Penulis : M. Agusman – Sekretaris Umum HMI Cab. Sinjai
ruminews.id – Di kala senja yang bersinar jingga, membelah lautan awan dan langit biru, aku memacu kendaraan menjauhi batas hiruk-pikuk tungku raksasa ini menuju sebuah portal usang di ujung jalan, sebuah landasan sunyi yang tak lagi menerbangkan apa pun selain sisa-sisa ingatan. Angin sore yang menerpa wajah seolah tak pernah cukup kuat untuk menyapu aroma debu, karat, dan kelelahan yang menempel di kulit.
Secara fisik, punggung kita perlahan menjauhi deru alat berat dan pekatnya asap, namun di dalam kepala, aku masih terus tersandera oleh realitas absurd yang baru saja kutinggalkan.
Resapi sejenak apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Di balik konstruksi baja yang memenjarakan langit ini, kita menjadi saksi atau barangkali pelaku dari sebuah teater tragedi yang berjalin liar. Di satu sudut lorong bising yang pengap, ada sepasang tatapan lelah yang tiba-tiba bertaut. Itu bukan romansa dari negeri dongeng. Itu adalah keputusasaan dua anak manusia yang saling mencari suaka dari kesepian yang menggila, mengais kehangatan instan di tempat yang paling menguras kewarasan.
Dan di bilik-bilik yang lebih gelap, kepenatan rutinitas melahirkan insting yang lebih banal. Janji-janji setia yang disematkan dari kampung halaman menguap menjadi debu, ditukar dengan bisik syahwat dan niat serong di sela di pertukaran shift, di lorong-lorong atau gang kecil di keramaian kost yang bertebaran.
Perselingkuhan di sini sering kali bukan lagi soal cinta, melainkan semacam anestesi atau obat bius murahan agar kita lupa bahwa jiwa kita sedang dieksploitasi oleh waktu.
Udara yang kita hirup di sini pun dipenuhi racun dari niat-niat terselubung. Di balik ramahnya senyum saat berpapasan atau tepukan hangat di pundak rekan kerja, tersimpan kalkulasi dingin yang penuh misteri. Kita dipaksa hidup berdampingan dengan intrik; menjilat ke atas, menginjak ke bawah, hingga merancang sabotase karakter hanya agar tak terbuang dari sistem. Di arena ini, keluguan adalah dosa, dan empati dianggap kelemahan. Kawan sejawat yang hari ini membagi sebatang rokok bersamamu, besok bisa dengan mudah menjadikanmu batu pijakan karirnya. Kita semua saling memangsa dalam keheningan, tersenyum sopan sambil menyembunyikan belati di balik punggung.
Di sela-sela keheningan perjalanan menuju portal usang ini, memori tentang rumah tiba-tiba menyusup menggedor dada dengan rasa ngilu yang aneh. Sadarkah kita, semakin lama kita terjebak dalam pusaran baja ini, “rumah” terasa semakin berjarak? Rumah bukan lagi sekadar bangunan fisik di seberang lautan, melainkan tentang seseorang yang menanti, tentang hubungan bertahun-tahun yang dijaga mati-matian, dan tentang mimpi-mimpi kecil untuk membangun sesuatu yang sederhana namun hangat di masa depan, jauh dari bisingnya sirene pabrik.
Ada ketakutan eksistensial yang menjalar diam-diam. Jangan-jangan, ketika kita menukar waktu dan kewarasan demi mengamankan masa depan, kita justru perlahan mengasingkan diri dari orang-orang yang menjadi alasan utama kita berjuang sejak awal.
Lalu, bagaimana kita bisa selamat dari labirin ini tanpa harus kehilangan jiwa? Jawabannya justru ada pada hal yang paling sering diabaikan di industri ini, yaitu merawat empati. Menjaga kewarasan di tengah huru-hara tidak bisa dicapai dengan ikut mematirasakan hati atau menjadi apatis. Saat kita membiarkan simpati mati, saat kita mengizinkan diri menjadi sama dinginnya dengan material logam yang diproses setiap hari, saat itulah sistem ini menang seutuhnya. Ia tidak hanya mengambil tenaga, tapi menelan habis kemanusiaan kita.
Kita harus berani mengambil jeda untuk merenung, menolak tunduk menjadi sekadar sekrup tak bernyawa dalam mesin raksasa.
Tetaplah berani menatap mata rekan kerjamu bukan sebagai saingan atau alat pemenuh target, melainkan sebagai sesama musafir yang juga memikul rindu, beban, dan rahasianya masing-masing. Di tengah ekosistem yang mereduksi manusia menjadi sekadar angka, tetap memilih untuk menjadi manusia yang berempati adalah bentuk perlawanan dan pemberontakan yang paling nyata.
Maka, kubiarkan senja jingga ini perlahan temaram, menggantikan deru mesin dengan sepi yang menenangkan di ujung jalan ini. Perjalanan menembus batas industri adalah pengingat yang keras, bahwa sehebat apa pun peradaban baja dibangun, ia tak akan pernah bisa menggantikan satu hal yang membuat kita tetap bernapas lega, Hati Nurani yang Terjaga.