OPINI

Ketika Guru Besar Kehilangan Wibawa di Hadapan Militer

Penulis: Hamzah Syam — Bendahara Umum DEMAU UINAM

Rumunews.id — UIN Alauddin Makassar kini menjadi sorotan publik menyusul keterlibatan pihak militer dalam kegiatan pengenalan budaya kampus bagi mahasiswa baru. Kehadiran militer dalam ruang yang semestinya menjadi arena pengenalan tradisi akademik, kebebasan berpikir, organisasi kemahasiswaan, dan budaya intelektual kampus memunculkan pertanyaan serius tentang arah pendidikan tinggi. Jika pengenalan budaya akademik yang seharusnya disampaikan oleh para guru besar dan akademisi justru melibatkan institusi militer, lalu apa arti gelar profesor, apa makna kebebasan akademik, dan untuk apa universitas membangun tradisi keilmuan jika suara guru besar justru kehilangan daya di hadapan kekuasaan militer?

Universitas seharusnya menjadi ruang tempat ilmu pengetahuan berdiri lebih tinggi daripada kekuasaan. Guru besar bukan sekadar pemilik gelar akademik, tetapi penjaga nalar kritis, kebebasan berpikir, dan marwah institusi pendidikan. Namun ketika ruang akademik mulai dipenuhi oleh pendekatan militeristik, muncul pertanyaan serius: apakah suara akademisi masih dihargai ketika berhadapan dengan kekuasaan?

Militer memiliki fungsi dan kewenangan dalam bidang pertahanan dan keamanan sesuai ketentuan hukum. Akan tetapi, universitas memiliki mandat yang berbeda: mendidik, meneliti, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta membentuk mahasiswa menjadi manusia yang kritis dan merdeka dalam berpikir.

Karena itu, ketika pendekatan militer masuk terlalu jauh ke dalam ruang akademik yang tidak berkaitan dengan tugasnya, persoalannya bukan semata-mata tentang kehadiran institusi militer. Persoalannya adalah batas antara kewenangan, kekuasaan, dan kebebasan akademik.

Lebih memprihatinkan apabila dalam situasi tersebut suara guru besar justru seolah kehilangan bobot. Jika seorang profesor yang memiliki puluhan tahun pengalaman keilmuan tidak mampu menjadi rujukan utama dalam menentukan arah kehidupan akademik, lalu siapa yang sebenarnya memegang kendali universitas?

Jangan sampai kampus memiliki banyak guru besar, tetapi kehilangan keberanian untuk bersuara. Jangan sampai gelar akademik hanya menjadi simbol, sementara keputusan pendidikan ditentukan oleh logika kekuasaan.

Kampus bukan barak. Mahasiswa bukan prajurit. Guru besar bukan bawahan kekuasaan.

Universitas harus tetap menjadi ruang yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, kebebasan akademik, demokrasi kampus, dan keberanian untuk berbeda pendapat.

Sebab ketika otoritas keilmuan mulai tunduk di hadapan kekuasaan, yang dipertaruhkan bukan hanya wibawa seorang guru besar, tetapi masa depan universitas sebagai rumah bagi kebebasan berpikir.

Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi mendasar:

Jika guru besar saja tidak memiliki nilai di hadapan kekuasaan militer, masihkah universitas benar-benar menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan dan kebebasan akademik?

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
Vonis Mati Bagi Koruptor Bisa Jadi Bumerang Selama Sistem Peradilan Masih Compang- Camping
Muzakkir (6)
Setelah Keracunan, Siapa Memulihkan Korban MBG?
Muzakkir (5)
Maba Mesti Menjadi Mahasiswa Kritis, Responsif dan Progresif
Muzakkir (4)
Pa’belu/Ma’belu di Selayar: Bukan Sekadar Perayaan Maulid, tetapi Ruang Saling Mengenal dan Merawat Silaturahmi
Muzakkir (3)
Mencari Kembali Identitas KOHATI di Tengah Krisis Kaderisasi Perempuan HMI
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260904_095057_0000
Menjelang Milad KOHATI: Relevan atau Sekadar Pelengkap Struktur Organisasi?
Muzakkir (1)
PBAK Bukan Panggung Organisasi Eksternal: Ketika Ruang Fakultas Diperebutkan Secara Sektoral
Muzakkir (6)
Kampus Ruang Kritis, Bukan Pabrik Ketundukan: Membaca Pembungkaman di PBAK UIN Alauddin Makassar 2026
Muzakkir (5)
Kepemimpinan Perempuan dalam UMKM Desa
Muzakkir (4)
Mendobrak Stereotip Terhadap Kepemimpinan Perempuan
Scroll to Top