Author name: Admin01

Daerah, Makassar, Pemerintahan

Jalan Jampea di Makassar Resmi Berganti Nama Jadi Jalan Hoo Eng Djie

Ruminews.id, Makassar – Pemerintah Kota Makassar resmi mengganti nama Jalan Jampea di Kecamatan Wajo menjadi Jalan Hoo Eng Djie. Perubahan ini dilakukan untuk menghormati Hoo Eng Djie, seorang tokoh masyarakat Tionghoa yang berjasa dalam perkembangan ekonomi dan sosial di Makassar. Hoo Eng Djie dikenal sebagai pengusaha dan dermawan yang banyak membantu warga Makassar, terutama dalam bidang perdagangan dan pendidikan. Ia juga berperan dalam mempererat hubungan antara masyarakat Tionghoa dan pribumi di kota ini. Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto, mengatakan bahwa perubahan ini adalah bentuk penghargaan kepada tokoh yang berjasa bagi Makassar. “Hoo Eng Djie telah memberikan kontribusi besar bagi kota ini. Dengan perubahan nama jalan ini, kita ingin mengenang jasanya dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya toleransi dan kerja sama,” ujar Danny Pomanto. Sebagian warga mendukung perubahan ini karena melihat Hoo Eng Djie sebagai sosok yang layak dihormati. Andi Faisal, seorang warga setempat, mengatakan, “Nama ini bagus untuk mengenang jasa beliau. Semoga semakin banyak tokoh lokal yang dihargai seperti ini.” Namun, ada juga warga yang berharap ada sosialisasi lebih lanjut, terutama bagi mereka yang perlu menyesuaikan dokumen administratif dan alamat usaha mereka. Pemerintah Kota Makassar memastikan bahwa perubahan nama ini tidak akan menyulitkan masyarakat. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil telah berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk memperbarui data administrasi. Dinas Perhubungan dan Pekerjaan Umum juga telah memasang papan nama jalan baru dan bekerja sama dengan layanan peta digital seperti Google Maps agar perubahan ini segera terlihat dalam sistem navigasi. Pergantian nama Jalan Jampea menjadi Jalan Hoo Eng Djie adalah bentuk penghargaan terhadap tokoh yang berjasa bagi Makassar. Dengan langkah ini, pemerintah berharap masyarakat bisa lebih mengenal sejarah dan semakin menghargai keberagaman di kota ini. Pemerintah juga berencana untuk terus memberikan penghormatan kepada tokoh-tokoh lokal lainnya melalui kebijakan serupa di masa depan.

Uncategorized

DPRD Makassar Gelar Rapat Paripurna Penetapan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih Periode 2025–2030

ruminews.id, MAKASSAR — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menggelar rapat paripurna untuk menetapkan pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar terpilih periode 2025–2030, Munafri Arifuddin (Appi) dan Aliyah Mustika Ilham, pada Sabtu (8/2/2025). Rapat ini dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Makassar, Andi Suharmika, dan dihadiri oleh Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, serta sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Makassar.   Dalam kesempatan itu, Andi Suharmika menyampaikan bahwa agenda utama rapat adalah pengumuman pemberhentian Wali Kota Makassar periode 2021–2025, sekaligus pengusulan penetapan pasangan calon terpilih untuk periode 2025–2030.   “Sebagai pimpinan rapat, kami membacakan usulan pemberhentian Wali Kota Makassar periode 2021–2025, yang akan segera kami teruskan sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Suharmika.   Ia juga mengungkapkan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi Moh. Ramdhan Pomanto selama dua periode kepemimpinannya, yang dinilai membawa banyak perubahan positif bagi Kota Makassar.   Sementara itu, Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penetapan pasangan Munafri Arifuddin (Appi) dan Aliyah Mustika Ilham hari ini menandai dimulainya proses transformasi kepemimpinan di Kota Makassar.   Pomanto berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan berbagai program pembangunan yang telah dirintis sebelumnya, bahkan membawanya ke tingkat yang lebih baik.   “Saya, bersama Ibu Fatmawati (mantan Wakil Wali Kota Makassar), secara pribadi mengucapkan selamat kepada Appi dan Aliyah. Kami mendoakan agar kepemimpinan mereka mampu membawa Kota Makassar menjadi lebih maju dibandingkan dengan apa yang telah kami capai,” tutup Danny Pomanto.   Rapat paripurna ini menjadi tonggak awal menjelang pelantikan resmi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar terpilih yang dijadwalkan pada 20 Februari 2025 mendatang.

Pertanian

Andi Saiful: Tegaskan Komitmen PTI Sulsel untuk Wujudkan Pangan Berdaulat, Indonesia Maju.

ruminews.id- Makassar, 8 Februari 2025 — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pemuda Tani Indonesia Sulawesi Selatan menggelar rapat perdana pada Sabtu (8/2/2025) di Boulevard, Makassar. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPD Andi Saipul, yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Komisi B yang membidangi sektor Pertanian dan Peternakan. Rapat ini digelar dalam rangka persiapan menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Tani Indonesia yang akan diselenggarakan pada 21 hingga 23 Februari 2025 di Cendrawasih Hall Jakarta Convention Center (JCC). Dalam rapat tersebut, Andi Saiful Misbahuddin menyampaikan pentingnya sinergi pemuda tani Sulawesi Selatan dalam membawa isu-isu strategis sektor pertanian dan peternakan ke forum nasional. “Rakernas ini adalah momentum bagi Sulawesi Selatan untuk menyampaikan aspirasi dan solusi inovatif terkait tantangan yang dihadapi petani lokal,” ujarnya. Ketua DPD Pemuda Tani Indonesia Sulawesi Selatan, Andi Saiful juga menambah bahwa Hasil dari Rakernas Ke Depannya berorientasi pada Pangan yang berdaulat, Indonesia Maju untuk Menopang Suksesnya Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi program Prioritas Bapak Presiden Prabowo Subianto. Selain membahas agenda Rakernas, rapat juga menyoroti langkah-langkah konkret yang dapat diambil dalam mendukung modernisasi pertanian dan Peternakan serta pemberdayaan pemuda tani sebagai agen perubahan di sektor tersebut. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, DPD Pemuda Tani Indonesia Sulawesi Selatan berharap dapat berkontribusi secara maksimal dalam Rakernas mendatang serta memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah pertanian unggulan di Indonesia.

Opini

Dari UMKM ke Ekonomi Kreatif: Membuka Jalan Baru bagi Pertumbuhan Daerah

ruminews.id- Indonesia, dengan keberagaman budaya dan kreativitas masyarakatnya, memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif. Sayangnya, sektor ini sering kali masih dianggap sebagai bagian dari UMKM secara umum. Padahal, ekonomi kreatif memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Di sisi lain, pemerintah daerah yang berperan penting dalam pengembangannya kerap menghadapi kendala seperti keterbatasan fiskal dan minimnya perhatian pengambil kebijakan. Lebih ironis lagi, ekonomi kreatif sering dijadikan bahan kampanye politik dalam pemilihan kepala daerah, terutama untuk menarik suara generasi milenial dan Gen Z. Namun, setelah terpilih, komitmen yang diusung sering hanya sebatas formalitas tanpa kualitas dan kuantitas yang memadai. Gambaran Permasalahan di Daerah Saat ini, banyak pemerintah daerah lebih fokus pada angka pertumbuhan UMKM secara umum tanpa membedakan pelaku ekonomi kreatif di dalamnya. Padahal, sektor kreatif mencakup subsektor seperti seni pertunjukan, film, musik, desain, hingga animasi—yang membutuhkan pendekatan spesifik untuk berkembang. Selain itu, keterbatasan fiskal sering kali menjadi alasan utama minimnya program atau fasilitas untuk sektor ini. Sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) habis untuk belanja rutin, sementara dana transfer dari pusat tidak secara khusus mendukung ekonomi kreatif.

Opini

Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Realita (Dialog Imajiner)

ruminews.id- Di sebuah warung kopi pinggir jalan, lampu neon berkedip-kedip, seolah bingung apakah harus tetap menyala atau menyerah. Malam terasa lebih hangat dari biasanya, entah karena udara yang makin panas atau perbincangan yang mulai memanas. Di salah satu sudut warung, duduklah Pak Tua, seorang pensiunan yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Di depannya, tiga anak muda dengan semangat membara: Adhi, mahasiswa filsafat yang suka mengutip buku tebal tapi dompetnya tipis; Yanti, aktivis lingkungan yang tiap hari demo tapi tetap bingung kenapa perubahan iklim makin parah; dan Farid, pengusaha startup yang percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan aplikasi—kecuali sinyal yang lemot. Sambil menikmati kopi hitam yang kini harganya lebih mahal dari emas, mereka memulai obrolan tentang Indonesia Emas 2045. Adhi menyeruput kopinya, lalu menatap jauh ke langit seolah sedang berdialog dengan para filsuf besar. “Wah, kita sudah di tahun 2045! Indonesia sudah 100 tahun merdeka! Pasti sekarang udah jadi negara maju, kan?” katanya penuh optimisme. Pak Tua menyandarkan punggungnya, tersenyum kecil sambil mengaduk kopinya yang mulai dingin. “Oh tentu! Kita sangat maju. Macetnya sudah berteknologi tinggi, polusinya kelas dunia, dan birokrasi masih punya jurus ninja baru!” Yanti, yang sejak tadi scrolling berita di ponselnya, menghela napas panjang. “Tapi katanya Indonesia bakal jadi negara ekonomi terkuat?” Pak Tua mengangguk dramatis. “Betul! Kita kuat… kuat menanggung utang! Sekarang bayar pajak aja sudah setara harga satu porsi nasi goreng di restoran mewah. Bedanya, kalau nasi goreng masih bisa bikin kenyang, pajak? Hmm…” Farid, yang selalu optimis dengan teknologi, mencoba melihat sisi positifnya. “Tapi kan kita udah punya IKN, ibu kota baru! Smart city! Green city!” Pak Tua menepuk pundaknya pelan. “Iya, betul! IKN itu luar biasa. Katanya mau jadi kota hijau, dan memang terbukti… pas banjir, airnya hijau juga!” Adhi kembali menyeruput kopinya, lalu mengangguk penuh keyakinan. “Sekarang semua serba AI. Katanya manusia bakal hidup lebih santai karena semua pekerjaan diambil alih robot? Pak Tua terkekeh. “Oh iya, manusia sekarang lebih santai… santai nunggu panggilan kerja yang nggak pernah datang! Dulu orang takut AI bakal menguasai dunia, sekarang mereka takut AI-nya cuma dipakai buat ngelamar kerja tapi tetap ditolak.” Yanti, yang masih berusaha mencari sisi positif dalam segalanya, bertanya dengan penuh harap. “Tapi minimal kita udah lebih ramah lingkungan, kan?” Pak Tua mengangguk cepat. “Oh tentu! Sekarang sampah kita bukan cuma ada di darat, laut, dan sungai, tapi juga di orbit luar angkasa! Kita benar-benar global!” Farid, yang selalu optimis pada inovasi, tersenyum percaya diri. “Tapi politik kita udah canggih! Demokrasi digital!” Pak Tua kembali mengaduk kopinya dengan santai. “Iya, sekarang pemilu tinggal sekali klik. Masalahnya, janji kampanye juga tinggal sekali klik… dihapus dari ingatan!” Adhi mengernyit. “Tapi pasti ada kemajuan, kan?” Pak Tua mengangkat bahu. “Jelas ada! Jalan tol makin panjang, tarifnya makin mahal, dan bahan bakar makin langka. Semua berjalan sesuai rencana!” Yanti akhirnya bertanya dengan nada serius. “Jadi menurut Pak Tua, Indonesia Emas ini mimpi atau kenyataan?” Pak Tua menatap mereka satu per satu. Lalu, dengan suara pelan tapi menusuk, ia berkata: “Indonesia Emas itu kayak cinta dalam sinetron: banyak janji, penuh drama, dan ending-nya tergantung rating. Kalau rakyatnya optimis dan mau kerja keras, bisa jadi nyata. Tapi kalau masih sibuk debat di media sosial, lupa inovasi, dan korupsi masih jadi hobi… ya kita emas-emas-an aja. Alias… kaleng-kalengan.” Farid mengangguk pelan. “Jadi solusinya apa, Pak?” Pak Tua menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara tenang: “Kurangi janji, perbanyak aksi. Jangan sibuk ribut, tapi sibuk berkarya. Dan yang paling penting… bayar pajak dengan ikhlas!” Hening sejenak. Lalu mereka semua tertawa—entah karena setuju, entah karena tak tahu harus bagaimana lagi. Dan di tengah malam yang mulai dingin, di bawah lampu warung kopi yang masih berkedip-kedip, mereka kembali menyeruput kopi masing-masing sambil menatap jauh ke arah masa depan yang masih samar-samar. Tamat. #DialogImaginer

Opini

Belanja Pemda Tak Boleh Tertahan: Jika Lambat, Ekonomi Bisa Macet

ruminews.id- Pemangkasan anggaran oleh pemerintah pusat pada awal 2025 menambah tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dengan keterbatasan daya fiskal, daerah harus tetap memastikan peredaran uang di masyarakat berjalan lancar agar konsumsi rumah tangga tidak melemah. Jika belanja pemerintah daerah tertahan, bukan hanya sektor barang dan jasa yang terdampak, tetapi juga lapangan kerja dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, kewajiban mengalokasikan anggaran untuk program makan bergizi gratis semakin mempersempit ruang gerak fiskal daerah. Situasi ini menuntut kepala daerah untuk lebih adaptif dalam mengelola kas dan mempercepat distribusi belanja di triwulan pertama tahun ini. Pemerintah pusat telah mengumumkan kebijakan pemangkasan anggaran belanja negara sebagai bagian dari langkah pengendalian defisit fiskal pada awal tahun 2025. Kebijakan ini berimbas langsung pada pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Sulsel. Dengan berkurangnya transfer dana pusat, pemerintah daerah dituntut untuk menemukan strategi agar perputaran ekonomi di wilayahnya tetap berjalan dan tidak memicu stagnasi di sektor barang dan jasa. Meskipun mengalami pemotongan anggaran, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas ekonomi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hal ini penting untuk memastikan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, menghindari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta mempertahankan daya beli masyarakat. Tulisan ini dihadirkan sebagai tanggapan atas keluhan masyarakat, khususnya para penyedia barang dan jasa yang selama ini sangat bergantung pada serapan belanja pemerintah. Mereka khawatir, kebijakan pemangkasan anggaran ini akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk membayar gaji karyawan, yang berpotensi memicu gelombang PHK massal. Kami sangat khawatir jika belanja pemerintah tertahan, kami terancam tidak bisa mempertahankan tenaga kerja. Dampaknya akan sangat besar pada daya beli masyarakat,” ungkap salah satu penyedia jasa akomodasi di Makassar. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arus kas pemerintah daerah di awal tahun 2025. Setelah kewajiban pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS) direalisasikan, arus kas harus tetap terdistribusi ke masyarakat melalui berbagai program belanja daerah. Belanja pemerintah tidak boleh ditahan menunggu momentum di bulan tertentu, sebab triwulan awal tahun ini menjadi fase krusial bagi peredaran uang di masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan baru dalam pengelolaan anggaran, yakni kewajiban untuk mengalokasikan anggaran program makan bergizi gratis. Program ini sebelumnya tidak termuat dalam APBN 2025 dan Peraturan Daerah (Perda) APBD 2025, sehingga seluruh pemerintah daerah harus melakukan perubahan Peraturan Kepala Daerah (Perkada) Penjabaran APBD agar program tersebut dapat diimplementasikan. Pemangkasan anggaran dan tambahan beban pengeluaran ini mempersempit ruang fiskal daerah. Di tengah pemotongan anggaran dari pusat, pemerintah daerah masih harus mengalokasikan anggaran untuk makan bergizi gratis. Ini menjadi tantangan besar, terutama bagi daerah dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang terbatas. Karena itu, strategi pengelolaan kas daerah harus lebih adaptif agar belanja tetap efektif dan ekonomi tetap bergerak Sebagai contoh Pemerintah Sulawesi Selatan segera mengkaji langkah-langkah strategis untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa upaya yang dipertimbangkan di antaranya adalah optimalisasi sektor pariwisata, percepatan realisasi proyek infrastruktur berbasis kemitraan dengan swasta, serta pemberian insentif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tetap berproduksi dan menjaga daya serap tenaga kerja. Pemangkasan anggaran tidak akan menghambat pembangunan daerah. Pemda harus memastikan agar distribusi belanja tetap tepat sasaran dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan salah satu opsi mempertahankan daya beli masyarakat serta mendukung UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Karena itu, arus kas pemerintah harus segera beredar ke masyarakat sejak awal tahun. Di sisi lain, pemda juga harus melakukan penyesuaian anggaran agar program makan bergizi gratis bisa terlaksana sesuai arahan pemerintah pusat. Sejumlah Pj kepala daerah di kabupaten/kota didorong mulai mencari solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi di wilayahnya. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penguatan program padat karya untuk memastikan perputaran uang di masyarakat tetap berjalan. Mengoptimalkan potensi unggulan semisal di provinsi Sulawesi Selatan terhadap sektor pertanian dan perikanan melalui bantuan teknologi dan akses pasar yang lebih luas. Kebijakan pemangkasan anggaran ini menjadi tantangan bagi daerah, namun bukan berarti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus terhenti. Dengan strategi yang tepat, pemerintah daerah masih bisa menjaga keseimbangan fiskal tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Arus kas yang sehat dan tepat sasaran sejak awal tahun menjadi kunci agar ekonomi tetap bergerak dan tidak terjebak dalam perlambatan, sementara alokasi anggaran untuk program baru seperti makan bergizi gratis harus dikelola dengan cermat agar tidak mengorbankan sektor lain yang juga penting bagi perekonomian daerah.

Makassar, Politik

Euforia Kemenangan! Ribuan Simpatisan Sambut Munafri-Aliyah

Ruminews.id, Makassar – Ribuan simpatisan dan pendukung pasangan Munafri Arifuddin–Aliyah Mustika Ilham (MULIA) tumpah ruah di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Selasa (6/2/2025). Mereka datang sejak pagi, membawa spanduk serta meneriakkan yel-yel kemenangan untuk menyambut Munafri Arifuddin (Appi) dan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang baru saja kembali dari Jakarta. Kepulangan mereka disambut penuh antusias setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan pasangan INIMI terkait hasil Pilkada Makassar 2024. Dengan keputusan ini, Munafri-Aliyah resmi menjadi pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar terpilih. Dalam pernyataannya, Munafri mengungkapkan rasa syukur atas dukungan masyarakat Makassar yang telah mengantarkan mereka ke kemenangan. “Alhamdulillah, keputusan MK menegaskan bahwa kemenangan ini adalah amanah dari rakyat. Ini bukan hanya kemenangan kami, tetapi kemenangan seluruh warga Makassar yang menginginkan perubahan dan kemajuan,” ujar Appi. Sementara itu, IAS menegaskan bahwa kini saatnya meninggalkan rivalitas politik dan bersatu membangun Makassar. “Proses politik telah selesai, kini saatnya kita bersama-sama bekerja demi kesejahteraan masyarakat. Saya mengajak semua pihak untuk bersatu demi Makassar yang lebih maju,” ungkapnya. Munafri-Aliyah dijadwalkan akan dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar pada 20 Februari 2025 di Istana Kepresidenan. Pelantikan ini menjadi momen penting bagi kepemimpinan baru dalam menjalankan visi dan program kerja yang telah dijanjikan kepada masyarakat. Dengan legitimasi yang semakin kuat, pasangan ini kini bersiap membawa perubahan yang lebih baik bagi Kota Makassar. Euforia kemenangan terasa di seluruh kota, menandakan harapan baru bagi warganya.

Hukum & Kriminal, Pemerintahan, Politik

Reklamasi Ilegal di Makassar Memanas: Pakar Desak DPRD Ambil Tindakan Tegas

Ruminews.id, Makassar – Isu reklamasi pantai di Kota Makassar kembali memanas. Sejumlah pihak mendesak DPRD Sulawesi Selatan dan DPRD Makassar untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna membahas dugaan reklamasi ilegal di beberapa kawasan pesisir. Pakar lingkungan hidup, Dr. Natsar Desi, menyebut maraknya aktivitas reklamasi di luar zona resmi berpotensi merusak ekosistem laut serta mengancam keberlanjutan mata pencaharian nelayan. Ia menyoroti adanya dugaan pemanfaatan laut menjadi kavling pribadi tanpa kajian lingkungan yang memadai. “Kami mendapati indikasi reklamasi yang tidak sesuai dengan peraturan. Ini harus ditindaklanjuti oleh pemerintah dan DPRD agar tidak berdampak lebih luas,” tegas Dr. Natsar dalam keterangannya. Sejumlah masyarakat dan aktivis lingkungan juga mengkritisi minimnya transparansi dalam penerbitan izin reklamasi. Mereka menilai pemerintah harus bertindak tegas terhadap pihak yang melakukan pengurukan laut secara ilegal. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari DPRD Sulsel maupun Pemkot Makassar terkait desakan tersebut. Namun, tekanan publik semakin menguat agar langkah konkret segera diambil untuk mengatasi permasalahan ini sebelum dampaknya semakin meluas.

Uncategorized

DPRD Makassar Matangkan Penetapan Wali Kota Baru dan Agenda Pemerintahan 2025

ruminews.id, MAKASSAR — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menggelar rapat Badan Musyawarah (Bamus) untuk membahas sejumlah agenda penting menjelang akhir masa jabatan Wali Kota periode 2021–2025 serta persiapan pemerintahan baru. Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua II DPRD Makassar, Anwar Faruq, ini berlangsung di Ruang Rapat Anggaran DPRD Makassar pada Kamis (6/2/2025).   Salah satu pembahasan utama dalam rapat tersebut adalah pelaksanaan rapat paripurna pengumuman akhir masa jabatan Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto, sekaligus penetapan Munafri-Aliyah sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar terpilih periode 2025–2030. Paripurna penetapan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/2/2025).   “Kami membahas penetapan wali kota baru sekaligus pengumuman berakhirnya masa jabatan wali kota sebelumnya. Hari ini juga akan digelar paripurna,” ujar Anwar Faruq.   Selain itu, rapat Bamus turut mengatur agenda reses kedua masa persidangan kedua tahun anggaran 2024/2025, serta penyesuaian jadwal Monitoring dan Evaluasi (Monev) kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk triwulan pertama tahun 2025.   “Agenda reses dan Monev OPD kami bahas agar penyesuaian jadwalnya lebih optimal,” jelas Anwar.   Ia juga mengungkapkan bahwa penyampaian visi dan misi Wali Kota terpilih akan dijadwalkan pada 21 Februari 2025, dan akan diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).   “Tanggal 21 Februari, wali kota terpilih akan memaparkan visi dan misi sesuai dengan RPJPD,” tambahnya.   Anwar menegaskan tidak ada acara seremonial khusus untuk penyambutan wali kota baru. DPRD berharap pemerintahan baru dapat membawa Makassar menjadi kota yang lebih maju dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Uncategorized

Ketua Komisi D DPRD Makassar: Penyaluran Bantuan Sosial Harus Tepat Sasaran

ruminews.id, MAKASSAR — Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, Ari Azhari Ilham, berharap status bantuan sosial di Kota Makassar dapat disalurkan dengan merata kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ari mengungkapkan, sering kali bantuan sosial tidak tersalurkan secara adil, sehingga ia meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan masalah ini ke depan. “Bantuan sosial ini harus menjadi perhatian khusus. Banyak penerima yang tidak sesuai kriteria, kita harus menilai dengan cermat siapa yang seharusnya mendapatkannya,” ujarnya, Kamis (6/2/2025). Selain itu, Ari juga menyoroti pendistribusian gas melon yang sering kali tidak merata. Ia menyebutkan, ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan kesempatan dengan mengambil gas melon sebanyak-banyaknya, sehingga masyarakat yang seharusnya membutuhkan justru kekurangan. “Masih ada yang maruk, mengambil gas melon berlebihan, bahkan orang yang mampu ikut mengambil. Ini menyebabkan distribusi ke masyarakat yang membutuhkan jadi kurang merata,” tegasnya. Ari berharap masyarakat juga lebih bijak dalam menerima bantuan sosial dan memastikan apakah mereka layak atau tidak untuk menerimanya. “Masyarakat juga perlu menyadari kapasitasnya. Apakah mereka yang membutuhkan atau ada orang lain yang lebih membutuhkan bantuan tersebut,” tambahnya. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Ita Anwar, mengungkapkan bahwa program perlindungan dan bantuan sosial sering menghadapi masalah di lapangan. Ia juga menyebutkan banyak keluhan dari masyarakat yang salah memahami program tersebut. “Banyak masalah yang kami temui di lapangan terkait perlindungan dan jaminan sosial. Kami terus berusaha meluruskannya,” beber Ita. Ita menjelaskan, masalah utama adalah pendataan fakir miskin, di mana setiap bulan dilakukan pengusulan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang berasal dari usulan kelurahan. Data tersebut menjadi acuan untuk pemberian bantuan sosial oleh Kementerian Sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH). “Pengelolaan data ini berasal dari kelurahan, bukan dari Dinas Sosial. Kami berharap RT/RW dan Camat dapat bekerja sama dalam mendata masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan,” jelasnya. Dengan adanya kolaborasi yang baik, Ita berharap penyaluran bantuan sosial di Kota Makassar bisa lebih tepat sasaran dan merata.

Scroll to Top