Penulis: F.H kalindra – Penggiat Literasi
“Macca duppa to pole, macca panguju to lao.”
ruminews.id – Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin hanya terdengar sebagai petuah sederhana dari leluhur Bugis. Namun bagi masyarakat Bugis, ungkapan tersebut merupakan simpul dari sebuah peradaban yang telah diwariskan lintas generasi.
Secara harfiah berarti “pandai menyambut orang yang datang dan pandai mengantar orang yang pergi.” Akan tetapi, makna yang dikandungnya jauh melampaui sekadar tata krama menerima tamu.
Falsafah ini mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi kedudukannya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan manusia lain. Tamu yang datang disambut dengan wajah yang teduh, tutur kata yang santun, dan hati yang lapang.
Orang yang hendak pergi dilepas dengan doa, penghormatan, serta harapan agar perjalanan mereka dipenuhi keselamatan. Dalam pandangan Bugis, hubungan antarmanusia tidak boleh berhenti pada pertemuan, tetapi harus diakhiri dengan kesan yang baik.
Budayawan Bugis Prof. Mattulada menjelaskan bahwa kebudayaan Bugis dibangun di atas sistem nilai pangadereng, yaitu tatanan norma yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.
Di dalamnya terdapat nilai-nilai sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan). Falsafah “Macca duppa to pole, macca panguju to lao” merupakan pengejawantahan nyata dari nilai-nilai tersebut. Kehormatan seseorang tidak lahir karena kekuasaan, tetapi karena kemampuannya menghargai sesama.
Sejarawan Belanda Benjamin Frederik Matthes, melalui dokumentasinya terhadap naskah-naskah Lontara’ termasuk Latoa, memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis sejak masa kerajaan telah menjadikan acca (macca/kecendekiaan) sebagai salah satu syarat utama kepemimpinan. Namun, kecerdasan dalam tradisi Bugis tidak pernah berdiri sendiri.
Ia harus berjalan bersama lempu (kejujuran), warani (keberanian), dan getteng (keteguhan). Karena itu, menjadi macca bukan sekadar pandai berbicara, tetapi memahami waktu, keadaan, dan mampu menjaga martabat orang lain.
Pandangan tersebut dipertegas dalam berbagai kajian mengenai nilai budaya Bugis yang menyebut bahwa macca bukan hanya kemampuan intelektual, melainkan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan, memahami adat, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Orang yang benar-benar macca adalah mereka yang mampu menggunakan ilmunya untuk mempererat hubungan sosial, bukan memperlebar jurang permusuhan.
Ironisnya, di tengah modernitas, falsafah luhur ini mulai memudar. Keramahtamahan perlahan berubah menjadi formalitas. Senyum sering kali hanya menjadi etika di depan kamera, sementara di ruang-ruang sosial kita semakin mudah menghakimi, mencaci, dan menutup pintu bagi mereka yang berbeda pandangan.
Padahal leluhur Bugis telah mengajarkan bahwa menyambut seseorang dengan baik adalah cermin kemuliaan diri, sedangkan mengantar kepergiannya dengan hormat adalah tanda kedewasaan hati.
Ungkapan “Macca duppa to pole, macca panguju to lao” sesungguhnya bukan sekadar petuah untuk menerima tamu. Ia adalah filosofi tentang membangun peradaban. Sebab setiap manusia yang datang membawa cerita, dan setiap manusia yang pergi akan membawa kenangan. Pilihan kita hanyalah satu: apakah kita ingin dikenang karena keramahan, atau diingat karena kesombongan.
Dalam dunia yang semakin bising oleh kebencian dan polarisasi, falsafah Bugis ini justru terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tertinggi bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan memenangkan hati manusia. Bahwa kehormatan terbesar bukanlah ketika kita dielu-elukan saat hadir, tetapi ketika kepergian kita dilepas dengan doa dan kerinduan.
Barangkali itulah mengapa orang Bugis tidak pernah memisahkan kecerdasan dari akhlak. Sebab ilmu tanpa adab hanya melahirkan kesombongan, sedangkan adab menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.
Dan selama falsafah “Macca duppa to pole, macca panguju to lao” tetap hidup, selama itu pula Bugis akan selalu dikenal bukan hanya sebagai bangsa para pelaut dan perantau, tetapi juga sebagai bangsa yang memuliakan manusia.