Penulis: Saldiansyah Rusli (Demisioner ketua DEMA FAH, Sekertaris Jenderal DEMA-UINAM)
ruminews.id – Makassar, 2 September 2026 – PBAK seharusnya menjadi ruang pertama bagi mahasiswa baru untuk mengenal dunia akademik, kebebasan berpikir, tradisi intelektual, dan keberanian menyampaikan pendapat.
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi di UINAM di tahun-tahun sebelumnyapun terjadi intimidasi dan ancaman. PBAK UIN Alauddin Makassar justru memperlihatkan wajah yang memprihatinkan, ketika guru besar berdiri di hadapan militer, sementara mahasiswa baru justru dihadapkan pada ancaman dan ketakutan.
Di hadapan mahasiswa baru, guru besar yang semestinya menjadi simbol kebebasan akademik justru tampak tunduk di hadapan kekuasaan militer. Ketika mahasiswa baru menyuarakan penolakan terhadap masuknya militer ke ruang kampus, respons yang muncul bukan ruang dialog akademik, melainkan penghentian dan ancaman sanksi. Pertanyaan yang kemudian muncul Apa arti gelar profesor jika keberanian akademik berhenti ketika berhadapan dengan seragam?
Apa arti kebebasan akademik jika mahasiswa baru bahkan tidak diberi ruang untuk menyampaikan sikap?
Dan apa arti kampus sebagai ruang peradaban jika suara mahasiswa justru dibungkam atas nama ketertiban?
Guru besar bukan penjaga ketakutan. Guru besar adalah penjaga akal sehat dan kebebasan akademik.
Tidak ada hubungan antara PBAK dan Militer
Mencederai UUD dan UU Nomor 12 tahun 2012
Militer turun pada saat kondisi darurat artinya UINAM darurat.
Kampus bukan barak militer.
Mahasiswa bukan bawahan komando.
PBAK bukan ruang indoktrinasi.
Dan guru besar bukan bawahan kekuasaan.
Jika mahasiswa baru yang menyampaikan kritik secara damai saja harus berhadapan dengan ancaman DO, maka pertanyaan besarnya adalah siapa yang sebenarnya sedang dilindungi oleh kampus—kebebasan akademik atau kekuasaan?
Kami tidak ingin mahasiswa baru belajar bahwa menjadi mahasiswa berarti harus diam.
Kami ingin mereka belajar bahwa universitas adalah tempat manusia merdeka berpikir, mempertanyakan kekuasaan, dan menyampaikan kebenaran dengan argumentasi.
Jika guru besar tunduk di hadapan militer, maka mahasiswa harus berdiri menjaga marwah kampus.
Karena kampus yang kehilangan keberanian untuk berkata tidak kepada kekuasaan, pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi yang takut berpikir.