OPINI

Mencari Kembali Identitas KOHATI di Tengah Krisis Kaderisasi Perempuan HMI

Penulis: Muhriani – KETUA UMUM KOHATI Komisariat Pertanian HMI Cabang Makassar Timur

ruminews.id – Di tengah dinamika organisasi yang terus berkembang, KOHATI sebagai Korps HMI-Wati dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, yaitu krisis kaderisasi perempuan. Persoalan ini tidak hanya terlihat dari berkurangnya partisipasi kader dalam proses pembinaan, tetapi juga melemahnya pemahaman terhadap identitas dan tujuan utama KOHATI sebagai ruang pengembangan intelektual, kepemimpinan, dan perjuangan perempuan dalam Himpunan Mahasiswa Islam. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kaderisasi harus melahirkan kesadaran ideologis, bukan sekadar memenuhi agenda organisasi.

Hakikat KOHATI sejak awal adalah mencetak perempuan yang berpengetahuan, mandiri, dan memiliki keberanian mengambil peran di tengah masyarakat. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa sebagian kader masih memandang KOHATI hanya sebagai pelengkap organisasi, sehingga semangat untuk membaca, berdiskusi, dan berproses semakin memudar. Jika kondisi ini terus dibiarkan, KOHATI berisiko kehilangan ruh perjuangannya sebagai ruang pembentukan kader perempuan yang berkualitas.

Krisis kaderisasi juga dipengaruhi oleh perubahan zaman. Arus media sosial, budaya serba instan, dan minimnya ruang diskusi yang berkelanjutan membuat proses kaderisasi sering kali kalah menarik dibanding aktivitas lain.

Oleh karena itu, KOHATI perlu menghadirkan metode pembinaan yang tetap berpijak pada nilai-nilai HMI, tetapi mampu menjawab kebutuhan generasi kader hari ini agar tetap merasa relevan, terlibat, dan memiliki rasa memiliki terhadap organisasi.

Sebagai kader KOHATI HMI Cabang Makassar Timur, saya, Muhriani, memandang bahwa mencari kembali identitas KOHATI berarti menghidupkan kembali budaya berpikir kritis, membaca, berdialog, dan melahirkan gagasan yang berdampak.

Kader perempuan harus didorong menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar peserta kegiatan. Dengan mengembalikan kaderisasi pada esensi perjuangan HMI, KOHATI akan tetap menjadi ruang yang melahirkan perempuan-perempuan berintegritas, berilmu, dan siap membawa perubahan bagi organisasi maupun masyarakat.

Share Konten

Opini Lainnya

Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara
Prancis Bergejolak, Indonesia Waspada: Tantangan Presiden Prabowo Menjaga Stabilitas Sosial dan Demokrasi
Screenshot_20261019_183503_com.huawei
Kado Terindah yang Berubah Menjadi Luka Bagi Kader
Muzakkir (7)
LK II PP - HPMM : Antara Harapan Perkaderan dan Realitas Yang Menggugurkan Integritas
Muzakkir (3)
Eksistensi Perempuan dalam Organisasi: Antara Minat, Tantangan dan Kesedaran Kritis
Muzakkir (4)
Ketika Kampus Lebih Sibuk Menghitung Biaya daripada Memperjuangkan Akses
IMG-20261016-WA0044
Usulan MSCI Mengubah Status Pasar Indonesia Menjadi Standalone Market
Muzakkir (5)
Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar
Muzakkir (4)
Dari Statistik Menuju Keadilan: Kritik atas Perencanaan Pendidikan yang Belum Responsif Gender
Muzakkir (3)
Hutan Terus Terbakar, Udara Semakin Tercemar: Sampai Kapan Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Korban?
Muzakkir (3)
Karhutla sebagai Fakta Sosial: A. Muh. Ihsan Amu Soroti Disorientasi Kebijakan dan Desak Negara Bertindak Tegas
Scroll to Top