24 Oktober 2025

Opini

Indonesia dan Ilusi Bonus Demografi

ruminews.id – Indonesia sedang mabuk dalam keyakinan bahwa bonus demografi adalah tiket menuju kemakmuran dan kemajuan. Di atas podium kerap kali para pejabat berbicara tentang peluang emas, generasi produktif, dan visi Indonesia Emas 2045 tepat 100 tahun indonoesia merdeka. Statistik dibentangkan seperti sebuah mantra keberhasilan lebih dari 64 persen penduduk kini berada pada usia produktif, antara 15 hingga 64 tahun. Badan Pusat Statistik memperkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga sekitar tahun 2035 sebelum Indonesia menua. Dalam teori pembangunan, inilah fase paling menguntungkan dalam sejarah demografi bangsa sebab tingginya angka manusia yang produktif bisa menjadi langkah yang tepat dan bisa jadi langkah yang salah bila kita gagal di dalam melakukan treatment untuk sebuah bonus demografi tersebut. Tapi di balik keyakinan itu semua tersimpan ilusi besar apakah kita benar-benar sudah siap atau belum mengubah peluang itu menjadi sebuah kekuatan untuk berkemajuan. Tapi kalau kita lihat fakta objektif di lapangan masih ketimpangan nya akses pendidikan antara desa dan kota lamban nya penanganan bidang peningkatan SDM melalui pendidikan,kesehatan dan ekonomi bukan hanya itu angka putus sekolah kian melambung tinggi ,penyediaan lapangan pekerjaan yang kurang memadai bahkan sampai ke tahap PHK terjadi di mana-mana hal ini bisa kita katakan dan diindikasikan pemerintahan belum mengoptimalkan kemampuannya untuk melakukan political will untuk mengelola hal- hal yang menjadi penunjang sebuah bonus demografi tersebut yang hanya adalah ilusi semata . Menurut data BPS dalam analisis profil penduduk 2024 mencatat kelompok usia muda 15–34 tahun menyumbang lebih dari 31 persen populasi, sementara usia produktif madya 35–59 tahun sekitar 33 persen. Dengan total penduduk mencapai 281 juta jiwa, artinya lebih dari 180 juta orang Indonesia sedang berada di masa paling produktif dalam hidupnya. Rasio ketergantungan kini berada di titik terendah sekitar 44 persen artinya apa setiap 100 orang usia produktif hanya menanggung 44 orang nonproduktif. Angka-angka ini seharusnya menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi, tapi realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Pengangguran terbuka masih terbuka lebar bahkan bertahan di kisaran 5,3 persen per Agustus 2025, dan jutaan lulusan muda dan sarjana belum juga terserap pasar kerja. Namun di sisi lain, industri terus berteriak kekurangan tenaga terampil. Hanya 19 persen tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital memadai, menurut laporan Katadata 2024. Pemerintah begitu gemar menggaungkan bonus demografi sebagai simbol harapan. Kata “bonus” seolah menjadi jaminan otomatis bagi masa depan yang makmur. Namun kenyataan menunjukkan jurang yang menganga antara retorika dan realita kondisi kita yang ada di indonoesia. Sistem pendidikan masih terjebak pada pola lama menjejali kepala siswa dengan teori tanpa membekali mereka keterampilan hidup dan adaptasi teknologi. Lulusan perguruan tinggi berlimpah, tapi banyak yang kehilangan arah di pasar kerja yang menuntut kecepatan, inovasi, dan kecakapan digital. Ketimpangan kualitas sumber daya manusia juga tak bisa diabaikan. Pulau Jawa dan Sumatera, yang lebih dulu menikmati masa bonusnya, kini mendekati akhir. BPS mencatat beberapa provinsi seperti Sumatera Barat dan Jawa Tengah akan mengakhiri periode bonus demografinya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Sementara wilayah timur seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua baru memasukinya sayangnya tanpa kesiapan infrastruktur pendidikan dan ekonomi yang memadai. Generasi muda di kota belajar tentang kecerdasan buatan dan analisis data, tapi di banyak desa, anak-anak masih berjuang menemukan sinyal untuk belajar daring. Ini bukan sekadar ketimpangan wilayah, tapi potret ketidaksiapan struktural sebuah bangsa menghadapi masa depan. Bonus demografi seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat modernisasi. Negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang memanfaatkan masa bonusnya untuk membangun industri, memperkuat pendidikan, dan menumbuhkan inovasi teknologi. Kini mereka menua, tapi tetap sejahtera karena fondasi produktivitas sudah tertanam kuat. Indonesia, sebaliknya, berisiko menua sebelum kaya fenomena yang disebut “getting old before getting rich”. Pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran lima persen selama satu dekade terakhir, dan rata-rata lama sekolah warga masih di bawah sembilan tahun. Bonus yang dibanggakan itu bisa berubah menjadi beban sosial jika generasi muda tak punya daya saing. Kita perlu mengubah cara pandang. Bonus demografi bukan soal jumlah, melainkan kualitas. Pemerintah harus berani menempatkan manusia sebagai investasi utama pembangunan. Dengan melakukan intervensi dalam dunia Pendidikan yang mesti harus bertransformasi dari hafalan menuju keterampilan, dari rutinitas menuju kreativitas. Pelatihan vokasi harus diperluas, bukan hanya di kota besar tapi hingga pelosok desa. Industri perlu diberi insentif untuk membuka lapangan kerja inovatif yang memberi ruang bagi anak muda berintelektual. Selain itu, kebijakan keluarga berencana, kesehatan, dan perlindungan sosial perlu diperkuat agar tenaga produktif tumbuh sehat dan berdaya. Tanpa itu semua, angka produktif hanya menjadi statistik kosong dan omong kosong saja yang menipu diri sendiri. Dan ketika kita berbicara Bonus demografi adalah peluang langka yang datang sekali dalam sejarah suatu bangsa yang tidak bisa memanfaatkan nya maka bangsa tersebut akan jatuh ke lembah kenestapaan dan kesengsaraan dan Ia bisa menjadi pintu menuju kemajuan atau jalan sunyi menuju kekecewaan kolektif. Indonesia pada saat ini berada di persimpangan apakah akan menulis sejarah sebagai negara yang memanfaatkan bonusnya untuk melesat, atau sebagai bangsa yang kehilangan momentum karena terlena dengan ilusi angka. Satu dekade ke depan akan menjadi penentu. Jika kita gagal menyiapkan manusia di balik statistik, maka yang tersisa hanyalah generasi lelah muda dalam usia, tapi tua dalam dalam harapan maka dari itu pemerintah harus benar-benar memperhatikan dan membuat langkah-langkah strategis untuk benar benar mengupayakan dan mengwujudkan kesempatan langkah tersebut yaitu bonus demografi dengan mengahdirkan kerja-kerja nyata yang berpihak lagi pada pemuda.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Zulhajar Bicara Negara dan Manusia: LK2 HMI Makassar Timur Jadi Ruang Hangat Menyemai Kesadaran Sosial

ruminews.id, Makassar — Siang di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun bersahaja. Di ruang pertemuan yang diterangi cahaya lembut, puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk rapi, membentuk lingkaran diskusi yang hangat. Wajah-wajah muda itu menatap penuh antusias ketika Zulhajar, S.Ip., M.A., anggota DPRD Kota Makassar sekaligus senior HMI Cabang Makassar Timur, melangkah ke depan membawakan materi bertajuk “Negara dan Manusia: Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.” Sejak awal, forum itu tak sekadar tampak ilmiah, tetapi sarat suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Tak ada sekat antara pemateri dan peserta; yang ada hanya dialog setara antara generasi yang berpikir, merasa, dan berjuang. Dengan nada suara yang tenang namun tegas, Zulhajar membuka materinya tentang hubungan mendasar antara manusia dan negara sebuah relasi yang sering kali rumit, namun selalu relevan. “Negara seharusnya tidak hanya mengatur,” ujarnya lirih namun dalam, “tetapi juga memastikan manusia hidup dengan martabat memiliki hak ekonomi yang adil, hak sosial yang setara, dan hak budaya yang dijaga keberagamannya.” Para peserta menyimak dengan khidmat. Sesekali, mereka mengangguk, mencatat, dan berdiskusi kecil di antara jeda kalimat. Dalam forum itu, negara tak lagi dipandang sebatas institusi kekuasaan, melainkan sebagai ruang bersama tempat manusia tumbuh, bermimpi, dan menegakkan keadilan. Zulhajar mengajak peserta untuk menafsirkan kembali makna kehadiran negara. Ia menyinggung tentang hak-hak ekonomi rakyat kecil, tentang kesenjangan sosial yang terus melebar, serta pentingnya menjaga budaya sebagai napas kehidupan bangsa. “Hak-hak sosial bukanlah hadiah dari negara,” katanya dengan mantap, “melainkan hak kodrati manusia yang harus dijamin oleh setiap sistem yang mengaku beradab.” Nada bicara Zulhajar sesekali melembut, terutama saat ia menyelipkan kenangan masa mudanya di HMI masa ketika idealisme dan semangat perubahan menjadi satu-satunya bekal perjuangan. “Di sinilah dulu saya belajar berpikir kritis, tapi juga belajar menghargai manusia,” ucapnya disambut senyum para peserta. Forum itu pun terasa hidup, bukan karena perdebatan, melainkan karena percakapan yang tumbuh dari hati. Di tengah keseriusan tema, tawa ringan sesekali pecah, mencairkan suasana tanpa kehilangan makna. Keakraban intelektual terasa nyata seperti keluarga besar yang tengah belajar memahami dunia bersama. Saat sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta mengangkat tangan dengan semangat. Pertanyaan mereka mengalir tajam tentang ketimpangan ekonomi, hak buruh, dan posisi negara dalam melindungi rakyat dari hegemoni pasar. Zulhajar menanggapinya satu per satu, tidak sebagai pejabat, tapi sebagai abang HMI yang ingin berbagi pengalaman hidup dan pemikiran. “Kita boleh kritis kepada negara,” katanya menutup sesi, “tapi jangan lupa kita juga bagian dari negara itu. Tugas kita adalah memperbaikinya, bukan menjauhinya.” Tepuk tangan panjang mengiringi akhir sesi. Beberapa peserta masih berdiskusi kecil, sementara pemateri dengan hangat menyapa mereka satu per satu. Di ruangan itu, tampak jelas: HMI bukan hanya melahirkan pemikir, tetapi juga manusia yang peduli pada sesamanya. Siang di Hotel LaMacca berakhir dengan kesan mendalam. Dalam keheningan yang ramah, para peserta membawa pulang bukan hanya catatan, tapi kesadaran baru bahwa negara, manusia, dan kemanusiaan sejatinya tumbuh dari akar yang sama: cinta pada keadilan, dan tanggung jawab pada sesama.

Uncategorized

Menafsir Manusia dan Kebudayaan: Andi Rahmat Munawar Gugat Kesadaran Sejarah di Forum LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca berjalan dengan kelembutan intelektual yang jarang dijumpai. Lampu-lampu ruangan berpendar hangat, menciptakan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban di antara para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Di hadapan mereka, tampil sosok yang tenang namun berwibawa, Andi Rahmat Munawar, S.Sos., M.Si., membawakan materi bertajuk “Manusia dalam Tafsir Kebudayaan Lokal.” Dari awal pembicaraannya, Andi Rahmat tak sekadar memaparkan teori. Ia menuturkan sejarah seperti kisah hidup yang mesti dihadapi dengan kejujuran. Dengan suara yang teduh, ia mengingatkan: “Kita harus jujur pada sejarah. Indonesia bukanlah kelanjutan dari Majapahit, tapi hasil penyatuan kultur atau lebih tepatnya, Hindia Belanda jilid dua. Artinya, wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda itulah yang kemudian disatukan menjadi Indonesia hari ini.” Kalimat itu mengalir pelan, tapi mengguncang kesadaran. Para peserta LK2 terdiam sejenak, menatap pemateri dengan pandangan penuh renung. Di ruang itu, sejarah terasa hadir  bukan sebagai pelajaran beku, tapi sebagai cermin yang memantulkan wajah bangsa dengan segala luka dan harapannya. Andi Rahmat melanjutkan bahwa manusia dalam tafsir kebudayaan lokal bukan sekadar makhluk sosial yang hidup dalam ruang, melainkan bagian dari jaringan nilai, simbol, dan bahasa yang membentuk identitasnya. Ia menjelaskan bahwa memahami manusia Indonesia berarti memahami pluralitas budaya yang hidup, dari sabang hingga merauke, dari nilai lokal hingga semangat kolektif yang menyatukan. “Kebudayaan lokal,” katanya, “adalah cara manusia menegosiasikan dirinya dengan sejarah dan ruang hidupnya. Dari situ lahir rasa, lahir bahasa, lahir nilai-nilai yang membuat kita mengerti siapa diri kita.” Suasana forum begitu damai. Peserta dari berbagai cabang HMI tampak larut dalam suasana dialog yang akrab. Ada yang sibuk menulis catatan, ada pula yang mengangguk pelan setiap kali pemateri mengaitkan tafsir kebudayaan dengan identitas manusia Indonesia yang kompleks dan majemuk. Dalam suasana yang tertib dan saling menghargai, diskusi berkembang menjadi refleksi. Tak ada perdebatan yang panas, hanya pertukaran gagasan yang jernih. Seolah-olah malam di Hotel LaMacca menjelma menjadi ruang kontemplatif tempat akal dan nurani bertemu. Ketika sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta menyampaikan pandangan tentang bagaimana budaya lokal kini bergulat dengan modernitas. Andi Rahmat menanggapinya dengan bijak, menegaskan bahwa modernitas tidak semestinya menghapus kearifan lokal, tetapi justru menghidupkannya kembali dalam konteks baru. “Kita tidak sedang menolak masa kini,” ujarnya lembut, “kita hanya ingin memastikan bahwa akar kita tidak tercabut dari tanah yang menumbuhkan.” Tepuk tangan panjang mengakhiri sesi. Suara tepukan itu terdengar bukan sekadar bentuk apresiasi, tapi seperti tanda sepakat bahwa kejujuran pada sejarah dan penghormatan pada kebudayaan adalah dua hal yang harus kembali menjadi fondasi kesadaran bangsa. Di malam itu, di bawah cahaya hangat lampu Hotel LaMacca, HMI Makassar Timur tidak hanya berdiskusi tentang kebudayaan; mereka sedang memupuk kembali makna menjadi manusia Indonesia  manusia yang jujur pada sejarahnya, bangga pada budayanya, dan sadar pada tanggung jawabnya di masa depan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Politik sebagai Ruang Pengasuhan Kekuasaan: Prof. Armin Gurat Kesadaran Kritis Kader HMI di LK2 Nasional Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Sore Hingga Malam di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun hangat. Udara ruangan bercampur aroma kopi yang mengepul pelan, menjadi saksi bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai daerah yang duduk berjejer rapi, menyimak dengan penuh perhatian. Di tengah suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, tersaji satu sesi yang paling ditunggu: pemaparan Prof. Armin dengan tema “Politik sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan.” Dengan suara yang tenang namun penuh daya, Prof. Armin membuka materinya dengan perenungan tajam: “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ruang tempat kepemimpinan diasuh, diuji, dan dimaknai.” Ucapan itu bergema lembut, namun menghunjam dalam ke benak setiap peserta. Dalam pandangan sang profesor, politik seharusnya diasuh oleh kepemimpinan profektif, kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, menuntun arah perubahan, dan membangun tatanan sosial dengan visi kemanusiaan yang luas. “Politik yang sehat,” lanjutnya, “adalah politik yang memberi ruang bagi nalar, bukan sekadar nafsu kuasa. Sebab tanpa politik, kita tak akan pernah punya alat untuk memperbaiki demokrasi.” Para peserta menunduk sesaat, mencatat kalimat-kalimat yang terasa seperti wejangan panjang dari seorang guru bangsa. Di ruang yang terang tapi lembut itu, politik tidak lagi terdengar kotor atau menakutkan; ia tampil sebagai jalan pengabdian, jalan untuk memperbaiki sistem, menata keadilan, dan menghidupkan kembali cita luhur bernegara. Prof. Armin kemudian memperkaya wacana dengan menyinggung dua konsep besar dalam filsafat politik: libertarian dan komunitarian. “Kaum libertarian,” ujarnya, “melihat kebebasan individu sebagai hak tertinggi bahwa manusia bebas menentukan hidupnya sejauh tidak mengganggu kebebasan orang lain.” Sementara itu, komunitarian justru memandang manusia sebagai bagian dari komunitas, bahwa kebebasan tidak berarti apa-apa tanpa tanggung jawab sosial dan nilai kebersamaan. “Di antara dua kutub itulah,” sambungnya, “politik harus menemukan keseimbangannya, bagaimana kebebasan pribadi tidak meniadakan kepentingan publik, dan bagaimana solidaritas sosial tidak mematikan hak individu.” Suasana forum terasa hidup, namun damai. Peserta LK2 tampak khusyuk menyimak, sesekali tersenyum atau mengangguk, seolah memahami bahwa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan cermin dari realitas bangsa yang tengah mereka hidupi. Tidak ada kegaduhan, tidak ada ketegangan; hanya dialog yang jujur dan intelektual yang hangat, dibalut rasa saling menghargai. Ketika sesi tanya jawab dibuka, tangan-tangan terangkat dengan sopan. Pertanyaan mengalir, dan Prof. Armin menjawab dengan sabar kadang diselingi tawa ringan yang memecah keheningan. Di tengah forum yang damai itu, politik tampak begitu manusiawi; ia menjadi bahasa tentang bagaimana manusia mengatur hidup bersama dengan akal sehat dan hati nurani. Menjelang akhir, Prof. Armin menutup dengan kalimat yang disambut tepuk tangan panjang: “Politik adalah seni memanusiakan kekuasaan. Dan demokrasi hanya akan hidup jika kita memiliki pemimpin yang mau belajar, bukan sekadar berkuasa.” Malam di Hotel LaMacca pun menorehkan kesan mendalam. Dalam forum yang tertib, tenteram, dan akrab, para kader muda HMI seolah mendapatkan napas baru: bahwa politik, sejatinya, bukan medan kotor, melainkan ladang pengabdian tempat idealisme diuji, dan keadilan diperjuangkan dengan nurani yang jernih.

Kesehatan, Opini

Berkarya Membangun Kesehatan Bangsa, 75 Tahun Hari Dokter Nasional

ruminews.id, Makassar – Dalam menyambut Hari Dokter Nasional ke 75 dan ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI), mari kita refleksikan perjalanan panjang dan pengabdian para dokter dan tenaga kesehatan (nakes) di Tanah Air. Peringatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk merenungkan posisi Indonesia yang masih berada di persimpangan jalan dalam upaya pemerataan dan peningkatan akses kesehatan. Mengenang Perjuangan di Masa Pandemi Kondisi kesehatan Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama dengan sulitnya akses kesehatan di berbagai daerah pelosok. Memori heroik para tenaga kesehatan di era pandemi COVID-19 kembali menyentuh hati. Periode tersebut menjadi masa yang paling menegangkan dan mengharukan, di mana para dokter, perawat, dan seluruh nakes berdiri di garda terdepan, mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bangsa. Berdasarkan data yang tercatat oleh IDI dan organisasi profesi kesehatan lainnya, jumlah dokter dan tenaga kesehatan yang gugur selama puncak pandemi COVID-19 di Indonesia mencapai angka yang memilukan. Meskipun angkanya fluktuatif tergantung periode pencatatan, secara kumulatif, ratusan dokter dan ribuan tenaga kesehatan (termasuk perawat, bidan, dan lainnya) meninggal dunia akibat terpapar virus saat menjalankan tugas mulia mereka. Perjuangan dan pengorbanan mereka adalah bukti nyata dari dedikasi yang tak terhingga bagi kesehatan masyarakat. Capaian dan Kesenjangan: Dua Sisi Mata Uang Kabar baiknya, capaian kesehatan Indonesia terus menunjukkan tren perbaikan, seperti peningkatan usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian ibu dan bayi. Namun, kemajuan ini seperti dua sisi mata uang, karena masih diwarnai oleh disparitas atau kesenjangan yang tajam dalam distribusi dokter dan fasilitas kesehatan. Sebagian besar dokter spesialis dan fasilitas kesehatan terbaik terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara daerah-daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) masih sangat kekurangan. Meskipun statistik kesehatan secara umum membaik, kita tidak boleh melupakan fakta bahwa ratusan dokter dan tenaga kesehatan lainnya masih harus bertaruh nyawa, bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga menghadapi keterbatasan infrastruktur dan risiko keamanan di daerah daerah terluar dan terpelosok. Bahkan laporan mengenai tenaga kesehatan yang menjadi korban saat pelayanan di Papua dan wilayah sulit lainnya menjadi pengingat pahit akan risiko fisik dan sosial yang mereka hadapi demi menjalankan sumpah profesi. Harapan Perbaikan dan Denyut Nadi Bangsa Di usianya yang ke 75, Hari Dokter Nasional menjadi seruan untuk perbaikan kesehatan bangsa. Para dokter adalah denyut nadi bangsa, yang denyutnya harus dijaga dan didukung. Harapan untuk masa depan adalah terwujudnya sistem kesehatan yang lebih merata dan berkeadilan. Peran IDI bersama pemerintah dan masyarakat harus diperkuat untuk menciptakan karya nyata dalam membangun kesehatan bangsa, yang meliputi: 1. Pemerataan Distribusi Dokter: Mendorong kebijakan insentif dan program penugasan yang efektif agar dokter spesialis bersedia mengabdi di daerah 3T. 2. Peningkatan Infrastruktur: Memastikan setiap puskesmas dan rumah sakit di pelosok memiliki fasilitas dan alat kesehatan yang memadai. 3. Jaminan Keamanan dan Kesejahteraan: Memberikan perlindungan fisik, hukum, dan kesejahteraan yang layak bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah berisiko tinggi. Hanya dengan semangat pengabdian dan dukungan penuh dari semua pihak, para dokter dapat terus berkarya dan memastikan denyut nadi kesehatan bangsa Indonesia terus berdetak kuat, membawa harapan bagi seluruh rakyat dari Sabang hingga Merauke. Selamat Hari Dokter Nasional! dr. Haerul Anwar Praktisi Kesehatan – Asesor Program Penugasan Khusus Dokter untuk daerah Pelosok

Nasional

Kawendra Lukistian: Kejujuran Produk Aqua Harus Dipertanggungjawabkan!

ruminews.id – Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian, menanggapi soal temuan bahwa sumber air produk Aqua di Subang diduga berasal dari sumur bor, bukan mata air pegunungan sebagaimana diklaim perusahaan selama ini. Menurut Kawendra, temuan tersebut menyangkut hak dasar konsumen atas kejujuran informasi. Ia menilai, perusahaan sebesar Danone-Aqua seharusnya menjunjung tinggi transparansi dalam menyampaikan asal-usul produknya kepada masyarakat. “Temuan bahwa sumber air Aqua di Subang berasal dari sumur bor, bukan mata air pegunungan sebagaimana diklaim, adalah persoalan serius,” tegas Kawendra dalam keterangan resminya, Kamis (23/10/2025). Kawendra menambahkan, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) perlu turun langsung untuk memastikan kebenaran temuan tersebut. Jika terbukti ada pelanggaran terhadap prinsip kejujuran dan perlindungan konsumen, ia mendesak agar langkah tegas segera diambil. “Saya selaku anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra meminta BPKN mendalami hal tersebut, dan bila terbukti ada pelanggaran, kami harap bisa langsung tindakan tegas,” ujarnya. Politisi muda itu juga menekankan pentingnya integritas dalam praktik bisnis, terutama bagi perusahaan besar yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. “Kepercayaan publik tidak boleh dikorbankan demi keuntungan bisnis. Sekali publik kehilangan kepercayaan, akan sangat sulit untuk memulihkannya,” kata Kawendra menegaskan. Persoalan ini mencuat setelah, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak di pabrik Aqua di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Saat sidak di pabrik Aqua Subang ia menemukan bahwa air yang digunakan berasal dari sumur bor dalam (deep well), bukan dari mata air alami sebagaimana digambarkan dalam iklan. Sumber : Gerindra.id

Bone, Daerah

Oknum Koperasi Berkah Mandiri di duga Lakukan Pencemaran Nama Baik

ruminews.id – Sebuah video yang memperlihatkan dua orang melakukan penagihan terhadap seorang nasabah di halaman Masjid Raya Jalan Masago, Bone, viral di media sosial dan menuai kecaman dari berbagai pihak, Jumat (24/10/2025). Dua orang dalam video tersebut diketahui merupakan karyawan Koperasi Berkah Mandiri Abidzar, masing-masing bernama Irfan dan Akbar. Informasi itu dibenarkan langsung oleh pimpinan koperasi, Asmar, saat dikonfirmasi awak media. Namun, tindakan kedua karyawan itu mendapat sorotan tajam dari keluarga nasabah.M.Rahmat, selaku pihak keluarga, menilai bahwa penyebaran video tersebut sangat berpotensi mencemarkan nama baik keluarganya. “Saya menilai video yang disebarkan itu bisa menimbulkan dugaan pencemaran nama baik. Apalagi, dalam aturan koperasi tidak ada prosedur yang membenarkan tindakan memvideokan nasabah, apalagi sampai memviralkannya,” ujar Rahmat dengan nada kecewa. Pihak keluarga mengaku telah berkoordinasi langsung dengan pimpinan koperasi. Dari hasil komunikasi itu, Asmar menegaskan bahwa pihak koperasi sama sekali tidak memiliki aturan yang memperbolehkan karyawan melakukan dokumentasi atau penyebaran video saat proses penagihan. “Pimpinan koperasi sendiri menegaskan tidak ada aturan seperti itu. Jadi dugaan pelanggaran UU ITE terkait pencemaran nama baik ini sangat kuat,” Dalam video yang beredar, tampak pula kedua oknum karyawan tersebut melontarkan kata-kata yang dinilai tidak pantas dan tidak menghormati orang yang lebih tua. Bahkan, di akhir video terdengar salah satu dari mereka berkata dengan nada tinggi, “Tondani motorona lisu ro” (bawa pulang saja motornya), padahal diketahui tidak ada perjanjian atau jaminan motor dalam transaksi pinjaman tersebut. “Ini betul-betul sudah keluar dari pendekatan persuasif. Ucapannya tidak menghargai, bahkan sampai menyebut dana masjid. Yang lebih parah, mereka mau membawa motor tanpa dasar jaminan yang sah. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya sistem kerja koperasi ini?” tegas Rahmat. Ketua HmI komisyariat Cokroaminoto Makassar,itu juga menyoroti legalitas dan tata kelola Koperasi Berkah Mandiri Abidzar, yang menurutnya perlu ditinjau ulang. “Kalau kita lihat dari cara menagih di tempat fasilitas umum seperti masjid, itu saja sudah tidak etis. Ini makin memperkuat keraguan apakah koperasi ini benar-benar berizin resmi atau tidak,” ujarnya. Rahmat menegaskan, pihak keluarga merasa sangat dirugikan baik secara moral maupun psikologis akibat viralnya video tersebut. Ia pun berencana menempuh jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat. “Kami sangat mengecam tindakan para oknum karyawan koperasi itu. Ini sudah mencederai nama baik keluarga dan mengganggu psikologis kami. Kami menuntut pihak koperasi dan pelaku penyebar video untuk bertanggung jawab penuh atas tindakan yang tidak pantas ini,” pungkasnya

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Munafri Ajak Warga Makassar Jadikan Masjid Pusat Kegiatan Sosial dan Pendidikan Umat

ruminews.id, MAKASSAR,—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengajak warga menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pendidikan umat. Ajakan itu ia sampaikan saat melaksanakan salat subuh berjemaah di Masjid Al-Muawanah RRI, Jalan Riburane, Jumat (24/10/2025). Kegiatan yang dirangkaikan dengan coffee morning bersama jamaah dan masyarakat sekitar di Warkop Azzahrah RRI ini menjadi bagian dari agenda rutin Pemerintah Kota Makassar setiap Jumat. Turut hadir jajaran Pemerintah Kota mulai dari Sekda Kota Makassar, Andi Zulkifli Nanda, sejumlah kepala SKPD, Camat Ujung Pandang dan Camat Mariso. Selain itu, hadir Kepala LPP RRI Makassar, Anom Andadari, menyambut Munafri bersama sejumlah pegawai RRI. Para jamaah juga mendapat siraman rohani dari Ustaz Icuk Sugiarto Rifai yang mengisi tausiah subuh. Momentum ini, menurut Munafri, tidak hanya menjadi wadah mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, tetapi juga ruang untuk menghidupkan peran masjid sebagai pusat aktivitas umat. “Masjid seharusnya bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga tempat bermusyawarah, menyelesaikan persoalan sosial, tempat kajian keagamaan, dan tempat anak-anak belajar baca tulis Al-Qur’an,” ujar Munafri. Ia menilai, dengan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan, masyarakat dapat membangun kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungannya. Munafri juga berharap setiap pengurus masjid di Makassar dapat aktif menggerakkan kegiatan yang memberi manfaat luas bagi warga sekitar. Selain mengajak masyarakat menghidupkan fungsi masjid, pada kesempatan yang Munafri juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama menjelang musim hujan. Pemerintah Kota, kata dia, bersama Satgas Kebersihan dan Satgas Drainase terus melakukan pembersihan saluran air serta mengangkat sedimen di sejumlah wilayah rawan genangan melalui gerakan Jumat Bersih setiap pekan. “Kita berharap musim hujan tahun ini tidak separah sebelumnya. Kami terus intervensi langsung di wilayah-wilayah, memperhatikan saluran pembuangan yang tertutup akibat pembangunan atau bangunan liar,” jelasnya. Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah banjir. Munafri meminta warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran air dan drainase yang menjadi jalur utama aliran hujan. Pada kesempatan tersebut, Munafri juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala RRI Makassar, Anom Andadari, serta seluruh jamaah atas sinergi dan dukungan terhadap kegiatan Pemkot Makassar. “Terima kasih kepada Ibu Kepala RRI Makassar atas kebersamaannya. Insyaallah Kota Makassar ini menjadi kota yang penuh berkah bagi kita semua,” ujarnya. Untuk diketahui, Program salat subuh berjamaah dan coffee morning ini menjadi bagian dari rutinitas mingguan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka memperkuat komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat. Dikemas sebagai kesatuan program Gerakan Jumat Bersih, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyaluran bantuan sosial bagi warga kurang mampu di beberapa wilayah. Hasil kerja sama Pemerintah Kota dengan BAZNAS Kota Makassar. Kegiatan serupa sebelumnya juga telah digelar di sejumlah kecamatan di Makassar dan mendapat antusias tinggi dari masyarakat setempat yang ikut bergotong royong. Munafri berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial di kalangan masyarakat kota.(*)

Bulukumba, Daerah, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Wali Kota Munafri Hadiri Pembukaan Festival Phinisi 2025 di Bulukumba

ruminews.id, BULUKUMBA — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menghadiri pembukaan Festival Phinisi 2025 yang digelar di Pantai Mandala Ria, Kabupaten Bulukumba, Kamis (23/10/2025) sore. Hajatan tersebut, menjadi salah satu agenda unggulan promosi wisata dan budaya maritim di Sulawesi Selatan serta masuk dalam kalender event pariwisata provinsi. Pembukaan festival yang mengangkat ikon kebanggaan daerah berupa perahu phinisi, warisan budaya maritim dunia yang telah diakui UNESCO itu, berlangsung meriah dan sarat nuansa budaya pesisir, serta dihadiri sejumlah kepala daerah, wakil kepala daerah, tokoh adat, serta pejabat lintas kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Penyelenggaraan Festival Phinisi tahun ini memiliki nuansa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya karena prosesi adat Annyorong Lopi, ritual tradisi peluncuran kapal phinisi, digelar langsung di Pantai Mandala Ria sebagai lokasi utama kegiatan. Sebagai rangkaian kegiatan hari pertama, para kepala daerah dan undangan kehormatan menghadiri Gala Dinner di Hotel Paduppa Resort, kawasan wisata Tanjung Bira, pada pukul 19.30 WITA. Acara malam yang dikemas dalam suasana santai dan bernuansa pesahabatan itu menerapkan dress code bebas rapi sebagai bentuk ruang keakraban, komunikasi budaya, dan silaturahmi antardaerah dalam rangka menyukseskan event tahunan tersebut. Pada momen Gala Dinner, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi turut menyumbangkan dua lagu sebagai bentuk partisipasi dan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Phinisi 2025, sekaligus mempererat hubungan emosional lintas daerah melalui pendekatan budaya. “Terima kasih atas kesempatan, semoga momentum ini mempererat silaturahmi dan kolabosi lintas daerah,” ucap Appi. Melalui keikutsertaan pada kegiatan ini, Pemerintah Kota Makassar menyampaikan harapan agar sinergi dan kolaborasi antardaerah di Sulawesi Selatan semakin kuat, khususnya dalam mendorong pengembangan potensi wisata bahari. Sedangkan, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, hadir secara langsung dan membuka resmi pelaksanaan Festival Phinisi 2025. Dalam sambutannya, Fatmawati menegaskan bahwa keberhasilan Festival Phinisi masuk kembali dalam daftar Kharisma Event Nusantara merupakan pencapaian membanggakan karena melalui proses penilaian yang ketat dari pemerintah pusat. “Tidak mudah untuk masuk dalam Kharisma Event Nusantara, karena setiap tahun Kementerian Pariwisata melakukan verifikasi faktual di lapangan sebelum menetapkan sebuah event layak masuk daftar nasional,” tegas Fatmawati. Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 hanya empat event dari Sulawesi Selatan yang berhasil masuk dalam daftar Ken. “Festival Phinisi ini adalah simbol ketekunan, kerja keras, dan jiwa maritim masyarakat Bugis-Makassar yang tidak pernah padam,” ujar Fatmawati.

Infotainment

Raisa dan Hamish: Cinta yang Menyentuh Langit, Kini Merunduk di Persimpangan Takdir

ruminews.id – Jakarta, Kabar itu jatuh ke ruang publik seperti pecahan kaca yang memantulkan seribu tanya. Raisa Andriana dan Hamish Daud, dua nama yang selama ini menjadi simbol keindahan cinta dan keluarga harmonis, kini berdiri di persimpangan perpisahan. Jagat hiburan tanah air seakan menahan napas; publik tak siap menerima bahwa cinta yang dulu disanjung dan dirayakan jutaan hati, kini berubah menjadi kisah sendu yang terlipat dalam lembar gugatan cerai. Resmi sudah, Pengadilan Agama Jakarta Selatan mengonfirmasi bahwa gugatan atas nama Raisa telah terdaftar pada 22 Oktober 2025. Sidang perdana akan digelar pada 3 November mendatang, tanggal yang kini diselimuti tanda tanya, akankah menjadi awal perpisahan, atau justru pintu menuju perenungan dan mediasi? Padahal, sejak janji suci terucap pada 3 September 2017, kisah cinta mereka bagai dongeng yang hidup. Setiap senyum terekam manis di lensa kamera, setiap langkah berdua menjadi simbol kasih yang hangat. Publik menyebut mereka “pasangan sempurna,” sepasang jiwa yang tak hanya berpadu dalam cinta, tetapi juga dalam citra. Namun, sebagaimana musim yang berganti tanpa aba-aba, cinta pun bisa perlahan meredup bukan karena kebencian, tapi mungkin karena perjalanan yang mengubah arah. Pertanda keretakan itu muncul tanpa dentum. Hanya sebuah keheningan di dunia maya: foto peringatan ulang tahun pernikahan kedelapan mereka lenyap dari laman Instagram Hamish. Hilang tanpa kata, namun meninggalkan gema yang cukup nyaring untuk mengguncang ruang publik. Sejak saat itu, bisik-bisik tentang retaknya rumah tangga mulai menyeruak, seperti angin dingin yang menyelinap di antara celah jendela malam. Meski publik haus akan jawaban, baik Raisa maupun Hamish memilih diam. Tak ada klarifikasi, tak ada penjelasan hanya sunyi yang berbicara. Pengadilan pun menegaskan bahwa alasan di balik gugatan merupakan ranah tertutup, seakan cinta yang dulu dibagi dengan dunia kini ingin berpulang dalam ruang hening, tanpa sorot kamera, tanpa kalimat manis yang dipoles media. Sementara itu, publik tak kuasa menahan haru. Kolom komentar di media sosial dipenuhi doa dan harapan: agar mereka menemukan kedamaian, apa pun bentuknya. Ada yang berharap rujuk, ada pula yang berbisik pasrah bahwa mungkin inilah cara semesta mengajarkan, bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki untuk tetap indah dikenang. Kini, semua mata tertuju pada tanggal 3 November 2025. Di sana, mungkin cinta akan diuji sekali lagi — apakah masih ada sisa hangat untuk diselamatkan, atau hanya kenangan yang tinggal untuk dipeluk dalam diam. Apa pun keputusan akhirnya, kisah Raisa dan Hamish akan tetap terpatri dalam ingatan publik, sebagai bukti bahwa bahkan cinta yang paling megah pun bisa berakhir dengan sunyi, namun meninggalkan gema yang abadi di hati yang pernah percaya pada cinta.

Scroll to Top