29 November 2025

Daerah, Gowa, Pendidikan

Gelar Kelas Advokasi 2025, Ketua HIMASOA UINAM Ajak Mahasiswa Tinggalkan Sikap Apatis

ruminews.id, GOWA – Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama (HIMASOA) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menggelar kegiatan Kelas Advokasi 2025. Kegiatan ini berlangsung di Lecture Theatre (LT) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar, Sabtu (29/11/2025). Mengusung tema besar “Bangkit dari Zona Nyaman: Dari Sikap Apatis Menuju Aksi Sosial”, kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis sosial dan strategi advokasi. Hal ini dinilai penting di tengah tantangan zaman yang menuntut mahasiswa untuk tidak sekadar belajar di kelas, tetapi juga turun tangan merespons persoalan masyarakat. Ketua Umum HIMASOA UINAM, Muh. Ridho Risqullah, menekankan pentingnya perubahan pola pikir mahasiswa dari sekadar penikmat kenyamanan menjadi inisiator gerakan sosial. “Kami berharap agar kelas advokasi ini bisa menjadi batu loncatan awal agar para peserta bisa lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini,” ujar Ridho dalam keterangannya. Menurut Ridho, kepekaan sosial adalah modal utama bagi mahasiswa Sosiologi Agama. Melalui pelatihan ini, peserta didorong untuk mengikis sikap apatis dan mulai berani mengambil peran dalam kerja-kerja kemanusiaan dan pendampingan masyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang antusias mendalami materi advokasi. Diharapkan, pasca kegiatan ini akan lahir kader-kader mahasiswa yang kritis dan responsif terhadap dinamika sosial di lingkungan sekitar.

Nasional, Opini, Pemerintahan

Tangisan akar, batangnya di babat habis-habisan

ruminews.id – Platform media sosial dan pusat-pusat diskusi publik baru-baru ini digemparkan oleh laporan mengenai serangkaian peristiwa banjir yang melanda beberapa titik kota di Provinsi Sumatera, mencapai tingkat keparahan yang di luar catatan sejarah. Peristiwa ini dengan cepat melampaui kategori ‘bencana alam biasa’ dan memicu perdebatan sengit mengenai akar penyebabnya. Di tengah masyarakat, muncul dua perspektif utama yang saling berhadapan, namun sejatinya saling melengkapi: yang pertama berfokus pada kekuatan alam, dan yang kedua menyoroti kegagalan ekologis akibat ulah manusia. Satu perspektif yang dominan di awal adalah bahwa banjir masif ini semata-mata merupakan manifestasi dari fenomena alam yang ekstrem, khususnya luapan air sungai yang disebabkan oleh curah hujan yang intensitasnya luar biasa. Namun, perspektif lain yang lebih kritis muncul dan menyajikan argumen yang jauh lebih mendalam dan menyentuh inti permasalahan lingkungan di Sumatera: bahwa bencana ini adalah konsekuensi langsung dari kerusakan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh penebangan pohon besar-besaran (deforestasi) dan alih fungsi lahan yang tak terkendali. Kita menyaksikan genangan yang meluas, arus yang merusak, dan lumpur yang membungkam kehidupan. Ini bukan lagi sekadar air yang tumpah, bukan pula kebetulan alam yang terjadi sesekali. Ini adalah konsekuensi, sebuah gema keras dari perlakuan keji terhadap bumi. Penderitaan di Bawah Kanopi yang Hilang Batang-batang pohon yang tegak dan perkasa, penjaga setia lereng dan hulu sungai. Kini mereka telah tumbang, dibungkam oleh gergaji, diubah menjadi komoditas, dan digantikan oleh monokultur atau hamparan tanah gundul yang tak berdaya. Dalam peristiwa yang terjadi Karl Marx memandang dari lensa teorinya bahwa ini adalah hasil dari kepentingan kelas Borjuis (pemilik modal/alat produksi) yang berupaya memaksimalkan keuntungan. Kepentingan ekonomi ini seringkali mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan daya dukung alam. Bukan hanya karena bencana alam, ada sebuah elegi tersembunyi yang jarang kita dengar: tangisan di bawah akar yang batangnya dibabat habis-habisan. #PrayForSumatera

Bantaeng, Daerah, Pemerintahan, Pemuda, Pendidikan, Uncategorized

Simposium Kepemudaan HmI Cabang Bantaeng 2025

ruminews.id, Bantaeng – Pada tanggal 28 November 2025, Simposium Kepemudaan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bantaeng, resmi digelar dengan mengusung tema “ Literasi Insan Cita :Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT”. Kegiatan ini menghadirkan peserta s dari berbagai latar belakang organisasi kedaerahan, serta narasumber dari Pegiat Literasi, Plh kejaksaan negeri Bantaeng, dan Ketua Badko Sulsel Bidang politik dan demokrasi. Simposium ini menegaskan bahwa pemuda bukan hanya penerus, tetapi aktor utama dalam memastikan masa depan pemerintahan yang lebih bersih, responsif, dan berkeadilan. Simposium ini bertujuan memperkuat jejaring kepemudaan serta mendorong kolaborasi dan membuka peluang bagi pemuda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan berkelanjutan, melalui kegiatan ini, Akbar Fadli selaku ketua Bidang PTKP HmI Cabang Bantaeng, “menegaskan akan terus mengawal roda berjalannya kepemerintahan di kab. Bantaeng, serta mengharapkan lahir komitmen baru yang mendorong kreativitas, kepemimpinan, serta aksi nyata bagi kemajuan daerah dan bangsa.” Dengan kegiatan ini, kami menegaskan kesiapan untuk berkontribusi bagi masa depan Bantaeng yang lebih progresif dan berintegritas.

Scroll to Top