Pemuda

Gowa, Pemuda, Pendidikan

Menatap Masa Depan Islam: DEMA FUF UIN Alauddin Makassar Hidupkan Tradisi Dialog Akademik

ruminews.id – Pada hari Ahad, 15 Maret 2026, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (DEMA FUF) UIN Alauddin Makassar melaksanakan sebuah agenda dialog sederhana yang menjadi ruang refleksi intelektual bagi mahasiswa. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi diskusi akademik di lingkungan kampus, sekaligus mendorong mahasiswa untuk terus terlibat dalam percakapan ilmiah mengenai isu-isu keislaman dan peradaban. Di tengah dinamika kehidupan kampus yang semakin kompleks, di mana banyak mahasiswa disibukkan oleh berbagai aktivitas akademik maupun kegiatan lainnya, ruang-ruang dialog sering kali menjadi semakin terbatas. Namun demikian, semangat untuk menghadirkan forum diskusi tetap perlu dijaga, karena dari ruang-ruang seperti inilah lahir berbagai gagasan, refleksi, dan kesadaran kritis yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan intelektual mahasiswa. Dialog yang diselenggarakan oleh DEMA FUF UIN Alauddin Makassar ini mengangkat tema “Menatap Masa Depan Islam: Kritik, Refleksi, dan Harapan Peradaban.” Tema ini dipilih sebagai upaya untuk mengajak mahasiswa membaca kembali posisi Islam dalam perjalanan sejarah dunia, sekaligus merefleksikan tantangan yang dihadapi umat Islam di era modern. Sebagaimana diketahui, Islam memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan peradaban yang tidak hanya bergerak dalam ranah spiritual dan teologis, tetapi juga dalam bidang sosial, politik, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Dalam berbagai fase sejarah, Islam bahkan hadir sebagai inspirasi bagi gerakan-gerakan pembebasan yang menentang kolonialisme, penindasan, dan berbagai bentuk dominasi kekuasaan yang tidak adil. Namun dalam konteks dunia kontemporer, muncul berbagai pertanyaan kritis mengenai bagaimana posisi umat Islam dalam percaturan global. Di tengah sistem dunia yang masih sangat dipengaruhi oleh hegemoni kekuatan besar dan berbagai bentuk dominasi global, sebagian kalangan menilai bahwa dunia Islam mengalami berbagai tantangan serius, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Meski demikian, sejarah juga memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam terus menjadi sumber inspirasi bagi berbagai upaya perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Di berbagai belahan dunia, terdapat tokoh dan gerakan yang mencoba menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam konteks sosial dan politik yang berbeda-beda. Misalnya, dalam sejarah modern terdapat tokoh seperti Gamal Abdel Nasser yang memimpin gerakan nasionalisme Arab di Mesir, Sukarno yang dikenal sebagai tokoh anti-kolonial di Indonesia, hingga kepemimpinan Ali Khamenei dalam konteks Republik Islam Iran yang sering dipahami sebagai salah satu bentuk artikulasi hubungan antara agama dan negara dalam dunia modern. Pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hadir dalam satu bentuk yang seragam. Sebaliknya, Islam terus ditafsirkan dan dipahami dalam berbagai konteks sosial, politik, dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, membaca masa depan Islam tidak cukup hanya dengan pendekatan normatif, tetapi juga memerlukan perspektif historis, kritis, dan kontekstual. Melalui dialog ini, mahasiswa diajak untuk melihat kembali hubungan antara Islam, negara, dan peradaban dalam perspektif yang lebih luas. Diskusi ini diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran gagasan yang terbuka, di mana mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, serta memperkaya pemahaman mereka mengenai dinamika Islam dalam dunia modern. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai bagian dari generasi intelektual yang diharapkan mampu membaca realitas zaman secara kritis sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan baru bagi masa depan. Kampus bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran sosial, intelektual, dan peradaban. Dengan terselenggaranya dialog ini, DEMA FUF UIN Alauddin Makassar berharap agar tradisi diskusi dan refleksi intelektual di kalangan mahasiswa dapat terus hidup dan berkembang. Sebab dari ruang-ruang dialog seperti inilah lahir pemikiran, kesadaran, serta harapan baru bagi masa depan peradaban yang lebih adil, manusiawi, dan bermartabat. #شباننا اليوم رجال الغد “Pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok”.

Mamuju, Nasional, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan

Pengurus Pusat HIPERMAJU Soroti peniadaan THR untuk ASN P3K Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2026

ruminews.id – Sebagai mahasiswa yang berasal dari sulawesi barat, yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kemajuan daerah, kami menilai polemik tidak dibayarkannya THR bagi PPPK di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat merupakan persoalan serius yang harus dijelaskan secara transparan kepada publik. Sangat disayangkan ketika pemerintah daerah di satu sisi meminta perusahaan-perusahaan untuk memenuhi kewajiban pembayaran THR kepada para pekerja, namun di sisi lain justru pegawainya sendiri tidak mendapatkan hak yang sama. Kondisi ini tentu menimbulkan kesan inkonsistensi dalam pengambilan kebijakan dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah daerah dalam memperjuangkan kesejahteraan tenaga kerjanya. Alasan keterbatasan fiskal yang disampaikan oleh pihak BKPSDM patut diuji secara terbuka. Apalagi jika benar terdapat alokasi anggaran yang cukup besar untuk program lain yang sifatnya opsional, sementara kewajiban normatif seperti pembayaran THR PPPK justru tidak diprioritaskan. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, kebijakan anggaran seharusnya menempatkan hak-hak pegawai sebagai prioritas utama. Lebih ironis lagi, di tengah alasan keterbatasan anggaran tersebut, pemerintah provinsi justru diketahui mengalokasikan tambahan insentif melalui program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) kepada ratusan kepala desa dan ribuan perangkat desa di enam kabupaten di Sulawesi Barat. Kepala desa menerima tambahan Rp1 juta per bulan, sementara sekretaris desa, kaur, dan kasi menerima Rp500 ribu per bulan. Kebijakan ini tentu patut diapresiasi sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan aparat desa, namun menjadi pertanyaan publik ketika pada saat yang sama THR bagi PPPK yang merupakan hak normatif justru tidak dibayarkan. Kami patut menduga bahwa persoalan ini bukan semata-mata soal kemampuan anggaran, tetapi juga menyangkut keberpihakan kebijakan. Pemerintah daerah perlu menunjukkan political will yang jelas dalam melindungi dan menghargai pengabdian para PPPK yang selama ini telah bekerja menjalankan pelayanan publik. Oleh karena itu, kami mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat serta segera mencari solusi konkret agar hak THR PPPK dapat dipenuhi. Selain itu, kami juga mendorong DPRD Provinsi Sulawesi Barat untuk menjalankan fungsi pengawasannya secara maksimal agar kebijakan pengelolaan anggaran daerah benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat dan aparatur yang bekerja untuk daerah. Kesejahteraan pegawai bukan sekadar persoalan administratif, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap pengabdian dan kerja keras mereka dalam membangun daerah.

Internasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda, Politik

Mengutip Puisi “Kie Raha Revolusi” dan Ironi Jaminan Keamanan bagi Sang Agresor

ruminews.id, – Tulisan ini saya awali dengan penuh kesadaran akan kecintaan pada kemanusiaan dan rasa khawatir atas noda-noda hubungan luar negeri yang kian nyata. Dan, yah, bagaimana tidak, rencana-rencana politik luar negeri kita kian memperlihatkan adanya sikap mementingkan keuntungan pribadi dalam kelompok yang kita kenal sebagai Board of Peace (BoP). Dari tulisan ini, saya mengajak pembaca melihat konflik politik dunia antara negara kita Indonesia yang mau menginisiasi sebagai mediator untuk perdamaian antar konflik Iran-AS-Israel dengan cara pandang dan sudut pandang yang berbeda. Board of Peace (BoP). Salah satu alat hubungan internasional yang diatur oleh Donald Trump, dan boleh jadi di antara kita mungkin setuju bahwa cerita perdamaian yang diangkatnya hanyalah bungkus luar dari nafsu kekuasaan dunia yang mampu merusak kesadaran atas kemerdekaan, baik dari berbagai sisi maupun cara. Dari sedikit tulisan ini mungkin kita sudah ketahui arahnya? Yap benar, kita memasuki pembahasan mengenai tekanan Geopolitik dunia dan ketidaksesuaian yang muncul dalam kebijakan luar negeri Presiden kita hari ini. Membacanya bagaikan perahu kata, yang membawa kita melewati waktu, pertikaian, dan kesadaran. Kita diajak mendengar kembali suara hati yang terlalu lama ditekan oleh aturan kehidupan. Bukan hanya membahas sejarah, perubahan besar, dan politik dunia di meja-meja pertemuan resmi. Sebagaimana bait pembuka dari “Kie Raha Revolusi” karya Amar Ome: “Gerimis mengundang amarah, berdesis dalam.Ingat penguasa, bersiul bukan menggonggong, menari bukan berkelahi.” Perjuangan dan kepemimpinan dalam pandangan kita seharusnya dibayangkan sebagai kumpulan pemikiran, bukan kumpulan kursi pejabat yang tunduk pada pembuat perang. Jika perdamaian jadi tempat membagi-bagi jaminan keamanan bagi pembuat perang, bukan membagi-bagi dukungan pada yang ditindas, maka itu bukan politik, itu adalah dagang. Dalam kacamata Islam, keberpihakan kita seharusnya mutlak kepada kaum yang tertindas (Mustadh’afin). Namun, dalam konteks BoP, kepentingan siapa yang sedang kita bela? Ketika Presiden menyatakan bahwa hak Israel untuk ada dan jaminan keamanannya harus kita bela, cerita ini seolah menanamkan pemahaman salah dalam membangun ketenangan palsu. Bagaimana mungkin kita bicara tentang “keamanan Israel” di saat negara tersebut justru secara brutal melakukan serangan ke Palestina sampai ke Iran? Ini adalah bentuk “Tip-Ex yang menjadi judul penguasa” menghilangkan jejak penindasan demi pengakuan di meja perundingan. Sejujurnya, muncul keraguan besar dalam pikiran saya mengenai kekuatan hubungan internasional kita hari ini, benarkah sang pemimpin atau presiden kita mampu memulai perdamaian antarnegara jika hak-hak di internal Indonesia saja tidak sepenuhnya diselesaikan? Sebagaimana bunyi protes dalam puisi tersebut “Menukik harapan kalam dengan sadis, menghalalkan masa depan dengan bengis, teringat mahasiswa mogok makan di pelataran jalan tanpa belas kasih mengadu impian untuk masa depan.” Bagaimana mungkin kita bergaya hebat di panggung dunia, sementara teriakan ketidakadilan di negeri sendiri masih menyakitkan dan merusak masa depan dengan kejam. Selesaikan dulu luka di daerah kita sendiri sebelum bermimpi menjadi penyelamat di tanah orang. Mari kita bercermin pada sejarah para Raja di Maluku dan sikap Raja Faisal dari Arab Saudi. Sedikit cerita tentang sejarah, Dulu, Raja Faisal dengan gagah berani menutup keran minyak untuk Amerika meski diancam. Beliau berkata “Kami bangsa Arab dulu hidup hanya dengan kurma dan susu, jadi kalau mau putus hubungan persoalan minyak ya silahkan saja kami bisa kembali ke masa-masa itu.” Sikap “mati terhormat” inilah yang membuat negara adidaya bertekuk lutut dan mendatangi langsung Raja Faisal untuk membujuk. Hal yang sama juga melekat pada darah para Sultan di Kie Raha yang “mengangkat parang dan salawaku, wajah-wajah alifuri dengan semangat marimoi ngone foturo.” Kerajaan Maluku di masa lampau tidak pernah mau didikte oleh bangsa asing karena mereka sadar akan harga diri. Mereka menunjukkan bahwa mereka bisa tetap hidup dengan kekayaan alamnya sendiri, karena “di sini tanah para raja bukan untuk tuan berdasi.” Namun hari ini, kita melihat pemimpin yang seolah kehilangan taji tersebut. Iran hari ini, meski terus ditekan dengan embargo, tetap berhasil menunjukkan bahwa mereka bisa hidup mandiri. Seperti yang saya kutip dari beberapa narasi media (Kakanda Fikri Haikal), Iran bahkan mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melewati selat Hormuz jika terus ditekan. Jenderal Sardar Jabbari menyatakan Teheran “tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut”. Kenaikan MOJTABA KHAMENEI sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, SYAHID ALI KHAMENEI, menandai fase baru perlawanan di tengah ancaman serangan AS dan Israel yang berpotensi melambungkan harga minyak dunia. Hal ini membawa kita pada pengamatan SYAHID ALI KHAMENEI mengenai Perang Budaya, seperti yang saya kutip dari beberapa narasi media (Kakanda Rahmatullah). Bagian yang sangat halus dalam cengkeraman kolonialisme adalah serangannya melalui budaya sebagai wujud perang melalui kekuatan ekonomi dan politik. Mereka menggunakan teror halus untuk menaklukkan prinsip-prinsip suatu negara. SYAHID ALI KHAMENEI memandang serangan ini bertujuan untuk menggoyahkan keyakinan agama, memutuskan hubungan dari prinsip revolusi Islam, dan menggiring masyarakat pada ketakutan agar mereka tunduk di bawah kendalinya. Akibatnya, umat Muslim tidak lagi sadar akan perang budaya yang tengah berlangsung karena pikiran dan identitasnya telah dikuasai kolonial. Heidegger mengamati gejala ini sebagai “ketakberpikiran”, di mana manusia terpenjara oleh keinginan melakukan segala sesuatu secara instan. Inilah yang oleh SYAHID ALI KHAMENEI disebut sebagai dua pilar kolonialisme , mengganti budaya lokal dengan budaya asing dan melakukan serangan terhadap nilai-nilai Islam melalui media produksi asing. Senada dengan itu, Edward W. Said dalam wacana Orientalisme Barat membagi empat modus kekuasaan yakni politik, intelektual, kultural, dan moral. Kekuasaan intelektual Barat membuat masyarakat akademik kita merasa rendah diri, seperti yang dikatakan Frantz Fanon tentang alienasi psikologis bangsa jajahan. Kolonialisme memberikan kemudahan agar masyarakat menjadi malas berpikir, sebagaimana dijelaskan Toynbee, sehingga mereka yang dijajah tidak mampu mengubah kondisi sosialnya. Dalam pandangan teori sosial, bergabungnya Indonesia ke BoP adalah upaya mencari pengaruh dengan harga kejujuran hati yang sangat mahal. Kita seolah lupa pesan sejarah bahwa “di sini lahirnya legitimasi bukan caci maki, di sini lahirnya demokrasi bukan amarah dan dengki.” Para politisi hari ini sedang mengumbar janji manis dengan bahasa persuasif sampai propaganda legitimasi, sementara rakyat kebingungan melihat kedaeratan bangsa ditukar demi pengakuan kelompok pembuat perang. Tahukah kalian apa yang lebih buruk? Indonesia kini terpecah antara ambisi menjadi pemain dunia dan kenyataan rakyat kecil yang masih berharap pada masa depan di pinggir jalan tanpa rasa kasihan. Apakah ada kesengajaan dalam membangun citra pahlawan di luar negeri untuk menutupi masalah di dalam negeri? Mari kita lihat lebih dalam.

Gowa, Pemuda

Bupati Gowa: Kepemimpinan HMI–KOHATI Cabang Gowa Raya Harus Progresif dan Berintegritas

ruminews.id, GOWA – Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang meminta agar kepemimpinan atau kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Gowa Raya periode 2026–2027 lebih progresif dan berintegritas. Termasuk mengambil peran dalam mendorong pembangunan daerah secara berkelanjutan. Sehingga, pelantikan tersebut diharapkan bukan sekadar agenda seremonial organisasi, tetapi menjadi awal perjalanan kepemimpinan yang diharapkan mampu melahirkan gagasan besar dan komitmen pengabdian bagi masyarakat. “Pelantikan ini bukan hanya seremonial organisasi, tetapi merupakan titik awal kepemimpinan sekaligus ruang lahirnya gagasan-gagasan besar untuk masyarakat,” ujarnya saat Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) & Korps HMI-Wati Cabang Gowa Raya Periode 2026-2027 di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Sabtu (14/3). Menurut Bupati Talenrang, tema “Revitalisasi Kepemimpinan HMI Cabang Gowa Raya dalam Mewujudukan Insan Cita yang Progresif dan Berintegritas” sangat relevan dengan tantangan zaman, dimana masa depan daerah dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan generasi muda. Ia pun berpesan kepada pengurus yang baru dilantik agar menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab, memperkuat soliditas kader, menghidupkan tradisi diskusi intelektual, serta menghadirkan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. “Jadilah kader yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan berintegritas. Kepemimpinan yang baik tidak hanya terlihat dalam organisasi, tetapi manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat,” tambah orang nomor satu di Gowa ini. Lebih lanjut, Bupati Talenrang menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gowa memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah membutuhkan gagasan segar, kritik konstruktif, serta partisipasi aktif generasi muda. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda,” tegasnya. Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya Periode 2026-2027, Taufiqurrahman, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menjadi kekuatan moral dan intelektual di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa HMI yang berdiri sejak 5 Februari 1947 membawa cita-cita besar yang diwariskan para pendirinya, khususnya Lafran Pane. “Harapan dan cita-cita para pendiri itulah yang menjadi ruh perjuangan HMI, sehingga organisasi ini mampu bertahan dan terus hadir hingga hari ini,” jelasnya. Menurut Taufiqurrahman, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan kekuatan administratif dan politik, tetapi juga kompas moral yang menjadi penuntun dalam setiap kebijakan. Ia berharap nilai-nilai dasar perjuangan HMI seperti kejujuran, integritas, keadilan, serta keberpihakan kepada rakyat dapat menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan. “Pemerintah yang baik tidak hanya diukur dari banyaknya program, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ungkapnya. Sementara itu, Pengurus PB HMI, Andi Muhammad Saiful Haq, menyampaikan bahwa kepemimpinan membutuhkan dua hal penting, yakni keberanian dan momentum. “Banyak orang memiliki keberanian tetapi tidak memiliki momentum. Sebaliknya, ada yang memiliki momentum tetapi tidak memiliki keberanian. Saya percaya pengurus yang dilantik hari ini memiliki keduanya,” ujarnya. Dalam pelantikan tersebut, Taufiqurrahman resmi dilantik sebagai Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya periode 2026–2027 dengan Muhammad Ikram Syahrir AS sebagai Sekretaris Umum. Sementara itu, Saripa Ikawati dilantik sebagai Ketua KOHATI dengan Arnida Amir sebagai Sekretaris Umum. Pelantikan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Gowa, Hasrul Abdul Rajab, Kepala Kantor Kementerian Agama Gowa, Jamaris Halik, Ketua Umum BADKO HMI Sulselbar, Asrullah Dimass, serta Ketua KOHATI Sulselbar Ita Rosita. Momentum pelantikan yang berlangsung di bulan suci Ramadan ini diharapkan menjadi penguat semangat bagi kader HMI dan KOHATI untuk terus berkarya dengan keikhlasan, menjaga integritas, serta mengabdikan diri bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.(FA)

Gowa, Pemuda, Pendidikan

Momentum Milad HMJ MTK ke-18: Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan

ruminews.id, GOWA – Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika (HMJ-MTK) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alaudin Makassar menggelar kegiatan Milad (HMJ MTK) yang ke-18 Tahun pada tanggal 14 Maret 2026. Kegiatan milad ini merupakan momentum untuk menjadi langkah awal memperkuat solidaritas dan arah gerak organisasi serta mempererat silaturahmi antara Pihak Alumni, Jurusan dan Pengurus HMJ-MTK Periode 2026. Mengusung tema “Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan”, peringatan milad ini diharapkan mampu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen seluruh kader dan anggota HMJ MTK dalam membangun organisasi yang lebih progresif dan berdampak. Menurut Rahman,selaku ketua Umum HMJ-MTK usia ke-18 tahun bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi titik penting untuk menegaskan kembali semangat kebersamaan dalam organisasi. “Milad ke-18 ini menjadi langkah awal bagi kita semua untuk mempererat rasa kekeluargaan di HMJ MTK. Dengan satu tujuan yang sama, kita berharap dapat menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi organisasi, jurusan, dan lingkungan sekitar,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kebersamaan merupakan kunci utama dalam menjalankan roda organisasi. Dengan semangat satu keluarga, seluruh anggota diharapkan mampu bergerak bersama, saling mendukung, serta menghadirkan inovasi dan kontribusi nyata. Momentum milad ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi penguat komitmen bersama dalam membangun HMJ MTK yang lebih solid, inspiratif, dan berdaya guna bagi mahasiswa. HMJ MTK — Satu Keluarga, Satu Tujuan, Wujudkan Perubahan.

Luwu Timur, Pemerintahan, Pemuda

Pemkab Lutim dan Diaspora Bukber di Makassar, KKLT Dorong Sinergi Pembangunan Daerah

ruminews.id, MAKASSAR — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur bersama masyarakat diaspora menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama di Aula Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Sabtu (14/3/2026). Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan warga Luwu Timur yang berada di perantauan sekaligus memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah. Kegiatan ini dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, pengurus Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT), tokoh masyarakat, serta mahasiswa asal Luwu Timur yang sedang menempuh pendidikan di Makassar dan sekitarnya. Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam hadir bersama istrinya yang juga anggota DPRD Sulawesi Selatan, dr. Any Nurbani. Turut hadir pula sejumlah tokoh Luwu Timur, di antaranya mantan Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma serta Wakil Ketua DPRD Lutim Jihadin Peruge. Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga memaparkan sejumlah capaian serta program unggulan pemerintahan Irwan Bachri Syam–Puspawati Husler (Ibas–Puspa) melalui tayangan visual. Beberapa program yang diperkenalkan di antaranya pemberian beasiswa gratis bagi pelajar dan mahasiswa, program kartu lansia yang memberikan insentif bagi warga lanjut usia, serta berbagai program pembangunan daerah lainnya yang saat ini tengah berjalan di Luwu Timur. Di hadapan pengurus KKLT dan mahasiswa, Bupati Irwan Bachri Syam berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk diaspora Luwu Timur di Makassar, dapat memberikan dukungan terhadap berbagai program pembangunan daerah. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Luwu Timur yang selama ini terus mendukung upaya pembangunan di daerah. Sementara itu, Ketua KKLT Dr. dr. Abdul Rahman Rauf, Sp.OG(K) mengapresiasi kegiatan silaturahmi Ramadan yang digelar Pemkab Luwu Timur tersebut. Menurutnya, kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat Luwu Timur yang berada di perantauan. “Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi Pemkab Lutim yang mengadakan kegiatan buka puasa bersama ini. Memang sudah menjadi agenda rutin setiap Ramadan bagi kita untuk berkumpul dan bersilaturahmi,” ujar Abdul Rahman Rauf yang akrab disapa Dokter Mammang. Ia menilai kehadiran jajaran pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya semangat keterbukaan dalam membangun komunikasi dengan masyarakat diaspora. “Kita melihat banyak pejabat OPD Lutim yang hadir, termasuk Ibu Bupati yang juga anggota DPRD Sulsel. Semuanya berbaur dengan masyarakat. Ini menjadi wujud kebersamaan dan kolaborasi kita dalam membangun Luwu Timur yang lebih baik ke depan,” katanya. Dokter Mammang menambahkan, masyarakat diaspora Luwu Timur di Makassar memiliki potensi besar untuk berkontribusi bagi daerah, baik melalui pemikiran, jejaring, maupun dukungan terhadap berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah. Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah dan diaspora dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendorong pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Luwu Timur. (*)

Maros, Pemuda, Pendidikan

IKA SMAN 2 MAROS Sukses Gelar Buka Puasa Bersama dan Diskusi Alumni

ruminews.id, Maros – Sebagai wadah untuk merajut kembali kisah-kasih semasa SMA, tentu IKA alumni adalah tempat untuk kembalinya mengenang cerita lalu itu. Dalam momentum Ramadan, IKA SMAN 2 Maros menggelar buka puasa bersama dan diskusi alumni yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu Aula Panti Al-Mubarak dan Warkop Labaka. (14/03/26) Andi Lukman selaku Ketua Umum IKA Alumni mengatakan bahwa kegiatan buka puasa bersama, silaturahmi, dan diskusi ini dapat terlaksana dengan baik dan berlangsung dengan luar biasa. “Alhamdulillah dengan adanya kegiatan ini buka puasa, silaturahmi alumni & diskusi bisa merajut kembali silaturahmi antar Alumni, mengenang cerita semasa SMA dan di hadiri oleh semua alumni SMA 2 Maros,” ucap Andi Lukman, Sabtu (14/03/2026). Lebih lanjut, Andi Lukman mengatakan selain melaksanakan buka puasa bersama dan silaturahmi alumni, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi pengurus guna merumuskan langkah-langkah konkret yang akan dikerjakan ke depan. “Dalam sesi diskusi menghasilkan kesimpulan bahwa pembangunan aula di sekolah SMAN 2 Maros menjadi prioritas dan akan di kerjakan. dan sebagai bentuk komitmen, di akhir diskusi kami menunjuk pimpinan proyek, yaitu pak Akmal Sulaiman,” lanjutnya. Akmal Sulaiman selaku ketua panitia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar alumni dari berbagai angkatan. “Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, kami ingin menghadirkan ruang silaturahmi yang hangat bagi para alumni. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk menyatukan gagasan serta kontribusi nyata alumni bagi perkembangan SMAN 2 Maros ke depan,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin agar hubungan antar alumni tetap terjaga dan semakin solid. Kegiatan ini ditutup dengan agenda diskusi untuk membahas keberlanjutan dan kemajuan SMAN 2 Maros di masa mendatang.

Makassar, Pemuda

Berbagi di Ramadan, KAHMI Makassar Salurkan Sembako untuk Anak Panti dan Warga Dhuafa

ruminews.id, MAKASSAR — Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Kota Makassar (MD KAHMI Makassar) menggelar aksi sosial dengan menyalurkan paket sembako kepada anak-anak panti asuhan dan warga dhuafa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Amaliyah Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan berbagi tersebut dilaksanakan pada Sabtu (14/3/2026) dengan menyasar Panti Asuhan Mawaddah di Jalan Muh. Tahir serta masyarakat kurang mampu di Kampung Baru Antang, yang selama ini menjadi kampung binaan MD KAHMI Makassar. Dalam keterangannya, Sekretaris Umum MD KAHMI Makassar, Andi Sri Hastuti Sultan, mengatakan program berbagi ini merupakan wujud kepedulian sosial para alumni HMI terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan suci Ramadan. “Berbagi sembako ini kami salurkan ke beberapa panti asuhan di wilayah Makassar, di antaranya Panti Asuhan Mawaddah di Jalan Muh. Tahir, serta ke kampung binaan MD KAHMI di Kampung Baru Antang,” ujar Andi Sri Hastuti Sultan usai kegiatan penyaluran bantuan. Ia menjelaskan, paket bantuan yang diberikan berisi berbagai kebutuhan pokok yang diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat selama menjalankan ibadah puasa. Paket sembako tersebut antara lain berisi beras, gula, minyak goreng, mi instan, snack, serta kebutuhan pokok lainnya. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menyasar anak-anak panti asuhan, tetapi juga kelompok masyarakat yang membutuhkan seperti kaum dhuafa, pemulung, hingga tuna wisma. “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi saluran berkah bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama pada momentum bulan puasa. Di antara penerima bantuan ada kaum dhuafa, anak-anak panti asuhan, pemulung, dan tuna wisma,” katanya. Andi Sri Hastuti Sultan menambahkan, kegiatan berbagi Ramadan telah menjadi program rutin yang dilaksanakan MD KAHMI Makassar setiap tahun. Dalam pelaksanaannya, seluruh pengurus terlibat melalui panitia pelaksana yang dibentuk khusus untuk mengoordinasikan kegiatan sosial selama Ramadan. Adapun bantuan yang disalurkan dalam kegiatan tersebut berasal dari donasi keluarga besar KAHMI Makassar. “Donasi berasal dari urunan keluarga besar MD KAHMI Kota Makassar,” jelasnya. Program penyaluran sembako ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Amaliyah Ramadan MD KAHMI Makassar, yang juga mencakup agenda sosial dan silaturahmi lainnya seperti program “KAHMI Berbagi”, kegiatan buka puasa dan tarwih bersama, serta rencana halalbihalal yang akan menghadirkan Menteri Agama RI setelah Hari Raya Idulfitri. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KAHMI Makassar berharap dapat terus menumbuhkan semangat kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara alumni HMI dan masyarakat luas di Kota Makassar. (*)

Makassar, Pemerintahan, Pemuda

Bawa-bawa Nama TNI Saat Dibubarkan Polisi, Aksi Sahur On The Road di Makassar Tuai Sorotan

ruminews.id, Makassar – Fenomena kegiatan sosial yang dilakukan oleh kelompok remaja di Kota Makassar belakangan ini menuai sorotan publik. Sejumlah kegiatan yang diklaim sebagai aksi sosial, seperti berbagi takjil hingga kegiatan Sahur On The Road (SOTR), justru dinilai meresahkan masyarakat karena dilakukan dengan cara konvoi layaknya geng motor di jalanan utama kota. Alih-alih berlangsung tertib, beberapa kelompok remaja kerap melakukan konvoi kendaraan secara ugal-ugalan, menggunakan knalpot bising, serta memadati ruas jalan. Kondisi ini membuat pengguna jalan lain merasa tidak aman, terutama pada malam hingga dini hari saat aktivitas masyarakat masih berlangsung. Peristiwa terbaru terjadi pada Sabtu dini hari, 14 Maret 2026, ketika aparat kepolisian dari Polrestabes Makassar melakukan patroli di sekitar Jalan A.P. Pettarani, salah satu ruas utama di Kota Makassar. Dalam patroli tersebut, petugas membubarkan sekelompok remaja yang tengah melakukan kegiatan Sahur On The Road. Namun pembubaran tersebut sempat memicu perdebatan di lokasi. Beberapa peserta SOTR disebut tidak terima dengan tindakan pembubaran oleh aparat kepolisian. Situasi sempat memanas setelah salah satu peserta membawa-bawa nama institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang kemudian memicu reaksi dari petugas dan menjadi perhatian warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut. Aksi tersebut menjadi sorotan masyarakat karena dinilai mencederai semangat kegiatan sosial yang seharusnya membawa manfaat bagi masyarakat luas, bukan justru menimbulkan keresahan dan potensi gangguan keamanan di jalan raya. Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum, Bung Cimeng, meminta aparat kepolisian untuk bertindak tegas terhadap setiap aktivitas yang mengganggu ketertiban umum, tanpa memandang latar belakang pelaku. “Jika kegiatan sosial dilakukan dengan cara yang membahayakan masyarakat, tentu itu tidak bisa ditoleransi. Kami meminta pihak kepolisian di Makassar untuk menindak tegas setiap tindakan konvoi ugal-ugalan yang meresahkan warga,” ujar Bung Cimeng dalam keterangannya. Ia juga menyoroti adanya pihak yang membawa-bawa nama institusi negara dalam insiden tersebut. Menurutnya, hal itu tidak boleh dibiarkan karena dapat mencoreng nama baik institusi. “Kami juga meminta instansi terkait untuk segera menindak tegas apabila benar ada oknum yang mengatasnamakan atau membawa nama institusi, khususnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tidak boleh ada kesan bahwa seseorang kebal hukum hanya karena mengaku berasal dari institusi tertentu. Jika ada anggota yang bersikap arogan atau bergaya koboi di Kota Makassar, maka harus ditindak sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya. Bung Cimeng menambahkan bahwa fenomena ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun masyarakat. Menurutnya, kegiatan sosial di bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk mempererat solidaritas dan kepedulian sosial, bukan justru menciptakan potensi konflik di ruang publik. Ia berharap aparat keamanan dapat meningkatkan patroli serta melakukan pembinaan kepada kelompok-kelompok remaja agar kegiatan sosial dapat dilakukan secara tertib dan tidak mengganggu ketertiban kota. “Makassar adalah kota besar yang harus dijaga kondusivitasnya. Kegiatan sosial tentu baik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merugikan masyarakat,” tutupnya.

Gowa, Pemuda

Harmoni Ramadan yang diselenggarakan, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi: Berbagi di Jalanan dan Santunan ke Panti Asuhan

ruminews.id, Makassar – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) menggelar kegiatan Harmoni Ramadan pada Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi(FDK). yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian sosial mahasiswa sekaligus untuk mempererat nilai kebersamaan di bulan suci Ramadan. Program kerja ini diinisiasi oleh pengurus dan mahasiswa di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan mengusung semangat berbagi kepada sesama. Melalui kegiatan Harmoni Ramadan, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan rasa empati, solidaritas, serta kepedulian sosial terhadap masyarakat. Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi berbagi di lingkungan fakultas lalu turun ke jalanan. Para mahasiswa turun langsung membagikan makanan berbuka puasa kepada masyarakat, pengendara, serta para pekerja yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka. Aksi ini dilakukan sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa namun belum sempat menyiapkan hidangan berbuka. Setelah kegiatan berbagi di jalanan, rombongan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Panti Asuhan Nur Faisal yang berlokasi di Jalan Syahrul Yasin Limpo. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa menyerahkan infak serta bantuan sebagai bentuk kepedulian dan dukungan kepada anak-anak panti asuhan. Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa (FDK) menyampaikan bahwa kegiatan Harmoni Ramadan tidak hanya bertujuan untuk berbagi secara materi, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian dan keislaman serta menebarkan kebaikan kepada masyarakat luas. Pihak Panti Asuhan Nur Faisal menyambut baik kedatangan rombongan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (FDK) Dakwah dan Komunikasi (FDK) . Mereka mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta bantuan yang diberikan, yang diharapkan dapat memberikan kebahagiaan serta semangat bagi anak-anak panti. Melalui program kerja Harmoni Ramadan ini, Fakultas Dakwah dan Komunikasi berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di kalangan mahasiswa serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat nilai kemanusiaan, kepedulian, dan kebersamaan. Penulis:FIKRAM (Wakil ketua umum II dewan eksekutif mahasiswa FDK)

Scroll to Top