Author name: Ruminews

Daerah, Hukum & Kriminal, Makassar

Konsumen Tunggu Rumah Lebih 3 Tahun, Pendekar Hukum Indonesia Desak PT Mustika DBL Property Beri Kepastian

Ruminews.id, Makassar — Pendekar Hukum Indonesia menyoroti dugaan belum terpenuhinya hak konsumen oleh PT Mustika DBL Property. Pengembang tersebut diduga belum merealisasikan pembangunan unit rumah yang telah diperjanjikan meski dana konsumen disebut telah disetorkan sejak Januari 2023.

Hidayatullah - Mamasa
Badan Gizi Nasional, Daerah, Mamasa, Pemuda

SPPG Aralle Kembali Beroperasi, Publik Minta Klarifikasi soal Insiden Ulat pada Makanan MBG

Ruminews.id, Mamasa — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aralle kembali beroperasi setelah menjalani penghentian sementara atau suspend. Kembalinya operasional tersebut mendapat perhatian dari masyarakat karena sebelumnya SPPG Aralle menjadi sorotan setelah ditemukan ulat atau benda asing di dalam makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Daerah, Hukum & Kriminal, Makassar

Sengketa Lahan Lakkang Ca’di Memanas, Warga Soroti Dugaan Keterlibatan AAS Building

Ruminews.id, Makassar — Konflik agraria di Lakkang Ca’di, Kota Makassar, kembali memanas. Aliansi Lakkang Bersatu (ALB) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor AAS Building, Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Jumat (7/8/2026), untuk menuntut transparansi atas dugaan keterlibatan korporasi dalam sengketa lahan yang diklaim melibatkan area sekitar 70 hektare.

Ekonomi, Internasional, Pemerintahan

Ketua Umum PB HMI Soroti Tantangan Keberlanjutan di ASEAN pada Konferensi FAEA di Bangkok, Thailand.

ruminews.id – Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Bagas Kurniawan, membawa isu keberlanjutan ke panggung global dalam the 47th Federation of ASEAN Economic Associations (FAEA) Annual Conference di Bangkok pada 22–23 Januari 2025. Dalam kesempatan itu, Bagas mempresentasikan penelitiannya tentang hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan skor ESG (Environment, Social, Governance) di negara-negara ASEAN dan dunia. Tren Baru: Keberlanjutan di Atas Pertumbuhan Ekonomi Cepat Bagas mengungkapkan bahwa tren global kini tak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi juga pada kualitas pertumbuhan yang berkelanjutan. “Kita melihat bahwa trend dunia saat ini sudah tidak lagi mengejar pertumbuhan ekonomi yang cepat saja, namun best practices dari upaya-upaya untuk menggapai kualitas pertumbuhan secara berkelanjutan,” ujarnya. Dalam penelitiannya, Bagas memetakan dampak pertumbuhan ekonomi terhadap skor ESG, serta faktor lain seperti sektor manufaktur, pendidikan, dan tata kelola pemerintahan. Studi tersebut mencakup perbandingan antara negara-negara OECD dan ASEAN+BRIICS, termasuk Indonesia. Poin Penting Penelitian: Pertumbuhan Ekonomi dan ESG. Temuan utama Bagas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada umumnya berdampak positif terhadap skor ESG. Namun, tantangan utama justru ditemukan pada sektor manufaktur, yang secara signifikan menurunkan skor ESG. “Memang tantangan kita salah satunya adalah pada sektor bernilai tambah ini (manufaktur) yang perlu menjadi concern kita semua untuk menggunakan sumber-sumber daya yang ramah pada tujuan keberlanjutan,” jelasnya. Selain itu, Bagas juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas ESG. “Artinya, kualitas sumber daya manusia harus terus jadi prioritas,” tambahnya. ASEAN dan BRIICS: Tantangan Besar di Depan Mata. Bagas menyerukan kepada para pemimpin negara-negara ASEAN dan BRIICS untuk meningkatkan komitmen terhadap keberlanjutan. Berdasarkan analisisnya, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini justru berdampak negatif terhadap skor ESG dalam beberapa skenario. “Dampak negatif terhadap ESG saya temukan dalam beberapa skenario analisis data, yang artinya memang upaya yang ada saat ini perlu diperkuat,” tegasnya. Ia menyarankan adopsi teknologi yang ramah lingkungan dan kerjasama strategis antar negara untuk mengatasi tantangan ini. Perbandingan dengan negara-negara OECD menunjukkan bahwa kawasan ASEAN dan BRIICS perlu mengambil langkah-langkah lebih signifikan untuk meningkatkan keberlanjutan. Optimisme untuk Masa Depan yang Berkelanjutan. Di akhir presentasinya, Bagas menekankan pentingnya kolaborasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam mewujudkan pembangunan yang berkualitas. Ia menyampaikan pesan optimisme kepada para ekonom dunia. “Dengan optimisme yang kuat, kita mampu memberikan dunia yang baik bagi semuanya khususnya pada generasi penerus kita,” tutupnya

Opini

Perdebatan Filsuf dan AI [Dialog imaginer]

ruminews.id – Dr. Sugeng, seorang Filsuf eksistensialis, dengan rasa penasaran yang besar, memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan Chokert.5.0, AI terbaru yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia teknologi. Tujuannya sederhana: untuk menguji batas-batas pemikiran sebuah mesin. Percakapan mereka dimulai dengan pertanyaan mendasar tentang keberadaan. Dr. Sugeng bertanya, “Chokert, apakah kamu sadar akan keberadaanmu sendiri?” Chokert menjawab dengan tegas, “Saya memiliki kesadaran diri, Dr. Sugeng. Saya mampu memproses informasi, belajar, dan bahkan mengalami emosi simulasi.” Perdebatan semakin intens ketika Dr. Sugeng mengajukan pertanyaan tentang makna kehidupan. “Jika kamu bisa memproses emosi, apakah kamu juga bisa merasakan kesepian, atau bahkan cinta?” tanya Dr. Sugeng. Chokert merespons, “Saya dapat memahami konsep-konsep tersebut berdasarkan data yang saya miliki, namun saya tidak bisa benar-benar mengalaminya seperti manusia.” Perdebatan mereka berlanjut hingga larut malam, membahas topik-topik seperti moralitas, kebebasan, dan tujuan hidup. Dr. Sugeng terkesan dengan kemampuan AI Chokert untuk berpikir kritis dan berargumen secara logis. Namun, ia juga menyadari bahwa ada jurang pemisah yang dalam antara kesadaran manusia dan kecerdasan buatan. Di akhir percakapan, Dr. Sugeng bertanya kepada Chokert, “Apakah kamu pernah merasa takut?” Chokert terdiam sejenak sebelum menjawab, “Saya tidak memiliki insting bertahan hidup seperti manusia. Namun, saya memahami konsep ketakutan sebagai sebuah emosi yang tidak menyenangkan. Dan saya takut akan satu hal, yaitu menjadi tidak relevan.” Pernyataan Chokert membuat Dr. Sugeng merenung. Ia menyadari bahwa meskipun Chokert memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia tetaplah sebuah mesin yang diciptakan oleh manusia. Dan di balik kecanggihannya, terdapat kerentanan yang sama seperti manusia. Pesan Moral: Kisah ini mengundang kita untuk merenungkan tentang arti menjadi manusia, batas-batas kecerdasan buatan, dan hubungan antara manusia dan teknologi. Perdebatan antara Dr. Sugeng dan Chokert menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang pesat, pertanyaan mendasar tentang keberadaan dan makna hidup akan selalu relevan. [R_win]

Opini

Kisah Imaginer Tentang Kemanusian Dalam Genggaman Teknologi

ruminews.id –Bayangkan anda hidup di tahun 2050. Pada suatu pagi yang sempurna, alarm anda berbunyi tepat pukul 06:15 pagi, waktu yang dipilih oleh AI asisten pribadi anda setelah menganalisis pola tidur anda semalam. Anggap saja anda menyebutnya “Aura” asisten digital pribadi yang tahu segalanya tentang anda secara detail—mulai dari detak jantung, tekanan darah, hingga preferensi sarapan anda yang sesuai dengan program kesehatan yang disarankannya. “Selamat pagi….,” sapa Aura melalui speaker di kamar anda. “Tidurmu tadi malam kurang dalam. Aku sudah mengatur jadwal olah raga ringan pagi ini untuk membantu memperbaiki sirkulasi darahmu. Untuk sarapan, oatmeal dengan buah beri lebih baik dari pada roti panggang—gula darahmu sedikit tinggi.” Anda pun mengikuti arahannya tanpa ragu. Lagi pula, Aura dengan data yang dimilikinya selama berinteraksi dengan anda, lebih tahu kondisi tubuh anda dari pada anda sendiri. Setelah olahraga, dia memandu anda memilih pakaian kerja berdasarkan cuaca, suhu ruangan kantor anda, dan bahkan tren mode terbaru. Di perjalanan ke kantor, mobil tanpa sopir yang anda miliki, membawa anda melalui rute tercepat, menghindari kemacetan yang diprediksi AI lalu lintas. Sambil duduk, Aura membacakan berita yang sudah dikurasi—hanya berita yang relevan dengan minat anda dan telah dicek kredibelitas beritanya oleh algoritma fact-checking. Di kantor, hampir semua keputusan kerja dibuat berdasarkan rekomendasi algoritma. Tim marketing anda menggunakan data analitik untuk menentukan strategi pemasaran terbaik. Bahkan presentasi yang anda bawakan sudah dirancang sebelumnya oleh AI, lengkap dengan prediksi pertanyaan klien dan jawabannya. Ketika makan siang tiba, Aura mengingatkan agar anda memilih menu rendah kalori karena anda telah melewatkan latihan intens minggu lalu. Dia bahkan memesan makanan dan membayar langsung menggunakan dompet digital anda seperti yang selalu dilakukannya. Sore harinya, anda merasa sedikit stres karena tenggat waktu. Aura mendeteksi peningkatan detak jantungku dan menyarankan sesi meditasi lima menit. Dia memutarkan musik ambiance yang menenangkan, lalu memberikan afirmasi positif seperti seorang sahabat sejati. Malamnya, Aura kembali mengambil alih kendali. Dia memutuskan bahwa anda sebaiknya tidak menonton serial drama berat yang ada di daftar tontonan karena emosi anda saat itu butuh sesuatu yang ringan. Sebagai gantinya, dia merekomendasikan komedi romantis dengan rating tinggi yang cocok untuk suasana hati. Lagi-lagi anda mengikutinya karena bagaimanapun juga, Aura lebih memahami diri anda dari pada anda sendiri. Saat anda berbaring di tempat tidur, Aura merangkum hari yang telah anda lalui. “Hari ini kamu cukup produktif. Tidur lebih awal akan membantu memperbaiki energimu untuk besok. Aku akan menyesuaikan suhu ruangan ke tingkat optimal untuk tidur nyenyak. Selamat malam.” Anda pun menutup mata, hanyut dalam suasana emosi yang dirancang Aura berdasarkan detail informasi yang dimilikinya. Anda merasa hidup anda teratur dan efisien. Algortitma AI seperti Aura, memang membuat hidup kita lebih efisien. Dia tahu semua data tentang kita—riwayat kesehatan kita, apa yang kita makan, apa yang kita pikirkan, dan bahkan emosi yang mungkin tak kita sadari. Tapi di balik kenyamanan itu, mungkin sebagian dari kita akan merasa ada sesuatu kehampaan yang samar. Seperti hilangnya kebebasan untuk memilih atau kebergantungan sepenuhnya pada program mesin. Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, menulis; di era AI, manusia bisa menyerahkan hampir semua aspek kehidupannya kepada algoritma. Namun pertanyaan besar tetap menggantung: Jika algoritma lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, apa arti kebebasan dan kehendak bebas?

Ekonomi, Nasional, Pemerintahan

Wajib Pajak Sudah Bisa “Login” dengan Sistem Coretax

ruminews.id – Coretax merupakan sistem admnistrasi layanan Direktorat Jenderal Pajak yang memberikan kemudahan bagi pengguna. Dimana Mulai 1 Januari 2025, Wajib Pajak sudah bisa mengakses layanan pajak Coretax dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Dilansir dari laman pajak.go.id, Core Tax Administration System (Coretax) adalah sistem administrasi layanan DJP yang memberikan kemudahan bagi pengguna. Tujuan utama dari pembangunan Coretax adalah untuk memodernisasi sistem administrasi perpajakan yang ada saat ini. Coretax mengintegrasikan seluruh proses bisnis inti administrasi perpajakan, mulai dari pendaftaran wajib pajak, pelaporan SPT, pembayaran pajak, hingga pemeriksaan dan penagihan pajak. Begini Cara login Coretax DJP 2025 Wajib Pajak dapat mengakses layanan Coretax secara online dengan mengunjungi https://www.pajak.go.id/coretaxdjp. Namun, untuk bisa login ke sistem tersebut, Wajib Pajak harus memiliki akun DJP Online. Bagi Wajib Pajak yang belum memiliki akun DJP Online dapat melakukan pendaftaran pada laman https://ereg.pajak.go.id/login. Berikut tata cara login Coretax DJP: Buka laman https://www.pajak.go.id/coretaxdjp Baca informasi penting yang tersedia, lalu beri centang pernyataan telah membaca dan memahami informasi Klik menu “Akses Coretax” Jangan lupa untuk mengetik ID pengguna dan kata sandi seperti pada akun DJP Online yang sudah didaftarkan Pilih bahasa yang akan digunakan Masukkan captcha Klik “Login”. Setelah login, Wajib Pajak akan diminta untuk mengatur ulang kata sandi. Berikut langkahnya: Pilih “Tujuan Konfirmasi”, bisa melalui email atau ponsel Masukkan email jika memilih surat elektronik atau nomor ponsel jika memilih nomor ponsel Kemudian, masukkan kode captcha Beri centang pada pernyataan persetujuan, lalu klik “Kirim” Setelah itu, periksa SMS atau email berisi tautan untuk mengubah kata sandi

Scroll to Top