2 September 2026

Ojol dan Kurir Platform
Hukum & Kriminal, Kesehatan, Nasional

Tak Hanya Pekerja Pabrik, Ojol dan Kurir Platform Juga Berhak Bekerja Aman

Ruminews.id, Tangerang — Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak boleh hanya dipahami sebagai isu pekerja di pabrik, perkantoran, atau proyek konstruksi. Pengemudi ojek online (ojol) dan kurir platform yang setiap hari bekerja di jalan raya juga menghadapi risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Karena itu, Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA) mendorong agar perlindungan K3 menjadi bagian penting dalam perjuangan pengakuan ojol dan kurir platform sebagai pekerja. Hal tersebut mengemuka dalam pelatihan K3 dasar bagi serikat pekerja dan serikat buruh yang diikuti SEPETA. Kegiatan dibuka oleh Bapak Indra, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan di Hotel Great Western Resort Kota Tangerang.Senin (31/8/2026) Dalam pemaparannya, ditekankan pentingnya pembudayaan dan pelatihan K3 serta peran serikat pekerja dalam mengawal penerapan keselamatan kerja. SEPETA menilai prinsip tersebut harus diterapkan pula kepada pekerja platform yang menghadapi risiko kerja setiap hari, mulai dari kecelakaan lalu lintas, kelelahan akibat waktu kerja panjang, cuaca ekstrem, hingga berbagai risiko keselamatan lainnya. “Bagi pengemudi ojol dan kurir platform, jalan raya adalah tempat kerja kami. Ketika kami keluar rumah untuk mengambil dan mengantarkan pesanan, kami sedang menjalankan pekerjaan. Karena itu, risiko kecelakaan di jalan harus dipandang sebagai risiko kerja dan pekerja platform berhak mendapatkan perlindungan K3,” ujar perwakilan SEPETA. SEPETA menegaskan bahwa fleksibilitas dalam pekerjaan platform tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan pekerja. Sistem kerja berbasis aplikasi justru harus dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan, termasuk pengaturan target dan insentif yang tidak mendorong pengemudi bekerja secara berlebihan demi mengejar pendapatan. “Jangan sampai algoritma kontrol produktivitas ojol sementara keselamatan pengemudi diabaikan. Sistem aplikasi harus menjadi bagian dari solusi K3, bukan justru menciptakan tekanan yang membuat pengemudi mengambil risiko di jalan,” tegas SEPETA.

Makassar, Nasional, Opini, Pemuda, Pendidikan

Ketika Guru Besar Kehilangan Wibawa di Hadapan Militer

Penulis: Hamzah Syam — Bendahara Umum DEMAU UINAM Rumunews.id — UIN Alauddin Makassar kini menjadi sorotan publik menyusul keterlibatan pihak militer dalam kegiatan pengenalan budaya kampus bagi mahasiswa baru. Kehadiran militer dalam ruang yang semestinya menjadi arena pengenalan tradisi akademik, kebebasan berpikir, organisasi kemahasiswaan, dan budaya intelektual kampus memunculkan pertanyaan serius tentang arah pendidikan tinggi. Jika pengenalan budaya akademik yang seharusnya disampaikan oleh para guru besar dan akademisi justru melibatkan institusi militer, lalu apa arti gelar profesor, apa makna kebebasan akademik, dan untuk apa universitas membangun tradisi keilmuan jika suara guru besar justru kehilangan daya di hadapan kekuasaan militer?

Scroll to Top