegal di Bogor, Selasa (21/10/2025). Finari menekankan, sanksi ini adalah bentuk ketegasan negara terhadap pelanggaran cukai. Semua pihak yang ikut menikmati hasil dari peredaran rokok tanpa pita cukai resmi akan dikenakan hukuman yang sama, ujarnya. Dalam kesempatan itu, Finari juga mengungkapkan bahwa Cirebon menjadi daerah dengan peredaran rokok ilegal terbesar di Jawa Barat, disusul Purwakarta, dan Bogor yang kini masuk dalam zona pengawasan ketat Bea Cukai. Bogor termasuk daerah yang kami awasi ketat. Kalau di Jabar, yang terbesar masih Cirebon, lalu Purwakarta, jelasnya. Bea Cukai menargetkan penindakan terhadap 78,5 juta batang rokok ilegal di wilayah Jawa Barat sepanjang tahun ini. Angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas distribusi rokok tanpa pita cukai di berbagai kabupaten dan kota. Upaya ini bukan sekadar penindakan, tapi juga edukasi agar masyarakat paham bahwa membeli rokok ilegal sama saja mendukung tindak pidana, tutup Finari,

Uncategorized

Semangat Baru SEMA PTIQ! Arya Putra Fertana & Abdul Wahid Siap Melangkah Bersama Mahasiswa

ruminews.id – Universitas PTIQ Jakarta tengah berada di puncak semangat demokrasi mahasiswa melalui Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) 2025. Momen ini menjadi ajang bagi seluruh mahasiswa untuk menentukan arah baru kepemimpinan Senat Mahasiswa (SEMA). Dalam kontestasi tersebut, pasangan nomor urut 02 – Arya Putra Fertana & Abdul Wahid, hadir dengan semangat baru dan visi besar “Mengubah Aspirasi Menjadi Aksi.”Keduanyamembawa semangat perubahan yang berfokus pada pemberdayaan mahasiswa, transparansi, serta modernisasi sistem advokasi kampus yang lebih terbuka dan solutif. Visi Menjadikan Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas PTIQ Jakarta yang responsif dan progresif dalam memberdayakan aspirasi mahasiswa melalui peningkatan advokasi berbasis modern. Demi mewujudkan PTIQ yang unggul, berkarakter, serta menjunjung tinggi nilai independensi dan profesionalitas. Misi Memperkuat fungsi pengawasan dan legislasi internal untuk melindungi hak mahasiswa dengan profesionalitas dan independensi. Membangun sistem komunikasi digital modern agar aspirasi mahasiswa tersampaikan dengan cepat dan transparan. Meningkatkan kapasitas mahasiswa melalui pelatihan dan forum konstruktif agar aktif dalam pengambilan keputusan. Menjalin kemitraan strategis dengan universitas dan organisasi mahasiswa lain untuk menciptakan lingkungan akademik yang suportif dan berkarakter. Program Unggulan Arya & Wahid SAPA UPTIQ (Suara Aspirasi & Pengaduan) Wadah digital terbuka untuk menampung aspirasi, saran, dan aduan mahasiswa secara cepat, transparan, dan responsif. DIKTIF (Diskusi Aktif) Forum interaktif rutin untuk membangun budaya diskusi kritis, ilmiah, dan solutif antar mahasiswa. SEMA Leadership Bootcamp Program pelatihan kepemimpinan dan penguatan organisasi mahasiswa, meliputi: • Latihan Dasar Organisasi (LDO) • Pelatihan Pengujian Undang-Undang (Judicial Review) • Pelatihan Legislasi Nasional Parlemen Mahasiswa Nusantara (PMN) Program kolaborasi antaruniversitas untuk memperluas jejaring dan memperkuat peran mahasiswa PTIQ di tingkat nasional. Mahkamah Mahasiswa UPTIQ Lembaga etik mahasiswa untuk menjaga nilai keadilan, transparansi, dan integritas di lingkungan kampus. Melalui visi, misi, dan program unggulannya, Arya Putra Fertana & Abdul Wahid berkomitmen menghadirkan SEMA yang lebih terbuka, partisipatif, dan profesional. “Kami ingin membawa semangat baru di SEMA, agar mahasiswa tidak hanya bersuara, tetapi juga berdaya dan berperan dalam perubahan nyata,” ujar Arya Putra Fertana. Dengan semangat kolaborasi dan kepemimpinan muda yang visioner, pasangan nomor urut 02 siap menjadi jembatan antara aspirasi dan aksi nyata bagi seluruh mahasiswa PTIQ Jakarta. Pilih Nomor Urut 02 – Arya Putra Fertana & Abdul Wahid. Mengubah Aspirasi Menjadi Aksi! Instagram: @leaders2025.id

Scroll to Top