Author name: Admin01

Ekonomi, Nasional, Politik

Pemerintah Berikan Modal Rp500 Juta untuk Mitra Program Makan Bergizi Gratis.

ruminews.id – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengumumkan bahwa pemerintah akan memberikan modal awal kepada UMKM yang menjadi mitra dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Modal ini bertujuan untuk memudahkan Mitra dalam pengadaan bahan baku selama tujuh hari pertama operasional. Modal yang disediakan berkisar antara Rp200 juta hingga Rp500 juta, sehingga Mitra dapat kemudahan dalam pelaksanaannya memulai partisipasi mereka dalam program MBG. Saat ini, pemerintah sedang membujuk bank-bank BUMN agar mau menyalurkan modal awal ke mitra Makan Bergizi Gratis. Maman selalu menteri UMKM juga telah berkoordinasi dengan bank-bank Himbara. Alhamdulillah, setelah surat penunjukan atau dokumen serupa dari Badan Gizi Nasional (BGN) diterbitkan, bank akan menyediakan bridging fund sebagai modal usaha awal bagi para mitra,” ujar Maman dalam acara “Pira Berdaya Gerindra Berjaya” di Jakarta Selatan, Sabtu (25/1). Dengan langkah ini, pemerintah berharap program MBG dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat ganda, baik dalam peningkatan gizi masyarakat maupun pemberdayaan ekonomi UMKM di seluruh Indonesia.

Uncategorized

Pimpinan DPRD Makassar Mengucapkan Selamat Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Ruminews.id, Makassar 27 Januari 2025- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar mengucapkan selamat memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1446 Hijriah, Senin, 27 Januari 2025. “Selamat memperingati lsra Mi’raj. Momen lsra Miraj menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu bersyukur. Isra mi’raj adalah bukti bahwa kasih sayang Allah tidak pernah terbatas bagi umat-Nya,” tulis DPRD Makassar lewat unggahannya di Instagram @dprd_makassar.

Uncategorized

Tingginya Kecelakaan Pelajar, DPRD Makassar Dorong Larangan Siswa Bawa Motor ke Sekolah

Makassar, 27 Januari 2025 – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar di Makassar mendapat perhatian serius dari DPRD Kota Makassar. Untuk itu, DPRD meminta Dinas Pendidikan (Disdik) mengambil langkah pencegahan yang lebih konkret.   Salah satu usulan yang disampaikan adalah melarang siswa membawa sepeda motor sendiri ke sekolah. DPRD menilai, upaya ini juga harus didukung oleh peran aktif orang tua.   Sekretaris Komisi D DPRD Makassar, Fahrizal Arrahman Husain, meminta Disdik segera menerapkan kebijakan tegas untuk menekan angka kecelakaan di kalangan pelajar.   Fahrizal menyarankan agar Disdik mewajibkan orang tua murid menandatangani surat perjanjian yang berisi larangan bagi siswa membawa kendaraan bermotor ke sekolah. “Kami menyarankan Dinas Pendidikan membuat dan memberlakukan surat perjanjian kepada orang tua murid saat proses penerimaan siswa baru, khususnya di tingkat SMP. Surat ini akan memastikan siswa tidak membawa kendaraan bermotor sejak awal masuk hingga lulus sekolah,” ujar Fahrizal, Senin (27/1/2025).   Menurutnya, langkah ini penting tidak hanya untuk keselamatan siswa, tetapi juga untuk mendidik anak-anak memahami aturan berlalu lintas sejak dini. Ia menambahkan, selain kebijakan ini, perlu ada pengawasan rutin dari pihak sekolah agar aturan benar-benar berjalan efektif.   “Keterlibatan semua pihak, baik sekolah maupun orang tua, sangat penting agar kebijakan ini tidak hanya menjadi formalitas, tapi benar-benar bisa menekan angka kecelakaan di kalangan pelajar,” tambahnya.   Komisi D juga meminta Disdik melakukan sosialisasi intensif kepada sekolah-sekolah mengenai bahaya berkendara tanpa kelengkapan dan kecakapan yang cukup, mengingat banyak siswa SMP yang belum memiliki izin mengemudi secara legal.

Hukum & Kriminal, Pemerintahan

Heboh 23 Hektar Sertifikat HGB di Laut Makassar, BADKO HMI SULSEL Bongkar Dugaan Mafia!

ruminews.id- Makassar, – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sulawesi Selatan (BADKO HMI SULSEL) mendesak APH segera bergerak mengusut adanya Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) di atas laut Makassar. Melalui Ketua Bidang Lingkungan Hidup BADKO HMI SULSEL, Ahmad Muzawir menyatakan jika sertifikat tersebut diduga telah terhit sejak 2015, hal itu mirip dengan isu pagar laut di Tangerang. Menurutnya mengutip dari keterangan Menteri ATR/BPD dan Menteri KKP maka laut bukanlah objek yang dapat diterbitkan sertifikat, sehingga ia menduga adajya mafia yang bermain terutama dalam perencanaan lahan laut yang akan direklamasi. “Kami kira hal itu harus menjadi perhatian serius, SHGB yang diterbitkan di Laut Makassar itu tidak main-main, ada sekitar 23 Hektar” ujarnya. Menurut Muzawir, Laut dapat dimanfaatkan dengan mengantongi izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) sehingga objek laut sesuai peraturan perundang-undangan bukan merupakan pbjek yang dapat diterbitkan Sertifikat, sehingga ia mengindikasikan adanya permufakatan jahat di tubuh pengusaha dan dinas terkait. Iapun berkomitmen akan mengunvestigasi secara serius dan melakukan langkah pengawalan untuk menindak oknum yang bermain dalam penerbitan HGB di atas laut tersebut. “BPN Makassar selaku yang mengeluarkan sertifikat dalam beberapa keterangan tidak mau mengungkapkan siapa pemiliknya, tapi kita sudah mengantongi itu, kami akan dorong pengungkapan mafia atas terbutnya HGB diatas laut tersebut” ujarnya. “Dalam waktu dekat jika kajian akademik terkait hal tersebut telah rampung maka BADKO HMI SULSEL akan melakukan langkah-langkah untuk menindak hal itu” jelasnya.

Opini

Dewasalah ! Karena Otak Membangun Realitas.

ruminews.id – Karena otak membangun realitas (secara internal di mental kita), cara pandang manusia tentang kehidupan tidak sepenuhnya objektif. Sebaliknya, cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana otak memproses informasi, pengalaman masa lalu, dan konteks saat ini. Dengan kata lain, setiap orang melihat dunia melalui “lensa” unik yang dibentuk oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. Lisa Feldman Barrett, ahli saraf dan psikolog, mengingatkan kita bahwa dunia tidak selalu seperti yang kita “lihat” atau “rasakan”. Apa yang tampak nyata seringkali hanyalah gambaran subjektif yang diciptakan oleh otak kita. Otak membangun realitas dengan cara yang aktif, subjektif, dan sangat bergantung pada prediksi. Realitas yang kita alami bukanlah cerminan langsung dari dunia luar, melainkan hasil konstruksi yang diciptakan oleh otak. Itulah sebabnya, setiap orang “melihat” realitas (kenyataan hidup) yang berbeda karena otak mereka membangun realitas (kenyataan mental) berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Otak kita seperti perpustakaan besar yang menyimpan semua pengalaman hidup kita. Setiap pengalaman yang pernah kita alami di masa lalu menjadi “buku panduan” yang digunakan otak untuk memahami dan memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Misalnya, jika seseorang pernah disakiti dalam sebuah hubungan, otaknya cenderung menyimpan pengalaman itu sebagai “pelajaran” dan menjadi lebih hati-hati ketika bertemu orang baru. Ia mungkin merasa sulit untuk langsung percaya karena otak mencoba melindungi dirinya dari kemungkinan disakiti lagi. Pengalaman masa lalu ini sangat berpengaruh pada cara kita melihat dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Kadang, itu membantu kita menghindari masalah, tetapi bisa juga membuat kita terlalu waspada atau cemas, bahkan ketika situasinya sebenarnya aman. Otak membangun realitas berdasarkan apa yang pernah kita alami, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Otak menggunakan pengalaman masa lalu untuk membangun model prediksi. Dalam proses ini, otak mengandalkan memori dan pembelajaran untuk memahami situasi baru dan membuat keputusan dengan lebih cepat. Pengalaman masa lalu adalah dasar dari model internal otak, yang memungkinkan otak mempercepat proses pengambilan keputusan tanpa harus menganalisis semua informasi sensorik setiap saat. Syahril Syam – Self Development.Otak kita tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang kita alami secara pribadi, tetapi juga oleh lingkungan dan budaya tempat kita tumbuh. Budaya seperti peta yang memberi kita panduan tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau salah. Norma-norma ini membentuk cara kita memandang dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, di budaya yang lebih individualistik, seperti di beberapa negara Barat, orang cenderung diajarkan untuk fokus pada pencapaian pribadi dan meraih kesuksesan untuk diri sendiri. Sebaliknya, di budaya yang kolektivistik, seperti banyak negara Asia, nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong lebih ditekankan, sehingga orang lebih sering memikirkan kepentingan kelompok. Selain itu, tempat tinggal dan kondisi sosial juga memengaruhi cara kita melihat realitas. Tinggal di kota besar dengan persaingan tinggi mungkin membuat seseorang lebih mandiri atau kompetitif, sementara tinggal di lingkungan desa yang akrab mungkin membuat seseorang lebih peduli dan terhubung dengan komunitasnya. Semua ini menunjukkan bagaimana lingkungan dan budaya membentuk cara otak kita memandang dunia dan memaknai hidup. Lingkungan tempat kita dibesarkan memengaruhi cara otak menciptakan makna dan emosi. Otak kita juga membangun realitas berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai yang kita pegang. Keyakinan dan nilai adalah bagian dari “konsep sosial” yang otak gunakan untuk membangun realitas. Emosi dan makna sosial adalah konstruksi otak berdasarkan konsep yang telah dipelajari dari budaya, agama, atau sistem nilai. Keyakinan agama atau spiritualitas, misalnya, sering menjadi panduan dalam menentukan apa yang benar dan salah, serta memberikan tujuan hidup yang lebih besar. Bagi banyak orang, agama membantu mereka melihat kehidupan sebagai sesuatu yang lebih bermakna, seperti sebuah perjalanan menuju keridhaan Tuhan atau ujian untuk kehidupan setelah mati. Selain itu, nilai-nilai pribadi, atau apa yang kita anggap penting dalam hidup, juga sangat memengaruhi cara kita memandang dunia. Misalnya, jika kita sangat menghargai hubungan dengan keluarga, maka kita akan melihat waktu bersama keluarga sebagai hal yang paling berharga. Di sisi lain, seseorang yang lebih fokus pada pencapaian material mungkin menilai hidup berdasarkan karier atau kekayaan. Keyakinan dan nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi bagi otak kita dalam menciptakan cara pandang kita tentang hidup; membantu otak memberikan konteks pada informasi sensorik dan menentukan bagaimana kita memahami situasi, termasuk tindakan moral atau spiritual. Otak juga membangun realitas dari semua informasi yang kita terima setiap hari, seperti apa yang kita lihat, dengar, atau baca. Informasi ini seperti “bahan mentah” yang otak gunakan untuk membuat gambaran tentang dunia. Jika seseorang sering membaca berita yang negatif, otaknya cenderung membangun pandangan bahwa dunia ini penuh dengan bahaya, meskipun kenyataannya ada banyak hal baik juga. Cara kita berhubungan dengan orang lain juga membentuk realitas kita. Pendapat, dukungan, atau penolakan dari orang-orang di sekitar kita bisa memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan dunia. Jika kita sering mendapat dukungan dari keluarga atau teman, kita cenderung lebih percaya diri dan optimis. Tapi jika sering dikritik, pandangan seseorang tentang dirinya sendiri dan dunia bisa menjadi negatif. Otak kita sebenarnya bekerja seperti “peramal” yang selalu mencoba menebak apa yang akan terjadi. Prediksi ini dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu, informasi baru, dan kebiasaan. Terkadang, prediksi ini akurat, tetapi bisa juga salah dan membuat kita salah memahami sesuatu. Jika seseorang pernah gagal berbicara di depan umum, otaknya cenderung memprediksi bahwa situasi serupa akan berakhir buruk lagi, meskipun kenyataannya bisa berbeda. Semua faktor di atas bekerja bersama-sama untuk membentuk cara kita melihat dan memahami dunia. Semuanya seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi, menciptakan realitas unik yang dirasakan oleh masing-masing individu. Oleh sebab itu, bisa saja secara usia, seseorang sudah dewasa secara biologis, tetapi secara mental atau emosional, mereka mungkin belum mencapai kedewasaan. Hal ini berkaitan dengan bagaimana otak mereka membangun dan memproses realitas, serta bagaimana mereka mengelola emosi, membuat keputusan, dan menghadapi tantangan hidup. Ketidakdewasaan mental bukan sekadar “kekurangan” individu, tetapi hasil dari cara otak membangun realitas. Pemahaman ini menunjukkan bahwa kedewasaan mental adalah proses yang dapat ditingkatkan dengan kesadaran, pembelajaran, dan pengalaman baru. Kedewasaan mental dapat berkembang kapan saja jika kita mau berusaha dan belajar. Memahami bahwa realitas adalah konstruksi otak membuat kita lebih sadar untuk membangun pola pikir yang konstruktif, bijaksana, dan penuh empati dalam menjalani kehidupan. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam

Opini

Buta Atau Tidur? Semoga Hanya Tertidur.

ruminews.id – Indonesia, tanah yang subur dan kaya akan sumber daya, namun dewasa kini seolah menjadi panggung drama besar bagi pertarungan antara kerakusan dan kehancuran. Miris rasanya naskah drama ini ditulis oleh tangan-tangan manusia yang lebih memilih untuk menutup mata. Mereka menuutup mata terhadap data ataupun hasil riset. Tutup mata terhadap pengkajian para pakar lingkungan, akademisi, dan cendekiawan. Tutup mata terhadap realita di lapangan, di mana hutan-hutan terus dirambah, tanah-tanah digali hingga ke inti, dan langit yang dulunya biru kini dihiasi abu serta asap yang tentunya kurang bersahabat dengan makhluk hidup. Indonesia, rumah kita, ironisnya menjadi rumah yang paling nyaman bagi para pelaku industri ekstraktif dan smelter. Aktivitas ini diiklankan dengan jargon “kemajuan”, “peningkatan ekonomi”, atau bahkan “kesejahteraan nasional”. Namun, siapa sebenarnya yang makmur? Sebagian besar rakyat tetap menatap kosong masa depan, sementara segelintir orang yang di atas menari di atas emas yang tak pernah mereka gali dengan tangan mereka sendiri. Apakah kita buta? Atau hanya tertidur? Barangkali lebih tepatnya, kita tengah terjebak dalam hibernasi panjang yang dinamakan antroposentrisme. Sebuah pandangan yang menganggap bahwa manusia adalah pusat dari segala sesuatu, seakan-akan bumi dan alam semesta ada hanya untuk melayani kebutuhan kita. Dalam tidur panjang ini, kita bermimpi indah tentang pembangunan tanpa batas, tanpa menyadari bahwa mimpi ini berubah menjadi mimpi buruk bagi generasi mendatang. Kita tidak kekurangan data, riset, atau peringatan. Para ilmuwan telah memberikan alarm, tetapi alarm ini hanya menjadi musik latar yang kita abaikan. Perubahan iklim bukanlah teori abstrak; ia nyata di depan mata. Banjir yang semakin sering, kekeringan yang kian panjang, dan udara yang semakin sulit dihirup bukanlah cerita dari negeri dongeng. Itu adalah pesan dari alam yang meminta kita untuk segera bangun. Namun, kita tetap menutup telinga, menganggap bahwa semua itu hanyalah “kebetulan atau mekanisme dari alam”. Buta atau tidur? Semoga hanya tertidur. Karena jika benar kita tertidur, maka setidaknya ada harapan untuk terbangun. Namun, jika kita buta, maka kita benar-benar kehilangan kemampuan untuk melihat jalan keluar. Tidur panjang antroposentrisme harus segera diakhiri sebelum ia menjadi kuburan bagi kita semua. Sebuah perubahan paradigma diperlukan dari antroposentrisme. menuju ekosentrisme. Paradigma yang memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa mutlaknya. Bangunlah, wahai pemimpin negeri. Bangunlah, wahai rakyat Indonesia. Kita tidak hidup di atas tanah warisan leluhur semata, melainkan di atas tanah titipan anak-cucu. Jangan sampai kita hanya mewariskan debu, air mata, dan cerita tentang sebuah bangsa yang memilih untuk tetap tertidur, meski alam sudah meraung mengumandangkan peringatan untuk bangun. Ketika kita membuka mata, mari kita mulai dengan bertanya: untuk siapa pembangunan ini sebenarnya? Untuk siapa hutan-hutan ini terus ditebang? Dan untuk siapa bumi ini, kalau bukan untuk semua makhluk yang hidup di atasnya? Mungkin, jawabannya ada pada kesadaran yang selama ini kita abaikan. Bukan pembangunan yang kita butuhkan, melainkan keberlanjutan. Karena bumi, rumah kita, hanya akan menjadi rumah yang layak dihuni jika kita berhenti menjadi tamu yang tak tahu diri.

Opini

Mitos Tiga Bagian Otak

ruminews.id – Paul D. MacLean pertama kali memperkenalkan konsep Triune Brain Theory pada awal 1960-an. Paul MacLean mengusulkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga lapisan evolusioner yang berkembang secara bertahap. Yang pertama adalah Otak Reptil. Ini adalah bagian otak paling tua, yang katanya mirip dengan otak reptil. Bagian ini terdiri dari struktur seperti batang otak dan ganglia basal. Menurut MacLean, tugasnya adalah menangani hal-hal mendasar untuk bertahan hidup, seperti bernapas, menjaga detak jantung, dan respons otomatis seperti melawan bahaya atau melarikan diri. Dia juga percaya bagian ini bertanggung jawab atas perilaku yang sifatnya ritual atau kebiasaan. Kemudian Sistem Limbik (Paleomammalian Brain), yang muncul setelah mamalia pertama berevolusi. MacLean menyebutnya sebagai “pusat emosi” yang mengatur perasaan, hubungan sosial, dan naluri seperti rasa sayang seorang ibu pada anaknya. Di sini juga termasuk respons emosional seperti rasa takut, marah, atau senang, yang membantu mamalia berinteraksi lebih baik dengan sesamanya. Evolusi terakhir adalah Neokorteks (Neomammalian Brain), lapisan yang paling modern dan berkembang pesat pada manusia. Ini adalah bagian otak yang membantu kita berpikir secara logis, berbicara, menciptakan sesuatu, dan memecahkan masalah. Neokorteks inilah yang membedakan manusia dari hewan lainnya karena mendukung kemampuan berpikir yang sangat kompleks. MacLean berusaha menjelaskan perbedaan fungsi otak pada berbagai spesies, terutama antara reptil, mamalia, dan manusia. Dia berpikir bahwa setiap “lapisan” otak ditambahkan selama evolusi untuk memenuhi kebutuhan spesies yang lebih kompleks. Teorinya didasarkan pada pengamatan bahwa reptil memiliki struktur otak sederhana, sedangkan mamalia memiliki tambahan sistem limbik, dan manusia memiliki neokorteks yang lebih besar. Teori ini awalnya sangat populer karena mudah dipahami dan terlihat masuk akal. Banyak buku populer, guru, dan bahkan ahli psikologi menggunakan konsep ini untuk menjelaskan perilaku manusia. Lisa Feldman Barrett, ahli saraf dan psikolog, dalam “Seven and a Half Lessons About the Brain” menjelaskan bahwa model tiga bagian otak ini sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan fakta ilmiah. Penelitian lebih lanjut di bidang neurobiologi menunjukkan bahwa teori tersebut terlalu sederhana dan tidak akurat. Otak manusia tidak berkembang secara berlapis-lapis seperti yang diklaim MacLean. Sebaliknya, semua bagian otak berfungsi bersama dalam jaringan yang saling terkait. Model tiga bagian otak disebut mitos karena ide ini tidak benar secara ilmiah. Model tersebut tidak mencerminkan bagaimana otak sebenarnya bekerja. Orang dulu berpikir bahwa otak kita seperti bangunan yang dibangun bertahap. Sekilas masuk akal, tapi ternyata ilmu saraf modern menunjukkan itu keliru. Otak kita tidak bekerja seperti tiga mesin terpisah. Faktanya, semua bagian otak kita, baik yang kuno maupun modern, berkembang bersamaan dan saling terhubung. Semua vertebrata (termasuk reptil, mamalia, dan manusia) memiliki struktur otak yang mirip, hanya ukurannya yang berbeda. Otak manusia tidak menambahkan “lapisan baru” di atas otak reptil, tetapi berkembang menjadi sistem yang lebih rumit dan terintegrasi. Mitos berikutnya adalah setiap bagian otak punya fungsi yang spesifik. Orang dulu berpikir “otak reptil” cuma untuk naluri bertahan hidup, dan “neokorteks” untuk berpikir logis. Tapi sebenarnya, bagian otak yang sama bisa mengatur logika dan emosi. Dalam mitos triune, kegugupan seseorang dianggap berasal dari “otak reptil” yang takut pada ancaman. Dalam pandangan modern, kegugupan tersebut adalah hasil dari otak kita yang memprediksi potensi ancaman sosial berdasarkan pengalaman sebelumnya, dan neokorteks kita berkontribusi dengan menciptakan kekhawatiran tambahan melalui skenario “bagaimana jika”. Jadi, saat kita merasa cemas sebelum ujian, otak kita tidak hanya “merasa”, tapi juga mencoba memikirkan apa yang salah. Ilmu saraf modern melihat otak sebagai organ yang terdistribusi secara fungsional, artinya tidak ada satu bagian otak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas satu fungsi tertentu seperti emosi atau rasionalitas. Banyak orang percaya ada satu “pusat emosi” di otak, yaitu sistem limbik. Tapi itu mitos juga karena emosi adalah hasil kerjasama banyak bagian otak, termasuk neokorteks. Ketika seseorang merasa marah, maka itu melibatkan kerjasama antara neokorteks (memahami situasi), amigdala (pemicu emosi), dan bagian otak lainnya. Selain itu, otak kita memprediksi situasi yang mungkin terjadi. Misalnya, otak memikirkan potensi “bahaya sosial” seperti kekhawatiran bahwa audiens tidak menyukai presentasi kita. Di saat yang sama, bagian logis otak (neokorteks) bekerja keras merencanakan apa yang harus kita katakan atau lakukan untuk mengurangi rasa gugup. Jadi, rasa gugup adalah hasil dari otak yang mencoba melindungi kita dan sekaligus membantu kita mengatasi situasi tersebut. Semua bagian otak saling bekerjasama seperti tim, bukan hanya “otak reptil” yang bereaksi sendirian. Otak kita terus membuat prediksi tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Saat kita melihat seseorang mengangkat tangan, otak kita langsung mencoba menebak apakah dia akan melambai, berjabat tangan, atau melakukan sesuatu yang lain. Dengan prediksi ini, otak membantu kita bereaksi lebih cepat dan lebih efisien. Cara kerja otak yang sebenarnya lebih mirip dengan orkestra besar daripada tumpukan lapisan. Setiap bagian otak bekerja bersama, saling mendukung, untuk menciptakan harmoni dalam pikiran dan tindakan kita. Tidak ada satu bagian otak yang bekerja sendirian. Seluruh otak bekerja sebagai jaringan yang terintegrasi, dari bagian yang lebih tua (seperti batang otak) hingga bagian yang lebih baru (seperti neokorteks). Seperti anggota orkestra, meskipun masing-masing alat musik punya peran, mereka harus bekerjasama agar menghasilkan musik yang indah. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Perdebatan Imaginer Antara Karl Marx dan Adam Smith.

ruminews.id – Di suatu ruang imajiner di alam filsafat, Karl Marx dan Adam Smith sedang duduk berdebat. Keduanya tampak serius, tetapi ada secangkir teh dan sepiring kue di antara mereka, memberikan suasana santai. Marx membuka diskusi dengan senyumnya yang khas. “Smith, teorimu tentang invisible hand itu menarik, tapi kau benar-benar percaya bahwa tangan tak terlihat itu bisa menyelesaikan semua masalah ekonomi?” Smith mengangkat cangkir tehnya dengan tenang. “Tentu saja, Marx. Biarkan pasar bekerja, dan semuanya akan mencapai keseimbangan.” Marx tertawa kecil. “Jadi, menurutmu, jika seorang tukang roti menaikkan harga roti karena ‘invisible hand’, para pekerja pabrik yang gajinya rendah akan tetap makan roti dengan damai?” Smith menjawab, “Jika pasar bebas, kompetisi akan memaksa tukang roti menurunkan harga. Itu logika dasarnya!” Marx menggeleng sambil tersenyum sinis. “Dan selama itu, para pekerja mungkin sudah makan angin. Bukankah lebih baik ada regulasi yang memastikan semua orang mendapat roti dengan harga terjangkau?” Smith meletakkan cangkir tehnya dan berkata, “Tapi regulasi itu seperti menaruh tangan manusia ke dalam mesin pasar yang sempurna. Itu hanya akan memperlambat segalanya.” Marx tertawa lagi. “Kalau begitu, tangan tak terlihatmu itu hanya untuk orang kaya yang sudah punya roti. Sementara pekerja harus berjuang sendiri. Kau tahu, Smith, jika aku jadi roti, aku pasti sudah mogok produksi!” Smith tersenyum kecil. “Dan jika semua roti mogok produksi, Marx, maka bahkan kapitalis pun tidak akan punya roti. Jadi mungkin, pada akhirnya, kita saling membutuhkan—aku dengan tanganku yang tak terlihat, dan kau dengan revolusimu yang selalu terlihat.” Keduanya tertawa, dan seorang pelayan tiba-tiba masuk ke ruangan untuk menyajikan lebih banyak teh. Pelayan itu tersenyum dan berkata, “Tuan-tuan, aku hanya ingin bertanya. Apakah kalian akan berdebat tentang roti sepanjang hari, atau bisakah aku mendapat upah lebih karena melayani kalian?” Marx dan Smith saling pandang, lalu tertawa keras. Smith berkata, “Aku yakin tanganku yang tak terlihat akan menyelesaikan itu.” Marx menimpali, “Dan aku yakin aku harus menulis manifesto baru untuk itu!” Ruangan pun dipenuhi tawa, bahkan si pelayan ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Daerah, Ekonomi

Musyawarah Kota Kadin Makassar Akan Digelar di Hotel Maleo, Dua Calon Ketua Umum Siap Bertarung

rumunews.id , Makassar – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Makassar akan melangsungkan Musyawarah Kota (MUKOTA) di Hotel Maleo. Acara ini menjadi momentum penting dalam menentukan pemimpin baru yang akan mengarahkan organisasi ke depan di tengah dinamika ekonomi lokal dan global. Musyawarah tersebut telah memastikan dua calon Ketua Umum yang akan berkompetisi. Kedua kandidat membawa visi dan strategi yang diyakini mampu mendorong kolaborasi antara Kadin, pemerintah, dan pelaku usaha di Makassar. Menurut Ir. H. Munandar Muin, Ketua Steering Committee, pendaftaran calon telah ditutup sesuai dengan aturan yang berlaku. “Kami menutup jadwal pencalonan pada Kamis pukul 00.01 WITA. Setelah diverifikasi, terdapat dua kandidat yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan sebagai calon Ketua Umum. Selanjutnya, kedua kandidat akan mengikuti proses sesuai tata tertib MUKOTA. Agenda ini akan dihadiri oleh anggota Kadin Makassar yang memiliki KTA-B aktif tahun 2025,” jelasnya. Musyawarah ini tidak hanya menjadi ajang pemilihan, tetapi juga wadah diskusi bagi anggota untuk menyampaikan aspirasi terkait ekonomi lokal. Kepemimpinan baru diharapkan mampu menghadapi tantangan dunia usaha, menjadikan Kadin lebih kompetitif, dan bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Tahapan berikutnya, kedua calon Ketua Umum akan menyampaikan visi dan misi mereka. Hal ini bertujuan memberikan gambaran yang jelas kepada para anggota tentang program kerja yang akan diusung. Antusiasme tinggi dari anggota Kadin Makassar diprediksi membuat MUKOTA tahun ini berlangsung dinamis. Dengan hadirnya calon yang kompeten, para pelaku usaha berharap pemimpin terpilih mampu membawa Kadin Makassar menuju perubahan positif dan meningkatkan daya saing bisnis lokal.

Uncategorized

DPRD Makassar: Pemkot Kebanyakan Honorer, Kesejahteraannya Rendah

Makassar, 24 Januari 2025 – Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Makassar, Ruslan Mahmud, menyoroti jumlah tenaga non-ASN (honorer) yang masih besar di Kota Makassar. Ia menyebutkan, dari sekitar 12.000 tenaga non-ASN, sekitar 2.000 sudah lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan akan digaji pemerintah pusat. Ruslan meminta Pemkot Makassar menggunakan sisa anggaran dari tenaga yang lulus PPPK untuk menaikkan honor tenaga non-ASN yang belum lolos. Ia mengusulkan, honor yang saat ini sekitar Rp1,3 juta sebaiknya dinaikkan menjadi minimal Rp2 juta. Selain itu, Ruslan mengingatkan Pemkot untuk tidak merekrut tenaga honorer baru dan fokus pada peningkatan kesejahteraan tenaga yang ada. Ia juga mendorong agar lebih banyak tenaga non-ASN terserap dalam seleksi PPPK tahap kedua pada April mendatang. Menurut Ruslan, perbaikan kesejahteraan penting karena tenaga non-ASN adalah tulang punggung pelayanan publik di Makassar.

Scroll to Top