OPINI

Pa’belu/Ma’belu di Selayar: Bukan Sekadar Perayaan Maulid, tetapi Ruang Saling Mengenal dan Merawat Silaturahmi

Penulis : M. Fadel Baharuddin – Mahasiswa UINAM

Ruminews.id, Selayar — Tradisi Pa’belu atau Ma’belu yang hidup di tengah masyarakat Selayar bukan sekadar rangkaian perayaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi ruang sosial bagi masyarakat untuk saling bertemu, mengenal satu sama lain, mempererat hubungan kekeluargaan, serta merawat silaturahmi yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakatDi tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, tradisi seperti Pa’belu/Ma’belu memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu suasana kebersamaan. Mereka yang sehari-hari mungkin jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, kembali memiliki kesempatan untuk duduk bersama, berbincang, dan saling menyapa.

Dalam konteks masyarakat Selayar, pertemuan semacam ini menjadi bagian penting dari cara masyarakat mempertahankan hubungan sosial. Pa’belu/Ma’belu menghadirkan ruang untuk membangun kembali kedekatan yang mungkin mulai renggang akibat jarak, kesibukan, maupun perubahan kehidupan sosial.

Tradisi tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk saling mengenal lebih dekat. Tidak hanya antara keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan, tetapi juga antara tetangga, sahabat, tokoh masyarakat, generasi muda, hingga masyarakat dari lingkungan yang berbeda.

Di sanalah nilai utama Pa’belu/Ma’belu dapat ditemukan. Perayaan bukan hanya tentang apa yang disajikan atau bagaimana sebuah kegiatan dilaksanakan, tetapi tentang siapa yang hadir dan bagaimana pertemuan itu mampu menciptakan kembali rasa kebersamaan.

“Pa’belu/Ma’belu bukan sekadar perayaan Maulid. Ini adalah momen untuk saling mengenal, saling mengunjungi, dan menjaga silaturahmi,” menjadi gambaran sederhana mengenai nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Nilai silaturahmi yang hadir dalam Pa’belu/Ma’belu juga memiliki hubungan erat dengan semangat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Keteladanan Rasulullah dalam membangun hubungan antarmanusia, menjaga persaudaraan, serta memperlakukan sesama dengan baik menjadi nilai yang secara tidak langsung tercermin dalam kebersamaan masyarakat ketika tradisi ini dilaksanakan.

Bagi generasi muda Selayar, keberadaan Pa’belu/Ma’belu juga dapat menjadi ruang pembelajaran budaya. Tradisi tidak hanya diwariskan dalam bentuk kegiatan, tetapi juga melalui pengalaman langsung ketika generasi muda ikut hadir, berinteraksi, dan memahami makna di balik pelaksanaannya.

Hal ini menjadi penting di tengah perubahan zaman yang membuat banyak tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Ketika sebuah tradisi hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan, ada risiko nilai yang terkandung di dalamnya perlahan kehilangan makna.

Sebaliknya, ketika masyarakat memahami bahwa di balik tradisi terdapat nilai persaudaraan, gotong royong, penghormatan, dan silaturahmi, maka tradisi tersebut akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Pa’belu/Ma’belu pada akhirnya menjadi gambaran bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk benda atau peninggalan sejarah. Kebudayaan juga hidup melalui interaksi manusia, melalui kebiasaan untuk saling mengunjungi, melalui percakapan antargenerasi, dan melalui kesempatan untuk kembali mempererat hubungan yang telah lama terjalin.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Selayar memiliki cara tersendiri dalam menjaga ikatan sosial. Di tengah perkembangan teknologi dan komunikasi digital yang memungkinkan seseorang berkomunikasi tanpa harus bertemu secara langsung, kehadiran tradisi seperti Pa’belu/Ma’belu mengingatkan bahwa pertemuan secara langsung tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Sebab, silaturahmi bukan hanya tentang bertukar pesan atau mengetahui kabar seseorang dari kejauhan. Silaturahmi juga tentang hadir, bertemu, berbicara, mendengarkan, dan merasakan kebersamaan secara nyata.

Karena itu, menjaga Pa’belu/Ma’belu berarti bukan hanya mempertahankan sebuah tradisi masyarakat Selayar, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Ia menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat bahwa kehidupan tidak hanya dibangun oleh hubungan individual, tetapi juga oleh hubungan antarmanusia.

Pada akhirnya, Pa’belu/Ma’belu dapat dimaknai sebagai sebuah perayaan yang mempertemukan agama, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat dalam satu momentum. Maulid menjadi latar perayaannya, tetapi silaturahmi menjadi salah satu nilai yang membuat tradisi tersebut tetap hidup.

Di tengah perubahan zaman, saya M. Fadel Baharuddin sangat apresiasi pesan yang dibawa Pa’belu/Ma’belu menjadi semakin relevan: mengenal satu sama lain, menjaga hubungan, dan merawat persaudaraan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Sebab tradisi akan terus hidup bukan hanya karena dilaksanakan setiap tahun, tetapi karena masyarakat masih menemukan makna di dalamnya. Dan bagi masyarakat Selayar, Pa’belu/Ma’belu adalah salah satu ruang untuk terus merawat makna tersebut—dengan bertemu, mengenal, dan menjaga silaturahmi.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (3)
Mencari Kembali Identitas KOHATI di Tengah Krisis Kaderisasi Perempuan HMI
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260904_095057_0000
Menjelang Milad KOHATI: Relevan atau Sekadar Pelengkap Struktur Organisasi?
Muzakkir (1)
PBAK Bukan Panggung Organisasi Eksternal: Ketika Ruang Fakultas Diperebutkan Secara Sektoral
Muzakkir (6)
Kampus Ruang Kritis, Bukan Pabrik Ketundukan: Membaca Pembungkaman di PBAK UIN Alauddin Makassar 2026
Muzakkir (5)
Kepemimpinan Perempuan dalam UMKM Desa
Muzakkir (4)
Mendobrak Stereotip Terhadap Kepemimpinan Perempuan
Muzakkir (3)
Politik Fear Appeal: Hegemoni Kampus Meredam Mahasiswa Sejak Dini
UIN Alauddin Makassar
Bukankah Kampus Adalah Rumah Bagi Akal yang Sedang Gelisah, atau Rumah bagi Kekerasan!
Muzakkir (3)
Guru Besar Tunduk Dihadapan Militer, Mahasiswa Baru Diancam DO
IMG-20260902-WA0083
Ketika Sanggahan Dimaknai sebagai Kekerasan
Scroll to Top