23 Agustus 2026

Nasional, Opini, Religi

Konghucu untuk Indonesia

Penulis: Yudi Latif — Aktivis dan Cendekiawan Indonesia Ruminews.id —  Saudaraku, Minggu (23/08/26) saya mendapat kehormatan menjadi pembicara di depan generasi muda Khonghucu Indonesia. Segera saya teringat pada ajaran kearifan Khonghucu tentang kepemimpinan negara yang dapat dijadikan pegangan dalam mengelola Indonesia. Bagi Kongzi, negara pertama-tama tidak dibangun oleh kuatnya kekuasaan, melainkan oleh lurusnya watak mereka yang memimpin. Sebab, jika pemimpin lurus, rakyat menemukan arah; jika pemimpin menyimpang, hukum sebanyak apa pun tak akan mampu menahan kerusakan. Bagi Indonesia, kepemimpinan semestinya dipahami sebagai amanah untuk merawat kehidupan bersama. Ren, kemanusiaan, mengingatkan bahwa rakyat bukan angka statistik, melainkan manusia yang memiliki martabat dan harapan. Yi, keadilan, menuntut pemimpin bertanya bukan “apa yang menguntungkan?”, melainkan “apa yang patut dilakukan?”, Sementara li, kepantasan dan tata moral, mengajarkan bahwa kekuasaan selalu memiliki batas dan kewajiban. Kongzi juga mengajarkan zheng ming: meluruskan nama dan kenyataan. Jangan menyebut kepentingan pribadi sebagai pengabdian, kepentingan kelompok sebagai keadilan, atau pembungkaman sebagai ketertiban. Negara menjadi sehat ketika kata-kata, hukum, dan tindakan pemimpinnya selaras. Karena itu, pembenahan negara harus dimulai dari pembenahan manusia yang memimpinnya. Pemimpin yang baik bukan yang paling besar kuasanya, melainkan yang paling mampu menahan ego, memberi teladan, menjaga amanah, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri dan kelompok. Indonesia adalah rumah besar yang beragam. Ia tidak cukup dipersatukan oleh hukum dan kekuasaan, tetapi oleh kebajikan: keteladanan pemimpin, keadilan hukum, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keberanian mengutamakan kepentingan bersama. Pada akhirnya, jabatan akan berganti dan kekuasaan akan berlalu. Yang tinggal adalah jejaknya: apakah sebuah kepemimpinan meninggalkan ketakutan atau kepercayaan, ketimpangan atau keadilan, keserakahan atau kebajikan. Negara kuat bukan semata-mata karena hukumnya tegak, tetapi terutama karena watak pemimpinnya layak diteladani.

Daerah, Ekonomi, Kesehatan, Nasional, Nusa Tenggara Timur, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Luka Spiritual dan Rentannya Tanah Air: Membaca Kebakaran Kalimantan serta Gempa Tektonik NTT dari Kacamata Ekoteologi

Oleh : Muh. Akbar Syahrir (Kader PMII Rayon Syariah dan Hukum Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Kota Makassar) ruminews.id, – Bencana lingkungan dan dinamika geologi yang melanda berbagai daerah di Nusantara bukan lagi sekadar krisis ekologi dan kejadian alam biasa. Dalam perspektif ekoteologi, kombinasi antara terbakarnya ratusan ribu hektar lahan di Kalimantan serta tingginya kerentanan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencerminkan “ekodosa”—sebuah penistaan terhadap tatanan ciptaan serta kelalaian manusia dalam menjalankan mandatnya sebagai pemelihara bumi (stewardship). Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat, luas karhutla nasional telah menembus 202.004 hektare. Kalimantan Barat menempati posisi puncak wilayah terdampak dengan luas kebakaran mencapai 38.310,86 hektare, memicu krisis parah pada ekosistem gambut akibat pengeringan kanal masif demi ekspansi industri. Api bawah tanah (subsurface fire) menghasilkan kabut asap beracun yang melumpuhkan aktivitas publik dan mengancam warga dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Secara ekoteologis, ini adalah wujud ketamakan antroposentrisme destruktif yang mengorbankan “rahim bumi” demi akumulasi modal jangka pendek. Sementara itu di belahan timur Nusantara, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhadapan dengan realitas geologis yang tak kalah menantang. Wilayah Kepulauan Flobamora ini secara konstan diguncang oleh aktivitas tektonik akibat posisinya yang berada tepat di atas jalur perjumpaan lempeng aktif. Sumber gempa utama dihimpit oleh Zona Subduksi Lempeng Australia di bagian selatan dan Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Backarc Thrust) di sebelah utara. Tercatat gempa merekam peristiwa destruktif seperti Gempa & Tsunami Flores 1992 (M\text{ 7,8}) yang menelan lebih dari 2.100 jiwa, Gempa Alor 2004 (M\text{ 6,0}), hingga Gempa Laut Flores 2021 (M\text{ 7,4}). Data BMKG mengonfirmasi puluhan gempa dangkal (h < 60\text{ km}) terus terjadi setiap bulannya di kawasan pesisir dan lautan NTT. Dalam kacamata ekoteologi, fenomena gempa bumi di NTT sebetulnya merupakan mekanisme alami bumi untuk melepaskan energi tektonik (sunnatullah / ketetapan penciptaan). Namun, dampak destruktif gempa yang berulang kali menelan korban jiwa dan merusak pemukiman warga rentan mencerminkan kegagalan etis manusia. Mengabaikan pembangunan infrastruktur tahan gempa, membiarkan ketidaksiapan mitigasi, serta mengabaikan tata ruang berbasis risiko bencana merupakan bentuk kelalaian iman dalam melindungi ciptaan. Penulis menyimpulkan dari realitas karhutla di Kalimantan dan fenomena seismik di NTT, terungkap Tiga Pilar Kegagalan Etis manusia :Pertama, kegagalan Stewardship dan Dominasi Modal yang di mana manusia bergeser dari pengelola yang bertanggung jawab menjadi pemilik yang tamak. Hukum negara dan etika moral sering kali kalah oleh kepentingan industri di lahan gambut Kalimantan maupun ketidakpedulian terhadap keselamatan tata ruang di daerah rawan gempa NTT. Kedua, ketidakadilan Antargenerasi (Intergenerational Injustice) yakni pembakaran tanah gambut yang melepaskan emisi karbon raksasa serta pengabaian mitigasi bencana jangka panjang sama saja dengan merampas hak atas lingkungan hidup yang aman dan sehat bagi generasi masa depan. Ketiga, pemberatan beban kelompok rentan yakni kelompok masyarakat adat dan warga miskin pedesaan di Kalimantan dipaksa menanggung dampak kesehatan (ISPA), sementara masyarakat pesisir di NTT menjadi pihak paling rentan terhadap ancaman guncangan gempa dan risiko tsunami (option for the poor and vulnerable). Merespons krisis ekologi dan tantangan alam ini, penanganan tidak lagi cukup dengan pendekatan teknis-represif semata. Dibutuhkan metanoia atau pertobatan ekologis nyata: restorasi gambut di Kalimantan melalui pembasahan kembali (rewetting) dan penegakan hukum tegas, yang disandingkan dengan penguatan mitigasi struktural, edukasi evakuasi mandiri, serta pembangunan pemukiman tahan gempa berbasis kearifan lokal di NTT. Kebakaran di Kalimantan dan gempa bumi di NTT memberi pesan mendalam bahwa menjaga bumi dari kobaran api serta bersahabat dengan dinamika tektonik alam adalah panggilan moral dan iman untuk merawat rumah bersama (oikos) demi keberlangsungan seluruh ciptaan.

Forum Parlemen Nyawiji
Daerah, Pemerintahan, Yogyakarta

Forum Parlemen Nyawiji Dibentuk, Bangun Kolaborasi Kebijakan Berbasis Bukti

Ruminews.id, Yogyakarta — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membentuk Forum Parlemen Nyawiji sebagai wadah kolaborasi antara DPRD DIY, akademisi perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil (civil society), asosiasi dan media dalam merumuskan kebijakan daerah. Forum yang diperkenalkan dalam diskusi publik bertajuk “Dari Kolaborasi Menuju Dampak: Membangun Ekosistem Pengetahuan Kebijakan dan Pembangunan Daerah” yang digelar Sekretariat DPRD DIY pada Jumat (21/8/2026) di Ruang Rapat Paripurna Lantai 1 DPRD DIY, untuk memperkuat perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy making). 

Geothermal Ormat
Daerah, Ekonomi, Halmahera Barat

Sema-Habar Soroti Ekspansi Geothermal Ormat di Halmahera Barat, Dorong Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Ruminews.id, Halmahera Barat — Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (Sema-Habar) Ternate menyoroti ekspansi proyek panas bumi di Halmahera Barat, Maluku Utara, menyusul kemenangan Ormat Technologies, Inc. melalui PT Ormat Geothermal Indonesia dalam lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Talaga Rano. Sema-Habar meminta pemerintah tidak hanya melihat investasi dan kebutuhan pasokan listrik, tetapi juga memperhitungkan risiko terhadap lingkungan, sumber air, ruang hidup masyarakat adat, serta keberlanjutan ekonomi warga.

Scroll to Top