20 November 2025

Daerah, Pare-pare

DPD KNPI Parepare Resmi Dukung Vonny Ameliani Suardi Pimpin KNPI Sulsel

ruminews.id, Pare Pare -DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Parepare menyatakan dukungan penuh kepada Vonny Ameliani Suardi untuk maju sebagai Calon Ketua DPD KNPI Provinsi Sulawesi Selatan pada Musyawarah Daerah (Musda) ke-XVI yang dijadwalkan digelar pada 29 November 2025. Dukungan itu lahir setelah melalui dialog panjang dan pertimbangan matang di internal organisasi, percakapan yang merangkum kegelisahan, harapan, dan pandangan kolektif tentang sosok pemimpin yang layak memandu arah gerak pemuda Sulawesi Selatan ke depan. Dari sekian nama, cahaya yang paling terang bagi Parepare tertuju pada Vonny. Ketua DPD KNPI Parepare, Rasmin Rajab, menegaskan bahwa pilihan mendukung Vonny bukan sekadar keputusan struktural, melainkan sikap yang dipenuhi keyakinan. Menurutnya, Vonny adalah sosok yang menghayati kepemimpinan sebagai pengabdian; seseorang yang membawa jejak rekam yang teruji dan visi yang bertaut erat dengan kebutuhan pemuda masa kini. “Vonny Ameliani Suardi adalah representasi pemimpin yang dibutuhkan KNPI Sulsel hari ini. Ia memiliki kedalaman pengalaman, jaringan yang luas, serta semangat kolaboratif yang mampu merangkul keberagaman pemuda. Parepare melihat beliau sebagai figur yang dapat membawa pembaruan dan penguatan organisasi,” ucap Rasmin, mantap. Rasmin juga menegaskan bahwa DPD KNPI Parepare tidak berhenti pada dukungan moral semata. Mereka siap mengawal jalannya dinamika menuju Musda XVI menjadi bagian dari arus besar konsolidasi pemuda Sulawesi Selatan yang lebih solid, lebih matang, dan lebih progresif. Menurutnya, dukungan kepada Vonny sejalan dengan gelombang aspirasi pemuda dari berbagai daerah aspirasi yang merindukan KNPI dengan wajah baru: lebih modern dalam gagasan, produktif dalam karya, serta terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor. Dengan pernyataan resmi ini, DPD KNPI Parepare menambah deretan daerah yang lebih awal menyatakan sikap mendukung Vonny Ameliani Suardi. Sementara itu, suhu dinamika menuju Musda XVI terus menghangat, menandai babak baru perjalanan organisasi kepemudaan terbesar di Sulawesi Selatan. (*)

Badan Gizi Nasional, Daerah, Nasional, Pemerintahan, Pendidikan, Polewali Mandar

Polemik Perubahan SPMT PPPK Tahap 2 Polman: Dugaan Maladministrasi Menguat, Guru Menuntut Hak dan Transparansi

ruminews.id, Polewali Mandar — Polemik perubahan Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas (SPMT) yang diterima PPPK Tahap 2 Kabupaten Polewali Mandar kembali mencuat setelah para guru mendapati bahwa tanggal SPMT mereka diubah secara sepihak, tanpa penjelasan resmi dan tanpa dasar hukum yang kredibel. Perubahan ini bukan hanya membingungkan, tetapi juga telah berdampak langsung pada penundaan penggajian, sehingga merugikan banyak PPPK yang sudah bekerja sejak awal penugasan. Informasi dari pihak keuangan menyebutkan bahwa SPMT sebelumnya “ditolak sistem” apabila tidak bertanggal 1 Desember. Namun alasan ini semakin memperbesar tanda tanya. Jika sistem memang mengharuskan tanggal 1, mengapa tidak ditetapkan 1 November, mengingat banyak PPPK telah hadir dan melaksanakan tugas sejak awal November? Lebih jauh, Tanggal Mulai Tugas (TMT) telah ditetapkan BKN secara nasional pada 1 Oktober, sehingga sangat tidak logis apabila SPMT justru dimundurkan tanpa memperhatikan kehadiran faktual pegawai. Banyak PPPK mengaku sudah mengajar, sudah menjalankan amanah negara, dan telah mengeluarkan biaya pribadi selama melaksanakan tugas di lokasi penempatan. Namun perubahan SPMT secara mendadak membuat hak gaji mereka tertunda dan masa kerja mereka tidak dihitung sebagaimana mestinya. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya maladministrasi, tindakan administratif tanpa perencanaan yang matang, bahkan potensi konspirasi yang pada kondisi tertentu dapat mengarah pada dugaan tindak pidana korupsi, apabila perubahan dokumen tersebut terbukti menyebabkan kerugian bagi ASN. Atas kondisi tersebut, para PPPK melalui pernyataan sikap ini menyampaikan tuntutan tegas sebagai bentuk keberatan atas kebijakan yang tidak adil dan tidak transparan. Pertama, kami menolak penundaan penggajian PPPK yang terjadi akibat perubahan SPMT yang tidak terencana dan dilakukan tanpa dasar administratif yang jelas. Guru telah bekerja, dan hak mereka tidak boleh ditahan karena kesalahan birokrasi. Kedua, kami meminta pemerintah segera menerbitkan SPMT sesuai tanggal masuk kerja atau kehadiran nyata di lokasi penugasan. SPMT harus merepresentasikan fakta lapangan, bukan ditentukan berdasar alasan teknis yang tidak dapat diverifikasi. Ketiga, kami mendesak pemerintah menjamin kepastian pembayaran gaji pertama secara tepat waktu, khususnya bagi PPPK yang telah bekerja dan menanggung biaya pribadi selama melaksanakan tugas. Keempat, kami menuntut transparansi penuh dan komunikasi yang jelas terkait perubahan administrasi SPMT agar tidak lagi merugikan PPPK, baik di Polewali Mandar maupun di seluruh Indonesia. Kelima, kami meminta adanya skema kompensasi atau solusi administratif bagi PPPK yang telah mengeluarkan biaya pribadi selama masa penugasan akibat tertundanya hak gaji yang seharusnya mereka terima. Polemik SPMT ini tidak lagi sekadar persoalan administratif, melainkan menjadi ujian terhadap integritas birokrasi daerah. Pertanyaan yang kini menggantung adalah apakah ini sekadar kesalahan teknis, atau justru indikasi penyimpangan sistemik yang harus segera diusut oleh Inspektorat dan Ombudsman?

Daerah, Pinrang, Uncategorized

Dukungan Mengalir: KNPI Pinrang Beri Rekomendasi Resmi untuk Vonny Ameliani Suardi

ruminews.id – Pinrang, Dukungan ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari percakapan panjang, dari ruang-ruang diskusi, dari timbang rasa para pengurus dan tokoh pemuda Pinrang yang menginginkan figur terbaik bagi masa depan organisasi. Dalam kesenyapan perenungan itu, nama Vonny mengemuka sebagai cahaya yang menyatukan harapan. DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pinrang secara resmi menyatakan dukungan kepada Vonny Ameliani Suardi untuk maju sebagai Calon Ketua DPD KNPI Provinsi Sulawesi Selatan pada Musyawarah Daerah (Musda) ke-XVI yang akan digelar pada 29 November 2025. Salman, salah satu pengurus DPD KNPI Pinrang, menjelaskan bahwa dukungan ini diberikan karena Vonny dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat, rekam jejak organisasi yang jelas, serta komitmen terhadap agenda besar pemberdayaan pemuda di Sulawesi Selatan. “Vonny Ameliani Suardi adalah figur yang tepat untuk memimpin KNPI Sulsel. Ia memiliki pengalaman, jaringan, dan visi yang relevan untuk membawa KNPI lebih inklusif dan progresif. Pinrang melihat beliau sebagai sosok pemersatu yang bisa merangkul seluruh elemen kepemudaan,” ujar Salman. Lebih jauh, Salman menegaskan bahwa DPD KNPI Pinrang tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga siap mengambil peran aktif dalam mengawal proses hingga Musda berlangsung. Ia berharap momentum Musda XVI menjadi ajang konsolidasi dan penguatan kembali gerakan pemuda di tingkat provinsi. Dukungan terhadap Vonny juga disebut sejalan dengan aspirasi banyak pemuda daerah yang menginginkan perubahan arah kepemimpinan KNPI Sulsel ke arah yang lebih modern, produktif, dan kolaboratif. Dengan keluarnya rekomendasi ini, DPD KNPI Pinrang menjadi salah satu daerah yang lebih awal menyatakan sikap mendukung Vonny Ameliani Suardi. Sementara itu, rangkaian dinamika menuju Musda XVI diperkirakan akan semakin menguat menjelang akhir tahun 2025. (*)

Daerah, Makassar, Opini, Pendidikan

Hantu-Hantu Yang Bergentayangan Di Kampus

ruminews.id – Budaya senioritas didalam kampus masih marak terjadi, tempat yang semestinya menghadirkan pemikiran-pemikiran pembaharu, malah menjadi sarang orang-orang kolot yang gemar melakukan perpeloncoan. Fenomena ini mungkin terjadi di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Di Indonesia budaya senioritas berkonotasi negatif, ia sering dikaitkan dengan kegiatan perpeloncoan. Perpeloncoanberasal dari bahasa Jawa “pelonco” (kepala gundul), namun maknanya menjadi meluas ke arah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. biasanya perpeloncoan dialami oleh mahasiswa baru (Maba) yang sedang menjalani masa orientasi. Tidak hanya bagi maba, tindakan kekerasan ini akan dirasakan oleh siapapun yang statusnya sebagai junior. Akar sejarah kekerasan ini dimulai pada tahun 1700an, Di Amerika Serikat, Susan Lipkins dalam bukunya Menumpas Kekerasan Pelajar dan Mahasiswa Menghentikan Perpeloncoan di Sekolah (2016). Menjelaskan bahwa kegiatan sejenis ospek terjadi ketika para mahasiswa Oxford University berkunjung ke Harvard sekitar 1700-an. Mereka memperkenalkan fagging–murid muda melayani murid yang lebih tua atau senior. Inilah awal budaya senioritas tumbuh di dalam kampus. ​Di Indonesia perpeloncoan terdeteksi mulai ada pada tahun1898 hingga 1927 ketika masa kolonialisme belanda diSchool tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Indonesia (UI). Pada masa itu, orientasi studi juga dijadikan sebagai suatu ajang perpeloncoan senior kepada juniornya. Hingga sekarang, di era pasca reformasi dimana demokrasi yang menjadi DNA-nya yang salah satu tujuannya adalah menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), masih sangat marak terjadi tindak perpeloncoan di dalam kampus. Padahal pada tahun 1998 salah satu elemen yang meruntuhkan kediktatoran rezim militerisme Soeharto ialah Mahasiswa itu sendiri. Namun, bagaimana mungkin praktik yang mengungkung kebebesan yang tidak sejalan dengan tujuan Demokrasi itu bisa masih tumbuh subur di dalam kampus. Kampus yang seharusnya menjadi tempat orang-orang kritis yang dipersiapkan untuk menciptakan perubahan sosial ke arah yang lebih berkeadilan justru banyak mempertontonkan tindakan yang tidak sewajarnya, dan juga akan sangat berpengaruh bagi masyarakat serta generasi kedepannya. Dikutip dari laman gramediablog.com  “Sebetulnya kegiatan orientasi studi serta pengenalan kampus ini telah ada sejak lama. Pada tahun 1898 hingga 1927, ospek ini telah diterapkan disalah satu institusi pendidikan yang ada yaitu diantaranya pada STOVIA, yang mana kampus ini kemudian berubah menjadi Universitas Indonesia setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, orientasi studi ini dijadikan sebagai suatu ajang perpeloncoan senior kepada juniornya. Lalu, pada tahun 1927 sampai 1945 terdapat perubahan dalam pelaksanaan orientasi studi serta pengenalan kampus itu. Institutie Geneeskundige Hogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) juga melakukan ospek dengan lebih formal serta sifatnya tidak memaksa pada mahasiswa baru, jadi hanya akan dihadiri oleh mahasiswa baru yang mau mengikuti kegiatan itu saja”. Namun secara sinoptik hari ini masih banyak kejadian atau peristiwa yang sering kali kita temui terkait perpeloncohan dan kekerasan dalam masa ospek. Hal tersebut dapat saya simpulkan bahwa arogansi dari penyelengaralah yang menjadi masalah dasar kenapa hal tersebut bisa kita jumpai dengan mudahnya, ospek yang hari ini  saya sebut sebagai bagian dari kekerasan hanyalah implementasi dari budaya militerisme yang merasuk dalam batang tubuh organisasi kampus sebagai penyelengara ospek. Senioritas adalah hasil dari reaksi antara budaya konservatis dan militerialisme dalam organisasi kampus maka saya menyatakan budaya ini harusnya kita tinggalkan sebelum banyak korban akibat budaya ini, sebagai penutup saya mengutip sedikit keresahan kawan-kawan yang belum berani mengatakan tidak pada senioritas ini, biarkan saja ketakutan datang saat petang tapi jangan sampai saat fajar datang kita tak berani menyerukan kebenaran atas penderitaan dan ketakutan yang kita alami. Tapi realitasnya yang terjadi sekarang beberapa oknum mengatas namakan dan menenteng alibi-alibi pemberanan hanya untuk mempengaruhi dan mengambil kontrol terhadap juniornya, apalagi kalo bukan arogansi semata dan mencaplok gelar kakanda terhormat.  Saya mencoba lebih reflektif dengan keresahanku ini, karena saya yakin, saya tidak sendiri tapi saya mencoba menyampaikan melalui tulisan ini terkait keresahan yang mungkin dirasakan hampir semua mahasiswa baru, mau dia kaya-miskin, laki-perempuan, konglomerat-konglomelarat. Dan tentunya sudah banyak yang mengkritik budaya ini bukan hanya saya pribadi, hanya saja ketakutanku akan dianggap heroik bagi para pembaca. Jika kalian yang menganggap hal yang saya lakukan adalah sebuah perlawanan, maka saya katakan hal ini adalah kerja spontanitas dari keresahan saya untuk menyampaikan jeritan tentang budaya mahasiswa, sebab budaya perpeloncohan mestinya hanyut bersama  sejarah dan diluapkan oleh dentuman waktu. Namun naasnya budaya ini masih  dilanggengkan, sehingga hari ini ia masih bertahan dan dianggap relevan. Untuk kalian-kalian atau mereka-mereka yang meresahkan keresahan yang hampir serupa maka kita adalah kawan untuk melawan.

Uncategorized

Vonny Ameliani: Pilihan BKPRMI Sulsel untuk Nahkoda KNPI, Berbekal Jejak Keagamaan yang Menyentuh Hati

ruminews.id – Makassar, Bursa kepemimpinan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan semakin memanas dengan munculnya nama Vonny Ameliani yang kini resmi mendapat rekomendasi kuat dari Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Selatan. Dukungan ini bukan sekadar endorsement biasa, melainkan sebuah pengakuan atas rekam jejak dan dedikasi Vonny Ameliani, khususnya dalam memajukan program-program keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ketua Umum BKPRMI Sulawesi Selatan, Asri Said, dengan tegas menyuarakan dukungannya. Dalam pernyataannya, Asri Said menyoroti secara spesifik kinerja Vonny Ameliani selama menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan. “Selama beliau menjadi anggota DPRD Sulsel, banyak program dalam bidang keagamaan yang sangat menyentuh masyarakat,” ungkap Asri Said, menjelaskan alasan fundamental di balik rekomendasi BKPRMI. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pilihan BKPRMI bukan semata pertimbangan politik pragmatis, melainkan sebuah apresiasi mendalam terhadap komitmen Vonny Ameliani dalam merajut nilai-nilai keagamaan dengan pembangunan sosial. Program-program keagamaan yang ia inisiasi dan dukung selama di legislatif, mulai dari peningkatan sarana ibadah, pemberdayaan majelis taklim, hingga fasilitasi kegiatan dakwah dan pendidikan agama, telah terbukti meninggalkan jejak positif yang dirasakan langsung oleh komunitas di berbagai daerah. Seorang Pemimpin dengan Nadi Keagamaan dan Sosial Vonny Ameliani dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu kemasyarakatan. Latar belakangnya sebagai legislator memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika kebijakan publik dan kebutuhan riil masyarakat. Namun, yang membuatnya menonjol di mata BKPRMI adalah kemampuannya mengintegrasikan dimensi spiritual dan moral dalam setiap program yang digagas. Dukungan dari BKPRMI Sulsel, sebuah organisasi kepemudaan berbasis masjid yang memiliki jaringan luas hingga ke pelosok desa, tentu menjadi modal politik dan sosial yang sangat berarti bagi Vonny Ameliani. Ini menunjukkan bahwa ia mampu merepresentasikan aspirasi tidak hanya dari kalangan pemuda secara umum, tetapi juga segmen pemuda yang memiliki keterikatan kuat dengan nilai-nilai agama dan peran masjid sebagai pusat kegiatan sosial-keagamaan. Membangun Jembatan antara Pemuda, Agama, dan Pembangunan Rekomendasi ini sekaligus mengirimkan pesan kuat tentang visi kepemimpinan yang diharapkan oleh BKPRMI untuk KNPI Sulawesi Selatan. Mereka menginginkan seorang pemimpin yang tidak hanya piawai dalam berorganisasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keberpihakan pada nilai-nilai luhur, khususnya agama, sebagai fondasi pembangunan karakter pemuda. Dengan rekam jejak yang solid dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan, Vonny Ameliani dipandang mampu membawa perspektif baru dan energi positif bagi kepemudaan Sulawesi Selatan. Ia diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung yang efektif antara berbagai elemen pemuda, merangkul keberagaman, dan mengarahkan potensi pemuda untuk berkontribusi secara nyata dalam menciptakan Sulsel yang lebih maju, religius, dan berdaya saing. Momentum krusial ini menempatkan Vonny Ameliani sebagai salah satu kandidat kuat dalam perebutan kursi DPW KNPI Sulsel, dengan bekal dukungan moril dan strategis dari organisasi sebesar BKPRMI. Perjalanan menuju kepemimpinan KNPI Sulsel ke depan dipastikan akan semakin menarik untuk dicermati, dengan harapan lahirnya pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan nyata bagi pemuda Sulawesi Selatan.  

Scroll to Top