27 Oktober 2025

Daerah, Makassar, Pemerintahan, Pendidikan

PP HIPPERMAKU Resmi Dilantik: Di Bawah Nahkoda M. Raihan Kamal, Siap Wujudkan Program Kerja yang Berdampak bagi Pembangunan Daerah

ruminews.id, Makassar, 27 Oktober 2025 — Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Pengurus Pusat Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kolaka Utara (PP HIPPERMAKU) resmi dilantik di Kota Makassar. Pelantikan ini menjadi babak baru bagi HIPPERMAKU untuk memperkuat peran mahasiswa dan pemuda Kolaka Utara dalam mendukung pembangunan daerah di berbagai sektor melalui gagasan, kolaborasi, dan kerja nyata. Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan kegiatan Talk Show bertema “Pembangunan Kepemudaan”, yang menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Bupati Kolaka Utara Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H dengan materi “Membangun Kepemimpinan Mahasiswa dan Pemuda untuk Kemajuan Daerah” dan Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Drs. Achmad Hendra Hakamuddin, S.STP., MPA dengan materi “Makassar Creative Hub: Ruang Kreasi Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045.”   Kegiatan tersebut juga turut dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara H. Kamal Mustafa, S.Pi., M.M, Plt. Kepala Dinas Perindustrian Kolaka Utara Andi Khaerul Rijal, S.Sos, Ketua Kadin Kolaka Utara Abdul Gafur, Pejabat Eselon III Kolaka Utara, para Kepala Desa lingkup Kolaka Utara, Humas PT. CSM, serta para tokoh pemuda seperti Ketua BAKOPMIST, Ketua KNPI Kota Makassar, Ketua BAKORD HIPMI PT Sulsel, Ketua Karang Taruna Kampus Sulsel, Dewan Senior HIPPERMAKU, organisasi kepemudaan (OKP) Kolaka Utara, dan tamu undangan dari berbagai organisasi di Kota Makassar. Dalam sambutannya, Muhammad Raihan Kamal, S.IP yang resmi dilantik sebagai Ketua Umum PP HIPPERMAKU periode 2025–2027 menegaskan bahwa HIPPERMAKU di bawah kepemimpinannya akan menjadi wadah sinergi dan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk menghadirkan program kerja yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah. “HIPPERMAKU akan hadir bukan sekadar organisasi mahasiswa daerah, tetapi sebagai wadah produktif yang melahirkan ide dan aksi nyata. Kita ingin memastikan bahwa semangat pemuda Kolaka Utara tercermin dalam kontribusi langsung terhadap pembangunan di berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi kreatif, maupun pengembangan sumber daya manusia,” ujar Raihan. Dalam sesi talk show, Bupati Kolaka Utara, H. Nur Rahman Umar, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemuda dan pemerintah daerah dalam memperkuat partisipasi pembangunan, terutama di tengah keterbatasan anggaran daerah. Menurutnya, mahasiswa dan pemuda harus berani tampil dengan inovasi serta gagasan yang dapat mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa membebani fiskal pemerintah. Sementara itu, Drs. Achmad Hendra Hakamuddin, memaparkan bahwa model creative hub seperti di Makassar dapat menjadi inspirasi bagi pemuda Kolaka Utara untuk menciptakan ruang kolaboratif dalam bidang ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosial. “Kreativitas dan kepemimpinan pemuda harus diarahkan pada produktivitas. Ketika ide-ide mereka difasilitasi dengan ruang yang tepat, dampaknya akan sangat besar terhadap kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya. Pelantikan dan talk show ini menjadi momentum penting bagi HIPPERMAKU untuk mempertegas posisinya sebagai wadah intelektual muda Kolaka Utara yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan semangat “Bersatu, Berkarya, dan Berkontribusi untuk Kolaka Utara,” PP HIPPERMAKU di bawah kepemimpinan M. Raihan Kamal siap membangun gerakan kepemudaan yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak nyata dalam mendukung pembangunan daerah menuju Kolaka Utara yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Daerah, Gowa, Pemerintahan, Prov Sulawesi Selatan

Masyarakat Beri Amplop Aspirasi saat Kunjungan Kerja Anggota DPRD Prov. Sulsel di Kelurahan Tombolo, Gowa

ruminews.id, Gowa, 26 Oktober 2025 — Viral Kunjungan kerja anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Tenri Indah, di Kelurahan Tombolo, Kecamatan Somba Opu, diwarnai penyerahan ‘Amplop Aspirasi’ dari masyarakat Tinggimae. Amplop tersebut berisi laporan dan keprihatinan warga terhadap dugaan Mafia tanah dan pungli (sertifikasi ilegal) di Jl. Tinggimae, Lingkungan Pa’bangngiang, yang kini tengah diproses di kepolisian. Dalam kegiatan Reses Masa Persidangan tahun sidang 2025/2026 tersebut dihadiri langsung oleh Andi Tenri Indah, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kesejahteraan Rakyat DPRD Sulsel sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Gowa, hadir didampingi oleh Lurah Kelurahan Tombolo perwakilan Polri. Warga menyampaikan bahwa tanah negara yang telah lama mereka tempati justru diklaim sepihak dan disertifikatkan atas nama pribadi oleh oknum tertentu melalui program PTSL. Masyarakat menilai hal tersebut sebagai bentuk ketidakadilan dan penyalahgunaan kewenangan, disertai dugaan pungutan liar, penyerobotan lahan warga, serta upaya menggiring warga untuk menghentikan proses hukum yang masih berjalan di Polres Gowa. Dalam video yang beredar, pemberian amplop aspirasi dari warga tersebut diwakilkan melalui narasi dari salah satu aktivis Sospol, Sultan. Sultan mengatakan, “Menyambung dari ungkapan pak lurah bahwa ‘Rakyat tentu tak pernah ragu untuk menyampaikan keluhan’. Justru yang sering membuat kami ragu sebagai rakyat adalah keseriusan atau kesungguhan dalam menyelesaikan keluhan itu. Jadi reses adalah momen curhat-curhatan yang dijamin oleh hukum. Komisi E sebagai komisi Kesejahteraan Rakyat tentu sangat dekat dan sangat relevan dengan kondisi persolan hidup dan hajat hidup masyarakat Tombolo pada khususnya”. “Belakangan ini, beberapa bulan ini. Kesejahteraan itu terganggu dengan maraknya bayang-bayang mafia tanah dan pungli di Tombolo itu sendiri. Khusus tempat yang kita gunakan reses saat ini. Tentu dari tidak adanya kepastian hukum dan political will dari pihak legislatif, membuat kami sedih selaku masyarakat. Tentu walaupun kami pihak masyarakat mendapatkan bantuan pendidikan, kesehatan tapi tempat tinggal yang kami tempati Itu tidak jelas dan di bawah bayang-bayang mafia tanah dan pungli. Itu sama saja, ‘tena na sannang tinro ta’ (artinya: tidak tenang tidurnya).. ‘betullll’ (sorak masyarakat/audiens reses). Sultan mengakhiri diolog dengan memberikan Amplop khusus kepada Andi Tenri Indah selaku ketua Komisi E sekaligus Mantan Pacar/istri dari Wakil Bupati Gowa, Darmawangsa Muin dengan pemberian Surat Aspirasi. “Jika ingin lebih jelasnya, kami dari ‘Aliansi Masyarakat Tombolo’ sudah menyiapkam dan mengurai beberapa persoalan yang ada di Tombolo ini. Tentu anggota Dewan bukan hanya sebagai Simbol tapi orang yang selalu ingin mendengar dan dekat dengan hati masyarakat. Apalagi kita dengar-dengar tadi bahwa di sini adalah salahsatu penyumbang suara teebanyak. Tentu kami meminta, selaku anggota dewan untuk betul-betul memperjuangkan kami. Terlepas dari persoalan suara, itu sudah lewat. Selaku anggota dewan dan juga istri wakil Bupati, itu sudah menjadi kewajiban. Dan tentu ibu dewan lebih paham”. “Maka dari itu, mewakili masyarakat di sini, kami akan memberikan amplop. Jadi permasalahannya sudah kita urai bu. Jadi, mohon dibaca-baca. (Tutupnya melalui pemberian amplop di depan audiens reses). Selaku pihak legislatif, Andi Tenri Indah langsung menerima amplop dan menyambung dengan lantang bahwa, “Saya benci mafiah tanah, saya juga sudah jadi korban mafiah tanah. Jadi aspirasi sudah diterima, nanti saya juga akan membantu, menyampaikan ini ke Bapak Kapolres untuk diperoses segera. Terkait temuan pungli, saya akan berusaha membantu, supaya secepatnya untuk diperoses seadil-adilnya. (Tegas Ketua Komisi E DPRD Prov. Sulsel di depan peserta reses)   “Persoalan ini bukan hanya sengketa tanah biasa, tapi menyangkut keberpihakan negara terhadap rakyat kecil. Kalau tanah rakyat bisa diambil semena-mena lewat permainan administrasi, berarti ada yang salah dalam sistem kita,” tegas Sultan, aktivis sosial-politik yang turut hadir memberi dukungan moral kepada warga. Sultan menekankan bahwa amplop aspirasi yang diberikan masyarakat adalah simbol keresahan publik terhadap lemahnya pengawasan negara atas kebijakan pertanahan di tingkat daerah. Ia juga meminta DPRD turun langsung mengawal proses hukum agar tidak ada intervensi yang menghambat penyidikan. Gowa Darurat Mafiah Tanah dan Pungli. Pertemuan berlangsung terbuka dan penuh harapan. Warga berharap momentum ini menjadi awal pembenahan tata kelola pertanahan dan perlindungan hukum bagi masyarakat kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.

Ekonomi, Opini

“Dari B2B ke B2E”-(Kronik Satire Ekonomi ala Whoosh)

ruminews.id – Kalau bicara soal kereta cepat Whoosh, rasanya yang paling ngebut bukan keretanya, tapi drama soal utangnya. Dulu waktu proyek ini diumumkan, semua tampil gagah bilang ini skemanya murni B2B (Business to Business). Katanya proyek modern, profesional, tanpa beban APBN, tanpa campur tangan negara. Tapi entah kenapa, begitu cicilan mulai datang dan bunga pinjaman beranak, tiba-tiba formatnya berubah jadi versi lokal: B2B (Business to Budget). Begitu duit seret, langsung melirik APBN dengan pandangan penuh harap, seolah negara itu dompet ajaib yang selalu siap menalangi ambisi yang kebablasan. Padahal kalau namanya B2B, logikanya sederhana. Yang untung ya perusahaan, yang rugi ya tanggung sendiri. Tapi di sini, logika kadang cuma hiasan presentasi. Begitu neraca keuangan mulai panas, langsung berubah jadi B2G (Business to Government). Kalau untung, semua teriak “swasta hebat!” tapi kalau rugi, narasinya berubah jadi “demi kepentingan nasional.” Mirip mahasiswa yang ngaku hidup mandiri, tapi begitu tanggal tua, kode SOS ke rumah bunyi terus. Saya khawatir nanti akan muncul lagi versi upgrade-nya, B2C (Business to Citizen). Ini yang paling lucu dan ironis. Ketika bisnis mulai megap-megap, rakyat disuruh ikut patungan lewat pajak. Jadi, untungnya privat, buntungnya publik. Lama-lama kita bisa punya sistem ekonomi baru; “gotong royong bayar kegagalan orang lain” Dan bisa jadi akan ada lagi versi yang lebih kocak: B2D (Business to Debt). Bisnis yang bukan lagi soal mencetak laba, tapi mencetak cicilan. Proyeknya disebut “investasi masa depan,” tapi masa depan itu sendiri dijadikan jaminan utang. Seolah-olah utang bukan beban, tapi tradisi kebangsaan yang harus dirawat tiap tahun. Kalau terus begini, nanti bisa naik tingkat jadi B2D lokal (Business to Dukun Anggaran) yg skemanya berharap mantra fiskal bisa menutup defisit tanpa keringat. Puncak evolusinya mungkin berakhir pada B2E (Business to Excuse). Di fase ini, setiap kali proyeknya bermasalah, yang keluar bukan solusi tapi alasan yakni demi kebanggaan nasional, demi konektivitas, demi transfer teknologi, demi segala hal kecuali akuntabilitas. Di sini angka bukan lagi alat ukur, tapi bahan dongeng. Jadi kalau hari ini masih ada yang minta APBN dipakai buat nutup utang proyek yang katanya B2B, pertanyaannya sederhana; ini proyek bisnis, atau stand-up comedy ekonomi? Karena kalau terus begini, bukan cuma kereta yang Whoosh meluncur cepat, tapi juga uang rakyat yang wusshh… meluncur pergi, meninggalkan kita semua di stasiun. Akhirnya, kita hanya bisa menatap rel panjang yang dibangun dari logika yang entah ke mana perginya.

Pemerintah Kota Makassar

Kominfo Makassar Gelar Bimtek Satu Data untuk Tingkatkan Akurasi Statistik Sektoral

ruminews.id – Makassar,- Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Makassar menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyelenggaraan Statistik Sektoral sesuai dengan prinsip Satu Data Indonesia. Berlangsung di Ruang Sipakatau, Balai Kota Makassar, Senin (27/10/2025). Mengusung tema “Optimalisasi Pengisian Metadata untuk Penyelenggaraan Statistik Sektoral yang Akurat, Efektif & Terpadu”, acara ini diikuti perwakilan dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) selaku produsen data. Kepala Bidang Pengelolaan Data Elektronik dan Statistik, Dinas Kominfo Makassar, Suhendra, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya kualitas data dalam penyusunan kebijakan. “Data yang bernilai bukan hanya sekadar angka di atas kertas. Nilai sejati data terletak pada bagaimana ia dikelola, didokumentasikan, dan dimaknai secara benar untuk mendukung kebijakan yang tepat,” ujarnya. Menurutnya, pengelolaan data yang profesional akan memperkuat fondasi kebijakan berbasis bukti. Suhendra menegaskan, penerapan prinsip Satu Data Indonesia menjadi langkah penting mewujudkan tata kelola data yang efektif dan terpadu. Melalui kegiatan ini, Dinas Kominfo berharap kualitas penyelenggaraan statistik sektoral di Makassar semakin meningkat. “Kami ingin memastikan setiap data yang dihasilkan OPD memiliki nilai, akurasi, dan manfaat bagi pembangunan kota,” tutup Suhendra. Diketahui, kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan pengisian metadata statistik sektoral Kota Makassar. Metadata tersebut akan menjadi dasar penyusunan Buku Metadata Statistik Sektoral Tahun 2025. Selain itu, juga untuk memenuhi indikator kinerja kunci (IKK) Pemerintah Kota Makassar. Terutama pada aspek ketersediaan metadata statistik sektoral dan penerapan prinsip Satu Data Indonesia. Dua narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan dihadirkan untuk memperkuat pemahaman peserta. Mereka adalah Wiena Hardian Pratama dan Daris Azhar. Wiena menjelaskan pentingnya keseragaman standar metadata antarinstansi. Menurutnya, metadata yang lengkap akan memastikan data lebih mudah dibaca, diverifikasi, dan diintegrasikan. Sementara itu, Daris Azhar menekankan peran koordinasi antar-OPD dalam menjaga konsistensi data sektoral. “Sinergi menjadi kunci agar data dari berbagai sektor dapat dipadukan secara efektif,” ujarnya. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi terkait metadata. Mereka juga mendapat arahan langsung terkait teknis penyusunan format metadata sektoral.

Opini, Politik

Bahlil, Antara Rasisme dan Amanah Pasal 33 (Refleksi Jelang Peringatan Hari Sumpah Pemuda)

ruminews.id – Ketika bangsa ini kembali menatap tanggal 28 Oktober—hari di mana para pemuda bersumpah setia pada satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—kita diingatkan pada amanah konstitusi yang tak kalah fundamental: Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Pasal ini bukan sekadar susunan kalimat hukum, melainkan janji sosial bahwa kekayaan alam Indonesia harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks itulah sosok Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjalankan tugas berat. Di bawah kepemimpinannya, Kementerian ESDM menggerakkan program hilirisasi, memperluas akses energi hingga ke pelosok, membuka kesempatan bagi koperasi, UMKM, dan organisasi keagamaan untuk ikut mengelola tambang, serta memastikan sumber daya alam tidak hanya menjadi komoditas bagi segelintir elite, melainkan tumpuan hidup rakyat banyak. Langkah-langkah itu adalah upaya nyata untuk menghidupkan kembali semangat Pasal 33: negara sebagai pengelola dan penjaga keadilan ekonomi. Ketika energi menjadi terang bagi desa-desa, ketika tambang membawa kemaslahatan bagi masyarakat sekitar, dan ketika keuntungan sumber daya dirasakan lintas wilayah, maka konstitusi bukan lagi teks, melainkan kenyataan. Namun, di tengah kerja besar itu, Bahlil menghadapi sisi gelap bangsa ini yang belum sepenuhnya kita taklukkan: rasisme. Rasisme, Luka yang Masih Menganga Rasisme di Indonesia sering kali muncul dalam bentuk halus—candaan, stereotip, atau komentar bernada merendahkan. Namun dalam kasus Bahlil, serangan itu tampil telanjang: hinaan terhadap warna kulit, asal daerah, bahkan latar sosial. Ia menjadi sasaran ujaran kebencian yang menodai martabat kemanusiaan dan menyinggung nurani bangsa. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di tengah upaya pemerintah menegakkan amanah konstitusi dan mewujudkan keadilan sosial. Hinaan semacam itu bukan hanya menyakiti seorang menteri, melainkan mencederai cita-cita Sumpah Pemuda—bahwa kita satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Bahlil merespons dengan ketenangan. Ia tidak membalas, tidak melapor dengan amarah, tetapi memaafkan. “Saya biasa dihina sejak kecil, saya bukan anak pejabat,” katanya. Sikap ini menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang matang: tegas dalam kebijakan, lembut dalam hati. Di tengah derasnya gelombang kebencian di ruang publik, sikap memaafkan justru menjadi bentuk tertinggi dari kekuatan moral. Rasisme bukan hanya persoalan personal; ia cermin dari kegagalan kolektif kita memahami makna kebangsaan. Bila seorang putra bangsa yang memegang amanah publik masih diserang karena identitasnya, maka kita sedang mundur dari nilai yang diperjuangkan pemuda 1928. Sumpah Pemuda dan Panggilan Moral Bangsa Menjelang peringatan Sumpah Pemuda ke-97, bangsa ini dituntut untuk tidak hanya menghafal teks sejarah, tetapi juga menghidupkan maknanya. Sumpah Pemuda bukan sekadar momentum seremonial, melainkan kompas moral yang mengingatkan bahwa persatuan Indonesia tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang saling menghormati. Kita harus berani menolak ujaran kebencian, menghapus diskriminasi rasial dari ruang publik, dan memastikan setiap kebijakan negara berpihak pada rakyat tanpa memandang asal-usul. Pendidikan multikultural di sekolah, etika digital di dunia maya, dan keteladanan pemimpin menjadi fondasi baru bagi persatuan nasional. Bahlil Lahadalia menjadi simbol dari dua ujian besar bangsa ini: bagaimana mengelola kekayaan alam dengan adil sekaligus menjaga kemanusiaan dari luka rasisme. Dari dirinya kita belajar bahwa tugas seorang pemimpin bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun karakter bangsa. Ia menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tanpa kematangan moral akan kehilangan maknanya. Menjelang 28 Oktober, marilah kita refleksikan ulang arti persatuan. Persatuan tidak berarti tanpa perbedaan, dan perbedaan tidak boleh melahirkan kebencian. Ketika rasisme telah kita singkirkan, dan ketika amanah Pasal 33 benar-benar dijalankan untuk kesejahteraan rakyat, maka janji para pemuda 1928 akan kembali hidup di antara kita—bukan sekadar dalam pidato, tetapi dalam tindakan.

Gowa, Kesehatan

SAPMA PP Gowa Gelar Aksi Sosial Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Sambut HUT Pemuda Pancasila ke-66 dan Hari Sumpah Pemuda.

ruminews.id – Gowa – 27 Oktober 2025, Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Pemuda Pancasila ke-66 sekaligus Hari Sumpah Pemuda, Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kabupaten Gowa bersama KOTI Mahatidana, Farkes Reformasi, PMI Provinsi Sulawesi Selatan, dan Pemerintah Kecamatan Somba Opu menggelar kegiatan sosial berupa donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, Senin (27/10/2025). Kegiatan yang digelar di wilayah Kecamatan Somba Opu ini mendapat antusiasme tinggi dari warga sekitar. Ratusan masyarakat berpartisipasi mendonorkan darah serta memeriksakan kesehatan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ketua SAPMA PP Gowa, Sigit, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan aksi nyata Pemuda Pancasila terhadap masyarakat. ” Ini adalah aksi sosial kami sebagai wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Melalui momentum HUT Pemuda Pancasila dan Hari Sumpah Pemuda, kami ingin mengajak masyarakat untuk hidup sehat dan peduli terhadap sesama melalui donor darah,” ujar Sigit. Sementara itu, Ketua Farkes Reformasi, Dr. dr. Muji, menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara organisasi kepemudaan dan tenaga medis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. “ Kami ingin menunjukkan bahwa kesehatan adalah bagian penting dari pembangunan bangsa. Kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat,” jelasnya. Dari unsur KOTI Mahatidana, Agussalim, selaku Komandan KOTI, menegaskan dukungan penuh terhadap kegiatan sosial tersebut. “Pemuda Pancasila tidak hanya hadir dalam gerakan moral, tapi juga aksi kemanusiaan yang langsung menyentuh masyarakat,” ungkapnya. Camat Somba Opu, Nuraeny Apriyani, turut mengapresiasi inisiatif kegiatan yang digelar di wilayahnya. “Kami sangat mendukung kegiatan positif seperti ini. Kolaborasi antara organisasi kepemudaan, kesehatan, dan pemerintah daerah menjadi contoh baik bagi masyarakat dalam memperingati momen bersejarah bangsa,” tuturnya. Dengan terlaksananya kegiatan ini, SAPMA PP Gowa berharap semangat kepemudaan dan nilai-nilai Pancasila terus hidup dalam aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang!

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Kepemimpinan Profetik sebagai Jalan Etis dan Ekologis dalam Intermediate Training HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Suasana ruang pertemuan Hotel LaMacca malam itu terasa damai dan khidmat. Dalam balutan ketertiban dan keakraban, para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur kembali menyelami kedalaman ilmu dan nilai. Di hadapan mereka, hadir Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., sosok akademisi sekaligus pemikir Islam kontemporer, membawakan materi yang menggugah kesadaran: “Kepemimpinan Profetik dan Tanggung Jawab Sosial Ekologi.” Dalam penjelasannya, Prof. Khusnul Yaqin menegaskan bahwa kepemimpinan profetik bukan sekadar posisi atau jabatan, melainkan amanah moral dan spiritual yang berpijak pada nilai-nilai kenabian: kejujuran, keadilan, dan pembelaan terhadap yang lemah. Menurutnya, di tengah krisis kemanusiaan dan degradasi lingkungan, kepemimpinan yang berakar pada nilai profetik menjadi semakin mendesak untuk dihidupkan kembali. “Pemimpin profetik,” ucapnya tenang namun tegas, “adalah mereka yang tidak hanya memikirkan manusia, tetapi juga bumi yang menumbuhkan kehidupan. Kepemimpinan yang sejati ialah yang berempati pada alam, karena keadilan sosial tidak akan sempurna tanpa keadilan ekologis.” Forum berjalan tertib dan hangat. Para peserta menyimak dengan penuh perhatian, beberapa mencatat, sementara yang lain tampak merenung seolah setiap kalimat yang keluar dari sang profesor mengetuk nurani mereka untuk melihat kembali relasi manusia dengan lingkungannya. Keakraban pun tampak ketika sesi tanya jawab dimulai; para peserta berani berdialog, bukan sekadar bertanya, melainkan menyambung wacana dengan semangat intelektual yang bersahabat. Prof. Khusnul Yaqin kemudian menggambarkan bahwa tanggung jawab sosial-ekologi bukanlah konsep tambahan dalam Islam, melainkan bagian dari misi tauhid yang memuliakan ciptaan Tuhan secara menyeluruh. Ia mengajak para kader HMI untuk menjadi “pemimpin berkesadaran ekologis” mereka yang menanam gagasan kebaikan di tengah krisis, menegakkan nilai di tengah kehancuran, dan menumbuhkan kehidupan di tengah kelalaian manusia. “Kita tidak bisa bicara keadilan sosial tanpa memikirkan hutan yang gundul, laut yang tercemar, dan udara yang kita hirup setiap hari. Islam adalah ekologi spiritual mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.” Ketika sesi berakhir, tepuk tangan lembut mengisi ruangan. Wajah-wajah muda yang hadir menampakkan kesan mendalam; mereka tak sekadar mendapatkan ilmu, tapi juga sentuhan nilai. Suasana tetap hangat beberapa peserta berbincang dengan pemateri, bertukar pandangan, bahkan tertawa kecil di sela-sela keseriusan intelektual. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Intermediate Training LK2 HMI Makassar Timur hari itu menorehkan kesan mendalam: bahwa perjuangan intelektual tidak hanya berbicara tentang manusia dan kekuasaan, tetapi juga tentang bumi dan kehidupan. Melalui kepemimpinan profetik, para kader diajak untuk menjadi penjaga nilai dan penjaga alam dua hal yang tak terpisahkan dalam cita-cita besar Islam dan kemanusiaan.

Uncategorized

Menemukan Kembali NDP sebagai Pondasi Pembaruan Pemikiran Islam

ruminews.id, Makassar — Di ruang pertemuan Hotel LaMacca yang tertata rapi dan beraroma keakraban, semangat intelektual para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali berdenyut. Sore itu, suasana Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur berlangsung dalam atmosfer yang tertib, tenteram, dan penuh kehangatan persaudaraan. Di tengah ruangan yang dihiasi wajah-wajah muda penuh semangat, tampil Andi Ryza Fardiansyah, S.H., M.H., seorang intelektual hukum dan kader HMI, membawakan materi yang menggugah: “Menemukan Kembali NDP sebagai Pondasi Pembaruan Pemikiran Islam.” Dengan langkah mantap dan senyum bersahaja, Andi Ryza membuka pembicaraan. Suaranya tenang, namun sarat keyakinan. Ia berbicara bukan sekadar sebagai akademisi, tetapi sebagai kader yang memahami bahwa Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bukan sekadar dokumen organisasi, melainkan roh intelektual dan moral yang menuntun arah perjuangan HMI di setiap zaman. “NDP,” ujarnya lembut, “bukanlah teks yang harus dihafal, tapi nilai yang harus dihidupi. Ia adalah pondasi pemikiran Islam yang membebaskan, memanusiakan, dan menuntun kita memahami Tuhan melalui kerja dan pengabdian sosial.” Forum terasa hidup dalam kesunyian yang berwibawa. Para peserta menyimak tanpa gaduh; setiap kata yang diucapkan pemateri seolah menyusup ke ruang batin mereka. Tak ada jarak antara pemateri dan peserta hanya ada semangat yang sama untuk menemukan kembali makna perjuangan intelektual dalam bingkai Islam yang progresif. Andi Ryza mengulas bagaimana HMI sejak kelahirannya telah berdiri di antara dua dunia: iman dan ilmu, spiritualitas dan rasionalitas, tradisi dan pembaruan. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan global dari krisis moral hingga penetrasi kapitalisme pemikiran kader HMI harus kembali pada NDP sebagai basis berpikir, bukan sekadar slogan perjuangan. “Jika kita kehilangan NDP,” tegasnya, “kita kehilangan arah. Sebab di sanalah fondasi Islam yang rasional dan humanis bertemu: tauhid, kemerdekaan berpikir, dan tanggung jawab sosial.” Diskusi berjalan hangat. Peserta LK2 yang datang dari berbagai daerah menyimak dengan penuh perhatian, sesekali mencatat, dan kadang tersenyum ketika pemateri menyelipkan kisah kecil tentang perjuangan kader HMI di masa lalu. Keakraban intelektual memenuhi ruangan suasana yang memadukan semangat belajar dan rasa persaudaraan yang tulus. Ketika sesi tanya jawab dimulai, beberapa peserta mengangkat tangan dengan antusias. Pertanyaan-pertanyaan mereka tak sekadar ingin tahu, tetapi mencerminkan kegelisahan intelektual: bagaimana menerjemahkan NDP dalam konteks kekinian, bagaimana menjadikannya panduan di tengah krisis nilai, dan bagaimana Islam bisa terus hidup sebagai kekuatan pembaruan. Andi Ryza menjawab dengan tenang dan bijak. “NDP adalah tafsir dari realitas dan wahyu. Maka setiap zaman, kita dituntut untuk menafsirkannya kembali agar Islam tidak hanya diucapkan, tapi dihidupkan.” Di akhir sesi, suasana ruangan berubah menjadi hening yang khidmat. Tepuk tangan peserta pecah lembut bukan karena formalitas, tapi sebagai tanda hormat pada kejujuran dan keteduhan gagasan yang baru saja mereka dengar. Malam di Hotel LaMacca itu berakhir dalam damai. Beberapa peserta masih bertukar pandangan sambil menikmati secangkir kopi, sementara Andi Ryza dengan hangat menyapa satu per satu peserta yang menghampirinya. Di antara mereka tumbuh rasa yang sama bahwa NDP bukan masa lalu yang usang, tetapi cahaya yang harus terus dinyalakan di tengah zaman yang kian gelap. Dan di ruang itu, HMI kembali menemukan dirinya: organisasi kader yang berpikir dengan iman, berjuang dengan ilmu, dan menapaki jalan pembaruan dengan keikhlasan.

Uncategorized

Filsafat Islam dan Jalan Rasionalitas: Hidupkan Spirit Hikmah di Forum LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam itu, Hotel LaMacca menjadi saksi bagaimana gagasan dan kebijaksanaan berpadu dalam suasana yang hangat dan beradab. Dalam ruang pertemuan yang tertata rapi dan penuh ketertiban, ketenteraman, serta keakraban, para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk bersila dengan wajah penuh perhatian. Di hadapan mereka, tampil Noer Ramadhan La Udu, seorang pemikir muda sekaligus kader HMI yang membawakan materi bertajuk “Filsafat Islam: Dari Hikmah ke Rasionalitas, dari Wahyu ke Ilmu.” Dengan suara yang tenang dan penuh kejelasan, Noer Ramadhan membuka perbincangan tentang hakikat ilmu dalam Islam — bukan sekadar sebagai kumpulan pengetahuan, tetapi sebagai jalan menuju kebijaksanaan (hikmah) yang mengantarkan manusia kepada kebenaran. “Wahyu,” ujarnya lembut, “adalah cahaya yang menuntun akal. Sedangkan rasionalitas adalah cermin yang memantulkan cahaya itu ke dalam kehidupan.” Kata-kata itu menembus keheningan. Para peserta terdiam, larut dalam renungan. Filsafat Islam, yang selama ini mungkin dianggap abstrak dan jauh dari kehidupan, malam itu seolah menjelma menjadi sesuatu yang hidup, hangat, dan relevan. Noer Ramadhan menjelaskan bagaimana peradaban Islam klasik berdiri di atas harmoni antara iman dan akal, antara wahyu dan ilmu. Ia menyinggung tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk mengingatkan bahwa kejayaan Islam lahir dari keberanian berpikir dan keterbukaan terhadap ilmu. “Kita tidak bisa membangun peradaban hanya dengan menghafal masa lalu,” katanya tegas. “Kita harus melanjutkan tradisi berpikir itu menjadikan wahyu sebagai dasar, dan rasionalitas sebagai alat untuk menafsirkan kehidupan.” Forum berjalan begitu tertib. Peserta mendengarkan dengan khidmat, beberapa mencatat dengan tekun, dan sesekali tersenyum ketika pemateri menyelipkan humor ringan tanpa mengurangi bobot pembicaraan. Di sela-sela keseriusan diskusi, suasana keakraban intelektual terasa kental antara pemateri dan peserta, antara generasi yang sama-sama mencintai ilmu dan keindahan berpikir. Sesi tanya jawab menjadi momen reflektif. Pertanyaan-pertanyaan lahir dari kegelisahan yang cerdas: bagaimana filsafat dapat kembali menjadi alat pembebasan, bagaimana wahyu bisa diterjemahkan dalam realitas sosial modern, dan bagaimana rasionalitas Islam berbeda dari sekularisme Barat. Noer Ramadhan menjawab dengan jernih dan rendah hati, menyatukan pandangan klasik dan konteks kontemporer dengan bahasa yang lembut namun bernas. “Ilmu bukan sekadar alat untuk memahami dunia,” tuturnya, “tapi jalan untuk memahami diri dan lewat diri, kita mengenal Tuhan.” Suasana forum berakhir dengan tepuk tangan panjang dan rasa kagum yang tulus. Para peserta bangkit, menyalami pemateri satu per satu. Ada senyum, ada rasa hormat, dan ada kehangatan khas HMI yang selalu mempersatukan pikiran dan persaudaraan. Malam di Hotel LaMacca itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan pelatihan; ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara iman dan intelektualitas, antara nalar dan nurani. Di sanalah para kader HMI belajar bahwa menjadi manusia berilmu berarti menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal, antara spiritualitas dan rasionalitas, antara hikmah dan tindakan. Dan di tengah keheningan setelah forum usai, seolah tersisa satu pesan yang lembut namun kuat dari Noer Ramadhan La Udu: “Belajarlah tidak hanya untuk tahu, tapi untuk menjadi bijak. Karena hikmah adalah cahaya, dan ilmu adalah jalannya.”

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Rekonstruksi NDP sebagai Jalan Pembaruan Pemikiran dan Gerakan HMI

ruminews.id, Makassar — Dalam suasana yang tenang dan penuh keakraban, ruang pertemuan Hotel LaMacca sore itu menjadi saksi lahirnya percakapan intelektual yang bernas dan menggugah kesadaran. Para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur tampak menyimak dengan saksama ketika Tubagus Damanhuri, S.Hum., M.Phil., tampil membawakan materi bertajuk “Rekonstruksi NDP: Sebuah Jalan Menuju Pembaharuan Pemikiran dan Gerakan HMI.” Dengan gaya tutur yang tenang namun berwawasan luas, Tubagus Damanhuri mengajak peserta untuk kembali menelusuri akar ideologis Himpunan Mahasiswa Islam melalui Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bukan sebagai teks yang beku, tetapi sebagai ruh yang harus terus hidup dan berkembang mengikuti dinamika zaman. Ia menekankan bahwa rekonstruksi NDP bukan berarti menanggalkan nilai-nilai dasar Islam, melainkan meneguhkannya dalam konteks modern yang lebih relevan dan aplikatif. “NDP adalah fondasi ideologis yang lahir dari kesadaran sejarah dan tanggung jawab intelektual,” ungkapnya. “Namun setiap generasi memiliki tugasnya sendiri: bukan hanya menghafal, tapi juga menafsirkan ulang, agar perjuangan HMI tetap berdenyut di tengah perubahan sosial dan global yang terus bergerak.” Forum berjalan tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Para peserta duduk melingkar dalam suasana hangat, menyimak setiap kalimat pemateri dengan pandangan serius namun bersahabat. Diskusi pun mengalir dengan dinamis penuh semangat dialog, tetapi tetap menjaga etika keilmuan dan persaudaraan. Sesekali tawa kecil pecah di sela penjelasan, menandakan bahwa forum ini tak hanya mengasah intelektual, tetapi juga membangun kedekatan emosional antarkader. Dalam paparannya, Tubagus Damanhuri juga menyoroti pentingnya pembaruan pemikiran dan gerakan HMI sebagai bagian dari proses panjang menuju kematangan ideologis. Ia mengingatkan bahwa HMI lahir bukan sekadar untuk melahirkan aktivis, melainkan manusia pembaharu mereka yang berpikir dengan akal Islam, berjuang dengan semangat keadilan, dan berkarya dengan tanggung jawab sosial. “Gerakan HMI yang sejati adalah gerakan yang sadar akan nilai dan realitas. Pembaruan pemikiran harus berjalan seiring dengan pembaruan praksis, agar NDP tetap menjadi kompas dalam setiap langkah perjuangan kader,” tegasnya. Ketika sesi berakhir, tepuk tangan bergema lembut bukan hanya sebagai tanda apresiasi, tapi juga penghormatan terhadap gagasan yang menyentuh nurani. Beberapa peserta masih tampak berdiskusi santai dengan pemateri, menandakan betapa forum tersebut bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang perjumpaan gagasan dan kesadaran. Malam itu, Intermediate Training LK2 HMI Cabang Makassar Timur kembali mempertegas misinya: menumbuhkan kader yang berpikir tajam, berjiwa kritis, namun tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Melalui materi “Rekonstruksi NDP: Sebuah Jalan Menuju Pembaharuan Pemikiran dan Gerakan HMI,” semangat pembaruan itu kembali menyala meneguhkan bahwa HMI akan terus hidup selama kadernya berani berpikir, beriman, dan berjuang dengan penuh kesadaran.

Scroll to Top