Nasional

Nasional, Uncategorized

Dari Dermaga ke Bangku Sekolah: Harapan Buruh Pelabuhan Indonesia

SURAT TERBUKA Kepada Yth. Presiden Republik Indonesia Bapak H. Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Gibran Rakabuming Raka Di Tempat Perihal: Dukungan Penuh Presiden dan Wakil Presiden terhadap Program “BURUH SEKOLAH & BURUH SARJANA” untuk Buruh Pelabuhan Indonesia Dengan hormat, Melalui surat terbuka ini, kami dari Aliansi Nasional Pekerja Pelabuhan Indonesia menyampaikan aspirasi dan harapan besar kepada Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, agar berkenan memberikan dukungan penuh terhadap program “Buruh Sekolah & Buruh Sarjana”, sebagai bagian dari komitmen negara dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup buruh pelabuhan di seluruh Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama, buruh pelabuhan memiliki peran vital dalam menjaga kelancaran distribusi barang, logistik nasional, serta stabilitas ekonomi Indonesia. Namun di balik peran penting tersebut, masih banyak buruh pelabuhan yang menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam hal akses terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Melalui program “Buruh Sekolah & Buruh Sarjana”, kami meminta agar negara hadir melalui kebijakan nyata dan menyeluruh, antara lain : 1. Penyediaan kuota pendidikan khusus bagi buruh pelabuhan dan keluarganya melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Sekolah Rakyat. 2. Jaminan pendidikan dasar dan menengah bagi buruh yang belum lulus sekolah. 3. Peluang melanjutkan pendidikan tinggi hingga sarjana, khususnya bagi buruh dan anak-anak buruh yang berprestasi. 4. Program sertifikasi profesi dan pelatihan keterampilan bagi buruh pelabuhan untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing kerja. Kami percaya, peningkatan kesejahteraan buruh tidak cukup hanya dengan bantuan ekonomi, tetapi harus dimulai dari pendidikan dan pengakuan kompetensi. Dengan memberikan akses pendidikan yang merata, buruh pelabuhan akan memiliki masa depan yang lebih baik dan layak dalam sistem ekonomi nasional yang makin kompleks dan modern. Kami juga mendorong agar program ini menjadi bagian dari program prioritas nasional, dengan kolaborasi lintas kementerian, terutama Kementerian Pendidikan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Perhubungan, serta dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku usaha pelabuhan. Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, besar harapan kami agar Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden mendengarkan suara buruh pelabuhan dan mengambil langkah konkret untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan kesejahteraan dan kemajuan bersama. Atas perhatian dan komitmen Bapak Presiden dan Wakil Presiden, kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, Aliansi Nasional Pekerja Pelabuhan Indonesia ttd Subhan Hadil – Koordinator Aliansi Nasional Pekerja Pelabuhan Indonesia & Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia

Daerah, Makassar, Nasional, Pemerintahan

Reformasi Polri Dinilai Kewajiban, HMI Koorkom UNM Menyebut DPR RI Adalah Dalangnya

ruminews.id, Makassar – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menegaskan sikap kritisnya terhadap institusi kepolisian. Dalam aksi unjuk rasa di depan Menara Phinisi UNM, Jalan A. P. Pettarani, Makassar, pada Jumat (29/8/2025), massa yang dipimpin oleh Formatur Ketua Umum HMI Koorkom UNM, Azmi Laitupa, menekankan bahwa reformasi Polri bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Azmi menilai berbagai persoalan yang muncul akibat tindakan aparat kepolisian tidak dapat lagi ditutupi dengan istilah “oknum”. Menurutnya, perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh dari dalam tubuh kepolisian. “Reformasi Polri hari ini bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban. Sampai kapan kita mau terus dibohongi dengan istilah ‘oknum’? Institusi ini harus berubah dari akarnya, bukan sekadar cuci nama,” tegas Azmi dalam orasi di hadapan massa aksi. Dalam aksi yang diwarnai pemblokadean jalan itu, HMI Koorkom UNM juga menyampaikan kecaman keras terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Jenderal Lapangan, Muh. Aslan, menegaskan bahwa DPR adalah aktor utama di balik kekacauan hukum dan tindakan represif aparat. “Hari ini, kita semua tahu siapa dalang dari hancurnya demokrasi. Bukan hanya aparat, tapi DPR-lah penyebabnya. Mereka melahirkan kebijakan yang membiarkan aparat bertindak sewenang-wenang. Inilah Dewan Pengkhianat Rakyat yang akan terus menjadi biang kehancuran negeri ini,” kata Aslan. Menurut massa aksi, DPR tidak sekadar lalai, melainkan menjadi sumber persoalan karena regulasi dan sikap politiknya yang dianggap membuka ruang bagi kekerasan aparat. Bagi mahasiswa, selama DPR masih bersikap demikian, tuntutan reformasi kepolisian tidak akan pernah benar-benar terwujud.

Daerah, Gowa, Hukum, Kriminal, Nasional

Stop Represif, Tegakkan Fungsi Polri: Copot Kapolda Sulsel, Kapolres Takalar, dan Kapolres Bone!

ruminews.id – Gowa, 28 Agustus 2025 – Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kabupaten Gowa menyoroti maraknya tindakan represif aparat kepolisian di Sulawesi Selatan. Aparat yang seharusnya menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat justru memperlihatkan sikap arogan dan tidak humanis dalam mengawal aksi-aksi rakyat. Kronologi Kejadian Kabupaten Bone Massa aksi mahasiswa dan masyarakat yang menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Bone mendapatkan perlakuan represif dari aparat kepolisian. Kabupaten Takalar Saat petani melakukan aksi protes terhadap kegiatan panen yang dilakukan oleh PTPN IV Takalar, aparat kepolisian yang melakukan pengamanan justru membubarkan aksi secara arogan dan tidak humanis. Alih-alih melindungi rakyat, aparat justru memihak pada korporasi dan menekan masyarakat yang sedang memperjuangkan haknya. Kasus Penggerebekan di Bone Selain pembubaran aksi, terdapat peristiwa penggerebekan yang dilakukan oknum aparat di sebuah toko tani di Kabupaten Bone. Berdasarkan informasi yang dihimpun (sumber: Teropong Sulsel), oknum aparat diduga melakukan pemerasan terhadap pemilik toko. Dua hari setelah kejadian tersebut, ayah pemilik toko mengalami stroke dan serangan jantung hingga meninggal dunia. Tuntutan Atas berbagai peristiwa tersebut, SAPMA PP Gowa menyatakan sikap tegas: Mendesak Kapolri segera mencopot Kapolda Sulawesi Selatan karena gagal mengendalikan aparat di wilayahnya. Mendesak Kapolres Bone segera dicopot karena dinilai arogan dan tidak humanis dalam menangani aksi mahasiswa dan masyarakat di Kantor Bupati Bone. Mendesak Kapolres Takalar segera dicopot karena dinilai arogan dan tidak humanis dalam menangani aksi petani di Takalar. Menghentikan segala bentuk tindakan represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa, petani, dan masyarakat. Melakukan evaluasi menyeluruh internal Polri agar kembali pada marwahnya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Ketua SAPMA PP Gowa, Sigit, menegaskan bahwa kasus-kasus tersebut menunjukkan wajah buruk kepolisian di Sulawesi Selatan. “Kami menilai Polri semakin menjauh dari marwahnya sebagai pengayom rakyat. Jika Kapolda Sulsel, Kapolres Bone, dan Kapolres Takalar tidak segera dicopot, maka citra Polri akan semakin runtuh di mata masyarakat,” tegas Sigit. Jenderal Lapangan, Muh. Al- Lail Qadri, menekankan bahwa aksi yang digelar saat ini merupakan pra kondisi untuk konsolidasi gerakan yang lebih besar. “Hari ini kami turun sebagai aksi pra kondisi. Kami pastikan akan kembali turun dengan massa yang lebih besar bila tuntutan ini tidak ditindaklanjuti. Stop represif, tegakkan fungsi Polri!” ujar Muh. Al- Lail Qadri. Sementara itu, Koordinator Mimbar, Haidir, menambahkan bahwa rakyat sudah cukup lama menjadi korban dari sikap arogan aparat. “Kami di sini bukan hanya bicara soal mahasiswa, tetapi juga soal petani, masyarakat kecil, dan rakyat yang terus ditindas. Polri harus sadar, mereka digaji oleh rakyat untuk melayani, bukan untuk menindas,” tegas Haidir. SAPMA PP Gowa menegaskan bahwa demokrasi hanya bisa berjalan jika aparat menjunjung tinggi prinsip humanis, profesional, transparan, dan akuntabel. Jangan biarkan Polri menjadi alat represi yang menakutkan rakyat. Stop Represif! Tegakkan Fungsi Polri! Copot Kapolda Sulsel, Kapolres Bone, dan Kapolres Takalar!

Internasional, Jakarta, Nasional, Pendidikan

PB HMI Tegaskan Sikap Internasional, Jalin Persahabatan dengan Kedubes Iran

ruminews.id, Jakarta – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melalui Bidang Hubungan Internasional melakukan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia. Pertemuan berlangsung pada Senin (25 Agustus 2025) di Kantor Kedutaan Besar Iran, Menteng, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan mengutus Ketua Bidang Hubungan Internasional, Muhammad Arsyi Jailolo, bersama jajaran Bidang Hubungan Internasional (HI) PB HMI. Rombongan diterima langsung oleh Dr. Mohammad Reza Ebrahimi, Konselor Kebudayaan Kedubes Iran. Diskusi berjalan dengan suasana intens namun penuh keakraban. Kedua pihak menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kerja sama yang erat, khususnya di bidang kepemudaan, kebudayaan, serta pendidikan. PB HMI menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk mengambil peran aktif dalam praktik soft diplomacy, dengan menjadikan mahasiswa sebagai agen perdamaian, persahabatan, dan kerja sama antarbangsa. Selain membahas kerja sama ke depan, pertemuan juga menyinggung situasi global, termasuk konflik yang masih berlangsung di Palestina. PB HMI menyampaikan dukungan penuh kepada perjuangan rakyat Palestina serta menegaskan kembali bahwa Israel bukanlah negara yang sah dan telah melakukan tindakan keji terhadap rakyat Palestina. Sikap ini sejalan dengan semangat persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) yang dipegang teguh PB HMI. Melalui pertemuan ini, PB HMI menyatakan kesiapan untuk terus mempererat hubungan dengan masyarakat dan institusi Iran, baik melalui jalur mahasiswa, pemuda, maupun perwakilan resmi Pemerintah Iran di Indonesia. Harapannya, inisiatif ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun jejaring internasional yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Nasional, Pendidikan

HMI Cabang Makassar Timur Terima Tanah Wakaf, Momentum Baru Perjuangan Kaderisasi

ruminews.id, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur kembali mengukir jejak sejarah perjuangan. Pada Rabu, 27 Agustus 2025. HMI Maktim resmi menerima sebidang tanah wakaf yang akan dijadikan basis perjuangan sekaligus sekretariat organisasi. Tanah wakaf ini diberikan oleh Kanda Sakkir Hanafi, alumni HMI Maktim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, yang kini juga dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni FKM Unhas. Lahan seluas 165 meter persegi di Kampung Parang, dekat Perumahan Dosen Unhas, bukan sekadar sebidang tanah biasa. Bagi kader HMI, tanah ini adalah modal juang yang akan memperkokoh oleh kaderisasi, menjadi ruang dialektika intelektual, dan pusat konsolidasi gerakan. Ketua HMI Cabang Makassar Timur, Muhammad Zulfikar Ridha, menegaskan bahwa wakaf ini adalah amanah besar yang harus dijaga oleh segenap kader. “Wakaf ini bukan hanya tanah, tapi simbol perjuangan. Ia adalah amanah dan modal juang yang harus kita kelola secara visioner demi memastikan estafet kaderisasi dan pergerakan intelektual HMI Maktim terus berlanjut,” ujar Zulfikar. Saat ini, akta wakaf sedang dalam proses pengurusan di Kementerian Agama sebelum kemudian diajukan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk penerbitan sertifikat resmi. Sekretariat di atas tanah wakaf tersebut direncanakan akan mulai dibangun usai pelaksanaan Latihan Kader II (Intermediate Training) pada 22 September 2025. Pada momentum Intermediate Training itu, HMI Cabang Makassar Timur juga akan menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, yang dijadwalkan menyerahkan langsung sertifikat tanah wakaf. Kehadiran Nusron, yang juga merupakan alumni HMI, menjadi bukti bahwa sinergi kader dan alumni adalah bagian dari kekuatan perjuangan. Turut hadir dalam momentum bersejarah ini, mantan Ketua Umum Badko HMI Sulselbar periode 2021–2023, Andi Ikram Rifqi, yang menekankan bahwa wakaf ini adalah strategi jangka panjang bagi keberlangsungan perkaderan. “Ini bukan sekadar wakaf, ini adalah langkah strategis untuk mengokohkan kaderisasi. Semoga tanah wakaf ini menjadi amal jariyah bagi pemberinya sekaligus penguat jalan juang kader HMI Maktim di masa depan,” ujar Ikram. Penulis : Ahmad Fauzan Suneth

Nasional, Opini

Pajak Melonjak, Kepercayaan Runtuh: Membaca Gejolak Fiskal dari Pati ke Daerah Lain

ruminews.id, Bayangkan Anda berdiri di loket pajak daerah. Dokumen rumah di tangan sama persis dengan tahun lalu: tak ada renovasi besar, tak ada lantai baru, bahkan cat dinding pun masih mengelupas di sudut-sudutnya. Namun, ketika petugas menyerahkan bukti pembayaran, angka di lembar itu membuat lutut goyah: pajak melonjak hingga sepuluh kali lipat. Bukan 10 persen, bukan 100 persen, melainkan 1000 persen. Pati, Jawa Tengah, sudah lebih dulu menjadi panggung kemarahan warga. Di alun-alun, ribuan orang berorasi, memprotes Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang melonjak dari Rp179 ribu menjadi Rp1,3 juta. Buntutnya, 34 orang terluka, 11 orang ditangkap, dan DPRD membentuk Panitia Khusus Hak Angket. Kini, kabar serupa datang dari Cirebon, Jombang, Bone, dan daerah lain. Lonjakan fantastis 250%, 300%, hingga 1.200% membuat rakyat kaget, bingung, dan merasa dikhianati. Fenomena yang Meluas: Dari Pati ke Cirebon dan Jombang Data yang berserakan di berbagai media menunjukkan fenomena ini bukan insiden tunggal. Di Cirebon, seorang warga, Darma Suryapranata, mendapati tagihan PBB rumahnya melonjak dari Rp6,2 juta menjadi Rp65 juta, naik hampir 1.000 persen. “Kalau di Pati bisa membatalkan kenaikan, kenapa di Cirebon tidak?” tanya Hetta Mahendrati dari Paguyuban Pelangi Cirebon, yang kini mengancam akan menggelar demo besar-besaran. Di Jombang, lonjakan mencapai 1.202 persen. Pemerintah daerah mengakui kenaikan itu dan berjanji menahannya untuk 2026–2027, sembari membuka peluang keberatan. Di Bone, Sulawesi Selatan, kenaikan 300 persen memicu unjuk rasa mahasiswa yang berujung bentrok. Lonjakan ini kerap dijustifikasi dengan alasan penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Nilai pasar memang bisa naik, tetapi apakah pantas melompat berlipat-lipat dalam satu tahun tanpa transisi yang manusiawi? Pajak sebagai Kontrak Sosial Dalam kacamata ekonomi politik, pajak bukan sekadar instrumen fiskal. Ia adalah kontrak sosial antara rakyat dan negara, termasuk negara dalam bentuk pemerintah daerah. Jean-Jacques Rousseau mengajarkan bahwa rakyat menyerahkan sebagian kekayaannya karena percaya negara akan mengembalikan dalam bentuk layanan publik. Begitu kepercayaan ini goyah, kontrak itu runtuh. Kenaikan pajak yang ekstrem tanpa konsensus publik adalah pelanggaran kontrak sosial. Ia mengubah pajak dari kesepakatan sukarela (voluntary compliance) menjadi paksaan (forced compliance), yang dalam sejarah selalu berumur pendek dan rawan perlawanan. Pola yang Mengkhawatirkan Dari Pati hingga Jombang, kisahnya berulang seperti naskah yang diputar di panggung berbeda. Penyesuaian NJOP dilakukan secara drastis dan serentak, tanpa jeda bagi warga untuk bernapas atau menyesuaikan diri. Tidak ada tanda-tanda komunikasi publik yang memadai, informasi baru sampai ke telinga rakyat ketika mereka berdiri di loket pajak, atau malah setelah uang keluar dari dompet. Lebih buruk lagi, proses ini berlangsung tanpa ruang partisipasi yang berarti; keputusan diambil di balik meja, seolah urusan fiskal hanya domain teknokrat, padahal dampaknya merembes jauh ke ranah sosial dan politik. Kebijakan ini dijalankan di tengah kondisi ekonomi yang rapuh, Ketika inflasi mencekik dan sisa luka pandemi belum sembuh sepenuhnya. Kombinasi ini membentuk pola yang sama: pemerintah daerah mengandalkan kekuasaan formalnya untuk memungut, sementara legitimasi moralnya terkikis sedikit demi sedikit. Pelajaran dari Dunia: Pajak Membangun Menumbangkan Kekuasaan Sejarah dunia berkali-kali memperingatkan bahwa pajak bukan sekadar urusan kas negara, tapi juga barometer kepercayaan. Di Kenya, usulan pajak baru memicu gelombang protes nasional yang berujung pada pembatalan kebijakan. Di Inggris, “poll tax” memicu kerusuhan besar dan menjadi paku terakhir di peti karier politik Margaret Thatcher. Di Prancis, para petani membakar kantor pajak demi menolak pungutan lingkungan, sementara di Hongaria, rencana pajak internet gagal total setelah rakyat membanjiri jalan-jalan. Semua peristiwa itu punya benang merah: ketika rasa adil hilang, pajak berubah dari kewajiban warga negara menjadi simbol perlawanan. Kenaikan yang terasa tak masuk akal dianggap bukan sekadar beban ekonomi, melainkan tanda bahwa penguasa sudah memutus simpul empati dengan rakyatnya. Solusi Membangun Demokrasi Fiskal Menyelamatkan situasi ini bukan sekadar soal menurunkan tarif atau menunda kenaikan. Yang lebih mendasar adalah membangun kembali ruang kepercayaan antara pemerintah daerah dan warganya. Transparansi dalam penetapan NJOP menjadi titik awal. Bukan hanya angka yang diumumkan, tapi juga metodologi dan sumber data yang bisa diuji. Proses itu perlu dilakukan jauh sebelum kebijakan berlaku, memberi waktu bagi publik untuk menilai dan memberi masukan. Partisipasi publik bukanlah formalitas; ia adalah mekanisme untuk menguji kewajaran kebijakan. Melibatkan perwakilan warga, tokoh lokal, dan asosiasi dalam proses ini akan mengembalikan rasa memiliki terhadap keputusan fiskal. Dan ketika kenaikan memang tak terelakkan, lakukanlah secara bertahap, disertai bukti nyata bahwa setiap rupiah kembali dalam bentuk layanan publik yang bisa dirasakan—jalan yang diperbaiki, fasilitas kesehatan yang membaik, lingkungan yang lebih bersih. Tanpa itu semua, pajak hanya akan menjadi angka di kertas—dingin, kaku, dan setiap tahunnya semakin sulit diterima. Tetapi dengan pendekatan demokrasi fiskal yang tulus, ia bisa kembali menjadi wujud kerja sama antara rakyat dan negara, bukan medan pertempuran yang memisahkan keduanya. Kembali Pulihkan Kepercayaan Kenaikan PBB hingga 1000 persen bukan sekadar masalah angka. Ia adalah ujian legitimasi pemerintah daerah, ujian relasi negara–rakyat di tingkat lokal. Pati sudah menjadi alarm keras; daerah lain sebaiknya belajar sebelum api ini menyebar. Dalam politik, legitimasi adalah modal utama; dalam ekonomi, pajak adalah darah pembangunan. Jika darah itu diambil terlalu banyak tanpa memberi makan tubuhnya, yang tersisa hanyalah tubuh lemah yang perlahan kehilangan nyawa. Mengelola pajak berarti mengelola kepercayaan, dan sekali kepercayaan hilang, membangunnya kembali bisa memakan waktu lebih lama daripada masa jabatan siapa pun.

Nasional

Dasco : Minta Pengawasan Perketat Di Program MBG.

ruminews.id, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, kembali menyoroti kasus keracunan massal yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) bertindak tegas agar kejadian serupa tidak terulang. Hal ini disampaikan Dasco menanggapi insiden terbaru di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dimana sejumlah warga dilaporkan mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program MBG. “Kami harapkan kejadian seperti itu tidak lagi terjadi kedepannya,” ujar Dasco, Senin (28/7/2025). Dasco menjelaskan, BGN telah mengambil langkah korektif dengan membentuk tim supervisi yang bertugas mengawasi pelaksanaan program MBG di lapangan. Tim ini akan memastikan kualitas makanan, distribusi, hingga sistem pembayaran dari pihak MBG ke dapur-dapur penyedia berjalan sesuai standar. “Mereka sudah menurunkan tenaga supervisi ke daerah, baik untuk cek kualitas makanan, distribusi, maupun pembayaran,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa pengawasan yang ketat sangat penting demi menjamin keamanan dan kualitas makanan, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat program tanpa menghadapi risiko kesehatan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pemerintahan

Wali Kota Munafri Siap Sambut Kunjungan Empat Menteri, Bangun Sinergi Lintas Sektor

ruminews.id, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus menunjukkan kesiapannya sebagai tuan rumah yang sigap dan strategis. Dalam waktu hampir bersamaan, empat menteri dari kabinet nasional dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Kota Makassar. Momen ini disambut antusias oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang menilai bahwa kehadiran para pejabat negara tersebut bukan hanya seremoni, melainkan peluang nyata untuk membangun sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah. Pemkot Makassar pun menyatakan kesiapan penuh, tidak hanya dalam menyambut para tamu negara, tetapi juga dalam menyampaikan kondisi dan capaian program di daerah yang bisa diperkuat dengan dukungan kementerian terkait. Meskipun waktu berbeda, keempat menteri dari kabinet nasional dijadwalkan menyambangi Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada pekan ini, mulai tanggal 24-27 Juli 2025. Keempat menteri tersebut adalah. Dr. H. Wihaji (Menteri Kependudukan & Pembangunan Keluarga/BKKBN), yang menangani program KB dan pemberdayaan keluarga. Kemudian, Prof. Dr. Nasaruddin Umar (Menteri Agama), yang akan membahas persiapan dan evaluasi program keagamaan. Prof. Dr. Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah), bertanggung jawab atas penguatan pendidikan dasar hingga menengah. Serta Prof. Dr. Yassierli (Menteri Ketenagakerjaan), yang membawa agenda peningkatan kompetensi dan kesejahteraan pekerja. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut baik rencana kedatangan empat menteri kabinet Indonesia Maju ke Kota Makassar dalam waktu hampir bersamaan. “Bagi kami kunjungan ini sebagai momentum strategis bagi pemerintah kota untuk menunjukkan kesiapan dan komitmen dalam mendukung program nasional,” jelas Munafri, di kantor Balai Kota Makassar, Selasa (22/7/2025), dalam keterangan resmi kepada awak media. Menurut politisi Golkar itu, kunjungan empat menteri tujuan yang berbeda. Namun, tentu menjadi hal yang penting dan membanggakan bagi Makassar, sebagai tuan rumah ibu Kota Provinsi Sulsel. “Sebagai tuan rumah, kita harus memberikan kesan yang baik, pelayanan yang maksimal, dan memastikan semua agenda berjalan lancar,” tegasnya. Dengan penuh kesiapan dan semangat kolaboratif, Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah pusat dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. “Ini juga kesempatan besar bagi kita untuk berdiskusi langsung tentang kondisi kota, terutama terkait sektor-sektor yang di tangani agar sinergi dengan pusat terjalin,” tambah Munafri, yang akrab disapa Appi. Appi menuturkan, Pemkot Makassar siap berkoordinasi lintas OPD untuk menyambut para menteri dan menyiapkan materi pembahasan strategis. Ia menegaskan bahwa kehadiran para pejabat negara harus dimanfaatkan sebagai ruang membangun sinergi kebijakan pusat dan daerah. Bahkan lebih spesifik ia menyinggung kolaborasi penanganan stunting berkaitan dengan menteri terkait. “Kita ingin memperlihatkan kepada Menteri KB bahwa kita serius menangani isu stunting dan pembangunan keluarga sehat. Kita punya program yang bisa disinergikan dengan BKKBN,” ungkapnya. Tak hanya itu, Appi juga menyiapkan pembahasan khusus bersama Menteri Agama terkait penguatan kerukunan antarumat beragama. Mengingat Makassar sempat masuk dalam daftar kota dengan potensi intoleransi, Appi ingin mendapatkan arahan langsung untuk meningkatkan keharmonisan sosial. “Kerukunan ini menjadi PR kita bersama. Saya berharap kehadiran Menteri Agama bisa membawa arahan, kebijakan atau program yang dapat kita tindak lanjuti di tingkat kota,” ujarnya. Terkait pendidikan dan ketenagakerjaan, Munafri juga menaruh perhatian besar. Ia berharap ada ruang diskusi produktif bersama Menteri Pendidikan dan Menteri Ketenagakerjaan guna mendorong peningkatan kualitas SDM lokal, terutama generasi muda Makassar. “Empat menteri ini hadir bukan sekadar berkunjung. Kita ingin mereka melihat Makassar sebagai kota yang siap berkolaborasi. Pemerintah kota akan hadir dan aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan mereka,” tutup Appi.

Nasional, Pendidikan, Politik

Tanggapan Arief Rosyid : Kelakar Cak Imin Jadi Bentuk Nggak Paham Sejarah

ruminews.id, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2013-2015, Arief Rosyid Hasan, memberikan respons tegas dalam unggahannya terhadap pernyataan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang menyebut, “Kalau tak tumbuh dari bawah, pasti bukan PMII, itu HMI.” Menanggapi Pernyataan Cak Imin: “Kalau Tak Tumbuh dari Bawah, Pasti Bukan PMII, Itu HMI Arief Rosyid Hasan (Ketum PB HMI 2013-2015) Pernyataan Cak Imin tersebut disampaikan dalam acara pengukuhan Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) yang belakangan menuai beragam tanggapan, khususnya dari kalangan kader dan alumni HMI. Melalui akun media sosialnya, Arief Rosyid menyebut pernyataan itu sebagai “ahistoris, simplistik, dan menyesatkan.” Arief menegaskan bahwa HMI sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, didirikan pada 5 Februari 1947 di tengah perjuangan kemerdekaan, justru tumbuh dari kekuatan akar rumput, bukan dari elit kekuasaan. “HMI tumbuh dari semangat keumatan dan kebangsaan yang mengakar kuat di tengah masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa yang merasakan langsung tantangan sosial dan nasional pada masa penjajahan dan revolusi,” tulis Arief dalam unggahannya. Arief juga bilang, kalau kelakar Cak Imin jadi bentuk nggak paham sejarah sekaligus kontribusi besar HMI buat bangsa dan negara. Ia pun menyayangkan kelakar Cak Imin itu, seharusnya Ketum PKB tersebut bisa kasih ungkapan yang arif dan bijak. “Pernyataan seperti itu tidak mendidik publik, apalagi generasi muda, yang seharusnya diajak bersatu menghadapi tantangan bangsa,” ucap Arief. Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk menempatkan sejarah gerakan mahasiswa secara adil dan proporsional. Jangan jadikan kekayaan sejarah organisasi menjadi alat untuk saling menjatuhkan. Baik HMI, PMII, PMKRI, GMNI, GMKI, KAMMI, dan lainnya- semua telah berkontribusi besar dalam membangun Indonesia. Salam Pergerakan. Yakin Usaha Sampai!

Daerah, IKN, Infotainment, Kriminal, Nasional

Puluhan PSK Menjamur di Wilayah IKN Terjaring Operasi Satpol PP

ruminews.id, Satpol PP Kabupaten Penajam Paser Utara menggelar operasi penertiban di seluruh kecamatan, termasuk Kecamatan Sepaku yang masuk wilayah IKN. Meski sudah ada Otorita IKN, penegakan Perda masih jadi kewenangan pemerintah kabupaten. Satpol PP berhasil mengamankan PSK dalam tiga operasi terakhir di Sepaku, 64 perempuan diduga pramunikmat atau PSK terjaring. Dua orang diamankan pada operasi pertama, 32 orang pada operasi kedua, dan 30 orang pada operasi ketiga. Praktik prostitusi dilakukan secara online melalui aplikasi media sosial, dengan mematok tarif Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu sekali kencan. Para PSK umumnya menyewa kamar penginapan seharga Rp 300 ribu per malam. Para pelaku pramunikmat ini berasal dari Samarinda, Balikpapan, Bandung, Makassar, dan Yogyakarta. Setelah dibina, mereka yang berasal dari luar daerah diminta meninggalkan Penajam Paser Utara dalam dua hingga tiga hari. Penanganan prostitusi disebut perlu kerja sama lintas sektor, termasuk pengawasan ketat terhadap pendatang, demi menjaga kawasan strategis nasional dari ancaman degradasi moral dan sosial

Scroll to Top