OPINI

MABA Mesti Menjadi Mahasiswa Kritis, Responsif dan Progresif

Penulis : Farhan – Anggota HMI KOMDAK

Ruminews.id – MENJADI mahasiswa bukan sekadar mendapatkan kartu tanda mahasiswa, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, lalu lulus kemudian pulang. Kampus seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mempertanyakan sesuatu, menguji kebenaran, membaca persoalan masyarakat, dan membangun keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang keliru memang mesti dikoreksi. Ucap Kurniawan akrab di sapa Wawank (Ketum HMI Komdak Cagora).

Karena itu, mahasiswa kritis bukan mahasiswa yang paling sering berteriak di demonstrasi. Ia juga bukan orang yang setiap hari mencaci pemerintah di media sosial. Mahasiswa kritis adalah orang yang tidak mudah menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh dosen, pejabat, tokoh agama, senior organisasi, atau bahkan kelompoknya sendiri.

Kampus adalah wadah bagi Mahasiswa tempat mereka di tempa, di bina dan di bentuk sehingga membawa Transformasi positif, bukan wadah penguyuban tapi Laboratorium produksi ilmu pengetahuan.

Mahasiswa juga mesti rajin membuka lembaran buku. Mustahil seseorang mempunyai pikiran kritis jika bahan pikirannya hanya berasal dari potongan video, judul berita, unggahan Instagram, ataupun percakapan WhatsApp. Media sosial bisa menjadi pintu masuk informasi, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Pungkasnya

Hal lain yang sering dilupakan adalah turun melihat kenyataan. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi kritikus dari balik layar laptop. Jika ingin berbicara tentang kemiskinan, temui masyarakat miskin. Jika ingin membahas pendidikan, datang ke sekolah. Jika ingin membahas petani, dengarkan petani. Rasakan sendiri bagaimana masyarakat berhadapan dengan birokrasi.

Pada akhirnya, mahasiswa kritis membutuhkan tiga hal: pikiran yang terbuka, keberanian untuk bertanya, dan disiplin untuk mencari kebenaran. Ia tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menuduh. Ia tidak takut kepada kekuasaan, tetapi juga tidak membenci kekuasaan.

Di tengah kampus yang semakin pragmatis, menjadi mahasiswa kritis mungkin tidak selalu menguntungkan. Ada kalanya kritik membuat seseorang tidak disukai, kehilangan kesempatan, atau dianggap merepotkan bahkan terancap DO. Tetapi justru di situlah nilai mahasiswa diuji.

Sebab kampus bukan hanya tempat mencetak uang dan orang yang siap bekerja. Kampus seharusnya juga mencetak manusia yang mampu berpikir ketika orang lain hanya mengikuti, mampu bertanya ketika orang lain memilih diam, dan mampu mengatakan tidak ketika sesuatu memang tidak benar.

Mahasiswa boleh gagal menjadi aktivis. Tetapi jangan sampai gagal menjadi manusia yang berpikir.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (6)
Setelah Keracunan, Siapa Memulihkan Korban MBG?
Muzakkir (4)
Pa’belu/Ma’belu di Selayar: Bukan Sekadar Perayaan Maulid, tetapi Ruang Saling Mengenal dan Merawat Silaturahmi
Muzakkir (3)
Mencari Kembali Identitas KOHATI di Tengah Krisis Kaderisasi Perempuan HMI
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260904_095057_0000
Menjelang Milad KOHATI: Relevan atau Sekadar Pelengkap Struktur Organisasi?
Muzakkir (1)
PBAK Bukan Panggung Organisasi Eksternal: Ketika Ruang Fakultas Diperebutkan Secara Sektoral
Muzakkir (6)
Kampus Ruang Kritis, Bukan Pabrik Ketundukan: Membaca Pembungkaman di PBAK UIN Alauddin Makassar 2026
Muzakkir (5)
Kepemimpinan Perempuan dalam UMKM Desa
Muzakkir (4)
Mendobrak Stereotip Terhadap Kepemimpinan Perempuan
Muzakkir (3)
Politik Fear Appeal: Hegemoni Kampus Meredam Mahasiswa Sejak Dini
UIN Alauddin Makassar
Bukankah Kampus Adalah Rumah Bagi Akal yang Sedang Gelisah, atau Rumah bagi Kekerasan!
Scroll to Top