Author name: Admin01

Internasional, Opini, Politik

Filsafat Ekonomi: Membaca Konflik Amerika–Iran sebagai Benturan Paradigma Global

Penulis : Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi ruminews.id – Jika kita melihat konflik antara Amerika dan Iran hanya sebagai konflik militer atau diplomatik, kita sebenarnya baru melihat lapisan permukaannya. Pada lapisan yang lebih dalam, konflik ini juga dapat dibaca sebagai pertemuan dua paradigma filsafat ekonomi yang berbeda, bahkan dua cara memandang dunia. Dalam tradisi ekonomi Amerika, paradigma yang dominan lahir dari liberalisme ekonomi modern. Sistem ini bertumpu pada pasar global, kapitalisme finansial, dan integrasi ekonomi dunia. Kekuatan ekonomi tidak hanya dilihat dari produksi barang, tetapi juga dari kendali terhadap sistem keuangan global, termasuk dominasi dolar dalam perdagangan energi. Dalam kerangka ini, stabilitas ekonomi dunia identik dengan keterhubungan pasar global dan kepatuhan terhadap sistem finansial internasional yang sudah ada. Di sisi lain, Iran berkembang dalam pengalaman sejarah yang sangat berbeda. Sejak Revolusi 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini, negara ini mencoba membangun sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya bergantung pada struktur ekonomi Barat. Dalam konteks ini lahir konsep “Resistance Economy” yang banyak didorong oleh Ali Khamenei. Konsep ini menekankan kemandirian ekonomi, penguatan produksi domestik, diversifikasi sektor ekonomi, serta kemampuan bertahan terhadap sanksi dan tekanan eksternal. Menariknya, strategi ini tidak lahir semata-mata dari kalkulasi ekonomi teknokratis, tetapi juga dari filsafat ekonomi Islam. Dalam kerangka ekonomi Islam, aktivitas ekonomi tidak hanya dilihat sebagai sistem produksi dan mekanisme pasar, melainkan sebagai bagian dari amanah moral manusia sebagai khalifah di bumi. Prinsip-prinsip seperti tauhid, keadilan sosial, tanggung jawab kolektif, dan keseimbangan distribusi menjadi landasan normatif sistem ekonomi tersebut. Dari perspektif filsafat ekonomi, ini menciptakan dua pendekatan yang berbeda. Paradigma Barat modern cenderung melihat ekonomi sebagai sistem rasional yang diatur oleh pasar dan institusi finansial global. Sementara itu, paradigma ekonomi Islam yang mempengaruhi Iran melihat ekonomi sebagai bagian dari proyek peradaban dan kedaulatan moral. Karena itu kebijakan ekonomi Iran sering memiliki dimensi ideologis. Misalnya dorongan untuk memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat, membangun ketahanan pangan dan energi domestik, serta mencari alternatif perdagangan di luar dominasi dolar. Semua ini merupakan manifestasi dari gagasan bahwa sebuah negara harus mampu bertahan secara ekonomi sekalipun berada di bawah tekanan geopolitik. Dalam bahasa sederhana, ekonomi bukan sekadar alat pertumbuhan, tetapi juga alat kedaulatan. Jika dilihat dari perspektif filsafat ekonomi global, benturan ini sebenarnya sangat klasik. Sejak lama para pemikir seperti Karl Polanyi dan Immanuel Wallerstein menunjukkan bahwa sistem ekonomi dunia selalu melibatkan tarik-menarik antara kekuatan pusat yang mengendalikan sistem global dan negara-negara yang mencoba mempertahankan otonominya. Dalam konteks hari ini, Amerika dapat dipandang sebagai representasi dari sistem ekonomi global yang sudah mapan. Sementara Iran mencoba membangun model ekonomi yang lebih mandiri yang sebagian terinspirasi oleh filsafat ekonomi Islam dan pengalaman politik revolusi. Dengan cara pandang ini, konflik yang kita lihat bukan sekadar konflik militer atau politik luar negeri tapi juga merupakan perdebatan diam-diam tentang bagaimana ekonomi dunia seharusnya diatur: apakah oleh pasar global yang terintegrasi di bawah satu sistem finansial dominan, atau oleh negara-negara yang mencoba membangun kemandirian ekonomi berdasarkan identitas ideologis dan peradabannya sendiri. Dalam bahasa filsafat ekonomi, konflik geopolitik sering kali hanyalah permukaan. Di bawahnya selalu ada pertanyaan yang jauh lebih besar yakni “siapa yang berhak menentukan aturan permainan ekonomi dunia.” [Erwin]

Opini

Pulang

Penulis : Andi Muh. Syaiful Haq – Ketua PB HMI Bidang Pembinaan Anggota Di tengah hiruk pikuk kebisingan terminal bus, pelabuhan, stasiun kereta, hingga bandara menjelang Hari Raya, ada satu kata yang diam-diam menyatukan jutaan langkah manusia, mudik. Ia bukan sekadar pergerakan fisik, melainkan sebuah fenomena sosial dan kultural yang sarat makna. Untuk memahami kedalamannya, kita perlu menelusuri akar katanya dalam tradisi Melayu Nusantara. Secara etimologis, mudik berakar dari kata udik, yang sering dipahami sebagai wilayah pedalaman. Namun, pemaknaan ini tidak berhenti pada aspek tempat (place) semata, melainkan juga menyentuh dimensi ruang (space) yang lebih dalam, ruang batin, ruang ingatan, dan ruang asal-usul. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mudik bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan eksistensial manusia menuju ruang terdalam dirinya. Pemahaman ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat mudik sebagai fenomena nasional. Ia adalah “hajat besar” yang berlangsung tanpa panitia formal, namun tetap berjalan dengan keteraturan yang mengagumkan. Negara hanya hadir sebagai fasilitator, menyediakan layanan publik, sementara pelaksana sejatinya adalah jutaan individu yang digerakkan oleh dorongan yang sama, kerinduan untuk pulang. Lalu, apa sebenarnya yang memanggil mereka? Jawabannya terletak pada apa yang dapat kita sebut sebagai “panggilan ruang”. Bagi mereka yang lama meninggalkan kampung halaman, ada kerinduan yang tidak sekadar bersifat emosional, tetapi juga eksistensial. Udara desa, wajah keluarga, bahkan keheningan kampung, semuanya membentuk satu ruang batin yang terus memanggil untuk kembali. Dari sini, kita mulai memahami bahwa mudik adalah respons manusia terhadap panggilan terdalam dari asal-usulnya. Dalam perspektif spiritual Islam, konsep “pulang” memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Al-Qur’an menggunakan berbagai derivasi kata seperti raj‘a, raji‘un, hingga ungkapan Innalillahi wa innailaihi raji‘un, yang semuanya bermuara pada satu makna, kembali. Kembali kepada asal, kembali kepada Yang Maha Asal. Dengan demikian, mudik tidak hanya dimaknai sebagai tradisi kultural, tetapi juga sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan. Di titik inilah, makna mudik bertemu dengan esensi Lebaran. Secara konseptual, kata “Lebaran” dapat dipahami sebagai proses “melebarkan”, memperluas ruang, waktu, dan kesadaran manusia. Jika selama ini manusia terjebak dalam berbagai “kotak” kehidupan, baik itu profesionalitas, politik, sosial, maupun disiplin keilmuan, maka Lebaran mengajak kita untuk keluar dari keterbatasan tersebut. Ia adalah momentum untuk bergerak dari in the box menuju out of the box. Perluasan ini tidak berhenti pada dimensi individual, tetapi juga menjalar ke ranah sosial. Lebaran secara kultural mendorong manusia untuk membangun kembali relasi dengan sesamanya. Inilah yang kemudian termanifestasi dalam tradisi silaturahim. Dengan saling mengunjungi, memaafkan, dan menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat renggang, manusia tidak hanya memperluas ruang sosialnya, tetapi juga memperdalam makna keberadaannya sebagai makhluk sosial. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mudik dan Lebaran saling menguatkan sebagai dua dimensi yang tidak terpisahkan, kultural dan spiritual. Mudik menjadi jalan, sementara Lebaran menjadi makna yang menyertainya. Keduanya menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah proses transformasi diri, dari keterbatasan menuju keluasan, dari keterasingan menuju kedekatan. Pada akhirnya, mudik dalam makna spiritual adalah perjalanan untuk kembali ke titik asal. Orang yang benar-benar “pulang” adalah mereka yang mampu kembali pada titik di mana ia berangkat. Titik asal ini bukan sekadar tempat, melainkan simbol dari keaslian dan otentisitas diri manusia. Ketika seseorang mampu kembali ke titik tersebut, ia sejatinya sedang menemukan kembali dirinya yang paling murni. Dengan demikian, kerinduan untuk mudik sesungguhnya adalah manifestasi dari kerinduan yang lebih dalam, kerinduan untuk kembali kepada fitrah, kepada kesucian, dan pada akhirnya kepada Allah SWT. Inilah makna terdalam dari Idul Fitri, bukan hanya kembali ke kampung halaman, tetapi kembali menjadi diri yang autentik, yang suci, dan yang ilahiah. Wallahu a’lam bishawab Selamat merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir bathin. Selamat mudik, selamat lebaran.

Opini

Kebohongan Besar Tentang Perang Suriah

Penulis : Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi. ruminews.id – Ada sebuah tuduhan yang sering beredar, “Syiah membantai Sunni di Suriah.” Kalimat ini terdengar tegas, tetapi jika kita mendekatinya dengan akal sehat dan data, narasi itu ternyata terlalu sederhana untuk menjelaskan tragedi yang sangat kompleks. Perang di Syria yang dikenal sebagai Syrian Civil War sejak 2011 bukanlah perang dua mazhab. Itu adalah perang multi-aktor yang melibatkan puluhan kelompok bersenjata, milisi lokal, kelompok jihad global, negara-negara regional, hingga kekuatan dunia. Pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad memang didukung oleh Iran dan kelompok seperti Hezbollah (Syi’ah), tetapi realitas sosial di dalam Suriah sendiri jauh lebih beragam daripada propaganda sektarian yang sering disebarkan. Fakta pertama yang jarang disebut adalah mayoritas tentara pemerintah Suriah justru berasal dari kalangan Sunni. Banyak penelitian dan laporan lapangan menunjukkan bahwa komposisi militer Suriah sejak lama didominasi oleh warga Sunni. Jika narasi “Syiah membantai Sunni” benar secara sederhana, maka logikanya aneh: bagaimana mungkin sebuah negara yang tentaranya mayoritas Sunni justru melakukan “genosida Sunni”? Realitas ini saja sudah cukup untuk membuat tuduhan tersebut mulai retak. Fakta kedua lebih tajam lagi. Banyak korban terbesar dalam perang Suriah justru jatuh akibat kelompok ekstremis Sunni sendiri seperti ISIS dan Al-Nusra Front. Kelompok ini tidak hanya menyerang pemerintah, tetapi juga membantai warga sipil Sunni yang tidak mau tunduk pada ideologi mereka. Dalam banyak kasus, desa-desa Sunni dihancurkan oleh kelompok yang juga mengaku Sunni. Di sini kita melihat sesuatu yang sering diabaikan oleh propaganda bahwa perang Suriah lebih sering merupakan konflik antar faksi bersenjata daripada konflik antar mazhab. Fakta ketiga, perang ini juga merupakan arena persaingan geopolitik global. Rusia turun tangan mendukung pemerintah Suriah, sementara Amerika, Turki, dan sejumlah negara lain mendukung berbagai kelompok oposisi dengan kepentingan yang berbeda-beda. Dalam kondisi seperti ini, tragedi kemanusiaan terjadi dari berbagai arah. Setiap pihak memiliki catatan pelanggaran perang. Mengambil satu sisi saja lalu menyimpulkan “ini perang Syiah melawan Sunni” bukan analisis, itu propaganda. Ada satu ironi yang sering luput dari perhatian. Banyak kota besar Suriah seperti Damaskus dan Aleppo tetap dihuni oleh jutaan warga Sunni yang hidup di wilayah pemerintah sepanjang perang berlangsung. Jika benar pemerintah Suriah atau sekutu Syi’ah datang untuk “membantai Sunni”, tentu kota-kota itu akan kosong sejak lama. Kenyataannya tidak demikian. Bahkan dalam banyak wilayah, komunitas Sunni justru bergabung dalam pasukan pertahanan lokal untuk melawan kelompok jihad yang mencoba merebut kota mereka. Seharusnya ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam setiap perang besar, selalu ada perang narasi yang tidak kalah sengit dari perang senjata. Narasi sektarian sangat mudah dijual karena sederhana: cukup bagi dunia menjadi dua warna, hitam dan putih. Tetapi sejarah jarang sesederhana itu. Seperti pernah diingatkan oleh Ibn Khaldun berabad-abad lalu, manusia sering tertipu oleh kabar yang sesuai dengan emosi kelompoknya, bukan oleh kebenaran yang didukung fakta. Karena itu, mengatakan bahwa “Syiah membantai Sunni di Suriah” adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Tragedi Suriah adalah tragedi politik, geopolitik, dan perang kekuasaan yang melibatkan banyak pihak. Korbannya datang dari semua kelompok: Sunni, Syiah, Alawi, Kristen, Kurdi, dan lainnya. Mengubah tragedi yang kompleks menjadi slogan sektarian bukan hanya keliru secara fakta, tetapi juga memperpanjang kebencian yang justru memperdalam luka dunia Islam sendiri. Dan di titik ini kita perlu sedikit kejujuran intelektual bahwa fitnah yang diulang terus-menerus tidak otomatis menjadi kebenaran. Kadang fitnah itu hanya menjadi gema yang keras di ruang kosong nalar.

Ekonomi, Jakarta

Menyambut Forum D-8, IKA ISMEI Dorong Penguatan Ketahanan Energi di Tengah Ketidakpastian Global

ruminews.id – Jakarta — Ikatan Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) menilai momentum pertemuan negara-negara yang tergabung dalam Developing Eight Organization for Economic Cooperation (D-8) harus dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama strategis, khususnya di sektor energi, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Ketua Bidang Energi IKA ISMEI, Fahmi Ismail, menyampaikan bahwa dinamika global saat ini menunjukkan betapa rentannya stabilitas pasokan energi dunia terhadap konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi harga energi. “Negara-negara yang tergabung dalam D-8 memiliki potensi besar dalam sektor energi, baik energi fosil maupun energi baru dan terbarukan. Karena itu, forum ini harus menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dan membangun ketahanan energi bersama,” ujar Fahmi dalam keterangannya. Sebagaimana diketahui, D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan delapan negara berkembang yaitu Indonesia, Turkey, Iran, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, Egypt, dan Nigeria. Negara-negara tersebut memiliki sumber daya energi yang signifikan serta potensi besar untuk membangun sinergi dalam pengelolaan energi global. Menurut Fahmi, Indonesia sebagai salah satu anggota penting D-8 memiliki posisi strategis untuk mendorong agenda kerja sama energi yang lebih konkret, mulai dari investasi energi, penguatan infrastruktur energi, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan. IKA ISMEI juga menilai kerja sama energi antar negara berkembang menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar energi global yang selama ini didominasi oleh negara-negara besar. “Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan sumber daya, tetapi juga tentang kolaborasi, inovasi teknologi, dan keberanian membangun kemandirian energi di antara negara-negara berkembang,” tambah Fahmi. Melalui momentum Forum D-8 ini, IKA ISMEI berharap pemerintah Indonesia dapat mendorong inisiatif kerja sama yang lebih konkret di bidang energi demi menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam tata kelola energi global.

Opini

Half Truth: Seni Menyembunyikan Kebenaran dalam Debat Palestina di TV

Penulis : Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi ruminews.id – Beberapa waktu terakhir, publik yang menyimak debat di televisi nasional mungkin melihat pola yang menarik. Dalam sejumlah program talk show, sering muncul panel yang mempertemukan tokoh polemis seperti Permadi Arya dan Monique Rijkers yang dikenal membela Israel, berhadapan dengan akademisi, profesor hubungan internasional, pakar hukum internasional, atau aktivis kemanusiaan yang bersimpati pada Palestina. Sekilas terlihat seperti debat biasa. Ada argumen, ada data, ada saling sanggah. Tetapi jika diperhatikan lebih teliti, sering muncul satu pola yang sangat khas yaitu argumen yang terdengar faktual, tetapi sebenarnya hanya separuh cerita. Inilah yang dalam dunia logika disebut “half truth” atau setengah kebenaran. Half truth bukan kebohongan total. Justru karena mengandung unsur kebenaran, half truth sering terdengar sangat meyakinkan. Tekniknya sederhana: ambil satu fakta yang benar, lalu hilangkan konteksnya. Setelah itu tarik kesimpulan besar dari potongan fakta tersebut. Bagi penonton awam, argumen seperti ini terdengar kuat karena berbasis “data”. Padahal sebenarnya data itu hanya sepotong dari keseluruhan realitas. Misalnya ada pernyataan: “Palestina tidak pernah menjadi negara sebelum 1948.” Kalimat ini memang memiliki unsur fakta dalam pengertian negara modern. Tetapi yang sering tidak disebutkan adalah bahwa wilayah Palestina sudah memiliki masyarakat, kota, budaya, dan identitas politik selama berabad-abad di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman dan kemudian di masa Mandate for Palestine di bawah Inggris. Dengan menghilangkan konteks ini, kesimpulan yang terbentuk di benak publik bisa berubah total. Dengan argumen Palestina belum ada (belum menjadi negara) pada saat Israel berdiri, maka tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa Israel menjajah Palestina. Logika ini sama saja dengan mengatakan bahwa Belanda dan Jepang tidak pernah menjajah Indonesia karena Indonesia baru ada (menjadi negara berdaulat) tahun 1945. Teknik semacam ini sebenarnya sudah sangat tua. Dalam filsafat Yunani kuno, ada kelompok ahli retorika yang disebut para Sofis. Mereka terkenal mahir berdebat dan mampu membuat argumen tampak benar meskipun sebenarnya menyesatkan. Filsuf besar Yunani, Plato, adalah salah satu pengkritik keras mereka. Dalam dialog-dialognya, Plato menuduh para Sofis lebih tertarik menang debat daripada mencari kebenaran. Mereka bisa membuat argumen yang lemah terdengar kuat dengan permainan kata dan potongan fakta. Apa yang dulu diperdebatkan Plato di Athena ribuan tahun lalu, hari ini tampaknya masih hidup, hanya saja panggungnya berpindah dari agora Yunani ke studio televisi modern. Masalahnya, debat televisi memang bukan ruang akademik. Waktunya sempit, ritmenya cepat, dan yang dicari sering kali bukan kedalaman analisis, tetapi dramanya. Seorang profesor mungkin membutuhkan lima menit untuk menjelaskan konteks sejarah yang kompleks. Tetapi seorang polemis cukup menggunakan satu kalimat yang tegas dan provokatif. Bagi penonton, kalimat pendek yang diucapkan dengan percaya diri sering terasa lebih kuat daripada penjelasan ilmiah yang panjang dan penuh nuansa. Di sinilah half truth bekerja dengan sangat efektif. Ia seperti foto yang dipotong (cropped). Bagian yang terlihat memang nyata, tetapi bagian yang tidak terlihat justru menentukan maknanya. Ketika potongan fakta ini diulang berkali-kali dalam debat publik, perlahan-lahan akan bisa membentuk persepsi seolah-olah itulah keseluruhan kebenaran. Karena itu, yang perlu dilakukan publik bukan sekadar bertanya, “Apakah pernyataan ini benar?” tetapi juga bertanya satu hal yang jauh lebih penting: “Apa yang tidak diceritakan?” Kadang-kadang kunci kebenaran justru terletak pada bagian cerita yang sengaja dihilangkan. Dalam tradisi filsafat, kebenaran tidak pernah berdiri di atas potongan fakta yang terpisah-pisah. Kebenaran membutuhkan gambaran yang utuh. Plato dulu mengingatkan bahwa retorika tanpa komitmen pada kebenaran hanya akan menghasilkan ilusi pengetahuan seolah-olah kita memahami sesuatu, padahal sebenarnya kita hanya melihat separuhnya. Maka ketika menyaksikan debat di televisi, terutama tentang isu sensitif seperti Palestina dan Israel, publik sebaiknya tidak hanya terpukau oleh siapa yang berbicara paling lantang atau paling percaya diri. Yang jauh lebih penting adalah melihat apakah argumen yang disampaikan benar-benar menggambarkan keseluruhan realitas, atau hanya potongan cerita yang dipilih secara selektif. Dalam dunia propaganda modern, kebohongan yang paling efektif bukanlah dusta yang terang-terangan. Yang paling berbahaya justru kebenaran yang dipotong setengah. [Erwin]

Hukum & Kriminal, Pertanian, Takalar

Pola Korupsi Irigasi P3TGAI Mirip Luwu Utara, Kejaksaan Takalar Didesak Segera Bertindak

ruminews.id – Takalar — Dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Kabupaten Takalar mulai menjadi perhatian publik. Program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas jaringan irigasi serta mendukung produktivitas pertanian tersebut diduga diwarnai praktik setoran komitmen fee dari kelompok penerima program. Informasi yang berkembang di kalangan kelompok tani menyebutkan bahwa setiap kelompok irigasi yang mendapatkan program P3TGAI diduga diminta memberikan setoran berkisar antara Rp25 juta hingga Rp35 juta. Setoran tersebut diduga berkaitan dengan proses pengusulan maupun pelaksanaan kegiatan pembangunan irigasi. Dugaan tersebut dinilai semakin menguat karena pola yang disebut-sebut terjadi di Kabupaten Takalar memiliki kemiripan dengan modus yang sebelumnya telah terungkap di Kabupaten Luwu Utara. Dalam kasus yang terjadi di Luwu Utara, aparat penegak hukum menemukan adanya praktik setoran dari kelompok penerima program yang kemudian dikumpulkan oleh pihak tertentu sebelum program dilaksanakan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dalam dugaan praktik yang berkembang di Takalar juga terdapat indikasi adanya pihak yang berperan sebagai koordinator atau “ketua kelas” yang mengatur serta mengumpulkan setoran komitmen fee dari berbagai kelompok irigasi penerima program. Sosok tersebut disebut-sebut memiliki pengaruh dalam jaringan politik dan diduga merupakan seorang legislator di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Meski demikian, informasi tersebut masih berupa dugaan yang memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum. Melihat kemiripan pola tersebut, sejumlah kalangan kini mendesak Kejaksaan Negeri Takalar untuk segera mengambil langkah penyelidikan guna memastikan kebenaran informasi yang berkembang di masyarakat. “Kasus dengan pola serupa sudah berhasil diungkap di Luwu Utara. Oleh karena itu, publik juga berharap Kejaksaan Takalar dapat menelusuri dugaan praktik yang sama agar program pemerintah benar-benar berjalan sesuai tujuan,” ujar Koordinator AMTPK Takalar, Takhifal Mursalin yang juga Pelapor Dugaan Indikasi Korupsi P3ATGAI kabupaten Takalar. Program P3TGAI sendiri merupakan program nasional yang bertujuan meningkatkan fungsi jaringan irigasi melalui pemberdayaan kelompok petani. Karena itu, dugaan adanya praktik pungutan atau setoran dalam program tersebut dinilai sebagai persoalan serius yang perlu ditangani secara transparan. Publik kini menunggu langkah konkret dari Kejaksaan Negeri Takalar untuk menelusuri dugaan praktik setoran dalam pelaksanaan program P3TGAI di wilayah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat bertindak profesional, transparan, dan tegas dalam mengungkap setiap dugaan penyimpangan yang berkaitan dengan penggunaan anggaran negara.

Barru

Bosowa Peduli Bantu Warga Lansia di Barru, Sembako Dibagikan ke Puluhan Desa

ruminews.id – BARRU, – Program sosial Bosowa Peduli kembali menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat di puluhan desa dan kelurahan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari agenda buka puasa bersama yang sebelumnya digelar di Packing Plant Siawung oleh Semen Bosowa. Direktur Bosowa Peduli, Hafiet T. Mashud, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari program berbagi kepada masyarakat yang telah didata sebelumnya di sejumlah desa. “Program ini merupakan lanjutan dari kegiatan berbagi yang kami lakukan saat buka puasa bersama kemarin. Setelah itu, kami turun langsung ke desa-desa yang sebelumnya sudah terdata untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan,” ujar Hafiet. Salah satu lokasi yang dikunjungi tim Bosowa Peduli adalah Desa Likupaksi. Di desa tersebut, bantuan sembako disalurkan kepada 10 warga penerima manfaat yang mayoritas merupakan lanjut usia, dengan usia tertua mencapai 85 tahun. Kepala Desa Likupaksi, Awaluddin, menyambut baik kedatangan tim Bosowa Peduli di kantor desa. Ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan bantuan. “Kami sangat berterima kasih atas kepedulian Semen Bosowa kepada warga kami yang memang sangat membutuhkan bantuan,” kata Awaluddin. Ia menambahkan bahwa penerima bantuan merupakan warga yang diusulkan langsung oleh pemerintah desa berdasarkan kondisi ekonomi mereka. “Bantuan ini murni usulan dari desa kami untuk dibantu. Semoga paket sembako ini dapat meringankan kebutuhan warga, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri,” ujarnya. Bosowa Peduli menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat melalui berbagai program sosial di wilayah sekitar operasional perusahaan. Penyaluran bantuan sembako ini diharapkan dapat meringankan beban warga yang membutuhkan, khususnya para lanjut usia, sekaligus mempererat hubungan antara perusahaan dan masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pemerintah Kota Makassar

Ramadan Penuh Berkah, Bosowa Berbagi 1.000 Paket Pangan untuk Warga Barru

ruminews.id – MAKASSAR – PT Semen Bosowa Maros menyalurkan tujuh ton paket pangan kepada masyarakat di Kabupaten Barru, Sulsel, Jumat (13/3/2026). Bantuan tersebut merupakan bagian dari dari program Ramadan Berkah sekaligus memperingati HUT ke-53 Bosowa Corporindo. Pantauan di lokasi, acara digelar di kawasan Terminal Siawung, Barru. Dirangkaikan dengan buka puasa bersama. Hadir manajemen Bosowa, karyawan Semen Bosowa Maros, tokoh masyarakat, Pemkab Barru, anak yatim, dan warga sekitar. Bantuan yang disalurkan melalui program Bosowa Peduli tersebut terdiri dari berbagai kebutuhan pokok. Paket bantuan meliputi 5 ton beras, 1 ton gula, 1 ton tepung terigu, dan 1 ton minyak goreng. Seluruh bahan pokok tersebut dibagikan 1.000 paket sembako. Paket tersebut akan didistribusikan kepada masyarakat di 15 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Barru. CEO Bosowa Corporindo, Subhan Aksa, mengatakan aksi berbagi ini merupakan bagian dari komitmen Bosowa. Komitmen tersebut untuk terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat serta para pemangku kepentingan di wilayah operasional perusahaan. “Di usia Bosowa yang ke-53 ini, kami ingin terus berkembang bersama stakeholder dan masyarakat di daerah tempat bisnis-bisnis Bosowa berjalan,” ujar Subhan. Ia menjelaskan, Barru memiliki posisi penting bagi Bosowa Corporindo. Kawasan Terminal Siawung yang berada di wilayah tersebut merupakan salah satu fasilitas strategis dalam rantai distribusi Semen Bosowa. “Kita berada di daerah yang mungkin banyak teman-teman belum pernah masuk. Ini merupakan salah satu investasi terbesar dari Semen Bosowa Maros. Di sinilah terminal pengiriman semen dari pabrik Semen Bosowa Maros melalui Terminal Siawung di Barru,” jelasnya. Putra Bosowa Corp Aksa Mahmud itu menuturkan, fasilitas terminal tersebut dibangun sebagai bagian dari pengembangan infrastruktur distribusi semen Bosowa. Terminal pengepakan semen dan pelabuhan di Barru mulai dibangun 2013. Fasilitas ini mendukung distribusi semen dari pabrik Bosowa di Desa Baruga, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Lokasi tersebut berjarak sekitar 107 kilometer dari Kota Makassar. Fasilitas ini berfungsi sebagai tempat penampungan semen sebelum dikirim ke berbagai wilayah, baik untuk kebutuhan antarpulau maupun ekspor. Produksi semen dari fasilitas didistribusikan ke berbagai daerah, mulai dari seluruh wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, hingga Papua. “Ini menunjukkan betapa pentingnya Kabupaten Barru bagi Semen Bosowa dan Bosowa secara keseluruhan,” kata Subhan. Ia menambahkan, Bosowa saat ini terus mengembangkan berbagai sektor bisnis. Mulai dari industri semen, otomotif, pendidikan, hingga sejumlah industri lainnya. “Dalam usia ke-53 ini, Bosowa terus mencoba mengembangkan berbagai bisnis yang kami jalankan. Pada kesempatan Ramadan ini kami juga ingin berbagi bersama masyarakat Barru,” ujarnya. Subhan juga menyampaikan aksi sosial tersebut dijalankan melalui Bosowa Peduli. Melalui lembaga tersebut, Bosowa menargetkan bantuan dapat menjangkau masyarakat kurang mampu, khususnya mereka yang berada dalam kelompok ekonomi terbawah. “Harapan kami masyarakat yang saat ini masih berada di Desil 1 atau Desil 2 nantinya bisa naik level. Kami ingin menghadirkan solusi agar kemiskinan di Kabupaten Barru dapat terus berkurang,” ujar Subhan.

Gowa, Pemuda

Laporan Masyarakat Terkatung-Katung, SAPMA PP GOWA Geruduk Polres Gowa

ruminews.id – Gowa, 13 Maret 2026 — Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) Kabupaten Gowa akan menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres Gowa pada Jumat, 13 Maret 2026, mulai pukul 16.00 WITA hingga 19.00 WITA. Aksi ini mengangkat isu evaluasi kinerja Polres Gowa dalam penanganan sejumlah laporan masyarakat yang hingga saat ini dinilai berlarut-larut tanpa kepastian dan kejelasan penanganan hukum. SAPMA PP Gowa menilai bahwa lambannya penanganan sejumlah laporan polisi (LP) yang disampaikan masyarakat menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar di tengah publik. Beberapa warga mengaku telah melaporkan permasalahan hukum, namun hingga kini tidak mendapatkan perkembangan ataupun kepastian proses hukum yang jelas. Wakil Ketua SAPMA PP Gowa, Muh Ainun Najib, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus tekanan moral kepada aparat penegak hukum agar bekerja secara profesional dan transparan. “Kami tidak ingin hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ketika masyarakat melapor, maka negara wajib hadir memberikan kepastian hukum. Jika laporan masyarakat dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan, maka itu adalah bentuk ketidakadilan yang harus kami suarakan,” tegasnya. Sementara itu, Jenderal Lapangan aksi, Muh Taufik, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan langkah awal atau pra kondisi dari gerakan yang lebih besar. “Aksi ini adalah peringatan awal. Kami memberikan kesempatan kepada Polres Gowa untuk merespons dan menindaklanjuti tuntutan kami. Namun apabila dalam waktu 3 hari ke depan tidak ada langkah nyata atau klarifikasi yang jelas, maka kami pastikan SAPMA PP Gowa akan kembali turun dengan Aksi Jilid II dengan jumlah massa yang jauh lebih besar,” tegas Muh Taufik. Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Mimbar (Kormin) aksi, Haidir, yang menegaskan bahwa pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal jalannya penegakan hukum. “Kami ingin memastikan bahwa hukum tidak berjalan di tempat. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan kepada aparat penegak hukum karena lambannya penanganan perkara,” ujarnya. SAPMA PP Gowa menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kontrol sosial yang sah dan konstitusional dalam negara demokrasi. Gerakan ini juga menjadi pesan tegas bahwa pemuda akan terus berdiri di garda terdepan dalam mengawal keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat

Scroll to Top