Author name: Fikri Haikal

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Di Hadapan Menteri Agama, Wali Kota Munafri: Makassar Adalah Kota yang Toleran dan Inklusif

ruminews.id, MAKASSAR — Di hadapan Menteri Agama RI dan para tokoh lintas agama serta keuskupan, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menggaungkan semangat moderasi beragama sebagai ruh kehidupan bermasyarakat di Kota Makassar. Kota yang ia pimpin dikenal sebagai ruang hidup yang kaya akan keberagaman budaya dan keyakinan, sebuah potret harmoni yang merefleksikan makna sejati Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Pesan itu ditegaskan Munafri saat memberikan sambutan pada Peresmian Gereja Katedral Keuskupan Agung Makassar di Jalan Kajaolalido, Kamis (30/10/2025), yang turut dihadiri Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana, Forkopimda, dan para tokoh lintas agama. Diatas podium yang disaksikan jemaat gereja dan para pendeta serta undangan lainya. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga semangat toleransi dan moderasi beragama di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Kota Makassar. Dalam sambutannya, Munafri menyebut bahwa momentum peresmian ini bukan hanya bersejarah dari sisi arsitektur dan historikal, tetapi juga memiliki makna religius yang mendalam bagi umat Katolik dan seluruh warga Kota Makassar. “Momentum ini bukan sekadar peresmian rumah ibadah yang bersejarah, tetapi juga simbol penguatan nilai-nilai keberagaman dan kebersamaan,” ujar Munafri. Menurutnya, Kota Makassar adalah salah satu kota terbesar di Indonesia bagian timur, tempat keberagaman hidup begitu kental. “Kami ingin terus menjaga ini sebagai bukti bahwa Makassar adalah kota yang toleran, tanpa membeda-bedakan suku, agama, atau warna kulit,” tegasnya. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada umat Katolik dan agama lain di Makassar yang telah menghadirkan bangunan bersejarah ini, bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempersatukan. Kepada seluruh umat bersama yang telah menghadirkan gedung religi ini. Dipercaya, tempat ini bukan hanya akan menjadi sumber kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang untuk membicarakan persoalan-persoalan sosial, tempat membangun kebersamaan, dan menata toleransi yang lebih baik di kota ini. Lebih jauh, Munafri mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar gereja sebagai wujud nyata dari kehidupan yang rukun dan inklusif. “Kita tidak hanya memperhatikan apa yang ada di dalam Katedral, tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Mari kita jadikan lingkungan ini sebagai contoh masyarakat majemuk yang hidup dalam perbedaan namun menyatu dalam kekuatan dan kasih Tuhan,” pesannya. Di akhir sambutannya, Munafri menyelipkan candaan khas yang menggambarkan keramahan warga Makassar. Bahwa, di Kota Makassar ini, ada dua larangan. Pertama, dilarang diet, karena makanan Makassar itu semuanya enak-enak. Kedua, dilarang pulang terlalu cepat. Di kota ini, tamu harus menikmati semilir angin Mammiri dan indahnya sunset di Pantai Losari,” tutupnya dengan senyum.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Munafri Turun Langsung Jemput Aspirasi FSPMI, Siap Fasilitasi Dialog Soal Kenaikan UMK 2026

ruminews.id, MAKASSAR — Suara aspirasi buruh kembali mengetuk pintu Balai Kota, Kamis (30/10/2025). Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima langsung perwakilan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang datang menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Makassar tahun 2026. Dalam audiensi tersebut, para buruh FSPMI menyuarakan harapan agar kebijakan upah tahun depan benar-benar mempertimbangkan kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, FSPMI juga meminta agar dilibatkan dalam forum Dewan Pengupahan, sebagai bentuk keadilan dan representasi buruh di Kota Makassar. Organisasi ini menegaskan memiliki lebih dari 1.200 anggota yang tersebar di berbagai sektor industri, sehingga keterlibatan mereka penting dalam proses pengambilan keputusan. Menanggapi aspirasi itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan apresiasi kepada FSPMI karena telah menyampaikan aspirasi dengan cara yang tertib dan dialogis. “Saya sangat mengapresiasi teman-teman FSPMI yang datang menyampaikan aspirasi dengan aman dan tertib dan damai,” kata Munafri saat menjemput langsung aspirasi buruh FSPMI di halaman kantor Balai Kota Makassar. Orang nomor satu Kota Makassar itu menegaskan, Pemerintah Kota Makassar selalu membuka ruang diskusi untuk membahas persoalan tenaga kerja dan kesejahteraan buruh. “Kami Pemerintah Kota selalu terbuka untuk berdiskusi dan berinteraksi agar hubungan antara buruh dan pemerintah semakin baik ke depannya,” jelasnya. Appi sapaan akrabnya menambahkan, pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan menginstruksikan Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar untuk segera berdialog langsung dengan perwakilan FSPMI. ” Dalam waktu dekat saya akan meminta Kepala Dinas Tenaga Kerja untuk menemui Bapak Ibu sekalian guna mendiskusikan hal-hal yang menjadi perhatian bersama,” tuturnya. “Mudah-mudahan dari pertemuan hari ini, kita bisa menemukan jalan keluar terbaik. Apalagi kami Pemerintah kota terus menyiapkan program untuk membantu teman-teman buruh,” lanjut Appi. Lebih lanjut, Wali Kota juga memaparkan sejumlah program Pemkot Makassar yang telah berjalan dalam upaya melindungi pekerja, terutama bagi mereka yang tergolong rentan. “Kami telah menyiapkan berbagai program jaminan sosial bagi pekerja rentan, mulai dari jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian, dan tahun ini, insyaallah, akan kita tambahkan jaminan hari tua bagi mereka,” jelasnya. Appi menegaskan bahwa berbagai program tersebut merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kata Appi, akan selalu dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk program peningkatan kesejahteraan. “Dana APBD yang berasal dari masyarakat tentu harus kembali kepada masyarakat, salah satunya melalui program-program perlindungan sosial dan peningkatan kesejahteraan warga Makassar,” tutupnya.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Wali Kota Makassar Tegaskan Regulasi Kuat Pengadaan Barang dan Jasa

ruminews.id, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya memperkuat regulasi dalam proses belanja barang dan jasa pemerintah, sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat pelaku usaha di daerah. Penegasan tersebut disampaikan Munafri saat memberikan sambutan pada Sosialisasi Implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46 Tahun 2025 tentang Sinergi LKPP dalam Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri, yang berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Kamis (30/10/2025). Dalam arahannya, Munafri menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Makassar berkomitmen menjadikan kebijakan pengadaan barang dan jasa sebagai instrumen nyata memperkuat perekonomian daerah. “Kami akan memperkuat pendampingan agar UMKM di Makassar menjadi lebih berdaya, naik kelas, dan mampu mendukung pembangunan kota,” tegas Munafri. Ia menegaskan, sebesar 50 persen belanja pemerintah diarahkan untuk produk lokal, dan dari jumlah itu separuhnya diperuntukkan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Komitmen Pemerintah Kota agar 50 persen belanja pemerintah harus belanja lokal. Dari jumlah itu, 50 persen lagi akan diberikan kepada UMKM,” jelasnya. Mantan Bos PSM itu menambahkan, total belanja Pemerintah Kota Makassar mencapai sekitar Rp3 triliun. Dari jumlah tersebut, ia ingin memastikan agar peluang ekonomi dapat diakses oleh masyarakat lokal, terutama UMKM. “Kami sedang membangun komitmen agar 50 persen belanja itu benar-benar dinikmati oleh pelaku usaha di Kota Makassar” kata politisi Golkar itu. Menurutnya, kehadiran pemerintah harus menjadi penyeimbang agar tidak terjadi ketimpangan ekonomi di masyarakat. Dia mencontohkan fenomena menjamurnya lapangan paddle tennis di Kota Makassar yang dibangun oleh berbagai investor tanpa standardisasi yang jelas. Banyak investor yang membangun tanpa ada standar baku. Ini yang ingin kami dudukkan bersama, agar ada kesepahaman dan regulasi jelas supaya tidak muncul masalah seperti kredit macet di kemudian hari. Munafri juga menekankan pentingnya sinergi dan arahan dari berbagai lembaga, termasuk LKPP, agar pengelolaan anggaran daerah tidak menyimpang dari tujuan utama, yakni untuk kesejahteraan masyarakat. “Kami juga terus meminta arahan agar tidak salah dalam menggunakan dana atau anggaran APBD, supaya penggunaannya benar-benar untuk masyarakat,” tambahnya. Lebih jauh, Wali Kota Makassar menggambarkan potensi besar yang dimiliki kotanya. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,4 juta jiwa, Makassar menjadi kota terbesar di Indonesia Timur sekaligus gerbang ekonomi kawasan timur Indonesia. Lanjut dia, Kota Makassar ini kota yang hidup dari sektor perdagangan barang dan jasa. Dengan posisi yang strategis, memiliki laut, sungai, dan daerah penyangga pertanian yang luas, potensi ekonominya sangat besar. Bahkan, sejak tahun 2019, Pemerintah Kota Makassar telah melaksanakan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik secara penuh, dan bahkan menempati posisi kedua nasional untuk nilai transaksi melalui sistem tersebut, yakni mencapai Rp645 miliar. “Kami sudah 100 persen menggunakan sistem pengadaan elektronik sejak 2019. Ini bukti komitmen transparansi dan efisiensi kami,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Munafri juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang masih menantang. Pemerintah Kota Makassar, katanya, tidak hanya berfokus pada bantuan langsung tunai. Akan tetapi lebih pada program-program yang memberikan manfaat jangka panjang dan memperkuat daya beli masyarakat. Lanjut dia, perbaikan jalur distribusi air minum, serta inkubator bisnis UMKM yang telah terbukti meningkatkan omzet. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari APBD memberikan manfaat nyata. Tidak hanya bantuan tunai, tapi juga program yang menumbuhkan kemandirian masyarakat,” ujarnya. Pemerintah Kota juga terus mendorong sertifikasi higienitas bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman, serta memperluas akses pembiayaan dan pasar. Menurut Munafri, tujuan akhir dari pengembangan UMKM adalah ekspor, karena itu menjadi indikator bahwa tata kelola usaha telah berjalan baik. “Ketika produk kita bisa menembus pasar ekspor, artinya tata kelola sudah matang. Itu target jangka panjang kami,” jelasnya. Menutup sambutannya, Munafri mengingatkan para pelaku usaha agar tidak sekadar mengikuti tren, melainkan mampu membaca ekosistem ekonomi secara bijak. Menurutnya, strategi bisnis yang kuat tidak hanya berbasis pada tren, tetapi juga pada kedekatan terhadap sumber bahan baku dan kemampuan membaca peluang pasar lokal. Melalui berbagai kebijakan dan pendekatan berbasis regulasi yang kuat, Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin terus memperkuat arah pembangunan ekonomi yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan. “Fokus pada belanja lokal, pemberdayaan UMKM, serta tata kelola pengadaan yang akuntabel menjadi pilar utama untuk mewujudkan Makassar sebagai kota yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing di kawasan Indonesia Timur,” tukasnya. Hadir pada kesempatan ini, anggota DPR RI komisi XI, fraksi Gerindra Kamrussamad, Sekretaris Lembaga Kebijakan pengadaan barang/jasa Pemerintah (LKPP) RI, Direktur pengembangan strategi dan kebijakan umum LKPP, Kepala biro perencanaan dan keuangan LKPP, dan pelaku UMKM.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan, Pendidikan

Munafri Sidak SDN Inpres Monginsidi, Pastikan Anak Belajar Layak

ruminews.id, MAKASSAR – Mengawali aktivitas pagi dengan kerja nyata, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin kembali menunjukkan komitmennya terhadap dunia pendidikan. Tanpa pemberitahuan resmi, ia melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Inpres Monginsidi, di Kecamatan Makassar, Rabu (29/10/2025), tepat pukul 09.25 WITA. Setibanya di sekolah, Munafri langsung meninjau ruang kelas di lantai satu. Dua ruang kelas pertama menjadi perhatian awalnya. Ia melihat kondisi dinding yang mulai retak dan beberapa fasilitas belajar yang dinilai membutuhkan perbaikan segera. “Ini kondisi sekolah yang memang butuh perhatian. Ada beberapa yang harus sangat-sangat kita perhatikan,” ujar Appi. “Terlihat ada kelas yang kursinya tidak cukup sehingga siswa harus membawa sendiri, termasuk ada yang beli mi instan hanya untuk menambah lauk. Ini tidak boleh terjadi di sekolah negeri,” tambah Munafri saat berdialog. Kehadiran orang nomor satu Makassar itu, sontak menyita perhatian para guru dan siswa. Bukan sekadar berkunjung. Appi ingin memastikan proses pendidikan berjalan layak, mulai dari infrastruktur sekolah, kualitas pembelajaran, hingga pemenuhan gizi siswa di tingkat sekolah dasar. Tanpa seremoni, Appi memasuki area sekolah dan memantau satu per satu ruang kelas serta fasilitas belajar. Kehadirannya disambut hangat para guru dan siswa. Senyum ramahnya tak segan ia bagikan kepada anak-anak yang tengah serius mengikuti pelajaran. Bagi Appi, sekolah bukan sekadar bangunan Pendidikan, tetapi ruang pembentuk masa depan kota. Karena itu, Pemkot ingin memastikan seluruh proses belajar mengajar berjalan nyaman, aman, dan memberi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Makassar. “Sekolah harus menjadi tempat yang melahirkan generasi cerdas, berakhlak, dan percaya diri,” demikian pesan kuat yang Munafri sampaikan. Sidak ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi sarana pendidikan dasar di kota Makassar, di lantai II, sekaligus memastikan kualitas pembelajaran berjalan optimal. Munafri menegaskan bahwa perhatian pemerintah kota terhadap pendidikan tidak hanya sebatas kurikulum, tetapi juga pembangunan infrastruktur sekolah. “Untuk sekolah-sekolah terutama pendidikan dasar, selain kurikulum juga infrastruktur sekolah harus kita benahi. Ini investasi masa depan anak-anak kita,” tegasnya. Usai memantau kelas di lantai dasar, ia berjalan ke bagian belakang gedung meninjau kondisi kantin sekolah. Ia memastikan kantin menerapkan standar kebersihan dan makanan sehat untuk siswa. Di lokasi ini, Munafri memeriksa ruang guru dan perpustakaan sekolah, sekaligus mengecek toilet guru dan siswa yang sudah tertata. Mantan Bos PSM mengapresiasi kebersihan yang terjaga namun tetap meminta agar pemeliharaan dilakukan secara berkelanjutan. Dalam salah satu kelas, Munafri juga memantau Menu Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dikonsumsi siswa. Ia mengecek langsung kelayakan lauk yang disajikan. “Ini sudah cukup proteinnya atau belum? Lauknya bagaimana?,” tanya Munafri. Ia juga menanyakan ketersediaan susu MBG yang ternyata hanya dibagikan sekali seminggu. Selain itu, Munafri melihat suplai air minum telah tersedia melalui galon isi ulang, sementara siswa membawa tumbler masing-masing, sebuah hal yang ia apresiasi. Sebelum meninggalkan lantai Sekolah, Ketua Golkar Makassar itu, mengumpulkan para guru dan memberikan arahan khusus terkait edukasi kebersihan dan lingkungan di sekolah. “Saya cuma mau tekankan satu hal. Tolong setiap kelas ada dua tempat sampah: organik dan non-organik. Ajarkan anak-anak membuang sampah secara benar. Nanti semua sekolah wajib punya Teba (Tempat Edukasi Belajar Anak) dan komposter,” tegasnya. Saat bersamaan juga, matanya tertuju pada tumpukan kardus bekas dan lemari rusak di bawah tangga. Ia menilai hal itu mengurangi estetika sekolah dan berpotensi menjadi sarang kuman. “Sekolah harus bersih dan rapi. Ini tempat anak-anak belajar, bukan gudang,” imbuh Appi. Sidak berakhir dengan komitmen pembenahan beberapa sarana sekolah secara bertahap. Munafri menegaskan bahwa pemerintah kota tidak akan menutup mata terhadap masalah pendidikan dasar. “Ini tanggung jawab kita bersama. Pemerintah hadir untuk memastikan anak-anak sekolah dengan layak, nyaman, dan aman,” tutupnya.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Wali Kota Munafri Minta KNPI Perkuat Peran Pembinaan Pemuda

ruminews.id, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mendorong organisasi kepemudaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) agar terus berperan aktif dalam pembinaan dan pengembangan potensi pemuda di Kota Makassar. “Ini bagian dari tugas bersama dalam membangun generasi masa depan,” hal itu disampaikannya Appi, saat penutupan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Pemuda yang digelar KNPI Kota Makassar, Jl. AP Pettarani Makassar, Selasa (28/10/2025) malam. Munafri menyampaikan apresiasi atas inisiatif KNPI menghadirkan kegiatan positif yang memberikan ruang aktualisasi bagi anak muda. Ia menilai kegiatan seperti Porseni merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata organisasi kepemudaan dalam pembangunan sumber daya manusia. “Saya sangat menyambut baik dan antusias kegiatan seperti ini. Porseni adalah ruang pembinaan yang mengarahkan anak muda pada aktivitas positif,” jelasnya. Menurutnya, kehadiran KNPI melalui kegiatan olahraga dan seni merupakan wujud sinergi dengan pemerintah dalam meminimalkan potensi penyimpangan perilaku generasi muda akibat kurangnya ruang ekspresi. Dimana, banyak persoalan sosial hari ini muncul karena anak muda tidak punya wadah. Mereka ingin berkembang, tetapi tidak tahu caranya, tidak ada yang mengajak, tidak ada ruang. “Di sinilah peran KNPI hadir memberikan arah,” tambah Ketua DPD II Golkar Makassar itu. Lebih lanjut, mantan Bos PSM ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membina generasi muda Makassar agar lebih berdaya saing dan memiliki masa depan yang jelas. Persoalan kepemudaan bukan hanya urusan pemerintah, tapi menjadi tanggung jawab bersama. KNPI hari ini sudah menunjukkan keberpihakan dengan aksi nyata. “Pemerintah siap hadir dan ikut mengintervensi kegiatan positif untuk anak muda,” tegasnya. Dalam Porseni tersebut, KNPI Makassar menyajikan berbagai cabang olahraga dan seni seperti sepak takraw, pencak silat, catur, domino, musik akustik, orasi pemuda, hingga video kreatif. Munafri menyebut ragam kegiatan ini mampu membuka ruang ekspresi bagi anak muda sesuai minat dan bakat yang mereka miliki. Meski apresiatif, Munafri juga menyoroti keterbatasan fasilitas olahraga dan ruang kreatif di Kota Makassar. Ia menyebut hal ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah ke depan. “Ini realita kita. Makassar belum punya infrastruktur olahraga yang memadai. Kadang kita harus pinjam tempat atau menyesuaikan kondisi,” tuturnya. “Karena itu menjadi tugas pemerintah untuk menghadirkan sarana dan prasarana pembinaan kepemudaan,” lanjutnya. Ia berkomitmen menggandeng investor dan pihak swasta untuk bersama-sama membangun fasilitas olahraga dan ruang pembinaan kepemudaan. Dia menekankan, langkah awal ini harus dihargai sebagai proses yang akan berkembang. Pemerintah akan membuka ruang kerja sama untuk membangun pusat kegiatan pemuda. “Kalau infrastrukturnya ada, KNPI dan organisasi kepemudaan lain tinggal memaksimalkan program pembinaannya,” jelas Munafri, bertepatan momentum Hari Sumpah Pemuda 2025. Wali Kota Makassar menutup sambutannya dengan pesan motivasi kepada seluruh pemuda Makassar agar terus berkembang dan mengambil bagian dalam pembangunan kota. “Pemuda adalah energi perubahan. Tugas kita memastikan mereka tumbuh dengan arah yang benar, punya masa depan, punya cita-cita, dan yakin bahwa mereka bisa memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya. Diketahui, pada kesempatan ini. Wali Kota Munafri, didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar, Dr. Muhammad Roem.

Opini

Perdagangan Kewarganegaraan

ruminews.id – Pernahkah Anda mendengar status kewarganegaraan diperjualbelikan? Sebagaimana mendagangkan sepatu, kendaraan, daging, timah, atau saham perusahaan dan beragam dagangan lainnya. Faktanya saat ini kewarganegaraan pun bisa dibeli dan dijual. Saat ini banyak negara, tidak lagi menjadikan kewargaansekadar sebagai identitas politik dan kultural, tapi menjadi semacam komoditas ekonomi yang memiliki harga, nilai tukar, bahkan paket promosi. Secara akademik fenomena ini dikenal dengan istilah “Citizenship by Investment” (CBI), di mana seseorang dapat memperoleh kewarganegaraan suatu negara dengan imbalan investasi tertentu. Citizenship for Sale? Praktik ini sebetulnya dan senyatanya sudah lamaberlangsung, sejak 1980 an, terutama di beberapa negara kecil yang menghadapi keterbatasan sumber daya, seperti Saint Kitts and Nevis, Dominika, dan Antigua & Barbuda, yang belakangan merambah Eropa dan Asia. Di Malta, misalnya, status kewarganegaraan dapat diperoleh dengan membayar sekitar 1 juta euro. Begitu juga di Vanuatu, kewarganegaraan dijual hanya dengan 130 ribu dolar AS. Bagi negara penjual, ini disebut “strategi ekonomi baru” untuk menarik investasi. Namun bagi banyak akademisi dan pengamat politik, ini adalah tanda komodifikasi kewarganegaraan, di mana kewarganegaraan diperlakukan tidak lebih sekadar sebagai barang dagangan di pasar internasional. Dalam literatur sosiologi kewarganegaraan, fenomena ini disebut “komodifikasi kewarganegaraan,” yaitu ketika status warga negara dilepaskan dari makna moral, loyalitas, dan kebersamaan politik, lalu dikonversi menjadi nilai ekonomi. Kewarganegaraan yang dulu dipandang sebagai hubungan timbal balik antara wargadan negara, di mana hak untuk dilindungi dan kewajiban untuk berkontribusi, kini ditransformasikan menjadi aset pribadi. Ayelet Shachar dalam artikelnya “Citizenship for Sale?” (2017) menggambarkan kondisi ini sebagai bentuk “privatisasi hak politik.” Negara tidak lagi menjadi penjaga kedaulatan moral, melainkan agen penjual status hukum. Di tangan birokrasi global, paspor menjadi simbol mobilitas dan kekuasaan ekonomi. Orang kaya membeli paspor bukan karena ingin menjadi bagian dari komunitas politik dan berkontribusi untuknya, tetapi karena ingin memiliki visa-free accesske lebih banyak negara, menghindari pajak, atau mengamankan masa depan di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan kata lain, kewarganegaraan menjadi semacam “asuransi global bagi kaum superkaya.” Kondisi ini mengafirmasi terjadinya marketization of citizenship,semacam pasar global yang memperdagangkan sipil politik (sipol) dan ekonomi, sosial, budaya (ekosob)secara legal. Rainer Baubock (2018) menyebut ini sebagai commodification of citizenship, yaitu proses ketika kewarganegaraan menjadi barang dagangan yang diobral ke penduduk dunia. Solidaritas No, Komoditas Yes Tak berhenti di sana, Kristin Surak (2023) dalam bukunya The Golden Passport: Global Mobility for Millionaires menyebut munculnya fenomena baru yang disebut citizenship industry, sebuah industri global yang memperjualbelikan status politik manusia dengan mekanisme pasar. Ada agen internasional, konsultan hukum, dan lembaga keuangan yang menyediakan jasa pengurusan “paspor premium” lengkap dengan katalog produk dan keunggulan tiap negara. Negara menjadi penjual, sementara warga dunia berduit menjadi pembeli, dan diantaranya ada broker investasi. Industri ini diatur seperti industri pariwisata atau real estat. Ada daftar harga, proses aplikasi, hingga paket promosi “fast-track citizenship.” Negara-negara kecil di Karibia memanfaatkan skema ini untuk meningkatkan pendapatan nasional. Namun dalam perspektif politik global, hal ini memperlihatkan neoliberalisasi kedaulatan, di mana negara memperlakukan kewarganegaraan sebagai instrumen ekonomi, bukan sebagai simbol keanggotaan kolektif. Bagi banyak negara berkembang yang menghadapi defisit fiskal, program ini tampak menguntungkan. Namun di sisi lain, ia menimbulkan problem ketimpangan moral yang serius. Paspor, yang dulu menjadi hasil perjuangan kolektif rakyat dalam membangun negara, kini dapat dimiliki siapa pun yang mampu membayarnya, tanpa pernah berkontribusi sosial, budaya, atau politik. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah kewarganegaraan masih memiliki makna moral-kultural? Ataukah ia telah berubah menjadi simbol status ekonomi semata? Dalam kerangka pemikiran klasik, seperti yang diungkapkan oleh T.H. Marshall (1950), kewarganegaraan merupakan kombinasi dari tiga dimensi hak: sipil, politik, dan sosial. Ketiganya berfungsi menjaga keseimbangan antara warga dan negara. Namun, dalam konteks perdagangan kewarganegaraan, hak-hak tersebut tidak lagi diperoleh melalui partisipasi atau identitas, melainkan melalui transaksi ekonomi. Inilah yang disebut Shachar dan Bauböck (2018) sebagai “depolitisasi kewarganegaraan.” Ketika pasar mengambil alih ruang moral politik, maka hak dan identitas warga tidak lagi berakar pada solidaritas, melainkan pada kapital. Kini kita menyaksikan paradoks baru, yakni di satu sisi, jutaan orang di dunia mengungsi karena kehilangan kewarganegaraan, atau sering disebut stateless citizensyang tidak diakui oleh negara mana pun, mereka bertaruh nyawa berlayar di lautan untuk mencari suaka. Di sisi lain, segelintir orang bisa membeli kewarganegaraan ganda dengan mudah. Kewarganegaraan, yang dulu menjadi wajah kesetiaan dan kebangsaan, kini menjadi alat eksklusivitas dan mobilitas global. Zygmunt Bauman pernah menggambarkan dunia ini sebagai masyarakat cair (liquid society). Dimana, dalam dunia yang cair, orang-orang kaya mengalir bebasmelintasi berbagai negara, sementara yang miskin mengendap dan terperangkap, menjalani hari dalam ketakutan, kemelaratan dan berbagai ketidakadilan. Sakralitas Warga dan Bangsa Fenomena perdagangan kewarganegaraan menggambarkan pergeseran besar dalam cara kita memandang konsep “warga” dan “bangsa.” Jika dahulu nasionalisme menjadi dasar bagi pembentukan negara modern, kini logika pasar global mulai menggerus batas-batas tersebut. Negara yang dulu menjadi rumah bagi warga kini berubah menjadi perusahaan penyedia jasa hukum. Dari perspektif etika politik, fenomena ini memunculkan paradoks. Kewarganegaraan sejatinya merupakan merupakan bentuk tertinggi keterikatan politik. Dalam pandangan klasik Aristoteles, warga adalah zoon politicon, makhluk politik yang aktif dan bertanggungjawab dalam urusan publik. Namun dalam logika citizenship by investment, keterikatan itu menjadi pasif dan transaksional. Dalam pandangan ini, keputusan negara untuk menjual kewarganegaraan bukan hanya persoalan kebijakan, tetapi juga persoalan moral publik. Ketika kewarganegaraan dijual kepada investor asing, maka nilai solidaritas antarwarga menjadi terdistorsi. Kewarganegaraan kehilangan fungsi profetik dan egaliternya. Indonesia, dengan sistem hukumnya sebetulnya tidak mengenal konsep jual beli kewarganegaran. Undang-undang 12 tahun 2006 menegaskan bahwa kewarganegaraan hanya dapat diperoleh melalui kelahiran, perkawinan, atau naturalisasi dengan syarat tertentu (tinggal di Indonesia dalam jangka waktu tertentu, berbahasa Indonesia, mengakui Pancasila dan UUD 1945, serta tidak memiliki kewarganegaraan ganda). Namun demikian, meski Indonesia belum menerapkan program Citizenship by Investment, namun ada gejalayang patut diwaspadai dan dievaluasi, yakni gejala dalam praktik pemberian izin tinggal terbatas, visa investasi, atau bahkan naturalisasi istimewa bagi atlet dan tokoh tertentu. Walaupun konteksnya berbeda, logika yang bekerja tetap sama, yakni hak kewarganegaraan diberikan atas dasar nilai ekonomi, bukan nilai kebangsaan. Jika tidak dikawal dengan baik, praktik ini berpotensi mengikis makna kebangsaan yang telah lama dibangun. Di tengah krisis moral publik dan politik uang, membuka ruang bagi komersialisasi kewarganegaraan hanya akan memperparah ketimpangan sosial dan melemahkan solidaritas nasional.

Daerah, Luwu Timur, Luwu Timur, Pemerintahan

Siapa Yang Bohong Disewa Lahan Kompensasi Dam karebbe ?

ruminews.id, Luwu Timur – Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. (DPMPTSP) Luwu Timur Abdul Wahid Sangka mengatakan lucu kalau DPRD Luwu Timur memgaku tidak tahu soal sewa lahan Kompensasi Dam Karebbe dari Pemkab Lutim ke PT IHIP. Sebab hal itu dibahas dalam APBD Perubahan. Demikian dikatakannya dalan diskusi yang membahas tentang Prospek Kawasan Industri di Luwu Timur yang berlangsung di Graha Pena Fajar Makassar. Jumat (31/10/2025). Pernyataan Kadis DPMPTSP ini sepertinya membantah pernyataan Ketua DPRD Luwu Timur yang mengaku DPRD tidak terlibat dan tidak tahu soal sewa lahan kompensasi tersebut seperti yang dibahasakan Ober Datte dalam RDP Kamis ( 30/10 2025) belum lama ini. Menurut Abdul Wahid, Jawaban Ketua DPRD Luwu Timur yang mengatakan tidak tahu agak lucu juga, karena proses ini begitu ada penawaran maka dilakukan tim appraisal oleh Pemda Luwu Timur didapatkan nilai 4 Miliar lebih. Kemudian itu dituangkan didalam Rencana Pendapatan melalui pembahasan APBD Perubahan 2025. Sehingga dibahas bersama – sama. ” Tidak mungkinlah DPRD Luwu Timur tidak tahu. Karena nilai hasil perolehan itu yang dilakukan tim appraisal dimasukkan sebagai rencana pendapatan. ” Jelas Abdul Wahid. Kemudian APBD itukan ditetapkan bersama – sama antara eksekutif dan legeslatif. Jadi seharusnyakan barang ini sudah clear ditau, sekarang sudah dipersewakan berarti realisasi 100 persen sesuai dengan rencana. ” Diusulkan pemerintah sebagai rencana pendapatan dari sewa, sehingga dibahas di DPRD. ” Tandas wahid. Terkait kenapa Murah, nanti kita sama – sama mencari, tetapi tidak mungkinlah tim appraisal itu tidak diketahui. ” Yang ikut RDP kemarin mungkin juga yang tidak ikut terlibat didalam proses appraisal lahan sehingga tidak bisa menjelaskan. ” Yang paling tahu itu Poyo Kabid Aset ” kata Wahid. Lanjut diterangkannya, Dengan nilai 4 Miliar lebih, Itu nanti kita telusuri, karena katanya lahan itu dalam bentuk lahan kosong. Sehingga nilainya seperti itu, mungkin saja nanti setelah lima tahun diappraisal lagi boleh jadi itu nilainya lebih tinggi karena peruntukannya sudah industri. Tapi itu kita harus kontrol bersama – sama. Pernyataan Kadis DPMPTSP ini membuat publik jadi penasaran, apakah yang terjadi dibalik sewa lahan ini, Apakah DPRD berbohong tidak dilibatkan dalam proses sewa lahan ini atau DPRD Lutim sudah dikadali oleh pihak eksekutif. Diskusi ini digagas oleh The Sawerigading Institute menghadirkan sejumlah tokoh Luwu Raya, Mantan Bupati Luwu Timur Andi Hatta dan para intelektual dari kalangan akademisi perguruan tinggi di Sulsel dan pakat kehutanan dari Unhas.

Daerah, Makassar, Pendidikan

HMA FT UNIBOS Gelar Kegiatan Yang Menambah Wawasan Mahasiswa

ruminews.id – Makassar, 30 Oktober 2025 – Himpunan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Bosowa (HMA FT-UNIBOS) menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Arsitektur Budaya sebagai Cerminan Karakter dan Identitas Bangsa.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Teguh Iswara Suwardi, S.T., M.Sc., Anggota Komisi V DPR RI yang dikenal aktif mendorong pelestarian nilai-nilai budaya dalam pembangunan infrastruktur nasional. Dalam pemaparannya, Teguh Iswara menegaskan bahwa arsitektur tidak semata-mata dipahami sebagai karya fisik, melainkan juga sebagai warisan nilai dan identitas bangsa. Ia menyoroti kekayaan arsitektur masyarakat Bugis yang sarat makna, baik dari segi bentuk, filosofi, maupun keterikatan sosialnya. “Semakin tinggi nilai budaya suatu bangunan, semakin itu tidak boleh dirusak,” tegasnya. Lebih lanjut, Teguh membandingkan upaya pelestarian warisan budaya di berbagai negara dengan kondisi di Indonesia yang dinilainya masih memprihatinkan, karena banyak bangunan bersejarah yang terabaikan bahkan dirusak. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menghormati peninggalan leluhur sebagai simbol kebijaksanaan dan identitas bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Teguh juga mengutip tulisan beraksara Lontara yang terukir di dinding Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, Belanda: “Saya telah pergi berkelana ke berbagai tempat, namun saya belum pernah menemukan kebijaksanaan seindah yang saya temukan di negeri ini, Sulawesi (Tanah Bugis).” Menurut Teguh, kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya lokal Indonesia telah lama diakui dan dihormati oleh bangsa lain. Oleh karena itu, generasi muda diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya bangsa. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dan dosen dari Program Studi Arsitektur FT-UNIBOS. Melalui seminar ini, HMA FT-UNIBOS berupaya menanamkan kesadaran bahwa arsitektur budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga fondasi pembentukan karakter dan jati diri bangsa di masa depan.

Daerah, Jakarta, Nasional, Pemerintahan

Presiden Prabowo Subianto Bahas Situasi Nasional bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco di Widya Chandra

ruminews.id, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengundang Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Widya Chandra, Jakarta pada Rabu, 29 Oktober 2025. Momen pertemuan Presiden Prabowo dan Sufmi Dasco disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam unggahan di media sosial resminya. “Presiden Prabowo Subianto mengundang Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Prof. Sufmi Dasco Ahmad, di kediaman Widya Chandra, pada Rabu pagi, 29 Oktober 2025,” tulis Seskab Teddy. Seskab Teddy menyampaikan bahwa Presiden dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco banyak berdiskusi mengenai situasi terkini di Tanah Air. Pembahasan keduanya mulai dari perkembangan di badan legislatif DPR hingga progres sejumlah program strategis pemerintah. “Dalam pertemuan tersebut, Presiden berdiskusi mengenai situasi terkini di Tanah Air, terutama terkait perkembangan di badan legislatif DPR, situasi politik, hukum, keamanan nasional, serta progres beberapa program strategis pemerintah,” lanjutnya. Pada pertemuan tersebut, keduanya turut bertukar pandangan mengenai arah pembangunan nasional. Pertemuan pagi antara Kepala Negara dan Sufmi Dasco mencerminkan komitmen Presiden untuk terus menjalin komunikasi intensif dengan pimpinan lembaga negara, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. (red) Penulis: Syafrudin Budiman, SIP

Opini

Cicero Bangkit di Negeri Para Penjilat

ruminews.id – Andai Cicero hidup hari ini, ia mungkin tak perlu lagi berdebat di Senat Roma tapi cukup menyalakan televisi dan menatap wajah para politisi yang bicara tentang “integritas”dengan mata yang bahkan tak sanggup menatap kamera. ‎Ia akan tertawa lirih dan berkata: ‎“Dulu kami menyebut mereka pengkhianat republik. Kini kalian menyebut mereka ‘tokoh bangsa.” ‎Cicero akan melihat orang-orang yang dulu disebut pemberani, kini disebut tidak sopan. Ia akan mendengar kritik disensor atas nama etika, ‎dan kebohongan dibungkus dengan pita bernama “Narasi Kebangsaan.” ‎Ia akan mencatat: di zaman modern, penjilat tidak lagi bersembunyi di balik tirai istana tetapi mereka duduk di depan kamera, tampil di talkshow, tersenyum sambil menjelaskan bahwa semua ini demi rakyat. ‎Padahal rakyat hanya muncul saat perlu dijadikan latar foto. ‎Di Roma kuno, penjilat biasanya berbisik di telinga Caesar. Kini, mereka berteriak di media sosial, berlomba menjadi terdepan dalam pujian. Mereka tidak lagi menunduk di depan kekuasaan tapi mereka menari di atas lidah sendiri. ‎Cicero akan menatap para birokrat yang membungkuk hingga punggungnya patah demi satu tanda tangan. ‎Ia akan melihat akademisi yang menulis riset tentang moral, tapi lupa mencarinya di dirinya sendiri. Ia akan melihat agamawan yang menyeru kebenaran, tapi hanya sebatas siapa yang memegang mikrofon. ‎Dan ia akan menulis: ‎“Tak ada tirani yang lebih berbahaya dari tirani yang diberi karpet merah oleh penjilat.” ‎Cicero akan kembali kecewa. ‎Ia pernah berkata; ‎“A nation can survive its fools, but not its traitors.” ‎Tapi di negeri modern ini, ia mungkin harus menambahkan satu kalimat baru: ‎“Namun bangsa yang memelihara penjilat, sesungguhnya sedang menggali kuburnya sambil tersenyum.” ‎Sebab di sini, pengkhianatan tidak lagi disembunyikan tapi ia difasilitasi, dibiayai, dan disiarkan langsung. ‎Yang jujur diadili, yang menunduk diberi pangkat, yang bicara benar dituduh sombong, ‎dan yang menghisap ludah kekuasaan diberi gelar “pejuang stabilitas.” ‎Dan ketika rakyat bertanya ke mana perginya suara kebenaran, ‎Cicero mungkin menjawab pelan: ‎“Kebenaran masih ada, hanya saja suaranya tenggelam oleh tepuk tangan para penjilat.”

Scroll to Top