Makassar

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Aliyah Mustika Ilham: Paskibraka Adalah Generasi Emas, Pemimpin Masa Depan Bangsa

ruminews.id, BALI — Suasana hangat dan haru menyelimuti jamuan makan malam bersama Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, dan Paskibraka Kota Makassar 2025 di Jimbara, Bali. Kegiatan ini merupakan bagian dari studi wisata pada rangkaian Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka 2025 di Bali, yang berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperkuat kedisiplinan dan wawasan kebangsaan, tetapi juga memperluas pengetahuan tentang budaya, kepemimpinan, dan nilai-nilai persatuan bangsa. Dalam suasana akrab dan penuh semangat, Aliyah Mustika Ilham menyampaikan pesan mendalam kepada para anggota Paskibraka, generasi muda pilihan yang menjadi kebanggaan Kota Makassar. “Adik-adik semua adalah generasi emas, kebanggaan kita semua. Jaga semangat, jaga disiplin, dan teruslah belajar. Saya percaya, dari kalian akan lahir pemimpin masa depan yang membawa nama baik Makassar, bukan hanya di tingkat daerah, tapi juga di panggung nasional bahkan internasional,” tutur Aliyah Mustika Ilham penuh haru. Momen penuh kehangatan itu berlangsung pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, ketika Aliyah Mustika Ilham turut menyanyikan lagu “Kemesraan” ciptaan Franky Sahilatua. Lagu itu kemudian disambung dengan “Indonesia Jaya”, yang membangkitkan semangat kebangsaan seluruh peserta. Tanpa diduga, para anggota Paskibraka membalas dengan lagu “Terima Kasih Ibu”, menciptakan suasana haru dan penuh kebersamaan. Tawa, semangat, dan rasa bangga menyatu dalam satu momen yang begitu berkesan. Turut hadir mendampingi Wakil Wali Kota Makassar, Kepala Badan Kesbangpol Kota Makassar, Fathur Rahim, serta Asisten I Pemerintah Kota Makassar, Andi Muh. Yassir. Malam kebersamaan itu menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan dapat tumbuh melalui keakraban dan rasa kekeluargaan. Sebuah momen berharga yang meneguhkan keyakinan bahwa dari Paskibraka akan lahir generasi berkarakter, berintegritas, dan siap memimpin bangsa di masa depan.

Daerah, Makassar, Olahraga

KONI Bukan Panggung Politik: Saatnya Figur Berintegritas Memimpin Olahraga Sulsel

ruminews.id, Makassar – Menjelang suksesi Ketua KONI Provinsi Sulawesi Selatan, sejumlah nama mulai bermunculan. Wacana regenerasi kepemimpinan ini memang menarik perhatian publik, terlebih setelah prestasi Sulsel pada PON Aceh–Sumut 2024 merosot jauh dari target lima besar menjadi posisi ke-16 nasional catatan terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan Sulsel di ajang olahraga terbesar tanah air. Namun yang menarik, mayoritas nama yang kini beredar sebagai calon ketua justru berasal dari kalangan politikus dan pejabat publik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah latar belakang politik dan jabatan otomatis menjamin pembinaan dan prestasi olahraga? Sebagai pelaku dan pembina olahraga, saya memandang bahwa dunia olahraga memiliki kultur tersendiri. Ia tumbuh dari semangat sportivitas, dedikasi, dan kedisiplinan. Memimpin olahraga tidak sama dengan mengelola proyek atau birokrasi; ia menuntut kepekaan, empati, serta pengalaman langsung dalam membina atlet dan organisasi cabang olahraga.   Kita tentu tidak menafikan kontribusi figur politik, namun sejarah telah membuktikan bahwa besarnya otoritas terhadap anggaran, termasuk dana hibah dari APBD yang menjadi sumber utama operasional KONI, belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan prestasi. Anggaran yang besar tanpa arah pembinaan yang jelas hanyalah formalitas tanpa nilai. Di sisi lain, kini mulai muncul figur-figur nonpejabat publik yang justru memiliki rekam jejak panjang dalam pembinaan cabang olahraga. Mereka bukan sekadar pengurus, tetapi pelaku langsung yang membawa atletnya menorehkan prestasi podium di berbagai single event, multi event, bahkan di level internasional. Lebih dari itu, figur-figur ini telah membuktikan komitmennya secara ikhlas dengan menghadirkan gelanggang olahraga dalam skala mini, di tengah minimnya komitmen pemerintah daerah menyediakan sarana olahraga bagi masyarakat. Sikap semacam ini bukan hanya simbol dedikasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi atlet Sulawesi Selatan. Inilah figur-figur yang sepatutnya menjadi bahan pertimbangan serius bagi publik dan pemegang suara dalam pemilihan Ketua KONI Sulsel mendatang. Sebab ukuran kepemimpinan olahraga bukan terletak pada jabatan atau kekuasaan, melainkan pada integritas dan rekam jejak pengabdian yang telah nyata dikaryakan untuk prestasi daerah. Momentum suksesi ini seharusnya menjadi ajang refleksi dan koreksi kolektif. KONI tidak boleh terjebak dalam pusaran politik kekuasaan yang menjauhkan semangat sportivitas. Kepemimpinan olahraga harus kembali pada ruhnya: membina, menginspirasi, dan mencetak prestasi. Sulsel memiliki banyak potensi dan talenta luar biasa. Yang dibutuhkan bukan sekadar ketua dengan kekuasaan, melainkan pemimpin yang mampu menggerakkan semangat olahraga dari gelanggang hingga podium. Dan bagi saya, figur seperti itu adalah mereka yang telah berbuat nyata, bukan mereka yang baru ingin mencoba ketika panggung sudah disiapkan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Alumni Lintas Generasi Soroti Krisis Kepemimpinan dan Pudarnya Ruh Akademik di Unhas

ruminews.id, MAKASSAR – Sejumlah tokoh lintas generasi alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul dalam forum reflektif bertajuk Dialog Alumni Lintas Generasi: Unhas Kita – Dulu, Kini, dan Akan Datang, yang digelar Sabtu malam, 25 Oktober 2025, di Kopi Aspirasi, Jalan AP Pettarani No.5C, Makassar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lobelobe Forum (LOF) dan Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU), serta didukung oleh IKA Unhas Kota Makassar, ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni akademisi senior Abdul Madjid Sallatu, dosen FISIP Unhas Dr. Hasrullah, M.Si, dan sosiolog Unhas Dr. Rahmat Muhammad, M.Si. Sesi diskusi dipandu oleh Andi Sri Wulandani Thamrin, S.IP., M.Hum. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi alumni untuk berdiskusi secara jernih dan konstruktif mengenai perjalanan panjang Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan timur Indonesia. Tema “Dulu, Kini, dan Akan Datang” diangkat untuk meninjau kembali perjalanan historis Unhas, kondisi kekinian kampus, serta arah pengembangannya di masa depan. Kampus Seperti Tempat Kursus Salah satu pandangan paling tajam datang dari Ni’matullah, alumni Fakultas Ekonomi Unhas sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa. Ia menilai atmosfer akademik di Unhas kini kian memudar dan bergeser menjadi sekadar rutinitas administratif. “Unhas hari ini sudah seperti tempat kursus saja saya lihat. Tidak kelihatan nuansa dan tradisi akademik bergagasan di dalamnya, yang ada hanya orang yang mau mengejar ijazah,” tegas Ulla dalam forum tersebut. Menurutnya, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 39 ribu orang, organisasi kampus kini terlalu besar dan kehilangan kelincahan intelektual untuk melahirkan ide-ide besar. “Organisasi kampus kita sudah terlalu gemuk, makanya tidak bisa berbuat banyak selain rutinitas saja. Kita sulit berharap ada gagasan besar lahir dari konteks seperti saat ini,” ujarnya. Ulla juga menegaskan bahwa Unhas memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan Provinsi Sulawesi Selatan. “Menurut saya, Unhas-lah yang paling bertanggung jawab untuk Sulsel. Gubernur kita alumni, Ketua DPRD Sulsel juga alumni. Bupati dan Wali Kota, anggota DPRD banyak alumni Unhas. Tapi mengapa kita tidak bisa memberi dampak yang lebih bagus?” ucapnya. Krisis Kepemimpinan Akademik Sementara itu, Abdul Madjid Sallatu, akademisi senior dan mantan Wakil Kepala Bappeda Sulsel, menyoroti hilangnya kepemimpinan akademik sejati di tubuh Unhas. “Yang tidak ada di Unhas saat ini adalah academic organizational leadership. Yang ada hanya personal leadership, sehingga tidak memberi dampak besar bagi masyarakat,” kata Madjid. Ia juga mengkritisi sistem perangkingan universitas dan beban administratif dosen yang dinilainya justru membunuh kreativitas serta mengerdilkan ruang akademik yang seharusnya menjadi jantung perguruan tinggi. “Perangkingan universitas adalah jebakan agar kampus terjun di dunia kompetisi, padahal saat ini yang dibutuhkan adalah sinergi dan kolaborasi. Kompetisi seharusnya tidak dikenal dalam tradisi akademik,” tegasnya. Budaya Literasi yang Memudar Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah, M.Si, menyoroti lemahnya kemampuan literasi mahasiswa dan civitas akademika saat ini. “Memang banyak faktor penyebab pudarnya budaya membaca ataupun menulis, tapi kampus seharusnya mencari jalan keluar untuk ini. Kalau tidak, ini alarm bahaya bagi dunia akademik,” tegasnya. Ia mengenang masa kepemimpinan Prof. Ahmad Amiruddin, rektor ke-6 Unhas, yang kerap mengumpulkan dosen-dosen terbaik untuk berdiskusi berbagai topik — mulai dari isu kebangsaan hingga persoalan kemasyarakatan. “Dari forum-forum diskusi yang intens itulah banyak lahir ide dan gagasan, bahkan sebagian menjadi buku,” kenang Hasrullah. Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan Sementara itu, Dr. Rahmat Muhammad, yang pernah menjabat Wakil Dekan III FISIP Unhas, menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan akademik yang sehat dan terencana. “Dalam dunia akademik, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan secara rutin. Tugas tambahan seperti Ketua atau Sekretaris Departemen, Dekan, Wakil Dekan, Rektor, atau Wakil Rektor sebaiknya tidak diduduki terlalu lama,” ujarnya. Menurutnya, cukup satu periode agar lebih banyak dosen dapat memperoleh pengalaman dalam manajemen organisasi kampus. “Dari 2.500-an dosen di Unhas, semuanya seharusnya punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pengalaman memimpin. Potensi besar ini jangan disimpan di kampus saja,” tegas Rahmat. Ia juga menambahkan, Unhas yang begitu besar semestinya berani mendorong potensi terbaiknya ke level nasional. “Kalau memang berpotensi, kita harus dorong keluar kampus dan menjadi tokoh nasional, termasuk rektor,” ujarnya menutup pandangannya. Mengenang Kepemimpinan Emas Baik Abdul Madjid Sallatu, Ni’matullah, Dr. Hasrullah, maupun Dr. Rahmat Muhammad, sepakat bahwa kepemimpinan akademik terbaik dalam sejarah Unhas terjadi pada masa Prof. Ahmad Amiruddin. “Beliau bukan hanya pemimpin kampus, tapi pemimpin peradaban. Spirit kepemimpinannya belum ada yang menyamai hingga hari ini,” demikian simpulan reflektif yang mengemuka dalam forum yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA itu. Puluhan alumni dari berbagai fakultas dan angkatan hadir aktif dalam forum ini, menjadikannya ajang refleksi lintas generasi yang sarat gagasan dan semangat memperkuat kembali marwah, tradisi keilmuan, dan peran strategis Unhas dalam pembangunan bangsa. (*)

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Politik

Pemkot Makassar Tegas, Calon RT/RW yang Nyogok Warga Langsung Didiskualifikasi ❗️

ruminews.id, Makassar — Pemerintah Kota Makassar kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga pelaksanaan pemilihan Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Ketua Rukun Warga (RW) agar berlangsung jujur, transparan, dan tanpa praktik politik uang. Pemkot ingin agar pesta demokrasi di tingkat masyarakat ini menjadi contoh nyata dari pemerintahan yang bersih dan berintegritas. Kepala Bagian Hukum Setda Kota Makassar, Muh Izhar Kurniawan, menuturkan bahwa panitia pemilihan akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang mencoba mempengaruhi warga dengan uang, barang, atau janji tertentu. “Begitu ada bukti calon menyogok, langsung kita diskualifikasi. Tidak ada toleransi untuk praktik seperti itu,” tegas Izhar, Jumat (24/10). Kampanye Harus Edukatif dan Tertib Untuk menjaga ketertiban, Pemkot juga menetapkan aturan kampanye yang lebih ketat. Calon hanya diperbolehkan menggunakan spanduk ukuran kecil (maksimal 1×2 meter), brosur, dan kartu nama. Pemasangan baliho besar di tempat umum dilarang keras dan akan segera ditertibkan. Selain itu, para calon dipersilakan memperkenalkan diri kepada warga melalui pertemuan sederhana atau pesan tertulis yang bersifat informatif, tanpa menjanjikan imbalan apa pun. “Masa kampanye hanya tiga hari, dan kami berharap para calon bisa memanfaatkannya untuk memperkenalkan visi dan komitmen, bukan mencari simpati lewat uang,” tambahnya. Warga Diminta Ikut Awasi Kepala Bagian Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Makassar, Andi Anshar, menilai keterlibatan warga menjadi kunci utama keberhasilan pemilihan yang bersih. “Warga punya peran penting untuk mengawasi. Kalau ada pelanggaran, segera laporkan ke panitia di tingkat kelurahan atau kecamatan,” ujarnya. Ia menambahkan, dengan keterlibatan aktif masyarakat, pemilihan RT dan RW bisa menjadi ajang demokrasi yang benar-benar berpihak pada nilai kejujuran. Pemilihan Serentak Digelar Akhir 2025 Pemilihan RT dan RW di seluruh wilayah Kota Makassar direncanakan digelar secara serentak pada November 2025. Pemkot melalui BPM kini bekerja sama dengan KPU Kota Makassar untuk menyiapkan regulasi dan petunjuk teknis pelaksanaannya. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pemilihan di tingkat lingkungan bukan sekadar rutinitas, melainkan pondasi demokrasi yang paling dasar. “Kami ingin pemilihan ini jadi simbol integritas dan kebersamaan warga Makassar. Dari lingkungan kecil, kita bisa membangun budaya politik yang sehat dan bermartabat,” ujar Munafri.

Daerah, Makassar, Uncategorized

HMI Korkom Tamalate Gelar FGD Bahas Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan

ruminews.id Makassar — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kordinator Komisariat (Korkom) Tamalate menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan”, Sabtu (25/10/2025), di Aula Kantor BKKBN Sulawesi Selatan, Jalan A.P. Pettarani, Kota Makassar. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga unsur penting, yakni perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, dan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Makassar. FGD ini menjadi ajang diskusi lintas sektor untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan pemuda dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang responsif terhadap tantangan zaman, terutama di era digital. Ketua HMI Korkom Tamalate dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang dialog antara pemuda dan pembuat kebijakan agar gagasan pemuda dapat lebih didengar dan diakomodasi dalam proses pembangunan daerah. “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Kita harus terlibat aktif, menyampaikan ide, dan menjadi mitra strategis pemerintah serta DPRD dalam membangun kota yang berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan Dispora Kota Makassar, dalam pemaparannya menekankan pentingnya mengoptimalkan peran talenta muda untuk mendukung inovasi dan transformasi digital di sektor pemerintahan. “Kami melihat banyak anak muda Makassar yang memiliki kemampuan digital luar biasa. Pemerintah kota terbuka terhadap kolaborasi dengan komunitas dan organisasi kepemudaan untuk memperkuat layanan publik berbasis teknologi,” ujarnya. Dari sisi legislatif, anggota DPRD Kota Makassar yang turut hadir menyebutkan bahwa lembaga DPRD sangat terbuka terhadap aspirasi dan masukan dari generasi muda, khususnya terkait perencanaan program prioritas daerah. “DPRD membutuhkan perspektif baru dari pemuda agar kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Forum seperti ini penting untuk menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan wakil rakyat,” katanya. Sedangkan perwakilan DPD KNPI Kota Makassar menegaskan bahwa sinergitas tiga pilar tidak hanya sebatas wacana, tetapi harus diwujudkan dalam langkah konkret melalui kolaborasi berkelanjutan. “Pemuda memiliki energi dan kreativitas, sementara pemerintah dan DPRD memiliki kewenangan dan kebijakan. Jika ketiganya bersinergi, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya visi, tapi kenyataan,” tegasnya. Kegiatan berlangsung interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan antara peserta dan narasumber. Para peserta berharap hasil dari FGD ini dapat menjadi rekomendasi bersama untuk mendorong sinergitas tiga pilar dalam membangun Kota Makassar yang lebih maju, transparan, dan inklusif.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global di Forum LK2 HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di bawah temaram lampu Hotel LaMacca, malam itu terasa hangat, bukan karena udara kota, melainkan karena semangat intelektual yang menyala di dada para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ruangan itu tertata rapi, penuh ketertiban dan keteduhan, tempat berlangsungnya Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Dari balik podium, hadir sosok yang dihormati Prof. Qashim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar sekaligus kader senior HMI, membawakan materi bertajuk “Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global.” Suasana forum begitu tenteram, seolah setiap kursi dan meja menyimpan rasa hormat. Para peserta duduk dengan sikap yang santun, pandangan mereka tertuju penuh perhatian kepada sang pemateri. Tak ada hiruk pikuk, hanya suara lembut Prof. Qashim yang menembus keheningan, menjahit benang-benang makna antara iman, perjuangan, dan perubahan sosial. “Islam,” ujarnya perlahan, “bukan hanya tentang ritual, tapi tentang gerak. Ia adalah daya yang menuntun manusia untuk mengubah realitas sosialnya untuk melawan ketidakadilan, menegakkan martabat, dan menolak hegemoni kapitalisme global yang mengerdilkan kemanusiaan.” Kata-kata itu mengalir seperti mata air di tanah kering. Para peserta menyimak dengan wajah yang khusyuk, sebagian mencatat, sebagian lain larut dalam renungan panjang. Dalam forum itu, Islam dibicarakan bukan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai kekuatan peradaban yang hidup kekuatan yang memanggil umatnya untuk berpikir, bertindak, dan bertransformasi. Prof. Qashim memaparkan bagaimana kapitalisme global tak hanya menguasai ekonomi, tapi juga membentuk kesadaran manusia — menjadikan hidup sekadar transaksi, dan nilai-nilai spiritual kehilangan makna sosialnya. Namun, ia menegaskan bahwa gerakan Islam harus hadir bukan sebagai perlawanan emosional, melainkan sebagai transformasi yang sadar dan berakar pada ilmu serta akhlak. “Gerakan Islam yang sejati,” tuturnya, “adalah gerakan yang memahami realitas, menatap masa depan dengan ilmu, dan menapaki jalan perubahan dengan moralitas. Itulah jihad intelektual kita.” Suasana forum terasa akrab, di sela-sela keseriusan diskusi, tawa ringan sesekali pecah. Para peserta muda HMI bertanya dengan sopan, penuh rasa ingin tahu. Prof. Qashim menjawabnya dengan senyum, dengan sabar, dengan nada seorang guru yang tak hanya mengajar, tapi membimbing jiwa. “Kalianlah generasi yang akan menentukan arah Islam di masa depan,” katanya. “Jangan biarkan semangat kalian padam hanya karena dunia tampak dikuasai oleh sistem yang tak adil. Islam selalu punya jawaban selama kita mau berpikir dan berbuat dengan kesadaran.” Forum itu berakhir dengan tepuk tangan yang pelan tapi panjang. Ada rasa haru yang meneduh di dada para peserta. Mereka tahu, malam itu bukan sekadar kuliah, itu adalah pertemuan antara generasi dan gagasan, antara ilmu dan keimanan, antara masa lalu perjuangan dan masa depan perubahan. Di luar ruangan, angin Makassar berembus lembut. Beberapa peserta masih berkumpul, berdiskusi kecil, sementara Prof. Qashim menyapa mereka satu per satu dengan kehangatan seorang ayah yang bangga pada anak-anaknya. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi saksi bahwa HMI Makassar Timur bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang pembentukan jiwa. Di sanalah ilmu dan nilai bertemu, membentuk manusia yang sadar akan tugas sejarahnya: menjawab kapitalisme global dengan semangat Islam yang mencerahkan dan membebaskan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Zulhajar Bicara Negara dan Manusia: LK2 HMI Makassar Timur Jadi Ruang Hangat Menyemai Kesadaran Sosial

ruminews.id, Makassar — Siang di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun bersahaja. Di ruang pertemuan yang diterangi cahaya lembut, puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk rapi, membentuk lingkaran diskusi yang hangat. Wajah-wajah muda itu menatap penuh antusias ketika Zulhajar, S.Ip., M.A., anggota DPRD Kota Makassar sekaligus senior HMI Cabang Makassar Timur, melangkah ke depan membawakan materi bertajuk “Negara dan Manusia: Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.” Sejak awal, forum itu tak sekadar tampak ilmiah, tetapi sarat suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Tak ada sekat antara pemateri dan peserta; yang ada hanya dialog setara antara generasi yang berpikir, merasa, dan berjuang. Dengan nada suara yang tenang namun tegas, Zulhajar membuka materinya tentang hubungan mendasar antara manusia dan negara sebuah relasi yang sering kali rumit, namun selalu relevan. “Negara seharusnya tidak hanya mengatur,” ujarnya lirih namun dalam, “tetapi juga memastikan manusia hidup dengan martabat memiliki hak ekonomi yang adil, hak sosial yang setara, dan hak budaya yang dijaga keberagamannya.” Para peserta menyimak dengan khidmat. Sesekali, mereka mengangguk, mencatat, dan berdiskusi kecil di antara jeda kalimat. Dalam forum itu, negara tak lagi dipandang sebatas institusi kekuasaan, melainkan sebagai ruang bersama tempat manusia tumbuh, bermimpi, dan menegakkan keadilan. Zulhajar mengajak peserta untuk menafsirkan kembali makna kehadiran negara. Ia menyinggung tentang hak-hak ekonomi rakyat kecil, tentang kesenjangan sosial yang terus melebar, serta pentingnya menjaga budaya sebagai napas kehidupan bangsa. “Hak-hak sosial bukanlah hadiah dari negara,” katanya dengan mantap, “melainkan hak kodrati manusia yang harus dijamin oleh setiap sistem yang mengaku beradab.” Nada bicara Zulhajar sesekali melembut, terutama saat ia menyelipkan kenangan masa mudanya di HMI masa ketika idealisme dan semangat perubahan menjadi satu-satunya bekal perjuangan. “Di sinilah dulu saya belajar berpikir kritis, tapi juga belajar menghargai manusia,” ucapnya disambut senyum para peserta. Forum itu pun terasa hidup, bukan karena perdebatan, melainkan karena percakapan yang tumbuh dari hati. Di tengah keseriusan tema, tawa ringan sesekali pecah, mencairkan suasana tanpa kehilangan makna. Keakraban intelektual terasa nyata seperti keluarga besar yang tengah belajar memahami dunia bersama. Saat sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta mengangkat tangan dengan semangat. Pertanyaan mereka mengalir tajam tentang ketimpangan ekonomi, hak buruh, dan posisi negara dalam melindungi rakyat dari hegemoni pasar. Zulhajar menanggapinya satu per satu, tidak sebagai pejabat, tapi sebagai abang HMI yang ingin berbagi pengalaman hidup dan pemikiran. “Kita boleh kritis kepada negara,” katanya menutup sesi, “tapi jangan lupa kita juga bagian dari negara itu. Tugas kita adalah memperbaikinya, bukan menjauhinya.” Tepuk tangan panjang mengiringi akhir sesi. Beberapa peserta masih berdiskusi kecil, sementara pemateri dengan hangat menyapa mereka satu per satu. Di ruangan itu, tampak jelas: HMI bukan hanya melahirkan pemikir, tetapi juga manusia yang peduli pada sesamanya. Siang di Hotel LaMacca berakhir dengan kesan mendalam. Dalam keheningan yang ramah, para peserta membawa pulang bukan hanya catatan, tapi kesadaran baru bahwa negara, manusia, dan kemanusiaan sejatinya tumbuh dari akar yang sama: cinta pada keadilan, dan tanggung jawab pada sesama.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Politik sebagai Ruang Pengasuhan Kekuasaan: Prof. Armin Gurat Kesadaran Kritis Kader HMI di LK2 Nasional Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Sore Hingga Malam di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun hangat. Udara ruangan bercampur aroma kopi yang mengepul pelan, menjadi saksi bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai daerah yang duduk berjejer rapi, menyimak dengan penuh perhatian. Di tengah suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, tersaji satu sesi yang paling ditunggu: pemaparan Prof. Armin dengan tema “Politik sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan.” Dengan suara yang tenang namun penuh daya, Prof. Armin membuka materinya dengan perenungan tajam: “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ruang tempat kepemimpinan diasuh, diuji, dan dimaknai.” Ucapan itu bergema lembut, namun menghunjam dalam ke benak setiap peserta. Dalam pandangan sang profesor, politik seharusnya diasuh oleh kepemimpinan profektif, kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, menuntun arah perubahan, dan membangun tatanan sosial dengan visi kemanusiaan yang luas. “Politik yang sehat,” lanjutnya, “adalah politik yang memberi ruang bagi nalar, bukan sekadar nafsu kuasa. Sebab tanpa politik, kita tak akan pernah punya alat untuk memperbaiki demokrasi.” Para peserta menunduk sesaat, mencatat kalimat-kalimat yang terasa seperti wejangan panjang dari seorang guru bangsa. Di ruang yang terang tapi lembut itu, politik tidak lagi terdengar kotor atau menakutkan; ia tampil sebagai jalan pengabdian, jalan untuk memperbaiki sistem, menata keadilan, dan menghidupkan kembali cita luhur bernegara. Prof. Armin kemudian memperkaya wacana dengan menyinggung dua konsep besar dalam filsafat politik: libertarian dan komunitarian. “Kaum libertarian,” ujarnya, “melihat kebebasan individu sebagai hak tertinggi bahwa manusia bebas menentukan hidupnya sejauh tidak mengganggu kebebasan orang lain.” Sementara itu, komunitarian justru memandang manusia sebagai bagian dari komunitas, bahwa kebebasan tidak berarti apa-apa tanpa tanggung jawab sosial dan nilai kebersamaan. “Di antara dua kutub itulah,” sambungnya, “politik harus menemukan keseimbangannya, bagaimana kebebasan pribadi tidak meniadakan kepentingan publik, dan bagaimana solidaritas sosial tidak mematikan hak individu.” Suasana forum terasa hidup, namun damai. Peserta LK2 tampak khusyuk menyimak, sesekali tersenyum atau mengangguk, seolah memahami bahwa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan cermin dari realitas bangsa yang tengah mereka hidupi. Tidak ada kegaduhan, tidak ada ketegangan; hanya dialog yang jujur dan intelektual yang hangat, dibalut rasa saling menghargai. Ketika sesi tanya jawab dibuka, tangan-tangan terangkat dengan sopan. Pertanyaan mengalir, dan Prof. Armin menjawab dengan sabar kadang diselingi tawa ringan yang memecah keheningan. Di tengah forum yang damai itu, politik tampak begitu manusiawi; ia menjadi bahasa tentang bagaimana manusia mengatur hidup bersama dengan akal sehat dan hati nurani. Menjelang akhir, Prof. Armin menutup dengan kalimat yang disambut tepuk tangan panjang: “Politik adalah seni memanusiakan kekuasaan. Dan demokrasi hanya akan hidup jika kita memiliki pemimpin yang mau belajar, bukan sekadar berkuasa.” Malam di Hotel LaMacca pun menorehkan kesan mendalam. Dalam forum yang tertib, tenteram, dan akrab, para kader muda HMI seolah mendapatkan napas baru: bahwa politik, sejatinya, bukan medan kotor, melainkan ladang pengabdian tempat idealisme diuji, dan keadilan diperjuangkan dengan nurani yang jernih.

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Munafri Ajak Warga Makassar Jadikan Masjid Pusat Kegiatan Sosial dan Pendidikan Umat

ruminews.id, MAKASSAR,—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengajak warga menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pendidikan umat. Ajakan itu ia sampaikan saat melaksanakan salat subuh berjemaah di Masjid Al-Muawanah RRI, Jalan Riburane, Jumat (24/10/2025). Kegiatan yang dirangkaikan dengan coffee morning bersama jamaah dan masyarakat sekitar di Warkop Azzahrah RRI ini menjadi bagian dari agenda rutin Pemerintah Kota Makassar setiap Jumat. Turut hadir jajaran Pemerintah Kota mulai dari Sekda Kota Makassar, Andi Zulkifli Nanda, sejumlah kepala SKPD, Camat Ujung Pandang dan Camat Mariso. Selain itu, hadir Kepala LPP RRI Makassar, Anom Andadari, menyambut Munafri bersama sejumlah pegawai RRI. Para jamaah juga mendapat siraman rohani dari Ustaz Icuk Sugiarto Rifai yang mengisi tausiah subuh. Momentum ini, menurut Munafri, tidak hanya menjadi wadah mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, tetapi juga ruang untuk menghidupkan peran masjid sebagai pusat aktivitas umat. “Masjid seharusnya bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga tempat bermusyawarah, menyelesaikan persoalan sosial, tempat kajian keagamaan, dan tempat anak-anak belajar baca tulis Al-Qur’an,” ujar Munafri. Ia menilai, dengan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan, masyarakat dapat membangun kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungannya. Munafri juga berharap setiap pengurus masjid di Makassar dapat aktif menggerakkan kegiatan yang memberi manfaat luas bagi warga sekitar. Selain mengajak masyarakat menghidupkan fungsi masjid, pada kesempatan yang Munafri juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama menjelang musim hujan. Pemerintah Kota, kata dia, bersama Satgas Kebersihan dan Satgas Drainase terus melakukan pembersihan saluran air serta mengangkat sedimen di sejumlah wilayah rawan genangan melalui gerakan Jumat Bersih setiap pekan. “Kita berharap musim hujan tahun ini tidak separah sebelumnya. Kami terus intervensi langsung di wilayah-wilayah, memperhatikan saluran pembuangan yang tertutup akibat pembangunan atau bangunan liar,” jelasnya. Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah banjir. Munafri meminta warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran air dan drainase yang menjadi jalur utama aliran hujan. Pada kesempatan tersebut, Munafri juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala RRI Makassar, Anom Andadari, serta seluruh jamaah atas sinergi dan dukungan terhadap kegiatan Pemkot Makassar. “Terima kasih kepada Ibu Kepala RRI Makassar atas kebersamaannya. Insyaallah Kota Makassar ini menjadi kota yang penuh berkah bagi kita semua,” ujarnya. Untuk diketahui, Program salat subuh berjamaah dan coffee morning ini menjadi bagian dari rutinitas mingguan Pemerintah Kota Makassar dalam rangka memperkuat komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat. Dikemas sebagai kesatuan program Gerakan Jumat Bersih, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyaluran bantuan sosial bagi warga kurang mampu di beberapa wilayah. Hasil kerja sama Pemerintah Kota dengan BAZNAS Kota Makassar. Kegiatan serupa sebelumnya juga telah digelar di sejumlah kecamatan di Makassar dan mendapat antusias tinggi dari masyarakat setempat yang ikut bergotong royong. Munafri berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial di kalangan masyarakat kota.(*)

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan, Uncategorized

Membaca Tubuh dan Tenaga: Sri Wulandari Bedah Relasi Eksploitasi Ganda dalam Kapitalisme dan Gender di LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca terasa hening namun berdenyut oleh semangat pengetahuan. Dalam ruangan berbalut hijau identitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), para kader dari berbagai daerah berkumpul dalam Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur, menandai satu babak penting dalam perjalanan intelektual mereka. Malam itu, suasana forum yang tertib, tenteram, dan penuh keakraban menjadi saksi hadirnya sosok pemateri yang menggugah kesadaran: Sri Wulandari, dengan tema “Kapitalisme dan Gender: Relasi Eksploitasi Ganda dalam Sistem Produksi dan Reproduksi.” Dengan tutur yang tenang namun penuh daya renung, Sri membuka materinya dengan kalimat sederhana namun tajam, “Gender bukanlah properti individu, ia adalah proses sosial yang hidup bergerak, berubah, dan bekerja dalam ruang kehidupan manusia.” Kata-katanya meluncur seperti aliran sungai yang menghapus kabut kebingungan di benak peserta. Ia menguraikan bahwa pengalaman gender tidaklah tunggal, melainkan berlapis-lapis, berubah sesuai usia, status sosial, dan konteks hidup. Dalam sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan dan otoritas, perempuan dan kelompok rentan lainnya seringkali menjadi korban dari eksploitasi ganda baik dalam sistem produksi ekonomi maupun reproduksi sosial di ranah domestik. “Patriarki,” ujar Sri dengan nada lembut namun menusuk, “tidak hanya hidup di rumah tangga, tapi juga di tempat kerja, di ruang politik, bahkan di dalam pikiran kita sendiri.” Forum seketika menjadi ruang refleksi. Para peserta, baik laki-laki maupun perempuan, tampak larut dalam pemahaman baru tentang relasi sosial yang selama ini tersembunyi di balik norma dan kebiasaan. Suasana yang tertib dan khusyukmembuat setiap kalimat pemateri menggema dalam kesadaran kolektif. Sri kemudian mengaitkan gagasan gender dengan kapitalisme, menyebut bahwa kapitalisme bukanlah sekadar sistem, melainkan sesuatu yang “dikerjakan dan dihidupi manusia setiap hari.” Dalam relasi ini, tubuh perempuan menjadi bagian dari rantai kerja yang tak pernah terlihat dari dapur rumah tangga hingga pabrik, dari ruang kelas hingga ruang reproduksi sosial. “Kapitalisme,” ujarnya, “berdiri di atas kerja yang tak dibayar dan tenaga yang tak diakui.” Suasana forum kian hidup ketika sesi dialog dibuka. Peserta mengajukan pertanyaan dengan semangat kritis, sementara Sri menjawab dengan kesabaran dan empati. Tidak ada perdebatan keras; hanya pertukaran makna yang menumbuhkan kesadaran baru. Tatapan-tatapan yang semula penuh tanya kini berubah menjadi pancaran tekad untuk memahami perjuangan sosial dari sisi yang lebih manusiawi. Menjelang akhir sesi, Sri menutup dengan kalimat yang meresap ke dalam ruang:“Jalan pembebasan sosial tidak hanya tentang menggulingkan struktur ekonomi, tetapi juga membebaskan cara kita memandang tubuh, kerja, dan martabat manusia. Sebab pembebasan sejati lahir ketika keadilan tumbuh di antara relasi yang setara.” Tepuk tangan mengalun lembut, disertai senyum dan kehangatan antar peserta. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi lebih dari sekadar forum pelatihan, ia menjelma menjadi ruang pembebasan pikiran, tempat kader HMI belajar bahwa perjuangan melawan ketidakadilan bukan hanya soal politik dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manusia saling memahami dalam kemanusiaannya yang paling dalam. Dan di ruangan yang tenteram itu, terpatri satu kesadaran baru: bahwa perjuangan sosial tidak akan pernah utuh tanpa keadilan gender, tanpa keberanian melihat bahwa tubuh, kerja, dan cinta pun bisa menjadi medan pembebasan.

Scroll to Top