Pemuda

Daerah, Makassar, Pemuda

KEJAM SULSEL Tantang Kejari Maros untuk segera menetapkan tersangka kasus Korupsi Gaji Outsourching Kereta Api

ruminews.id, Makassar – Komite Jaringan Aktivis Mahasiswa Sulawesi Selatan (KEJAM – SULSEL) angkat bicara terkait Dugaan tindak pidana korupsi dalam pembayaran gaji tenaga kerja outsourcing Kereta Api.  Azhari Hamid, S.H., Selaku Ketua Umum Komite Jaringan Aktivis Mahasiswa Sulawesi Selatan (KEJAM SUL-SEL) kembali menyoroti Dugaan tindak pidana korupsi dalam pembayaran gaji tenaga kerja outsourcing Kereta Api di Kabupaten Maros merupakan bentuk kejahatan serius yang mencederai rasa keadilan dan kemanusiaan. Fakta bahwa 370 orang saksi telah diperiksa oleh Kejaksaan Negeri Maros menunjukkan bahwa kasus ini bukan persoalan sepele, melainkan dugaan kejahatan sistematis dan terorganisir. Diketahui, Kasus dugaan penyimpangan pembayaran ini melibatkan dua perusahaan outsourcing yang bekerja sama dengan BPKA Sulsel. Kedua perusahaan tersebut yakni PT First Security Indonesia (FSI) dan PT Cemerlang Intan Sejati (CIS). Berdasarkan temuan awal, kedua perusahaan itu diduga melakukan pemotongan dan bahkan tidak membayarkan upah karyawan selama dua tahun terakhir. Azhari menegaskan bahwa Korupsi terhadap gaji pekerja adalah kejahatan yang paling biadab, karena dilakukan dengan merampas hak orang kecil demi kepentingan segelintir elite. Para pekerja outsourcing adalah tulang punggung pelayanan publik, namun justru menjadi korban praktik kotor yang diduga melibatkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Kami mendesak Kejaksaan Negeri Maros untuk segera menetapkan tersangka tanpa kompromi dan tanpa intervensi. Jangan biarkan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Jangan pula hukum dijadikan alat tawar-menawar kepentingan.ujarnya Kami memperingatkan, apabila penegakan hukum dalam kasus ini berlarut-larut atau berhenti di tengah jalan, maka patut diduga adanya upaya melindungi pelaku tertentu. Kami tidak buta hukum dan tidak akan diam melihat keadilan dipermainkan. Dalam waktu dekat Kejaksaan Negeri Maros tidak mampu menuntaskan dan menetapkan para Tersangka dalam kasus tersebut maka kami akan Menggelar Aksi Demontrasi sebagai bentuk perlawanan moral terhadap Korupsi. Kami akan terus mengawal kasus ini sampai seluruh pelaku, baik aktor lapangan maupun aktor intelektual, diseret ke meja hijau dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum dan masyarakat Maros Sulawesi Selatan.

Daerah, Makassar, Pemuda

Ketua DPD KNPI Sulsel Terpilih, Vonny Ameliani Suardi, Buka Pelantikan LMND Sulsel 2025–2027

ruminews.id, Makassar — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan terpilih, Vonny Ameliani Suardi, di Undang menghadiri sekaligus Membuka Kegiatan Pelantikan Pengurus Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Sulawesi Selatan periode 2025–2027 yang digelar di Hotel Maxone, Makassar, Senin malam (15/12/2025). Pelantikan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari berakhirnya masa bakti kepengurusan LMND Sulsel periode 2023–2025 sekaligus pengukuhan pengurus baru untuk periode 2025–2027. Kegiatan ini mengangkat tema “Sulawesi Selatan Masa Depan Indonesia”, yang menegaskan komitmen LMND dalam memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dan demokrasi di daerah Vonny Ameliani Suardi, yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan Ketua PD Tidar Sulsel, Kehadirannya mencerminkan posisi strategis KNPI Sulsel di bawah kepemimpinannya yang baru terpilih, sebagai mitra utama organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan lintas ideologi dan latar belakang. Dalam momentum tersebut, pelantikan dipimpin langsung oleh Pengurus LMND dengan Ketua LMND Sulsel Adri Fadhli dan Sekretaris Arjuna Swara sebagai penanggung jawab kegiatan. Acara berlangsung khidmat dan sarat dengan semangat persatuan, dihadiri oleh berbagai elemen pemuda, mahasiswa, serta tokoh organisasi kepemudaan di Sulawesi Selatan Kehadiran Vonny sebagai Ketua DPD KNPI Sulsel terpilih dinilai mempertegas arah kepemimpinan KNPI ke depan yang inklusif, kolaboratif, dan terbuka terhadap gerakan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan semangat konsolidasi pemuda Sulawesi Selatan untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan Sulsel maju dan Berkarakter.

Daerah, Gowa, Pemuda

Konfercab Ke-12 HMI Cabang Gowa Raya Resmi Dibuka, Akan Diselesaikan Sebaik dan Sehormat-hormatnya

ruminews.id, Gowa — Konferensi Cabang (Konfercab) ke-12 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya resmi dibuka di Gedung Dharmawanita Kabupaten Gowa, Sabtu. Forum tertinggi di tingkat cabang ini ditegaskan akan diselesaikan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya, sesuai dengan nilai dan mekanisme organisasi. Pembukaan Konfercab dihadiri oleh Isra’ DS, Presidium Majelis Daerah KAHMI Kabupaten Gowa mengisi Stadium General, Juga dibuka langsung oleh Iwan Mazkrib, Ketua Badan Koordinasi (Badko) HMI Sulawesi Selatan Bidang Perlindungan HAM; hadir Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya; Ketua Umum Kohati HMI Cabang Gowa Raya beserta jajaran; Ketua-ketua Komisariat se-Cabang Gowa Raya, kader dan tamu undangan serta para kandidat. Konfercab ke-12 HMI Cabang Gowa Raya mengusung tema “Quantum Leadership; Jalan Baru Kepemimpinan HMI Cabang Gowa Raya”. Rangkaian kegiatan Konfercab ini telah berlangsung sejak Juni 2025, melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembentukan struktur penyelenggara, Pendaftaran Bakal Calon Kandidat, Penetapan Kandidat, Sayembara Tema (penulisan karya tulis ilmiah), Launching Tema, Uji Publik dan Debat Kandidat, hingga pelaksanaan Pembukaan dan Forum Konfercab. Dalam sambutannya, Nawir Kalling, Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, menekankan bahwa dinamika dan perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi. Ia mengingatkan bahwa konflik bukan hanya dialami pada satu periode kepemimpinan tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari sejarah HMI. “Saya masih ingat para pendahulu saya, para mantan Ketua Umum, juga melewati dinamika yang berbeda-beda. Konflik atau hal-hal yang memecah belah bukan hanya terjadi pada kepemimpinan saya. Karena itu, sejak awal saya selalu membawa tagline HMI kolaboratif,” ujarnya. Nawir mengisahkan bahwa sebelum dirinya terpilih sebagai formatur Ketua Umum, HMI Cabang Gowa Raya sempat berada dalam situasi dualisme kepemimpinan dengan dua struktur yang sama-sama memiliki Surat Keputusan (SK). Hingga akhirnya, melalui proses organisasi, terbit satu SK PB HMI di bawah kepemimpinan Raihan Aryatama. “Tugas terberat saya adalah menyatukan HMI Cabang Gowa Raya, dari struktur cabang hingga komisariat. Alhamdulillah, dengan ikhtiar dan keinginan bersama, kita mampu mengembalikan posisi HMI Cabang Gowa Raya agar kembali diperhitungkan di tingkat lokal, regional, hingga nasional,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa dinamika internal yang terjadi tidak boleh dipahami sebagai perpecahan, melainkan sebagai tantangan bersama yang harus dihadapi dengan pikiran terbuka. “HMI Cabang Gowa Raya bukan hanya milik pengurus, tetapi milik seluruh kader dan keluarga besar HMI. Prinsip berjalan bersama harus kita pegang. Siapapun dari tiga kandidat yang bertarung, jika masih ada anggapan HMI Gowa Raya terbelah, maka tugas utamanya adalah menyatukan kembali,” tegas Nawir. Sementara itu, Isra’ DS, Presidium MD KAHMI Kabupaten Gowa, menilai Konfercab sebagai momentum penting pembelajaran kader. Menurutnya, dinamika internal harus disikapi secara dewasa dan bijak. “HMI adalah tempat kita ditempa, belajar bertumbuh, dan menyelesaikan persoalan keumatan dan kebangsaan. Dinamika internal adalah tantangan yang harus membuat kita semakin dewasa dalam berorganisasi,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa KAHMI akan terus membersamai dan memberikan dukungan kepada HMI Cabang Gowa Raya, siapapun yang terpilih sebagai Ketua Umum. “Siapapun yang terpilih, tetap satu dan bersama-sama membesarkan HMI Cabang Gowa Raya. KAHMI akan selalu memberikan support dalam menjaga nama baik himpunan,” katanya. Dalam kesempatan yang sama, Iwan Mazkrib, Ketua Badko HMI Sulawesi Selatan Bidang Perlindungan HAM, menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bentuk tanggung jawab etik dan organisatoris. Ia hadir diminta langsung mewakili Ketua Umum Badko HMI Sulsel yang berhalangan hadir karena kondisi kesehatan. “Badko HMI Sulawesi Selatan tidak berharap Konfercab ini hanya melahirkan Ketua Umum terpilih, tetapi melahirkan keberanian kolektif: berani mengkritik diri sendiri, berani membongkar kesadaran palsu yang meninabobokan, dan berani mengembalikan misi HMI kompas ideologis,” tegasnya. Mazkrib menilai bahwa HMI Cabang Gowa Raya tidak sedang berada dalam masalah serius, melainkan sedang menjalani dinamika internal yang wajar dalam organisasi kader. Namun ia mengingatkan agar kader tidak terjebak pada apa yang disebutnya sebagai dekadensi kesadaran palsu. “Kesadaran palsu adalah kondisi ketika seseorang atau kelompok merasa berada di jalan yang benar, padahal luput mengurai persoalan secara objektif. Kader harus kritis, tidak lengah, dan mampu membaca dinamika sesuai mekanisme serta ketentuan organisasi,” jelasnya. Ia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa kekuatan HMI tidak terletak semata pada struktur yang rapi, tetapi pada sikap kritis, kebijaksanaan kader, dan kemampuan merawat kebersamaan. “Yang membuat HMI bertahan bukan hanya struktur, tetapi kesadaran kritis dan kebijaksanaan dalam merespons kondisi himpunan. Yakin usaha sampai,” pungkasnya.

Daerah, Nasional, Opini, Pemerintahan, Pemuda

Presiden tolong buatkan kami jembatan agar kami nyaman kesekolah. Seorang anak pelosok meminta lansung dibuatkan jembatan terhadap presiden.

ruminews.id – Lantunan seorang anak pelosok yang berkata tolong buatkan kami jembatan itu murni dari hati-Nya, dan mungkin juga apa yang dia rasakan itulah yang keluar dari ucapannya, kedengarannya agak sederhana akan tetapi klw ini sampai kepada seorang yang sadar mungkin air matanya akan menetess ketika melihat anak anak bangsa setiap pergi mencari ilmu pengetahuan dengan mengendarai perahu kecil yang ada di pelosok desa lengggo kecamatan bulo. Dan Bukan hanya anak sekolah yang melaluinya akan tetapi warga sekitar mondar mandir keluar kota untuk memenuhi kebutuhan-Nya sehari hari Seperti makanan pokok, beras dan kebutuhan yang mendesak dan itu sala satunya jalan untuk menuju ibu kota. Belum lagi musim hujung yang mengganggu warga setempat dikarenakan air sungai akan menguap sehingga peruhu kecil yang dikendarai setiap harinya itu tidak memungkinkan lagi untuk dilewati, Apa lagi jalanan yang dilalui sehari hari dengan menggunakan roda dua (Motor) itu juga sangat tidak memungkinkan dikarenakan jalanan sangat tidak bagus untuk di laluinya sehari hari seperti hallnya becek, longsor dan sebagainya.. Walaupun adanya perahu kecil yang digunakan setiap pergi sekolah ataupun pulang sekolah semangat mereka untuk menuntut ilmu itu tidak pernah redup, dengan bayangan dibelakang anak anak ini selalu dihantai dengan perkataan orang tua mereka “Kalian Harus Sekolah dan Sukses jangan seperti kami lagi yang tidak bisa apa apa buta huruf dan tidak berkontribusi dalam kalangan masyarakat”. Hal inilah yang melatar belakangi mereka sehingga semangat belajar-Nya itu sangat tinggi dan tak terukur.. Ketika kita coba maknai lebih dalam dari perkataan anak tersebut, bahwa anak ini minat dan semangat belajar-Nya itu patut diapresiasi oleh pemerintah setempat, Maka dari itu Saya sebagai penulis sangat berharap penuh kepada pemerintah setempat, Desa, Kecamatan sampai tingkat Kabupaten agar kemudian hari anak anak ini bisa merasakan kenyamanan setiap pergi belajar ataupun menuntut ilmu pengetahuan.. Ada sebuah kutipan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara (“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso”), menekankan bahwa pendidikan itu investasi, hak asasi, alat membebaskan, dan proses seumur hidup yang membentuk pribadi berkarakter dan masyarakat maju. ..

Opini, Pemuda

LK III BADKO HMI PAPUA BARAT – PAPUA BARAT DAYA: KAPITALISME DIGITAL & SEMESTINYA KADER HMI BERSIKAP

ruminews.id – Di persimpangan zaman, kita tersesat dalam puja-puja baru, bernama kapitalisme digital. Kehidupan keseharian akibatnya tidak sesederhana purba kala lagi. Rutinitas keseharian seperti kerja, kesukaan dan referensi mental dalam jamuan kapitalisme digital. Menyediakan dan menentukan tindakan narasi hidup kita. Ia membentuk hasrat, membelah perhatian, dan mengubah pengalaman menjadi komoditi. Setiap scroll, setiap klik, setiap like adalah data—bahan mentah yang diolah menjadi algoritma untuk membentuk budaya massal yang seragam. Jauh-jauh hari di abad 20, pemikir mazhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno sudah mengingatkan kita bahwa imbas dari sengkarut persimpangan ini adalah manusia teralienasi dan reifikasi. Teralienasi dalam makna tidak lagi menjadi makhluk sosial dan reifikasi bermakna sebagai benda-benda yang berhakikat komoditas semata, hal itu kemudian memunculkan industri budaya. Industri budaya tak lagi lahir dari kegelisahan kreatif atau permenungan panjang, filosofis dan bernilai. Lahir dari pola konsumsi yang diprediksi mesin, direplikasi tanpa jiwa, dan disebar untuk memenuhi kuota. Yang intim kemudian menjadi pertunjukan, yang sakral menjadi konten, dan yang substansial lenyap dalam pusaran viralitas yang fana. Dalam gelombang yang menggurita ini, suara individu tenggelam. Manusia direduksi menjadi profil, preferensi, dan pola perilaku. Kebudayaan, yang sejatinya adalah ruang dialektika untuk mencari makna, berubah menjadi pasar yang riuh rendah. Di pasar ini, perhatian adalah mata uang tertinggi. Dan untuk meraihnya, kedalaman dikorbankan, kompleksitas diratakan, yang kontroversial dijadikan umpan. Hasilnya adalah budaya yang terfragmentasi namun paradoksal. Kita merasa terkoneksi secara global, tetapi terasing dalam ruang gema yang hanya menggemakan apa yang sudah kita sukai. Kita disuguhi ilusi keberagaman, padahal didikte oleh logika kapital platform yang haus akan retensi dan konversi. Di tengah arus persimpangan ini, organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir bukan dengan romantisismenya dalam perjuangan politis mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, hadir dan eksis dengan kerangka berpikir yang mencoba membaca zaman dengan kacamata Nilai Dasar Perjuangan (NDP), seperangkat nilai-nilai yang saling terkoneksi di tiap bagiannya. NDP bukan dogma beku; tetapi prinsip hidup para kader HMI yang menempatkan Tauhid sebagai poros. Dalam konteks kapitalisme digital, Tauhid ini menjadi benteng melawan penyembahan berhala-berhala baru. Penyembahan pada data, tren, efisiensi buta yang mengabaikan martabat. Ia mengingatkan bahwa di balik segala kalkulasi algoritmik, ada manusia yang punya hak untuk merdeka—tidak hanya sebagai konsumen juga komoditas, tetapi sebagai subjek yang berdaulat atas narasi hidupnya sendiri. Melalui lensa NDP, tiap kader HMI mesti memahami nilai intelektualitas dan spiritualitas dalam yang kemudian mengembalikan liberasi dan humanisasi menemukan bentuknya yang kontekstual. Liberasi adalah pembebasan dari penjajahan baru oleh platform yang menguasai ruang publik dan privat, yang mengubah relasi menjadi transaksi. Humanisasi adalah upaya keras untuk tetap menempatkan akal budi, empati, dan kebijaksanaan kolektif di atas kepentingan komodifikasi. Peran kader HMI dalam mitigasi masifnya kapitalisme digital ini adalah dengan mengajak kembali pada kesadaran kritis, bahwa teknologi harus tunduk pada etika, bahwa kemajuan harus diukur dari sejauh mana ia memanusiakan, bukan mengeksploitasi. Ini berarti mendorong literasi digital yang bukan sekadar terampil menggunakan aplikasi, tetapi mampu mengurai kuasa di balik kode, mampu memilih yang substansial di tengah banjir konten, erosi pikiran dan berani membangun ruang kreatif otonom yang tidak sepenuhnya bergantung pada logika platform kapitalis. Ini soal penentuan sikap. Apakah manusia hanya sekadar pengguna yang patuh, atau pencipta yang sadar. Kapitalisme digital dengan industri budayanya ingin kita tetap menjadi sumber data yang pasif. NDP, dalam tangan kader-kader yang faham, mengajak untuk membangun kesadaran bahwa kebudayaan sejati lahir dari kebebasan yang bertanggung jawab, dari upaya mencari kebenaran yang tidak bisa diukur dengan metrik, dan dari keberanian untuk merawat hal-hal yang dalam, meski tidak laku di pasar popularitas. Akhirnya medan perjuangan tidak sebatas di jalanan dengan barikade, tetapi juga di ruang digital dengan kesadaran, di ruang diskusi dengan ketajaman analisis, dan dalam diri setiap kader yang menolak untuk dijual menjadi komoditi. Mungkin di situlah relevansi NDP untuk membebaskan, memanusiakan, dan mengangkat kembali martabat kemanusiaan, bahkan di alam maya yang dianggap kekinian ini.

Daerah, Nasional, Opini, Pemuda

28 November: Peringatan yang Kita Diamkan, Dampak yang Kita Rasakan

ruminews.id – Beberapa hari yang lalu, Indonesia kembali melewati 28 November, Hari Menanam Pohon, sebuah momentum penting yang seharusnya mengingatkan kita pada tanggung jawab terhadap bumi. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan ini hanya lewat sebagai tanggal biasa. Sepi kegiatan, minim gerakan, dan nyaris tak terdengar gaungnya. Padahal, inilah hari yang sejak lama menjadi simbol kepedulian, tempat perusahaan menjalankan CSR lingkungan, komunitas menggerakkan bibit, hingga masyarakat diajak menanam harapan melalui akar-akar kecil di tanah. Tetapi realitas hari ini berkata lain. Hari Menanam Pohon kita abaikan, hutan kita hilang, cuaca tak menentu, dan alam membalas dengan cara paling pahit. Dari banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, hingga polusi udara yang semakin brutal. Semua ini bukan hanya fenomena alam, tetapi respons dari kerusakan yang kita biarkan terus terjadi. Kita seperti menjalankan rutinitas tanpa rasa: mengabaikan tanggal penting, tapi terkejut ketika bencana datang tanpa mengetuk. Indonesia sekarang berada di titik yang semakin miris. Bukan karena alamnya melemah, tetapi karena manusianya terlalu cuek. Jika satu hari peringatan saja tak mampu membuat kita bergerak, bagaimana mungkin kita berharap perubahan besar terjadi? Bagaimana kita bisa bermimpi tentang lingkungan yang sehat jika pepohonan yang menjadi fondasinya tidak lagi kita prioritaskan? Hari Menanam Pohon seharusnya bukan hanya agenda seremonial, tapi peringatan keras bahwa pohon bukan sekadar tumbuhan. Mereka penjaga air, penahan bencana, penyaring udara, peneduh masa depan. Ketika hari penting ini kita diamkan, maka jangan heran bila alam pun membiarkan penderitaan datang tanpa kompromi. Semoga lewat tulisan ini, kita tidak hanya menyalahkan keadaan, tetapi juga bercermin. Jika ingin Indonesia tetap hijau dan hidup, maka kepedulian tidak bisa lagi ditunda. Pohon bisa kita tanam kapan saja yang tidak bisa ditunda adalah kesadaran kita. Minggu, 30/11/2025 Griya Bakti Utama

Daerah, Gowa, Opini, Pemuda

Refleksi Akhir Tahun Kabinet Merah Putih: Krisis Legitimasi Rakyat hingga Krisis Ekologi

Ruminews.id – Memasuki penghujung tahun, kinerja Kabinet Merah Putih kembali menjadi sorotan publik, khususnya terkait merosotnya legitimasi rakyat akibat serangkaian kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap kepentingan masyarakat luas. Kesenjangan antara kehendak publik dan arah kebijakan pemerintah semakin melebar, mulai dari pengelolaan sumber daya alam yang kerap mengabaikan keberlanjutan ekologis hingga berbagai keputusan strategis yang lebih mengakomodasi kepentingan elite ketimbang kebutuhan rakyat banyak. Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi ancaman krisis ekologi yang semakin nyata, banjir dimana-mana, polusi, dan degradasi lingkungan hidup yanf sangat mencekam bagi masyarakat adat.  sementara pemerintah belum menunjukkan langkah transformatif yang memadai untuk menghadapinya. Situasi ini memperdalam ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dan lembaga negara lainnya, menandai krisis legitimasi yang semakin mengkhawatirkan. Dalam kondisi genting tersebut, percepatan reformasi hukum di lingkungan aparat penegak hukum menjadi urgensi yang tak bisa ditunda. Penegakan hukum yang transparan, akuntabel, dan tidak diskriminatif merupakan fondasi legitimasi sebuah pemerintahan yang demokratis. Reformasi Polri pun perlu dipacu dengan agenda perubahan substansial, baik dari aspek profesionalitas, integritas, maupun perspektif kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan sosial dan ekologis. Lebih lanjut, pemerintah harus mempercepat pemberdayaan pemuda sebagai modal utama bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Tanpa investasi besar pada pendidikan, kepemimpinan, teknologi, dan ekosistem kreativitas pemuda, bonus demografi berisiko berubah menjadi beban demografi. Hingga pada akhirnya narasinya Indonesia emas berubah menjadi indonesia Cemas. Di sisi lain, gagasan pembaruan konstitusi juga perlu menjadi agenda nasional. Ditengah krisis ekologi yang semakin menguat dan berdampak signifikan terhadap hajat hidup rakyat, penulis mendorong Ketua MPR RI untuk melakukan amandemen UUD 1945, khususnya dengan menambahkan frasa “pengelolaan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan” pada Pasal 28H ayat (1). Penegasan konstitusional ini penting sebagai bentuk penyempurnaan UUD 1945 agar lebih responsif terhadap tantangan ekologis masa kini. Dengan memasukkan prinsip keberlanjutan dan keadilan ekologis ke dalam konstitusi, negara memperoleh landasan normatif yang lebih kuat dalam memastikan setiap kebijakan pembangunan tunduk pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan lingkungan. Langkah ini menjadi krusial untuk memulihkan legitimasi negara di mata publik sekaligus menciptakan arah pembangunan yang lebih visioner dan bertanggung jawab. Melihat kompleksitas persoalan tersebut, penulis menawarkan tiga rekomendasi gagasan strategis. Pertama, pemerintah perlu mendorong gagasan Green Democracy Sultan Baktiar Najamudin dalam setiap proses pembuatan kebijakan di seluruh lembaga negara baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Demokrasi hijau memastikan bahwa kebijakan tidak hanya memenuhi prinsip keadilan sosial, tetapi juga keberlanjutan ekologis. Kedua, Indonesia perlu memajukan gagasan Green Diplomacy sebagai fondasi baru dalam kerja sama luar negeri. Di tengah krisis iklim global, diplomasi berbasis keberlanjutan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin ekologis di kawasan dan dunia. Ketiga, agenda percepatan reformasi Polri harus memasukkan gagasan Green Policing Herry Heryawan sebagai prioritas utama, sehingga aparat kepolisian memiliki perspektif ekologis yang kuat dalam mencegah dan menindak kejahatan lingkungan. Refleksi akhir tahun ini harus menjadi momentum bagi pemerintah dan seluruh lembaga negara, termasuk MPR RI, untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan memperbaiki arah pembangunan nasional. Tanpa reformasi yang berani, terukur, dan berorientasi ekologis, Indonesia akan terus terjebak dalam lingkaran krisis legitimasi dan krisis lingkungan yang saling memperparah. Tahun baru harus dibuka dengan komitmen baru agar komitmen tersebut untuk memperkuat demokrasi hijau, diplomasi hijau, penegakan hukum hijau, dan konstitusi hijau sebagai fondasi menuju masa depan Indonesia yang berdaulat, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Pekanbaru, Pemuda

Green Innovation Week (GROW) ECO-GEDSI Riau, Green Leadership Indonesia (GLI)

ruminews.id – Pekanbaru, pada Selasa (9/12/2025). Sekolah Luar Biasa (SLB) Cendana Rumbai, Menyelenggarakan kegiatan penghijauan dan pendidikan lingkungan. Kegiatan ini menekankan bahwa upaya pelestarian lingkungan harus inklusif dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Tema ECO-GEDSI (Ecological-Gender Equality, Disability & Social Inclusion) menjadi panduan utama, mengintegrasikan prinsip kesetaraan dan keadilan sosial dalam aksi lingkungan. Sebanyak puluhan bibit pohon ditanam dilingkungan sekolah dan dibagikan kepihak guru sekolah, dengan jenis yang dipilih secara khusus untuk manfaat ekologis dan edukatif, yaitu Trembesi (peneduh dan penyerap karbon tinggi), Kaliandra (penyubur tanah dan pakan lebah), serta Matoa (buah lokal yang bernilai ekonomi). Kegiatan tanam pohon ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dirancang sebagai proses pembelajaran interaktif. Para siswa, guru, dan peserta GLI terlibat langsung mulai dari penggalian lubang, penanaman, hingga penyiraman. Hal ini menciptakan pengalaman nyata yang mendidik sekaligus menyenangkan bagi siswa SLB Cendana. Kelompok GROW ECO-GEDSI Riau menegaskan, “Green Innovation Week dengan pendekatan ECO-GEDSI ini adalah wujud nyata komitmen kami bahwa gerakan lingkungan harus aksesibel dan mengikutsertakan semua kelompok. Menanam pohon secara esensi adalah menanam kesadaran, kepedulian, dan kesetaraan. Hari ini, kita menanam bukan hanya akar pohon, tetapi juga akar kepedulian yang inklusif di hati generasi muda.” “Kami mewakili keluarga besar SLB Cendana mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Green Leadership Indonesia. Kegiatan ini sangat positif dan bermakna bagi anak-anak didik kami. Selain menjadikan lingkungan sekolah lebih hijau dan asri, kegiatan langsung seperti ini merupakan media pembelajaran yang sangat efektif untuk melatih motorik, mengenal alam, dan menanamkan rasa cinta lingkungan pada siswa. Kami berharap kerja sama dan kepedulian seperti ini dapat terus berlanjut ke depannya.” Ujar salah satu guru SLB CENDANA Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pilot project untuk gerakan lingkungan inklusif di Riau. Pohon-pohon yang ditanam akan terus dipantau perkembangannya oleh pihak sekolah bersama team ECO-GEDSI, sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan program. Green Leadership Indonesia adalah organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan kepemimpinan dan inovasi berbasis lingkungan berkelanjutan. Program GROW (Green Innovation Week) adalah platform tahunan untuk mempromosikan praktik hijau, ekonomi sirkular, dan prinsip-prinsip inklusi sosial dalam setiap aksi lingkungan.

Daerah, Makassar, Opini, Pemuda

Vonny, Energi Baru KNPI Sulsel

ruminews.id – Video itu tiba-tiba muncul di laman media sosial saya. Rekaman tentang kegaduhan dalam pemilihan Ketua KNPI Sulawesi Selatan. Riuh. Kisruh. Dikabarkan, kericuhan pecah saat Musda KNPI Sulsel berlangsung di Hotel Horison, Makassar, Senin, 8 Desember 2025. Sekilas menontonnya, saya langsung teringat pada obrolan beberapa waktu lalu ketika Vonny Amelia menyampaikan rencananya maju sebagai calon ketua. Sejak saat itu saya hanya sesekali memantau ikhtiarnya, hingga video itu viral dan atmosfer politik Sulsel kembali menunjukkan warnanya yang khas. Hangat, dinamis, dan tak jarang memanas. Pengurus DPP KNPI yang hadir pun ikut mencicipi atmosfir itu. “Bukan karena ambisi,” ucap Vonny kala itu, “tapi karena permintaan dan dorongan dari berbagai pihak.” Dia menegaskan, jika bukan karena gelombang dukungan yang datang dari banyak kalangan, ia mungkin tidak akan berpikir untuk maju. Namun dukungan itu nyata. Dari yang diam menyatakan simpati, sampai yang terang-terangan memberi restu. Salah satunya datang dari Ketua DPD Gerindra Sulsel, Andi Iwan Darmawan Aras. Dukungan itu bukan hanya dari internal partai. Tokoh-tokoh lintas partai, kader OKP dari berbagai kabupaten/kota, bahkan sebagian pengurus KNPI Sulsel turut menyatakan kepercayaan. Ini bukan dukungan simbolik, melainkan tanda bahwa kehadiran Vonny dipandang relevan, layak, dan dibutuhkan. Baru setelah video kegaduhan itu ramai diperbincangkan, nun jauh di Jakarta saya pun akhirnya mengetahui bahwa pemilihan ini mempertemukan “derby” dua kader muda Gerindra. Sebagai sesama kader, tentu saya bangga siapa pun yang menang. Sebab itu menunjukkan bahwa kontribusi kader Gerindra di KNPI Sulsel semakin diperhitungkan. Namun, sebagai kader Tunas Indonesia Raya (TIDAR), organisasi sayap pemuda Gerindra, saya tentu berharap agar KNPI Sulsel dapat merasakan getaran semangat ketua TIDAR Sulsel yang sudah lebih dahulu membuktikan dirinya. Vonny bukan sekadar nama dalam struktur partai. Ia adalah anggota DPRD Sulawesi Selatan yang bekerja dalam diam namun menciptakan dampak nyata. Mungkin banyak orang mengenalnya sebagai legislator dan Ketua TIDAR Sulsel, tetapi tidak banyak yang memahami bagaimana ia bekerja. Satu hal yang selalu saya hormati darinya adalah caranya memanfaatkan waktu. Jika sedang bertugas di Jakarta dan sekitarnya, sela waktu antar agenda tidak pernah dibiarkan kosong. Ada saja kementerian atau tokoh yang ingin ia datangi, ada program yang ingin ia kejar untuk dibawa pulang ke Sulsel. Saya pernah menyertainya dalam beberapa kunjungan tersebut. Semuanya dilakukan dengan kesungguhan. Apa yang membuatnya berbeda? Mungkin jawabannya ada pada latar belakangnya sebagai pramugari. Profesi yang sekilas sederhana, namun sarat pelajaran hidup. Dia belajar menenangkan orang yang panik, mendengarkan keluhan yang sunyi, dan mendahulukan keselamatan orang lain sebelum dirinya sendiri. Dari kabin pesawat, dia belajar ritme. Kapan harus tegas, kapan harus lembut. Dari ribuan penumpang yang dia layani, dia belajar empati. Pelajaran itu dia bawa ke dunia politik, bukan untuk tampil, tetapi untuk hadir. Saya tahu tidak sedikit anak muda TIDAR Sulsel yang dia bantu secara ekonomi agar bangkit dan mandiri. Ketika banyak politisi muda memburu sorotan kamera, Vonny justru sibuk mengetuk pintu pemerintah pusat lewat jejaringnya di TIDAR. Ketika yang lain bicara soal program dalam pidato, dia mengusahakannya langsung. Baginya, kepemimpinan bukan soal berdiri paling depan, tetapi tentang siapa yang paling dulu membela mereka yang tertinggal. Di tengah kesibukan politik, dia tak melupakan pengembangan diri di bidang akademik. Dia kini tengah melanjutkan pendidikan doktoral di salah satu universitas besar di Makassar. Dia sepertinya menyadari bahwa kekuasaan hanya bermakna jika dibarengi ilmu pengetahuan, dan ilmu hanya berdaya jika dipersembahkan kembali untuk masyarakat. Melihat ikhtiyarnya untuk meneruskan dukungan dari berbagai pihak agar dirinya mendorong kemajuan pemuda Sulsel melalui KNPI, saya teringat satu ungkapan yang pernah ia ucapkan. Pendek, puitis, tetapi menyimpan kedalaman makna. “Saya perintis, bukan pewaris,” katanya. Ungkapan itu bukan sekadar kalimat indah. Ia adalah prinsip yang membedakan seorang pemimpin yang datang membawa kerja dengan mereka yang hanya datang membawa nama. Menjadi perintis berarti siap membuka jalan baru, menanggung risiko, menembus belukar tantangan, dan menanam fondasi bagi masa depan yang mungkin tidak akan dia nikmati sepenuhnya. Dan dari cara dia bergerak selama ini, saya melihat ungkapan itu bukan metafora, melainkan cermin dari langkah-langkahnya. Kedekatannya dengan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, Ketua Umum PP TIDAR, juga tentu menarik untuk diketengahkan. Hubungan keduanya sesungguhnya melampaui urusan politik belaka. Hubungan itu tumbuh dari kesamaan visi bahwa pemuda, khususnya perempuan, harus diberi ruang untuk tumbuh, bukan hanya ruang untuk tampil. Itulah mengapa ketika mendengar Vonny ingin meneruskan dukungan dan amanah agar dirinya maju sebagai Calon Ketua KNPI Sulsel 2025-2028 kali ini, maka keponakan Presiden Republik Indonesia itu pun memberi lampu hijau. “Vonny adalah pemimpin muda yang bekerja dengan hati, mampu merangkul banyak kalangan, dan memiliki visi kuat mengenai masa depan pemuda Sulsel. Kami di TIDAR melihatnya sebagai sosok yang tepat untuk memimpin KNPI Sulsel ke arah yang lebih solid dan inovatif,” ujar Rahayu Saraswati dalam rilis resminya ke Tribun-Timur.com. Vonny sosok yang punya energi banyak menggeluti bidang sosial keorganisasian. Masih ada berbagai organisasi yang dia geluti. Selain aktif di parlemen dan TIDAR, Vonny, misalnya, juga menjabat sebagai Sekretaris PORDASI Sulsel. Kiprahnya di PORDASI, sebuah organisasi yang menyatukan olahraga, tradisi, dan pembinaan karakter, menunjukkan bahwa kepeduliannya tidak berhenti pada politik, tetapi meluas pada budaya, olahraga, dan pendidikan generasi muda. Pemilihan ketua KNPI Sulsel ini kiranya bukan sekadar menentukan siapa yang duduk di kursi ketua. Ini tentang arah gerak pemuda Sulsel. Tentang apakah organisasi ini akan kembali terjebak dalam riuh yang sama, atau bergerak menuju masa depan yang lebih tertata. Dan bagi saya, Vonny memiliki rekam jejak, keberanian, jejaring, dan nilai kepemimpinan yang dibutuhkan KNPI Sulsel hari ini. Sebab kadang, organisasi tidak membutuhkan sosok yang paling keras berbicara, melainkan sosok yang paling sungguh-sungguh bekerja. Dan bila pemuda KNPI Sulsel ingin kembali berdiri tegap, mereka membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar tampak memimpin, tetapi benar-benar menggerakkan. Vonny Amelia memberi harapan itu. (*)

Daerah, Makassar, Pemuda

Sinergi Pemuda Sulsel: Vonny Ameliani Suardi Jadi Tamu Kehormatan di Musda Pemuda LIRA

ruminews.id, Makassar – Ketua DPD KNPI Sulawesi Selatan terpilih, Vonny Ameliani Suardi, hadir sebagai tamu kehormatan dalam Musyawarah Daerah DPW Pemuda LIRA Sulawesi Selatan yang digelar di Hotel Continent Centrepoint Panakkukang. Kehadiran Vonny merupakan bentuk penghargaan terhadap undangan resmi yang disampaikan oleh Pengurus Pemuda LIRA Sulsel sebagai wujud dukungan dan apresiasi terhadap kepemimpinan pemuda di Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, Vonny menegaskan bahwa KNPI Sulsel ke depan akan dibangun dengan prinsip kolaborasi, keterbukaan, dan penguatan jaringan pemuda lintas organisasi. Ia menekankan bahwa pemuda perlu bersatu di tengah dinamika sosial-politik yang terus berkembang. “Sinergi adalah kunci. Tidak ada organisasi yang bisa bergerak sendiri. Saya berterima kasih kepada Pemuda LIRA Sulsel atas undangannya. Ini menunjukkan bahwa ruang kolaborasi bagi pemuda di Sulawesi Selatan semakin terbuka dan harus terus kita rawat,” ujar Vonny. Pemuda LIRA Tegaskan Musda KNPI di Hotel Horison adalah Musda yang Sah Dalam forum Musda tersebut, Pengurus DPW Pemuda LIRA Sulsel turut memberikan pernyataan tegas bahwa Musda XVI KNPI Sulsel yang dilaksanakan di Hotel Horison pada tanggal 8–9 Desember 2025 adalah Musda sah dan memiliki legitimasi penuh. Hal ini didasarkan pada kehadiran unsur DPP KNPI serta dukungan suara mayoritas OKP dan DPD II yang memenuhi syarat quorum sebagaimana mekanisme organisasi KNPI. Pengurus Pemuda LIRA menilai bahwa proses Musda Horison berlangsung tertib, demokratis, dan sesuai aturan organisasi, sehingga keputusan aklamasi terhadap Vonny Ameliani Suardi memiliki dasar yang kuat. “Pemuda LIRA Sulsel menegaskan bahwa Musda KNPI di Hotel Horison adalah Musda resmi yang memenuhi seluruh unsur legalitas organisasi. Karena itu, hasilnya sah, termasuk terpilihnya Ketua KNPI Sulsel,” tegas perwakilan Pemuda LIRA dalam forum. Momentum Awal Kolaborasi Pemuda Sulsel Musda Pemuda LIRA Sulsel menjadi ruang penting untuk memperkuat konsolidasi antarorganisasi pemuda. Kehadiran Vonny sebagai Ketua KNPI Sulsel terpilih memberikan sinyal positif bahwa hubungan antara KNPI dan Pemuda LIRA akan berjalan erat ke depan. Forum ini ditutup dengan semangat persatuan, komitmen kolaborasi, dan harapan bahwa kepemimpinan baru KNPI dapat menjadi energi baru bagi gerakan kepemudaan di Sulawesi Selatan.

Scroll to Top