Pendar dari Outbond dan Orientasi DPD Golkar Sulsel: ​Hei Kader Baru, Cukuplah Dengan Dua Alasan Tambahan Itu!

Admin01
Jumat, 6 November 2026 • 21:13 WITA
Pendar dari Outbond dan Orientasi DPD Golkar Sulsel: ​Hei Kader Baru, Cukuplah Dengan Dua Alasan Tambahan Itu!

Penulis: Yusuf Said

Ruminews.id — Saya kader baru. Resmi bergabung dengan Golkar pada 2026. Dalam struktur kepengurusan di bawah kepemimpinan Kakak Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sebagai Ketua DPD Golkar Sulsel. Saya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini.

Sejujurnya, saya sempat berulang kali mencari alasan yang lebih mendalam: mengapa saya terpanggil bergabung di bawah beringin rindang ini?

Jadi, jika tulisan ini terasa agak panjang, itu karena saya sedang menuliskannya untuk merenungi perjalanan pribadi saya sendiri—sekaligus menyajikannya bagi Anda yang berkenan meluangkan waktu sejenak untuk membaca.

Beberapa rekan dengan karakter menepi dari sorot kamera kerap merasa tak pas berada di organisasi politik seperti Golkar, yang orientasinya terang-benderang: kekuasaan.

Gelanggang ini dianggap lebih cocok bagi mereka yang terbiasa berselancar di depan layar dan berdiri gagah di atas panggung.

Saya pun tadinya berpikiran demikian. Rekam jejak 13 tahun di dunia jurnalistik membentuk pola kerja saya.

Sepanjang masa itu, saya dan beberapa rekan seprofesi bahkan jarang memajang kartu identitas media di dada; ID card itu lebih sering mengendap di dompet atau terselip di bawah jok motor.

Setelahnya, selama lebih dari satu dekade, saya berdiri mengomandoi kerja-kerja publikasi dan strategi pencitraan—mulai dari Kontestasi Pilkada Kabupaten/Kota, Pemilihan Gubernur, hingga Caleg DPR RI.

Di saat yang sama, persahabatan saya dengan IAS yang terjalin sejak 2002 terus berlanjut hingga hari ini.

Melintasi berbagai pasang surut perjuangan, tanpa pernah terputus atau berjarak. Namun sekali lagi, seluruh pengabdian itu selalu dilakukan dari balik layar.

Maka ketika peluang bergabung dengan Golkar terbuka, alasan awal saya terasa sangat sederhana: magnet personal seorang IAS dan serpihan perjuangan yang belum tuntas.

Sebelumnya, jangankan berangan-angan berburu kursi legislatif atau eksekutif, bermimpi masuk partai politik pun tak pernah terlintas di benak saya.

Latar belakang itulah yang membentuk prinsip saya untuk tidak mudah silau oleh pangkat, jabatan, maupun materi—sebuah ikhtiar hidup yang kadang berhasil, meski tak jarang menemui ujian.

Namun, ketika seseorang hadir menawarkan pesona nilai dan ketulusan, selalu ada daya tarik yang memanggil saya untuk melangkah bersama. Itu ada pada sosok IAS.

Hingga akhirnya, saat Outbond dan Orientasi DPD Golkar Sulsel digelar di Malino pada 29–30 November 2026, jawaban yang lebih dalam dan utuh itu hadir menyapa.

Armin Mustamin Toputiri—rekan diskusi para jurnalis politik Sulsel era 2010-an, termasuk saya—selalu mampu menumpahkan isi kepala dengan berapi-api setiap kali bicara tentang ke-Golkar-an.

Hari kedua outbond itu, sesi materi Ke-Golkar-an yang dibawakan Kak Armin mengalir hangat dengan panduan Nasruddin Upel selaku moderator.

Diskusi berlangsung panjang dan bernas. Meski vitalitas suara Kak Armin tak lagi sestabil bertahun-tahun lalu, bobot pemikirannya sama sekali tidak surut.

Sambil menunjukkan buku Golkar: Sejarah Yang Hilang karya David Reeve, Kak Armin memetik intisari penting di dalamnya.

Reeve mengungkapkan bahwa akar pemikiran Golkar telah digagas oleh para Pahlawan Nasional sejak era 1940-an—di antaranya Soepomo, Sukarno, dan Ki Hadjar Dewantara.

Gagasan besarnya adalah menyatukan masyarakat berbasis fungsi dan karya profesi, bukan mengotakkannya dalam sekat ideologi yang memecah belah.

Kebesaran nama para perancang gagasan tersebut menjadi pengingat berharga bagi kita para kader—terkhusus kader baru.

Kita tidak dituntut untuk serta-merta menyamai kebesaran mereka. Namun minimal, kita mampu meresapi dan menangkup nilai-nilai pengorbanan mereka demi bangsa, seraya menjauhkan diri dari sikap menjadi pahlawan kesiangan.

Sekber Golkar kemudian lahir pada 1964 sebagai ikhtiar nyata menyelamatkan bangsa dari krisis disintegrasi dan perpecahan politik.

Inilah fondasi pembeda Golkar dengan partai lain: Golkar lahir bukan demi ambisi kelompok atau segelintir elite, melainkan sebagai rumah bersama yang inklusif untuk merawat persatuan melalui karya nyata.

Filosofi ini pulalah yang melandasi hadirnya kata Golongan dalam nama partai ini.

Filosofi “Golongan” ini menegaskan kembali sebuah pesan moral: di bawah naungan beringin rindang, tak perlu menyikut atau menonjolkan latar belakang primordial hanya untuk diakui.

Anda tidak perlu cemas kehilangan ruang hanya karena berasal dari Muhammadiyah, NU, atau ormas keagamaan lainnya. Anda juga tak perlu takut terkucilkan hanya karena melangkah dari ormas kepemudaan yang baru.

Cita-cita agung para pendiri Golkar menjamin kesetaraan ruang bagi siapa saja yang mau berkarya.

Dua fondasi sejarah dan filosofi di atas sungguh menjadi penjelas yang menguatkan alasan tambahan saya berlabuh di Golkar.

Di arena outbond itu pula, Ketua DPD Golkar Sulsel kembali menegaskan doktrin Karya-Kekaryaan yang telah menjiwai tumbuh kembang partai ini.

Ukuran keberadaan dan martabat Anda sebagai keluarga besar Golkar terletak pada konkretnya karya yang Anda persembahkan.

Ini adalah ekosistem yang sehat. Sistem yang idealnya juga mampu mengenali dan menghargai kontribusi para kader yang berkarakter tenang—mereka yang memilih setia menjadi penopang bagi rekan-rekan di depan layar.

Sebab, kejayaan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling tampak di panggung, tetapi oleh siapa yang memberi dampak nyata di dasar fondasi.

​Pukul 23.00 WITA pada malam terakhir outbond, dalam keheningan yang khidmat, saya mencium bendera Merah Putih dan bendera Golkar.

Sebuah rasa haru yang mendalam menyeruak di dada.

Malam itu, saya merasa melangkah dengan dada lapang. Saya telah menggenggam dua alasan mendasar yang utuh: bahwa Golkar digagas oleh para pahlawan nasional dan didirikan untuk menyelamatkan persatuan bangsa.

Cukuplah dua alasan itu menjadi kompas bagi perjalanan saya sebagai kader Golkar.

Terima kasih kepada Ketua DPD Golkar Sulsel serta seluruh panitia pelaksana Outbond dan Orientasi DPD Golkar Sulsel.

Untuk Kak Armin: suara boleh saja serak, namun pendar nilai dari pemikiran Kakak sungguh sarat dan menembus sanubari!

RUMINEWS

Membuka berita...