Muhammad alkun iradat-Sekretaris departemen keilmuan dan penalaran HMJ sosiologi agama periode 2026-2027.
Ruminews.id, Makassar – Tak pelik lagi, di dalam durasi kehidupan manusia modern hari ini, kita tidak pernah luput dari ilmu yang ditafsirkan dalam berbagai macam bentuk.
Subjek senantiasa beriringan dengan makna yang entah dari mana asal-usulnya. Namun, naasnya, makna tersebut diterima begitu saja tanpa melalui prosedur, prinsip, nalar, bahkan rasionalitas. Sesuatu yang terus-menerus diulang akhirnya tidak lagi dipertanyakan, meskipun sejak awal ia keliru.
Satu peristiwa menjadi landasan tulisan ini. Hanya sekadar untaian kata yang mungkin tidak sebegitu pentingnya bagi mereka yang rela mati demi jabatan dan stereotip sosial.
Hari ini, manusia-manusia itu perlahan kehilangan topeng pembenaran mereka. Topeng tentang bagaimana di depan para pimpinan mereka belagak begitu suci, seolah tidak pernah menyentuh kehinaan dan kesyirikan.
Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Begitu pun dengan manusia. Bagaimanapun cara mereka menjaga topeng sucinya, suatu waktu topeng itu akan hancur dan memperlihatkan wajah aslinya.
Wajah tentang bagaimana mereka memperlakukan manusia lain. Penulis ini hanya sekadar menyanggah dan sedikit memberikan edukasi terhadap tindakan yang tidak manusiawi atas apa yang ia lakukan terhadap manusia yang, dalam konstruksi sosial, dianggap memiliki derajat lebih rendah darinya.
Dengan menggunakan otoritasnya sebagai bagian dari birokrasi kampus, sebegitu entengnya ia membenarkan tindakannya.
Sebegitu entengnya memperlakukan manusia lain yang dianggap lebih rendah darinya. Dengan bermodalkan entitas dan otoritas tersebut, ketika ada orang lain yang berani mengintervensi kekeliruannya dalam bertindak, ia tak segan-segan mengancam dengan nilai.
Di sinilah persoalannya, Ketika kekuasaan tidak lagi digunakan untuk menjaga nilai, tetapi digunakan untuk membungkam pertanyaan. Ketika otoritas tidak lagi menjadi tanggung jawab, tetapi berubah menjadi alat untuk menundukkan manusia lain.
Ini merupakan salah satu fenomena tentang bagaimana para atasan melegalkan dan melanggengkan kekuasaan mereka.
Dengan membentuk opini, stigma, dan algoritma yang secara hakikatnya adalah sesuatu yang salah, tetapi terus dibenarkan karena dilakukan secara berulang-ulang. Hingga sampailah pada suatu titik ketika manusia menjadi jenuh untuk mempertanyakannya dan akhirnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Ketahuilah, di zaman ini, kesalahan yang dilakukan berkali-kali dapat berubah menjadi kebenaran. Bukan karena ia benar, tetapi karena manusia telah kehilangan keberanian untuk menyebutnya salah.
Mengkritik bukan berarti melawan, Menyanggah bukan berarti melakukan kekerasan, dan bertanya bukan berarti membangkang.
Budaya mengajarkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua daripada kita, bukan untuk tunduk kepada orang yang lebih tua ketika ia melakukan penindasan terhadap kita!
Guru harus dihargai. Dosen harus dihormati. Tetapi penghargaan dan penghormatan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan kesalahan terus hidup dan berkembang.
Sebab, sejak kapan jabatan lebih tinggi daripada kebenaran? Sejak kapan aturan lebih tinggi daripada keadilan? Dan sejak kapan nilai akademik dapat dijadikan ancaman untuk membungkam manusia yang sedang mempertanyakan sebuah kekeliruan?
Ini bukan semata tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini tentang bagaimana cara kita bersikap dalam menaati peraturan dan menghargai satu sama lain.Sebab, menaati peraturan tidak berarti menutup mata terhadap ketidakadilan.
Menghormati otoritas tidak berarti menyerahkan akal dan nalar kepada kekuasaan.
Itulah mengapa kritikan dianggap begitu penting. Karena kritik berasal dari pertanyaan, dan pertanyaan selalu berangkat dari realitas.
Realitas tidak membutuhkan persetujuan untuk menjadi nyata.Ia hanya membutuhkan keberanian untuk dilihat sebagaimana adanya.
Maka dari itu, kembalikanlah makna kepada asalnya sebelum engkau mengklaim pemaknaan mu sebagai sebuah kebenaran,Jangan jadikan otoritas sebagai pembenaran.
Jangan jadikan jabatan sebagai tameng,Dan jangan jadikan kekuasaan sebagai alasan untuk memperlakukan manusia lain secara tidak manusiawi,karna kekuasaan adalah ujian bagi manusia untuk memanusiakan manusia yang lain.
Metodologi yang patut untuk dikedepankan adalah dialektika. Sebab, kebenaran tidak lahir dari pembungkaman, tetapi dari pertemuan antara pertanyaan, sanggahan, dan realitas.