23 Juli 2026

Nasional, Pemerintahan, Pemuda

PUSDAL, BBKSDA, dan DLHK Sulsel Mangkir dalam Dialog Publik Bawakaraeng

Ruminews.id-Gowa, 23 Juli 2026 — Ketidakhadiran sejumlah institusi yang memiliki mandat dalam pengelolaan lingkungan hidup menjadi sorotan utama dalam Dialog Interaktif bertajuk “Gunung Bulu Bawakaraeng RUSAK, Siapa yang Bertanggung Jawab?” yang berlangsung pada 22–23 Juli 2026 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar. Forum yang digagas sebagai ruang akademik dan ruang publik tersebut bertujuan menghadirkan dialog terbuka antara masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, dan pemangku kebijakan terkait kondisi terkini Gunung Bulu Bawakaraeng. Namun, kursi yang disediakan untuk Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PUSDAL), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulawesi Selatan tetap kosong tanpa kehadiran perwakilan. Ketidakhadiran tiga institusi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai komitmen dan keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan tata kelola kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng yang kini dinilai mengalami tekanan ekologis serius. Potret kerusakan Bawakaraeng Dalam rangkaian kegiatan, panitia juga menggelar pameran yang menampilkan dokumentasi kerusakan di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng. Pengunjung diperlihatkan potret tumpukan sampah di jalur pendakian, pembukaan jalur yang tidak terkendali, aktivitas pendakian massal, hingga perubahan bentang alam yang dinilai mengancam keberlanjutan ekosistem gunung. Sebuah maket tiga dimensi turut dipamerkan untuk menggambarkan perubahan morfologi kawasan sebelum dan setelah longsor besar yang terjadi pada tahun 2004. Pameran tersebut menjadi media edukasi bagi peserta forum untuk memahami dampak kerusakan lingkungan secara lebih nyata. Pemerhati Gunung Bulu Bawakaraeng, Nevy James Tonggiroh, dalam forum tersebut menegaskan bahwa persoalan yang terjadi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai akibat aktivitas manusia di lapangan, melainkan juga berkaitan dengan pendekatan pengelolaan kawasan yang dinilai belum tepat. “Yang mengurusi tempat ini tidak memahami apa itu gunung. Bawakaraeng adalah nama gunung, maka logikanya harus diurus dengan ilmu gunung, bukan hanya dengan cara berpikir kehutanan atau lingkungan. Salah satu penyebab kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng adalah karena salah urus,” tegas Nevy James Tonggiroh. Seruan keterbukaan dan kolaborasi Meski tanpa kehadiran tiga institusi tersebut, dialog berlangsung aktif dan menghasilkan sejumlah gagasan penting. Para peserta menekankan perlunya pendekatan ilmiah, penguatan pengetahuan lokal, serta kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng. Forum juga menegaskan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan yang memiliki hubungan historis dan kultural dengan Gunung Bulu Bawakaraeng harus dilibatkan secara aktif dalam proses konservasi, penelitian, edukasi, dan pengawasan kawasan. Melalui dialog ini, peserta mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Gunung Bulu Bawakaraeng, percepatan langkah pemulihan ekosistem, serta lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada kelestarian lingkungan. Sampai pertanyaan publik tersebut dijawab secara terbuka oleh institusi yang berwenang, satu kalimat akan terus bergema di tengah masyarakat: “Gunung Bulu Bawakaraeng RUSAK. Siapa yang bertanggung jawab?”

Enrekang, Nasional, Pemuda, Pendidikan

Pelajar SDN 172 Enrekang Berbagi Inspirasi Adiwiyata Mandiri dengan Siswa Korea Selatan di Ajang GYN 2026

ruminews.id, ENREKANG – Sebanyak 14 pelajar terpilih dari SD Negeri 172 Enrekang sukses mewakili Indonesia dalam sesi puncak daring (online) program pertukaran pelajar internasional Global Youth Network (GYN) 2026 bersama pelajar dari Korea Selatan pada tanggal 22 dan 23 Juli 2026. Kegiatan yang didukung oleh Good Neighbors International (GNI) ini dilangsungkan dari area SDN 172 Enrekang, Sulawesi Selatan. Program GYN 2026 ini diselenggarakan untuk menyatukan generasi muda dari berbagai negara agar dapat saling bertukar wawasan budaya sekaligus membangun komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan dalam bingkai Sustainable Development Goals (SDGs). Delegasi pelajar Enrekang secara khusus menyoroti visi “Bumi Impianku” melalui implementasi SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi serta SDG 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim. Dalam sesi presentasinya, para pelajar yang diwakili oleh siswi seperti Kezia, Ariqah, Adzkia, Rafa, dan Afifah dengan bangga memaparkan profil sekolah mereka yang telah menyandang predikat Adiwiyata Mandiri tingkat nasional sejak tahun 2015. Kepada teman-temannya di Korea Selatan, mereka menjelaskan bagaimana sekolah menyiasati keterbatasan lahan dengan kreativitas penghijauan melalui pot dan polibag. Para siswa juga mendeklarasikan aksi nyata harian mereka, seperti rutinitas mencuci tangan dengan benar, membuang sampah pada tempatnya, serta komitmen mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan selalu membawa botol minum (tumbler) sendiri dari rumah. Selain edukasi iklim, interaksi antar pelajar ini berlangsung hangat melalui sesi tanya jawab budaya. Para siswa SDN 172 Enrekang dengan antusias menanyakan berbagai hal kepada pelajar Korea Selatan, mulai dari rekomendasi makanan khas, jenis permainan tradisional, cara mereka menghabiskan waktu libur, hingga bentuk komitmen mereka dalam mewujudkan SDGs. Kepala Sekolah SDN 172 Enrekang, Saida, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa komitmen ini merupakan hasil dari muatan lokal sekolah yang fokus pada lingkungan hidup. Ia menjelaskan bahwa model pembelajaran kontekstual terus diterapkan agar siswa menyadari bahaya pencemaran sampah plastik sejak dini. “Pembelajaran diajarkan secara kontekstual, di mana anak-anak diajak ke luar kelas agar mereka bisa berinteraksi dengan lingkungan secara langsung, sehingga di mana pun mereka berada, mereka akan selalu tersadar akan pentingnya menjaga lingkungan,” pungkasnya. Lebih lanjut, Richa Mauliana selaku Education Facilitator dari GNI Enrekang CDP menyampaikan harapan besarnya terhadap kontribusi para generasi muda di ajang internasional ini. “Melalui GYN 2026 kita berharap dapat menemukan solusi bagi tantangan global untuk masa depan yang lebih baik. Juga kita berharap agar perwakilan siswa dapat menjadi volunteer perubahan yang bisa mereka tularkan ke teman-teman yang ada di sekolahnya,” tuturnya.

Daerah, Makassar, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Peternakan

Stop Meremehkan Jurusan Peternakan! Masa Depan Pangan Indonesia Ada di Tangan Mereka

ruminews.id, Makassar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, paradigma masyarakat terhadap jurusan peternakan mulai mengalami perubahan. Jika dahulu jurusan ini sering dipandang sebelah mata dan identik hanya dengan pekerjaan memelihara ternak di kandang, kini peternakan telah berkembang menjadi bidang ilmu modern yang mengintegrasikan sains, teknologi, bisnis, hingga inovasi digital.

Nasional, Pemerintahan, Pemuda

AMPS Resmi Adukan Dugaan Pelanggaran Etik KPU Sulawesi Barat ke DKPP RI

ruminews.id – Jakarta, 23 Juli 2026 – Aliansi Mahasiswa Peduli Sulawesi Barat (AMPS) menyampaikan bahwa pengaduan resmi terkait dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu yang melibatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Barat telah diterima oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI) untuk diproses sesuai mekanisme yang berlaku. DKPP merupakan lembaga yang berwenang memeriksa dan memutus dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu.

Nasional, Pemerintahan, Politik

Nanik S. Deyang Mundur, Sudaryono Diberikan Amanat Lanjutkan Kepemimpinan di BGN

Ruminews.id, Jakarta — Dinamika kepemimpinan terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Nanik S. Deyang secara resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai Kepala BGN karena alasan kesehatan. Kepemimpinan kini ditransisikan kepada Sudaryono guna mengawal keberlanjutan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Proses transisi ini berdasarkan Keppres 78/P tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.

Scroll to Top