Author name: Rifki Tamsir

Daerah, Pendidikan

KKN-T UMPalopo Posko V Desa Maramba Gelar Seminar Program Kerja

Ruminews, LUWU TIMUR — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Muhammadiyah Palopo Posko V Desa Maramba, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, menggelar seminar program kerja pada Rabu, 12 Agustus 2026. Seminar berlangsung di aula Kantor Desa Maramba dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, tokoh agama, serta unsur pendidikan. Forum itu menjadi ruang bagi mahasiswa memaparkan sejumlah program yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian di desa. Dalam pemaparannya, mahasiswa mengusung lima bidang utama, yakni pendidikan, agama, lingkungan, pertanian, serta olahraga dan seni. Program-program tersebut disusun berdasarkan hasil observasi dan kebutuhan masyarakat Desa Maramba. Koordinator Desa (Kordes) KKN-T Posko V, Rifki Tamsir, mengatakan seluruh program dirancang dengan melibatkan masyarakat. Posko V mengangkat tema “Bersama Masyarakat, Bersama Membangun Desa.” “KKN-T Posko V Desa Maramba mengangkat tema ‘Bersama Masyarakat, Bersama Membangun Desa’. Saya berharap bapak dan ibu sekalian dapat terlibat dan berpartisipasi langsung dalam kegiatan kami,” ujar Rifki dalam pemaparannya. Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar program KKN tidak berhenti sebagai kegiatan mahasiswa, tetapi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi desa. Kepala Desa Maramba, Respati Palaguna, menyambut baik program yang ditawarkan mahasiswa. Dalam sesi diskusi, ia menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan program KKN-T sekaligus mengajak masyarakat ikut terlibat dalam setiap kegiatan. “Saya berterima kasih dan mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa KKN. Saya juga menyampaikan kepada masyarakat Maramba agar memperlakukan adik-adik kita ini seperti tamu dan ikut serta dalam kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa,” kata Respati. Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat. Sejumlah masukan disampaikan sebagai bahan penyempurnaan program sebelum pelaksanaan kegiatan di lapangan. Melalui seminar ini, KKN-T Posko V berharap program yang telah disusun tidak hanya menjadi agenda mahasiswa, tetapi menjadi kerja bersama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat Maramba.

Palopo, Pemuda, Pendidikan, Teknologi

LMND Palopo Sukses Gelar Seminar Energi, Soroti Tantangan Transisi Menuju Net Zero Emission

ruminews.id – Palopo, 24 Juli 2026 – Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Palopo sukses menyelenggarakan Seminar Energi bertajuk “Transisi Energi Berkeadilan: Jalan Menuju Net Zero Emission dan Kedaulatan Energi Luwu Raya” di Auditorium Saokotae, Jumat (24/7). Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari PLN UP3 Palopo dan akademisi, serta diikuti mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan berbagai elemen masyarakat.

Daerah, Makassar, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM

ruminews.id, MAKASSAR – Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sulawesi Selatan melayangkan protes keras dan mosi tidak percaya terhadap instansi pemerintah terkait tata kelola lalu lintas moda transportasi barang berat. Hal ini didasari atas pembiaran aktivitas truk bertonase besar atau Over Dimension Over Loading (ODOL) yang melintas bebas di jalan-jalan sekunder dan pemukiman kota, serta melubernya antrean bahan bakar minyak (BBM) jenis solar hingga memakan badan jalan utama. Fenomena pembiaran ini tercatat telah berlangsung secara masif selama lebih dari satu bulan tanpa ada tindakan konkret.

Daerah, Nasional, Pemuda, Pendidikan

Janji SK Panlih DPM 1×24 Jam Tinggal Narasi

ruminews.id, Palopo – Komitmen pimpinan Universitas Muhammadiyah Palopo untuk segera menerbitkan Surat Keputusan (SK) Panitia Pemilihan (Panlih) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) belum juga terealisasi. Padahal, janji itu disampaikan langsung dalam forum resmi. Pada 17 Juni 2026, perwakilan mahasiswa bersama Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik (HPKP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Universitas Muhammadiyah Palopo menggelar audiensi dengan Wakil Rektor III, Dr. Goso, S.E., M.M. Pertemuan tersebut membahas kepastian pembentukan Panitia Pemilihan DPM. Dalam audiensi itu, Wakil Rektor III menjelaskan pembentukan Panlih tidak dapat dilaksanakan pada Juni karena adanya agenda dinas luar kota. Forum kemudian menyepakati pembentukan Panlih dijadwalkan pada 7 Juli 2026. Dua hari menjelang pelaksanaan forum, penulis menghubungi Wakil Rektor III melalui WhatsApp untuk mengingatkan kesepakatan tersebut. Pesan itu mendapat respons, “Terima kasih nanda telah mengingatkan.” Ia kemudian menegaskan, “Jika Panlih telah terpilih maka 1×24 jam diterbitkan SK, kemudian Panlih melakukan penjaringan calon Ketua DPM.” Forum pembentukan Panlih akhirnya digelar sesuai jadwal di MCC Universitas Muhammadiyah Palopo pada 7 Juli 2026. Forum dihadiri Wakil Rektor III bersama sejumlah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Sains dan Teknologi, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Setelah melalui pembahasan yang berlangsung cukup panjang, forum menetapkan ketua beserta struktur Panlih. Namun, komitmen penerbitan SK dalam waktu 1×24 jam tak kunjung terealisasi. Pada 9 Juli 2026, Ketua Panlih terpilih kembali mengingatkan Wakil Rektor III melalui WhatsApp. Balasan yang diterima berbunyi, “Wa’alaikum salam, iye insya Allah ini hari sudah bisa terbit nanda.” Hingga Jumat, 10 Juli 2026, SK Panlih yang dijanjikan belum juga diterbitkan. Keterlambatan tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan mahasiswa. Sebab, tanpa SK, Panlih belum memiliki dasar administratif untuk menjalankan tahapan pemilihan Ketua DPM. Padahal, seluruh proses telah disepakati dalam forum resmi yang difasilitasi pihak universitas. Kini, publik kampus menunggu bukan lagi janji, melainkan realisasi.

Daerah, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Darul Arqam Madya Se-Indonesia Timur Digelar di Luwu Utara, Perkuat Peran Intelektual Kader IMM

ruminews.id, Luwu Utara – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Luwu Utara sukses menyelenggarakan Darul Arqam Madya (DAM) Se-Indonesia Timur Angkatan I. Kegiatan kaderisasi tingkat madya tersebut berlangsung dengan mengusung tema “Rekonstruksi Gerakan IMM: Divergensi Kaum Intelektual dalam Memecahkan Problematika Keumatan”. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi IMM dalam memperkuat kualitas kader sebagai intelektual muslim yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kepekaan sosial, serta komitmen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan. Darul Arqam Madya merupakan jenjang kaderisasi yang berfokus pada penguatan wawasan ideologis, intelektual, dan spiritual kader untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Ketua panitia menyebutkan bahwa tema yang diangkat berangkat dari kebutuhan gerakan mahasiswa untuk terus melakukan rekonstruksi pemikiran di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Menurutnya, keberagaman perspektif dalam tradisi intelektual harus dipandang sebagai kekuatan untuk melahirkan solusi atas berbagai persoalan umat. Selama proses kaderisasi, peserta mendapatkan berbagai materi yang membahas isu keislaman, kemuhammadiyahan, kepemimpinan, hingga problematika sosial-kebangsaan. Forum ini juga menjadi ruang dialektika bagi kader dalam mempertemukan gagasan dan pengalaman gerakan dari berbagai daerah. Darul Arqam Madya tidak hanya dimaknai sebagai agenda formal organisasi, tetapi juga sebagai proses pembentukan kader yang memiliki ketajaman analisis, keluasan berpikir, dan kemampuan menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi gerakan sosial yang nyata. Melalui kaderisasi ini, IMM berupaya menyiapkan kader madya yang mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. PC IMM Luwu Utara menilai bahwa tantangan yang dihadapi umat dan bangsa saat ini tidak dapat dijawab hanya melalui wacana. Diperlukan kader-kader yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai profetik, nalar kritis, dan semangat tajdid dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan, kebangsaan, dan keumatan. Keberhasilan pelaksanaan DAM Se-Indonesia Angkatan I menjadi salah satu bukti konsistensi PC IMM Luwu Utara dalam membangun tradisi kaderisasi yang berkelanjutan. Organisasi ini berharap para peserta mampu mengaktualisasikan ilmu dan gagasan yang diperoleh selama kaderisasi ke dalam kerja-kerja nyata di tengah masyarakat. “Kaderisasi adalah napas perjuangan IMM. Dari Darul Arqam Madya lahir kader-kader intelektual yang tidak hanya mampu membaca realitas, tetapi juga menghadirkan solusi atas berbagai problematika keumatan demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” ujar salah seorang panitia. Sebanyak 35 peserta mengikuti Darul Arqam Madya Se-Indonesia Angkatan I tersebut. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia Timur, di antaranya Bau-Bau dan Kolaka Utara. Sementara peserta dari Sulawesi Selatan berasal dari PC IMM Enrekang, Bone, Sidenreng Rappang (Sidrap), Palopo, Luwu, dan Luwu Utara sebagai tuan rumah penyelenggara.

Daerah, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

IMM UM Palopo Gelar Tour Budaya, Ajak Mahasiswa Menjelajahi Identitas Luwu

ruminews.id, Palopo – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Universitas Muhammadiyah Palopo menggelar kegiatan Tour Budaya: Jelajah Identitas pada Jumat, (26/06/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Istana Kedatuan Luwu, Jalan Landau, Kelurahan Amassangan, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, itu diikuti sekitar 50 peserta dari tujuh komisariat IMM se-UM Palopo. Program tersebut diinisiasi oleh Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) sebagai upaya menumbuhkan kembali kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kebudayaan lokal. Menurut panitia, arus modernisasi yang semakin kuat membuat sebagian anak muda mulai menjauh dari akar budayanya sendiri. “Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang membentuk karakter suatu masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu mengenal dan memahaminya,” ujar salah seorang peserta dalam kegiatan. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan sarung sabbe sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya Luwu. Setibanya di lokasi, peserta diterima oleh penjaga pintu adat dan mendapatkan pengarahan mengenai tata cara berkunjung ke kawasan Kedatuan Luwu. Setelah prosesi penerimaan, peserta diajak mengamati berbagai peninggalan sejarah Kerajaan Luwu yang tersimpan di lingkungan istana. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Andi Sulo Lipu Silthanu, Opu Keni Dapo-Dapo sekaligus Koordinator Ritual Adat Kedatuan Luwu. Dalam pemaparannya, Andi Sulo Lipu menekankan bahwa budaya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. “Budaya adalah identitas. Selain itu, budaya juga berfungsi sebagai pengontrol sosial dan menjadi dasar lahirnya hukum adat yang mengatur kehidupan masyarakat,” katanya. Ia juga mengingatkan para peserta untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. “Jika generasi muda tidak mengenal budayanya sendiri, maka perlahan identitas itu akan hilang. Karena itu, pelestarian budaya harus dimulai dari kesadaran untuk mempelajari dan menghargainya,” ujarnya. Ketua Komisariat IMM FKIP UM Palopo, Rifki Tamsir, menyampaikan apresiasi kepada pihak Kedatuan Luwu yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai sejarah dan budaya Luwu. “Kami berterima kasih atas pengalaman dan pengetahuan yang diberikan. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, kita hampir melupakan budaya kita sendiri. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat kembali mengenal, memahami, dan mencintai budaya daerahnya,” kata Rifki. Melalui kegiatan tersebut, IMM UM Palopo berharap mahasiswa tidak hanya memahami sejarah sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya di masa depan.

Daerah, Hukum & Kriminal, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Dialog Civil Society Populi Institute Soroti Dampak Kenaikan BBM dari Perspektif Ekonomi, Hukum, dan Masyarakat

ruminew.id, Palopo – Populi Institute kembali menggelar Dialog Civil Society pada Jumat, (19/06/2026). Kegiatan yang berlangsung di Warkop Kopingho, Jalan Islamic Center 1, Kota Palopo, itu mengangkat tema “Dampak Kenaikan BBM”, isu yang belakangan menjadi perhatian publik karena berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Juwandariah Jubir, S.E., M.Si. dari perspektif ekonomi, Muhammad Firdaus Rasyid, S.H., M.H. dari perspektif hukum, serta Rudianto Anuardi yang mewakili pandangan masyarakat. Mengawali diskusi, Juandariah menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak tidak terjadi tanpa sebab. Menurut dia, sejumlah faktor global turut memengaruhi kebijakan pemerintah, mulai dari konflik geopolitik dunia, fluktuasi harga minyak mentah internasional, hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ia menilai pemerintah berada pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, negara harus menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara di sisi lain kenaikan harga BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat. Karena itu, kebijakan penyesuaian harga BBM kerap ditempuh sebagai langkah untuk menjaga keberlanjutan fiskal negara. Dari perspektif hukum, Muhammad Firdaus Rasyid menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan yang menyangkut kebutuhan publik. Menurut dia, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa kebijakan kenaikan BBM dilakukan berdasarkan mekanisme yang jelas serta mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat luas. Ia juga menegaskan bahwa negara harus hadir memberikan perlindungan kepada kelompok rentan yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi. Kebijakan kompensasi maupun bantuan sosial, kata dia, harus tepat sasaran agar tidak menimbulkan ketimpangan baru di tengah masyarakat. Sementara itu, Rudianto Anuardi melihat dampak kenaikan BBM dari realitas yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Kenaikan harga bahan bakar, menurut dia, hampir selalu diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi. Kondisi tersebut membuat beban ekonomi masyarakat semakin berat, terutama bagi kelompok pekerja sektor informal dan masyarakat berpenghasilan rendah. Ia menilai pemerintah perlu membuka ruang dialog yang lebih luas dengan masyarakat sebelum mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat. Dengan demikian, setiap kebijakan yang diambil dapat dipahami dan diterima secara lebih baik oleh publik. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum. Beragam pandangan dan pertanyaan mengemuka mengenai efektivitas subsidi energi, kondisi ekonomi nasional, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk meminimalkan dampak kenaikan harga BBM.

Daerah, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

FGD Pelajar Anti Bullying: Langkah Konkret PKD TM 1 Putra Darul Arqam Balebo Cetak Pemimpin Berdampak

ruminews.id, Luwu Utara – Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati (PKD TM 1) Putra Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Balebo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pelajar Anti-Bullying” pada Rabu, (17/06/2026). Kegiatan ini menjadi bagian integral dari rangkaian Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 (PKD TM 1) Putra yang telah berlangsung di kompleks pondok pesantren. FGD ini merupakan respon nyata terhadap maraknya isu kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan nasional. Kader didorong untuk menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, harmonis, dan bebas dari segala bentuk intimidasi. Salim Maula Abu Hudzaifah selaku Master of Training (MoT) memandu langsung kegiatan FGD. Salim merupakan anggota Bidang Organisasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Sulawesi Selatan. Menurutnya FGD ini, membawa arah baru gerakan kepelajaran yang lebih inklusif dan solutif. Kegiatan FGD Anti-Bullying merupakan pengejawantahan langsung dari paradigma baru Ikatan Pelajar Muhammadiyah, yaitu “Gerakan Kepemimpinan Berdampak”. Dalam arahannya, Salim Maula Abu Hudzaifah menegaskan bahwa FGD Anti-Bullying ini bukan sekadar diskusi seremonial. “Kader TM 1 adalah corong penggerak di akar rumput. Paradigma ‘Gerakan Kepemimpinan Berdampak’ menuntut kita untuk tidak diam melihat ketidakadilan. Melalui pilar Berdaya, Bermaslahat, dan Berkelanjutan, santri Darul Arqam Balebo harus menjadi agen perdamaian yang memastikan bahwa pesantren adalah ruang suci yang memanusiakan manusia,” tegas Salim Maula Abu Hudzaifah. Paradigma “Gerakan Kepemimpinan Berdampak” bertumpu pada tiga pilar utama: Berdaya: Kader IPM harus memiliki kapasitas diri, kesadaran emosional, dan kekuatan nalar kritis untuk menolak, mencegah, serta membentengi diri dari perilaku perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun siber (cyberbullying). Bermaslahat: Kepemimpinan yang lahir dari PKD TM 1 harus membawa manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Dengan memutus mata rantai bullying, para santri tengah menghadirkan kemaslahatan berupa rasa aman dan ukhuwah Islamiyah di dalam asrama. Berkelanjutan: Komitmen menolak perundungan tidak boleh berhenti setelah pelatihan selesai. Nilai-nilai perdamaian ini harus mengakar menjadi kultur pesantren yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Rumusan “Solusi dari Santri untuk Santri” dari FGD yang berlangsung. Berjalan cukup interaktif membagi para peserta ke dalam beberapa kelompok kerja. Mereka ditantang untuk membedah studi kasus mengenai dinamika psikologis korban perundungan, serta merumuskan resolusi konflik yang berbasis pada nilai-nilai persaudaraan Islam. Di akhir sesi, seluruh peserta PKD TM 1 Putra menyepakati manifesto bersama untuk menjaga iklim pesantren yang sehat, saling mendukung, dan berkemajuan. Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 (PKD TM 1) merupakan gerbang utama perkaderan formal Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tingkat dasar. Pelatihan ini bertujuan membentuk karakter, menanamkan ideologi Muhammadiyah, serta mengasah kepemimpinan santri di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Balebo, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, demi terwujudnya tujuan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Nasional, Pemuda, Pendidikan

“Menata Langkah Baru”, UKM Pena Laminar UM Palopo Gelar MUBES

ruminews.id, PALOPO – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pena Laminar Universitas Muhammadiyah Palopo menggelar Musyawarah Besar (MUBES) di Kampus UM Palopo, Sabtu, 13 Juni 2026. Forum tertinggi organisasi tersebut menjadi momentum evaluasi kepengurusan sekaligus menentukan arah gerak lembaga pada periode mendatang. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA itu dihadiri jajaran pimpinan universitas, pembina organisasi, serta perwakilan lembaga kemahasiswaan di lingkungan kampus. MUBES kali ini mengusung tema “Menata Langkah Baru untuk Generasi yang Responsif, Progresif, dan Kolaboratif.” Tema tersebut menjadi landasan refleksi sekaligus harapan bagi keberlanjutan organisasi di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Ketua Panitia, Ilham, mengatakan tema yang diangkat bukan sekadar slogan seremonial. Menurut dia, tema tersebut merupakan harapan agar kepengurusan berikutnya mampu menghadirkan pembaruan dan menjaga eksistensi organisasi. “Tema ini bukan hanya pemanis kegiatan, tetapi menjadi doa dan harapan bagi pengurus selanjutnya agar mampu membawa UKM Pena Laminar lebih maju,” ujarnya. Senada dengan itu, perwakilan Ketua Umum UKM Pena Laminar, M. Aswad Al Fajar, menekankan pentingnya konsistensi dalam berorganisasi. Menurut dia, keberhasilan sebuah lembaga tidak semata diukur dari banyaknya program kerja yang terlaksana, tetapi juga dari kemampuan kader bertahan dan menjaga komitmen hingga akhir masa kepengurusan. “Berlembaga bukan tentang siapa yang mampu menyelesaikan seluruh program kerja, tetapi siapa yang mampu bertahan dan mengabdi hingga akhir periode,” katanya. Ia menambahkan, semangat responsif, progresif, dan kolaboratif harus menjadi karakter utama generasi penerus Pena Laminar. Sementara itu, Pembina UKM Pena Laminar, Indrawan, mengingatkan peserta agar tetap menjaga marwah organisasi sebagai ruang pengembangan intelektual dan kepenulisan. Ia berharap Pena Laminar terus melahirkan gagasan-gagasan yang kritis, jernih, dan memberi dampak nyata bagi kampus maupun masyarakat. Apresiasi juga datang dari pihak universitas. Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Palopo, Dr. Goso, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan kebanggaannya terhadap konsistensi UKM Pena Laminar dalam menjaga budaya organisasi dan tradisi literasi di kampus. Menurut Goso, MUBES harus menjadi ruang demokratis untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas, memiliki kemampuan berkolaborasi, serta mampu membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Palopo di tingkat yang lebih luas. Usai pembukaan, peserta melanjutkan agenda persidangan yang meliputi evaluasi kepengurusan, pembahasan rekomendasi organisasi, hingga pemilihan formatur kepengurusan baru. Melalui forum ini, UKM Pena Laminar diharapkan mampu menata langkah baru yang lebih adaptif, sekaligus memperkuat perannya sebagai wadah pengembangan literasi dan kepenulisan di lingkungan kampus.

Daerah, Makassar, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Uncategorized

Sampah Palopo: Antara Keterbatasan Pemerintah dan Rendahnya Kesadaran Warga

ruminews.id, Palopo -‏ Persoalan sampah kembali menjadi sorotan dalam Dialog Civil Society yang digelar Populi Institute di Warkop Kopingho, Jalan Islamic Center 1, Kota Palopo, Rabu, 10 Juni 2026. Forum yang mengangkat tema “Persoalan Sampah di Kota Palopo: Tantangan dan Solusi yang Berkelanjutan” itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan untuk membedah akar persoalan sampah yang hingga kini belum menemukan titik terang. Hadir sebagai narasumber Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palopo, Ir. Erdir, S.T., M.Si., pemerhati lingkungan Muhammad Fajri, S.T., serta Abdul Malik, S.T. dari Yayasan Sawerigading. Sejumlah komunitas dan elemen masyarakat sipil turut hadir untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka terkait persoalan lingkungan di Kota Palopo. Diskusi diawali dengan pemaparan mengenai kondisi sampah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Bagi para peserta diskusi, fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi isu lokal, melainkan krisis lingkungan yang membutuhkan perhatian serius. Di tingkat daerah, situasinya tak kalah mengkhawatirkan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah di Kota Palopo mencapai sekitar 37.823 hingga 38.823 ton per tahun, atau setara 103 hingga 120 ton per hari. Pada momentum tertentu seperti Ramadan dan Hari Raya, volumenya bahkan dapat meningkat hingga 50 hingga 60 ton. “Masalah terbesar sebenarnya berada di tingkat hulu,” ujar Muhammad Fajri dalam diskusi tersebut. Menurut dia, sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang cukup dibuang begitu saja. Padahal, sampah memiliki jenis dan metode pengelolaan yang berbeda. Pandangan serupa juga muncul dari peserta diskusi lainnya. Rendahnya kesadaran masyarakat dinilai menjadi faktor utama yang membuat persoalan sampah terus berulang dari tahun ke tahun. Edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah dinilai masih sangat minim. Dari sisi pemerintah, Erdir mengakui bahwa pengelolaan sampah di Kota Palopo masih menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan armada pengangkut, kurangnya fasilitas tempat pembuangan sampah, serta belum optimalnya regulasi menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah. “Kami tidak menutup mata bahwa masih banyak kekurangan. Armada terbatas, fasilitas belum merata, dan beberapa program sering terkendala di lapangan,” kata Erdir. Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari pembentukan satuan tugas (satgas) sampah, penambahan fasilitas tempat sampah, hingga penyusunan regulasi yang lebih tegas terkait pengelolaan sampah. Namun implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu hambatan yang kerap ditemui, kata dia, adalah penolakan sebagian warga terhadap pembangunan fasilitas pengelolaan atau pembuangan sampah di sekitar kawasan permukiman. Dalam kesempatan yang sama, Abdul Malik menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami jenis-jenis sampah agar pengelolaannya dapat dilakukan dengan tepat. “Secara umum, sampah terbagi menjadi sampah organik dan anorganik. Keduanya memiliki metode pengelolaan yang berbeda sehingga perlu dipilah sejak dari rumah,” ujarnya. Menurut Abdul Malik, penyelesaian persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif dalam mengurangi dan mengelola sampah yang mereka hasilkan. Ia mencontohkan berbagai inovasi yang telah dilakukan Yayasan Sawerigading. Salah satunya mengolah sampah menjadi bahan baku batako dan produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sampah tidak selalu menjadi beban lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya jika dikelola dengan baik. Selain memperkuat infrastruktur dan regulasi, pemerintah juga berupaya mendorong lahirnya aturan dari tingkat kelurahan hingga kota. Beberapa di antaranya berupa penerapan sanksi bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan serta pengaturan retribusi pengangkutan sampah bagi setiap kepala keluarga. Meski demikian, para peserta dialog sepakat bahwa solusi jangka panjang tetap harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Kesadaran lingkungan perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Pendidikan lingkungan hidup bahkan dinilai perlu mendapatkan porsi yang lebih besar dalam kurikulum pendidikan. Dengan demikian, budaya menjaga kebersihan dan mengelola sampah dapat tumbuh sejak usia muda. Pada akhirnya, persoalan sampah bukan sekadar masalah teknis pengangkutan atau penyediaan tempat pembuangan. Masalah ini menyangkut budaya, kebiasaan, dan kesadaran kolektif masyarakat. Pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan warga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. Sebab, sampah yang hari ini diabaikan tidak akan hilang begitu saja. Ia akan kembali dalam bentuk pencemaran, banjir, kerusakan lingkungan, hingga ancaman kesehatan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari hal paling sederhana: kesadaran bahwa setiap sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita sendiri.

Scroll to Top