Author name: Admin01

Nasional, Pertanian, Politik

Titiek Soeharto Sidak Gudang Ternate, Soroti Kualitas Beras Bantuan.

ruminews.id – Jakarta – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, memimpin inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Perum Bulog Tabahawa, Ternate, Maluku Utara, Selasa (23/9/2025). Sidak dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan kualitas cadangan beras pemerintah (CBP), sekaligus menindaklanjuti laporan masyarakat soal beras bantuan yang kualitasnya menurun. Dalam peninjauan, Tim Komisi IV menemukan sekitar 1.200 ton beras tersimpan sejak Mei 2024. Sebagian beras impor masih terjaga kualitasnya, tetapi beras lokal terlihat berubah warna menjadi abu-abu dan dinilai sudah menurun mutunya. “Kami mendapati beras lokal yang sudah setahun lebih disimpan, warnanya tidak sebaik semula. Kenapa tidak segera disalurkan ke masyarakat?” tegas Titiek. Sebagian stok itu memang tengah dikemas untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Namun, ia menilai kondisi beras yang sudah menurun tidak layak disalurkan sebagai bantuan. “Kalau program SPHP menyalurkan beras seperti ini, jelas tidak layak. Masyarakat berhak menerima beras yang baik dan aman dikonsumsi,” ujarnya. Titiek meminta Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Bulog segera menyalurkan stok lama agar kualitas tidak semakin turun. Ia menekankan bahwa Bulog hanya operator gudang, sementara kebijakan distribusi ada di kementerian teknis dan Bapanas. “Saya sudah berkali-kali meminta sejak Februari agar beras ini segera dikeluarkan. Pemerintah harus lebih cepat bertindak,” tambahnya. Komisi IV menilai koordinasi lintas lembaga harus diperkuat. Rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Bapanas, dan Bulog akan segera dijadwalkan untuk membahas langkah percepatan distribusi beras. “Kami akan membawa temuan ini ke rapat kerja. Masyarakat berhak atas pangan yang sehat, berkualitas, dan terjangkau,” pungkas Titiek. Sumber : Website Gerindra

Badan Gizi Nasional, Nasional

IKA ISMEI: MBG Investasi Masa Depan, Harus Dibenahi Serius

ruminews.id – Jakarta, 22 September 2025 – Ikatan Alumni Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap penting dilanjutkan meski belakangan diterpa berbagai masalah. Ketua Umum IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang, menyebut MBG adalah “investasi masa depan” untuk anak-anak, ibu hamil, serta penguatan ekonomi lokal. Namun, ia menekankan perlunya evaluasi serius, terutama di wilayah yang sering bermasalah. Saat ini ada lebih dari 6.000 dapur MBG yang melayani 20 juta penerima manfaat. Targetnya, 30.000 dapur aktif hingga akhir 2025 untuk menjangkau 82,9 juta orang. IKA ISMEI mendorong beberapa langkah perbaikan: Evaluasi menyeluruh standar pengolahan dan distribusi makanan. Pengawasan ketat dari pemerintah, ahli gizi, dan lembaga independen. Perbaikan khusus di wilayah rawan masalah seperti Garut, Brebes, Sukoharjo, dan kawasan Timur Indonesia. Menjaga keberlanjutan program demi pembangunan SDM dan penanganan stunting. Penyelenggara dapur harus berkomitmen menjaga kualitas dan bebas penyelewengan. “Masalah yang ada jangan jadi alasan menghentikan program. Justru harus jadi panggilan untuk memperbaiki dan mengendalikan dengan serius,” tegas Bahtiar. IKA ISMEI berharap pemerintah pusat dan daerah bekerja sama agar MBG berjalan aman, sehat, dan benar-benar memberdayakan masyarakat.

Opini

Prabowo di Panggung PBB, Antara Retorika Dunia dan Realitas Indonesia.

ruminews.id – Ketika Presiden Prabowo Subianto melangkah ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, sorotan kamera dunia tertuju padanya. Di tanah air, berita kedatangan dan sambutan diaspora ditampilkan dengan penuh kebanggaan. Inilah momen Indonesia unjuk gigi di forum internasional. Pemerintah menekankan agenda besar yaitu; Isu Palestina, Global South, hingga reformasi tata kelola dunia, seolah ingin memastikan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton, melainkan pemain utama dalam percaturan global. Namun, dunia tidak melihat Prabowo dalam ruang hampa. Media internasional justru menautkan langkah diplomasi ini dengan konteks domestik Indonesia. Protes jalanan, kritik terhadap menguatnya peran militer, dan keresahan atas masa depan demokrasi. Dengan kata lain, bagi banyak pengamat, kehadiran Prabowo di New York bukan hanya tentang apa yang ia sampaikan ke dunia, tetapi juga tentang apa yang sedang ia alami di rumah. Di sisi lain, kita juga tak bisa menutup mata bahwa momen ini memberi peluang strategis. Indonesia, dengan populasi besar dan posisi geopolitik yang penting, memang pantas menjadi suara Global South. Isu Palestina, yang kerap redup oleh hiruk pikuk geopolitik Barat, kembali dibawa ke podium dunia lewat lensa Indonesia. Bahkan, jika dijalankan konsisten, agenda ini bisa menjadi warisan diplomasi yang tidak sekadar simbolik. Namun pertanyaan publik yang tak kalah penting adalah, apakah pidato di PBB akan berbuah nyata atau hanya berhenti sebagai retorika? Akan adakah langkah konkret berupa inisiatif resolusi, dukungan pada mekanisme internasional, atau gebrakan ekonomi melalui pertemuan bilateral, yang bisa dibuktikan kepada rakyat Indonesia? Sebab, diplomasi tanpa hasil konkret mudah sekali dibaca hanya sebagai panggung legitimasi politik, terutama ketika situasi di dalam negeri tengah bergolak. Bagi masyarakat luas, esensi diplomasi bukanlah sekadar tepuk tangan di gedung PBB, melainkan bagaimana suara Indonesia mampu membawa pulang manfaat nyata seperti dukungan untuk kedaulatan Palestina, peluang investasi yang membuka lapangan kerja, hingga penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi global. Pada akhirnya, kunjungan Prabowo ke Sidang Umum PBB bisa dibaca dengan dua kacamata; optimisme akan peran Indonesia yang lebih aktif di dunia, atau skeptisisme bahwa diplomasi ini sekadar tirai yang menutupi riuh rendah masalah dalam negeri. Publik berhak berharap bahwa podium PBB bukan hanya tempat kita berbicara, tetapi juga titik awal untuk menghadirkan perubahan konkret bagi bangsa.

Opini

Neurosains: “Mau Diet Berhasil Tanpa Tersiksa? Coba Trik Rahasia Ini, Hasilnya Bikin Kaget!”

ruminews.id – Entah berapa banyak program diet yang gagal dan kandas di tengah jalan. Menjalani program diet ternyata tak seindah membayangkannya. Sejak niat telah ditetapkan dan semangat tumbuh di awal memulai, ternyata perlahan tapi pasti niat dan semangat itu akhirnya memudar. Dan sungguh terlalu, nafsu makan yang tertahan cukup lama itu akhirnya menemukan jalan keluarnya. Ibarat air kran yang tiba-tiba mengalir deras ketika kran itu tiba-tiba dibuka, keinginan makan ternyata menjadi berkali lipat karena selama ini telah lama menahan diri untuk tidak mengkonsumsi ini dan itu. Tubuh akhirnya melewati batas berat badan sebelum diet. Sesulit itukah melakukan diet? Maura Scott dan Stephen Nowlis telah melakukan penelitian dalam bidang perilaku konsumen, khususnya terkait dengan pengambilan keputusan, emosi, dan pengalaman konsumen. Mereka mempelajari bagaimana tujuan dengan rentang rendah-tinggi dapat memengaruhi perilaku kita. Rentang rendah-tinggi dalam menetapkan tujuan dapat diterapkan dalam konteks seperti kesehatan, kebugaran, dan keputusan keuangan, di mana rentang target mendorong kita untuk berupaya mencapai hasil yang lebih baik sambil tetap merasa yakin bahwa kita bisa mencapai hasil minimum. Alih-alih menetapkan target tunggal yang spesifik (misalnya menurunkan berat badan satu setengah kilogram dalam seminggu), akan jauh lebih ampuh kalau kita menetapkan target dengan menggunakan teknik rentang rendah-tinggi (misalnya menurunkan berat badan satu hingga dua kilogram dalam seminggu). Karena penetapan tujuan dengan rentang rendah-tinggi memungkinkan kita untuk merasakan bahwa kita memiliki tujuan yang realistis dan dapat dicapai, tetapi masih menantang. Saat kita menetapkan tujuan untuk menurunkan berat badan antara 1 hingga 2 kg, maka ini akan menghadirkan perasaan pencapaian saat kita mencapai tujuan minimum (1 kg), sementara kita tetap termotivasi untuk mencapai target yang lebih ambisius (2 kg). Sebaliknya, ketika seseorang menetapkan satu tujuan spesifik yang tinggi (misalnya, “saya ingin menurunkan 10 kg”), mereka mungkin merasa tertekan atau frustasi jika kemajuan mereka lambat. Dengan rentang tujuan, kita bisa merayakan pencapaian target yang lebih rendah terlebih dahulu, yang membantu mengurangi tekanan dan menjaga motivasi tetap tinggi. Penurunan berat badan adalah proses yang bisa sangat bervariasi bagi setiap orang, tergantung pada banyak faktor seperti metabolisme, gaya hidup, dan kebiasaan makan. Menetapkan tujuan dengan rentang rendah-tinggi memberikan kita fleksibilitas, sehingga kita tidak merasa gagal jika tidak mencapai target tertinggi. Sebaliknya, kita merasa berhasil karena masih berada dalam kisaran tujuan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menetapkan tujuan dengan rentang rendah-tinggi merasa lebih memegang kendali atas proses penurunan berat badan mereka, yang meningkatkan kepuasan mereka terhadap kemajuan yang dibuat. Mereka cenderung merasa lebih puas bahkan jika hanya mencapai batas bawah dari rentang yang ditetapkan. Penetapan tujuan yang efektif harus berada pada tingkat tantangan yang tepat – tidak terlalu mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit. Ketika kita merasakan bahwa tujuan tersebut menantang tetapi tetap dapat dicapai, kita lebih cenderung untuk tetap termotivasi dan berkomitmen. *@pakarpemberdayaandiri* #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Rahasia Neurosains: Latihan Syukur Bisa Ubah Pola Otak dan Hidup Anda”

ruminews.id – Sejak kita dilahirkan, kita sudah dibekali kemampuan alami untuk belajar. Belajar bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari kodrat manusia. Bahkan seorang bayi yang baru lahir pun langsung memulai proses belajar: ia menangis bukan hanya karena refleks, tetapi juga sebagai cara pertama untuk berkomunikasi dengan lingkungan; ia tersenyum untuk menarik perhatian dan membangun hubungan; ia berulang kali jatuh bangun saat belajar berjalan. Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia sejak awal adalah perjalanan belajar tanpa henti. Bukti ilmiah terbaru juga memperkuat pandangan ini. Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal eLife pada tahun 2024 menemukan bahwa bayi baru lahir sudah memiliki kemampuan statistical learning, yaitu belajar mengenali pola-pola secara otomatis dari lingkungan. Tidak hanya terbatas pada bahasa, tetapi juga berlaku lintas bidang, yang berarti otak bayi sudah siap sejak awal untuk menyerap informasi secara luas. Penelitian ini menggunakan metode neuro-perilaku, termasuk pencatatan aktivitas otak (EEG), sehingga kesimpulannya sangat kuat secara ilmiah. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan belajar memang melekat pada kodrat manusia. Selain itu, sebuah ulasan ilmiah di jurnal Trends in Neurosciences (2023) menjelaskan bahwa rasa ingin tahu (curiosity) adalah mekanisme saraf bawaan yang mendorong manusia untuk terus belajar. Artikel ini merangkum berbagai penelitian dengan pendekatan fMRI, rekaman aktivitas saraf, hingga model komputasi, dan menunjukkan bahwa dorongan ingin tahu mengaktifkan sistem saraf tertentu yang membuat kita terdorong menjelajah, mencari informasi, dan menemukan hal-hal baru. Dengan kata lain, bukan hanya kita bisa belajar, tetapi kita juga secara alami terdorong untuk belajar. Gabungan kedua temuan ini memperlihatkan gambaran yang selaras: manusia memang diciptakan untuk belajar sepanjang hidup. Sejak lahir kita sudah memiliki perangkat otak yang memungkinkan pembelajaran, dan rasa ingin tahu yang menuntun arah pembelajaran itu. Sejak lahir, manusia memang sudah memiliki potensi dasar untuk merasakan emosi, semacam “benih” yang tertanam dalam diri kita. Namun, arah pertumbuhan emosi itu – apakah berkembang menjadi sesuatu yang konstruktif seperti kasih sayang, empati, dan syukur, atau justru destruktif seperti kebencian, iri, dan amarah berlebihan – ditentukan melalui proses belajar sepanjang hidup. Artinya, walaupun fondasi biologis untuk merasakan emosi sudah ada sejak bayi, kualitas dan bentuk emosinya dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan kebiasaan yang terus-menerus kita jalani. Dengan kata lain, kodrat manusia adalah menjadi “makhluk pembelajar emosi”. Kita tidak dilahirkan langsung dengan kebencian yang matang atau kasih sayang yang mendalam. Yang ada hanyalah potensi dasar: seorang bayi bisa merasa tidak nyaman atau senang, tapi bagaimana rasa itu berkembang menjadi cinta yang hangat atau dendam yang pahit sangat bergantung pada pengalaman dan kesadaran yang kita tumbuhkan. Proses belajar inilah yang menjadikan emosi manusia kaya dan beragam Kehidupan pada dasarnya dapat dipahami sebagai sebuah medan ujian. Setiap orang yang kita temui, setiap peristiwa yang kita alami, bahkan hal-hal kecil yang hadir dalam keseharian, sesungguhnya membawa peluang bagi kita untuk merespons dengan cara yang membangun jiwa atau justru merusaknya. Ketika kita memilih respons konstruktif – misalnya memaafkan kesalahan orang lain, bersyukur atas apa yang ada, menolong sesama, atau belajar dari kesulitan – maka jiwa kita tumbuh semakin kuat dan matang. Sebaliknya, ketika seseorang jatuh pada respons destruktif – seperti menyimpan dendam, merasa iri, tamak, atau berputus asa – maka jiwanya terhimpit dan semakin rapuh. Karena manusia memang diciptakan sebagai makhluk pembelajar, setiap situasi yang datang, baik manis maupun pahit, sebenarnya adalah pelajaran terbuka yang mengundang kita untuk naik tingkat kesadaran. Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari banyak manusia justru lebih sering belajar dan membiasakan diri untuk merespons secara destruktif. Bukan karena sejak lahir kita sudah “ditakdirkan jahat”, melainkan karena pola hidup, lingkungan, dan pengalaman yang dialami seringkali menanamkan kebiasaan yang merusak jiwa. Ada orang yang terbiasa menyimpan dendam karena sejak kecil melihat kemarahan dipelihara di keluarganya; ada pula yang tumbuh dalam budaya persaingan tidak sehat sehingga mudah iri, tamak, atau merasa tidak pernah cukup. Lama-kelamaan, pola respons destruktif ini melekat sebagai kebiasaan, bahkan terasa wajar, padahal sebenarnya ia melemahkan hati dan menutup jalan pertumbuhan kesadaran. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar manusia adalah pedang bermata dua: ia bisa membawa kita ke arah yang lebih luhur, tetapi juga bisa menyeret kita ke jurang kehancuran. Itulah sebabnya, bahkan untuk bisa bersyukur pun kita perlu belajar dan berlatih. Rasa syukur memang berakar pada potensi dasar emosi positif yang sudah ada dalam diri kita sejak lahir, namun ia tidak serta-merta hadir dalam bentuk yang matang. Seorang bayi bisa merasa nyaman ketika dipeluk atau diberi makan, tetapi kemampuan untuk menyadari makna kenyamanan itu sebagai sesuatu yang patut disyukuri baru terbentuk melalui pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, syukur bukanlah sekadar ucapan “terima kasih”, melainkan sebuah sikap batin yang melihat nilai dan kebaikan dalam setiap keadaan, termasuk di balik kesulitan. Untuk sampai pada tahap itu, dibutuhkan latihan: mulai dari menyadari hal-hal kecil yang bisa diapresiasi, membiasakan diri mencatat atau merenungkan nikmat yang diterima, hingga melatih pikiran agar tidak hanya fokus pada kekurangan. Neurosains pun menunjukkan bahwa latihan syukur secara konsisten dapat membentuk jalur saraf baru di otak yang membuat kita lebih mudah merasakan emosi konstruktif. Artinya, syukur benar-benar bisa dipelajari, ditumbuhkan, dan dikuatkan. Jadi, bersyukur bukan sekadar bawaan, tetapi sebuah keterampilan jiwa yang perlu diasah agar semakin alami dan menjadi bagian dari diri kita. Rangkaian penelitian terkini menunjukkan bahwa bersyukur memang dapat dilatih, dan efeknya terbukti nyata meskipun dengan intensitas yang bervariasi. Studi internasional berskala besar, seperti meta-analisis yang melibatkan hampir 25.000 peserta dari 28 negara, menegaskan bahwa intervensi syukur konsisten memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis lintas budaya. Hasil ini diperkuat oleh berbagai penelitian eksperimental di jurnal bereputasi tinggi seperti BMC Women’s Health (2025), Current Psychology (2024), dan SAGE Journals (2023), yang menemukan bahwa praktik syukur – baik melalui jurnal, penulisan syukur, maupun pelatihan daring – mampu meningkatkan emosi konstruktif, mengurangi pikiran negatif yang berulang, memperkuat spiritualitas, hingga mendorong pertumbuhan pasca-trauma. Keseluruhan bukti ini menunjukkan bahwa syukur bukanlah sekadar perasaan spontan, melainkan keterampilan emosional yang bisa dilatih secara sadar. Dengan latihan rutin – menulis jurnal syukur, mengungkapkan rasa terima kasih, atau merenungkan hal-hal yang patut dihargai – manusia dapat memperkuat jalur saraf positif di otak, meningkatkan kesejahteraan mental, serta membentuk daya tahan emosional dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Opini

Mengenal Khalid Basalamah yang Mengaku “Posisi Kami Ini Korban”

Setelah Gus Yaqut yang seperti “ditelanjangi” KPK, sekarang giliran Khalid Basalamah. Wajahnya semakin ramai menghiasi media. Penyebabnya, sama. Kuota haji. Mari kita kenalan dengan ustaz kharismatik ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak! Di negeri yang selalu ramai drama, tiba-tiba muncul episode baru, Ustaz Khalid Zeed Abdullah Basalamah. Lahir di Makassar pada 1 Mei 1975, keturunan Arab Hadramaut, sarjana Universitas Islam Madinah, magister Universitas Muslim Indonesia, doktor Universiti Tun Abdul Razak Malaysia. Lengkap sudah, dari akademis, ulama, pengusaha, dan kini cameo di panggung KPK. Ia dikenal sebagai pendakwah Salafi dengan ceramah yang mengupas kitab Bulughul Marām sampai Minhājul Muslim. Ia juga pengusaha, Ajwad Resto Condet yang menghidangkan nasi kebuli syahdu, Ajwad Souvenir, Ajwad Gold, kayu gaharu, penerbitan buku Islam, dan tentu saja travel haji-umrah bernama Uhud Tour. Sungguh portofolio yang bisa membuat kapitalisme syariah tampak elegan. Tapi semua elegan itu mendadak kocar-kacir ketika ia dipanggil KPK terkait dugaan jual beli kuota haji 2023–2024. Dari pengakuannya sendiri, ada uang USD 4.500 per jamaah untuk 118 jamaah plus USD 37.000. Kalau dikalikan kurs, kira-kira Rp8,7 miliar. Angka fantastis, cukup untuk membangun laboratorium kampus atau membeli nasi Padang se-Pontianak setahun penuh. Saat menyerahkan uang ke KPK, Khalid membuat pernyataan yang filosofis sekaligus dramatis, “Posisi kami ini korban.” Kalimat ini seketika jadi bahan diskusi publik. Korban apa? Korban sistem haji yang carut-marut? Korban birokrasi yang gelap? Atau korban kapitalisme ibadah? Bila Marx masih hidup, mungkin ia akan menulis jilid baru, Das Kapital: Edisi Kuota Haji. Namun, hukum tetaplah hukum. KPK menegaskan, pengembalian uang bukan berarti perkara selesai. Uang akan ditelusuri asal-usulnya. Kalau terbukti bagian dari jual beli kuota, status saksi bisa naik kelas jadi tersangka. Di sinilah filsafat korupsi menemukan absurditasnya. Dosa finansial tidak bisa dihapus dengan sedekah dadakan. Drama Khalid makin menarik karena hidupnya memang penuh babak epik. Ibunya wafat ketika ia berusia empat tahun, ayahnya mendirikan pesantren Addaraen di Makassar, lalu ia tumbuh jadi ustaz besar dengan empat anak. Pernah viral gara-gara menyebut wayang haram, bahkan pengajiannya sempat dibubarkan Banser. Kini, babak terbaru, uang jamaah haji masuk ke brankas KPK. Bila ditarik ke filsafat yang lebih tinggi, apa artinya ibadah bila jalannya ditempuh dengan uang yang “nyasar”? Korupsi kuota haji bukan sekadar maling uang negara, tapi maling makna. Bayangkan, wak! Rukun Islam kelima dijadikan komoditas, pahala bisa dipatok harga, doa dijual dengan invoice dolar. Sungguh satire ilahiah. Namun, di balik semua itu, publik tetap penasaran, apakah Khalid benar-benar “korban”, atau justru pemain utama dalam drama panjang kuota haji? Apakah ia akan keluar sebagai ulama yang salah langkah tapi insaf, atau jadi tokoh baru di daftar panjang “ustaz plus kasus”? KPK tentu tak mau buru-buru. Mereka seperti dalang yang sabar menunggu wayang berkelahi dulu sebelum menancapkan klimaks. Sementara rakyat hanya bisa menonton sambil mengelus dada, “Ya Allah, ternyata menuju Tanah Suci tidak cukup dengan visa dan manasik, tapi juga perlu tiket bebas dari KPK.” Maka, kisah Khalid Basalamah ini bukan hanya tentang uang, tapi tentang absurditas spiritualitas yang tergelincir di tikungan rupiah. Entah nanti ia akan tercatat sebagai “korban” atau “tersangka”, yang jelas, drama ini sudah masuk kitab besar satir Indonesia, Manasik Korupsi di Era Reformasi. Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Ekonomi, Nasional, Pemerintahan

Dari Sekjen ISMEI, Kini Didapuk Jadi Sekjen Kementerian ESDM Prof. Ahmad Erani Yustika

ruminews.id – Jakarta, 16 September 2025, – Perombakan pejabat tinggi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membawa kejutan besar. Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Surat Keputusan Presiden yang menetapkan sejumlah nama baru, termasuk untuk posisi strategis Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM. Yang mengejutkan, jabatan Sekjen yang biasanya diisi pejabat karier internal Kementerian ESDM, kini dipercayakan kepada sosok dari luar kementerian: Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika. Prof. Erani bukan hanya seorang akademisi, melainkan juga aktivis dari Sekjen ISMEI (Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia) pada masa mudanya, dan saat ini menjadi Dewan Pakar Ikatan Alumni ISMEI (IKA ISMEI). Rekam jejak panjangnya dalam dunia gerakan mahasiswa, akademisi, hingga birokrasi membuat kehadirannya diyakini bisa membawa warna baru bagi kebijakan energi nasional. Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya ini memiliki pengalaman luas, antara lain: Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes PDTT (2015–2017) Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan, Kemendes PDTT (2017–2018) Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang Ekonomi (2017–2018) Selain itu, saat ini ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dibentuk Presiden Prabowo. Adapun SK Presiden tertanggal 10 September 2025 itu juga menetapkan dua perombakan lain, yaitu: Jisman P. Hutajulu digantikan sebagai Dirjen Ketenagalistrikan dan dipindah menjadi Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM. Irjen Pol. Yudhiawan ditetapkan sebagai Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, menggantikan Letjen TNI (Purn.) Bambang Suswantono. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian ESDM belum merilis keterangan resmi terkait waktu pelantikan. Namun, masuknya Prof. Ahmad Erani Yustika, aktivis ISMEI yang kini menjabat Sekjen ESDM, menandai babak baru keterlibatan tokoh gerakan mahasiswa ekonomi dalam panggung kebijakan strategis energi nasional.

Pendidikan

PKKMB Polinus 2025 Dirangkaikan dengan Penandatanganan MoU Bersama APERTISI

ruminews.id – Makassar, 16 September – Politeknik Nusantara Makassar (Polinus) sukses melaksanakan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin, 15 September 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru dengan penuh antusias sebagai langkah awal menapaki dunia pendidikan tinggi di Polinus. Kegiatan PKKMB tahun ini semakin istimewa karena dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Polinus dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APERTISI). Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring, meningkatkan kualitas akademik, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi mahasiswa maupun dosen. Direktur Politeknik Nusantara Makassar, Syahruddin, menegaskan bahwa MoU ini merupakan wujud komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman. “Polinus terbuka terhadap kolaborasi yang memberi dampak positif, baik dalam bidang akademik, penelitian, maupun pengembangan kemahasiswaan. Dengan dukungan APERTISI, kami optimistis dapat melahirkan lulusan yang unggul, berdaya saing, dan mampu berkontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya. Melalui pengukuhan PKKMB yang dirangkaikan dengan penandatanganan MoU bersama APERTISI ini, Polinus menegaskan diri sebagai perguruan tinggi yang siap berinovasi, berkolaborasi, dan berkomitmen mencetak generasi muda berintegritas, kreatif, serta adaptif terhadap tantangan global.

Opini

SAL 200 Triliun: Mazhab Keynesian atau Monetaris?

Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan perdebatan baru tentang arah kebijakan fiskal dan moneter. Salah satu langkah awal yang menimbulkan sorotan adalah rencana Purbaya memindahkan sekitar Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank umum dengan skema deposito berbunga komersial 4,5 persen. Sri Mulyani vs Purbaya: Dua Pendekatan Sri Mulyani selama ini menempatkan SAL di Bank Indonesia (BI) untuk mendukung stabilitas fiskal melalui operasi moneter dan pengendalian yield Surat Berharga Negara (SBN). Sebaliknya, Purbaya memilih menaruh SAL di bank umum dengan logika bahwa bunga 4,5 persen akan menjadi cost of fund bagi bank. Bank, pada gilirannya, diyakini akan menyalurkan kredit ke sektor riil dengan bunga 6–7 persen, setara kupon SBN. Di titik inilah perbedaan mazhab muncul. Jokowi pernah menyebut Purbaya berbeda aliran dengan SMI. Namun faktanya, keduanya tetap berangkat dari keyakinan pada mekanisme pasar, hanya berbeda pada cara menyalurkan likuiditas—apakah lewat instrumen moneter (SMI) atau lewat perbankan (Purbaya). Debat Mazhab: Keynesian vs Monetaris Menurut perspektif Keynesian, likuiditas berlebih justru bisa mendorong spekulasi ketika ekonomi sedang dalam gejolak. Inilah yang dulu menjadi dasar burden sharing saat pandemi Covid-19, ketika BI membeli SBN pemerintah di pasar perdana untuk membiayai defisit. Tujuannya jelas: mengarahkan likuiditas ke fiskal untuk menopang belanja publik. Sebaliknya, pandangan monetaris ala Milton Friedman percaya bahwa mekanisme bunga akan menyeimbangkan pasar. Jika bunga simpanan cukup menarik, bank akan terdorong menyalurkan kredit. Namun, pertanyaan besarnya: apakah benar ada permintaan kredit yang sehat dan mampu membayar bunga 6–7 persen dalam situasi ekonomi sekarang? Problem Transmisi Kredit Purbaya tampaknya terlalu percaya pada asumsi bahwa bank akan otomatis menyalurkan kredit. Padahal, bank bekerja berdasarkan logika risk and return. Jika risiko gagal bayar tinggi, sekalipun dana tersedia dengan bunga murah, kredit tidak akan mengalir. Lebih jauh, penempatan SAL dalam bentuk deposito on call berarti dana bisa diambil pemerintah sewaktu-waktu. Bagi bank, ini bukan aset likuid yang bisa dengan aman dipinjamkan untuk kredit jangka menengah atau panjang. Risiko mismatch likuiditas sangat besar, mirip dengan pengalaman BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit) era Orde Baru yang berujung pada kredit macet. Belajar dari QE AS dan China Kebijakan Purbaya juga dibandingkan dengan praktik Quantitative Easing (QE) pasca-krisis finansial 2008. Di AS, The Fed membeli aset keuangan dan menyalurkan dana lewat perbankan, namun tetap dengan government arm berupa ekspansi fiskal—misalnya subsidi pengangguran dan insentif sektor riil. Transmisi tidak diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar. China berbeda lagi: devisa dikelola ketat, seluruh hasil ekspor harus masuk sistem perbankan domestik. Aliran dana diarahkan langsung ke sektor riil dengan kontrol pemerintah. Kedua model ini menunjukkan satu hal: kredit hanya akan jalan bila ada intervensi negara ke sektor riil, bukan sekadar bunga simpanan. Kunci di Sektor Riil, Bukan di Bank Kritik utama pada gagasan Purbaya adalah ia menaruh beban terlalu besar pada perbankan. Padahal, peran Menkeu seharusnya adalah memoderasi kebijakan agar Quick Win sektor riil yang dirancang kementerian teknis bisa berjalan. Tanpa perlindungan industri domestik—seperti kasus keterlambatan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) di sektor tekstil—tidak ada insentif bagi dunia usaha untuk mengambil kredit, sekalipun bunga rendah. Contoh lain, di sektor pangan biaya produksi gabah on farm di Indonesia adalah yang tertinggi di kawasan. Tanpa reformasi biaya lahan dan efisiensi produksi, menaruh SAL di bank tidak akan mengubah struktur ongkos, dan impor tetap lebih murah untuk menjaga inflasi. Kesimpulan: Antara Mazhab dan Realitas Purbaya mungkin ingin tampil sebagai true believer of market mechanism. Namun kebijakan menaruh SAL di bank umum berisiko hanya menjadi “emak-emak ekonomi”—sekadar memindahkan dana ke tempat dengan bunga lebih tinggi tanpa strategi jelas ke sektor riil. Sejarah akan membuktikan apakah Rp200 triliun SAL benar-benar menjadi tongkat Nabi Musa yang mampu membelah lautan problem ekonomi, atau hanya sekadar eksperimen yang kembali menegaskan bahwa tanpa reformasi struktural di sektor riil, likuiditas akan tetap mengendap sebagai uang murah yang tidak produktif.

Pendidikan

Grand Opening Macca Education 3.0 : Hadir dengan Wajah Baru untuk Generasi Masa Depan

ruminews.id – Makassar, 15 September 2025 – Macca Education resmi membuka cabang barunya, Macca Education 3.0, yang berlokasi di Jl. Adhyaksa No. 17 (Lantai 2 Kaori Coffee), Makassar. Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya Macca Education menghadirkan layanan pendidikan yang lebih modern, inklusif, dan berkualitas bagi generasi muda. Acara grand opening yang berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 14.00 WITA ini dihadiri oleh para tamu undangan, tokoh pendidikan, serta mitra strategis. Peresmian cabang baru ini ditandai dengan serangkaian agenda, mulai dari tour ruang belajar, perkenalan fasilitas, hingga ramah tamah bersama seluruh tamu yang hadir. Dalam sambutannya, Ms. Dian, Operational Manager Macca Education, menyampaikan rasa syukur dan optimismenya atas kehadiran cabang baru ini. “Kami sangat bangga dapat menghadirkan Macca Education 3.0 sebagai langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan berkualitas. Dengan fasilitas yang lebih modern serta program unggulan yang relevan, kami berharap bisa menjadi bagian dari perjalanan belajar anak-anak hingga orang dewasa di Makassar,” ujar Ms. Dian. Sebagai bagian dari rangkaian acara, Macca Education juga menggelar Master Class (Trial Class) untuk memperkenalkan berbagai program unggulannya, yaitu: English for Kids – kelas interaktif dengan metode belajar menyenangkan. English for Adults – program komunikasi praktis untuk kebutuhan kerja maupun sehari-hari. IELTS Preparatory – kelas persiapan ujian internasional untuk siswa dan profesional yang ingin melanjutkan studi atau karier global. Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta yang berkesempatan mencoba langsung metode pembelajaran khas Macca Education. “Macca Education 3.0 merupakan bentuk komitmen kami dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kami ingin mencetak generasi unggul dengan pendekatan inovatif dan suasana belajar yang nyaman,” tambah perwakilan Macca Education. Selain peresmian fasilitas baru, acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan kolaborasi antara pendidik, orang tua, serta masyarakat luas. Macca Education berharap kehadiran cabang ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan pendidikan di Makassar dan sekitarnya. Masyarakat dapat mengikuti momen grand opening ini melalui akun resmi Instagram @maccaeducation dan @maccajuniors. Tentang Macca Education Macca Education adalah lembaga pendidikan yang berkomitmen mencetak generasi unggul melalui metode pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan karakter. Dengan kehadiran cabang terbaru ini, Macca Education siap menjangkau lebih banyak siswa untuk meraih masa depan gemilang.

Scroll to Top