Opini

Daerah, Ekonomi, Makassar, Nasional, Opini, Pemerintahan, Politik, Prov Sulawesi Selatan

Swadaya Jalan, Sunyinya Negara: Ketika Infrastruktur Desa Dikalahkan Prioritas Anggaran

Penulis: Yoris Palayukan (Ukolektifan) ruminews.id, – Fenomena masyarakat yang kembali bergotong royong memperbaiki jalan dengan biaya sendiri semakin sering terlihat di berbagai daerah. Apa yang dahulu dipandang sebagai simbol kuatnya budaya gotong royong, kini justru menghadirkan pertanyaan besar mengenai hadir atau tidaknya negara dalam memenuhi kewajiban dasarnya. Ketika warga harus mengumpulkan uang dari kantong pribadi untuk memperbaiki jalan yang menjadi fasilitas publik, persoalannya bukan lagi sekadar semangat kebersamaan, melainkan indikasi adanya kegagalan pemerintah dalam menjalankan fungsi pelayanan publik. Beberapa bulan terakhir, praktik swadaya pembangunan infrastruktur jalan terjadi di Kecamatan Gandangbatu Sillanan (Gandasil) dan Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja. Warga bergotong royong memperbaiki ruas jalan yang telah lama rusak karena menilai respons pemerintah berjalan lamban. Di saat yang sama, publik juga mempertanyakan sejauh mana fungsi pengawasan dan penganggaran yang dijalankan oleh para legislator terhadap kebutuhan masyarakat di daerah pemilihannya. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka. Apakah anggaran pembangunan desa benar-benar masih diarahkan pada kebutuhan paling mendasar masyarakat, atau justru bergeser pada program-program lain yang dianggap lebih prioritas? Pertanyaan ini menjadi penting karena infrastruktur jalan merupakan kebutuhan dasar yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga mobilitas masyarakat secara keseluruhan. Fenomena swadaya pembangunan jalan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, hal itu mencerminkan mulai menurunnya kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban konstitusionalnya. Masyarakat tetap membayar pajak, namun fasilitas publik yang seharusnya disediakan negara justru harus dibangun dengan biaya sendiri. Situasi demikian menghadirkan kesan adanya ketidakadilan fiskal, di mana kontribusi masyarakat kepada negara tidak berbanding lurus dengan pelayanan yang mereka terima. Apabila praktik semacam ini terus berulang, maka swadaya infrastruktur bukan lagi menjadi pengecualian, melainkan akan berubah menjadi pola yang dianggap lumrah. Padahal, pembangunan jalan bukanlah tanggung jawab masyarakat, melainkan kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik. Seorang warga Kecamatan Gandangbatu Sillanan yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keresahan tersebut dengan tegas. Menurutnya, pembangunan infrastruktur publik merupakan kewajiban mutlak pemerintah dan tidak semestinya dialihkan menjadi beban masyarakat. Pernyataan itu mencerminkan suara banyak warga yang mulai mempertanyakan mengapa fasilitas dasar harus dibiayai secara mandiri, sementara pemerintah memiliki kewenangan mengelola anggaran publik. Kekecewaan masyarakat juga diarahkan kepada para wakil rakyat. Janji-janji pembangunan yang disampaikan saat kampanye dinilai belum diwujudkan dalam bentuk kebijakan nyata. Legislator tidak cukup hanya hadir pada masa pemilihan umum, tetapi juga harus memastikan kebutuhan dasar masyarakat memperoleh perhatian dalam proses penyusunan dan pengawasan anggaran daerah. Di sisi lain, pemerintah desa juga menghadapi keterbatasan fiskal. Penurunan alokasi Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu alasan mengapa pembangunan infrastruktur berjalan lebih lambat. Berkurangnya ruang fiskal menyebabkan pemerintah desa harus melakukan penyesuaian terhadap berbagai program prioritas yang sebelumnya telah direncanakan. Di tengah kondisi tersebut, kebijakan pengalokasian sebagian anggaran desa untuk mendukung sejumlah program nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), dan Sekolah Rakyat, turut memunculkan perdebatan di tingkat lokal. Pemerintah tentu memiliki alasan strategis dalam menjalankan program-program tersebut. Namun, ketika implementasinya di daerah berimplikasi pada tertundanya pembangunan jalan, jembatan, drainase, dan fasilitas dasar lainnya, evaluasi terhadap keseimbangan prioritas anggaran menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Persoalannya bukan terletak pada penting atau tidaknya program-program nasional tersebut, melainkan pada bagaimana pemerintah mampu memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat di daerah tidak terabaikan. Infrastruktur merupakan fondasi pembangunan. Tanpa jalan yang layak, aktivitas ekonomi melambat, distribusi hasil pertanian terganggu, akses pendidikan menjadi lebih sulit, dan pelayanan kesehatan tidak berjalan optimal. Karena itu, pemerintah daerah bersama DPRD perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas pengalokasian anggaran pembangunan. Prioritas nasional semestinya tidak mengorbankan pelayanan dasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Negara harus hadir secara nyata, bukan hanya melalui program-program besar, tetapi juga melalui jalan yang dapat dilalui dengan aman oleh setiap warga. Pada akhirnya, maraknya pembangunan jalan secara swadaya bukan sekadar kisah tentang semangat gotong royong masyarakat desa. Fenomena tersebut merupakan alarm yang mengingatkan bahwa terdapat persoalan serius dalam tata kelola pembangunan dan prioritas anggaran. Jika pemerintah terus membiarkan kondisi ini berlangsung, maka yang terkikis bukan hanya kualitas infrastruktur, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara dan para wakil rakyat yang seharusnya menjadi penyambung aspirasi masyarakat.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Korupsi Tumbuh Subur di Kemarau yang Panjang

Penulis: Muhammad Kasim (Aktivis Pemuda Takalar) ruminews.id – Tujuh bulan terakhir menyisakan ironi yang sulit dicerna akal sehat. Ketika pemerintah pusat terus menggaungkan slogan efisiensi anggaran, publik justru disuguhi rentetan operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kepala daerah. Hingga pertengahan 2026, sedikitnya 12 kepala daerah telah terjerat OTT dalam berbagai perkara dugaan korupsi. Fenomena ini bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan cermin retaknya tata kelola keuangan negara yang semakin gaduh dan kehilangan arah.

Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Mengurai Sampah, Mengurai Tanggung Jawab

Penulis: Wawan Wahyudi – Ketua Umum HIPMAT (Himpunan Pelajar Mahasiswa Desa Tampo) ruminews.id – Persoalan sampah di Kabupaten Enrekang kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah media memberitakan tumpukan sampah di beberapa titik wilayah Enrekang pada awal Agustus 2026. Kondisi tersebut tentu tidak bisa dianggap sepele karena kebersihan lingkungan merupakan bagian dari pelayanan publik yang harus dijaga.

Nasional, Opini, Pemuda

Perayaan di Atas Luka: Menagih Janji Kemerdekaan bagi Jiwa-Jiwa yang Terasing

Penulis: Ariel Putra Pratama Presidium Forum Literasi Mahasiswa Indonesia ruminews.id – Setiap bulan Agustus tiba, jalan-jalan utama hingga gang sempit mendadak riuh oleh warna-warni umbul-umbul merah putih. Musik perjuangan membahana dari pengeras suara desa, dan bendera dikibarkan di setiap pekarangan. Namun, di balik gegap gempita seremoni tahunan ini, ada ruang sunyi yang memaksa kita menatap kembali wajah asli bangsa hari ini. Tinta yang kita goreskan tidak boleh hanya mencatat kemegahan panggung perayaan, melainkan harus berani menyuarakan realita yang sering kali terabaikan di balik tiang bendera. Kemerdekaan sejatinya adalah janji luhur untuk membebaskan rakyat dari ketakutan, kebodohan, dan penderitaan ekonomi. Namun, ketika kita memandang sekeliling, jurang ketimpangan masih menganga lebar. Pendidikan yang seharusnya menjadi eskalator mobilitas sosial justru masih menjadi barang mewah yang tak merata. Di saat anak-anak di kota besar menikmati fasilitas pembelajaran berbasis teknologi canggih, masih ada jutaan anak di pelosok negeri yang harus menyeberangi sungai berbahaya atau belajar di bawah atap kelas yang lapuk demi selembar kertas ijazah. Ketika kesempatan belajar ditentukan oleh tebalnya dompet orang tua atau lokasi географиis, maka hakikat “mencerdaskan kehidupan bangsa” belum sepenuhnya tuntas. Kondisi tersebut berkelindan erat dengan kemiskinan yang masih membendung mimpi-mimpi rakyat kecil. Di tengah narasi pertumbuhan ekonomi, masih banyak orang tua yang terpaksa mengubur cita-cita anaknya karena harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah. Belum lagi nasib para guru honorer di garis depan pendidikan yang mengabdi dengan sisa-sisa harapan meski menerima upah jauh di bawah batas kelayakan. Ini menandakan bahwa perjuangan bertahan hidup bagi sebagian besar warga adalah ‘perang’ yang saban hari masih berkecamuk. Menuliskan ketimpangan ini bukanlah bentuk pesimisme, melainkan wujud cinta yang paling jujur terhadap Republik. Merayakan 17 Agustus dengan kesadaran kritis berarti menolak untuk ternina-bobokan oleh retorika manis di atas mimbar. Tugas kita adalah terus merawat ingatan publik dan mengetuk nurani pemangku kebijakan. Kemerdekaan Indonesia baru menemukan jiwa yang utuh ketika keadilan tak lagi berhenti di papan iklan kota, melainkan sungguh-sungguh dirasakan hingga ke dapur-dapur masyarakat miskin dan ruang-ruang kelas di ujung negeri.

Iman Amirullah
Opini, Pemuda, Politik

Mungkinkah Demokrasi Berfungsi Tanpa Juru Selamat?

Penulis: Iman Amirullah Ruminews.id, Yogyakarta —Setiap kali Indonesia berusaha memperbaiki diri, seringkali masalah baru justru muncul. Upaya memberantas korupsi melahirkan bentuk korupsi baru. Reformasi hukum justru menghasilkan tumpukan aturan yang membingungkan. Demokrasi yang seharusnya memperkuat partisipasi warga malah kerap berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan segelintir elite.

Nasional, Opini, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan, Pemuda, Politik

Politik Residu Di TPA Antang: Kota Makassar Berbenah, Nasib Pemulung Dipertaruhkan?

Penulis : Maulana Ishak – Societas Initiative ruminews.id – Ketika sebagian besar warga Makassar masih menyiapkan diri untuk berangkat bekerja, truktruk sampah telah lebih dulu membentuk antrean di pintu masuk TPA. Bau menyengat yang bagi banyak orang cukup untuk membuat mereka menutup hidung, bagi sebagian yang lain justru menjadi penanda dimulainya hari. Burung-burung berputar rendah di atas gunungan sampah.

Luwu Timur, Nasional, Opini

Memahami Konflik Lahan Laoli: Persoalan yang Berlangsung Hampir Tiga Dekade, Bukan Terjadi dalam Semalam

Penulis: Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi ruminews.id – Di tengah derasnya arus informasi, konflik lahan di Dusun Laoli, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur menjadi perhatian publik nasional. Berbagai video, foto, dan potongan informasi beredar luas di media sosial. Ada yang menyebut masyarakat “diusir”, ada yang menilai pemerintah bertindak sewenang-wenang, sementara di sisi lain pemerintah menyatakan seluruh proses telah ditempuh sesuai ketentuan hukum.

Nasional, Opini

Meneguhkan Kembali Peradaban Nusantara: Dari Kejayaan Kerajaan-Kerajaan Besar Menuju Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Penulis : Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara – Sultan dari Istana Baitul Mulkiah Kesultanan Pakunegara Sanggau Kalimantan Barat. ruminews.id – Indonesia merupakan bangsa yang lahir dari perjalanan sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Nusantara telah menjadi pusat peradaban dunia yang melahirkan kerajaan-kerajaan besar dengan pengaruh politik, ekonomi, budaya, maritim, dan diplomasi internasional. Perjalanan peradaban Nusantara memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat sebagai bangsa yang maju, terbuka terhadap perdagangan internasional, serta mampu membangun tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang beradab. Kerajaan Sriwijaya, yang berkembang sejak abad ke-7, dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Berpusat di Sumatra, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan internasional di Selat Malaka dan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang dikunjungi para cendekiawan dari berbagai negara. Kejayaan Sriwijaya menunjukkan kemampuan bangsa Nusantara dalam membangun kekuatan ekonomi berbasis perdagangan laut dan diplomasi antarbangsa. Memasuki abad ke-13, Kerajaan Singasari di Jawa Timur menjadi tonggak penting lahirnya cita-cita penyatuan Nusantara. Di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara, Singasari menjalankan Ekspedisi Pamalayu sebagai upaya memperkuat hubungan politik dan perdagangan dengan wilayah-wilayah di Sumatra sekaligus menghadapi ancaman dari Dinasti Yuan di Tiongkok. Gagasan penyatuan wilayah Nusantara mulai tumbuh pada masa ini. Cita-cita tersebut mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1293. Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Asia Tenggara. Melalui Sumpah Palapa, Gajah Mada mencetuskan tekad untuk mempersatukan Nusantara. Wilayah pengaruh Majapahit membentang luas melalui jaringan perdagangan, hubungan politik, dan kerja sama antarkerajaan. Pada masa inilah lahir semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, sebagai simbol persatuan dalam keberagaman yang kemudian menjadi semboyan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memasuki abad ke-16, muncul Kerajaan Mataram Islam sebagai kekuatan besar di Pulau Jawa. Mataram melanjutkan tradisi pemerintahan Nusantara dengan mengembangkan sistem administrasi, budaya, pertanian, serta memperkuat identitas masyarakat Jawa. Pada masa Sultan Agung, Mataram berupaya menyatukan wilayah Jawa sekaligus melakukan perlawanan terhadap dominasi VOC. Semangat mempertahankan kedaulatan menjadi salah satu warisan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Memasuki masa kolonial, berbagai kerajaan Nusantara menghadapi tekanan dari bangsa-bangsa Eropa. Perlawanan terhadap kolonialisme berlangsung di berbagai daerah dan melahirkan banyak tokoh perjuangan. Kesadaran sebagai satu bangsa semakin menguat melalui Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928 yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah awal sejarah bangsa Indonesia, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun. Nilai-nilai persatuan, gotong royong, keberagaman, toleransi, serta semangat membangun kejayaan bangsa telah diwariskan oleh kerajaan-kerajaan besar Nusantara kepada generasi penerus. Melalui pemahaman sejarah yang utuh, masyarakat Indonesia diharapkan semakin menghargai warisan peradaban bangsa, memperkuat identitas nasional, serta menjadikan nilai-nilai luhur para pendahulu sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Namun demikian, menjelang 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kondisi persatuan dan kesatuan bangsa masih menghadapi berbagai tantangan. Di tengah semangat kebangsaan yang terus dijaga, masih terdapat kesenjangan sosial, kemiskinan, ketidakadilan dalam akses pembangunan, serta persoalan stunting yang masih menjadi perhatian serius di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih perlu terus diperjuangkan bersama melalui penguatan solidaritas, pemerataan pembangunan, dan komitmen seluruh elemen bangsa. Perjalanan dari Sriwijaya, Singasari, Majapahit, Mataram hingga lahirnya Republik Indonesia merupakan satu mata rantai sejarah yang membentuk jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang memiliki peradaban tinggi dan peran penting dalam sejarah dunia. Pertanyaannya kapan Bangsa Indonesia mampu mengimbangi Kejayaan kerajaan2 besar di nusantara terdahulu.

Scroll to Top