Penulis : Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara – Sultan dari Istana Baitul Mulkiah Kesultanan Pakunegara Sanggau Kalimantan Barat. ruminews.id – Indonesia merupakan bangsa yang lahir dari perjalanan sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Nusantara telah menjadi pusat peradaban dunia yang melahirkan kerajaan-kerajaan besar dengan pengaruh politik, ekonomi, budaya, maritim, dan diplomasi internasional. Perjalanan peradaban Nusantara memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat sebagai bangsa yang maju, terbuka terhadap perdagangan internasional, serta mampu membangun tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang beradab. Kerajaan Sriwijaya, yang berkembang sejak abad ke-7, dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Berpusat di Sumatra, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan internasional di Selat Malaka dan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang dikunjungi para cendekiawan dari berbagai negara. Kejayaan Sriwijaya menunjukkan kemampuan bangsa Nusantara dalam membangun kekuatan ekonomi berbasis perdagangan laut dan diplomasi antarbangsa. Memasuki abad ke-13, Kerajaan Singasari di Jawa Timur menjadi tonggak penting lahirnya cita-cita penyatuan Nusantara. Di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara, Singasari menjalankan Ekspedisi Pamalayu sebagai upaya memperkuat hubungan politik dan perdagangan dengan wilayah-wilayah di Sumatra sekaligus menghadapi ancaman dari Dinasti Yuan di Tiongkok. Gagasan penyatuan wilayah Nusantara mulai tumbuh pada masa ini. Cita-cita tersebut mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1293. Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Asia Tenggara. Melalui Sumpah Palapa, Gajah Mada mencetuskan tekad untuk mempersatukan Nusantara. Wilayah pengaruh Majapahit membentang luas melalui jaringan perdagangan, hubungan politik, dan kerja sama antarkerajaan. Pada masa inilah lahir semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, sebagai simbol persatuan dalam keberagaman yang kemudian menjadi semboyan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memasuki abad ke-16, muncul Kerajaan Mataram Islam sebagai kekuatan besar di Pulau Jawa. Mataram melanjutkan tradisi pemerintahan Nusantara dengan mengembangkan sistem administrasi, budaya, pertanian, serta memperkuat identitas masyarakat Jawa. Pada masa Sultan Agung, Mataram berupaya menyatukan wilayah Jawa sekaligus melakukan perlawanan terhadap dominasi VOC. Semangat mempertahankan kedaulatan menjadi salah satu warisan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Memasuki masa kolonial, berbagai kerajaan Nusantara menghadapi tekanan dari bangsa-bangsa Eropa. Perlawanan terhadap kolonialisme berlangsung di berbagai daerah dan melahirkan banyak tokoh perjuangan. Kesadaran sebagai satu bangsa semakin menguat melalui Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928 yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah awal sejarah bangsa Indonesia, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun. Nilai-nilai persatuan, gotong royong, keberagaman, toleransi, serta semangat membangun kejayaan bangsa telah diwariskan oleh kerajaan-kerajaan besar Nusantara kepada generasi penerus. Melalui pemahaman sejarah yang utuh, masyarakat Indonesia diharapkan semakin menghargai warisan peradaban bangsa, memperkuat identitas nasional, serta menjadikan nilai-nilai luhur para pendahulu sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Namun demikian, menjelang 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kondisi persatuan dan kesatuan bangsa masih menghadapi berbagai tantangan. Di tengah semangat kebangsaan yang terus dijaga, masih terdapat kesenjangan sosial, kemiskinan, ketidakadilan dalam akses pembangunan, serta persoalan stunting yang masih menjadi perhatian serius di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih perlu terus diperjuangkan bersama melalui penguatan solidaritas, pemerataan pembangunan, dan komitmen seluruh elemen bangsa. Perjalanan dari Sriwijaya, Singasari, Majapahit, Mataram hingga lahirnya Republik Indonesia merupakan satu mata rantai sejarah yang membentuk jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang memiliki peradaban tinggi dan peran penting dalam sejarah dunia. Pertanyaannya kapan Bangsa Indonesia mampu mengimbangi Kejayaan kerajaan2 besar di nusantara terdahulu.