Daerah

Daerah, Makassar, Pendidikan

Rektor UNM Dinonaktifkan, Menteri Dikti Saintek Tunjuk Prof. Farida sebagai Plh: Lembaga Tetap Berjalan dalam Ketertiban

ruminews.id – Makassar, Angin perubahan kembali berhembus di Universitas Negeri Makassar (UNM). Kabar penonaktifan Rektor UNM dari jabatannya mencuat ke ruang publik seperti gelombang yang pelan namun pasti mencapai tepian. Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan rektor sementara guna memberi ruang bagi proses disiplin yang tengah berjalan. Keputusan ini bukan sekadar prosedur administratif. Ia adalah halaman baru dalam perjalanan lembaga pendidikan besar yang telah melahirkan ribuan intelektual di bumi Sulawesi Selatan. Di tengah dinamika tersebut, kampus oranye tidak dibiarkan tanpa nahkoda. Wakil Rektor Bidang SDM, Alumni, dan Sistem Informasi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Farida Patittingi, SH, M.Hum, ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Rektor UNM. Penunjukan ini menegaskan bahwa roda akademik, birokrasi, dan pembinaan kemahasiswaan harus tetap bergerak dengan tertib, stabil, dan berkeadaban.

Daerah, Makassar, Opini, Pendidikan

Feodalisme Berkedok Adab

ruminews.id – Ada sebuah adagium tak tertulis di dunia persilatan santri: kalau mau jadi santri, siap-siaplah jongkok. Bukan cuma jongkok pas antre mandi, tapi jongkok dalam artian filosofis. Saking filosofisnya, kadang lagi enak-enak minum susu saset di depan kamar, eh, Pak Kyai lewat, refleks itu badan langsung merunduk dalam-dalam, seolah susu di tangan lebih hina dari air kobokan. Ini adab, kata mereka. Ta’dzim pada guru, sang pewaris nabi. Sebuah tradisi luhur yang menjaga agar ilmu tetap berkah. Pertanyaannya, benarkah tradisi semacam ini murni bentuk adab tanpa cela? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita sedang mempraktikkan ghuluw, sikap berlebihan yang justru dilarang dalam agama? Beberapa waktu lalu, jagat maya dibuat riuh oleh sebuah tayangan televisi nasional yang mengintip kehidupan pesantren. Alih-alih jadi tontonan penyejuk iman, acara itu justru memantik perdebatan sengit. Satu kubu membela mati-matian tradisi sebagai wujud hormat tak ternilai. Kubu seberang mengecamnya sebagai praktik feodalisme usang yang sudah tak relevan di zaman di mana kesetaraan dijunjung tinggi. Yang paling seru justru bukan di acaranya, tapi di kolom komentar. Di sanalah suara-suara kritis yang selama ini mungkin hanya jadi bisik-bisik di pojok kobong, akhirnya meledak. Mulai dari pertanyaan lugu, “Kenapa harus sampai segitunya, sih?” hingga analisis tajam soal relasi kuasa yang timpang antara kyai dan santri. Dari Jongkok Sampai Cium Kaki: Di Mana Garis Batasnya? Di tengah perdebatan, seorang netizen melempar sebuah hadis yang seolah menampar kita semua. “Ini hadis yang mungkin lupa diajarkan di pesantren-pesantren tertentu,” tulisnya, dengan nada satir yang menusuk. Hadis itu mengisahkan sahabat Mu’adz bin Jabal yang baru pulang dari Syam. Terpesona melihat penduduk Syam sujud kepada para uskup dan pemimpin agama mereka, Mu’adz pun melakukan hal yang sama kepada Rasulullah ﷺ setibanya di Madinah. Niatnya baik: kalau para pemimpin agama lain saja dihormati sedemikian rupa, Rasulullah jelas lebih berhak. Tapi apa jawaban Nabi? Beliau tidak lantas tersenyum bangga. Beliau justru bertanya, “Apa ini, wahai Mu’adz?” Setelah mendengar penjelasan Mu’adz, Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas, “Janganlah kalian lakukan itu. Sungguh, seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya…” (HR. Ahmad no. 19403 dan Ibnu Majah no. 1853. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Jelas sekali. Nabi, manusia termulia sejagat raya, menolak penghormatan yang menyerupai ibadah. Sujud, puncak ketundukan, hanya untuk Allah. Titik. Kisah ini seharusnya menjadi alarm. Jika sujud kepada Nabi saja dilarang, bagaimana dengan tradisi jalan merunduk (ngepel), cium tangan bolak-balik, bahkan sampai cium kaki kyai? Bagi pembela, ini murni adab. Tapi bagi yang kritis, inilah ghuluw yang mengkhawatirkan. “Presiden lewat aja nggak segitunya,” celetuk netizen lain. “Artis K-Pop lewat malah pada histeris. Lah, ini kok bisa sampai merendahkan diri serendah itu?” Kyai, Santri, dan Amplop: Saat Berkah Bersinggungan dengan Kuasa Masalahnya, soal penghormatan ini seringkali nggak berhenti di gestur fisik. Ia merembet ke ranah lain yang lebih sensitif: ekonomi dan kuasa. “Kyai yang kaya raya, tapi umat yang kasih amplop,” tulis seorang komentator. Kalimat pendek ini adalah kritik pedas terhadap ketimpangan yang seringkali tak terucap, tapi nyata terasa. Amplop bisa jadi simbol sedekah, tapi juga bisa jadi penanda relasi patron-klien yang tak sehat. Belum lagi soal “berkah”. Tradisi berebut sisa minuman kyai, atau mencium tangan sambil menyelipkan “salam tempel”, bagi sebagian adalah wujud harapan berkah. Tapi di mata yang lain, ini adalah praktik yang sangat rentan dieksploitasi dan bisa menjerumuskan pada kultus individu. Membuka Kotak Pandora Hipokrisi Publik Tayangan televisi itu, sadar atau tidak, telah membuka kotak pandora. Ia memaksa kita melihat hal-hal yang selama ini coba kita abaikan. Di tengah perdebatan soal jongkok, muncul pertanyaan yang lebih menusuk tentang konsistensi kita. “Ada oknum Kyai cabul [1], publik banyak yang DIAM. Ada pejabat Kemenag korupsi kuota haji [2], Korupsi Al-Qur’an [3], publik cenderung DIAM. Ada lembaga filantropi besar menyelewengkan dana umat [4], publik juga adem ayem. Tapi begitu ada tayangan kritis soal tradisi pesantren, langsung BERISIK dan teriak-teriak pelecehan!” Sentilan ini menyadarkan kita bahwa yang dibutuhkan publik sebenarnya adalah keadilan. Kritik jangan hanya tajam ke luar, tapi juga harus berani menghujam ke dalam. Masalah predator seksual berkedok agama dan korupsi dana umat jelas jauh lebih merusak citra Islam ketimbang sebuah tayangan televisi. Takdzim yang Tidak Mematikan Akal Tentu, di tengah segala kritik, ada pembelaan yang tulus. Banyak yang merasa penghormatan pada kyai lahir dari cinta sejati, dari rasa syukur atas ilmu yang tak ternilai. Ikatan batin antara guru dan murid yang kadang “lebih kuat dari ikatan darah”. Hormat mereka bukan karena takut, tapi karena cinta. Ini valid dan tak bisa dimungkiri. Masalahnya, bagaimana membedakan mana penghormatan yang lahir dari cinta, dan mana yang lahir dari doktrin yang membekukan nalar kritis? Jawabannya mungkin bisa kita temukan dari para kyai itu sendiri, yang telah menggambar batas tegas di mana takdzim yang sehat berakhir dan feodalisme buta dimulai. Seperti ditegaskan oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri, “Takdzim itu bukan mematikan akal. Santri hormat kepada kiai, tapi juga berpikir kritis. Kalau semua diserahkan tanpa berpikir, itu bukan adab itu perbudakan batin.” Pandangan ini menggemakan apa yang pernah dikatakan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa feodalisme lahir ketika takdzim telah kehilangan ruh keilmuannya dan hanya menyisakan simbol-simbol kosong tanpa pemahaman. Artinya, ketika rasa hormat telah bergeser menjadi rasa takut, dan loyalitas tidak lagi lahir dari kebenaran melainkan status, maka di situlah seorang guru telah menjadi pusat kuasa yang tak tersentuh kritik. Pada titik inilah, takdzim sejati yang seharusnya membebaskan manusia dari keangkuhan ego justru berbalik menjadi kepatuhan buta yang membelenggu. Mungkin inilah saatnya membuka ruang dialog yang lebih sehat. Pesantren, sebagai institusi yang luar biasa penting, harus siap beradaptasi. Adab itu esensial, tapi adab tidak boleh mematikan akal sehat. Seperti kata seorang bijak, “Adab itu perendahan hati, bukan perendahan diri.” Menghormati guru itu sebuah keharusan. Tapi, menjaga martabat diri sebagai manusia merdeka dan memelihara keberanian untuk berpikir kritis, mungkin adalah berkah ilmu yang sesungguhnya. ________________________________________ Ditulis oleh seorang yang pernah mondok 3 tahun, dan hingga hari ini masih suka nyium tangan kepada yang lebih tua, tapi sambil mikir, ini adab atau ghuluw, ya? [1] Kurniawan Fadilah, “Bejat! Ustaz di Bekasi Cabuli Anak Angkat dan Keponakan,” detik.com, Sep. 25,

Daerah, Makassar, Nasional, Opini, Pendidikan, Politik, Uncategorized

Sedang Menghabiskan Jatah Kalah

ruminews.id – SAYA sudah mengalami banyak kekalahan dalam kontestasi politik praktis sejak terjun ke dunia politik pada Pemilu 2024 lalu. Dalam setiap pertempuran politik itu, saya selalu berdiri di sisi yang sama sisi perubahan, sisi yang melawan petahana dan menantang kenyamanan status quo. Di Pilpres 2024, saya menjadi bagian dari perjuangan pasangan Anies Baswedan Muhaimin Iskandar (AMIN), sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Daerah (TKD) AMIN Sulawesi Selatan. Kami berjuang membawa gagasan perubahan bangsa, dengan segala keterbatasan dan tekanan yang ada. Hasilnya, pasangan kami dinyatakan kalah oleh KPU. Di Pileg, saya juga maju sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Dapil XI (Luwu Raya). Meski tak begitu maksimal, saya sempat turun ke lapangan, menyapa warga, berdiskusi tentang masa depan daerah, dan memperjuangkan politik yang lebih bersih serta berbasis gagasan. Hasilnya? Sudah jelas. Saya tidak terpilih sebagai pemenang. Petahana akhirnya masih duduk kembali. Belum cukup sampai di situ. Dalam Pilkada Serentak 2024, saya kembali turun gelanggang. Di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, saya dipercaya menjadi Juru Bicara pasangan Danny Pomanto – Azhar Arsyad (DIA). Kami membawa visi baru mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai Global Food Hub. Namun lagi-lagi, hasilnya belum berpihak. Gubernur petahana (Andi Sudirman Sulaiman) masih menang, meskipun kami harus berjuang hingga titik akhir di Mahkamah Konstitusi (MK). Di Pemilihan Bupati Luwu Timur, kampung halaman saya sendiri, saya ikut membantu pasangan Isrullah Achmad – Usman Sadik. Kami berhadapan dengan petahana (Budiman) dan rival bebuyutannya (Irwan Bachri Syam) yang memiliki infrastruktur politik dan kekuasaan yang lebih mapan. Hasilnya, kami juga kalah. Meski di kasus ini petahana juga ikut tumbang. Terakhir, bahkan di ranah akademik, dalam penjaringan calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) 3 November 2025, calon yang saya dukung Prof. dr. Budu, Ph.D juga belum berhasil mengalahkan perolehan suara petahana. Meski masih ada tahap selanjutnya di Majelis Wali Amanat (MWA), tapi sepertinya sulit menggeser posisi Prof Jamaluddin Jompa yang meraup lebih dari 80 persen suara Senat Akademik (SA) Unhas. Nah, tersisa satu kontestasi beraroma politik praktis yang belum saya lewati, yakni Pemilihan Ketua RT serentak yang segera akan dilaksanakan di Kota Makassar. Di level inipun, saya mungkin bisa saja kembali kalah. Tapi karena kurang tertarik, jadi kita skip saja. Melawan Petahana Kalau saya coba tarik benang merah dari semua kekalahan itu, terdapat satu pola terlihat jelas, bahwa semuanya terjadi karena saya selalu melawan petahana. Saya selalu memilih posisi berseberangan dengan kekuasaan yang mapan, bukan karena ingin kalah, tapi karena yakin bahwa perubahan hanya bisa lahir dari keberanian menantang kenyamanan lama. Saya masih belum suka mencari posisi aman. Saya selalu memilih berada di sisi yang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri. Dan itulah harga dari idealisme politik yang harus menempuh jalan yang berat, panjang, dan penuh luka. Tapi juga jalan yang paling jujur dan bisa dibanggakan kelak. Politik sebagai Proses Banyak orang melihat politik sebagai soal menang dan kalah. Tapi bagi saya, politik adalah lebih sebagai proses untuk menjadi. Kekalahan memberi saya banyak pelajaran tentang strategi, tentang komunikasi, tentang membaca arah angin politik, tapi lebih dari itu. Kekalahan juga menjadi kesempatan berharga untuk memahami manusia dan makna perjuangan. Saya belajar bahwa dukungan publik bukan hanya dibangun lewat kampanye, tapi lewat ketulusan yang konsisten. Saya belajar bahwa tidak semua orang siap untuk perubahan, tapi perubahan tetap harus diperjuangkan. Dan saya belajar bahwa kadang, kalah hari ini adalah bagian dari cara Tuhan mempersiapkan kemenangan yang lebih besar esok. Menghabiskan Jatah Kalah Saya pernah membaca kalimat ini: “Setiap orang punya jatah kalah. Habiskanlah jatah kalahmu di awal, supaya sisanya tinggal kemenangan.” Saya menyukainya. Mungkin memang saya sedang menghabiskan jatah kalah saya. Kekalahan demi kekalahan bukan pertanda akhir, tapi pembersihan. Mungkin Tuhan sedang menguji seberapa teguh saya bertahan pada jalan yang saya yakini benar. Mungkin semua ini adalah cara alam semesta menyiapkan ruang agar kemenangan nanti tidak membuat saya lupa diri. Menang dengan Terhormat Saya tidak tahu kapan giliran kemenangan itu tiba. Tapi saya tahu satu hal. Ketika saatnya datang, saya ingin menang dengan cara yang benar dan terhormat bukan karena manipulasi, bukan karena kekuasaan uang, tapi karena gagasan, kerja, dan kepercayaan publik. Karena pada akhirnya, politik bukan soal siapa yang menang lebih dulu, tapi siapa yang tetap tegak sampai di akhir pengabdian. “Saya tidak pernah benar-benar kalah. Saya hanya sedang belajar lebih dalam tentang bagaimana caranya menang dengan benar.” Kira-kira begitu.

Daerah, Pemerintahan, Prov Sulawesi Selatan, Uncategorized

Program Pertashop Dinilai Gagal, Aktivis CLAT dan DPW SPRINDO MIGAS SULAWESI Desak Pertamina Bertanggung Jawab

ruminews.id, Makassar — Kekecewaan dan kemarahan mewarnai aksi unjuk rasa yang digelar oleh Dewan Perwakilan Wilayah Serikat Pengusaha Retail Indonesia Minyak dan Gas (DPW SPRINDO Migas Sulawesi) bersama aktivis CLAT (Cinta Lingkungan dan Anti Tipikor) di depan kantor sementara DPRD Sulawesi Selatan dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Senin (3/11/2025). Mereka menilai program Pertashop Pertamina telah gagal dan justru menyengsarakan pelaku usaha kecil yang semula berharap dapat menjadi bagian dari pemerataan energi nasional. Dalam orasinya, massa menuding Pertamina menerapkan kebijakan tebang pilih dalam penjualan BBM bersubsidi. “Kami menduga Pertamina hanya memberikan izin penjualan BBM bersubsidi kepada pengusaha tertentu yang sudah memiliki SPBU. Ini jelas merugikan pelaku UMKM Pertashop kecil,” tegas Fahmi Sofyan, salah satu perwakilan aksi. Suasana sempat memanas ketika massa membakar ban dan mendesak DPRD Sulsel untuk memfasilitasi audiensi dengan Komisi VI DPR RI agar suara mereka didengar langsung di tingkat pusat. “Insya Allah, paling lambat bulan ini DPRD Sulsel akan memfasilitasi RDP bersama DPR RI. Kami akan kawal perjuangan ini,” janji Lukman B. Kaddy, anggota Komisi D DPRD Sulsel, di hadapan massa. Dalam mediasi di kantor Pertamina, ketegangan kembali meningkat. Ketua DPW SPRINDO Migas Sulawesi, Ari Wibowo, dengan suara bergetar menyampaikan kekecewaan mendalam atas ketidakadilan yang dirasakan para pelaku Pertashop. “Kami tidak diberi izin menjual Pertalite, hanya Pertamax yang harganya jauh lebih mahal. Masyarakat desa tak mampu membeli BBM non-subsidi. Apakah ini yang disebut kemitraan adil?” ujarnya sambil menepuk dada menahan emosi. Ari mengungkapkan, banyak pelaku usaha Pertashop kini terjerat hutang akibat janji manis yang tak terealisasi. “Dulu kami dijanjikan keuntungan. Berdasarkan kajian Pertamina, bank pun berani memberi kredit. Tapi kenyataannya kami rugi. Banyak yang bangkrut, rumah tangga hancur, usaha gulung tikar. Pertamina harus bertanggung jawab!” tegasnya lantang. Setelah mediasi tak membuahkan hasil, massa aksi meninggalkan kantor Pertamina sambil berjanji akan kembali dengan kekuatan lebih besar. “Dari sekitar 500 Pertashop di Sulawesi, coba lihat sendiri, berapa yang masih bertahan? Ini bukti nyata kegagalan program Pertashop. Kami akan datang lagi, lebih banyak, sampai keadilan ditegakkan dan tuntuntan kami dipenuhi”. tutup Ari Wibowo penuh emosi.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Uncategorized

Melinda Aksa, Resmi Jadi Dewan Pembina Srikandi APPI Makassar. Dorong Perempuan Tangguh dan Mandiri

ruminews.id, Makassar – Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, resmi didaulat sebagai Dewan Pembina dan Penasehat DPP Srikandi APPI (Angkatan Pemersatu Pemuda Indonesia) Kota Makassar, pada Senin (3/11/2025). Penetapan itu dilakukan dalam agenda audiensi bersama pengurus DPP, koordinator kecamatan, dan wilayah di kediaman Melinda Aksa. Dalam kesempatan itu, Melinda menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap langkah Srikandi APPI dalam memperkuat peran perempuan di berbagai sektor. “Saya merasa terhormat atas kepercayaan ini. Semoga Srikandi APPI menjadi wadah lahirnya perempuan tangguh, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Ketua Umum DPP Srikandi APPI Kota Makassar, Asriani Amiruddin, menjelaskan bahwa organisasi ini berdiri sejak Juli 2025 sebagai ruang pemberdayaan dan penguatan peran perempuan di bidang sosial, ekonomi, dan pembangunan masyarakat. “Kami berkomitmen menghadirkan organisasi yang solid, berdaya, dan menjadi suara perempuan Makassar,” ungkap Asriani. Sementara itu, Sekretaris Umum Suhartini menambahkan, pelantikan pengurus DPP Srikandi APPI akan digelar akhir November 2025, sebagai langkah awal memperkuat struktur organisasi dan arah gerak perjuangan. “Kami ingin Srikandi APPI menjadi motor penggerak perempuan muda agar lebih percaya diri dan berperan aktif dalam pembangunan,” tuturnya. Dengan dukungan penuh dari Dewan Pembina dan seluruh pengurus, Srikandi APPI Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk terus aktif dalam kegiatan sosial, edukatif, dan pemberdayaan di tingkat akar rumput. “Saya ingin Srikandi APPI menjadi penggerak perubahan yang membawa nilai kepemimpinan, solidaritas, dan kepedulian sosial,” pungkas Melinda.

Daerah, Makassar

Achmad Daeng Serre, Gubernur, Wakil Gubernur Dan Ketua DPRD Sulsel menyerukan Komitmen Persatuan pada Tudang Sipulung Pemuda Sulsel

ruminews.id, MAKASSAR-Setiap peradaban bangsa di dunia ini, akan mengalami sebuah perubahan mendasar hingga kemajuan karena adanya satu unsur yang berperan aktif. Unsur itu adalah disebut pemuda, mereka yang berumur produktif dan menjadi kekuatan demografi dalam suatu negara. Khususnya di Indonesia sebagai bangsa yang besar, peran pemuda sangatlah penting dan sentral sebagai penggerak bangsa. Dalam peringatan Sumpah Pemuda ke 97 tahun, pada 28 oktober 2025 anggota DPR RI Komisi 7 Dapil Sulawesi Selatan 1 Bapak H. Achmad Daeng Serre, melaksanakan Tudang Sipulung bersama Pemerintah Sulawesi Selatan, yang di inisiasi bersama bapak Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Ibu Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi. Tudang Sipulung ini melibatkan seluruh organisasi kepemudaan (OKP) Se-Sulawesi Selatan, dengan sinergitas Kepemudaan dengan seluruh lapisan kelompok pemuda, baik berlatar belakang iman dan juga progresifitas kepemudaan. Di dalam indoor Phinisi Point Mall Makassar, menjadi saksi sejarah Deklarasi Persatuan Pemuda Untuk Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyerukan pentingnya konsolidasi dan ikatan kekeluargaan antara kelompok pemuda. Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi, nampak antusias menghadiri rangkaian tudang sipulung pemuda Sulsel dan pawai vespa dan OKP di CPI Makassar, Selasa, 28 Oktober 2025. Selain itu juga melakukan penanam pohon tabebuya. Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, mengapresiasi kegiatan ini. Di depan lintas OKP dan pecinta vespa, ia juga menekankan tentang peran serta pemuda dalam pembangunan manusia untuk Sulsel maju dan berkarakter. “Untuk itulah, komitmen pemerintah dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang cerdas berdaya saing dengan tetap menjunjung tinggi nilai karakter orang Sulawesi Selatan,” tandas Andi Sudirman. “Para Tokoh pemuda selalu dikenal solid, kreatif, dan penuh semangat persaudaraan. Ini sejalan dengan nilai Sumpah Pemuda, yaitu bersatu untuk membangun negeri. Kami di Pemerintah Provinsi tentu memberikan ruang seluasnya bagi kegiatan positif seperti ini,” ujar Fatmawati. Wagub Fatmawati Rusdi yang tampil menarik perhatian dengan mengenakan kostum bertema pahlawan serta mengendarai Vespa SS90 berwarna biru, salah satu seri Vespa langka yang menjadi daya tarik tersendiri. Hal serupa ditegaskan oleh Anggota Komisi VII DPR RI, bapak H. Ahmad Dg. Serre, “Dalam membangun Sulawesi Selatan, peran pemuda dalam membangun sulsel sangat dibutuhkan, peran dalam organisasi kepemudaan dapat mendorong kemandirian ekonomi, peningkatan pendidikan, dan peran pemuda dalam memajukan sektor umkm dan pariwisata, menurut H. Dedde sapaan untuk nama beliau, bahwa semua itu kita membutuhkan peran okp dan juga tokoh-tokoh muda sulsel dalam menjaga spirit aplikasi terhadap nilai-nilai lokal, seperti sipakatau, sipakainga, dan sipakalebbi. H. Dedde juga menerima beberapa aspirasi dari peserta okp dan mahasiswa, khususnya dalam pengembangan wilayah pariwisata yang sangat dibutuhkan di beberapa kabupaten di sulsel. Dalam kesempatan ini pula dihadiri Ketua DPRD Sulsel ibu Drg. Rahmatika Dewi, atau ibu cicu sapaan akrab beliau. Dalam sosialisasi 4 pilar dan Tudang sipulung ini, ibu cicu juga menerima banyak aspirqsi dari beberapa peserta okp, khususnya mengenai penguatan dan perlindungan perempuan. Tudang Sipulung ini ditutup dengan Deklarasi pemuda bersatu untuk sulsel maju dan berkarakter, harapannya Tuduang Sipulung ini menjadi berkelanjuran sebegai sarana, rembuk pemuda melalui okp.

Daerah, Ekonomi, Makassar, Pendidikan

Sinergi untuk Wirausaha Muda: Badko HMI Sulsel dan Disperindag Sulsel Teken MoU Pasca HMI Business Class

ruminews.id, Makassar, 3 November 2025 — Setelah sukses menggelar kegiatan HMI Business Class pada 30–31 Oktober 2025 di Makassar Creative Hub, Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sulawesi Selatan melangkah lebih jauh dengan menjalin kerja sama strategis bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan (Disperindag Sulsel). Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berlangsung pada Senin, 3 November 2025 ini dilakukan oleh Ketua Bidang Perindustrian dan Perdagangan Badko HMI Sulsel dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai simbol dimulainya kolaborasi nyata antara organisasi kepemudaan dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem wirausaha yang lebih kuat di Sulawesi Selatan. Melalui kerja sama ini, kedua pihak sepakat untuk berkolaborasi dalam program pengembangan wirausaha muda, pelatihan industri kreatif, dan pendampingan bisnis berbasis inovasi. MoU ini menjadi tindak lanjut konkret dari semangat yang diusung dalam kegiatan HMI Business Class — yakni membentuk generasi muda yang mandiri secara ekonomi dan berdaya saing global. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Bidang Perindustrian dan Perdagangan Badko HMI Sulsel menyampaikan bahwa HMI ingin berperan aktif dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif dan UMKM di kalangan pemuda. “Kami ingin kader HMI tidak hanya cakap berdiskusi, tapi juga tangguh dalam berwirausaha dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulsel mengapresiasi inisiatif kolaboratif ini. “Kami melihat semangat luar biasa dari HMI Sulsel untuk ikut mendorong lahirnya pengusaha muda. Pemerintah provinsi tentu siap bersinergi dalam mewujudkan ekosistem bisnis yang inklusif dan berkelanjutan,” tuturnya. Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi awal dari berbagai program strategis yang mempertemukan dunia akademik, organisasi kepemudaan, dan sektor industri dalam satu tujuan: mencetak generasi muda yang kreatif, berdaya, dan siap menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan.

Daerah, Makassar, Olahraga, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Munafri Dorong Penguatan Sepak Bola Usia Dini di Makassar

ruminews.id, MAKASSAR — Semangat sepak bola kembali bergelora di Kota Makassar. Ratusan anak dari berbagai sekolah sepak bola (SSB) di Sulawesi Selatan memenuhi Lapangan Bosowa Sport Center, Minggu (2/11/2025). Jalan Teuku Umar, Makassar. Dimana, laga ajang Grassroots Football Festival yang digelar oleh PSSI Sulawesi Selatan bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, wadah bagi usia dini. Di tengah sorak sorai dan tawa ceria para peserta, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir memberikan dukungan langsung bagi bibit-bibit muda sepak bola di Kota ini. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar pertandingan, tetapi bagian dari upaya membangun fondasi masa depan sepak bola Indonesia dari akar rumput. Hadir pada kesempatan ini, Indra Sjafri. Ia mantan pelatih timnas U-20 dan mantan pemain sepak bola profesional Indonesia. pernah melatih klub Bali United. Dalam sambutannya, Wali Kota Makassar itu menyampaikan apresiasinya terhadap semangat dan sportivitas seluruh peserta, pelatih, dan para orang tua yang turut hadir memberikan dukungan. “Kita perlu menjunjung tinggi sportivitas. Saya bangga kepada seluruh pengurus dan terutama orang tua yang mendampingi anak-anaknya berlatih hari ini,” imbuh Appi. Mantan Chief Executive Officer (CEO) itu juga mengungkapkan rasa bahagianya atas kehadiran pelatih tim nasional, Coach Indra Sjafri, bersama jajaran PSSI yang membawa kegiatan ini ke Kota Makassar. “Senang sekali Coach Indra beserta teman-teman dari PSSI telah membawa acara ini ke Makassar. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap sepak bola, khususnya di kota kita, semakin baik,” tuturnya. Dalam kesempatan tersebut, Munafri turut menyinggung soal pentingnya pembenahan infrastruktur sepak bola di Makassar. Ia mengakui masih ada keterbatasan, namun berkomitmen memberikan perhatian serius terhadap pengembangan fasilitas olahraga di kota ini. “Memang kita belum punya infrastruktur yang ideal, tapi berikan kesempatan pada pemerintah kota untuk menyiapkan itu. Kota ini punya sejarah sepak bola dan banyak talenta hebat,” jelasnya. “Sayang kalau tidak kita akomodir dengan baik. Insya Allah, dalam waktu yang tidak lama lagi, lapangan latihan dan stadion baru akan kita hadirkan di Kota Makassar berlokasi di Untia,” tambah Appi. Mengakhiri sambutannya, Munafri menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Grassroots Football Festival. Ketua Golkar Makassar ini berharap kegiatan ini menjadi wadah berkelanjutan bagi pembinaan pemain muda di Makassar dan Indonesia Timur. “Mari bersama-sama terus d menyiapkan atlet muda agar bisa menjadi pemain masa depan, pengisi ruang Tim Nasional dan klub-klub besar Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PSSI Sulawesi Selatan, Ahmad Jufri, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Wali Kota Makassar yang memberikan dukungan langsung di lapangan. ” Terima kasih Pak Wali sudah hadir. Anak-anak ini berasal dari seluruh Sekolah Sepak Bola (SSB) di Sulsel,” ucapnya. “Kami minta perwakilan setiap SSB mengirim lima anak, jadi total ada sekitar 140 anak. Kegiatannya memang berlangsung satu hari,” lanjutnya. Ahmad Jufri menambahkan bahwa tujuan utama dari program Grassroots Football ini adalah memperkenalkan sepak bola sejak usia dini dengan pendekatan yang menyenangkan. Dimana, Grassroots ini untuk memperkenalkan sepak bola di usia dini, bagaimana bermain bola dengan ceria. “Terima kasih kepada Bapak Wali Kota, yang hadir langsung melihat anak-anak bermain kompetisi di lokasi ini,” tutup dia.

Daerah, Gowa, Makassar, Olahraga, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Wali Kota Makassar Buka dan Ikut Berlaga di Turnamen Golf Mayor’s Cup Semarak HUT Kota Ke-418

ruminews.id, GOWA—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin membuka secara resmi Mayor’s Cup Golf Tournament yang di helat oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar. Ajang sporitivitas ini berlangsung sehari di di Lapangan Golf Padivalley, Gowa, Minggu (2/11/2025). Turnamen ini merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-418 Kota Makassar ini dibuka dengan shotgun oleh Munafri pada pagi hari sebagai tanda dimulainya turnamen. Wali Kota yang akrab disapa Appi itu tidak hanya membuka, tapi juga ikut bermain bersama peserta hingga selesai. Dalam turnamen itu, Ia juga berkesempatan mendapatkan pairing bersama Bupati Toraja Utara, Frederik Viktor Palimbong. . Dalam sambutannya, Munafri menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, sponsor, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya Mayor’s Cup yang untuk pertama kalinya diadakan Pemerintah Kota Makassar. Selain menjadi rangkaian dari HUT ke-418 Kota Makassar, Ia berharap ajang ini bukan sekadar kompetisi olahraga, namun lebih jauh, menjadi sarana membangun kolaborasi lintas sektor demi kemajuan kota. Serta memperkuat hubungan baik antarwilayah dan antarinstansi. “Pemerintah tidak mungkin berdiri sendiri dalam memberikan pelayanan, dibutuhkan kolaborasi dengan para pengusaha, komunitas, dan stakeholder lainnya. Lewat kegiatan golf ini, kita membangun kebersamaan itu,” ujar Munafri. Munafri menegaskan bahwa Mayor’s Cup akan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Makassar. Selain memperebutkan piala bergilir, turnamen ini diharapkan menjadi ajang rutin yang semakin berkembang setiap tahunnya. “Insyaallah ini akan kita selenggarakan setiap tahun. Harapannya, Mayor’s Cup bisa semakin besar, semakin ramai, dan semakin diminati oleh golfer dari seluruh Indonesia,” ucapnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Mayor’s Cup, Andi Hudli Huduri yang juga Tim Ahli Wali Kota Makassar, menguraikan bahwa turnamen ini diikuti oleh total 140 peserta, mulai dari Forkopimda hingga masyarakat dari berbagai daerah. “40 diantaranya dari Forkopimda Provinsi dan Kota Makassar sebagai undangan VIP, dan 100 nya adalah peserta umum secara nasional,” jelasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kolaborssi dan Dispora Kota Makassar serta seluruh sponsor yang ikut mendukung kesuksesan acara tersebut.(*)

Hukum, Makassar, Pendidikan, Uncategorized

KOHATI Cabang Makassar: Perguruan Tinggi Harus Jadi Ruang Aman, Bukan Arena Kekuasaan dan Kekerasan Seksual ❗️

ruminews.id, Makassar – Kita dikejutkan. Kita muak. Kita geram. Bagaimana mungkin, di tengah gemerlap nama besar lembaga akademik, justru muncul noda hitam yang mencoreng nilai kemanusiaan dan moralitas? Di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Makassar, (Universitas Negeri Makassar) seorang pimpinan kampus justru diduga melakukan tindakan yang menginjak harga diri dan kehormatan perempuan. Bagi Kohati Cabang Makassar, kejadian ini bukan sekadar insiden  ini tamparan keras bagi dunia pendidikan, sebuah alarm yang memekakkan telinga nurani kita semua. “Sangat ironis ketika perguruan tinggi yang seharusnya menjadi simbol intelektualitas dan moral justru berubah menjadi ladang subur bagi kekerasan seksual,” tegas Ketua Umum Kohati Cabang Makassar dengan nada kecewa namun lantang. Perguruan tinggi semestinya menjadi ruang aman, nyaman, dan bebas berekspresi, bukan tempat di mana ketakutan tumbuh di balik tembok kelas dan ruang dosen. Namun apa yang kita saksikan hari ini? Ketika kasus kekerasan seksual mencuat, proses penyelesaiannya diseret lamban, ditutupi rapat, demi menjaga nama baik institusi. Seolah-olah reputasi lebih berharga daripada martabat manusia. Lalu di mana Satgas PPKS yang digadang-gadang sebagai benteng pelindung mahasiswa? Di mana suara tegas para akademisi yang dulu lantang berbicara soal etika dan moralitas? Semua menjadi pertanyaan yang menggantung di kepala, menghantui rasa keadilan kita. Kohati Cabang Makassar menegaskan, setiap bentuk pembiaran adalah kejahatan kedua setelah kekerasan itu sendiri. Kampus tidak boleh lagi menjadi ruang sunyi yang menelan jeritan korban. Kampus harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian, bukan ketakutan. Tempat belajar, bukan tempat bersembunyi dari kebenaran. Sudah saatnya semua elemen kampus pimpinan, dosen, mahasiswa, organisasi, dan Satgas PPKS bersatu menjaga ruang akademik dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual. Tingkatkan awareness, tanamkan empati, dan tegakkan keadilan tanpa kompromi. Karena setiap diam terhadap kekerasan adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Scroll to Top