Daerah

Daerah, Makassar, Pendidikan

Angkatan 2023 Administrasi Pendidikan UNM Sukses Gelar Talkshow Perkuat Kesadaran Diri Mahasiswa

ruminews.id – Makassar, 26 November 2025 – Mahasiswa Program Studi Administrasi Pendidikan Kelas 01 Angkatan 2023, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (UNM), sukses menyelenggarakan talkshow bertema “Self Awareness and Self Love: Fight the Toxic Digital Vibes”. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan karakter dan kesadaran diri bagi mahasiswa di tengah derasnya pengaruh negatif media digital. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya fenomena toxic digital vibes yang berpengaruh pada kesehatan mental, kepercayaan diri, dan dinamika sosial generasi muda. Melalui sesi materi dan diskusi, peserta dibimbing untuk memahami konsep self-awareness, mengembangkan self-love, serta membangun pola pikir sehat dalam berinteraksi di dunia digital. Sebagai bentuk aksi nyata dari mata kuliah Komunikasi Organisasi Pendidikan, kegiatan ini menjadi media bagi mahasiswa untuk menerapkan langsung teori komunikasi dalam penyelenggaraan sebuah program edukatif. Khairunnisa sebagai Ketua panitia menjelaskan peran penting talkshow ini dalam meningkatkan kesadaran diri generasi muda. Dalam keterangannya, ia menuturkan: “Talkshow Self Awareness and Self Love: Fight the Toxic Digital Vibes merupakan praktik langsung dari mata kuliah Komunikasi Organisasi Pendidikan. Kegiatan ini menjadi wujud nyata penerapan teori ke dalam aksi, sekaligus upaya kami menghadirkan ruang belajar yang positif dan relevan dengan tantangan era digital. Seluruh kebutuhan kegiatan dapat terlaksana berkat kreativitas panitia serta dukungan dari beberapa sponsorship.” Kegiatan ini juga mendapat apresiasi hangat dari Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, yang menyampaikan rasa bangganya atas pelaksanaan talkshow yang berlangsung sangat antusias. Beliau menyoroti bagaimana energi dan semangat peserta yang memenuhi Gedung Teater FMIPA turut menyukseskan acara ini. “Saya mengapresiasi mahasiswa Angkatan 2023 atas penyelenggaraan kegiatan yang penuh antusiasme. Melihat gedung teater terisi penuh oleh peserta yang bersemangat menjadi bukti bahwa tema ini benar-benar penting dan dibutuhkan,” ungkapnya. Talkshow berjalan interaktif dan hangat, dengan respons positif dari seluruh peserta. Mahasiswa berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat kesadaran diri, kesehatan mental, serta membangun lingkungan akademik yang lebih suportif.

Daerah, Makassar

Dukungan Mengalir Deras, BMI Sulsel Pastikan Siap Menangkan Vonny Ameliani

ruminews.id, Makassar — Dukungan terhadap sosok Vonny Ameliani S sebagai calon Ketua DPD KNPI Sulawesi Selatan terus mengalir dari berbagai elemen organisasi kepemudaan. Salah satu dukungan terbaru datang dari Edho Budiman selaku Sekertaris OKP Banteng Muda Indonesia (BMI). Dalam pernyataannya, menegaskan bahwa BMI melihat Vonny Ameliani sebagai figur yang visioner, inklusif, serta mampu membawa energi baru bagi gerakan kepemudaan di Sulawesi Selatan. Ia menyebut, karakter kepemimpinan Vonny yang kolaboratif menjadi alasan kuat bagi BMI untuk turut memberikan dukungan penuh. “Kami melihat Ibu Vonny Ameliani S sebagai sosok yang mampu memajukan KNPI Sulsel ke arah yang lebih progresif. Beliau memiliki rekam jejak organisasi yang kuat, dan kami yakin di bawah kepemimpinannya, ruang kolaborasi bagi seluruh OKP akan semakin terbuka,” ujar dalam keterangan resminya. Menurutnya, generasi muda membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu merangkul, tetapi juga menghadirkan gagasan baru serta program yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia berharap kehadiran Vonny Ameliani dapat memperkuat peran KNPI sebagai rumah besar pemuda Sulawesi Selatan. Perhelatan pemilihan Ketua DPD KNPI Sulsel dijadwalkan berlangsung pada 29 November 2025, dan dukungan yang diberikan oleh BMI menjadi tambahan energi positif bagi pencalonan Vonny Ameliani. Dukungan dari BMI Sulsel juga menunjukkan harapan besar bahwa kepemimpinan baru KNPI Sulsel dapat membawa perubahan konstruktif bagi masa depan pemuda di daerah ini.

Daerah, Makassar

Musda KNPI Sulsel Ke XVI. Sudirman Sulaiman: Sukseskan Musda Kartini Kartini Sulsel.

ruminews.id, Makassar— Suasana penuh dinamika mengiringi pertemuan strategis jelang Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan ke-XVI. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Panitia Musda, Kepala Sekretariat KNPI Sulsel, Gubernur Sulawesi Selatan Sudirman Sulaiman, Ketua KNPI Sulsel, serta Anggota DPRD Provinsi Sulsel dari Fraksi Gerindra. Meski beragam latar belakang hadir di meja diskusi itu, fokus utama tetap satu: menyukseskan Musda KNPI Sulsel sebagai ruang konsolidasi besar pemuda Sulawesi Selatan. Dalam suasana penuh keseriusan namun hangat itu, Gubernur Sulsel Sudirman Sulaiman menjadi figur sentral yang menebarkan optimisme. Dengan bahasa yang mengayun namun tegas, ia menegaskan bahwa Musda KNPI harus menjadi momentum penataan ulang arah gerakan pemuda. “Sukseskan Musda Komite Nasional Pemuda Indonesia Sulsel. Kita ingin ruang ini menjadi tempat lahirnya keputusan terbaik, pemimpin terbaik, dan semangat terbaik demi masa depan pemuda di Sulawesi Selatan,” ujar Sudirman Sulaiman. Dalam kesempatan yang sama, Gubernur juga menekankan pentingnya memberikan panggung besar bagi perempuan muda di bawah naungan KNPI. “Sukseskan pula Musda Kartini-Kartini Sulsel. Perempuan muda harus mendapat ruang, kesempatan, dan peran strategis untuk bergerak lebih jauh.” Sementara itu, Ketua Panitia Musda KNPI Sulsel, Idham, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dukungan pemerintah provinsi. “Kami sangat mengapresiasi dukungan penuh Bapak Gubernur. Ini menjadi energi besar bagi kami dalam memastikan Musda XVI berlangsung sukses, tertib, dan penuh makna bagi pemuda Sulsel,” ujar Idham. Ketua KNPI Sulsel dan unsur sekretariat turut memperkuat komitmen bahwa Musda ke-XVI bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi arena untuk memperkuat peta jalan organisasi menuju masa depan yang lebih visioner. Dengan dukungan pemerintah, soliditas panitia, serta harapan besar dari berbagai elemen kepemudaan, Musda KNPI Sulsel ke-XVI diyakini akan menjadi momentum bersejarah. Sebuah panggung untuk membuktikan bahwa pemuda Sulawesi Selatan tetap menjadi lokomotif perubahan menggerakkan gagasan, menyatukan kekuatan, dan menyiapkan generasi penerus yang lebih berani dan terarah. Di tanah Sulawesi Selatan yang kaya identitas dan sejarah perjuangannya, gema pesan Gubernur kini menggema lebih kuat: “Sukseskan Musda KNPI Sulsel.”

Daerah, Dinas Koperasi Makassar, Ekonomi, Makassar, Nasional, Pemerintahan

Mahasiswa Binaan Inkubator UMKM Makassar Raih Juara 2 KMI Expo 2025, Harumkan Nama Kota Daeng di Kancah Nasional

ruminews.id, Makassar — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Kota Makassar. Dua tim mahasiswa binaan Inkubator UMKM Makassar berhasil meraih Juara 2 pada ajang bergengsi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo 2025 yang berlangsung di Magelang, Jawa Timur. Pencapaian ini semakin istimewa karena diraih di tengah kompetisi ketat yang melibatkan 256 universitas dari seluruh Indonesia. Dua tim tersebut, yakni Tanahmu dan Brotem, tampil memukau di hadapan juri setelah melalui proses pendampingan intensif, penguatan branding, dan penyempurnaan kemasan produk yang dilakukan oleh Inkubator UMKM Kota Makassar bersama Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar. Melalui pendampingan yang terukur dan terarah, kedua tim mampu menyajikan produk dengan tampilan profesional sekaligus memiliki nilai jual kuat—menjadikan mereka unggul di antara ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ucapan terima kasih tak lupa disampaikan kepada para pembimbing yang telah memberikan arahan sejak masa persiapan hingga masa kompetisi. Peran para mentor dianggap sangat krusial dalam membentuk mental kompetitif, memperkuat ide bisnis, hingga meningkatkan kualitas presentasi produk mahasiswa. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh jajaran Inkubator UMKM Kota Makassar dan Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar yang telah mengambil peran sentral dalam proses penguatan branding dan packaging. Dukungan ini terbukti menjadi salah satu faktor dominan yang membuat tim Tanahmu dan Brotem tampil percaya diri dan mencuri perhatian para juri nasional. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya di Kota Makassar untuk terus berinovasi, mengembangkan ide bisnis kreatif, serta meningkatkan daya saing produk lokal. Selain itu, capaian ini sekaligus mempertegas komitmen Makassar dalam membangun ekosistem kewirausahaan mahasiswa yang kuat, adaptif, dan semakin kompetitif di tingkat nasional. Dengan torehan prestasi ini, Makassar kembali menunjukkan bahwa generasi muda kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan UMKM masa depan.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Dari Balai Prajurit, Aliyah Mustika Ilham Teguhkan Komitmen Kebangsaan bagi Keluarga Besar FKPPI

ruminews.id, MAKASSAR — Pelantikan Pengurus Daerah XIX FKPPI Sulawesi Selatan Masa Bakti 2025–2030 berlangsung khidmat dan penuh haru di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf, Selasa (25/11/2025). Dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, resmi dilantik sebagai Ketua PD XIX FKPPI Sulsel untuk periode 2025–2030. Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat FKPPI, Pontjo Sutowo, yang menandai pengukuhan ini dengan penyematan tanda jabatan dan penyerahan pataka. Setelah menerimanya, Aliyah Mustika Ilham mengibarkan bendera pataka, simbol kesiapan dan tekad untuk mengemban amanah memajukan FKPPI di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Usai pelantikannya, Aliyah Mustika Ilham kemudian melantik jajaran pengurus PD XIX FKPPI Sulsel yang akan mendampinginya menjalankan roda organisasi selama lima tahun ke depan. Acara bergengsi ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan daerah, mulai dari Forkopimda Sulsel dan Forkopimda Kota Makassar, Sekda Provinsi Sulsel Jurfi Rahman mewakili Gubernur Sulsel, Ketua DPRD Sulsel A. Rachmatika Dewi, hingga Sekda Kota Makassar A. Zulkifly Nanda yang hadir mewakili Wali Kota Makassar. Kehadiran Ketua Kwarda Pramuka Sulsel, Adnan Purictha Ichsan, turut menambah khidmat prosesi tersebut. Dalam sambutannya, Aliyah Mustika Ilham menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni yang berjalan rutin, melainkan langkah penting untuk meneguhkan kembali jati diri FKPPI sebagai rumah besar anak-anak TNI, Polri, dan purnawirawan. Ia menekankan bahwa FKPPI tumbuh dari nilai, disiplin, dan loyalitas yang diwariskan orang tua mereka yang mengabdi kepada bangsa dan negara. Aliyah Mustika Ilham menegaskan bahwa amanah yang ia emban bukan hanya meneruskan roda organisasi, tetapi juga menghidupkan nilai perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya FKPPI. Ia menyoroti bahwa arus perubahan nasional, kemajuan teknologi, serta dinamika politik dan ekonomi mengharuskan FKPPI tetap adaptif dan relevan. Karena itu, ia mendorong seluruh kader agar menjadikan FKPPI sebagai organisasi modern, inklusif, dan bermanfaat bagi anggota maupun masyarakat luas. Menurut Aliyah Mustika Ilham, FKPPI tidak boleh berhenti pada simbol atau atribut semata, tetapi harus menjadi barisan kokoh penggerak nilai-nilai Pancasila, persatuan, dan nasionalisme, terutama di tengah tantangan globalisasi. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada para senior dan pendiri FKPPI Sulsel yang telah membangun fondasi kuat bagi organisasi ini. Apresiasi serupa ia sampaikan kepada Pangdam XIV/Hasanuddin, Kapolda Sulsel, serta seluruh jajaran TNI dan Polri atas dukungan dan pembinaan yang terus diberikan kepada keluarga besar FKPPI. Mengakhiri sambutannya, Aliyah Mustika Ilham memaparkan arah kerja FKPPI Sulsel ke depan yang berfokus pada penguatan soliditas organisasi, peningkatan kapasitas kader, serta penguatan peran sosial dan kebangsaan melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, dan berbagai elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa FKPPI Sulsel akan menghadirkan program nyata yang memberi manfaat luas, mulai dari kegiatan sosial kemasyarakatan, pembinaan bela negara, hingga penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Pelantikan ini menandai awal babak baru kepemimpinan FKPPI Sulsel, dengan harapan organisasi ini semakin solid, semakin relevan, dan semakin berperan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan, Pendidikan

Seleksi Transparan, Disdik Makassar Petakan Kompetensi Calon Kepala Sekolah

ruminews.id, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar, menunjukkan kesungguhannya membangun pendidikan yang lebih baik, dimulai dari memastikan pemimpin sekolah dipilih melalui proses yang jujur dan terbuka. Melalui Dinas Pendidikan, sebanyak 500 Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) tingkat SD dan SMP mengikuti uji kompetensi sebagai langkah awal menyiapkan figur-figur yang mampu membawa perubahan di sekolah masing-masing. Uji kompetensi ini bukan hanya memenuhi regulasi, tetapi menjadi wujud komitmen Pemkot menghadirkan proses yang transparan, berkeadilan, dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap pendidik untuk berkembang. Hal itu, melalui seleksi terbuka sebanyak 500 bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) tingkat SD dan SMP di Kota Makassar, mengikuti uji kompetensi (UK) pada Senin–Selasa, 24–25 November 2025, di Kantor Regional IV BKN Makassar, Jalan Paccerakkang. Uji kompetensi tersebut berlangsung selama dua hari dan dibagi menjadi dua sesi setiap harinya. Penyelenggaraan UK sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Kota Makassar, sementara Dinas Pendidikan hanya mengirimkan 500 nama peserta untuk diikutkan dalam UK tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, menjelaskan bahwa uji kompetensi ini merupakan tahap krusial dalam proses seleksi calon kepala sekolah, mengisi kebutuhan jabatan di 314 SD dan 55 SMP se-Kota Makassar. Achi memaparkan bahwa Dinas Pendidikan telah melalui seluruh tahapan sesuai ketentuan, mulai dari proses pendataan lewat Sistem Penugasan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah melalui (SIM KSPSTK) untuk Dinas Pendidikan, yang menjadi dasar penentuan siapa saja guru yang memenuhi syarat sebagai BCKS. “Tes BCKS ini diikuti oleh 500 calon Kepsek ditempatkan di SD dan SMP se-Kota Makassar. Ada tim independen yang nantinya, ikut menyeksi hingga tahap akhir,” jelss Achi, Selasa (25/11/2025). Dijelaskan, di dalam sistem tersebut, Dinas Pendidikan melakukan pencocokan data berdasarkan Permendikbudristek Nomor 7 Tahun 2025 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Selain itu, merujuk pada surat edaran bersama Mendikdasmen dan Kepala BKN Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pengangkatan, Penugasan, Pemindahan dan Pemberhentian Guru sebagai Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. “Dari dasar aturan itulah kemudian, kami Dinas Pendidikan mengirimkan surat resmi kepada tim KSPSTK sebagai bagian dari proses administratif,” tuturnya. Achi menegaskan bahwa catatan dan instruksi terkait unggahan berkas sudah sangat jelas dalam notifikasi undangan, termasuk imbauan untuk teliti dan menyesuaikan dokumen sesuai syarat. Hanya saja, beberapa kesalahan peserta yang menyebabkan mereka gagal lolos administrasi antara lain. Dibuktikan pengalaman Manajerial Tidak Dibuktikan. Selain itu, peserta hanya mengunggah dokumen. Padahal di SK pembagian tugas, bukan bukti pengalaman manajerial minimal 2 tahun. “Kami menjalankan aturan. Yang tidak lolos rata-rata karena ketidaktelitian sendiri,” tegasnya. Kemudian, pengalaman PLt tidak diunggah, padahal itu yang diminta. Achi menegaskan bahwa pembagian tugas sekolah bukan bukti pengalaman manajerial. “Selanjutnya, dilampirkan, surat tidak pernah dikenai hukuman disiplin tidak sesuai surat resmi dari BKPSDM yang dibubuhi barcode dan tanda tangan pejabat terkait,” terangnya. Padahal lanjut dia, persyaratan jelas meminta bukti tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin sedang atau berat sesuai aturan perundang-undangan. Hanya saja, calon Kepsek mengunggah biodata tanpa bukti. “Beberapa peserta menuliskan biodata lengkap, termasuk pengalaman-pengalaman mereka, tetapi tidak mengunggah bukti dokumen pendukung seperti SK jabatan, SK PLt, atau sertifikat lainnya,”s katanya. Dia juga meluruskan soal keluhan peserta terkait syarat usia. Contohnya, guru berusia 57 tahun namun masih lolos sebagai peserta. Achi menjelaskan bahwa dalam sistem, usia dihitung berdasarkan tanggal persis. Misalnya, peserta berusia 56 tahun 10 bulan, dan baru memasuki usia 57 tahun per 31 Desember. Sistem tetap mencatatnya sebagai 56 tahun, sehingga masih memenuhi syarat mengikuti seleksi. “Mereka tetap diikutkan, namun tetap akan melalui proses perangkingan berdasarkan nilai uji kompetensi,” jelas mantan Kadis DP3A Kota Makassar ini. Setelah uji kompetensi yang diselenggarakan BKPSDM selesai, proses berikutnya kembali melibatkan Dinas Pendidikan bersama tim pansel independen. Tim melakukan pemeringkatan, menyeleksi secara lebih mendalam, menentukan siapa yang layak melanjutkan ke tahap wawancara. “Kami menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan kolaboratif, transparan, dan mengikuti aturan,” tegasnya. Soal ketentuan masa jabatan kepala Sekolah maksimal 2 Periode. Achi juga kembali mengingatkan aturan pada Pasal 23 Permendikbud. Dimana, satu periode jabatan kepala sekolah adalah 4 tahun. Sehingga Kepala sekolah yang telah menjabat 2 periode (8 tahun) berturut-turut tidak dapat lagi mengikuti seleksi kepala sekolah. “Ini pula yang sering kali menjadi dasar penolakan beberapa peserta, tetapi seluruhnya sudah sesuai regulasi,” imbuh Achi. Sedangkan, Kepala BKPSDMD Kota Makassar, Kamelia Thamrin Tantu, menjelaskan bahwa UK pada dasarnya diperuntukkan bagi semua pegawai. Namun, untuk tahap ini, pihaknya memprioritaskan mereka yang mendaftar seleksi kepala sekolah agar saat terpilih nanti, semua persyaratan kompetensi sudah terpenuhi. “Yang mengikuti tahapan itu 500 orang, apakah semuanya ikut. Jadi uji kompetensi itu sebenarnya diperuntukkan untuk semua pegawai, bukan cuma yang ikut seleksi kepala sekolah,” ujarnya. Dengan pemetaan kompetensi yang lebih jelas, Pemkot Makassar berharap proses pembinaan pegawai dan penentuan kepala sekolah dapat berjalan lebih objektif dan akurat sesuai kebutuhan lapangan. “Kami prioritaskan yang mau ikut kepala sekolah supaya saat nanti terpilih, persyaratannya sudah ada dan sudah terpenuhi semuanya,” sambung Kamelia. Ia menekankan bahwa UK tidak menentukan peserta lulus atau tidak lulus seleksi. Tapi, uji kompetensi ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan masing-masing ASN, sehingga pembinaan dan pelatihan yang diberikan nantinya bisa tepat sasaran. Dia juga menegaskan, UK itu bukan berarti lulus atau tidak lulus. UKOM itu untuk mengetahui tingkat kompetensi dari setiap orang. “Misalnya saya ada di level mana, sehingga saat kita ingin melakukan pelatihan atau pembinaan, itu sudah tepat dengan tingkatan yang kita punyai. Itu sebenarnya tujuannya,” jelasnya. Kamelia menambahkan, seluruh pegawai sebenarnya diwajibkan mengikuti UK. Bahkan, sebelumnya BKPSDMD telah mendapatkan kuota seribu lebih pegawai dari BKN untuk mengikuti uji kompetensi serupa, yang telah dilaksanakan selama empat hari di Kantor BKN Makassar. “Staf juga diharuskan ikut UK. Kemarin kita dapat kuota dari BKN sebanyak seribu lebih orang untuk seluruh pegawai Pemkot Makassar,” katanya. Terkait adanya pertanyaan mengapa sejumlah pegawai tetap diikutkan meski tidak lulus seleksi administrasi kepala sekolah, Kamelia menegaskan bahwa UK adalah hak semua pegawai. Dikatakan, bahwa hasil UK nantinya akan diserahkan langsung kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin sebagai bahan analisis dalam pengambilan keputusan. “Diserahkan ke Pak Wali, tapi nilai UK ini tidak menentukan apakah nanti calon Kepsek bisa punya kompetensi jadi kepala sekolah. Karena UK itu untuk menjelaskan kompetensinya bagaimana, levelnya di mana,” ungkapnya. Hasil itu

Daerah, DPRD Kota Makassar, Makassar, Pemerintahan

Supratman Soroti Kegaduhan Pemilihan Ketua RT/RW

ruminews.id, MAKASSAR — Ketua DPRD Kota Makassar, Supratman, menyoroti pelaksanaan pemilihan ketua RT/RW yang dinilai menimbulkan kegaduhan di sejumlah wilayah. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat terkait pemilihan RT/RW yang dihadiri camat, lurah se-Kota Makassar, serta dinas pemerintah kota terkait, Selasa (25/11/2025). Supratman menekankan bahwa proses pemilihan harus berlangsung netral, berkualitas, dan sesuai dengan regulasi, serta menegaskan bahwa DPRD Kota Makassar tidak boleh dipolitisasi. Ia meminta pemerintah kota segera menata ulang mekanisme pemilihan agar tidak menimbulkan tekanan politik maupun ketidakadilan administrasi di tingkat kelurahan. Menurut Supratman, sejumlah lurah merasa tertekan saat didatangi pihak tertentu yang dianggap mewakili Wali Kota Makassar. Ia menekankan bahwa pemilihan ketua RT/RW seharusnya menjadi ruang pemersatu masyarakat, bukan memperlebar perbedaan politik pascapilkada terakhir. “Kita harus satukan. Tidak ada lagi merah, hijau, atau kotak-kotak politik. Kalau DPR saja pecah, bagaimana masyarakat?” tegasnya. Ia juga menyoroti laporan intimidasi terhadap calon ketua RT/RW, ketidakadilan administrasi, serta ketidakkonsistenan proses verifikasi domisili antarwilayah. Beberapa warga dipersulit dalam pengurusan legalisir ijazah, sementara pihak tertentu dipermudah. Bahkan pelayanan sempat dilakukan hingga larut malam. Supratman mencatat sejumlah kendala teknis yang menghambat proses pemilihan, antara lain: kertas suara belum selesai dicetak, struktur panitia belum final, penunjukan panitia tidak transparan, dan desain kotak suara belum tersedia. Ia menyatakan bahwa penundaan pemilihan merupakan opsi realistis untuk menjaga integritas dan kualitas pelaksanaan. Selain itu, Supratman menyoroti pengelolaan anggaran sebesar Rp5 miliar yang berpotensi tidak tepat sasaran jika pemilihan dipaksakan. “Kami menyetujui anggaran karena menganggap kecamatan dan kelurahan sudah siap. Tapi faktanya, kelurahan justru sibuk mengurus calon tertentu, bukan kepanitiaannya,” ujarnya. Dalam penutup, Supratman menegaskan bahwa seluruh proses pemilihan ketua RT/RW di Kota Makassar harus dilaksanakan secara netral, transparan, berkualitas, dan sesuai peraturan perundang-undangan, demi menjaga kepercayaan publik serta stabilitas sosial di tingkat lingkungan.

Daerah, DPRD Kota Makassar, Makassar, Pemerintahan

Ketua DPRD Makassar Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025

ruminews.id, MAKASSAR — Ketua DPRD Kota Makassar, Supratman, bertindak sebagai pembina upacara pada peringatan HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional 2025 yang diselenggarakan di SD–SMP Rama Sejahtera, Jalan Racing Center 2, Kota Makassar, pada 25 November 2025. Pelaksanaan upacara diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih yang berlangsung secara khidmat. Seluruh peserta, yang terdiri atas para guru, tenaga kependidikan, serta siswa, mengikuti prosesi tersebut dengan penuh kedisiplinan dan penghormatan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan sejarah singkat PGRI oleh Ketua PGRI Kecamatan Panakkukang, H. Basora, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPRD Makassar atas kesediaannya menghadiri peringatan tersebut. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPRD Makassar, Bapak Supratman, yang telah berkenan hadir. Kehadiran beliau menunjukkan komitmen DPRD Kota Makassar dalam menjalankan fungsi representasi dan dukungan terhadap dunia pendidikan,” ujar H. Basora. Dalam amanatnya selaku pembina upacara, Supratman menyampaikan penghargaan mendalam terhadap dedikasi para guru sebagai garda terdepan pembangunan sumber daya manusia. “Apabila hari ini Bapak-Ibu guru belum melihat balasan dari murid-muridnya, saya yakin dan percaya bahwa balasan itu akan datang pada waktunya, bahkan sampai di akhirat kelak,” tutur Supratman. Ia juga menekankan peran penting guru dalam pembentukan karakter peserta didik. “Pembentukan karakter, pengetahuan, serta adab para murid sesungguhnya bersumber dari ketulusan Anda sebagai guru,” tegasnya. Supratman mengajak seluruh tenaga pendidik untuk terus mengintegrasikan nilai akhlak dan moral dalam proses pembelajaran. “Teruslah menjadi tenaga pendidik yang secara konsisten menyelipkan pendidikan akhlak kepada setiap murid. Sebab dari tangan Bapak-Ibu sekalian lahir generasi masa depan bangsa,” tambahnya. Upacara peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2025 ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Makassar, Opini, Pemerintahan

Kontestasi RT/RW Makassar dan Tantangan Patronase di Akar Rumput

ruminews.id – Pemilihan umum RT/RW di Makassar dalam waktu dekat bukan hanya sekadar memilih pemimpin lingkungan. Di tingkat yang sangat lokal ini, kualitas demokrasi justru diuji secara paling nyata. Pada level RT/RW, relasi sosial lebih cair, lebih dekat, namun sekaligus lebih rentan terhadap pola patronase yang telah lama mewarnai birokrasi Indonesia. Fenomena patron-klien yang kita kenal dalam politik nasional ternyata sering dimulai dari praktik-praktik kecil di lingkungan terdekat. Patronase terjadi ketika seseorang memperoleh posisi bukan karena kompetensi, tetapi karena loyalitas, kedekatan personal, atau balas jasa politik. Pola ini bersifat informal, emosional, dan sering kali tidak sejalan dengan prinsip birokrasi modern yang rasional dan profesional. Bila kita mengingat pandangan James C. Scott tentang patron-klien, hubungan ini pada dasarnya merupakan pertukaran sumber daya: patron memberi perlindungan atau keuntungan, sedangkan klien membalas dengan dukungan atau layanan. Meskipun terlihat sederhana, hubungan ini dapat menjelma menjadi hambatan serius bagi kinerja pemerintahan, bahkan di tingkat lingkungan. Pada pemilihan RT/RW, bentuk patronase dapat muncul dalam wujud janji bantuan pribadi, dukungan finansial, hingga praktik vote buying yang terselubung. Ketika pola seperti ini terus dibiarkan, maka pemimpin lingkungan yang terpilih bukanlah mereka yang memiliki kapasitas sosial, kecakapan manajerial, atau kemampuan mengelola konflik warga—melainkan mereka yang sekadar “paling dekat” dengan figur tertentu atau memiliki modal balas budi. Inilah titik awal rantai birokrasi yang lemah dan tidak meritokratis. Padahal, meritokrasi atau sistem merit justru menekankan pentingnya kompetensi, kelayakan, dan integritas dalam memilih seseorang untuk menduduki jabatan. Prinsip “the right man on the right job” seharusnya tidak berhenti pada tingkat kementerian atau pemerintah kota, tetapi diterapkan juga sejak di struktur yang paling dasar. RT/RW adalah ujung tombak pelayanan publik: pengurusan administrasi, mediasi konflik warga, hingga koordinasi kebencanaan dimulai dari sini. Tanpa pemimpin yang kompeten, masyarakat justru menanggung dampaknya secara langsung. Namun realitasnya, pada setiap kontestasi politik—bahkan pada pilkada sekalipun—penyimpangan meritokrasi kerap terjadi akibat lemahnya netralitas aparatur dan kuatnya budaya patronase. Jika pola ini dibiarkan merembes ke pemilu RT/RW Makassar, maka sulit berharap ada perubahan tata kelola yang lebih bersih di masa depan. Karena itu, pemilu RT/RW mendatang perlu menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan lingkungan bukanlah ruang untuk transaksi politik, tetapi forum pemilihan berbasis kualitas. Warga Makassar harus lebih kritis dalam memilih, menilai rekam jejak, memahami kapasitas kandidat, dan menolak segala bentuk praktik patronase yang hanya memperpanjang rantai ketergantungan dan ketidakprofesionalan birokrasi. Demokrasi lokal yang sehat dimulai dari lingkungan terkecil. Jika RT/RW dikelola oleh figur yang berkapasitas, berintegritas, dan dipilih melalui prinsip meritokrasi, maka Makassar dapat menjadi contoh bahwa perubahan birokrasi tidak harus menunggu dari atas, tetapi bisa tumbuh kuat dari akar rumput.

Daerah, Makassar, Opini, Pemerintahan

Evaluasi Bisnis Akhir Tahun: Untung atau Buntung?

ruminews.id – Setiap akhir tahun, para pelaku usaha biasanya berkumpul dengan ritual yang sama, membuka laporan keuangan sambil bertanya dalam hati, “Sebenarnya saya ini benar-benar untung, atau hanya merasa untung?” Pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tetapi punya kekuatan seperti cermin jujur yang tak bisa dibohongi. Angka-angka mungkin terlihat dingin, tapi justru karena itulah ia bicara apa adanya. Di banyak kantor, setelah jam operasional, para pemilik usaha duduk menatap angka-angka itu. Mereka menganggap laporan keuangan sebagai penutup tahun. Padahal, kalau dipikir ulang, laporan itu justru pembuka pintu ke pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini mungkin terlewat. Pendapatan boleh naik, laba boleh tercatat, tapi apa artinya jika kas makin tipis dan usaha berjalan terseok-seok? Sering kali, profit dianggap sebagai piala kemenangan. Namun realitasnya lebih rumit. Banyak bisnis tampak “laba” di atas kertas, tapi arus kasnya berdarah pelan-pelan. Ada usaha yang kelihatan makmur, tetapi tetap harus meminjam untuk membayar gaji atau listrik. Ada yang omzetnya besar, tapi gudangnya penuh barang yang tidak bergerak, sementara piutang tak kunjung ditagih. Akhir tahun membuat setiap pengusaha harus menatap fakta bahwa laba itu penting, tapi bukan segalanya. Yang membuat bisnis tetap hidup adalah kemampuan bergerak, bertahan, dan mengambil napas panjang. Dan semua itu hanya mungkin kalau arus kas kuat dan modal kerja terkelola rapi. Masalah lain yang sering menipu adalah soal pelanggan. Banyak yang percaya, semakin banyak pelanggan semakin sehat pula bisnisnya. Kenyataannya belum tentu. Ada pelanggan besar yang tampak menggiurkan, tetapi justru menyimpan beban tersembunyi seperti pembayaran yang lambat, permintaan potongan harga yang melelahkan, atau kebutuhan layanan tambahan yang menyita tenaga. Akhir tahun adalah saat yang tepat untuk bertanya: Siapa pelanggan yang sebenarnya memberi nilai? Siapa yang justru membuat usaha bekerja keras tanpa hasil sepadan? Memutuskan hubungan dengan pelanggan yang tidak sehat memang tidak populer, tetapi sering menjadi langkah penting agar usaha tidak terus-menerus buntung tanpa sadar. Biaya operasional pun kerap bekerja seperti semut yang kecil, nyaris tak terlihat, tapi jika dibiarkan, koloninya bisa menggerogoti fondasi bisnis. Mulai dari perjalanan dinas, listrik, perawatan mesin, hingga kebiasaan kecil membeli sesuatu “karena biasa begitu”. Pada akhirnya, biaya-biaya yang terlihat remeh itulah yang perlahan memakan margin. Di titik ini, pengusaha perlu meninjau bukan hanya angkanya, tetapi perilaku dan realitas yang menyertainya. Siapa yang memutuskan pengeluaran? Apakah benar dibutuhkan? Banyak usaha bukan tumbang karena pasar yang keras, tetapi karena internal control yang rapuh. Hal lain yang tak boleh luput adalah tim. Di laporan keuangan, tenaga kerja dicatat sebagai beban. Namun dalam kenyataan, merekalah yang menentukan arah langkah usaha. Sayangnya, banyak bisnis memasuki tahun baru dengan struktur organisasi yang makin berat seperti jabatan makin banyak dan bercabang, tetapi fungsi strategis minim, rapat makin sering, namun jarang dieksekusi. Ini pertanyaan yang perlu dijawab jujur: Apakah usaha tumbuh karena kekuatan tim, atau tumbuh meski tim belum siap? Evaluasi akhir tahun adalah waktu untuk melihat hal yang biasanya sensitif, siapa yang harus dipertahankan, siapa yang perlu dikembangkan, dan apakah struktur organisasi masih sesuai dengan arah bisnis ke depan. Menjelang akhir tahun, setiap pelaku usaha seharusnya berhenti sejenak untuk menengok ke dalam dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk operasional. Penting untuk menilai apa saja yang sudah tidak lagi relevan tetapi masih dipertahankan hanya karena kebiasaan, apa sebenarnya kekuatan utama yang membuat bisnis tetap bertahan di tengah persaingan, dan bagian mana yang justru harus dikurangi agar fokus bisa kembali tajam. Momen ini bukan sekadar evaluasi, tetapi sebuah ajakan untuk membersihkan apa yang menghambat, menegaskan kembali inti kekuatan yang paling bernilai, dan menyederhanakan langkah agar tahun berikutnya bisa dijalani dengan arah yang lebih jelas dan tenaga yang lebih efisien. Evaluasi akhir tahun memang seperti cermin yang tidak mengenal basa-basi. Ia menunjukkan hal yang mungkin ingin kita hindari. Namun justru dari sanalah hadir kesempatan untuk memperbaiki. Sebab pada akhirnya, pertanyaan besarnya tetap sama: Kita benar-benar untung, atau selama ini hanya menunda kenyataan buntung?. Jawabannya ada pada keberanian untuk membaca laporan keuangan bukan sekadar sebagai ringkasan angka, tetapi sebagai bahan bakar keputusan tahun depan. Bisnis tidak maju karena harapan, tetapi karena strategi yang berpijak pada realitas.

Scroll to Top