OPINI

Kampus Ruang Kritis, Bukan Pabrik Ketundukan: Membaca Pembungkaman di PBAK UIN Alauddin Makassar 2026

Penulis : Ariel Putra Putra Pratama – Sekretaris Bidang Kaderisasi & PSDS PB HPMB Raya

ruminews.id – Kampus seharusnya berdiri kokoh sebagai benteng terakhir akal sehat dan ruang kritis bagi generasi muda. Di tempat inilah gagasan besar diuji, narasi kekuasaan dipertanyakan, dan kepekaan sosial diasah.

Perguruan tinggi dirancang bukan sekadar sebagai pabrik yang mencetak pekerja terampil untuk kebutuhan industri, melainkan sebagai wadah pembentukan mahasiswa sebagai penggagas perubahan yang berani berdiri di barisan depan membela keadilan.

Namun, realitas yang terjadi pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Alauddin Makassar 2026 justru menunjukkan pergeseran yang memprihatinkan. Budaya kritis yang selama ini menjadi roh pergerakan mahasiswa perlahan-lahan tergerus dan digantikan oleh praktik pembungkaman serta tindakan represif. Peristiwa pada PBAK UIN Alauddin Makassar 2026 menjadi cermin buram bagaimana hak berpendapat di ruang publik semakin dipersempit di ranah yang justru seharusnya paling menjunjung tinggi kebebasan akademik.

Ironi ini membentang semakin nyata ketika seorang Mahasiswa Baru (Maba) angkatan 2026 justru berhadapan dengan ancaman Drop Out (DO) hanya karena membentangkan selebaran bertuliskan “Tolak Militerisme Masuk Kampus”. Tindakan mengekspresikan sikap lewat lembaran kertas di tengah momentum pengenalan budaya kampus yang sejatinya melatih keberanian berpikir ini justru direspons dengan ancaman sanksi akademis yang berat.

Penggunaan ancaman sanksi DO terhadap sikap kritis maba menunjukkan betapa rapuhnya toleransi otoritas terhadap perbedaan pandangan di dalam institusi pendidikan.

Kondisi tersebut disoroti secara tajam oleh Sekretaris Bidang Kaderisasi & Pengembangan Sumber Daya Anggota PB Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng Raya (PB HPMB Raya), Ariel Putra Pratama. Ia menegaskan bahwa pendekatan represif dan pengekangan terhadap suara mahasiswa, terlebih sampai mengancam masa depan akademis seorang mahasiswa baru, merupakan tindakan yang mencederai nilai dasar pendidikan. Ketika birokrasi dan otoritas kampus lebih memilih membungkam ketimbang merawat ruang dialog, kampus telah kehilangan marwahnya dan berisiko berubah fungsi menjadi alat penundukan.

Dinamika pada PBAK UIN Alauddin Makassar 2026 harus menjadi alarm keras bagi seluruh civitas akademika dan elemen pergerakan mahasiswa. Menjadikan kampus sebagai alat pembungkaman tidak hanya membunuh karakter kritis mahasiswa sejak hari pertama mereka menapakkan kaki di perguruan tinggi, tetapi juga mengancam masa depan demokrasi. Mempertahankan budaya kritis bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan agar kampus tetap menjadi ruang aman bagi lahirnya para penggagas bangsa yang berani menyuarakan kebenaran.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (5)
Kepemimpinan Perempuan dalam UMKM Desa
Muzakkir (4)
Mendobrak Stereotip Terhadap Kepemimpinan Perempuan
Muzakkir (3)
Politik Fear Appeal: Hegemoni Kampus Meredam Mahasiswa Sejak Dini
Muzakkir (1)
Bukankah Kampus Adalah Rumah Bagi Akal yang Sedang Gelisah, atau Rumah bagi Kekerasan!
Muzakkir (3)
Guru Besar Tunduk Dihadapan Militer, Mahasiswa Baru Diancam DO
IMG-20260902-WA0083
Ketika Sanggahan Dimaknai sebagai Kekerasan
Muzakkir (4)
Buku untuk Anak, Pelajaran untuk Orang Dewasa
ChatGPT Image 2 Sep 2026, 14.20
Ketika Guru Besar Kehilangan Wibawa di Hadapan Militer
Muzakkir (3)
Marwah NU: Bukan Partai Politik, Tanpa Pemilu
Muzakkir (1)
Ditengah Antrian Panjang dan Kenaikan BBM Nonsubsidi: Rakyat Kembali Dipaksa Memilih Penderitaan
Scroll to Top